Pak Amien, sudahlah……………

10 March 2010

Saya pernah sangat dekat dengan Amien Rais. Entah dia masih ingat saya atau tidak sekarang. Lulus kuliah saya melamar jadi dosen di PTN di kota kelahiran saya. Setelah selesai proses seleksi saya mesti menunggu kurang lebih setahun sampai saya diangkat menjadi PNS. Masa setahun itu saya lewatkan dengan kembali ke Yogya tempat saya kuliah.

Saya berniat melanjutkan studi S2 di UGM. Harapannya saat pengangkatan saya sebagai PNS nanti saya sudah separo jalan dalam pendidikan S2, agar karir saya sebagai dosen lebih mulus jalannya. Sudah ada sponsor yang bersedia membiayai kuliah saya. Tapi hanya untuk biaya kuliah. Untuk biaya hidup saya harus cari sendiri.

Saya sudah kenal akrab dengan Amien Rais sejak saya kuliah. Dia pun mengenal saya. Karenanya saya tak ragu untuk datang minta bantuan. Saya berniat menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi milik Muhammadiyah di Yogya. Waktu itu Amien adalah ketua PP Mumahhadiyah. Dia menyatakan dengan senang hati bersedia membantu saya. Di atas kertas berkop PP Muhammadiyah dia menulis rekomendasi singkat bertulis tangan, dalam bahasa Jawa kepada rektor universitas yang hendak saya masuki. „Rebat cekap. Ini ada kader kita mohon dibantu agar bisa menjadi dosen di universitas kita.“

Di saat lain di masa itu Amien pernah menyalami saya dengan tempelan sebuah amplop berisi uang. „Mas Hasan ini ada titipan dari seseorang.“ kata dia sambil tersenyum. Saya tahu uang itu dari dia sendiri. Meski saya sebenarnya tidak sedang kesulitan keuangan karena masih ada tabungan dari sisa gaji saya waktu kerja di perusahaan minyak, saya terima uang itu. Ada rasa bangga mendapat perhatian dari tokoh penting seperti Amien Rais.

Begitulah Amien Rais. Sosok sederhana, cerdas, berani, dan begitu perhatian pada anak muda. Banyak orang yang besar di samping Amien. Dia memang memberi jalan bagi orang lain untuk maju. Suatu saat ada diskusi di PPSK, lembaga penelitian yang dipimpinnya. Waktu itu hari Jumat dan peserta diskusi lumayan banyak, sehingga diputuskan untuk menyelenggarakan shalat Jumat di situ. Amien menyuruh salah satu rekan saya menjadi khatib dan imam.

Saat Mukatamar Muhammadiyah di Yogya Amien terpilih sebagai wakil ketua PP Muhammadiyah, mendampingi KH Azhar Basyir. Dalam suasana muktamar itu Amien mendapat giliran khutbah Jumat di Gelanggang Mahasiswa UGM. Saya waktu itu adalah pengurus Jamaah Shalahuddin yang menyelenggarakan kegiatan itu di kampus. Selesai khutbah Amien meminta saya menjadi imam, di salat di belakang saya. Sebuah sikap yang lagi-lagi mengesankan saya.

Tapi Amien bukan tokoh tanpa cela. Kami yang melihat sosok Amien dari dekat tahu betul soal itu. Banyak sikap dan kata-kata Amien yang menurut kami tak pantas. Tapi justru itu kami mengagumi Amien. Kami belajar darinya. Seorang teman berkomentar, „Semakin dekat kita dengan tokoh, semakin tahu kita bahwa tokohpun hanyalah manusia. Dari kemanusiaannya yang tak sempurna itulah kita bisa belajar.“ Sikap itulah yang saya pegang dalam berinteraksi dengan tokoh. Saya terbiasa melihat dan mendukung seseorang saat dia benar, dan mengoreksinya bila salah.

Setelah era Soeharto berakhir, Amien resmi memasuki dunia politik praktis, menjadi Ketua Umum PAN, meninggalkan jabatannya sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Kita semua masih ingat manuver Amien melalui Poros Tengah yang oleh banyak orang dianggap melanggar etika politik. Karena itu banyak tokoh penting seperti Faisal Basri hengkang dari PAN. Saya termasuk yang tak suka dengan manuver Amien itu.

Sungguhpun begitu saya tetap pendukung Amien. Saat dia maju sebagai calon presiden tahun 2004 berbagai cara saya lakukan untuk mendukungnya. Masih ada harapan melalui tangan Amien reformasi yang mandek bisa digelindingkan kembali. Sayang, Amien kalah.

Turun jabatan sebagai Ketua MPR Amien kembali menunjukkan contoh yang baik dengan tidak lagi bersedia menjadi Ketua Umum PAN. Sebuah sikap yang bagus untuk regenerasi. Amien berjanji untuk kembali ke kampus, menjadi akademisi. Sayang, dunia politik praktis sepertinya masih sangat menarik buat Amien. Dia masih jadi penentu dalam banyak hal di PAN. Termasuk soal dengan partai mana PAN harus berkoalisi pasca pemilu 2009.

Berada di luar kekuasaan Amien masih menjadi bintang walau tak cemerlang benar sinarnya. Sesekali suaranya masih terdengar keras, meski banyak suara keras yang sudah tak lagi patut. Amien tampak seperti kehilangan sesuatu, dan berusaha mengambilnya kembali, tanpa menyadari bahwa zamannya sudah berlalu.

Kini Amien dikabarkan hendak mundur dari PAN kembali ke Muhammadiyah. Bukan sebagai sesepuh, tapi sebagai calon Ketua Umum. Untuk apa? Niat Amien untuk mundur dari PAN menurut saya bagus. Tapi bukan untuk kembali ke Muhammadiyah. Tapi untuk menjadi orang tua.

Amien sudah masuk pada usia „tasyahud akhir” dalam karirnya sebagai manusia. Sudah saatnya dia melakukan kontemplasi dan evaluasi. Amien sudah tidak lagi pada fase berteriak lantang, pun tidak lagi bugar untuk memimpin organisasi besar seperti Muhammadiyah. Itu urusan orang yang lebih muda.

Lebih baik Amien menyepi dari hiruk pikuk dunia politik. Tanpa memimpin Muhammadiyah atau PAN Amien tetap seorang tokoh besar. Sudah saatnya tokoh besar ini menulis ulang strategi yang pernah dia gagas dan jalankan, menjelaskan kekurangannya. Agar kita bisa belajar dari situ. Tapi untuk itu memang diperlukan keberanian yang luar biasa besar. Yaitu keberanian untuk menyepi, dan keberanian untuk mengakui kesalahan sendiri.

Pak Amien yang saya hormati, sudahlah…………………..

http://berbual.com

Buah Tangan dari Ayah

4 March 2010

Langkah kakiku aku percepat. Aku ingin segera tiba di rumah. Karena itu aku tolak ajakan kawan-kawan untuk main guli di halam sekolah usai jam pelajaran terakhir tadi. Tak kupedulikan ejekan Mansur saat aku menolak untuk main guli tadi.

“Takut kalah dia. Gulinya tinggal beberapa biji. Kalau kalah habislah semua.“ ejek Mansur. Sesungguhnya hatiku panas mendengarnya. Tapi tak kupedulikan.

Matahari sudah hampir tegak di atas kepala. Sebentar lagi lohor, dan perutku mulai terasa lapar. Tapi bukan karena itu aku buru-buru pulang. Aku berharap bisa segera bertemu Ayah. Atau kalaupun dia belum pulang, aku ingin berada di rumah saat dia pulang. Kata Emak, Ayah akan pulang hari ini.

