Integritas Anggota Parlemen

14 December 2009

Februari 2006. Parlemen Jepang heboh. Hisayasu Nagata, seorang anggota parlemen dari partai oposisi Democratic Party of Japan (DPJ) menuduh seorang petinggi partai berkuasa LDP menerima suap dari Takafumi Horie. Horie adalah seorang pengusaha muda dan terkenal yang saat itu sedang berada dalam tahanan polisi atas tuduhan melakukan kecurangan dalam perdagangan saham. Nagata menyebutkan bahwa tuduhannya tersebut didasarkan atas selembar kertas hasil cetakan isi e-mail yang diperkirakan dikirim oleh Horie, berisi perintah untuk mengirimkan uang sebesar 30 juta yen kepada putra petinggi LDP tadi.

Tuduhan itu menggemparkan Jepang. Kalau terbukti benar, tidak hanya petinggi partai tadi yang akan kena akibatnya. Tapi bisa jadi LDP yang saat itu sedang cukup kuat di bawah kepemimpinan Junichiro Koizumi akan terguncang. Karenanya sempat berhembus pula wacana pergantian kekuasaan (seiken koutai) dari LDP ke DPJ.

Malang bagi Nagata, tuduhan yang ia lancarkan ternyata tidak terbukti. E-mail yang dia duga asli ternyata palsu. E-mail itu tidak pernah dikeluarkan oleh Horie. Dan tentu saja Horie pun tidak pernah menyogok pimpinan LDP.

Akibat kecerobohannya itu Nagata dikenai sangsi. Ia dipecat dari parlemen, dan dikenai larangan tampil dalam pemilu selama 2 tahun. Itu adalah akhir dari karir politik Nagata. Belakangan dikabarkan bahwa ia melakukan usaha bunuh diri karena frustrasi.

Kini kita berhadapan dengan kasus yang mirip. Anggota Pansus Angket Bang Century Bambang Susetyo menuduh Menteri Keuangan Sri Mulyani bertemu dengan Robert Tantular dan melakukan pembicaraan. Dasar tuduhannya adalah sebuah rekaman pembicaraan. Tapi dari penjelasan Sri Mulyani, besar kemungkinan tuduhan itu adalah tuduhan palsu. Sri Mulyani akan melakukan tindakan hukum atas hal tersebut.

Bambang mungkin akan berdalih bahwa yang ia lakukan dalam lingkup kerja dia sebagai anggota parlemen. Dalam konteks itu apapun yang dia ucapkan tidak bisa dipersoalkan secara hukum, karena ia memiliki kekebalan. Boleh jadi nasibnya tak akan seburuk Nagata.

Tapi masalahnya tak cuma di situ. Kita memerlukan anggota parlemen yang bekerja serius. Yang berkata dan bertindak berdasar data yang valid. Karenanya konfrimasi, dan re-konfirmasi menjadi sangat penting dalam pekerjaan anggota DPR. Bila tidak, kerja itu hanya berwujud main-main. Sangkaan-sangkaan yang serius sekalipun akan dengan mudah dipatahkan. Ini bisa memandulkan fungsi pengawasan DPR.

Kasus Bank Century adalah kasus besar. Semua masalah harus dibuka dan dijelaskan kepada publik. Harus dijelaskan pula mana bagian yang merupakan ranah hukum, ranah politik, dan ranah kebijakan, berikut segala konsekwensinya. Ini adalah kerja besar yang tidak mudah. Karenanya wajib dikerjakan secara serius.

Bila ada niat untuk menuai popularitas di benak anggota Pansus, harap niat itu segera dibuang jauh-jauh. Rakyat memantau semuanya. Sebuah niat tak patut akan segera terlihat, dan Anda, anggota DPR atau siapapun yang berniat cari muka, akan kehilangan muka.

Jadi, kembalikan arah penyelidikan kasus Bank Century ke arah yang benar, yaitu untuk membuka kebenaran dan menegakkan keadilan. Bukan untuk petualangan politik menjungkalkan seseorang atau suatu kekuatan politik.

http://berbual.com

Belajar Makna Kata

3 December 2009

Saya selalu terkenang dan kagum pada guru-guru bahasa Jepang saya. Saya belajar bahasa Jepang di Kuala Lumpur, bersama 10 orang pelajar lain dari negara-negara ASEAN+Bangladesh melalui Asian Youth Fellowship Program (http://www.asiaseed.org/ayfj/info/info_A3.htm). Kami adalah pelajar-pelajar yang hendak melanjutkan pendidikan S2-S3 di Jepang, dan sebelum kedatangan ke Jepang kami mendapat pelatihan bahasa Jepang selama setahun.

Kami semua buta bahasa Jepang ketika masuk program ini. Saya bahkan tak tahu makna kata “konnichiwa” ketika itu. Hari demi hari kami belajar. Kata demi kata kami ingat. Juga sedikit demi sedikit, tata bahasa, hiragana, katakana, dan huruf kanji kami pelajari. Guru-guru kami bisa berbahasa Inggris. Tapi tak pernah mereka mengajar dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Bahasa pengantar saat mengajar, ya bahasa Jepang. Kami hanya menemukan bahasa Inggris di kamus Inggris-Jepang yang kami gunakan.

Di saat-saat awal pelajaran guru-guru kami menggunakan gambar dan bahasa isyarat untuk menjelaskan makna sebuah kata. Kemudian hari, saat kami mulai paham banyak kosa kata bahasa Jepang, mereka menjelaskan kata-kata yang rumit dengan kosa kata sederhana yang sudah kami pahami.

Komunikasi di luar kelas juga selalu dipaksakan dengan bahasa Jepang. Dan bagian inilah yang paling menarik buat saya. Kami selalu bisa berkomunikasi dengan guru kami. Tak kami rasakan adanya kesulitan yang mendasar. Guru kami sepertinya paham betul sampai dimana penguasaan kosa kata dan tata bahasa kami. Mereka berbicara sesuai dengan kemampuan tersebut. Tidak cuma itu. Mereka dengan tertib menyesuaikan diri dengan perkembangan kemampuan kami.

