Kekuatan Mimpi

October 17th, 2011

Some dreams come true, some don’t; but keep on dreamin’ . Always time to dream, so keep on dreamin’.”  kutipan dari film Pretty Woman.

 

 

Suatu hari, musim panas di Paris tahun 2003. Saya duduk di kedai kopi pinggir jalan di dekat Katedral Notre Dame, melihat orang lalu lalang, sambil menikmati alunan lagi dari sekelompok pengamen dari Peru. Itu cara saya menikmati Paris. Sebenarnya saya ingin menikmatinya secara lebih baik, berkunjung ke tampat-tempat terkenal, menikmati hidangan di restoran. Tapi saya tak bisa. Saya tak punya banyak uang.

 

Waktu itu saya bekerja sebagai researcher di Jepang. Saya ke Paris bukan untuk jalan-jalan, melainkan dalam rangka mengikuti konferensi di bidang Fisika di Bordeaux, sebuah kota kecil di bagian selatan Perancis. Ada sisa waktu dalam perjalanan pulang, saya sempatkan untuk jalan-jalan di kota Paris. Jalan-jalan dalam pengertian sebenarnya, karena saya benar-benar menghabiskan waktu dengan berjalan kaki. Saya tak banyak bawa bekal, hanya sebatas pada biaya perjalanan dan uang saku yang disediakan kampus. Bekal terasa semakin sedikit karena waktu itu terjadi penguatan mata uang Euro terhadap Yen.

 

Tapi semua keterbatasan itu tak membuat saya kecil hati. Saya justru banyak termagu-magu, tidak percaya bahwa saya sedang di Paris. “Hey, ini si Hasan, anak kampung yang dulu pergi sekolah berkaki ayam. Ia sekarang sedang di Paris, kota metropolitan dunia!” jerit batin saya. Ada rasa tak patut, anak kampung macam awak ini  pergi ke Paris. Tapi sudahlah, nikmati saja. Tapi benar. Rasanya betul-betul seperti mimpi.

 

Pergi dan bersekolah di luar negeri adalah cita-cita saya sejak kecil. Sejak saat saya belum sekolah, saya sudah mimpi seperti itu.

 

“Kelak kau nak jadi apa?” tanya Emak suatu ketika.

 

“Aku nak sekolah. Tamat di sini (SD di kampung kami) aku nak nyambung ke Pontianak. Lalu lepas itu nyambung ke Jakarta. Lepas itu aku nak sekolah ke Mekah.” jawabku ketika itu.

 

Pontianak, Jakarta, dan Mekah adalah tempat-tempat yang saya tahu ketika itu. Hanya itu. Di Pontianak kebetulan abang saya sedang sekolah. Sedangkan soal Jakarta dan Mekah, saya hanya tahu dari orang-orang yang pergi hadi. Untuk naik haji orang harus ke Mekah, dan itu harus melewati Jakarta. Bagi saya waktu itu Mekah adalah tempat terjauh yang bisa didatangi manusia.

 

Saya tak tahu dari mana gagasan itu datang. Tapi mimpi itu terus saya genggam sejak itu. Tentu saja mimpi itu jadi semakin realistis ketika saya tumbuh besar. Kelak saya tahu bahwa untuk belajar saya punya banyak pilihan, tidak harus ke Jakarta, tapi bisa juga ke Bandung, Yogya, atau Surabaya. Dan mimpi ke Mekah kemudian melebar menjadi mimpi untuk kuliah ke luar negeri. Tapi mungkinkah itu?

 

Kampung saya ketika itu adalah kampung terisolir di sebuah pulau kecil di pesisir selatan Kalimantan Barat. Untuk bisa mencapai ibu kota provinsi, kami harus menempuh perjalanan sehari penuh dengan kapal motor kecil. Ayah saya petani kelapa, hanya pernah sekolah sampai kelas 2 Sekolah Rakyat. Emak saya petani yang juga berdagang kecil-kecilan, tidak pernah sekolah. Bagaimana mungkin saya, anak kampung terpencil, dari keluarga miskin, dapat sekolah ke luar negeri? Siapa yang mau mebiayai? Saya tak tahu. Tapi itupun tak saya risaukan benar. Bermimpi itu sendiri sudah nikmat buat saya. Membayangkan diri saya pergi ke kota-kota besar dunia, belajar di sana, sungguh suatu mimpi yang indah.

 

Memiliki mimpi memberi saya alasan untuk belajar. Tak jelas benar bagaimana jalan yang akan saya tempuh nanti. Tapi ada keyakinan bahwa kalau saya pintar pasti ada jalan untuk mewujudkan mimpi saya itu. Kelak ketika saya sudah SMP, saya jadi lebih tahu bagaimana jalan menuju ke arah itu. Dan saya semakin bersemangat untuk itu. Semua itu membantu saya untuk fokus mengejar cita-cita. Ketika SMA khususnya, saya berteman dengan anak-anak nakal, yang biasa berkelahi, mabuk, atau merokok. Saya suka ikut nakal bersama mereka. Memicu adrenalin anak muda. Ngebut dengan motor, atau sesekali berkelahi. Tapi saya punya batas. Saya tak pernah mau ikut mabuk. Ada beberapa teman yang mencuri kecil-kecilan, sekedar untuk menunjukkan bahwa mereka berani. Saya tidak mau seperti itu. Karena saya sadar, kalau saya seperti itu, ada kemungkinan itu akan menghalangi saya mencapai cita-cita.

 

Dan sebenarnya seperti itulah. Banyak teman-teman saya yang hanya sekolah tanpa tahu hendak jadi apa mereka. Karenanya mereka tak punya target apa-apa. Sekedar mengisi hari-hari dengan pergi ke sekolah, lalu sekolah apa adanya. Tak ada yang menghalangi mereka untuk berbuat melampaui batas. Beberapa teman saya akhirnya benar-benar menjadi pencuri.

 

Tapi jalan menuju cita-cita tak selalu mulus dan mudah. Tamat SMA saya melamar program pengiriman pelajar ke luar negeri di BPPT. Saya gagal tes seleksi tingkat awal. Dan saya “terpaksa” berpuas hati masuk UGM. Tapi mimpi itu tak pernah padam. Saya bertekad, saya akan kuliah S2-S3 di luar negeri. Akhirnya cita-cita itu terwujud. Saya akhirnya mendapat beasiswa untuk kuliah ke Jepang, lalu juga bekerja sebagai peneliti setelah lulus. Dan saya tidak hanya ke Jepang, namun juga berkunjung ke berbagai negara. Persis seperti mimpi saya ketika saya masih kecil dulu.

 

Kemarin ada Pameran Pendidikan Jepang. Sejak tahun lalu saya aktif membantu almamater saya, Tohoku University, dalam usaha merekrut mahasiswa Indonesia. Setahun dua kali universitas ini bersama berbagai universitas lain di Jepang melakukan pameran, memperkenalkan diri ke masyarakat Indonesia. Saya membantu menjaga stand, membantu menyampaikan informasi kepada calon mahasiswa. Selama pameran saya melihat wajah-wajah antusias, anak-anak muda yang penuh semangat menyongsong masa depan. Saya seperti melihat sosok saya sendiri 15 tahun yang lalu. Tak terasa sehari penuh saya habiskan untuk menjelaskan banyak hal kepada mereka. Juga memberi semangat kepada mereka.

 

Saya sadar betul, mungkin hanya sebagian kecil dari mereka yang segera bisa dapat beasiswa. Sebagian mungkin harus menunggu bertahun-tahun seperti saya dulu. Bahkan sebagian yang lain mungkin tak akan pernah bisa mewujudkan cita-cita mereka. Tapi tak masalah. Mimpi tak membutuhkan biaya.

 

Kepada adik-adik yang hadir kemarin saya selalu menutup pembicaraan dengan perkataan: Sukses, ya!