Ayahku bekerja di Teluk Air. Pernahkah kau mendengar nama tempat itu? Guru di sekolahku sering mengajarkan bahwa Teluk Air adalah pelabuhan alam terbesar di Indonesia. Mungkin gurumu juga pernah mengatakan hal serupa. Aku bangga dengan ini, karena Teluk Air tak jauh benar dari kampungku. Bangga rasanya punya tempat terkenal di dekat kampung sendiri.

Teluk Air adalah pelabuhan untuk ekspor kayu. Kayu-kayu ditebang dari hutan-hutan di sekitarnya. Lalu dirakit dan dihanyutkan atau diangkut dengan tongkang besi. Sebagian digergaji di sawmil, sebagian langsung dimuat ke kapal untuk dijual ke luar negeri. Nah, Ayahku bekerja luding di situ. Ia membantu memuat kayu-kayu itu ke kapal.

Ayah pergi kerja beberapa hari. Kadang sampai seminggu. Ia pulang sehari dua, lalu pergi lagi. Aku suka kalau Ayah pulang. Ia selalu membawa buah tangan. Tak jarang ia membawakan buah tangan yang ia dapat dari kapal, yang tentu tak bisa didapat di kampung kami. Misalnya buah apel atau anggur. Juga biskuit yang bungkusnya bertuliskan bahasa yang tak kukenal. Kadang Ayah membawakan mainan. Pokoknya semua buah tangan dari Ayah menarik dan menyenangkan.

Ayah baru bekerja luding beberapa bulan ini. Sebelumnya Ayah bertani, merawat kebun kelapa miliknya. Tapi sejak dulu Ayah memang selalu membawakan buah tangan buatku. Dari kebun biasanya dia membawakan telur burung keruwak atau pipit. Sesekali dia membawa burung punai yang dia tangkap dari jerat yang dia pasang di pohon jambu di kebun. Burung punai ini oleh Emak dibuat gulai. Atau hanya sebatang tebu. Kalau Ayah menghadiri selamatan di rumah orang dia juga kadang membawakan buah tangan. Aku paling suka telur rebus yang kulitnya diberi warna dari pohon telur yang biasanya hadir pada acara gunting rambut bayi atau pernikahan. Pada telur itu ada daun yang dibuat dari uang kertas seratus rupiah.

Rumahku sudah tak jauh lagi. Langkahku makin kupercepat. Dadaku terasa berdebar membayangkan buah tangan apa yang akan dibawakan Ayah hari ini.

Sampai di rumah ternyata Ayah belum pulang.

“Basuhlah tangan kau, lalu makan.“ perintah Emak.

„Nanti ja, nunggu Ayah.“

„Ai, entah pukul berapa Ayah kau pulang. Makanlah kau dulu.“

„Tak apa. Aku tunggu Ayah ja.“

„Nanti kau sakit perut. Makan sana!“ kata Emak tegas.

Aku menurut. Percuma membantah Emak kalau sudah begini. Salah-salah nanti pahaku dicubitnya. Pelan-pelan aku menuju ke dapur, di situ terhampar tikar pandan dengan tudung saji tertungkup di tengahnya. Di bawah tudung itu ada makanan. Pelan-pelan pula aku ambil piring, ku isi nasi dan lauk. Lalu aku mulai makan pelan-pelan, berharap Ayah akan datang sebelum aku selesai.

+++
Tadinya Ayah tak berminat kerja luding. Ia bahkan tak berminat bekerja di Teluk Air. Banyak orang kampung kami yang bekerja di sana. Selain yang kerja luding ada yang juga bekerja di sawmil, tempat kayu digergaji jadi papan, atau bekerja menebang kayu di hutan. Orang-orang ini kelihatan lebih berada dari kebanyakan orang kampung kami yang bertani. Pak Ngah Matnur, sepupu Ayah bekerja luding sejak lama. Rumahnya berdinding semen, beratap sirap. Sudah lama pula dia mengajak Ayah. Tapi Ayah menolak.

“Senang juga kalau kita punya rumah semen.” kata Ayah pada Emak suatu ketika.

Emak Cuma tersenyum. Dia tahu Ayah sedang menguji minatnya.

„Aku senang kalau di rumah ini ada Abang. Tak peduli dindingnya semen atau papan, atapnya sirap atau daun nipah.” jawab Emak. Ayah tersenyum mendengarnya.

Ayah lebih suka berkebun meski hasilnya tak seberapa. „Kebun ini Ayah buka sendiri. Ayah yang merimba, menebang kayu-kayu waktu kebun ini masih hutan. Ayah juga yang menanam kelapa dan kopinya. Ayah tak akan meninggalkannya.“ begitu kata Ayah menjelaskan padaku suatu ketika. „Kalau Ayah bekerja kayu Ayah dapat duit. Tapi tak ada yang Ayah tinggalkan. Kebun ini adalah peninggalan Ayah kalau kelak Ayah mati.” itu alasan Ayah di lain waktu.

Hasil kebun Ayah sebenarnya tak seberapa. Tanah yang dirimba Ayah, kemudian diolah menjadi kebun ternyata tak subur. Tanah tempulur, terlalu asam. Itu yang aku dengar dari Ayah. Kelapa tumbuh tinggi tapi buahnya tak lebat. Demikian pula pohon kopi. Sejak dua tahun yang lalu Ayah mulai membuka lahan lain untuk kebun. Tapi pohon kelapa yang ditanam di situ baru mulai bertunas, masih 4-5 tahun lagi baru akan berbuah. „Mudah-mudahan kali ini tanahnya subur.“ doa Ayah.

Sikap Ayah berubah beberapa bulan yang lalu. Waktu itu aku baru saja naik ke kelas lima. Aku kembali juara satu di kelas, seperti tahun-tahun sebelumnya.

„Kau mau nyambung tak kalau tamat nanti?“ tanya Ayah waktu melihat raporku.

Aku terkejut dengan pertanyaan itu. Tak berani aku menjawabnya. Sebenarnya sudah lama aku memendam mimpi untuk menyambung sekolah ke kota. Aku ingin jadi guru seperti Pak Ibrahim, anak Nek Ngah yang sekarang mengajar di sekolahku. Dia dulu juga sekolah di sekolah itu. Tamat SD dia melanjutkan ke SMP di kota, lalu masuk SPG. Sudah hampir dua tahun dia pulang kampung dan jadi guru.
Tapi aku sadar, Ayah tak berada seperti Nek Ngah. Kebun kelapa Nek Ngah luas dan tak cuma sebidang. Hasil kelapa dan kopinya banyak. Tak sulit bagi dia untuk menyekolahkan anaknya. Tak cuma seorang. Adik Pak Ibrahim yang perempuan sekarang sedang sekolah perawat di kota.

Tapi Ayah tak mungkin membiayai sekolahku. Karenanya aku tak pernah mengungkapkan keinginanku itu pada Ayah. Kali inipun aku tak berani.

„Kau mau nyambung tak?“ ulang Ayah.

Aku mengangguk. Ragu sebenarnya anggukan itu.

„Ya sudah, kau belajar dengan baik. Tamat nanti kau nyambung ke kota.“

„Tapi yah……“ jawabku tertahan.

“Tak usah khawatir. Untuk kau, bergadai kulit kepala pun Ayah sanggup.“

Sejak itulah Ayah memutuskan untuk kerja luding. Ia rela meninggalkan kebunnya. Ia ingin dapat uang lebih banyak lagi untuk biaya sekolahku kelak. “Kalau kita ada uang lebih kita bisa mengupah orang untuk merawat kebun. Lagipula, kalau sedang tak kerja luding aku masih bisa merawatnya.” kilah Ayah kali ini. Emak pun setuju.