Di akhir program yang berlangsung selama setahun, kami bisa berkomunikasi dengan sangat lancar dalam bahasa Jepang. Kalau diingat saat-saat kami mulai ikut program ini, kemampuan ini terasa aneh dan mengejutkan. Aneh rasanya bahwa kami bisa mengingat ribuan kata dalam setahun. Sesekali saya mencoba mengingat kapan saya memahami makna suatu kata tertentu. Tapi tak banyak yang bisa saya ingat. Saya lupa dengan cara apa, pada saat apa saya mulai paham dan ingat makna sebuah kata. Yang saya ingat hanya makna kata tersebut.

+++

Saya bandingkan pengalaman saya itu dengan pengalaman membesarkan dan mendidik anak saya. Ada kesamaan, yaitu bahwa kepada anak-anak juga kita perkenalkan makna kata, satu demi satu. Mulai dari kata-kata sederhana, makna sederhana, lalu ke kata-kata yang rumit, dan makna kata yang lebih dalam. Bedanya, saya menyerap kata-kata baru dalam bahasa Jepang dengan kematangan logika dan pengalaman, sedangkan anak-anak saya dengan kepolosan.

Kadang saya merasa sulit menjelaskan makna suatu kata kepada anak-anak karena soal kepolosan ini.

Ada kejadian lucu ketika anak saya yang tertua masih usia TK. Suatu hari dia bertanya, “Ayah, dulu waktu kecil TK-nya di mana?”

“Ayah dulu nggak masuk TK.”

“Kenapa?”

“Karena Ayah dulu waktu kecil di kampung. Di kampung tidak ada TK.”

“Kenapa tidak ada TK, Ayah?”

Saya sempat bingung harus menjawab apa. Lalu keluarlah jawaban ini, “Di kampung dulu orang-orangnya tidak punya uang. Miskin. Jadi tidak bisa bikin TK. Dan Datuk, ayah Ayah, juga tidak punya uang untuk memasukkan Ayah ke TK.”

Kata kunci “miskin” ini sengaja saya masukkan ke alam fikiran anak saya dengan suatu niat. Saat ini boleh dibilang kehidupan saya berkecukupan, walau tidak mewah. Ini suatu hal yang sangat saya syukuri. Tentu cara hidup anak-anak saya sangat berbeda dengan cara hidup saya ketika masih kecil dulu. Dulu kami biasa diajari hidup prihatin oleh orang tua kami. Sekarang sedikit banyak anak-anak saya harus paham soal hidup prihatin ini, walau mereka mungkin tak akan pernah bisa mengalaminya.

Rupanya kata “miskin” ini membekas betul di hati anak saya. Dia sering bertanya seperti apa miskin itu. Saya jelaskan bagaimana kondisi hidup saya waktu kecil dulu. Rumah kami, kata saya, berdinding papan, beratap daun nipah. Saya pergi ke sekolah jalan kaki, tidak pakai sepatu. Dan seterusnya.

Saat kami bepergian dan melewati rumah-rumah kampung, anak saya bertanya, “Ayah, rumah Ayah dulu seperti itu, ya?”

“Iya.”

“Oooh, jadi rumah orang miskin itu seperti itu, ya.” kata anak saya membuat kesimpulan.

+++

Makin lama anak saya makin serius memikirkan topik miskin ini. Suatu hari dia bertanya, “Ayah, kenapa sih orang itu bisa miskin?”

“Karena mereka malas.”

“Malas itu apa sih?”

“Malas itu nggak mau kerja. Kalau kerja merasa capek sedikit sudah langsung berhenti. Tidak ditahan capeknya, sehingga kerjanya cuma sedikit. Hasilnya sedikit, sehingga jadi miskin.”

Saya ucapkan itu untuk memberi motivasi pada anak saya, karena dia sering mengeluh capek dan langsung mau berhenti saat melaksanakan suatu aktivitas. Saya fikir dia cuma manja saja.

Ajaran saya itu rupanya membekas di benaknya. Suatu hari dia kami suruh pergi membeli roti bersama pembantu ke toko roti di dekat rumah. Tapi tidak seperti biasa, mereka pergi hampir setengah jam. Padahal jarak toko roti ke rumah kami tak jauh. Khawatir, saya berniat mencari mereka. Kebetulan saat itu mereka sudah terlihat sedang menuju ke rumah.

Pembantu saya mengeluh.

“Pak, saya diajak pergi ke toko roti yang di sana itu, jauh.”

“Lha, ngapain?” tanya saya.

“Kata dia harus pergi ke toko yang jauh. Saya bilang ntar capek. Eh dia bilang, capek itu harus ditahan, biar kita tidak miskin.”

Ampun, deh.

http://berbual.com

Jidoushi, tadoushi

13 November 2009

Jidoushi dan tadoushi adalah istilah tata bahasa Jepang untuk kata kerja transitif dan intransitif. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal kata kerja transitf sebagai kata kerja yang membutuhkan objek, sedangkan intransitif tidak membutuhkan objek. Definisi kedua kata kerja ini dalam bahasa Jepang sedikit berbeda, dan bagi saya sangat inspiratif. Karenanya saya ingin sedikit berbagi inspirasi.

Doushi berarti kata kerja. Ji berarti sendiri atau dengan sendirinya, sedangkan ta berarti (pihak) lain. Jidoushi artinya kata kerja yang menggambarkan kejadian/kerja yang terjadi dengan sendirinya, atau dilakukan sendiri oleh subjek. Sedangkan tadoushi adalah kejadian/kerja oleh subjek kepada suatu objek.

Salah satu contoh pasangan kata kerja intransitif-transitif dalam bahasa Jepang adalah deru (keluar, intransitif) dan dasu (mengeluarkan, transitif). Saya punya sedikit cerita tentang dua kata kerja ini.

Saat ini saya diberi amanah untuk memimpin sebuah perusahaan Jepang di bidang plastic molding injection yang baru beroperasi sekitar 3 tahun. Selama ini kami membuat barang-barang pesanan dari perusahaan induk di Jepang, untuk dipasarkan di Jepang dan beberapa negara lain. Namun tahun ini pesanan dari Jepang menurun drastis, sehingga kami dihadapkan pada kemungkinan kami akan merugi.

Untuk menutupi kerugian, kami menerima pekerjaan maklun (subkontrak). Nilai pekerjaan yang kami terima cukup rendah, karena perusahaan mitra kami yang memberi pekerjaan itu juga sedang melakukan cost down secara ketat. Kami yang selama ini terbiasa mendapat order dengan margin keuntungan besar dari Jepang merasa berat melakukan pekerjaan ini.