wordpress plugins and themes

Gumun Islami

June 14th, 2011

Gumun adalah sebuah kosa kata dalam bahasa Jawa. Artinya kagum atau heran. Dalam budaya Jawa ada ajaran “ojo gumun”. Maksudnya kurang lebih, jangan kagum/heran terhadap sesuatu sampai terpana, membuat kita jadi rendah diri, atau kehilangan kontrol. Gumun biasanya dialami orang yang berada pada situasi yang pertama kali ia hadapi, khususnya bila situasi itu sangat kontras dengan situasi yang biasa ia hadapi.
Kemarin berita tentang mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair membaca Quran dimuat di hampir semua media. Dan begitu banyak yang meneruskannya di laman Facebook, dengan berbagai komentar. Ada banyak komentar yang berharap Tony Blair mendapat hidayah dari bacaannya itu.
Meski tak sampai berlebihan, saya melihat excitement dalam menanggapi berita ini. Saya memahami, Tony melakukan hal itu dalam rangka tugas barunya, yang berkaitan dengan soal Timur Tengah. Itu tertulis secara gamblang di berita. Tapi bagi sebagian orang, berita itu bisa bermakna lain. Saya jadi teringat pada sebuah ceramah radio yang saya dengar sepuluhan tahun yang lalu. Seorang ustaz dengan bangga bercerita bahwa Hillary Clinton rajin membaca Quran, disertai dengan bumbu (harapan) bahwa dia akan mendapat hidayah, lalu masuk Islam. Hillary bukan seorang muslim hingga saat ini.
Masuk Islamnya seorang tokoh Barat, khususnya berkulit putih, sepertinya begitu menggairahkan banyak orang. Sangat sering hal ini menjadi berita. Bahkan banyak berita yang akhirnya terbukti bohong soal masuk Islamnya berbagai tokoh, seperti Michael Jackson, Neil Armstrong, dan lain-lain. Seakan dunia Islam menjadi lebih hebat dengan masuknya orang-orang tersebut. Bagi saya, hal semacam itu adalah gejala gumun. Banyak orang belum terbiasa melihat orang Barat beragama Islam, sehingga merasa hal itu sebagai sesuatu yang khusus. Atau, dunia Islam begitu kekurangan orang hebat, sehingga masuknya tokoh tertentu diharapkan bisa memperkaya dunia tersebut. Padahal orang keluar masuk suatu agama adalah persoalan yang sangat biasa. Semata persoalan pilihan pribadi. Tidak lebih dari itu. Pada saat sebagian orang masuk Islam, di saat yang lain ada juga yang keluar.
+++
Tadi malam saya membaca link yang dimuat seorang teman di laman Facebooknya. Ada artikel yang membahas “mukjizat air”. Dan seperti biasa, pembaca berdecak kagum, dan keluarlah puji-pujian kepada Allah Yang Maha Mengetahui. Saya baca sekilas artikel itu, saya langsung tahu bahwa itu tentang Masaru Emoto. Dia mengklaim bahwa kristal air akan mengambil bentuk yang berbeda, lebih cantik, kalau dibacakan doa.
Saya sudah lama membaca mengenai Emoto ini. Dia bahkan pernah datang ke Indonesia untuk mempromosikan bukunya. Tapi temuan Emoto sangat diragukan dari sudut pandang ilmiah. Eksperimen yang dilakukannya penuh dengan kecerobohan manusia. Intinya, dia melakukan proses pencocokan. Kesimpulan dibuat dulu, data menyesuaikan dengan kesimpulan.
Nasihat saya kepada teman saya tadi, kalau mau kagum dengan mukjizat air, bacalah hasil-hasil riset yang sahih tentang air. Ada begitu banyak riset tentang itu. Sederhana saja, tubuh kita ini lebih dari 80% kandungannya adalah air. Dari iklan Aqua saja kita bisa tahu kok tentang itu. Mau lebih rumit? Saya kebetulan pernah meneliti struktur bahan (molekul) yang eksistensinya ditopang oleh molekul air. Salah satunya adalah DNA. Struktur DNA pada makhluk hidup hanya bisa wujud pada kelembaban yang tinggi. Molekul air memenuhi lekuk-lekuk pada struktur spiral DNA. Bila kelembaban menurun, struktur DNA akan berubah. Bahkan pada kelembaban yang lebih rendah, struktur DNA akan mengalami disorder.
Pada riset yang pernah saya lakukan, saya malah mengurangi kelembaban pada sampel DNA dan mengamati sampai sejauh mana strukturnya masih bisa bertahan. Dalam hal ini kami tidak lagi berfikir tentang DNA sebagai komponen penyusun makhluk hidup, tapi kami melihat DNA sebagai molekul yang mungkin bisa dimanfaatkan dalam nano teknologi.
Tak hanya bahan hidup, beberapa mineral keluarga birnessite terbentuk dari atom-atom logam yang membentuk lapisan (layer), dan penyokong di antara lapisan-lapisan itu adalah molekul air. Pengaruh molekul air tersebut tidak hanya pada sifat struktur, tapi juga pada sifat elektrik dan magnetik bahan tersebut. Dan masih banyak lagi contoh mukjizat air dari berbagai riset sahih yang sudah dilakukan oleh para ilmuwan. Pada hal-hal itulah saya harapkan kita berdecak kagum.
+++
Pada lain ketika, ada yang mengirimkan video tentang citra ultrasonografi pada bayi dalam kandungan. Sang bayi terlihat gelisah, kemudian dibacakan ayat Quran, lalu bayi terlihat tenang. Dan seperti biasa, bertaburanlah puja puji pada Allah. Saya, seperti biasa, skeptis pada yang demikian ini. Orang bisa dengan mudah membuat video yang bisa menggiring kepada kesimpulan yang keliru. Tak sulit untuk mencari citra bayi yang sedang “gelisah”, lalu citra bayi yang “tenang”, kemudian menambahkan bacaan ayat Quran kemudian, bukan?
Kalaupun benar, tidak ada rekayasa palsu pada video itu, kita masih punya masalah soal definisi “gelisah” dan “tenang” itu. Apakah gelisah dalam observasi kita adalah gelisah pada diri bayi? Bisa jadi itu ekspresi yang bukan gelisah. Kita tidak bisa memastikan itu. Selain itu, ada masalah reproducibility. Dalam riset suatu gejala baru bisa disimpulkan polanya bila ada sejumlah sampel yang diuji, dan menunjukkan gejala yang sama. Dalam kasus video tadi, kita tak tahu berapa banyak sampel yang diuji. Bisa jadi yang kita lihat hanyalah sebuah kebetulan.
Tapi di luar soal itu, seperti saya nasihatkan kepada teman pengirim video tadi, kita sebenarnya bisa sangat kagum pada sesuatu yang ada di hadapan mata kita, kalau kita menyadarinya. Ya, pada teknologi ultrasonografi itu. Tidakkah luar biasa, bagaimana gelombang suara itu bisa diubah menjadi citra visual yang tampak oleh mata? Mengapa tak kagum pada hal itu, dan memilih untuk kagum pada hal yang mungkin merupakan sebuah kebohongan?
+++
Dua cerita terakhir yang saya tuliskan adalah bentuk gumun juga. Kebanyakan dari kita, dalam keseharian tidak bergaul dengan dunia sains. Ini semua salah kita. Dunia Islam saat ini boleh dibilang tersisih dari pergaulan sains. Lalu kita jadi mudah terpana dengan sains. Terlebih bila fakta-fakta sains itu membenarkan ajaran yang kita anut. Serta merta kita menelannya tanpa periksa. Dalam hal ini, kombinasi antara ketidak tahuan dan iman, menggiring orang pada kebodohan.
Saya menyebut gejala itu gumun Islami, yaitu gumun yang melanda banyak orang Islam. Tapi sebenarnya ada gumun Islami yang lebih sahih. Yaitu gumun terhadap fenomena alam yang kita pahami secara sahih, kemudian kita kaji dan periksa gejala itu hingga kita bisa memanfaatkannya untuk kehidupan. Allah Maha Kuasa, Allah Maha Tahu. Kita semua tahu itu. Tapi bagaimana kekuasaan dan pengetahuan Allah itu membuat hidup kita lebih baik, itulah yang lebih penting.

http://berbual.com

 

wordpress plugins and themes

Justin Bibier, Take It Easy

April 26th, 2011

Setidaknya ada 3 kelompok yang berbeda dalam menyikapi konser Justin Bibier (JB) akhir pekan lalu. Sekelompok orang antusias. Ada yang sanggup antri berjam-jam untuk menukarkan tiket. Beberapa bulan sebelumnya mereka sudah membayar biaya tiket itu. Umumnya mereka adalah anak-anak muda belasan tahun. Tapi ada juga yang sudah berumur 40-an tahun, beberapa di antaranya dengan dalih dalam rangka mengantar anak.

 

Kelompok lain adalah kelompok pencibir. Banyak yang menganggap penggemar JB itu adalah remaja-remaja yang hanya suka hura-hura, yang hidup tak punya tujuan. Ada yang menggelari mereka dengan istilah Ababil alias ABG Labil. Bagi kelompok ini, penggemar JB adalah orang-orang yang sakit jiwa.

 

Kelompok yang ketiga adalah yang tidak peduli. Saya tadinya masuk kelompok ini. Saya bahkan tak tahu siapa itu JB sampai saya membaca riwayat hidupnya di majalah TEMPO minggu lalu. Lalu saya tertarik untuk berbagi pendapat.

 

Histeria penggemar pemusik adalah hal yang terjadi di setiap zaman. Jaman dulu ada New Kids On The Block. Di masa sebelumnya ada berbagai jenis grup musik. Bahkan untuk grup yang sudah bubar seperti The Beatles penggemarnya masih bisa histeris. Saya termasuk penggemar Beatles. Kalau grup seperti Bharata Band memainkan lagu-lagu Beatles, saya bisa sedikit histeris. Padahal masa-masa kejayaan Beatles adalah masa saat saya masih sangat kecil, dan bahkan belum mengenal radio.

 

Tentu tak cuma terhadap pemusik luar negeri. Penggemar Iwan Fals, atau Peterpan juga bisa histeris. Lantas, apakah cibiran tadi sekedar untuk penggemar JB, penggemar musik barat, atau penggemar musik pada umumnya? Entahlah. Jawabannya bisa sangat variatif.

 

Tapi ingat, bukan hanya penggemar musik yang bisa histeris. Penggemar yang selain itu juga bisa begitu, dengan format yang sedikit berbeda. Penggemar Aa Gym, atau Arifin Ilham juga bisa histeris. Anda boleh saja tak setuju dengan sebutan histeris untuk mereka. Tapi bagi saya sama saja. Buat saya tak ada perlunya minta tanda tangan Aa Gym seperti yang dilakukan banyak orang. Karenanya saya bisa sebut itu histeria. Yang berbeda hanya cara mengeksperikan belaka.