Ada yang berubah sejak Ayah kerja luding. Ayah tak lagi tiap hari ada di rumah. Sudah jarang dia mengajarku mengaji. Emak yang sekarang mengajar. Hanya sesekali Ayah sempat mendongeng menjelang aku tidur. Kalaupun dia ada di rumah, dia kelihatan sudah sangat letih. Dia segera tidur selesai salat isya.

Tak apa. Aku tahu Ayah letih. Dia letih bekerja untuk aku. Aku tak keberatan kehilangan banyak kesempatan bersama Ayah. Yang jelas ada satu yang tak berubah. Ayah selalu membawakan buah tangan untukku.

Baru separuh isi piringku aku makan. Di depan aku dengar suara yang agak gaduh, makin lama makin keras gaduhnya. Ayah sudah pulang? pikirku. Tanpa membasuh tangan aku berlari ke depan. Di halaman aku lihat banyak orang. Ada Pak Ngah Matnur di situ. Kulihat orang-orang itu menggotong sesuatu yang dibalut dengan tikar pandan. Ada darah menetes dari ujung tikar itu.

„Abaaaaaaaaaaaaang………..“ teriak Emak histeris, menghambur ke arah bungkusan tikar pandan itu.

Suasana tambah gaduh.

“Dia tertimpa balok kayu waktu kami sedang luding.“ Begitu penjelasan Pak Ngah kepada tetangga yang datang mendengar kegaduhan itu. Aku tak mendengar lagi lanjutan kata-kata Pak Ngah. Aku tak ingin mendengarnya. Ayah tak kan pernah lagi pulang membawa buah tangan.

Catatan:
Guli= gundu, kelereng
Luding= loading, memuat barang ke kapal
Sawmil= sawmill, pabrik penggergajian kayu

http://berbual.com

Love what you do!

3 March 2010

Mengerjakan sesuatu yang kita sukai tentu menyenangkan. Karenanya dalam memilih pekerjaan umumnya orang akan mencari pekerjaan yang dia sukai. Tapi dalam kenyataan tak semua orang bisa menemukan pekerjaan yang dia sukai. Pada situasi itu hanya ada satu pilihan, yaitu (mencoba) menyukai apa yang kita kerjakan.

Sejak kecil saya suka pelajaran Matematika dan IPA. Nilai saya untuk mata pelajaran itu selalu bagus. Ketika SMA lebih khusus lagi saya menyukai pelajaran Fisika. Karena itulah saya memilih untuk melanjutkan kuliah ke jurusan Fisika.

Tapi Fisika yang saya hadapi saat SMA ternyata berbeda dengan yang saya hadapi saat kuliah. Mulai tahun kedua saya mulai mengalami kesulitan dalam pelajaran. Banyak topik yang gagal saya pahami. Aljabar vektor yang merupakan salah satu alat untuk memahami Mekanika Kuantum terlalu rumit buat saya. Otomatis saya juga keteteran saat mendalami Mekanika Kuantum. Padahal topic-topik Fisika tingkat lanjut semua berbasis pada Mekanika Kuantum.

Terus terang saya sempat frustrasi dengan dunia Fisika, lalu mencari „pelarian“ di dunia aktivitas ekstrakurikuler. Di sini suasananya lebih menarik. Dan yang penting, saya tidak harus berhadapan dengan dunia abstrak seperti ruang vektor atau ruang kuantum. Kala itu tak jarang orang mengira saya mahasiswa Fisipol.

Tapi ada saatnya saya harus berhenti dengan keasyikan itu. Memasuki tahun ke 6 kuliah saya sadar bahwa saya harus lulus. Kasihan orang tua yang sudah membiayai kuliah saya. Tak ada pilihan, saya harus kembali ke Fisika. Saya mulai mencari topik skripsi. Kebetulan ada dosen yang baru selesai S2 di UI, dan dia dibimbing oleh seorang profesor tamu dari Jepang. Saya memilih untuk mengerjakan topik yang sama dengan dosen tersebut, di bidang Fisika Zat Padat.

Waktu itu saya membutuhkan kristal untuk bahan eksperimen, dan kristal itu tidak tersedia di Indonesia. Saya beranikan diri menyurati profesor Jepang tadi untuk minta bantuan. Berhasil. Dia mengirimi saya 3 potong kristal. Lalu saya membuat alat untuk keperluan eksperimen, mencari sendiri alat ukur di berbagai laboratorium di UGM dan Batan. Dosen pembimbing saya nyaris tak melakukan apa-apa. Semua saya kerjakan atas inisiatif saya sendiri.

Dalam waktu enam bulan saya berhasil menyelesaikan skripsi. Banyak mahasiswa yang terhambat di situ hingga bertahun-tahun. Saya sadar bahwa saya bisa melakukan itu bukan karena saya pintar di bidang Fisika. Modal utamanya tidak di situ, tapi pada ketekunan saya. Itu ditambah dengan kemampuan saya menulis, yang memang cukup baik. Hasilnya, skripsi saya diterima nyaris tanpa koreksi dari pembimbing, dan saya lulus kuliah.

Lepas dari bangku kuliah saya mencoba berkarir sebagai logging engineer di lapangan minyak. Saya menyukai pekerjaan ini. Basisnya adalah ilmu Fisika, tapi bukan yang rumit dan abstrak seperti Mekanika Kuantum. Pekerjaannya sendiri menantang, di alam terbuka, dan penuh bahaya. Cocok untuk laki-laki yang punya jiwa petualang.

Tapi saya tak suka lingkungan kerjanya. Tak ada manusia di situ. Cuma segelintir. Saya adalah mantan aktivis yang punya kawan seantero Yogya. Waktu itu belum ada HP atau internet seperti sekarang. Terisolasi di pedalaman Sumatera Selatan sana adalah siksaan luar biasa. Akhirnya saya keluar dari pekerjaan ini. Saya kemudian menjadi dosen, pekerjaan yang sejak lama jadi cita-cita saya.

Bekerja sebagai dosen sungguh menyenangkan saya. Saya suka mengajar dengan berbagai aspeknya. Tapi menjadi dosen membuka „hubungan lama“ saya dengan Fisika yang memusingkan itu. Saya berusaha menghindar. Ketika mendapat kesempatan untuk kuliah S2 ke Jepang saya sengaja memilih Fisika Terapan dengan niat agar tak lagi berurusan dengan Mekanika Kuantum. Celakanya tanpa saya kehendaki saya malah mendapat profesor pembimbing yang topik penelitiannya di bidang ilmu dasar, bukan terapan. Lebih parah lagi saya harus meneliti bahan organik. Padahal sejak SMA saya sangat benci pada Kimia Organik.

Lagi-lagi saya tak punya pilihan. Saya harus belajar dan melakukan eksperimen di bidang yang tak saya sukai. Sudah kepalang basah, saya harus hadapi itu dengan tekun, meski banyak hari-hari harus saya lalui dengan dimaki-maki oleh professor saya, karena saya tidak mampu memahami atau menjelaskan sebuah persoalan. Itu karena basis saya di bidang Mekanika Kuantum dan Fisika Zat Padat memang lemah.

Tak cuma masalah pemahaman. Juga ada hambatan fisik. Salah satu eksperimen yang harus saya lakukan dalam penelitian adalah mengamati karakter material di bawah tekanan tinggi. Saya menggunakan alat yang disebut diamond anvil cell. Alat ini terdiri dari dua potong intan yang digunakan untuk menjepit sebuah pelat logam. Pelat itu dilubangi sehingga di dalamnya tercipta sebuah ruang. Ke dalam ruang itulah dimasukkan sampel yang hendak diamati, ditambah media cair penerus tekanan dan serpihan kristal ruby untuk mengukur tekanan. Saat kedua potong intan itu ditekan, ruangan tadi akan mengecil dan terciptalah kondisi tekanan tinggi.

