Archive for March, 2010

Fajar di Dermaga

31 March 2010

Ketika memilih untuk menerima lamaran Karim empat tahun yang lalu Limah tidak berfikir untuk jadi ibu rumah tangga. Hanya ibu rumah tangga, yang sehari-harinya hanya perlu mengurus rumah, masak, serta merawat anak. Limah sudah biasa bekerja mencari nafkah. Waktu keluarga Karim melamar pada neneknya di kampung, Limah berusia 15 tahun, sedang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota. Ia memutuskan untuk kembali ke kampung dan menikah karena ia tahu, jadi pembantu tak akan pernah mengubah nasibnya. Ia ingin punya suami, dan bersamanya ia berjuang mengubah nasib.

Limah tak pernah menyangka Karim akan melamarnya. Orang tua Karim cukup berada dan terpandang. Ayahnya seorang tengkulak kopra. Ia membeli kopra dari petani di kampung, lalu mengangkutnya dengan kapal motor miliknya untuk dijual ke kota. Kini kabarnya ia tak cuma berbisnis kopra. Ia mulai mengembangkan usahanya dengan membuka usaha penggergajian kayu yang cukup besar di kampung lain.

Di samping itu Ayah Karim juga pengurus mesjid kampung yang sering memberi khutbah Jumat maupun hari raya. Karim sejak kecil sering dilibatkan ayahnya pada urusan mesjid. Sejak berumur sepuluh tahun ia sudah jadi muazin. Karim juga cukup tampan. Dengan semua itu tak sulit bagi Karim untuk mendapatkan istri dari keluarga lain yang berada dan terpandang.

Entah mengapa pilihan Karim jatuh pada Limah. Mungkin Karim jatuh cinta pada Limah sejak kecil. Rumah mereka memang berdekatan. Karim hanya setahun lebih tua dari Limah. Sejak kecil mereka sering main bersama.

Limah memutuskan untuk menikah bukan karena lamaran itu datang dari keluarga Karim yang berada dan terpandang. Ia hanya menginginkan seorang suami, seorang lelaki. Seorang pemimpin. Limah tumbuh tanpa lindungan seorang lelaki. Ayah dan emaknya mati oleh wabah kolera saat ia berumur dua tahun. Sejak itu Limah dibesarkan oleh neneknya dalam kemiskinan. Saat Limah berumur dua belas tahun, neneknya meninggal. Hidup Limah tertolong karena ada yang kebetulan membutuhkan pembantu rumah tangga di kota. Di usia itu ia mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Di hari-hari pertama sebagai istri Karim dilalui Limah dengan suka cita. Meski sesungguhnya Limah merasakan banyak kecanggungan. Ia canggung dengan makanan lezat yang sehari-hari dapat ia makan. Ia bahkan canggung duduk semeja dengan keluarga Karim. Biasanya ia makan di sudut dapur di rumah majikannya. Itupun setelah semua orang di rumah itu makan. Bukan makan bersama. Limah juga canggung dengan pakaian bagus yang ia kenakan.

Hari-hari di rumah Karim tak begitu melelahkan. Ia hanya membantu pekerjaan rumah Emak Karim. Itupun bersama saudara jauh Karim yang ikut tinggal di rumah itu. Boleh dikata tak banyak pekerjaan yang mesti dilakukan oleh Limah. Mungkin begitulah seharusnya seorang menantu di keluarga berada.

Tapi tak lama Limah bisa menikmati semua itu. Ia merasa ada yang salah dengan pernikahan ini. Ia tak menemukan seorang lelaki pemimpin pada sosok Karim. Karim bukan pemimpin, bukan pekerja keras. Ia memang bangun sangat pagi. Sebelum subuh Karim sudah bangun, mandi, lalu pergi ke mesjid. Di situ ia salat malam dan mengaji hingga subuh tiba, saat dia kemudian mengumandangkan azan. Pulang dari mesjid Karim makan pagi, lalu pergi tidur lagi. Karim tak bekerja. Jarang sekali dia membantu ayahnya.

Ayah Karim juga jarang bekerja. Ia lebih banyak di rumah atau di mesjid untuk beribadah. Ayah Karim memang sudah cukup uzur. Di samping itu dia punya karyawan yang mengurus usahanya. Tapi Karim tidak uzur. Dalam fikiran Limah, dia harus bekerja.

Beberapa bulan di rumah keluarga Karim barulah Limah paham. Karim memang merasa tak perlu bekerja. Untuk apa bekerja? Karim anak tunggal. Semua milik ayahnya akan diwarisinya kelak. Karim merasa nyaman dengan itu semua. “Kita harus mensyukuri semua ini, Limah. Karena itulah aku banyak-banyak beribadah.”begitu penjelasan Karim suatu ketika. Karim memang tekun beribadah. Lebih tekun dari ayahnya.

Limah tak bisa membantah Karim. Kadang ia merasa keterlaluan. Ia hidup berkecukupan. Suaminya bukan lelaki jahat. Karim seorang ahli ibadah. Mengapa Limah masih merasa tak puas? Limah kadang merasa ketidakpuasannya itu tak patut. Tapi ia juga risau.

Limah ingin seorang suami yang pemimpin, yang membangun hidupnya dengan tangannya sendiri. Bukan benalu yang seumur hidup menumpang makan dari orang lain. Karim harus dipisahkan dari induknya, ia harus berhenti menyusu. Limah mengajak Karim pindah, punya rumah sendiri. Karim sontak menolak.

“Apa perlakuan ayah dan emakku padamu tak patut?” tanya Karim tak paham.