 

Adakah sisi negatif pada semua itu? Banyak. Musik bisa membuat orang terlena. Kalau anak kita menggemari musik sedemikian rupa sehingga dia hanya menghabiskan waktu secara negatif hanya untuk menikmati musik, tentu itu berbahaya. Dan sebenarnya ini berlaku untuk semua hal. Musik, game, kumpul-kumpul. Semua bisa jadi hal yang tak produktif dan menjerumuskan. Bahkan agama sekalipun bisa demikian.

 

Tapi tentu saja ada pula sisi positif pada segala sesuatu. Saya baca sekilas riwayat hidup JB. Luar biasa. Anak ini penuh bakat. Dan bakat itu dia kembangkan dengan kerja keras. Tak usahlah kita melihat bagaimana dia menyanyi. Saya saksikan bagaimana dia bermain bola basket, hobinya. Luar biasa juga. Di sosok JB saya melihat perpaduan antara bakat, kerja keras, dan dukungan profesional dari orang-orang sekelilingnya.

 

Kalau anak saya menggemari JB, saya akan tunjukkan sisi-sisi itu. Akan saya tunjukkan bahwa orang bisa jadi apa saja selama dia mengenal potensi dirinya, punya visi untuk mengembangkan potensi itu, lalu menikmati sukses, menikmati hidup, serta berbagi.

 

Saya sedikit “beruntung”, karena anak saya tidak tertarik pada JB. Mungkin belum. Tapi saya bertanya, seandainya anak saya ingin nonton konser JB, akankah saya meluluskan permintaannya? Mungkin akan saya luluskan. Masa kecil dulu saya juga menyukai musik. Masa remaja saya juga pernah ingin nonton Stevie Wonder atau Scorpions. Hanya saja tak punya uang. Kini saya sanggup membayar bila anak saya ingin nonton konser. Jadi, mengapa tidak?

 

Kalau saya kebetulan tak mampu membayarnya, akan saya beri pengertian pada anak saya bahwa saya tak mampu. Anak saya akan saya arahkan untuk menikmati kegemarannya dengan cara lain. Jadi, tak perlulah kita mencibir para penggemar JB itu. Yang perlu kita lakukan adalah mengalirkan energi positif JB untuk diserap oleh anak-anak kita.

 

http://berbual.com/

wordpress plugins and themes

Dari Sendai dengan Cinta

March 14th, 2011

 

Saat gempa disusul tsunami, saya langsung khawatir, bagaimana nasib teman-teman di sana. Mereka, orang-orang Indonesia di sana, sebagian saya kenal secara pribadi. Terakhir saya berada di Sendai sebagai Visiting Associate Professor di Tohoku University selama tahun 2006. Sebelum itu saya bermukim di kota itu selama beberapa tahun. Sepuluh tahun masa tinggal saya di Jepang separuhnya saya habiskan di Sendai. Beberapa teman yang bersama saya tahun 2006 masih ada di Sendai. Sebagian lainnya hanya saya kenal melalui komunikasi mailing list.

 

Agak sore di hari Jumat kelabu itu baru saya mendapat kabar bahwa teman-teman semua selamat. Tapi hanya sepotong kabar itu, karena komunikasi  terputus. Tapi setidaknya kabar itu melegakan. Baru malam harinya saya mendapat kabar lebih detil tentang siapa berada di mana. Kabar itu saya teruskan ke berbagai pihak melalui media Facebook dan Twitter.

 

Kini 115 warga Indonesia di Sendai, dan 6 warga dari Fukushima sudah berhasil dievakuasi ke KBRI Tokyo. Tim evakuasi seperti tak peduli bahwa mereka harus mencapai Fukushima untuk tiba di Sendai. Sebuah keberanian yang luar biasa.

 

Dari informasi yang saya terima, kawan-kawan alumni Sendai berperan besar membantu KBRI. Di antaranya Yonanda Adhitama beserta istrinya Sarah Wardhani yang tak pernah berhenti memperbaharui kabar, dan meneruskannya ke berbagai pihak. Saya dengar Warih Kurniawan malah menjadi sopir untuk angkutan evakuasi dari Fukushima. Salut.

 

Semua itu membangkitkan kenangan akan kebersamaan yang telah biasa kami bangun di Sendai.

 

31 Januari 2005. Saya kembali  ke Sendai bersama istri dan dua orang anak.  Saya diundang menjadi Visiting Associate Professor di Center for Interdisciplinary Research Tohoku University, almamater saya, tempat saya menyelesaikan program master dan doktor di bidang Applied Physics.  Persis menjelang tahun baru, dalam suasana puncak musim dingin. Tahun baru bagi orang Jepang mirip dengan lebaran. Dalam suasana hiruk pikuk mudik orang Jepang itu saya, dengan dua anak yang masih kecil harus memastikan mendapat tiket shinkansen (kereta api cepat) dari Tokyo ke Sendai. Dalam keadaan lelah setelah menjalani penerbangan semalaman dari Jakarta, saya harus antri untuk mendapat tempat duduk, karena saya tidak memesan tiket sebelumnya. Untunglah saya akhirnya mendapatkan tiket. Saat itu sudah menjelang malam, sudah 12 jam berlalu sejak kami mendarat di Narita pagi harinya.

 

Malam hari kami tiba di Sendai. Di stasiun kereta api saya dijemput oleh Pak Sani Royhansyah, sahabat saya alumni Tohoku University yang saat itu sedang bekerja sebagai post-doctoral fellow. Pak Sani lah yang telah membantu saya untuk mendapatkan apartemen sebelum keberangkatan saya. Kebetulan dormitory universitas sedang penuh, saya harus menyewa apartemen.

 

Di Jepang apartemen biasanya disewa dalam keadaan kosong, tanpa perabot. Pak Sani selain mencarikan apartemen juga sebisa mungkin menyediakan peralatan sederhana. Ada rice cooker, pemanas ruangan berbahan bakar minyak tanah, piring dan sejenisnya, serta alas dan selimut tidur (futon). Semua serba seadanya, hasil mengumpulkan barang bekas. Dengan itulah kami mulai hidup baru di Sendai. Hari-hari berikutnya baru saya mulai melengkapi alat-alat kebutuhan hidup. Ada yang saya beli, ada pula berupa pemberian dari teman-teman.

 

Apa yang dilakukan Pak Sani adalah kebiasaan yang kami bangun bertahun-tahun. Saat ada yang pulang, barang-barang perabotnya sebagian “diwariskan” untuk warga lain. Bermacam bentuknya. Mulai dari piring, gelas, hingga kulkas, mesin cuci, bahkan mobil. Semuanya bekas, tentu saja. Tapi masih sangat layak pakai. Itulah yang terpenting.

 

Tak hanya itu. Bila ada yang pindah apartemen, kami bergotong royong mengangkut barang pindahan. Juga kalau ada yang sakit, kami membantu sebisanya.

 

Tahun 2006 bencana terjadi. Yogya diguncang gempa dahsyat. Banyak korban meninggal. Waktu itu kami langsung melakukan kegiatan penggalangan dana. Kebetulan kami punya berbagai aktivitas kesenian. Ada grup angklung, tari Saman, dan sebagainya. Suatu kesempatan manggung di area perbelanjaan di pusat kota kami gunakan sebagai sarana penggalangan dana. Waktu itu lumayan banyak terkumpul dana untuk Yogya.

 

Pada tahun sebelumnya, saat tsunami mengguncang Aceh, kegiatan serupa juga kami laksanakan. Kebetulan di awal tahun 2005 saya juga sedang berada di Sendai, bekerja sebagai assistant professor di Tohoku University.

 

Begitulah. Kami membangun semangat persaudaraan, dari hal-hal kecil dan sederhana. Sama-sama merantau, sama-sama dalam kekurangan. Lalu kami saling bantu. Kegiatan bersama seperti latihan kesenian adalah sarana pengikat agar kami sering-sering bertemu dan bersilaturrahim. Di situlah ikatan itu muncul.

 

 

Rekan-rekan yang berhasil dievakuasi dari Sendai, keluar dari Sendai berkat cinta saudaranya. Tentu saja dengan tidak mengecilkan peran saudara-saudara dari kota lain, serta dari tanah air.

Dua anak saya bermain di koper, hari pertama kami di Sendai, 1 Januari 2006.

 

Saya berpidato untuk penggalangan dana Yogya sebelum menari Saman.

 

wordpress plugins and themes

Surya Paloh, Nasdem, dan Metro TV

January 25th, 2011

Setiap kali memberitakan deklarasi Nasional Demokrat (Nasdem), Metro TV memberi waktu berita yang sangat panjang. Mungkin rata-rata 3 kali lipat dibanding dengan berita lain. Dan porsi utama pemberitaan adalah pidato Ketua Umum Nasional Demokrat, yaitu Surya Paloh. Sebenarnya bukan baru sekarang ini cara pemberitaan itu berlangsung. Sejak jaman Surya Paloh masih jadi pengurus Golkar dulu sudah begitu. Sekarang intensitasnya meningkat. Itu saja sedikit perbedaannya.

Saya harus berkata jujur bahwa Surya Paloh itu seorang orator yang buruk. Luar biasa buruk. Isi pidatonya tak jelas. Penuh dengan jargon-jargon yang pembicaranya sendiri mungkin tak paham. Struktur isinya juga tak ada. Tidak runtut, apa yang hendak disampaikan. Ini diperparah dengan “semangat” pidato yang tidak pada tempatnya. Di mana artikulasi harus diberikan, di mana suara harus tinggi, di mana harus rendah, kacau balau. Terasa sekali bahwa pidato itu sangat artifisial. Sulit menangkap kesan tulus dari seluruh pidato Surya Paloh yang pernah saya lihat.