Saya menggunakan istilah ruang, tapi ini ruang yang sungguh kecil! Diameter lubang hanya 0.3 milimeter. Untuk memasukkan benda-benda tadi saya menggunakan lidi yang di ujungnya saya ikatkan benang wol yang sangat halus. Ujung benang wol itu saya gunakan untuk mengangkat dan menggeser benda-benda itu. Ukuran benda serta lubang sangat kecil sehingga tak mungkin semua itu dilakukan dengan mata telanjang. Seluruh pekerjaan itu dilakukan dengan panduan pengamatan visual di bawah mikroskop.

Saya punya masalah fisik. Tangan saya tidak stabil. Sering gemetaran. Tremor, kata dokter. Tapi saya harus memasukkan beberapa benda yang sangat kecil dan rapuh ke dalam sebuah lubang yang sangat kecil pula. Luar biasa sulit.

Ada tiga bulan yang saya lalui untuk berlatih menggunakan alat itu. Tiga bulan terus menerus, tiap hari saya mengulang hal yang sama. Tiap hari gagal, saya mulai lagi. Lagi dan lagi. Setelah tiga bulan itu barulah saya mulai menghasilkan data eksperimen.

Begitulah. Dengan terseok-seok akhirnya saya bisa menyelesaikan studi hingga meraih gelar doctor. Bahkan kemudian saya berkarir selama 4 tahun sebagai peneliti tamu di Jepang. Kadang saya heran sendiri, kok saya bisa jadi doktor bahkan profesor tamu di Jepang.

Sejak masih kuliah S1 saya tidak berminat untuk bekerja di dunia industri. Saya tak suka. Saya tak suka pada jadwal yang tetap, harus masuk jam sekian, pulang jam sekian. Saya juga tak suka bekerja di bawah orang, disuruh-suruh. Saya suka pekerjaan yang independen, di mana saya menentukan apa yang harus saya lakukan.

Tapi lagi-lagi saya harus menghadapi itu. Karena berbagai alasan saya harus memulai karir di dunia industri. Tak terasa sudah tiga tahun saya berkarir di dunia ini. Sejauh ini saya menikmatinya.
Kawan. Dalam hidup ini sering kita harus melakukan hal-hal yang tidak kita sukai. Tapi pengalaman saya mengajarkan bahwa kita pun bisa melakukan hal-hal yang tadinya tidak kita sukai. Bahkan kita kemudian bisa menyukainya.

If you cannot do what you love, try to love what you do. Itulah resep saya.

http://berbual.com

Manajemen

23 February 2010

Kita harus berterima kasih pada yang menciptakan istilah dan konsep manajemen. Sungguh, dengan manajemen segala sesuatu jadi mudah. Kita semua mungkin sudah merasakan hal itu. Tapi saya ingin berbagi informasi tentang berbagai bentuk kemudahan lain yang dihasilkan oleh sesuatu bernama manajemen.

Kalau Anda pemegang gelar sarjana di bidang ilmu yang sulit-sulit, dan Anda membutuhkan gelar S2, tapi berbagai keterbatasan membuat Anda tak mungkin meraih gelar itu, cobalah dengan manajemen. Pilihan pertama adalah paket Magister Manajemen (MM). Tersedia banyak pilihan di situ. Ada yang bisa diperoleh dengan kuliah di akhir pekan atau malam hari. Ada yang cuma memerlukan waktu kuliah enam bulan di akhir pekan. Ada yang bahkan tak memerlukan kuliah sama sekali. Ijazahnya bisa dipesan, Anda cukup hadir di acara wisuda.

Masih ada pilihan lain. Kalau Anda seorang dokter, dan sulit bagi Anda untuk mengambil program dokter spesialis yang makan waktu, tenaga dan biaya, maka Anda punya pilihan, misalnya Manajemen Rumah Sakit, atau Manajemen Kesehatan, atau yang sejenis itu. Dijamin, Anda akan bisa memperkaya diri dengan gelar tanpa harus bersusah payah.

Yang di jurusan teknik bisa mengambil jurusan Manajemen Infrastruktur, atau Manajemen Energi. Dijamin tak serumit kalau Anda harus mengambil jurusan Teknik Sipil atau Elektro. Toh, gelar yang Anda peroleh sama juga, yaitu Magister Teknik atau MT.

Saya pernah mengajar di program S2 Teknik Sipil di suatu PTN. Pesertanya adalah pejabat-pejabat daerah, setingkat Kepala Dinas atau Kepala Bidang. Juga dosen-dosen senior yang dulu belum sempat melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Sudah barang tentu mereka ini berduit. Lebih berduit dari dosen yang mengajar. Sudah barang tentu mereka tidak bisa diharapkan untuk belajar dengan benar. Sudah tua, otaknya tumpul. Atau boleh jadi otaknya sudah tumpul sejak muda. Wallahu alam.

Sudah barang tentu mereka juga tak bisa disuruh riset sebagaimana lazimnya mahasiswa pasca sarjana. Juga tak boleh diharapkan mereka membuat tesis. Lha, tugas kuliah saja mungkin mereka tak sanggup membuatnya.

Alkisah suatu hari saya didatangi seorang mahasiswa saya di program S2 itu. Umurnya lebih tua dari saya. Mobilnya lebih bagus dari saya. Dan hebatnya dia mengerti betul prinsip manajemen. Sungguh membanggakan, karena dia mahasiswa saya.

Prinsip manajemen yang saya maksud adalah prinsip yang sangat mendasar, yaitu “getting things done through other people’s hands” alias “menyelesaikan masalah dengan meminjam tangan orang lain”.

Setelah basa-basi sejenak, dia bicara. “Saya mau bikin tesis nih, Pak.”

“Wah, bagus itu. Mudah-mudahan Bapak bisa jadi orang pertama yang lulus di program ini.”

“Iya, tapi saya ada sedikit kendala.”

“Apa itu?”

“Saya kadang kesulitan mengekspresikan pendapat saya dalam bahasa tulisan.”

“Oh, kalau itu saya bisa bantu. Kebetulan saya punya banyak pengalaman menulis karya ilmiah, termasuk di jurnal internasional. Saya bisa menjadi pembimbing informal Bapak, karena bidang saya bukan Teknik Sipil. Nanti saya bantu untuk masalah redaksionalnya.”

“Kalau Bapak mau bantu saya, ada baiknya Bapak bantu secara menyeluruh saja. Jadi saya terima jadi saja.”

“Maksudnya gimana?”

“Ya, minta tolong Bapak saja yang menulis semua.”

Oh, my God. Oh Manajemen……………….

http://berbual.com

Integritas Anggota Parlemen

14 December 2009

Februari 2006. Parlemen Jepang heboh. Hisayasu Nagata, seorang anggota parlemen dari partai oposisi Democratic Party of Japan (DPJ) menuduh seorang petinggi partai berkuasa LDP menerima suap dari Takafumi Horie. Horie adalah seorang pengusaha muda dan terkenal yang saat itu sedang berada dalam tahanan polisi atas tuduhan melakukan kecurangan dalam perdagangan saham. Nagata menyebutkan bahwa tuduhannya tersebut didasarkan atas selembar kertas hasil cetakan isi e-mail yang diperkirakan dikirim oleh Horie, berisi perintah untuk mengirimkan uang sebesar 30 juta yen kepada putra petinggi LDP tadi.