Namun dengan pertimbangan bahwa ada sedikit pekerjaan lebih baik dari tidak sama sekali, kami putuskan untuk menerima pekerjaan ini. Minimal mesin tidak menganggur dan biaya-biaya rutin (overhead) bisa tertutupi.

Dengan kesadaran sejak awal bahwa pekerjaan ini murah nilainya, kami sangat berhati-hati. Segala macam biaya yang bisa dipotong kami potong. Berbagai cara kami lakukan untuk berhemat. Yang terpenting, tingkat apkiran (reject) kami tekan sekecil mungkin.

Setelah beberapa lama berjalan, kami menyadari bahwa pekerjaan ini ternyata bisa memberikan laba. Tidak besar memang. Tapi ada. Dan itu lebih dari sekedar menutup pengeluaran rutin. Saat menyadari hal itu saya berkata kepada teman saya: „Rieki wa deru mono dewa naku, dasu mono da.“ Secara harfiah kalimat itu berarti, „Laba itu tidak keluar, tapi (kita) keluarkan.“ Maksudnya adalah laba itu tidak dihasilkan dari harga yang dihasilkan dari negosiasi dengan pembeli, tapi dari berbagai efisiensi yang kita lakukan dalam proses produksi.

Ilustrasi kecil di bawah ini mungkin bisa lebih memperjelas. Secara umum hubungan antara biaya produksi(P), harga jual(J), dan laba (L) adalah sebagai berikut:
P + L = J
Artinya kita menentukan harga jual produk kita dengan mempertimbangkan biaya produksi dan laba yang ingin kita peroleh. Namun dalam banyak kasus kita tidak bebas menentukan harga jual. Harga jual seringkali sudah ditentukan oleh pasar. Dalam situasi itu rumusnya berubah menjadi:
J – P = L
Dari harga jual yang sudah tertentu itu yang bisa kita lakukan untuk memperoleh dan memperbesar laba adalah dengan menekan ongkos produksi.

Kata deru dan dasu, sama-sama bisa digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan, yaitu sesuatu yang keluar. Tapi pilihan atas kata transitif atau transitif memberi semangat yang berbeda. Kata kerja transitif mewakili semangat kita untuk melakukan sesuatu, bukan menerima atau menyerah begitu saja pada keadaan.

Ada satu lagi pasangan kata kerja yang bagi saya juga memberi inspirasi, yaitu kowareru (rusak) dan kowasu (merusak). Bentuk lampau kedua kata kerja ini masing-masing kowareta dan kowashita. Saat melakukan eksperimen keteledoran saya menyebabkan sebuah alat laboratorium rusak.

Saya melaporkan kejadian itu kepada Sensei (profesor) saya. Dalam logika bahasa Indonesia otak saya berkata, “Alat itu rusak.” Logika itu saya terjemahkan dalam bahasa Jepang, sehingga dari mulut saya keluar kalimat „Souchi (alat) ga kowareta.” Setelah mendengar penjelasan saya, Sensei menjawab,“Kore wa kowareta janaku, kowashita desho.“ (Ini sih bukan rusak, tapi kamu rusakkan.)

Ada perbedaan mendasar pada dua kata kerja di atas. Kowareru berarti alat itu rusak dengan sendirinya. Sedangkan kowasu berarti ada sesuatu yang menyebabkan kerusakan, dan sesuatu itulah yang (harus) bertanggung jawab. Mengungkapkan kejadian di atas dengan kata kowareru adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab tersebut.

Di akhir tulisan ini saya akan kutipkan sebuah ilustrasi dari buku Seven Habits tulisan Stephen Covey. Kali ini bukan tentang pasangan kata kerja transitif dan intransitif. Tapi tentang kata benda dan kata kerja transitif.

Ada seseorang yang berada di ambang perceraian. Dia merasa sudah tidak ada lagi cinta antara dia dengan istrinya. Dia meminta nasihat pada Stephen Covey.

“Cintai dia.” Nasihat Stephen.

“Itu tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Cinta itu sudah tidak ada antara aku dan dia. Bagaimana aku bisa mencintai dia?”

“Bisa. Cintai dia.”

“Tidak mungkin.”

“Ingat. Cinta itu kata kerja. Kata kerja transitif. Cintai dia. Lakukan usaha untuk mencintai dia. Maka cinta itu akan tumbuh di hatimu dan di hatinya.”

http://berbual.com

Jalur Gaza

11 November 2009

Ini bukan cerita tentang Palestina. Ini cerita tentang Jakarta. Tentang sebuah sekolah.

Di TV diberitakan tentang seorang siswa kelas 1 di sebuah SMA Negeri di Jakarta. Ia dijemput paksa oleh sejumlah seniornya, dibawa ke sebuah taman, lalu dianiaya. Ia mengalami luka-luka di wajah. Bibirnya robek, wajahnya lebam-lebam. Ia harus menjalani rawat inap di rumah sakit selama beberapa hari.

Apa pasal? Alkisah, siswa kelas 3 menetapkan beberapa jalur di sekolah yang mereka sebut Jalur Gaza. Jalur ini tidak boleh dilewati oleh selain anak kelas 3. Si anak yang teraniaya tadi lalai. Ia melewati jalur itu.

Cerita ini sungguh menyesakkan dada saya. Di sekolah, tempat anak-anak harusnya dididik dan dikendalikan, ada manusia-manusia fasis yang bisa seenaknya membuat aturan. Di sekolah, tempat di mana seharusnya guru-guru yang mengatur, ada sekelompok murid yang punya kekuasaan mengatur. Dan mereka mengatur dengan kekerasan!

Para guru dalam wawancara TV mengatakan bahwa sebenarnya mereka tahu soal Jalur Gaza ini. Tapi sepertinya mereka tak berdaya untuk menghapuskannya. Konon tradisi dungu ini sudah berlangsung sejak tahun 80-an. Itulah salah satu alasan kenapa tradisi ini tidak dihapus.

Perlu dicatat bahwa SMA adalah SMA percontohan untuk proyek anti kekerasan (anti-bullying). Sebuah ironi yang lebih menyakitkan.

Lalu kita bertanya, ke mana anak-anak kita akan kita kirim untuk belajar? Sekolah ternyata bukan tempat yang aman untuk belajar. Di sekolah anak kita bisa celaka. Di sekolah justru premanisme dibiarkan. Di sekolah justru kesewenangan diajarkan.