Tak sulit untuk memahami mengapa pidato oleh orator yang buruk ini mendapat porsi yang demikian besar di Metro TV. Hampir semua orang tahu bahwa Surya Paloh adalah pemilik Metro TV. Dia bisa membuat arahan kepada seluruh manajemen Metro TV untuk menyiarkan pidatonya secara panjang lebar.

Masalahnya, ruang udara tempat siaran TV itu dipancarkan, bukan milik Surya Paloh. Juga ruang publik tempat di mana pesawat-pesawat TV diletakkan. Ruang udara dan ruang publik harus digunakan dengan etika. Karena itu pola-pola siaran harus diatur.

Celakanya, ini bukan ranah hukum. Tak ada larangan bagi stasiun TV untuk menyiarkan hal semacam itu. Sanksi terberatnya hanya “hukuman” dari penonton. “Bila tak suka, jangan tonton. Pindahlah ke saluran lain.” Tapi apakah itu satu-satunya jalan?

Saya jadi teringat pada media cetak. Ada halaman iklan yang ditulis dengan format artikel/berita. Tapi secara etis penerbit harus menandainya dengan tulisan “Iklan” atau yang sejenis itu. Tujuannya agar jelas bahwa tulisan itu dimuat atas dasar pesanan si pembayar. Dalam hal pidato Paloh tadi, saya kira Metro TV harus mengemasnya dalam bentuk iklan Nasdem dengan memberi tanda serupa. Bila tidak, Metro TV benar-benar telah menzalimi publik dengan tontonan yang tidak menyenangkan, bahkan menyesatkan.

http://berbual.com/

wordpress plugins and themes

Antara Ilmuwan dan Wartawan

January 18th, 2011

Teman saya, Dr. Khoirul Anwar, yang bekerja sebagai peneliti di Jepang diwawancarai dalam acara Kick Andy di Metro TV. Artikel di situs resmi Kick Andy menuliskan sebagai berikut.

Putra Indonesia yang banyak mendapat simpati para ilmuwan dunia lainnya adalah Dr Khoirul Anwar. Pria asal Kediri, Jawa Timur itu baru-baru ini telah menciptakan sistem telekomunikasi berbasis 4 G alias generasi ke empat. Artinya, ciptaan pemuda desa, yang berusia 32 tahun itu telah menyempurnakan sistem komunikasi yang kita kenal saat ini yaitu 3 G alias generasi ketiga. “Jadi, dengan sistem komunikasi 4 G ini hambatan yang ada di 3 G bisa disempurnakan di 4 G, kata Dr Khoirul menjelaskan. Tentu saja penemuan atau karya Dr Khoirul itu telah dipatenkan di Jepang.

Karena awam dalam soal teknologi komunikasi, saya tanyakan hal ini kepada teman saya yang paham soal ini. Penjelasan dia sebagai berikut.

Intinya, biasanya, agar suatu komunikasi wireless bisa bekerja tanpa adanya interferensi dari sesi komunikasi lainnya, dibutuhkan yang namanya guard interval. Dia membuat mekanisme komunikasi tanpa guardinterval ini. Hasilnya sudah dipatenkan (like many other researchers did) dan “katanya” bisa digunakan dalam teknologi 4G.

Di media lain nama peneliti ini ditulis sebagai Prof. Dr. Khoirul Anwar. Padahal jabatan dia sekarang adalah research associate. Ini mengingatkan saya pada berita bombastis tentang Nelson Tansu yang disebut sebagai profesor termuda di Amerika Serikat. Padahal jabatan Nelson Tansu saat itu adalah assistant professor, sebuah jabatan yang lumrah bagi seorang peneliti yang baru lulus doktor.

Kesalahan soal jabatan profesor ini sepertinya sudah jadi penyakit kronis. Wartawan bahkan masih banyak yang tidak tahu bahwa profesor itu bukan gelar, melainkan jabatan.

Pekerjaan riset Khoirul memang bukan konsumsi awam. Tak mudah untuk menjelaskannya ke dalam bahasa yang bisa dipahami awam. Pada level tertentu, mungkin kesalahan wartawan masih bisa dimaafkan. Namun saya lihat beberapa media seperti Koran Tempo dan Kompas mampu memberitakan masalah ini sesuai dengan porsinya, walaupun beritanya bertaburan istilah teknis yang bisa membuat kening orang awam berkerut.

Saya paham, tak semua wartawan punya bekal yang cukup untuk memahami soal-soal yang rumit itu. Apalagi kemudian ia harus menuliskannya ke dalam bahasa yang dipahami publik. Maka tak sedikit wartawan yang kemudian mengambil jalan pintas, menuliskan sesuai dengan presepsi dia sendiri. Terlebih, dunia jurnalistik punya pameo “orang menggigit anjing, jadi berita”. Artinya perlu ada yang bombastis agar sesuatu bisa jadi berita. Maka lahirlah berita-berita yang bukan memberi informasi, melainkan menyesatkan publik.

Minimnya pengetahuan, ditambah keinginan untuk membuat berita besar, sering membuat berita-berita sains menjadi jauh dari proporsi sebenarnya. Dalam bahasa guyonan teman saya di milis, bila seorang membuat pernyataan berikut:

Saya menemukan satu konstanta yang menyempurnakan Salmonmagurosky-Iikuranov equation yang membuat akurasi pengamatan virus oleh mikroskop elektron jadi lebih super drpd yang ada sekarang. Temuan ini diharapkan dapat mempercepatupaya penelitian menuju penemuan obat penyakit AIDS.

dalam bahasa wartawan bisa berubah menjadi:

Ilmuwan telah menemukan mikroskop super yang dapat menyembuhkan AIDS.

Tapi saya juga tak ingin semata menyalahkan wartawan. Para narasumber dari kalangan ilmuwan sendiri sering juga sengaja membiarkan persoalan kabur, atau sejak awal memang sengaja mengaburkannya. Atau lebih tepatnya, membesar-besarkan persoalan. Dulu waktu masih bekerja sebagai peneliti di Jepang saya sering menulis proposal penelitian untuk keperluan permohonan dana riset. Proposal yang saya tulis oleh profesor saya sering ditambahi bagian yang mengaitkan isi riset tersebut dengan topik-topik yang sedang menjadi trend di dunia riset. Kata profesor saya hal-hal itu diperlukan untuk menarik perhatian reviewer.

Dalam bahasa profesor saya, “Kita, orang basic science, melakukan riset dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tentang alam. Apa gunanya, itu bukan hal yang perlu kita pusingkan. Ibarat melukis, kita tak perlu peduli lukisan itu nanti dihargai berapa, yang penting kita melukis dengan indah. Tapi para pemberi dana itu tak paham hal itu. Mereka hanya mau memberi dana pada riset-riset yang menurut mereka bermanfaat. Karena itu, kita perlu membuat proposal sesuai dengan mind set mereka.”

Kebiasaan ini kemudian meluas. Saat menyampaikan hasil riset kepada publik, ilmuwan tak jarang membuat hasil risetnya terlihat bombastis dengan berbagai bumbu. Tak jarang ilmuwan tidak hanya sekedar membicarakan risetnya, tapi juga tentang dirinya. Soal kehebatan diri, soal gaji, fasilitas, dan hal-hal yang tak penting lainnya. Ada kenalan saya yang berkata bahwa dia sebenarnya pernah diminta bekerja dalam tim Eropa untuk anu anu, tapi dia memilih pulang ke tanah air. Dan itu dimuat di koran. Saya yang kebetulan paham rekam jejak dia hanya bisa tersenyum membacaanya.

Cerita akan sedikit saya simpangkan. Kita tentu masih ingat bagaimana “kecemerlangan” siswa-siswi kita di berbagai olimpiade sains internasional diberitakan. “Siswa kita menggondol 5 medali emas.” Itu contoh salah satu berita tentang hal itu. Fikiran kita tentu menyamakan medali itu dengan apa yang terjadi di olimpiade olah raga. Bahwa yang dapat medali emas itu adalah satu, yang terbaik.

Beginilah penjelasan Mikrajuddin Abdullah, guru besar di ITB yang pernah menjadi juri pada Olimpiade Fisika tentang medali ini.

Pada IPhO ke-33 di Bali tahun 2002, jumlah peserta adalah 296 orang. Jumlah peserta peraih medali emas adalah 42 orang, peraih medali perak 37 orang, peraih medali perunggu adalah 58 orang dan honorable mention 68 orang (Total 296 orang). Tampak di sini bahwa meraih medali emas dalam IPhO bukan berarti siswa tersebut berada di rangking-rangking atas, misalnya “top ten”. Seperti dalam IPhO di Bali, siswa pada rangking 42 juga memperoleh medali emas.

Sejauh yang pernah saya baca, tak pernah ada penjelasan soal medali ini, baik oleh penyelenggara maupun pembina tim olimpiade sains. Alih-alih menjelaskan, seorang pembina olimpiade sains kita pernah mengirim e-mail mengabarkan kemenangan timnya dengan kalimat, “Kemenangan siswa-siswi kita telah menggetarkan daratan Eropa.” Tak jelas pihak mana yang digetarkan, karena setahu saya baik kalangan ilmuwan maupun publik di Eropa tak begitu tertarik dengan olimpiade sains ini.