Tuduhan itu menggemparkan Jepang. Kalau terbukti benar, tidak hanya petinggi partai tadi yang akan kena akibatnya. Tapi bisa jadi LDP yang saat itu sedang cukup kuat di bawah kepemimpinan Junichiro Koizumi akan terguncang. Karenanya sempat berhembus pula wacana pergantian kekuasaan (seiken koutai) dari LDP ke DPJ.

Malang bagi Nagata, tuduhan yang ia lancarkan ternyata tidak terbukti. E-mail yang dia duga asli ternyata palsu. E-mail itu tidak pernah dikeluarkan oleh Horie. Dan tentu saja Horie pun tidak pernah menyogok pimpinan LDP.

Akibat kecerobohannya itu Nagata dikenai sangsi. Ia dipecat dari parlemen, dan dikenai larangan tampil dalam pemilu selama 2 tahun. Itu adalah akhir dari karir politik Nagata. Belakangan dikabarkan bahwa ia melakukan usaha bunuh diri karena frustrasi.

Kini kita berhadapan dengan kasus yang mirip. Anggota Pansus Angket Bang Century Bambang Susetyo menuduh Menteri Keuangan Sri Mulyani bertemu dengan Robert Tantular dan melakukan pembicaraan. Dasar tuduhannya adalah sebuah rekaman pembicaraan. Tapi dari penjelasan Sri Mulyani, besar kemungkinan tuduhan itu adalah tuduhan palsu. Sri Mulyani akan melakukan tindakan hukum atas hal tersebut.

Bambang mungkin akan berdalih bahwa yang ia lakukan dalam lingkup kerja dia sebagai anggota parlemen. Dalam konteks itu apapun yang dia ucapkan tidak bisa dipersoalkan secara hukum, karena ia memiliki kekebalan. Boleh jadi nasibnya tak akan seburuk Nagata.

Tapi masalahnya tak cuma di situ. Kita memerlukan anggota parlemen yang bekerja serius. Yang berkata dan bertindak berdasar data yang valid. Karenanya konfrimasi, dan re-konfirmasi menjadi sangat penting dalam pekerjaan anggota DPR. Bila tidak, kerja itu hanya berwujud main-main. Sangkaan-sangkaan yang serius sekalipun akan dengan mudah dipatahkan. Ini bisa memandulkan fungsi pengawasan DPR.

Kasus Bank Century adalah kasus besar. Semua masalah harus dibuka dan dijelaskan kepada publik. Harus dijelaskan pula mana bagian yang merupakan ranah hukum, ranah politik, dan ranah kebijakan, berikut segala konsekwensinya. Ini adalah kerja besar yang tidak mudah. Karenanya wajib dikerjakan secara serius.

Bila ada niat untuk menuai popularitas di benak anggota Pansus, harap niat itu segera dibuang jauh-jauh. Rakyat memantau semuanya. Sebuah niat tak patut akan segera terlihat, dan Anda, anggota DPR atau siapapun yang berniat cari muka, akan kehilangan muka.

Jadi, kembalikan arah penyelidikan kasus Bank Century ke arah yang benar, yaitu untuk membuka kebenaran dan menegakkan keadilan. Bukan untuk petualangan politik menjungkalkan seseorang atau suatu kekuatan politik.

http://berbual.com

Belajar Makna Kata

3 December 2009

Saya selalu terkenang dan kagum pada guru-guru bahasa Jepang saya. Saya belajar bahasa Jepang di Kuala Lumpur, bersama 10 orang pelajar lain dari negara-negara ASEAN+Bangladesh melalui Asian Youth Fellowship Program (http://www.asiaseed.org/ayfj/info/info_A3.htm). Kami adalah pelajar-pelajar yang hendak melanjutkan pendidikan S2-S3 di Jepang, dan sebelum kedatangan ke Jepang kami mendapat pelatihan bahasa Jepang selama setahun.

Kami semua buta bahasa Jepang ketika masuk program ini. Saya bahkan tak tahu makna kata “konnichiwa” ketika itu. Hari demi hari kami belajar. Kata demi kata kami ingat. Juga sedikit demi sedikit, tata bahasa, hiragana, katakana, dan huruf kanji kami pelajari. Guru-guru kami bisa berbahasa Inggris. Tapi tak pernah mereka mengajar dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Bahasa pengantar saat mengajar, ya bahasa Jepang. Kami hanya menemukan bahasa Inggris di kamus Inggris-Jepang yang kami gunakan.

Di saat-saat awal pelajaran guru-guru kami menggunakan gambar dan bahasa isyarat untuk menjelaskan makna sebuah kata. Kemudian hari, saat kami mulai paham banyak kosa kata bahasa Jepang, mereka menjelaskan kata-kata yang rumit dengan kosa kata sederhana yang sudah kami pahami.

Komunikasi di luar kelas juga selalu dipaksakan dengan bahasa Jepang. Dan bagian inilah yang paling menarik buat saya. Kami selalu bisa berkomunikasi dengan guru kami. Tak kami rasakan adanya kesulitan yang mendasar. Guru kami sepertinya paham betul sampai dimana penguasaan kosa kata dan tata bahasa kami. Mereka berbicara sesuai dengan kemampuan tersebut. Tidak cuma itu. Mereka dengan tertib menyesuaikan diri dengan perkembangan kemampuan kami.

Di akhir program yang berlangsung selama setahun, kami bisa berkomunikasi dengan sangat lancar dalam bahasa Jepang. Kalau diingat saat-saat kami mulai ikut program ini, kemampuan ini terasa aneh dan mengejutkan. Aneh rasanya bahwa kami bisa mengingat ribuan kata dalam setahun. Sesekali saya mencoba mengingat kapan saya memahami makna suatu kata tertentu. Tapi tak banyak yang bisa saya ingat. Saya lupa dengan cara apa, pada saat apa saya mulai paham dan ingat makna sebuah kata. Yang saya ingat hanya makna kata tersebut.

+++

Saya bandingkan pengalaman saya itu dengan pengalaman membesarkan dan mendidik anak saya. Ada kesamaan, yaitu bahwa kepada anak-anak juga kita perkenalkan makna kata, satu demi satu. Mulai dari kata-kata sederhana, makna sederhana, lalu ke kata-kata yang rumit, dan makna kata yang lebih dalam. Bedanya, saya menyerap kata-kata baru dalam bahasa Jepang dengan kematangan logika dan pengalaman, sedangkan anak-anak saya dengan kepolosan.

Kadang saya merasa sulit menjelaskan makna suatu kata kepada anak-anak karena soal kepolosan ini.

Ada kejadian lucu ketika anak saya yang tertua masih usia TK. Suatu hari dia bertanya, “Ayah, dulu waktu kecil TK-nya di mana?”

“Ayah dulu nggak masuk TK.”

“Kenapa?”

“Karena Ayah dulu waktu kecil di kampung. Di kampung tidak ada TK.”

“Kenapa tidak ada TK, Ayah?”

Saya sempat bingung harus menjawab apa. Lalu keluarlah jawaban ini, “Di kampung dulu orang-orangnya tidak punya uang. Miskin. Jadi tidak bisa bikin TK. Dan Datuk, ayah Ayah, juga tidak punya uang untuk memasukkan Ayah ke TK.”

Kata kunci “miskin” ini sengaja saya masukkan ke alam fikiran anak saya dengan suatu niat. Saat ini boleh dibilang kehidupan saya berkecukupan, walau tidak mewah. Ini suatu hal yang sangat saya syukuri. Tentu cara hidup anak-anak saya sangat berbeda dengan cara hidup saya ketika masih kecil dulu. Dulu kami biasa diajari hidup prihatin oleh orang tua kami. Sekarang sedikit banyak anak-anak saya harus paham soal hidup prihatin ini, walau mereka mungkin tak akan pernah bisa mengalaminya.