Polisi sepertinya tidak menganggap serius kasus ini. Ada ratusan kejadian kekerasan di tanah air, seingat saya memang belum pernah ada yang berujung hingga ke pengadilan. Biasanya polisi meminta pihak-pihak yang terlibat, termasuk orang tua siswa untuk berdamai. Lalu selanjutnya pihak sekolah diminta untuk melakukan “pembinaan”.

Ini kesalahan fatal. Ini bukan perkara disiplin ringan yang bisa diselesaikan dengan cara damai dan pembinaan. Ini adalah tindak kriminal. Tindak kriminal harus diproses dengan hukum pidana. Pembiaran oleh polisi berarti membiarkan kriminal-kriminal muda tumbuh di lingkungan pendidikan. Membebaskan mereka dari jerat hukum berarti mengajarkan kepada mereka bahwa mereka bisa melakukan tindak pidana tanpa dikenai sangsi hukum.

Ini tidak boleh dibiarkan.

http://berbual.com

Emak Pahlawanku

10 November 2009

Dalam usahanya memperbaiki nasib, Emak membuka lahan baru. Bersama Ayah dan Aki (ayah Emak) dia mengayun kapak, menebang pohon. Merimba. Yang dia hadapi adalah hutan belantara. Pohon-pohon besar ditumbangkan. Pohon-pohon kecil dipotong. Semak belukar dibabat. Hasilnya adalah sebidang tanah kosong, siap ditanami padi. Kelak ladang padi itu ditanami kelapa, kopi, dan pisang. Jadilah ia kebun.

Merimba bukan perkara gampang. Pohon-pohon kayu itu entah sejak kapan tumbuh di situ. Besar batangnya rata-rata sepelukan orang dewasa. Ada yang lebih besar dari itu. Ada pula yang lebih kecil. Emak mengayun sendiri kapaknya. Kapak yang lebih kecil dari kapak Ayah. Ia pun menebang pohon-pohon yang lebih kecil. Atau membabat semak.

Penebang pohon harus pandai menempatkan tetakan mata kapaknya. Salah tetak batang pohon yang tumbang bisa menimpa diri sendiri. Kesalahan lain membuat kita tertumbuk pangkal batang yang baru dipotong. Semua bisa berakibat fatal.

Begitulah. Suatu hari sebatang pohon yang ditebang Ayah tumbang ke arah yang di luar perhitungan. Sehelai tanaman perambat menghalangi tumbangnya pohon, mengubah arahnya. Pohon tumbang itu menuju tempat Aki berdiri, menghantam tepat di kepalanya. Aki tumbang bersimbah darah. Luka parah.

Ini di tengah rimba. Tak ada dokter. Tak ada mantri. Tak ada obat. Hanya ada daun-daun yang ditumbuk dengan dahan pohon, lalu dibebatkan pada luka. Tak ada perban. Sobekan baju usang yang tadi dikenakan saat bekerja digunakan untuk membalut luka. Berdua dengan Ayah, Emak membawa Aki pulang, dan merawatnya. Entah berapa lama baru Aki sembuh. Yang aku ingat di kepala Aki ada cekungan cukup besar, bekas hantaman pohon tadi. Aku kira mukjizatlah yang telah menyelamatkan nyawa Aki saat itu.

Itulah salah satu medan perang yang dihadapi Emak. Benar-benar sebuah pertaruhan nyawa. Pohon tumbang itu bisa menimpa siapa saja yang ada di dekatnya. Emak bukanlah pengecualian.

Kelak, setelah aku agak besar dan mulai ikut membantu Emak di kebun, aku berhadapan dengan hal yang sama. Luka, patah tulang, adalah resiko yang selalu mengintai. Sedikit kelengahan berakibat celaka. Tangan dan kaki kami, orang-orang kampung, dihiasi bekas luka. Luka bekas parang. Luka bakar. Atau patah tulang. Emak tak terkecualikan. Aku pun tidak.

+++

Kemarau adalah musuh kami. Musim kemarau membuat kampung kering kerontang. Tong dan tempayan tempat kami menampung air hujan untuk minum dan memasak, kering. Perigi (kolam) tempat kami mandi, juga kering. Kami harus pergi ke perigi-perigi lain yang belum kering, yang jaraknya lebih jauh dari rumah. Kami mandi di situ, lalu memikul beberapa ember air, dibawa pulang untuk minum dan memasak.

Tapi kemarau bisa lebih buruk dari itu. Rumput-rumput mengering. Ini adalah makanan empuk bagi api liar. Tiupan angin menggoyang dahan-dahan pohon kering dalam semak di tengah kebun. Gesekan menimbulkan panas, memercikkan api. Lalu kebun terbakar.

Kebakaran kebun adalah petaka. Sekali api melahap, kerja kami selama bertahun-tahun akan punah dibuatnya. Kebakaran tak selalu datang dari kebun sendiri. Api bisa menjalar dari mana saja, semau dia.
Suatu musim kemarau, ada kebakaran kebun. Tak jauh dari kebun kami. Waktu itu hanya kami bertiga di rumah. Emak, Ayah, dan aku. Tengah hari. Kami sebenarnya baru saja pulang dari kebun. Makan siang, dan bersiap untuk tidur siang. Tapi kabar dari tetangga memberi tahu bahwa api sudah mengamuk.

Berbekal parang panjang dan ember kami menuju ke kebun. Kebun ini baru. Tanahnya dibeli Emak beberapa tahun yang lalu. Di situ kami tanam singkong, kelapa dan kopi. Emak sungguh senang, karena tanah di kebun ini subur. Pohon kelapa kami gemuk-gemuk. Demikian pula kopi. Ubi kayu menghasilkan umbi yang berlebih, membusuk dimakan tikus, karena manusia tak mampu menghabiskannya.

Kebun ini tak boleh terbakar! Ini adalah hasil kerja kami bertahun-tahun. Bertiga kami menebas rumput di dekat batas kebun milik tetangga. Sebuah kebun yang tak terawat, semaknya lebat dan kering. Umpan lezat bagi lidah api. Pemiliknya tak peduli, karena kebun ini nyaris tanah kosong.

Bertiga kami membuat jalur penahan api. Lupa kami pada kelelahan yang masih menyandera tubuh. Rumput kami tebas, membuat lorong selebar sedepa, sepanjang perbatasan kebun. Jalur ini kami harapkan menghentikan rambatan api yang hendak masuk ke kebun kami.