Dan lagi-lagi, sayangnya, wartawan pun tak pernah menanyakan, bagaimana duduk soal medali dalam olimpiade sains ini. Seperti kata Farid Gaban, wartawan kita terlalu sering mengutip begitu saja ucapan narasumber, tanpa memeriksanya secara kritis.

Idealnya, para ilmuwan mengabarkan sesuatu yang tidak mudah dipahami publik secara bijak, agar dipahami secara benar. Sedangkan wartawan, tentu punya kewajiban memeriksa agar apa yang ia sampaikan tidak menyesatkan. Tapi susahnya, keduanya kadang punya kepentingan, lebih dari sekedar kepentingan untuk menyampaikan informasi. Terlebih kalau diingat bahwa keberhasilan di dunia sains juga bisa jadi modal untuk jadi selebriti, yang ujung-ujungnya bisa membawa orang ke lingkaran elit politik. Itu yang pelik.

http://berbual.com/

wordpress plugins and themes

Menulis Disertasi, Mengasuh Bayi

December 16th, 2010

Agak lama kami baru dikaruniai anak. Memasuki tahun ke empat pernikahan kami istri saya hamil. Tak ada rencana untuk menunda punya anak. Banyak orang yang menduga kami sengaja menunda, karena saya sedang kuliah S2-S3. Padahal tidak. Kami sama sekali tidak bermaksud menunda.

Istri saya hamil saat saya sudah di di pertengahan tahun ke 2 program doktor. Usai menjalani sidang progress report yang merupakan kewajiban bagi mahasiswa doktor tahun ke 2, saya memberitahukan kabar tentang kehamilan istri saya kepada Sensei (profesor pembimbing saya).

“Sore wa taihen da.” Begitu tanggapan Sensei. “Kamu akan kerepotan.”

Tadinya saya berharap Sensei akan memberi ucapan selamat, sebagaimana orang lain yang saya beri tahu tentang kabar itu. Ternyata tidak. Dia menganggap kehamilan istri saya akan menjadi beban dalam saya menyelesaikan penelitian untuk penulisan disertasi. Memang salah saya berharap adanya ucapan selamat. Sensei saya bukanlah “family man”. Dia seorang ilmuwan. Dan hanya itu. Dia seolah tak punya sisi kehidupan yang lain. Tanggapan dia itu bagi saya bermakna bahwa dia tidak akan mentolerir hambatan apapun dalam riset/studi saya yang berkaitan dengan kehamilan istri saya.

Tanggapan Sensei itu membuat saya bersikap. Saya tidak akan membicarakan lagi soal kehamilan istri saya kepada dia. Apapun masalah yang saya hadapi dalam soal kehidupan pribadi, saya tak akan bahas. Saya juga sangat berhati-hati, jangan sampai ada masalah atau kesulitan pada riset yang dikait-kaitkan dengan masalah kehamilan istri saya.

Menjelang kelahiran anak kami, saya sudah merencanakan untuk cuti selama seminggu. Saya bereskan semua urusan. Data yang kemungkinan akan diminta Sensei saya siapkan semua. Sebagian saya serahkan, sebagian saya simpan sebagai cadangan kalau dia minta data tambahan. Agar saya tak perlu bekerja lagi. Sengaja tak saya beri tahu Sensei kapan istri saya akan melahirkan. Saya baru memberi tahu dia saat istri saya masuk rumah sakit. Saya beri tahu melalui telepon. Itu pemberitahuan, bukan permohonan izin.

Untungnya Sensei tak mempermasalahkan hal itu. Jadilah saya menemani istri saya selama di rumah sakit, dan beberapa hari setelah dia pulang ke rumah. Waktu itu Bapak dan Ibu mertua datang menjenguk kami. Tapi mereka harus segera pulang. Dua hari setelah istri saya pulang dari rumah sakit, saya sudah harus mulai aktif di kampus. Beberapa hari kemudian mertua saya pulang ke tanah air. Artinya istri saya harus berdua saja dengan bayi kami di rumah, saat saya harus beraktivitas di kampus.

Mengasuh bayi di negeri orang bukan perkara mudah. Banyak hal yang kami tak tahu. Kepada siapa mau bertanya? Istri saya khususnya, punya kendala bahasa. Kemampuan bahasa Jepangnya masih terbatas. Dia tak bisa bertanya langsung kepada orang Jepang bila ada hal yang tidak dia pahami. Dia harus bertanya melalui saya.

Banyak kebiasaan, juga peralatan yang berbeda dari apa yang pernah kami saksikan di tanah air. Bagaimana menyesuaikannya? Anak saya lahir saat musim dingin mencapai puncaknya. Ini masalah juga. Kami sendiri kadang kewalahan dengan cuaca dingin. Bagaimana menyamankan bayi kami?

Peliknya, saat itu saya sedang dalam masa ujian pemeriksaan akhir, sekaligus sedang menulis disertasi. Banyak tugas di kampus yang tak bisa saya tinggalkan. Saya juga tidak ingin meminta keringanan tugas dari Sensei. Jadi situasinya sangat rumit.

Tambah pelik lagi, anak kami cukup rewel, khususnya di malam hari. Dia tak mau tidur sendiri. Minta digendong, didekap. Kalau ditidurkan di atas tempat tidur, dia menangis. Kami tak tahu apa sebabnya. Kami pasangan baru, di negeri asing, di tengah iklim asing yang tak bersahabat. Yang bisa kami lakukan hanyalah mencoba berbagai cara, dari hasil mendengar pengalaman orang lain, maupun hasil konsultasi dengan dokter atau bidan.

Tak banyak hal yang bisa menolong. Anak kami tetap rewel. Malam-malam kami adalah malam-malam nyaris tanpa tidur. Pernah beberapa kali bayi kami tak tidur semalaman. Saya dekap dia, saya biarkan istri saya beristitahat. Saat tiba waktunya salat subuh, saya bawa dia ke kamar mandi, saya berwudu sebisanya, lalu saya salat, tanpa melepaskan dia sejenakpun dari gendongan. Saya tak ingin tangisnya membangunkan istri saya yang sedang istitahat. Esok dia mendapat giliran jaga sehari penuh saat saya ke kampus. Dia harus menyimpan tenaga.

Saat saya dikejar tenggat penyerahan disertasi saya harus benar-benar bekerja lembur. Beberapa kali saya tak pulang ke rumah, bekerja nyaris tanpa henti, tanpa istirahat. Pulang ke rumah pun nyaris tak ada kesempatan untuk istirahat. Saya harus membantu istri saya, walau hanya sedikit beban dia harus diringankan. Dalam situasi lelah, saya harus berkonsentrasi memeras pikiran, menulis disertasi.

Suatu kali, saat saya sedang berdiskusi dengan Sensei, istri saya menelepon, memberi tahu bahwa anak kami demam. Saya ingin pulang sejenak untuk memastikan keadaan. Tapi itu pun tak diizinkan Sensei. “Kalau begini cara kamu bekerja, bagaimana mungkin kamu akan menyelesaikan studi doktor kamu.” hardiknya menjawab permohonan izin pulang saya. Apa boleh buat. Saya telepon istri saya untuk menenangkannya, saya lanjutkan pekerjaan dengan perasaan pedih.

Untuk lulus saya harus menjalani 3 kali ujian. Salah satu ujian itu harus saya ulang karena ada penguji yang tak puas. Jadi saya harus menempuh 4 kali ujian. Status kemahasiswaan saya ada di Tohoku University, di kota Sendai, di bagian utara Jepang. Sedangkan riset saya laksanakan di Kumamoto. Sensei saya tadinya associate professor di Tohoku. Ketika dia mendapat promosi menjadi professor, dia harus pindah ke Kumamoto. Saya ikut dengannya.

Setiap kali ujian, saya harus pergi dari Kumamoto ke Sendai. Naik bis sampai ke Fukuoka, kota tetangga, lalu naik pesawat. Total waktu perjalanan 6 jam. Setiap kali ujian, saya harus meninggalkan istri dan bayi saya. Untunglah ada seorang ibu yang mau menginap di rumah kami, menemani istri saya selama saya pergi. Dengan begitu, saya bisa sedikit tenang meninggalkan anak istri.

Tahap demi tahap kami lalui. Anak kami asuh. Sekolah saya selesaikan. Berbagai masalah yang muncul, kami hadapi bersama. Satu per satu terselesaikan, setapak demi setapak kami melangkah maju. September 2002 saya dinyatakan lulus dalam program doktor. Bahkan saya mendapat fellowship untuk post doctoral selama dua tahun. Satu tahap penting dalam hidup kami berhasil kami lewati. Sejenak kami bisa bernafas lega. Saya putuskan untuk istirahat sejenak, kembali ke tanah air untuk berlibur, sambil memperkenalkan bayi kami kepada sanak keluarga.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

My Boss

December 6th, 2010

Minggu ini adalah minggu yang sangat melelahkan. Itu sudah saya perhitungkan sejak minggu lalu. Ada beberapa pekerjaan yang harus selesai terlaksana minggu ini. Perusahaan saya sedang menambah bidang usaha. Tadinya kami adalah perusahaan pencetak plastik (plastic molding injection). Produk utama kami adalah alat pengusir nyamuk untuk diekspor ke Jepang dan beberapa negara lain. Atas permintaan pelanggan kami di Jepang, perusahaan produsen dan pemilik brand obat nyamuk terbesar nomor 3 di Jepang yang tak lain adalah perusahaan grup juga, kami diminta sekalian memproduksi isi alat tersebut. Artinya, bidang usaha harus kami tambah dengan bidang usaha produksi bahan kimia. Izin penambahan itulah yang sedang saya urus.

