Archive for June, 2009

Showa no oyaji

18 June 2009

Orang Jepang memulai perhitungan tahun dengan bertahtanya Kaisar (Tenno). Dalam dokumen resmi, mereka tidak menggunakan perhitungan tahun Masehi (Seireki-西暦), meski perhitungan bulannya tetap mengikuti. Tahun 2009 ditulis sebagai tahun Heisei 21.

Kaisar Hirohito berkuasa dari tahun 1926 sampai tahun 1989. Periode itu disebut periode Showa (昭和) dan Kaisar Hirohito disebut sebagai Showa Tenno. (昭和天皇). Saat dia meninggal tahun 1989, itu adalah tahun ke 64 Tahun Showa, dan tahun yang sama menjadi tahun pertama atau Gannen (元年) bagi kaisar berikutnya, Akihito. Periode pemerintahan Kaisar Akihito disebut periode Heisei (平成) dan saat ini memasuki tahun ke 21.

Periode Showa adalah periode yang sulit bagi orang Jepang. Dalam periode ini Jepang mulai melakukan ekspansi ke Asia Tenggara, kemudian diikuti dengan Perang Dunia II, di mana Jepang mengalami kekalahan. Pasca perang, orang-orang Jepang harus berjuang dalam kemiskinan, untuk bangkit. Saya ingin menuliskan perjalanan para ayah atau oyaji (親父)pada periode ini untuk menggambarkan situasi pada zaman tersebut.

Sensei saya lahir tahun 1942. Tepat saat perang mulai berkecamuk. Ayahnya adalah seorang tentara, sebagaimana banyak orang lain pada zaman itu. Saat Sensei baru berusia beberapa tahun, ayahnya ditugaskan berangkat perang. Ayahnya gugur di Papua.

Sensei saya adalah satu dari ribuan anak zaman itu. Artinya ada ribuan ayah bernasib sama dengan ayah Sensei. Adapun ayah-ayah yang lain, yang tidak dikirim ke medan perang, tidak kalah menderitanya dengan yang berperang. Itulah salah satu potret ayah zaman Showa.

Perang usai. Tapi Jepang sudah terlanjur luluh lantak. Di sana sini mulai diusahakan perbaikan. Tapi perubahan berjalan lambat. Selama beberapa periode, tak banyak yang bisa dikerjakan. Pada masa-masa seperti ini para ayah pulang ke rumah sore hari, dan secara keras mendidik disiplin pada anak-anaknya.

Ayah adalah figur sentral. Ayah akan duduk di ruang tengah (ima), anak-anak berkumpul bersama. Baru makan malam bisa dimulai.

Orang Jepang mandi malam dengan berendam di air panas (ofuro). Ayah mendapat giliran pertama masuk ofuro. Baru kemudian anggota keluarga yang lain. Tak jarang ibu mendapat jatah terakhir.

Masa-masa akhir decade 50-an, ekonomi mulai membaik. Dekade 60-an adalah saat ekonomi sedang menuju puncak. Salah satu tandanya adalah penyelenggaraan Olimpiade di Tokyo tahun 1964.

Pada masa ini, para ayah adalah para pekerja keras. Keluar rumah saat anak-anaknya masih tidur, dan kembali saat anak-anaknya sudah tidur. Beberapa teman saya bercerita bahwa dia sama sekali tidak mengenal sosok ayahnya ketika masih kecil.

Sensei saya yang punya anak seumur dengan saya juga bercerita, bahwa dia tidak pernah bercengkrama dengan anak-anaknya saat mereka masih kecil. Dia selalu sibuk bekerja.

Baru-baru ini saya berbincang dengan salah seorang kenalan saya, seorang Presdir perusahaan Jepang di Indonesia. Dia juga bercerita hal yang sama. Belasan tahun dari karirnya dihabiskan dengan bekerja di kota yang berbeda dengan tempat keluarganya tinggal. Ia tinggal sendiri terpisah dari keluarganya. Termasuk beberapa tahun di luar negeri.Dalam bahasa Jepang ini disebut tanshin funin (単身赴任). Dia nyaris tak mengenal anaknya, karena tidak bersama dia selama masa pertumbuhan.

Bagi orang Jepang, tanshin funin itu hal yang tidak enak, tapi harus diterima sebagai sesuatu yang lumrah. Ada mungkin yang keberatan, tapi jarang yang mengelak. Orang Jepang memperlakukan tugas dari perusahaan seperti tentara menerima perintah. Mereka hanya menjalankan. Tidak membantah. Juga tidak mengelak, misalnya dengan pindah ke perusahaan lain untuk mencari suasana yang lebih baik.