Rupanya kata “miskin” ini membekas betul di hati anak saya. Dia sering bertanya seperti apa miskin itu. Saya jelaskan bagaimana kondisi hidup saya waktu kecil dulu. Rumah kami, kata saya, berdinding papan, beratap daun nipah. Saya pergi ke sekolah jalan kaki, tidak pakai sepatu. Dan seterusnya.

Saat kami bepergian dan melewati rumah-rumah kampung, anak saya bertanya, “Ayah, rumah Ayah dulu seperti itu, ya?”

“Iya.”

“Oooh, jadi rumah orang miskin itu seperti itu, ya.” kata anak saya membuat kesimpulan.

+++

Makin lama anak saya makin serius memikirkan topik miskin ini. Suatu hari dia bertanya, “Ayah, kenapa sih orang itu bisa miskin?”

“Karena mereka malas.”

“Malas itu apa sih?”

“Malas itu nggak mau kerja. Kalau kerja merasa capek sedikit sudah langsung berhenti. Tidak ditahan capeknya, sehingga kerjanya cuma sedikit. Hasilnya sedikit, sehingga jadi miskin.”

Saya ucapkan itu untuk memberi motivasi pada anak saya, karena dia sering mengeluh capek dan langsung mau berhenti saat melaksanakan suatu aktivitas. Saya fikir dia cuma manja saja.

Ajaran saya itu rupanya membekas di benaknya. Suatu hari dia kami suruh pergi membeli roti bersama pembantu ke toko roti di dekat rumah. Tapi tidak seperti biasa, mereka pergi hampir setengah jam. Padahal jarak toko roti ke rumah kami tak jauh. Khawatir, saya berniat mencari mereka. Kebetulan saat itu mereka sudah terlihat sedang menuju ke rumah.

Pembantu saya mengeluh.

“Pak, saya diajak pergi ke toko roti yang di sana itu, jauh.”

“Lha, ngapain?” tanya saya.

“Kata dia harus pergi ke toko yang jauh. Saya bilang ntar capek. Eh dia bilang, capek itu harus ditahan, biar kita tidak miskin.”

Ampun, deh.

http://berbual.com

Jidoushi, tadoushi

13 November 2009

Jidoushi dan tadoushi adalah istilah tata bahasa Jepang untuk kata kerja transitif dan intransitif. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal kata kerja transitf sebagai kata kerja yang membutuhkan objek, sedangkan intransitif tidak membutuhkan objek. Definisi kedua kata kerja ini dalam bahasa Jepang sedikit berbeda, dan bagi saya sangat inspiratif. Karenanya saya ingin sedikit berbagi inspirasi.

Doushi berarti kata kerja. Ji berarti sendiri atau dengan sendirinya, sedangkan ta berarti (pihak) lain. Jidoushi artinya kata kerja yang menggambarkan kejadian/kerja yang terjadi dengan sendirinya, atau dilakukan sendiri oleh subjek. Sedangkan tadoushi adalah kejadian/kerja oleh subjek kepada suatu objek.

Salah satu contoh pasangan kata kerja intransitif-transitif dalam bahasa Jepang adalah deru (keluar, intransitif) dan dasu (mengeluarkan, transitif). Saya punya sedikit cerita tentang dua kata kerja ini.

Saat ini saya diberi amanah untuk memimpin sebuah perusahaan Jepang di bidang plastic molding injection yang baru beroperasi sekitar 3 tahun. Selama ini kami membuat barang-barang pesanan dari perusahaan induk di Jepang, untuk dipasarkan di Jepang dan beberapa negara lain. Namun tahun ini pesanan dari Jepang menurun drastis, sehingga kami dihadapkan pada kemungkinan kami akan merugi.

Untuk menutupi kerugian, kami menerima pekerjaan maklun (subkontrak). Nilai pekerjaan yang kami terima cukup rendah, karena perusahaan mitra kami yang memberi pekerjaan itu juga sedang melakukan cost down secara ketat. Kami yang selama ini terbiasa mendapat order dengan margin keuntungan besar dari Jepang merasa berat melakukan pekerjaan ini.

Namun dengan pertimbangan bahwa ada sedikit pekerjaan lebih baik dari tidak sama sekali, kami putuskan untuk menerima pekerjaan ini. Minimal mesin tidak menganggur dan biaya-biaya rutin (overhead) bisa tertutupi.

Dengan kesadaran sejak awal bahwa pekerjaan ini murah nilainya, kami sangat berhati-hati. Segala macam biaya yang bisa dipotong kami potong. Berbagai cara kami lakukan untuk berhemat. Yang terpenting, tingkat apkiran (reject) kami tekan sekecil mungkin.

Setelah beberapa lama berjalan, kami menyadari bahwa pekerjaan ini ternyata bisa memberikan laba. Tidak besar memang. Tapi ada. Dan itu lebih dari sekedar menutup pengeluaran rutin. Saat menyadari hal itu saya berkata kepada teman saya: „Rieki wa deru mono dewa naku, dasu mono da.“ Secara harfiah kalimat itu berarti, „Laba itu tidak keluar, tapi (kita) keluarkan.“ Maksudnya adalah laba itu tidak dihasilkan dari harga yang dihasilkan dari negosiasi dengan pembeli, tapi dari berbagai efisiensi yang kita lakukan dalam proses produksi.

Ilustrasi kecil di bawah ini mungkin bisa lebih memperjelas. Secara umum hubungan antara biaya produksi(P), harga jual(J), dan laba (L) adalah sebagai berikut:
P + L = J
Artinya kita menentukan harga jual produk kita dengan mempertimbangkan biaya produksi dan laba yang ingin kita peroleh. Namun dalam banyak kasus kita tidak bebas menentukan harga jual. Harga jual seringkali sudah ditentukan oleh pasar. Dalam situasi itu rumusnya berubah menjadi:
J – P = L
Dari harga jual yang sudah tertentu itu yang bisa kita lakukan untuk memperoleh dan memperbesar laba adalah dengan menekan ongkos produksi.

Kata deru dan dasu, sama-sama bisa digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan, yaitu sesuatu yang keluar. Tapi pilihan atas kata transitif atau transitif memberi semangat yang berbeda. Kata kerja transitif mewakili semangat kita untuk melakukan sesuatu, bukan menerima atau menyerah begitu saja pada keadaan.

Ada satu lagi pasangan kata kerja yang bagi saya juga memberi inspirasi, yaitu kowareru (rusak) dan kowasu (merusak). Bentuk lampau kedua kata kerja ini masing-masing kowareta dan kowashita. Saat melakukan eksperimen keteledoran saya menyebabkan sebuah alat laboratorium rusak.

Saya melaporkan kejadian itu kepada Sensei (profesor) saya. Dalam logika bahasa Indonesia otak saya berkata, “Alat itu rusak.” Logika itu saya terjemahkan dalam bahasa Jepang, sehingga dari mulut saya keluar kalimat „Souchi (alat) ga kowareta.” Setelah mendengar penjelasan saya, Sensei menjawab,“Kore wa kowareta janaku, kowashita desho.“ (Ini sih bukan rusak, tapi kamu rusakkan.)

Ada perbedaan mendasar pada dua kata kerja di atas. Kowareru berarti alat itu rusak dengan sendirinya. Sedangkan kowasu berarti ada sesuatu yang menyebabkan kerusakan, dan sesuatu itulah yang (harus) bertanggung jawab. Mengungkapkan kejadian di atas dengan kata kowareru adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab tersebut.

Di akhir tulisan ini saya akan kutipkan sebuah ilustrasi dari buku Seven Habits tulisan Stephen Covey. Kali ini bukan tentang pasangan kata kerja transitif dan intransitif. Tapi tentang kata benda dan kata kerja transitif.