 

Selain pekerjaan di atas, minggu ini (tadi malam) perusahaan grup saya melaksanakan hajatan besar, yaitu perayaan ulang tahun ke 20. Dalam rangka itu berdatanganlah tamu-tamu penting. Yang utama adalah pimpinan perusahaan. Beliau adalah Chairman di perusahaan grup di Jepang, sekaligus President Director di head office, dan salah seorang direktur di perusahaan saya. Selain beliau, hari ini akan datang pula President Director perusahaan rekanan grup kami di Jepang, sebuah perusahaan produsen barang rumah tangga (consumer good) terbesar di Jepang.

 

Singkat cerita, minggu ini adalah minggu yang luar biasa sibuk bagi saya. Eh, semua itu harus ditambah dengan kesibukan lain. Sejak hari Minggu sore, Sarah anak tertua saya mengeluh sakit perut. Senin pagi istri saya membawanya ke dokter. Diagnosa dokter adalah radang usus buntu. Pemeriksaan dilanjutkan sampai hari Selasa untuk memastikan diagnosa. Selasa siang kami dapatkan kepastian, Sarah harus menjalani operasi usus buntu.

 

Saya tadinya menginginkan operasi dilaksanakan hari Jumat ini, saat beban pekerjaan sudah berkurang dan saya bisa cuti. Meski dokter mengiyakan keinginan saya itu, dia juga memberi keterangan tambahan bahwa kalau memungkinkan operasi dilaksanakan secepatnya. Dia khawatir bagian yang radang itu lengket, menempel ke organ lain, yang akan membuat operasi jadi lebih rumit. Akhirnya diputuskan untuk operasi hari itu juga, Selasa malam hari.

 

Kepastian itu baru saya dapatkan melalui pembicaraan telepon dengan pihak rumah sakit dan dokter bedah, saat saya dalam perjalanan pulang kantor Selasa sore. Siangnya tamu penting saya, boss saya, dijadwalkan hadir untuk meninjau pabrik. Tapi kunjungan itu batal karena pesawat yang dia tumpangi mengalami penundaan jadwal (Garuda ooh Garuda). Kunjungan diubah ke Rabu siang. Selasa malam  ada jadwal makan malam, boss bersama seluruh staf Jepang yang ada di sini. Saya, karena bukan orang Jepang, tidak masuk dalam daftar hadirin. Tapi saat saya dalam perjalanan pulang kantor saya ditelepon untuk hadir di acara makan malam. Karena sudah bersiap untuk mengantar anak saya ke rumah sakit, saya tolak undangan/perintah itu.

 

(Jujur saja, saya agak tersinggung dengan pengatur jadwal kunjungan boss selama di sini. Setiap kali boss datang, dia selalu meminta saya untuk ikut makan malam bersama seluruh staf Jepang yang ada di sini. Saya satu-satunya orang Indonesia yang diminta hadir. Tapi pembuat jadwal selalu “lupa” akan hal itu.)

 

Dalam perjalanan ke rumah sakit untuk mengantar anak, saya telepon boss saya ke HP-nya, untuk pamit tidak ikut makan malam. “Daijoubu dayo (tidak apa-apa).” jawab boss saya. “Urus anak kamu dengan baik. Toh, besok kita ketemu. Aaah, tapi besok mungkin kamu harus libur juga ya?”

 

“Besok saya tidak bisa libur, harus ada hal mendesak yang harus saya lakukan.” jawab saya.

 

Souka (begitu ya). Kamu aturlah jadwal kamu sebaik mungkin. Kodomo mo daiji dayo (urusan anak juga sangat penting).”

 

Begitulah, minggu ini saya harus pontang panting untuk 3 hal: mengurusi pekerjaan yang harus dituntaskan, menemui tamu, dan menjaga anak yang sedang sakit. Sejauh ini semua bisa berjalan. Urusan pekerjaan bisa selesai, operasi anak saya juga berlangsung lancar (mudah-mudahan hari ini sudah bisa pulang), dan saya bisa bertemu dengan boss saya, meski hari ini tidak bisa menemui tamu penting yang lain.

 

Rabu siang, dengan pengaturan jadwal yang padat, saya bertemu boss di kantor/pabrik saat dia melakukan kunjungan. “Hisashi buri…….” sapa boss saya saat melihat saya datang ke kantor. Saya baru saja pulang dari Jakarta untuk suatu urusan dan langsung bergabung dengan rombongan boss yang sedang meninjau pabrik. Masuk ke pabrik boss langsung mengomeli hal-hal yang menurutnya tak patut, khususnya menyangkit keselamatan. “Itu baut penahan rak, kurang. Tambah dengan yang lebih kuat.” perintahnya. “AC di ruang injeksi plastik kurang dingin.”

 

Saat mengunjungi bagian assembly dia mengevaluasi produk yang sedang dikerjakan. Ada produk yang perlu sedikit ditekan dengan tenaga saat dirangkai. Menurut dia itu tidak boleh terjadi, karena akan melelahkan operator yang mengerjakan. “Kore wa sekkei misu da! Ini salah design!” katanya.

 

Saya ingat 3 tahun yang lalu ada masalah yang sama pada produk lain. Dia menegur. Tapi saya mendebatnya. Bagi saya keluar sedikit tenaga dalam bekerja itu lumrah. Saya katakan bahwa sebagai anak petani saya sudah biasa bekerja dengan tenaga. Itu yang saya tekankan pada karyawan saya. Tapi boss saya tidak setuju dengan pandangan itu. “Kalau masih memungkinkan, mudahkan pekerjaan karyawan kamu!” katanya. Dan memudahkan pekerjaan itu adalah tanggung jawab designer produk di Jepang.

 

Boss sepertinya ingat betul perdebatan kami 3 tahun yang lalu. Saat mengatakan salah design tadi dia menatap mata saya. “Ini yang harus kerja lebih keras bukan operator ya. Designer. Saya harus peringatkan mereka. Fuzakeru na (jangan main-main).”

 

Pada meeting setelah peninjauan itu boss menekankan lagi hal-hal yang selalu dia tekankan kepada kami. “Kalian, pimpinan perusahaan, harus mencoba duduk di bagian produksi. Kerjakan pekerjaan operator beberapa jam. Kalian akan tahu kesulitan mereka, kelelahan mereka. Dengan itu kalian akan berempati dan mencari jalan untuk memudahkan pekerjaan mereka.”

 

+++

Saya bertemu boss untuk pertama kali akhir tahun 2006. Saat itu saya baru saja menanda tangani kontrak untuk bekerja di perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Masa kerja dimulai awal tahun 2007, untuk posisi manager. Saat itu saya masih di Jepang, menyelesaikan tugas saya sebagai visiting associate professor di Tohoku University, almamater saya. Saya dipanggil boss untuk ketemu di kantornya di Tokyo.

 

“Kamu adalah orang terbaik yang pernah saya rekrut.” katanya memuji. Terus terang bagi saya ini membuat malu, karena saya belum melakukan apa-apa untuk perusahaan. Ada dua hal yang membuat boss saya terkesan pada saya. Pertama, posisi saya saat itu, seorang peneliti di universitas terkemuka di Jepang. “Saya masuk kuliah di situ mungkin belum tentu diterima. Nah kamu, kamu bahkan bisa jadi profesor di situ. Hebat.” pujinya.

 

Yang kedua, saat memutuskan untuk pulang dan bekerja di Indonesia saya punya dua tawaran. Di perusahaan ini dan di perusahaan elektronik Korea yang sudah sangat besar. Tapi saya memilih perusahaan kecil ini. Hal itu mengesankan boss saya. Dia melihat saya sebagai orang yang suka pada tantangan.

 

Lalu dia bercerita tentang pengalaman dia mengurus perusahaan. Ayah boss saya adalah orang kaya. Dia tuan tanah yang kemudian membuka usaha produksi obat nyamuk. Meski anak orang kaya, ia mendapat pendidikan keras. “Ada orang kaya yang mendidik anaknya untuk menjadi orang kaya. Sejak kecil diasuh sebagai orang kaya, bermental pemimpin, untuk meneruskan usaha keluarga. Tapi di keluarga saya, kami dididik untuk kerja keras dalam arti sebenarnya. Bekerja dengan tenaga.”

 

Boss saya tidak langsung jadi orang penting di perusahaan ayahnya. Dia bekerja di perusahaan plastik milik orang lain, sebagai karyawan biasa. “Dulu saya tidak punya baju bagus. Saya hanya punya baju kerja. Karena hanya itu yang saya butuhkan.” Di situ dia banyak belajar tentang industri plastik.

 

Kemudian dia diberi kesempatan memimpin perusahaan obat nyamuk milik ayahnya. Saat itu Jepang sedang dibanjiri produk pestisida rumah tangga buatan perusahaan Amerika. Ia tahu bahwa produk-produk itu menggunakan bahan aktif yang di Amerika sendiri dilarang untuk digunakan. “Kita ini di mata orang Amerika cuma oriental monkeys. Itu betul-betul membuat saya tersinggung. Maka saya bekerja keras untuk “mengusir” produk-produk itu dari Jepang. Dan saya berhasil. Kini produk kami menguasai pasar.”

 

“Apa yang aman untuk orang Jepang, itu pula yang harus dinikmati orang Indonesia! Produk yang kita jual ke Indonesia, sama standar keamanannya dengan produk di Jepang. Saya tidak mau berkelakuan seperti orang Amerika.”