Para ayah di dekade 80-an adalah mereka yang menikmati puncak kemajuan ekonomi Jepang, khususnya pada masa bubble. Mereka ini tetap pekerja keras. Tapi sudah lebih „manusiawi“. Artinya sudah bisa menyisihkan waktu untuk berkumpul besama keluarga.

http://berbual.com

Sonkeigo

16 June 2009

Sonkeigo

„Yao sensei wa tadaima irassyaimasen.“

Kalimat itu sangat sering diucapkan oleh mahasiwa Jepang saat menerima telepon di kantor grup riset kami saat saya belajar di Jepang dulu. Penelepon minta bicara dengan Sensei (profesor) bernama Yao, yang kebetulan sedang tidak ada di tempat. Mahasiswa tadi menjelaskan situasi itu dengan kalimat di atas.

Saya sering tersenyum kecil mendengar kalimat seperti itu, karena saya tahu kalimat itu salah. Lho? Orang Jepang salah dalam berhasa Jepang?

Mahasiswa tadi berbicara dengan bahasa halus, untuk penghormatan, yang disebut sonkeigo. Tidak ada yang salah dalam tata bahasa yang dia gunakan. Struktur kalimatnya benar. Hanya saja dia salah dalam penerapannya. Sonkeigo memang rumit. Ini adalah salah satu bagian yang paling memusingkan bagi saya saat mempelajari bahasa Jepang, di samping-tentu saja- saat menghafal huruf-huruf kanji. Bagi orang Jepang sekalipun, sonkeigo ini rumit.

Bahasa Jepang memiliki tiga tingkatan. Ada bahasa untuk penghormatan (sonkeigo), bahasa standar (futsugo), dan ada bahasa untuk merendah (kenjogo). Kosa kata yang digunaka membedakan tingkatan itu. Misalnya, untuk kata ada/hadir digunakan “irassyaru” (sonkei), „iru“ (futsu), dan „oru“ (kenjo).

Selain soal kosa kata, ada hal yang lebih penting dalam sonkeigo, yaitu soal pengenaan. Sonkeigo dipakai untuk orang yang lebih tinggi (me ue) dari penutur. Misalnya orang yang lebih tua, atau lebih tinggi jabatannya. Tapi ada lagi aturan lain. Saat mendeskripsikan atau menerangkan seseorang dalam kelompok/keluarga kita (anggota uchi gawa) kepada orang luar, kita tidak boleh menggunakan kosa kata sonkeigo.

Guru bahasa Jepang saya memberi deskripsi yang sederhana untuk aturan di atas. „Seluruh anggota uchi diperlakukan sama di hadapan orang luar. Bapak sama dengan kucing.“ Kita, misalnya, tidak akan mengatakan: „Kucing saya wafat“. Wafat adalah bentuk kata halus/penghormatan yang tidak cocok digunakan untuk kucing.

Kesalahan itulah yang dilakukan oleh mahasiswa tadi. Dia sedang menjelaskan situasi tentang profesor di grupnya kepada orang luar. Tapi dia menggunakan dua kata penghormatan yang tidak pada tempatnya, yaitu „sensei“ dan „irassyaimasen“. Seharusnya dia mengatakan: „Yao wa tadaima orimasen.“. Perhatikan bahwa dalam kalimat tersebut nama orang (Yao) sama sekali tidak diberi embel-embel penghormatan, san atau sensei.

Sebagai orang Indonesia kita bisa „memahami“ kesalahan mahasiswa Jepang tadi. Tentu tak elok bagi kita untuk menyebut nama saja kepada bapak/guru/atasan kita. Demikian pula, kita tak akan nyaman menggunakan kata-kata kasar untuk mendeskripsikan dirinya.

Tapi logika bahasa Jepang ternyata tidak demikian. Meninggikan orang serumah adalah hal yang tabu. Sama seperti tak wajarnya saat kita berkata „Kucing saya wafat.“

Sonkeigo dipertahankan dalam percakapan bisnis. Ini adalah bagian penting dari tata krama bisnis Jepang. Karenanya anak-anak muda yang baru lulus kuliah, dalam masa training di perusahaan, biasanya diberi pelajaran mengenai sonkeigo.

http://berbual.com

Doktor a la PGSD

9 June 2009

PGSD yang kita kenal adalah singkatan dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Ini adalah Program Diploma II di bidang pendidikan, untuk mendidik calon guru Sekolah Dasar. Tamat dari program ini seseorang dianggap layak menjadi guru Sekolah Dasar.

