Archive for March, 2004

Korupsi itu Sebuah Pilihan?

25 March 2004

Sumber: Suara Pembaruan – 25 Maret 2004

BANYAK upaya untuk menjelaskan sebab-sebab maraknya korupsi di Indonesia. Salah satu yang sering kita dengar bahwa korupsi itu terjadi akibat rendahnya gaji pegawai negeri. Gaji yang rendah itu tak cukup untuk menopang kehidupan seorang pegawai negeri secara layak, sehingga mereka melakukan korupsi untuk menutupi kekurangannya. Karena itu, membenahi kesejahteraan pegawai negeri adalah sebuah langkah utama dan pertama yang harus diambil pemerintah untuk memerangi korupsi.

Tak ada yang salah dalam cara berpikir seperti itu, setidaknya secara makro. Hanya saja, cara berpikir seperti itu punya efek sampingan yang cukup berbahaya, yaitu sikap apologis dari pelaku korupsi, terutama bila disosialisasikan dengan cara yang keliru. Kita ketahui bahwa korupsi demikian parah menggerogoti birokrasi kita di semua jenjang dan telah berlangsung sangat lama. Akibatnya korupsi sudah sangat akrab bagi sebagain besar pelaku birokrasi. Lalu, sejauh ini tak pernah ada gerakan yang benar-benar serius untuk memerangi korupsi, sehingga kampanye antikorupsi nyaris tak pernah dilaksanakan. Akibat kurangnya sosialisasi, banyak pihak yang tak lagi bisa membedakan dengan jelas tindakan apa saja yang masuk dalam kategori korupsi.

(more…)

wordpress plugins and themes

Saatnya Merebut Kepemimpinan Moral

16 March 2004

Media Indonesia , 16 Maret 2004
Kutipan: http://www.preventconflict.org/portal/main/issuedetail.php?a=9345

ISTILAH low politics (politik rendah) dan high politics (politik tinggi) pertama kali diperkenalkan oleh Amien Rais, lebih dari satu dekade yang lalu. Ketika itu sedang marak aksi dukung-mendukung terhadap tokoh tertentu dalam pemilihan kepala daerah oleh organisasi maupun tokoh Islam. Aksi itu bahkan cenderung tampak vulgar dengan perang pernyataan dukungan di media massa. Lalu Amien datang dengan ide tadi. Tindakan para tokoh Islam tersebut, menurut Amien, adalah gerakan politik rendah, yaitu kegiatan politik untuk memperebutkan suatu posisi tertentu. Padahal mereka seharusnya melakukan gerakan politik tinggi, mewarnai dunia politik dengan moral yang tinggi. Ironisnya, walau lebih dari satu dekade berlalu, organisasi maupun tokoh Islam tampaknya tidak banyak beranjak dari kubangan politik rendah.

Dalam sejarah, setidaknya sejak Orde Baru, umat Islam yang direpresentasikan oleh para pemimpinnya memang lebih banyak memainkan lakon politik rendah ini. Celakanya lagi selain rendah, politik umat Islam itu juga pinggiran. Mereka sebagai pemilih dengan jumlah terbesar hanya didekati dan dieksploitasi hak suaranya menjelang pemilu dengan imbalan kecil. Setelah pemilu selesai, mereka tidak diikutsertakan dalam pembagian kue kekuasaan politik. Dengan imbalan jangka (yang sangat) pendek seperti untuk membangun atau menambah fasilitas pesantren, misalnya, banyak kiai yang rela menyetorkan suara umatnya ke suatu kekuatan politik. Kuntowijoyo menyebut mereka ini sebagai ‘kiai pompa air’, karena rela menukar suara umatnya dengan beberapa buah pompa air. Di masa Orde Baru, Golkar dengan kekuatan dana yang sangat besar berhasil mengeksploitasi sisi ini. Mau tak mau harus diakui bahwa umat Islam, melalui para pemimpinnya yang berkarakter politik rendah dan pinggiran tadi, adalah salah satu pilar penting penyokong kekuasaan Orde Baru dan Golkar.

(more…)

wordpress plugins and themes

Kriteria Membumi – Dalam Tema Penelitian

9 March 2004

Kompas – 9 Maret 2004

Sumber: www.kompas.com/kompas-cetak/0403/09/opini/898464.htm

Kutipan: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0404/26/opini/933970.htm

TULISAN Zeily Nurachman berjudul “Membumikan Topik Penelitian” (Kompas, 12/2/2004) menyelipkan sebuah inkonsistensi kecil, di samping beberapa pertanyaan besar tentang kata membumi yang jadi tema utama dalam tulisannya. Dia menjadikan Chandrasekhara Venkata Raman sebagai salah satu tokoh dalam ilustrasinya, tetapi sayang tokoh ini tidak cukup tepat atau malah antagonis dengan judul tulisan.

Raman adalah contoh yang baik untuk “ketekunan”, tetapi tidak untuk “membumi”. Alasannya sederhana: pada awal abad ke-20 ketika Raman melakukan penelitian, yang dibutuhkan rakyat India tentu bukan sebuah spektroskopi. Karya Raman itu, walau tidak membumi (dalam konteks masyarakat India awal abad ke-20), terbukti telah memberi manfaat yang luas, melampaui batas negara dan bahkan batas zaman. Kalau saya boleh memberikan sedikit koreksi, kata kunci yang lebih tepat untuk tulisan tersebut justru “ketekunan” bukan “membumi”.

(more…)

wordpress plugins and themes