Api sudah mendekat. Asapnya membumbung. Bunyi rumput kering terbakar berkeretek, terdengar mengerikan. Hawa panas terbawa angin menyapu tubuh kami. Ayah mengayunkan parang lebih cepat. Emak juga. Aku juga. Bertiga kami menggila.

Saat api sudah masuk ke kebun sebelah, kami hampir selesai. Tapi belum aman. Kami harus memastikan api benar-benar mati. Dengan pelepah kelapa kering Emak dan Ayah memukul lidah api yang terdekat dengan tepi jalur penahan yang kami buat. Aku berlari ke selokan menjinjing dua ember, mengangkut sisa-sisa air, atau bahkan lumpurnya sekalipun. Dengan sisa air dan lumpur itu, aku membantu memadamkan api.

Saat pekerjaan itu usai, kebun kami selamat. Tapi Emak nyaris pingsan kelelahan dan kehabisan nafas. Ayah pun terkapar tak berdaya.

+++

Emak adalah pedagang gendong. Ia memanggul buntalan besar di punggungnya, berisi pakaian untuk dijual. Di tangannya ia jinjing keranjang berisi kosmetik dan obat-obatan. Ia berkeliling kampung, berjualan. Juga ke kampung tetangga.

Jalan yang harus ia lalui ke kampung tetangga adalah jalan setapak di tengah kebun. Jalan ini selalu sepi, karena hanya segelintir manusia yang lewat di situ. Malam hari sepi itu berpadu dengan gelap. Di musim hujan, jalan itu becek dan licin. Salah melangkah, kita bisa terpelet jatuh.

Itulah jalan yang harus dilalui Emak.

Sesekali Emak mengeluh padaku, bahwa sebenarnya ia takut melalui jalan itu. Khususnya pada malam hari. Emak membawa sejumlah uang hasil berdagang. Ia bisa saja dirampok di tengah jalan. Atau beruang liar bisa saja menerkamnya. Atau sekawanan celeng penghuni kebun. Terpeleset jatuh di jalan yang licin saja pun bisa celaka. Karena tak ada yang bisa segera datang memberikan pertolongan.

Di tengah kebun itu Emak adalah sosok tak berdaya. Bermacam bahaya siap menghadangnya. Bahkan merenggut nyawanya.

+++

Begitulah Emak. Untuk memperbaiki nasib ia tak cuma membanting tulang. Ia mempertaruhkan nyawanya. Begitulah pahlawanku. Pahlawan kami.

http://berbual.com

Didebottlenecking

5 November 2009

Anda tidak paham makna kata yang saya gunakan sebagai judul pada tulisan ini? Silahkan tanya pada Presiden SBY. Kata itu keluar dari mulutnya pada pidato di acara National Summit 2009.

Banyak orang heran. Acara kenegaraan resmi, oleh pejabat-pejabat pemerintahan Republik Indonesia dinamai dalam bahasa Inggris. Mengapa? Ternyata ini tak jauh-jauh dari urusan citra, sesuatu yang maha penting bagi SBY. Konon kegiatan ini meniru cara kerja Presiden Obama. Bahkan nama National Summit itu sendiri meniru nama acara yang digelar Obama tak lama setelah dilantik jadi presiden.

Ini lagi-lagi ciri khas SBY. Semua serba berbau Amerika. Berbau Obama. Marna-warna yang dia pakai saat kampanye tempo hari, tata letak panggung kampanye, tampilan homepage, dan banyak hal lagi, semua meniru Obama. Setelah terpilih pun dia masih juga meniru Obama. Coba lihat semboyan kabinet yang dia cetuskan. Pakai bahasa Inggris. Salah satunya adalah Change and Continuity. Lagi-lagi meniru Obama, karena Change adalah tema kampanye yang diusung oleh Obama. Bisa kita bayangkan betapa Presiden kita ini sangat tidak percaya diri.

Lucunya, dia tampaknya hanya mampu meniru hanya sampai pada soal-soal yang sepele seperti itu. Soal-soal tampak luar. Substansinya hilang. Kabinet yang ia bentuk sudah bekerja 16 hari, tapi belum punya program kerja!

Selain soal nama National Summit itu, pada pidato di acara tersebut SBY dengan fasih mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Menurut catatan KOMPAS dalam pidato selama 65 menit SBY melafalkan 75 kosa kata bahasa Inggris. Tidak hanya itu. Dia juga menggunakan istilah yang tak jelas, apakah itu bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, ya itu tadi “didebottlenecking”.

“Banyak hal yang masih ada di-”debottlenecking” ini yang harus diselesaikan,” kata SBY. Apa yang dia maksud? Kita mengenal istilah bottleneck (leher botol) untuk menggambarkan adanya hambatan. Debottlenecking adalah kira-kira bermakna “menghilangkan hambatan”. Mungkin SBY hendak mengungkapkan bahwa masih banyak perkara yang mengalami berbagai hambatan dalam penyelesaiannya, dan hambatan itu harus diurai. Saya bisa dengan mudah mengatakannya dalam bahasa Indonesia: “Masih banyak hal yang harus diurai permasalahannya.” Selesai. Tidak perlu pakai istilah asing, dan tidak perlu mengeluarkan kosa kata yang tak termuat dalam kamus bahasa manapun!

Banyak kata yang sebetulnya punya padanan yang pas dalam bahasa kita dipaksakan untuk dipakai dalam kosa kata aslinya. Lebih kacau lagi, kata tersebut ditambahi awalan dan akhiran, sehingga menjadi sebuah kata berwujud Frankenstein. Contohnya adalah kata “impeach” dan “impeachment”. Sederhananya kata “impeach” berpadanan dengan kata “pecat”. Kata ini menjadi populer di media massa Indonesia sejak skandal Bill Clinton dengan Monica Lewinski. Sejak itu media lebih suka menggunakan kata “impeach” ketimbang “pecat”, khususnya bila menyangkut lembaga kepresidenan. Maka kemudian kita mengenal kata-kata “mengimpeach” dan “diimpeach”.

Bagi saya ini adalah bentuk kedunguan dalam berbahasa. Dan sangat menyedihkan bahwa Presiden turut menjadi pelopor kedunguan ini dengan melakukannya di acara kenegaraan.

http://berbual.com

Bahasa ke Dua di Indonesia

29 October 2009

Saya menelepon ke ponsel teman. Perusahaan operator telepon itu adalah perusahaan Indonesia. Karena telepon yang saya tuju dalam keadaan tidak aktif, saya menerima pesan sebagai berikut:

“The telephone you are calling is switched off.”

