Archive for September, 2004

Ulama dan Pencegahan Terorisme

17 September 2004

Media Indonesia, 17 September 2004

Tak lama setelah teror bom di Kedutaan Besar Australia, Adnan Buyung Nasution (ABN) berkomentar keras. Ia mengritik sikap ulama yang menurut dia kurang tegas dan keras suaranya terhadap isu terorisme. Menurutnya para ulama kurang memberikan pengertian tentang makna jihad kepada publik, sehingga banyak orang yang secara keliru memahami konsep itu, dan terjerumus dalam tindakan teror

Kritik semacam itu sebetulnya sudah lama bergaung, terutama di luar negeri. Umat Islam secara umum sering dituduh tidak jelas posisinya dalam isu terorisme ini. Mereka sering disebut silent majority, karena mayoritasnya cenderung diam terhadap setiap kejadian teror. Sebagian kecil yang lain malah cenderung menyatakan dukungan terhadap kegiatan teror itu, walau tidak secara langsung melibatkan diri. Kalaupun ada kelompok-kelompok dari umat Islam yang bersuara keras terhadap terorisme, mereka ini umumnya adalah kelompok minoritas. Kecaman terhadap terorisme itu bahkan nyaris tak terdengar meskipun tindakan itu telah menjadikan umat Islam sendiri sebagai korban, sebagaimana terjadi di Turki, Saudi Arabia, serta di Indonesia.

(more…)

Menanggulangi Kelangkaan Guru Besar, Menuju Kampus Riset

6 September 2004

Pernah dimuat pada beritaiptek.com.

Dalam kaitan dengan dies natalis Universitas Indonesia (UI) beberapa waktu lalu diberitakan bahwa universitas ini sedang mengalami kekurangan guru. Saat ini UI hanya memiliki 203 guru besar, dan sebagian di antaranya hampir memasuki dunia pensiun. UI menargetkan tercapainya jumlah 300 guru besar selama tahun 2004 ini dalam rangka mewujudkan impiannya sebagai kampus riset.

Kekurangan guru besar ini terasa sangat ironis mengingat UI adalah salah satu universitas terbaik di tanah air. Kekurangan ini tentu tidak hanya dialami oleh UI, tapi juga universitas lain. Sebuah jurusan di universitas besar seperti UGM atau ITB rata-rata cuma punya 2-3 orang guru besar. Di beberapa universitas universitas kecil di daerah malah ada fakultas yang tidak punya guru besar sama sekali.

Kekurangan guru besar ini adalah salah satu indikasi yang sangat jelas tentang terbengkalainya bidang penelitian di universitas kita. Di negara maju seorang guru besar (professor) biasanya membawahi sebuah kelompok yang melakukan penelitian pada subyek tertentu. Anggota kelompok itu terdiri dari asisten dan mahasiswa, baik tingkat sarjana maupun pasca sarjana. Penelitian dilakukan secara terprogram dengan agenda dan anggaran yang jelas, lalu hasilnya dipublikasikan di jurnal ilmiah maupun konferensi. Ini adalah situasi ideal sebuah universitas yang layak untuk disebut kampus riset.

(more…)