Ada seseorang yang berada di ambang perceraian. Dia merasa sudah tidak ada lagi cinta antara dia dengan istrinya. Dia meminta nasihat pada Stephen Covey.

“Cintai dia.” Nasihat Stephen.

“Itu tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Cinta itu sudah tidak ada antara aku dan dia. Bagaimana aku bisa mencintai dia?”

“Bisa. Cintai dia.”

“Tidak mungkin.”

“Ingat. Cinta itu kata kerja. Kata kerja transitif. Cintai dia. Lakukan usaha untuk mencintai dia. Maka cinta itu akan tumbuh di hatimu dan di hatinya.”

http://berbual.com

Jalur Gaza

11 November 2009

Ini bukan cerita tentang Palestina. Ini cerita tentang Jakarta. Tentang sebuah sekolah.

Di TV diberitakan tentang seorang siswa kelas 1 di sebuah SMA Negeri di Jakarta. Ia dijemput paksa oleh sejumlah seniornya, dibawa ke sebuah taman, lalu dianiaya. Ia mengalami luka-luka di wajah. Bibirnya robek, wajahnya lebam-lebam. Ia harus menjalani rawat inap di rumah sakit selama beberapa hari.

Apa pasal? Alkisah, siswa kelas 3 menetapkan beberapa jalur di sekolah yang mereka sebut Jalur Gaza. Jalur ini tidak boleh dilewati oleh selain anak kelas 3. Si anak yang teraniaya tadi lalai. Ia melewati jalur itu.

Cerita ini sungguh menyesakkan dada saya. Di sekolah, tempat anak-anak harusnya dididik dan dikendalikan, ada manusia-manusia fasis yang bisa seenaknya membuat aturan. Di sekolah, tempat di mana seharusnya guru-guru yang mengatur, ada sekelompok murid yang punya kekuasaan mengatur. Dan mereka mengatur dengan kekerasan!

Para guru dalam wawancara TV mengatakan bahwa sebenarnya mereka tahu soal Jalur Gaza ini. Tapi sepertinya mereka tak berdaya untuk menghapuskannya. Konon tradisi dungu ini sudah berlangsung sejak tahun 80-an. Itulah salah satu alasan kenapa tradisi ini tidak dihapus.

Perlu dicatat bahwa SMA adalah SMA percontohan untuk proyek anti kekerasan (anti-bullying). Sebuah ironi yang lebih menyakitkan.

Lalu kita bertanya, ke mana anak-anak kita akan kita kirim untuk belajar? Sekolah ternyata bukan tempat yang aman untuk belajar. Di sekolah anak kita bisa celaka. Di sekolah justru premanisme dibiarkan. Di sekolah justru kesewenangan diajarkan.

Polisi sepertinya tidak menganggap serius kasus ini. Ada ratusan kejadian kekerasan di tanah air, seingat saya memang belum pernah ada yang berujung hingga ke pengadilan. Biasanya polisi meminta pihak-pihak yang terlibat, termasuk orang tua siswa untuk berdamai. Lalu selanjutnya pihak sekolah diminta untuk melakukan “pembinaan”.

Ini kesalahan fatal. Ini bukan perkara disiplin ringan yang bisa diselesaikan dengan cara damai dan pembinaan. Ini adalah tindak kriminal. Tindak kriminal harus diproses dengan hukum pidana. Pembiaran oleh polisi berarti membiarkan kriminal-kriminal muda tumbuh di lingkungan pendidikan. Membebaskan mereka dari jerat hukum berarti mengajarkan kepada mereka bahwa mereka bisa melakukan tindak pidana tanpa dikenai sangsi hukum.

Ini tidak boleh dibiarkan.

http://berbual.com

Emak Pahlawanku

10 November 2009

Dalam usahanya memperbaiki nasib, Emak membuka lahan baru. Bersama Ayah dan Aki (ayah Emak) dia mengayun kapak, menebang pohon. Merimba. Yang dia hadapi adalah hutan belantara. Pohon-pohon besar ditumbangkan. Pohon-pohon kecil dipotong. Semak belukar dibabat. Hasilnya adalah sebidang tanah kosong, siap ditanami padi. Kelak ladang padi itu ditanami kelapa, kopi, dan pisang. Jadilah ia kebun.

Merimba bukan perkara gampang. Pohon-pohon kayu itu entah sejak kapan tumbuh di situ. Besar batangnya rata-rata sepelukan orang dewasa. Ada yang lebih besar dari itu. Ada pula yang lebih kecil. Emak mengayun sendiri kapaknya. Kapak yang lebih kecil dari kapak Ayah. Ia pun menebang pohon-pohon yang lebih kecil. Atau membabat semak.

Penebang pohon harus pandai menempatkan tetakan mata kapaknya. Salah tetak batang pohon yang tumbang bisa menimpa diri sendiri. Kesalahan lain membuat kita tertumbuk pangkal batang yang baru dipotong. Semua bisa berakibat fatal.

Begitulah. Suatu hari sebatang pohon yang ditebang Ayah tumbang ke arah yang di luar perhitungan. Sehelai tanaman perambat menghalangi tumbangnya pohon, mengubah arahnya. Pohon tumbang itu menuju tempat Aki berdiri, menghantam tepat di kepalanya. Aki tumbang bersimbah darah. Luka parah.

Ini di tengah rimba. Tak ada dokter. Tak ada mantri. Tak ada obat. Hanya ada daun-daun yang ditumbuk dengan dahan pohon, lalu dibebatkan pada luka. Tak ada perban. Sobekan baju usang yang tadi dikenakan saat bekerja digunakan untuk membalut luka. Berdua dengan Ayah, Emak membawa Aki pulang, dan merawatnya. Entah berapa lama baru Aki sembuh. Yang aku ingat di kepala Aki ada cekungan cukup besar, bekas hantaman pohon tadi. Aku kira mukjizatlah yang telah menyelamatkan nyawa Aki saat itu.

Itulah salah satu medan perang yang dihadapi Emak. Benar-benar sebuah pertaruhan nyawa. Pohon tumbang itu bisa menimpa siapa saja yang ada di dekatnya. Emak bukanlah pengecualian.

Kelak, setelah aku agak besar dan mulai ikut membantu Emak di kebun, aku berhadapan dengan hal yang sama. Luka, patah tulang, adalah resiko yang selalu mengintai. Sedikit kelengahan berakibat celaka. Tangan dan kaki kami, orang-orang kampung, dihiasi bekas luka. Luka bekas parang. Luka bakar. Atau patah tulang. Emak tak terkecualikan. Aku pun tidak.

+++

Kemarau adalah musuh kami. Musim kemarau membuat kampung kering kerontang. Tong dan tempayan tempat kami menampung air hujan untuk minum dan memasak, kering. Perigi (kolam) tempat kami mandi, juga kering. Kami harus pergi ke perigi-perigi lain yang belum kering, yang jaraknya lebih jauh dari rumah. Kami mandi di situ, lalu memikul beberapa ember air, dibawa pulang untuk minum dan memasak.

Tapi kemarau bisa lebih buruk dari itu. Rumput-rumput mengering. Ini adalah makanan empuk bagi api liar. Tiupan angin menggoyang dahan-dahan pohon kering dalam semak di tengah kebun. Gesekan menimbulkan panas, memercikkan api. Lalu kebun terbakar.