 

Lalu dia menceritakan mimpinya. “Kita ini produsen barang rumah tangga. Kita sudah punya marketing base di 43 negara, pabrik di 5 negara. Saya ingin kita menguasai dunia. Selama ini produk kita dikembangkan di Jepang, untuk keperluan orang Jepang dan negara-negara di daerah non-tropis. Saya ingin kamu mengembangkan produk khas kawasan tropik. Ini pasar yang luar biasa besar.”

 

“Kita bekerja untuk membuat orang bahagia. Itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang bahagia. Karena itu, bahagiakan diri kamu, lalu keluarga kamu. Lalu bekerjalah.”

 

Sejak itu saya bertemu lagi dengan beliau dalam berbagai kesempatan, baik di Indonesia maupun di Jepang. Tidak selalu dalam suasana serius. Kadang sangat santai. Di suatu acara makan malam, saya membanyol soal daerah asal saya, di Kalimantan.

 

“Saya orang Dayak, kanibal.” canda saya.

 

“Ha? Kamu pernah makan daging orang?”

 

“Iya.”

 

“Hahahahahaha. Bagian mana yang paling enak?”

 

“Kuping.”

 

“Nah, kalau begitu nanti kalau staf di sini pulang ke Jepang, harus diperiksa kupingnya, masih utuh atau tidak.”

 

Sejak itu kalau bertemu saya dia selalu menyinggung joke tentang makan kuping ini.

 

Saat saya berkunjung ke Hiroshima, ke head office, dia menyempatkan untuk mengajak saya makan malam. Hanya kami berdua, di restoran langganan dia. “Ini profesor Hasan.” katanya memperkenalkan saya kepada pemilik restoran. Usai makan malam kami pergi ke sebuah bar, main dart. Di situ ia tampil sebagai pemain, tepatnya penggila dart. Bar itu adalah bar murah yang biasa dikunjungi anak-anak muda. Mereka tentu saja tahu siapa boss saya, pimpinan dan pemilik perusahaan besar. Tapi mereka bisa bercanda akrab, sebagai sesama penggemar dart.

 

Tadi malam, usai resepsi ulang tahun perusahaan grup, saya pamit pulang. “Minimal setahun sekali, 2 minggu, kamu harus ke Jepang. Harus itu, wajib.” perintah boss saya. Sudah dua tahun ini saya memang tidak ke Jepang. Dan itu sepertinya sudah jadi bahan omelannya di Jepang. Jadi, tahun depan saya harus ke Jepang. Ikimasu!

 

Minggu yang melelahkan, tapi menyenangkan.

 

http://berbual.com/

wordpress plugins and themes

Tuhan, marahkah Kau padaku?

October 27th, 2010

Bencana tak kunjung berhenti. Wasior, Mentawai, Merapi. Lalu apa lagi setelah ini? Petanda apa ini semua? Marahkah Tuhan pada kita?

Mentawai dan Merapi sebenarnya memiliki benang merah yang menghubungkannya. Secara umum gempa di bawah laut serta fenomena gunung berapi, termasuk letusannya, erat kaitannya dengan pergerakan lempeng kerak bumi.

Muka bumi kita ini terdiri dari beberapa lempengan yang “mengapung” di atas lautan magma di perut bumi. Lempeng-lempeng itu tidak mengapung diam, namun terus bergerak. Gerakan ini tak hanya karena lempeng-lempeng itu “terapung”, tapi juga dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi serta gerak rotasi bumi. Terkadang bertumbukan satu sama lain. Tumbukan inilah yang menimbulkan gempa. Di saat lain, tumbukan yang lebih dahsyat membuat permukaan tanah di ujung lempeng yang bertumbukan terangkat ke atas, lalu terbentuklah gunung.

Konon, menurut para ahli geologi, salah satu tumbukan terdahsyat terjadi antara lempeng Indo-Australia dengan Eurasia. Hasil tumbukan ini adalah gunung Himalaya, yang kita kenal sebagai gunung tertinggi di muka bumi. Kejadian semacam ini terus menerus berlangsung, membentuk muka bumi kita sekarang, dan muka bumi kita di masa depan.

Coba kita perhatikan muka bumi kita yang penuh dengan gunung-gunung ini. Lalu coba bayangkan berapa juta kali lempeng-lempeng bumi itu bertumbukan. Berapa banyak gempa yang ditimbulkannya. Juga berapa banyak korban yang telah direnggutnya. Di masa lalu konon bumi ini terus menerus dilanda letusan gunung. Jauh lebih sering dari yang kita alami sekarang. Juga di suatu periode, bumi kita ini dipenuhi oleh hujan meteor yang meluluhlantakkan permukaannya.

Dan kita bertanya lagi, marahkah Tuhan? Bila aktivitas gempa, gunung meletus dan lain-lain itu kita maknai sebagai kemarahan Tuhan, maka gambaran tentang Tuhan yang kita peroleh adalah Tuhan yang tak berhenti marah-marah. Terus mengamuk seperti anak manja yang tak pernah puas. Ia pun bengis karena dengan kemarahan itu jiwa-jiwa direnggutnya.

Padahal sebenarnya Tuhan sedang “melaksanakan” tugasnya, yaitu mencipta. Ia menciptakan bumi dengan gunung-gunung di permukaannya. Melalui letusan gunung berapi Ia keluarkan berbagai mineral dari perut bumi. Juga abu penyubur lahan, serta bebatuan yang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Bahkan intan berlian yang menghiasi tubuh para wanita, dihasilkan dari letusan itu.

Itu tugas Tuhan. Dia harus menjalankan tugasNya. Kita ini ibarat anak-anak kecil yang menyaksikan bapak kita bekerja. Kalau bapak bekerja dengan api, barang berat, atau barang berbahaya lainnya, kita tak boleh dekat-dekat, apalagi mengganggunya. Berbahaya buat kita. Kita harus mengambil posisi yang tepat agar pekerjaan bapak tak membahayakan kita. Itulah tugas kita.

Gempa, tsunami, tak bisa sepenuhnya diramalkan kapan terjadinya. Tapi setidaknya kita tahu bahwa itu akan terjadi. Karenanya kita harus bersiap. Bersiap agar tidak timbul korban dari pekerjaan Tuhan itu. Bersiap agar kalaupun harus ada korban, korbannya sedikit saja.
Marahkan Tuhan pada kita? Tidak. Ia hanya sedang mencipta. Tapi boleh jadi Tuhan marah pada kita karena kita tak kunjung paham pada tugasNya, pada kasihNya. Tuhan mungkin marah bila kita tak tahu bagaimana harus berbuat saat Ia sedang melaksanakan tugasNya.

http://berbual.com/

wordpress plugins and themes

Nasrun

October 14th, 2010

Perpustakaan ini masih seperti yang kuingat saat aku rutin mengunjunginya sepuluhan tahun yang lalu. Tentu ada yang berubah. Gedungnya sudah dipugar jadi lebih besar. Dan otomatis menjadi lebih baru. Tapi bila aku masuk ke tempat di mana buku-buku disimpan, suasananya tak berubah. Ada deretan rak buku berjajar panjang seakan tak ada ujungnya. Di sisi deretan rak itu memanjang pula sebuah ruangan, tempat kursi dan meja diatur berjajar. Di kursi-kursi itu papa pengunjung duduk membaca. Di situlah dulu, sepuluhan tahun yang lalu, aku selalu menghabiskan waktu.

Aku pertama kali ke perpustakaan ini diajak abangku. Ini bermula dari keluhanku.

“Pelajaran yang menyebalkan.“

“Pelajaran apa?“ tanya abangku.

“Bahasa Indonesia.”

“Hah???” abangku tampak kesal.

Aku tahu mengapa dia kesal. Dia seorang guru mata pelajaran tersebut. Tentu bukan di sekolahku. Aku murid kelas satu, di sebuah madrasah tsanawiyah. Abangku guru SD. Dia mengajar sambil kuliah di Fakultas Keguruan, jurusan bahasa Indonesia. Keluhanku seperti gugatan terhadap dia pribadi.

“Iyalah. Orang disuruh menghafal. Aku benci hafalan.“

“Apa yang harus kau hafal?“

“Penulis sastra. Si anu mengarang novel anu, si Fulan mengarang buku ini. Juga menghafal ringkasan isinya. Untuk apa pelajaran macam ini? Tak ada faedahnya.“

“Kalau pelajaran matematika kita disuruh berhitung. Otak kita terpakai. Lagipula hitung-hitungan itu terpakai untuk hidup sehari-hari. Ini, sudahlah tak pakai otak, tak ada pula faedahnya.” kataku melanjutkan omelan.

Abangku terdiam.

Esoknya, sore hari dia ajak aku pergi.

“Ikut aku.“ katanya sambil mengeluarkan sepeda motornya.

“Ke mana?“

“Ikut saja lah.“

Aku menurut. Dan dia membawaku ke perpustakaan. Hari itu pengalaman pertamaku ke perpustakaan. Luar biasa. Aku suka perpustakaan. Di situ aku temukan buku-buku yang hanya tertulis judulnya di buku pelajaran bahasa Indonesia. Buku-buku itu benar-benar ada. Meski ditulis oleh para Pujangga Baru puluhan tahun yang lalu, ternyata masih ada dan masih bisa kubaca. Luar biasa. Dan cerita-cerita yang mereka tulis itu begitu memukau. Aku bisa duduk berjam-jam tanpa merasakan waktu berlalu kalau sedang membaca buku-buku itu. Beberapa buku bahkan aku baca berulang kali.