Sudah. Hanya itu. Hanya pesan dalam bahasa Inggris, tidak ada pesan dalam bahasa Indonesia.

Di beberapa bioskop yang pernah saya kunjungi, petunjuk yang ditayangkan di layar sebelum film dimulai, juga ditulis dalam bahasa Inggris. Tidak ada terjemahan bahasa Indonesia sama sekali.

Kalau kita telepon hotel atau perusahaan besar di Jakarta, penjawab telepon akan menjawab dalam bahasa Inggris. Setelah tahu penelepon berbahasa Indonesia, barulah dia meladeni kita dalam bahasa Indonesia.

Saya teringat perjalanan saya ke berbagai negara. Di Jerman saat saya berbelanja ke toko penjaganya selalu menyapa saya dalam bahasa Jerman. Setelah tahu bahwa saya tidak berbahasa Jerman, barulah dia meladeni saya dalam bahasa Jerman. Demikian pula saat saya berkunjung ke Perancis, pertama kali saya akan disapa dalam bahasa Perancis. Hal yang sama saya dapatkan dalam percakapan telepon.

Dengan kata lain, di banyak negara, orang mendahulukan bahasa mereka sendiri. Bahasa kita adalah bahasa pertama dan utama, bahasa Inggris dan bahasa asing lain adalah bahasa ke dua, tiga, dan seterusnya. Sayangnya yang sering terjadi di Indonesia adalah seperti saya ungkapkan dalam ilustrasi di atas. Bahasa Indonesia adalah bahasa ke dua, atau bahkan tidak diperlukan sama sekali.

Parahnya, ini tidak hanya terjadi di dunia usaha. Birokrasi pemerintah, bahkan Kepala Negara terlihat lebih suka mendepankan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Tengoklah bagaimana Presiden merumuskan semboyan kabinetnya. Dalam bahasa Inggris! Bahasa Indonesia ditampilkan sebagai terjemahan belaka.

Kalau Presiden lebih suka mendepankan bahasa Inggris, jangan heran kalau bangsa ini lebih suka memakai produk-produk dari luar, ketimbang produk bangsa sendiri. Karena kepada mereka setiap hari diajarkan bahwa yang berasal dari luar itu lebih baik. Itulah yang sedang dipamerkan para pemimpin, khususnya sang Presiden.

Sebagai penutup, saya ajukan pertanyaan untuk Anda renungkan.

“Anda mungkin malu kalau kemampuan berbahasa Inggris Anda jelek. Tapi pernahkah Anda merasa malu kalau kemampuan berbahasa Indonesia Anda jelek?

http://berbual.com

Masayoshi

9 September 2009

Aku tak pernah berhenti menyesali keputusanku untuk berkunjung ke rumahnya di tahun baru itu. Ia kakek tua berusia 80 tahun lebih. Namanya Masayoshi Uehara. Istrinya yang nyaris setua dia, bernama Masako. Mereka tinggal di sebuah rumah, persis di berhadapan dengan bangunan apartemen di mana kami menyewa sebuah kamar untuk tempat tinggal.

Apartemen ini adalah tempat pertama di tengah pemukiman orang Jepang yang kami tinggali. Sebelumnya, selama enam tahun lebih kami selalu tinggal dormitori untuk mahasiswa asing yang disediakan oleh universitas. Waktu aku selesai kuliah di program doktor, aku mendapat tawaran untuk bekerja sebagai peneliti tamu. Dengan status baru itu aku tak lagi berhak tinggal di dormitori.

Aku berkenalan dengan pasangan kakek-nenek ini dua hari setelah kami pindah ke apartemen itu, di suatu musim gugur. Sebenarnya tak cukup tepat untuk disebut berkenalan. Waktu itu kami hanya saling bercakap sejenak. Mereka tak tahu namaku, karena aku tidak memperkenalkan diri. Mereka juga tak memperkenalkan nama mereka. Aku tahu nama mereka dari papan nama kecil bertulis huruf kanji di kotak pos di gerbang pagar rumah mereka.

Pagi itu aku dan istriku sedang menata barang-barang yang kami bawa dari dormitori ke apartemen itu. Ada cukup banyak kardus berisi barang. Di antaranya ada kardus yang cukup berat. Waktu mencoba mengangkat salah satu kardus berat itu, istriku mengalami sakit yang luar biasa pada pinggangnya. Mungkin dia keseleo. Dia merasa sakit, dan tidak bisa bergerak. Aku papah dia ke kamar tidur, lalu aku rebahkan di atas futon yang aku hamparkan seadanya. Aku melanjutkan pekerjaan menata barang-barang sambil menjaga anakku yang baru berusia sembilan bulan, sambil pula sesekali memantau kondisi istriku. Aku fikir dia cuma keseleo, dan berharap segera pulih.

Tapi hingga malam hari tak ada tanda-tanda istriku membaik. Dia tak bisa bergerak. Setiap kali mencoba bergerak dia menjerit kesakitan. Khawatir keadaannya makin memburuk, aku putuskan untuk menelepon pemadam kebakaran, untuk minta bantuan ambulan. Saat itu sudah sekitar pukul sepuluh.
Tak lama setelah kutelepon, ambulan datang. Dengan tandu istriku diangkut keluar apartemen, lalu dimasukkan ke ambulan. Aku ikut masuk, sambil menggendong anakku yang sedang tidur. Dengan ambulan kami menuju rumah sakit terdekat.

Saat masuk ambulan aku lihat pasangan kakek-nenek itu keluar rumah. Ambulan itu memang tak membunyikan sirene saat masuk ke depan apartemen kami. Tapi apartemen itu terletak di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilewati satu mobil. Rumah kakek-nenek itu tak lebih dari dua meter dari pinggir jalan. Kilatan lampu sirene ambulan membuat mereka keluar rumah, dengan wajah ingin tahu. Tak sempat aku menyapa mereka karena aku buru-buru masuk ambulan.

Malam itu setelah isteriku diperiksa dokter aku diberitahu bahwa dia harus menjalani rawat inap selama beberapa hari. Naik taksi aku pulang ke apartemen sambil memeluk anakku.