Kebakaran kebun adalah petaka. Sekali api melahap, kerja kami selama bertahun-tahun akan punah dibuatnya. Kebakaran tak selalu datang dari kebun sendiri. Api bisa menjalar dari mana saja, semau dia.
Suatu musim kemarau, ada kebakaran kebun. Tak jauh dari kebun kami. Waktu itu hanya kami bertiga di rumah. Emak, Ayah, dan aku. Tengah hari. Kami sebenarnya baru saja pulang dari kebun. Makan siang, dan bersiap untuk tidur siang. Tapi kabar dari tetangga memberi tahu bahwa api sudah mengamuk.

Berbekal parang panjang dan ember kami menuju ke kebun. Kebun ini baru. Tanahnya dibeli Emak beberapa tahun yang lalu. Di situ kami tanam singkong, kelapa dan kopi. Emak sungguh senang, karena tanah di kebun ini subur. Pohon kelapa kami gemuk-gemuk. Demikian pula kopi. Ubi kayu menghasilkan umbi yang berlebih, membusuk dimakan tikus, karena manusia tak mampu menghabiskannya.

Kebun ini tak boleh terbakar! Ini adalah hasil kerja kami bertahun-tahun. Bertiga kami menebas rumput di dekat batas kebun milik tetangga. Sebuah kebun yang tak terawat, semaknya lebat dan kering. Umpan lezat bagi lidah api. Pemiliknya tak peduli, karena kebun ini nyaris tanah kosong.

Bertiga kami membuat jalur penahan api. Lupa kami pada kelelahan yang masih menyandera tubuh. Rumput kami tebas, membuat lorong selebar sedepa, sepanjang perbatasan kebun. Jalur ini kami harapkan menghentikan rambatan api yang hendak masuk ke kebun kami.

Api sudah mendekat. Asapnya membumbung. Bunyi rumput kering terbakar berkeretek, terdengar mengerikan. Hawa panas terbawa angin menyapu tubuh kami. Ayah mengayunkan parang lebih cepat. Emak juga. Aku juga. Bertiga kami menggila.

Saat api sudah masuk ke kebun sebelah, kami hampir selesai. Tapi belum aman. Kami harus memastikan api benar-benar mati. Dengan pelepah kelapa kering Emak dan Ayah memukul lidah api yang terdekat dengan tepi jalur penahan yang kami buat. Aku berlari ke selokan menjinjing dua ember, mengangkut sisa-sisa air, atau bahkan lumpurnya sekalipun. Dengan sisa air dan lumpur itu, aku membantu memadamkan api.

Saat pekerjaan itu usai, kebun kami selamat. Tapi Emak nyaris pingsan kelelahan dan kehabisan nafas. Ayah pun terkapar tak berdaya.

+++

Emak adalah pedagang gendong. Ia memanggul buntalan besar di punggungnya, berisi pakaian untuk dijual. Di tangannya ia jinjing keranjang berisi kosmetik dan obat-obatan. Ia berkeliling kampung, berjualan. Juga ke kampung tetangga.

Jalan yang harus ia lalui ke kampung tetangga adalah jalan setapak di tengah kebun. Jalan ini selalu sepi, karena hanya segelintir manusia yang lewat di situ. Malam hari sepi itu berpadu dengan gelap. Di musim hujan, jalan itu becek dan licin. Salah melangkah, kita bisa terpelet jatuh.

Itulah jalan yang harus dilalui Emak.

Sesekali Emak mengeluh padaku, bahwa sebenarnya ia takut melalui jalan itu. Khususnya pada malam hari. Emak membawa sejumlah uang hasil berdagang. Ia bisa saja dirampok di tengah jalan. Atau beruang liar bisa saja menerkamnya. Atau sekawanan celeng penghuni kebun. Terpeleset jatuh di jalan yang licin saja pun bisa celaka. Karena tak ada yang bisa segera datang memberikan pertolongan.

Di tengah kebun itu Emak adalah sosok tak berdaya. Bermacam bahaya siap menghadangnya. Bahkan merenggut nyawanya.

+++

Begitulah Emak. Untuk memperbaiki nasib ia tak cuma membanting tulang. Ia mempertaruhkan nyawanya. Begitulah pahlawanku. Pahlawan kami.

http://berbual.com

Didebottlenecking

5 November 2009

Anda tidak paham makna kata yang saya gunakan sebagai judul pada tulisan ini? Silahkan tanya pada Presiden SBY. Kata itu keluar dari mulutnya pada pidato di acara National Summit 2009.

Banyak orang heran. Acara kenegaraan resmi, oleh pejabat-pejabat pemerintahan Republik Indonesia dinamai dalam bahasa Inggris. Mengapa? Ternyata ini tak jauh-jauh dari urusan citra, sesuatu yang maha penting bagi SBY. Konon kegiatan ini meniru cara kerja Presiden Obama. Bahkan nama National Summit itu sendiri meniru nama acara yang digelar Obama tak lama setelah dilantik jadi presiden.

Ini lagi-lagi ciri khas SBY. Semua serba berbau Amerika. Berbau Obama. Marna-warna yang dia pakai saat kampanye tempo hari, tata letak panggung kampanye, tampilan homepage, dan banyak hal lagi, semua meniru Obama. Setelah terpilih pun dia masih juga meniru Obama. Coba lihat semboyan kabinet yang dia cetuskan. Pakai bahasa Inggris. Salah satunya adalah Change and Continuity. Lagi-lagi meniru Obama, karena Change adalah tema kampanye yang diusung oleh Obama. Bisa kita bayangkan betapa Presiden kita ini sangat tidak percaya diri.

Lucunya, dia tampaknya hanya mampu meniru hanya sampai pada soal-soal yang sepele seperti itu. Soal-soal tampak luar. Substansinya hilang. Kabinet yang ia bentuk sudah bekerja 16 hari, tapi belum punya program kerja!

Selain soal nama National Summit itu, pada pidato di acara tersebut SBY dengan fasih mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Menurut catatan KOMPAS dalam pidato selama 65 menit SBY melafalkan 75 kosa kata bahasa Inggris. Tidak hanya itu. Dia juga menggunakan istilah yang tak jelas, apakah itu bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, ya itu tadi “didebottlenecking”.

“Banyak hal yang masih ada di-”debottlenecking” ini yang harus diselesaikan,” kata SBY. Apa yang dia maksud? Kita mengenal istilah bottleneck (leher botol) untuk menggambarkan adanya hambatan. Debottlenecking adalah kira-kira bermakna “menghilangkan hambatan”. Mungkin SBY hendak mengungkapkan bahwa masih banyak perkara yang mengalami berbagai hambatan dalam penyelesaiannya, dan hambatan itu harus diurai. Saya bisa dengan mudah mengatakannya dalam bahasa Indonesia: “Masih banyak hal yang harus diurai permasalahannya.” Selesai. Tidak perlu pakai istilah asing, dan tidak perlu mengeluarkan kosa kata yang tak termuat dalam kamus bahasa manapun!

Banyak kata yang sebetulnya punya padanan yang pas dalam bahasa kita dipaksakan untuk dipakai dalam kosa kata aslinya. Lebih kacau lagi, kata tersebut ditambahi awalan dan akhiran, sehingga menjadi sebuah kata berwujud Frankenstein. Contohnya adalah kata “impeach” dan “impeachment”. Sederhananya kata “impeach” berpadanan dengan kata “pecat”. Kata ini menjadi populer di media massa Indonesia sejak skandal Bill Clinton dengan Monica Lewinski. Sejak itu media lebih suka menggunakan kata “impeach” ketimbang “pecat”, khususnya bila menyangkut lembaga kepresidenan. Maka kemudian kita mengenal kata-kata “mengimpeach” dan “diimpeach”.

Bagi saya ini adalah bentuk kedunguan dalam berbahasa. Dan sangat menyedihkan bahwa Presiden turut menjadi pelopor kedunguan ini dengan melakukannya di acara kenegaraan.

http://berbual.com