Tapi PGSD yang hendak saya bahas dalam tulisan ini lain lagi ceritanya. PGSD yang ini singkatan dari Pokoknya Gelar Saya Doktor! Ini adalah cerita yang mencerminkan buruknya dunia pendidikan kita.

UU Guru dan Dosen yang dianggap bisa memperbaiki nasib dan kesejahteraan guru dan dosen ternyata membawa efek sampingan. Perbaikan gaji guru dan dosen melalui sejumlah tunjangan tidak diberikan secara otomatis dan pukul rata. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi, antara lain sertifikasi. Untuk guru, salah satu syarat untuk sertifikasi ini adalah lulus sarajana S1. Sedangkan untuk dosen, harus dipenuhi kualifikasi sarjana S2. Tambahan lagi, bagi dosen akan lebih menguntungkan bila ia punya kualifikasi S3. Lulus program doktoral akan lebih memudahkan untuk mencapai jabatan fungsional akademik guru besar (profesor).

Semua syarat itu tentu dimaksudkan untuk kebaikan. Artinya para guru dan dosen harus memiliki kualifikasi tertentu, agar mutu pendidikan yang mereka asuh meningkat. Tapi apa lacur. Negeri ini adalah negeri sertifikat. Segala sesuatu ditentukan oleh kertas-kertas dokumen, bukan isi yang diwakili kertas itu. Untuk naik seberkas dokumen jauh lebih penting dari mutu si penyerah dokumen itu. Petugas dan pejabat yang menilai lebih teliti memeriksa dokumen ketimbang memeriksa orang.

Maka pak guru dan dosen tidak berlomba meningkatkan kualitas. Mereka berlomba berburu sertifikat. Program S1 bagi guru-guru tumbuh bak jamur di mana-mana. Semua menawarkan kemudahan. Kuliah cukup di akhir pekan. Programnya tidak lama-lama, bahkan bisa lebih singkat dari program reguler. Demikian pula halnya dengan program S2-S3 bagi dosen. Kualitasnya? Jangan tanya. Lulusannya menyandang predikat PGSD tadi. Pokoknya Gelar Saya Doktor.

***

Dosen-dosen kita memang disuruh hidup di alam tak rasional. Seorang dosen bergelar doktor yang baru menyelesaikan pendidikan bisa mendapat pangkat/golongan IIIc atau IIId. Gaji perbulan kurang lebih 2,5 juta rupiah. Mau bagaimanapun caranya, mustahil bisa hidup layak dengan uang sekecil itu.

Tapi biasanya ada yang berdalih. Dosen kan punya pemasukan lain. Misalnya, penelitian, proyek, program ini itu. Hingga jabatan struktural, posisi politis dan sebagainya.

Ya, ada yang dapat itu, sehingga penghasilannya jauh melampaui orang-orang yang bekerja di sektor swasta. Tapi masalahnya tidak semua dapat. Universitas besar punya posisi yang lebih baik untuk mendapat proyek-proyek. Universitas kecil nyaris gigit jari. Itu satu soal. Soal lain, lha kenapa universitas kok mengurusi proyek-proyek untuk cari duit, bukan mengembangkan pendidikan.

Penelitian? Ini masalah lagi. Penelitian akhirnya jadi ajang untuk cari duit, bukan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. Hasilnya, lagi-lagi setumpuk kertas laporan.

Gejala PGSD juga tidak terlepas dari ketimpangan ini. Penyelenggaranya (perguruan tinggi) butuh pemasukan. Pesertanya butuh gelar. Betermulah mereka di pasar bisnis pendidikan.

Uchi

4 June 2009

Bondan Winarno dalam Kolom KIAT di Majalah Tempo (edisi tahun 1980-an) menggambarkan karakter khas orang/perusahaan Jepang sebagai berikut. Seorang engineer Inggris yang bekerja di BBC akan memperkenalkan dirinya dengan berkata: Saya seorang engineer. Sejawatnya orang Jepang yang bekerja di NHK akan memperkenalkan diri: Saya bekerja di NHK. 

Lebih jelas lagi, kita umumnya akan memperkenalkan diri kita dengan menyebut nama kita terlebih dahulu, baru menyebutkan afiliasi kita. Sedangkan orang Jepang akan memperkenalkan afiliasinya terlebih dahulu. Seseorang bernama Hashimoto yang bekerja di NHK memperkenalkan dirinya dengan berkata, “NHK no Hashimoto desu.” Partikel “no” dalam kalimat tersebut bermakna “bagian”, artinya Hashimoto san ini memperkenalkan dirinya sebagai bagian dari NHK. 