Esok hari, saat aku keluar apartemen untuk pergi ke rumah sakit, aku lihat Masako san di depan rumahnya. Dia menyapaku dengan wajah khawatir.

“Kino douka sarenano desuka.” tanyanya dalam sonkeigo, bahasa Jepang halus. Dia menanyakan ada apa semalam. Aku jelaskan bahwa istriku mengalami masalah dengan otot pinggangnya. Gikkorigoshi, itu istilah bahasa Jepang yang diberitahukan dokter kepadaku tadi malam. Saat istilah itu aku sebutkan, dia langsung paham.

“Sore wa taihen desune.” katanya prihatin. „Kalau butuh bantuan, jangan segan-segan memberi tahu kami.“

Aku mengangguk dan lalu pamit untuk melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.

Beberapa hari kemudian istriku sembuh, lalu keluar dari rumah sakit. Kejadian sakitnya istriku itu membuka hubungan kami dengan pasangan kakek-nenek itu.

+++
Apartemen yang kami sewa kecil dan sederhana. Berlantai tiga dan tak terlalu luas. Khas apartemen di kota-kota kecil di Jepang. Bangunan ini sebenarnya lebih cocok disebut rumah kos. Letaknya hanya beberapa ratus meter dari kampus. Kamar-kamarnya kecil, cocok untuk hunian mahasiswa. Kamar yang kami sewa terletak di lantai satu, tadinya adalah dua kamar, digabung menjadi satu untuk memperoleh kamar yang lebih besar. Hanya kami penghuni yang berkeluarga di apartemen itu.

Rumah kakek-nenek tadi persis di depan apartemen kami. Pintu pagarnya persis berhadapan dengan pintu keluar apartemen. Hanya terpisah oleh jarak kira-kira dua meter. Di sekitar situ banyak rumah-rumah penduduk, juga beberapa apartemen. Kami tak pernah bertegur sapa dengan penduduk di sekitar apartemen. Paling-paling hanya saling bertukar senyum tipis atau anggukan kecil saat berpapasan.

Tapi dengan kakek-nenek ini agak lain. Setidaknya aku bertukar salam “ohayougozaimasu” atau “konnichiwa” kalau bertemu mereka. Sesekali aku berbincang ringan dengan mereka. Istriku tak pernah berbincang, karena kemampuan bahasa Jepangnya agak terbatas. Ia akan kesulitan kalau berbicara dengan kakek-nenek yang menggunakan bahasa Jepang dengan dialek lokal dan gaya orang tua.

Makin lama berinteraksi kami makin akrab. Kadang kakek-nenek itu memberi kami makanan atau buah-buahan. Sesekali sengaja mereka membeli mainan kecil di pasar untuk anak kami. Kami membalasnya dengan memberi makanan juga, khususnya kalau kami membuat makanan Indonesia yang menurut kami cocok untuk lidah orang Jepang.

Di musim semi mereka mengantarkan sakuranbo (cherry). Musim panas anakku dihadiahi satu set hanabi (kembang api). Musim gugur giliran buah kaki (kesemak) dari pohon di halaman rumah mereka di antarkan kepada kami.

Musim dingin ini adalah musim dingin ke dua kami tinggal di apartemen ini, dan bertetanggan dengan kakek-nenek itu. Tahun baru sudah menjelang. Ini adalah hari istimewa bagi orang Jepang. Suasananya persis seperti lebaran di negeri kita. Karena hubungan baik kami sudah berlangsung setahun lebih, aku putuskan untuk mengunjungi kakek-nenek itu ke rumah mereka saat tahun baru. Istriku setuju dengan gagasanku.

Begitulah. Di suatu petang, tanggal 1 Januari, kami bertiga berkunjung ke rumah itu untuk menyampaikan ucapan selamat tahun baru. Kakek-nenek itu menyambut dengan gembira. Ketika itulah baru kami berbincang lebih akrab.

Kakek-nenek ini punya anak laki-laki. Anak tunggal. Dia bekerja di Tokyo, dan sudah berkeluarga. Anaknya dua, sudah usia sekolah dasar. Biasanya anaknya pulang saat tahun baru. Tapi tahun ini tidak pulang.

Obrolan kami akhirnya tiba pada suatu topik yang memicu petaka. Sesuatu yang tak pernah aku sangka akan terjadi. Kakek itu bercerita bahwa dia pensiunan tentara. Dia jadi tentara saat Perang Dunia II. Dia bertugas di Indonesia saat itu. Di Tarakan tepatnya. Dua tahun dia bertugas di Tarakan. Dia kembali ke Jepang saat Jepang kalah perang dan mundur dari kawasan Asia yang dikuasainya. Hanya itu yang dia ceritakan. Tak detil.

Pulang dari rumah itu istriku banyak diam. Wajahnya agak cemberut. Ini memberi firasat tak sedap. Biasanya ini adalah tanda bahwa ada yang kuran berkenan di hatinya. Ujungnya adalah pertengkaran kami. Sebuah situasi yang paling aku benci.

„Ada apa?“ tanyaku lembut, mencoba untuk tak mengobarkan amarahnya.

Dia hanya diam. Dan ini paling rumit buatku. Aku tak pandai merayu istriku bila ia merajuk. Sejak dulu tak pandai, sekarangpun tak pandai.

“Ada kata-kataku yang menyinggung perasaanmu?“

Dia masih diam. Aku juga akhirnya terdiam, tak tahu harus berkata apa. Putus asa aku alihkan perhatianku pada anakku, dan beberapa pekerjaan kecil di rumah.

„Aku benci kakek itu.“ kata istriku beberawa saat kemudian. Ucapan itu mengejutkanku. Aku sama sekali tak menyadari ada yang membuat istriku kesal pada kakek itu.

„Kenapa?“ tanyaku hati-hati.

„Masa Abang nggak ngerti?“ tanyanya balik. Duh, ini pertanyaan yang selalu menusuk. Selalu membuatku merasa gagal jadi laki-laki. Gagal memahami perasaan perempuan, istriku.

“Kakek tua bangka itu adalah bekas serdadu Jepang. Tahu kan apa yang mereka lakukan selama menjajah Indonesia? Coba Tanya, berapa perempuan yang dia perkosa selama bertugas di Indonesia?” omel istriku berang.

Aku terhenyak. Lagi-lagi kehabisan kata-kata. Tak pernah aku menyangka bahwa masa lalu kakek itu akan membuat istriku berang. Aku coba membantah. Kakek itu belum tentu sejahat itu. Lagipula ia tak menyakiti kami.

