Archive for April, 2009

Suri

24 April 2009

Aku tersadar dengan perasaan yang luar biasa asing. Kepalaku bagian belakang sakit luar biasa. Perlahan aku buka kelopak mataku. Tapi yang tampak hanya hitam, gelap, pekat. Aku tutup mataku, lalu aku buka kembali, untuk memastikan bahwa kelopak mataku benar terbuka. Hasilnya sama, gelap. Butakah aku?

Perlahan kesadaran menjalari seluruh tubuhku. Aku merasa sedang berbaring miring di atas alas papan keras, sedikit terendam air. Punggungku disangga oleh bantal lunak namun dingin. Tubuhku berbalut selimut tipis namun ketat, yang tak kuasa sedikitpun menghangatkan tubuhku. 

Kurebahkan badanku telentang. Kulepaskan tanganku dari belitan selimut tipis, lalu aku gerakkan ia untuk mencari tahu. Segera tanganku terbentur, kanan, kiri, atas. Aku berada di sebuah ruang sempit lagi rendah. Kuraba lagi langit-langit ruangan ini. Sangat rendah, tak cukup tinggi kalau aku sekedar ingin duduk sekalipun. 

Ku hentikan usahaku untuk mencari tahu lebih jauh dengan rabaan tangan, karena itu melelahkan. Aku lemaskan seluruh tubuhku, lalu berfikir. Lalu gagasan itu datang begitu saja, dan tentu saja sangat menakutkan. Aku sudah mati! Kini aku sedang berbaring di liang kubur.

Bagaimana aku mati? Ah, pasti karena penyakit darah tinggi. Penyakit laknat ini musuh kami sekeluarga. Ayah, Emak, dan abangku yang tertua mati karena penyakit ini. Sejak menjelang usia empat puluh aku sudah ada gejala juga. Dan itu membuatku cemas. Dan cemas itu membuat tekanan darahku makin tinggi.

Tapi, tunggu dulu! Aku ingat sekarang. Baru bulan lalu aku ikut general check up, dan hasilnya aku sehat. Tidak ada masalah tekanan darah, gula darah, kolersterol atau apapun. Ginjal, jantung, semua organku berfungsi baik. Aku tak mungkin mati karena suatu penyakit. 

Aku coba ingat kembali saat-saat ketika aku masih hidup. Aku cari ujungnya untuk menemukan sebab kematianku. Lalu kenangan itu hadir. Samar-samar aku ingat, aku sedang melakukan pemeriksaan rutin di pabrik. 

Aku tidak bekerja di bagian produksi di perusahaan kami. Artinya tak ada tugas utamaku yang mengharuskan aku pergi ke pabrik. Aku berurusan dengan segala urusan administrasi, sehingga pekerjaanku bisa kulakukan di kantor saja. 

Tapi aku merasa perlu memastikan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Di perusahaan aku adalah orang lokal dengan jabatan tertinggi. Artinya aku pemimpin atas seluruh karyawan. Aku merasa perlu untuk sesekali datang menjenguk mereka saat bekerja. Menyapa mereka. Kadang mendengar keluhan mereka. Sesekali aku menegur, kalau aku temukan ada yang tidak benar. Aku juga merasa perlu melihat sendiri suasana di tempat kerja bawahanku. Siapa tahu ada hal-hal yang berbahaya, yang tidak mereka sadari karena terlalu terbiasa dengan rutinitas. Atau ada hal-hal yang perlu diubah untuk kebaikan.

Lagipula, pekerjaan kantor membuatku merasa jenuh. Aku butuh selingan, dan jalan-jalan ke pabrik adalah selingan yang menyenangkan. 

Hari itu, saat aku sedang masuk ke pabrik, salah seorang operator sedang memindahkan mold, cetakan plastik, seberat 200 kilo dengan hoist crane. Hoist crane ini sepertinya sedang bermasalah. Gerakannya tak singkron dengan pengaturan pada remote control. Aku mencatat masalah ini, berniat menghubungi suppliernya untuk meminta perbaikan.

Tiba-tiba aku mendengar pekikan kaget.

„Awas, Pak!! Bahaya!!!”