Bagi orang Jepang, perusahaan itu adalah uchi (内). Uchi artinya (bagian) dalam, dan lawannya adalah soto (外). Uchi juga berarti rumah. Secara umum, dengan cara itulah orang Jepang menempatkan dirinya pada suatu lingkungan. Ia menempatkan dirinya di suatu titik, titik terdekat dari dirinya hingga suatu batas tertentu disebut uchi, dan yang di luar itu adalah soto. Ini semua tercermin dari berbagai perlakuan, termasuk penggunaan tata bahasa dan kosa kata. Bahasa Jepang mengenal bahasa halus/penghormatan atau sonkeigo (尊敬語) dan bahasa untuk merendah kenjougo謙譲語. Sonkeigo digunakan untuk pihak luar, sedangkan kenjougo digunakan untuk orang dalam. Soal ini akan saya jelaskan dalam tulisan tersendiri.

 Orang Jepang melihat uchi dalam dua makna tadi, yaitu dalam (internal) dan rumah. Artinya, perusahaan bukan sekedar tempat bekerja, tapi juga rumah bagi karyawannya. Perusahaan dipandang sebagai sebuah keluarga besar. Salah satu konsekwensinya adalah bahwa nama baik perusahaan harus dijaga. Baik dalam konteks bisnis perusahaan maupun dalam konteks kehidupan pribadi. Dalam konteks bisnis hal itu diwujudkan dengan menjaga mutu produk maupun layanan. Dalam konteks pribadi, dalam kehidupan pribadi sekalipun, seseorang dianggap mewakili perusahaan. Pelanggaran lalu lintas yang fatal (misalnya mengemudi dalam keadaan mabuk) dapat membuat seseorang dipecat dari perusahaan.

 Selain soal menjaga nama, konsep kekeluargaan ini muncul dalam bentuk beberapa karakter khas. Salah satunya adalah lebih menonjolnya identitas perusahaan pada diri karyawan ketimbang identitas profesi individu. Ciri lain adalah rendahnya tingkat kepindahan karyawan. Sekali seseorang masuk ke sebuah perusahaan, umumnya dia akan bekerja di situ sampai pensiun. Pindah kerja dari suatu perusahaan ke perusahaan lain di Jepang masih terbilang langka, khususnya kalau dibandingkan dengan Indonesia.

 Saya menduga konsep ini sejarah perjalanan bisnis Jepang yang memang khas. Umumnya bisnis di Jepang dimulai dari bisnis keluarga. Tak heran kalau nama perusahaan serta brand produknya memakai nama keluarga pendiri perusahaan itu. Kita tahu bahwa Honda, Suzuki, Mazda (Matsuda), itu adalah nama orang. Ada juga yang menggunakan namanya secara nyentrik. Bridgestone itu didirikan oleh seseorang bernama Ishibashi yang artinya jembatan batu.

Di Jepang hingga saat ini kita bisa menemukan perusahaan kecil-menengah yang dikelola dengan basis bisnis keluarga. Produknya variatif, mulai dari produk tradisional (yang sejak dulu memang dikerjakan secara turun temurun) seperti kecap (shoyu), miso, hingga produk manufaktur. Demikian pula di sektor jasa. Bisnis dikepalai oleh bapak (oyaji) sebagai shacho (direktur utama), kalau nanti dia pensiun biasanya akan diteruskan oleh anaknya.

 Beberapa bagian dari konsep kekeluargaan itu bertahan meski perusahaan membesar, mendunia, dan mengadopsi konsep manajemen modern.

 Konsep ini kerap memunculkan masalah ketika perusahaan Jepang berbisnis di luar Jepang. Konsep kekeluargaan menjadi kabur maknanya. Mereka sendiri saya duga tak siap untuk memasukkan orang-orang lokal ke dalam lingkaran kekeluargaan mereka. Orang lokal sulit dianggap sebagai bagian dari uchi. Tak sedikit yang merasakan adanya diskriminasi. Ada orang yang bercerita bahwa di perusahaannya toilet saja dipisahkan, untuk staf Jepang dibuatkan toilet khusus, yang tidak boleh dipakai oleh orang lokal (kebenaran dan situasi kontekstualnya tidak saya konfirmasi).

 Tapi pada saat yang sama dalam banyak kasus mereka tidak menyadari hal itu. Sering mereka heran melihat rendahnya rasa memiliki pada karyawan mereka. Mereka heran ketika serikat pekerja, misalnya, tak jarang memperlakukan perusahaan sebagai musuh, bukan sebagai rumah tempat para pekerja itu bernaung. Padahal, menurut hemat saya, itu sebuah konsekwensi logis. Anak yang tak jelas diterima atau tidak di suatu rumah, tak akan merasa nyaman di rumah itu.