„Ya itulah. Abang memang tak pernah paham perasaan perempuan.“ Itu kata-kata pemungkas dari istriku, nyaris di setiap pertengkaran kami.

+++

Sejak itu aku menghindari interaksi dengan kakek itu. Juga dengan istrinya. Sungguh, aku merasa mereka sama sekali tak bersalah pada kami. Tapi aku harus menjaga perasaan istriku. Dia gampang tersinggung.

Aku coba memahami perasaan istriku. Tak ada keluarga kami yang terkena perbuatan jahat tentara Jepang di jaman penjajahan dulu. Tak ada perempuan dari keluarga kami yang diperkosa tentara Jepang. Tapi istriku memang sensitif terhadap kejahatan serdadu. Khususnya kejahatan terhadap perempuan. Juga terhadap anak-anak. Setiap kejahatan itu bagi dia seperti serangan terhadap diri pribadinya. Aku coba berempati padanya.

Sejak tahun baru itu aku selalu menghindar dari kakek itu. Juga dari istrinya. Kalau kulihat salah satu dari mereka ada di depan rumah saat aku hendak keluar apartemen, aku tunda sampai mereka masuk. Demikian pula saat aku hendak pulang. Aku berputar balik, menunda ketibaan di apartemen kalau aku lihat mereka di depan rumah.

Begitulah. Selama sisa masa tinggal kami di apartemen itu, interaksi dengan kakek-nenek itu jauh berkurang. Sangat jauh. Aku rasa mereka juga sadar akan hal itu.

Lalu tibalah saatnya kami mudik ke tanah air. Saat itu sudah penghujung musim gugur. Artinya hampir setahun aku menghindar dari kakek-nenek itu. Pekerjaanku sebagai peneliti tamu selesai, aku harus pulang bersama keluargaku. Satu hal yang mengganggu adalah bahwa aku merasa harus berpamitan dengan kakek-nenek itu. Tapi aku juga tak mau melukai perasaan istriku.

Diam-diam, suatu hari, beberapa hari menjelang keberangkatanku ke tanah air, aku menyelinap sendirian ke rumah kakek-nenek itu. Aku berpamitan, terburu-buru. Setelah aku mengabarkan bahwa kami sekeluarga hendak pulang ke tanah air dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan selama ini, aku lagi-lagi dihadapkan pada kejadian yang tak pernah aku duga.

Kakek itu, Masayoshi Uehara, bersujud di depanku. Sujud khas orang Jepang. Menunduk dalam, wajahnya menyentuh tatami tempat aku duduk.

„Wareware, mukashi hidoi koto wo shite shimatte, makotoni mousiwake arimasen.” Ia meminta maaf atas perbuatan buruk di masa lalu. Aku sangat terkejut. Lalu bayangan yang selama ini menghuni benak istriku terasa mulai menghantui benakku pula. Aku membayangkan kakek tua ini sebagai serdadu muda yang bengis, liar. Seorang pemerkosa dan penjagal.

Tapi bayangan itu hanya sekejap. Kakek tua itu, masih dalam keadaan bersujud, melanjutkan. Seakan dia membaca isi fikiranku.

„Jangan salah sangka. Tak pernah sekalipun aku berbuat buruk pada bangsamu. Aku tak membunuh mereka. Tak menyakiti mereka. Aku juga tak memperkosa. Tapi teman-temanku melakukan itu semua. Aku tak sanggup mencegah mereka, menghentikan mereka. Untuk itulah aku minta maaf padamu. Pada bangsamu.“

Ketika ia bangun dari sujudnya, wajahnya berurai air mata.

http://berbual.com

Muhammad Noboru Sato

4 September 2009
Muhammad Noboru Sato

Namanya Noboru Sato. Nama keluarga Sato adalah nama keluarga yang populasinya paling tinggi di Jepang. Ia seorang muslim. Waktu masuk Islam di depan namanya ditambahi nama Muhammad. Kami memanggilnya Brother Sato atau Sato san.

Saat saya pertama kali mengenalnya tahun 1997 Sato san berumur kira-kira 50-an tahun, mungkin sudah mendekati 60. Saya agak banyak berinteraksi dengan beliau saat saya jadi General Secretary di Islamic Center. Sato san adalah President di lembaga tersebut. Dia adalah President seumur hidup. Tiap tahun pengurus berganti, tapi Sato san selalu dipilih menjadi President.

Setidaknya ada dua alasan untuk hal itu. Pertama, Sato san adalah yang paling senior di antara kami. Menjadikan dia sebagai pemimpin adalah cara kami untuk menghormati dia. Alasan lain bersifat pragmatis. Beliau adalah orang Jepang, penduduk asli di kota itu. Dia tahu lebih banyak tentang berbagai hal mengenai daerah itu. Yang jelas, dia tidak akan pergi dari kota itu sebagaimana kami para pendatang.

Kami menyewa dua kamar apartemen sederhana untuk dijadikan Islamic Center. Di situlah salat Jumat dan berbagai acara dakwah diadakan. Termasuk toko daging dan makanan halal. Ruangan yang kami sewa tidak besar. Karenanya kalau ada acara yang menghadirkan banyak orang seperti salat Ied, kami meminjam ruangan besar milik universitas di dormitori untuk mahasiswa asing.

Read the rest of this entry »

Fundamentalis Mata Kaki

3 September 2009

Namanya Khaleed, orang Pakistan. Perawakannya kurus tinggi. Wajahnya dihiasi hidung mancung, khas orang Asia Selatan. Pipi dan dagunya dihiasi janggut tebal dan panjang. Khaleed adalah teman saya. Kami sama-sama kuliah di program doktor di sebuah universitas di Jepang. Kelak ketika sama-sama sudah lulus, dia dan saya sama-sama menjadi peneliti tamu di universitas tersebut.

Ada ciri yang cukup menonjol dalam cara Khaleed berpakaian. Meski berada di Jepang, Khaleed sering tampil dengan baju tradisional Pakistan. Baju yang mirip dengan baju koko kita, tapi lebih panjang. Yang lebih khas, ujung celana Khaleed menggantung agak tinggi, di atas mata kaki. Belakangan aku paham bahwa soal ujung celana ini adalah persoalan penting bagi dia.

Read the rest of this entry »