Sebuah hantaman keras terasa di belakang kepalaku. Lalu gelap……………

Selesai mengingat itu semua, aku raba belakang kepalaku, terasa ada luka menganga di situ. Sedikit basah, aku kira itu sisa-sisa darah. 

Ada perlawanan alami dari tubuhku saat aku sampai pada kepastian bahwa aku sudah mati. Refleks tanganku bergerak, mendorong dinding di atasku. Aku ingin keluar dari sini. Ada kerinduan yang sangat pada istriku, juga anak-anakku. Ya terutama pada anak-anakku. Mereka masih kecil-kecil. Mereka butuh aku untuk memberi mereka kasih sayang. Juga butuh aku untuk menafkahi mereka.

Anakku yang tertua berumur tujuh tahun, perempuan. Ia cantik. Matanya indah, dihiasi alis lentik yang ia dapat dari istriku. Ia seorang pengoceh, salah satu tanda bahwa ia keturunanku. Manja dan agak cengeng, tapi aku tahu dia cerdas.

Anakku yang kedua, laki-laki, tiga tahun lebih muda dari kakaknya. Agak pemalu, tapi keras kepala. Ia lebih mandiri, dan agak suka menyendiri. Tapi kalau sudah melihat kakaknya bermanja-manja padaku, biasanya ia juga tak mau kalah.

Yang nomor tiga masih bayi. Anak laki-laki yang sehat, montok. Dalam banyak hal dia mirip kakak perempuannya. Satu perbedaan menyolok, dia juga keras seperti abangnya. Kalau ada hal yang kurang berkenan, ia akan menangis sekerasnya.

Aku dorong lagi dinding di atasku, lebih keras. Tapi aku kemudian menyerah. Bukan hanya pada kenyataan bahwa dinding-dinding aku coba dobrak ini sangat kokoh. Juga bukan pada kenyataan bahwa tubuhku sekarang jauh lebih lemah dari saat aku mulai tersadar tadi. Aku bahkan baru sadar bahwa sekarang tubuhku semakin lemah, nafasku semakin sesak, dan tubuhku makin sulit digerakkan.

Yang membuat aku menyerah lebih dari itu. Aku sadar, bukan sekedar tembok kokoh yang menghalangiku. Bukan tembok fisik. Aku sekarang sudah berada di alam lain. Kembali ke keluargaku, dari alamku sekarang, mungkin malah tidak akan membuat mereka bahagia. Aku akan menakuti mereka. Akhirnya aku pasrah.

Aku coba menghibur diri dengan berhitung-hitung, memastikan setidaknya anak-anakku tak akan kekurangan nafkah kalau aku tak ada. Ada sejumlah tabungan yang aku tinggalkan, dalam bentuk uang tunai di bank. Juga ada asuransi kecelakaan dari perusahaan. Aku bersyukur aku mati kecelakaan, sehingga anak-anakku akan dapat uang dari situ. Juga ada asuransi yang polisnya aku bayar sendiri. 
Aku jumlahkan semuanya, kiranya cukuplah untuk menghidupi mereka sampai mereka selesai sekolah dan mandiri.

Sejenak aku merasa lega. Tapi cuma lega dalam perasaan. Karena rasanya liang kubur ini semakin pengap, panas. Aku sudah sangat sulit bernafas.

Lalu aku sadar akan satu hal lain. Kalau aku di kubur, mana malaikat pemeriksa? Bukankah mereka seharusnya sudah datang sejak tadi? Ketika para pengantar sudah melangkah pulang tujuh langkah? Aku sudah di sini sejak tadi, seharusnya mereka sudah lebih dari tujuh langkah. Mereka mungkin sudah sampai di rumah. Mengapa mereka belum juga datang?

Hmmmm……..berarti dulu aku benar. Segala macam cerita soal pemeriksaan dan siksa kubur itu cuma dongeng belaka. Aku tersenyum menang.

Tapi, kalau malaikat itu tak datang, sampai kapan aku akan terus di sini?

Nafasku semakin sesak, aku tersengal. Lalu gelap.

http://berbual.com

Long Mesir

24 April 2009

Suasana pemilihan umum sering mengingatkan aku pada seorang sanak. Namanya Mesir. Ia anak sulung, dalam logat kampung kami sulong. Karena itu dia kami panggil Long Mesir. Adik lelakinya menikah dengan kakak tertuaku.