Sejak itu pelajaran bahasa Indonesia tak lagi membosankan. Aku tak cuma hafal siapa mengarang novel apa. Tapi aku juga tahu apa isi novel-novel itu. Sebut saja. Aku tahu semua. Tak Putus Dirundung Malang, Hulubalang Raja, Harimau, Harimau. Sutan Takdir, Nur Sutan Iskandar, Marah Rusli. Sebut saja. Aku bukan Cuma hafal nama berikut karya mereka, aku sudah membaca semuanya. Di kelas aku bisa mendahului guruku ketika dia menjelaskan tentang pujangga-pujangga itu.

Tak cuma itu. Aku membaca banyak buku lain. Buku sejarah, termasuk sejarah Islam. Buku-buku agama yang biasanya hanya dibaca oleh orang-orang dewasa. Kelak ketika aku sudah SMA aku mulai membaca buku-buku politik.

Begitulah. Selama sekolah, hingga tamat SMA aku rutin mengunjungi perpustakaan ini. Terakhir aku berkunjung ke sini adalah beberapa hari menjelang keberangkatanku ke Yogya untuk kuliah. Kini aku kembali lagi ke kota ini. Usai kuliah dan jadi dosen. Aku ke perpustakaan ini untuk mencari beberapa buku, sekaligus bernostalgia.

Aku cari beberapa buku yang aku butuhkan. Lalu aku duduk di salah satu kursi, lalu mulai membaca. Tenggelam dalam buku yang aku baca, aku tak sadar betul sudah berapa lama aku duduk ketika lenganku digamit seseorang. Ketika aku menoleh, di sebelahku rupanya sudah duduk seseorang. Dia menatapku sambil tersenyum tipis.

“Nasrun!!!” nyaris aku berteriak, spontan.

“Masih ingat rupanya kau sama aku.“

“Bah, mana mungkin aku lupa. Sedang apa kau di sini?“ tanyaku spontan. Seingatku Nasrun dulu bukan pengunjung perpustakaan.

“Aku kerja di sini.“

“Oh ya? Bagian apa?“

“Tukang sapu.“ jawab Nasrun tenang, dan tetap tersenyum. Aku agak terkejut dengan jawaban itu, dan berusaha menyembunyikannya.
Lalu kami berbincang tentang masa lalu, juga tentang masa kini.

+++
Nasrun teman sekelasku waktu kelas satu tsanawiyah. Dia duduk persis di belakangku. Agak pendiam, tapi selalu tersenyum tipis. Ada bercak-bercak putih di wajahnya, mirip panu. Dua hal itu, senyum dan bercak putih, selalu aku ingat tentang Nasrun. Makanya saat melihat wajahnya tadi mulutku spontan meneriakkan namanya. Dua ciri itu masih melekat di wajahnya.

Meski wajahnya selalu tersenyum, kisah Nasrun adalah kisah sedih. Ia tak cukup pintar untuk mengikuti pelajaran sekolah. Hampir semua pelajaran dia tak bisa. Dia langganan kena pukulan rotan oleh guru matematika Juga langganan disuruh menunggu di luar kelas karena gagal menghafal hadis saat pelajaran quran hadis. Tak semua guru kami galak, memang. Ada beberapa guru perempuan yang tak pernah menghukum kalau murid tak bisa. Tapi tetap saja Nasrun sepertinya tak nyaman sekolah.

Nasrun baru tampak senang pada jam istirahat, saat kami bisa bermain di halaman sekolah. Juga saat pelajaran olah raga. Di pelajaran itu tak ada yang tak bisa. Semua bisa bermain.

Tapi Nasrun juga suka saat piket membersihkan WC. Dia kebetulan satu kelompok dengan aku. Bersama empat lima orang siswa lain aku membersihkan seluruh WC sekolah. Termasuk WC guru. Aku tahu Nasrun suka benar kalau mendapat giliran membersihkan WC. Itu karena ada ibu guru bahasa Inggris, wali kelas kami. Dia sangat sayang padaku. Semua anak di kelas kami tahu hal itu. Dan mereka pun tahu sebabnya. Karena aku pintar.

Tiap kali usai membersihkan WC, ibu guru itu selalu memanggilku ke ruang guru. Di mejanya sudah tersedia bubur kacang hijau, atau jajanan. Itu sisa makanan yang disediakan untuk para guru. Makanan itu diberikan padaku setiap aku selesai membersihkan WC. Tak semua anak dipanggil, karena makanan itu memang tak banyak. Biasanya cuma aku, dan anak lain yang kebetulan sedang di ]dekat aku. Karena itu Nasrun selalu berada di dekat aku kalau kami kebetulan sedang piket.

Makanan yang diberikan ibu guru itu selalu aku sambut dengan sukacita. Perutku sering lapar kalau sedang sekolah. Aku tak dapat uang jajan seperti kebanyakan kawan-kawanku. Tak ada uang untuk jajan. „Jangan minta-miinta uang jajan, ya. Kita orang miskin. Kau bisa sekolah saja sudah bagus.” Itu pesan Emak berulang-ulang waktu aku mau berangkat ke kota untuk melanjutkan sekolah usai lulus SD. Di kota aku tinggal bersama abang-abangku yang juga sedang sekolah.

Saat perut lapar, melihat kawan-kawan jajan kue-kue atau bakso, sangat tersiksa rasanya. Ada satu dua kawan yang mau berbaik hati berbagi makanan. Tapi tak sering. Aku pun malau kalau sering-sering ikut makan. Nah, saat perut lapar, makanan dari ibu guru tadi terasa sungguh lezat.

Aku suka Nasrun karena dia pendiam. Tak pernah mengganggu orang. Karenanya aku selalu sedih kalau melihat Nasrun dihukum. Tapi tak banyak yang bisa aku lakukan untuk membebaskannya dari hukuman.

Suatu hari, menjelang setahun sejak kami masuk madrasah ini, Nasrun tak masuk sekolah. Ini bukan yang pertama. Sesekali ada saja di antara kami yang tak masuk. Karena sakit atau halangan lain. Aku dan Nasrun pun begitu. Tapi kali ini berbeda. Sehari, tiga hari, lalu seminggu Nasrun tak masuk sekolah. Minggu berikutnya pun Nasrun tak masuk.

“Ke mana Nasrun?“ tanya wali kelas kami.

Tak ada yang menjawab. Kami semua tak tahu. Sakitkah dia?

“Siapa yang rumahnya dekat rumah Nasrun?“

“Saya, Bu.” jawabku.

“Nah, cobalah pulang nanti kau mampir ke rumahnya. Tanyakan kenapa dia tak masuk sekolah. Bilang sama dia, Ibu meminta dia kembali masuk sekolah.“

Aku mengangguk.

Siang itu aku sebenarnya sudah lapar dan ingin segera sampai ke rumah. Tapi ibu sudah menyuruhku, jadi harus aku laksanakan. Lagipula aku juga ingin tahu ada apa dengan Nasrun. Jadi aku tak langsung pulang.

Rumah Nasrun ada di sebuah gang, berjarak tiga gang dari rumahku. Aku hanya tahu itu. Tak pernah sebelum ini aku mampir ke rumah Nasrun. Setelah bertanya kepada orang barulah aku tahu persis di mana rumah Nasrun. Dan aku segera menuju ke situ.

Rumah itu sederhana sekali. Jauh lebih sederhana dari rumah kecil yang aku tempati. Beratap daun nipah, berdinding papan tak bercat. Lantainya juga papan. Rumahku juga berlantai papan. Tapi rumahku beratap sirap dan berdinding semen. Nasrun tak ada di rumah. Ia aku temukan sedang bermain layang-layang di sebuah tanah kosong tak jauh dari rumahnya. Aku langsung mendatanginya.

Nasrun agak terkejut melihatku. Dia tentu tak menyangka aku datang. Dia lalu tersenyum tipis, tapi tetap melanjutkan main layang-layang.

“Mengapa kau tak sekolah?“ tanyaku tanpa basa-basi.

Nasrun diam.

“Hey, menagapa kau tak sekolah?“

Nasrun tetap diam.

“Orang tua kau tak punya duit untuk bayar?“

Nasrun menatapku. Lalu dia mengangguk.

“Kau masuklah dulu besok. Ketemu ibu wali kelas. Mungkin dia bisa membantu. Dia kan baik sama kita.“

Nasrun kini menggulung tali layang-layangnya. Ia hendak menyudahi permainan. Aku tunggu sampai dia selesai. Lalu kami sama-sama duduk.

“Untuk apa kau sekolah?“ tanya Nasrun.

“Aku ingin lulus, menyambung, lalu kuliah. Kalau sudah jadi sarjana, kita kan bisa dapat kerja bagus. Gaji cukup. Nanti bisa bantu orang tua kita.“

“Nah, itu kau.“

“Kau kenapa?“ tanyaku.

“Aku tak bisa begitu. Naik kelas saja aku belum tentu. Lulus juga belum tentu. Melanjutkan ke SMA? Kuliah? Belum lagi soal biayanya. Ah, jauh kali itu mimpi.“

Aku diam. Nasrun benar.

“Aku bisa bantu kamu belajar.“ Aku mencoba menyemangati, tapi tak terlalu meyakinkan. Nasrun cuma diam, tersenyum tipis.

Itulah hari terakhir aku bertemu Nasrun, sebelum hari ini.

http://berbual.com/

wordpress plugins and themes