Perawakannya kurus tinggi. Kulitnya coklat kehitaman. Meski tak kekar, otot-otot lengan, betis dan pahanya menojol jelas, tanda bahwa otot-otot itu sering dipakai untuk bekerja. Aku tak tahu pasti berapa umurnya ketika aku mulai mengenalnya di masa kecilku dulu. Pastilah lebih muda dari ayahku, karena anak tertuanya sebaya denganku.

Long Mesir seorang buruh panjat kelapa. Ia memanjat dan memetik kelapa yang sudah tua, lalu mengumpulkannya untuk diangkut. Kalau air sedang pasang kelapa-kelapa itu cukup dihanyutkan sepanjang selokan ke bagian depan kebun. Kalau tidak ada air di selokan, ia harus memasukkannya ke dalam keranjang lalu dipikul. (more…)

Emakku bukan Kartini

21 April 2009
Emakku bukan Kartini

Emakku bukan Kartini. Dia hanya anak seorang petani kelapa. Istri seorang petani kelapa pula. Sampai akhir hayatnya dia buta huruf latin (bisa membaca huruf Arab). Dia tak sekolah bukan karena tak hendak. Dia tak sekolah karena berbagai kombinasi yang tak menguntungkannya.

Suatu hari di kampung kedatangan ustaz dari desa lain. Ada pengajian kecil, mempelajari sifat dua puluh. Emak, ketika itu seorang gadis kecil, ingin ikut serta belajar. Tapi ia dihardik ayahnya. “Kau bukan anak perempuan yang patut untuk menjadi cendekia.” Emak hanya bisa menangis.

Tapi Emak tak pernah mengeluh. Pun ia tak melawan. Ia hanya menunggu datangnya sesuatu: Kebebasan. (more…)

Magang

8 April 2009

Yanti terduduk lemah. Mukanya pucat, pandangannya kabur. Tangannya gemetar. Perutnya terasa mual. Tapi ia masih nekat, hendak bertahan. Aliran barang di atas conveyor di depannya bergerak lambat. Dalam pandangannya yang kabur tampak seperti benda mengapung di atas aliran air sungai di kampungnya. Benda itu harus ia raih, harus ia rangkai dengan bagian yang ada di tangannya, selanjutnya dioper ke pekerja di sebelahnya. Pekerja di sebelahnya akan menambahkan bagian yang lain. Begitu seterusnya, di ujung sana benda itu akan jadi barang sempurna.

Ia paksakan tangannya yang lemah untuk menggapai benda itu. Tapi rasanya ia semakin melayang. Benda-benda itu seperti menjauh darinya, terseret arus yang pelan, namun pasti. Ia mencoba mengulurkan tangannya lebih panjang untuk menjangkaunya. Tapi iapun mulai hanyut terbawa arus. Tangannya kini menggapai-gapai, berusaha mengangkat badan lemahnya agar tak terbenam dalam arus air. Tapi ia tak kuasa. Lalu gelap. (more…)

Petromak

3 April 2009

Kenangan tentang petromak bagiku hampir identik dengan kenangan tentang ayah. Ayah yang kukenal sepanjang masa kecilku adalah seorang pria berumur sekitar 50 tahun. Tinggi badannya sekitar 165 senti meter. Badan dan tangannya kekar, tapi perutnya agak buncit. Persis seperti potongan tubuhku saat ini. Kulit putih, hidung mancung. Tapi hampir semua wajah kami anak laki-lakinya tak mirip dengan dia. Kami lebih mirip Emak.

Ayah adalah lelaki biasa. Ia tidak ambisius seperti Emak. Ia lebih suka menikmati apa saja yang bisa dia nikmati sekarang, bukan nanti-nanti. Agak kontras dengan Emak yang lebih suka menabung hari ini yang manfaatnya dirasakan kemudian. Kalau sudah lelah dia akan berhenti bekerja, sementara Emak berprinsip kalau ada pekerjaan besok yang bisa diselesaikan hari ini, selesaikanlah.

(more…)