“Bukan itu.” jawab Limah. “Aku ingin rumah tangga kita mandiri.”

Emak Karim lebih keberatan lagi. Ia merasa Limah terlalu banyak menuntut pada anak kesayangannya. “Rupanya kebaikan kami selama ini tak membuatmu senang, Limah. Hidup macam apa lagi yang kau inginkan?” katanya pedas.

Ayah Karim sepertinya lebih paham. Ia memerintahkan Karim mengelola salah satu kebunnya yang belum jadi benar. Di atas tanah kebun itu sudah berdiri rumah sederhana, yang sudah ada saat kebun ini dibeli oleh ayah Karim. Dengan perbaikan di sana sini rumah itu jadi layak dihuni sebuah keluarga baru.

Berumah sendiri ternyata tak membuat Karim berubah. Ia tetap Karim yang lama, yang enggan bekerja. Ia lebih suka berlama-lama di mesjid untuk beribadah. “Harta tak akan kita bawa mati, berapapun banyaknya kita punya.” kata Karim. “Hanya pahala amal ibadah yang membawa kita ke akhirat.”

Limah tak membantah Karim. Percuma. Karim benar dalam setiap kata yang dia ucapkan. Itulah yang diajarkan agama, Limah tahu itu. Tapi dia juga tahu bahwa sikap Karim tak betul. Hanya saja dia tak tahu cara membantah atau membetulkan sikap itu. Sesekali mereka kehabisan belanja karena kebun yang belum jadi ini tak banyak benar hasilnya. Limah berharap kekurangan itu menyadarkan Karim. Sayangnya Karim kembali berdalil. “Barang siapa yang bertakwa pada Allah, Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan rezekinya datang dari sumber yang tak ia duga.” Jalan keluar itu memang ada, lagi-lagi dari ayah Karim. Lebih tepat lagi dari emaknya. Karim merasa itulah ganjaran atas ibadahnya.

Limah mencoba cara lain. Ia bekerja sendiri. Ia bekerja di kebun, menebas rumput, menggali selokan. Bahkan ia menebang pohon. Berharap Karim malu. Tapi itupun tak mengubah Karim.

Karim bahkan bergeming saat ayahnya jatuh miskin. Usaha penggergajian kayu ternyata gagal. Ayah Karim ditipu orang. Hartanya habis untuk membayar hutang yang dibuat oleh penipu itu. Yang tersisa hanya sebidang kebun tempat di mana rumahnya berdiri. Ayah Karim sudah merasa uzur untuk membangun kembali usahanya. Ia hanya ingin hidup seadanya dari hasil kebun, yang tak cukup banyak untuk dibagi pada keluarga Karim. “Semua ini ujian dari Allah. Setelah kesulitan akan datang kemudahan.” Karim berdalil lagi.

Kesulitan mulai terasa saat bantuan dari emak Karim tak lagi mengalir lancar. Tapi Karim tetap Karim yang berdalil, bukan Karim yang bekerja. “Ada sahabat Rasul ahli ibadah. Ia tak bekerja, hanya beribadah. Saat ia pulang ke rumah, penggiling gandumnya bergerak sendiri, mengeluarkan gandum. Tiada henti, sampai sahabat tadi menyentuh penggiling itu.” katanya mengutip sebuah riwayat.

Limah mulai tak peduli pada dalil-dalil Karim. Ia bekerja keras. Ia bekerja lebih keras saat dia sadar bahwa dia sedang hamil. Dia berharap dia celaka karena terlalu keras bekerja, agar Karim sadar. Tapi Karim tetap berdalil. Limah kembali bekerja tak lama setelah ia melewatkan empat puluh hari seusai melahirkan. Bayi merahnya ia letakkan di atas daun kelapa, bernaung pohon saat ia bekerja. Sementara Karim tekun di mesjid.

Kesabaran Limah akhirnya sampai pada batasnya. “Ceraikan aku, Bang.” pintanya saat bayinya berumur lima bulan. Karim menolak. Tapi Limah tak peduli. Ia memilih untuk pergi meninggalkan Karim. Akhirnya Karim pun tak kuasa menahan. Ia menjatuhkan talak.

Hari masih gelap saat Limah turun dari rumah. Di punggungnya tergantung bungkusan kain batik berisi beberapa helai bajunya dan baju anaknya. Dalam gelap ia berjalan menuju dermaga di muara kampung, tempat ia akan naik kapal menuju ke kota. Limah tak ingin banyak orang kampung tahu soal perceraian dan kepergiannya. Matahari baru menyembul di ufuk timur saat kapal dari kecamatan datang, menjemput penumpang yang hendak ke kota.

Sepanjang perjalanan kapal menuju kota Limah seperti memutar kembali cerita hidupnya. Masih terbayang saat-saat bahagia saat dia naik pelaminan bersama Karim. Ia bukan tak sayang pada Karim. Karim yang selalu lembut pada Limah dan anaknya. Beberapa kali ia menyesal telah membuat keputusan untuk meninggalkan Karim. Tapi bayangan Karim yang selalu berdalil membuat Limah kembali tegar.

Limah yakin pada tujuannya. Ia tak ke kota untuk jadi pembantu. Ia akan berdagang sayur. Selama bekerja sebagai pembantu dulu ia sering disuruh belanja ke pasar. Di situ dia kenal dengan beberapa pedagang sayur, dan sedikit banyak dia belajar dari mereka. “Menjual sayur tak sulit, aku pasti bisa.” Limah meyakinkan dirinya.

Dirabanya stagen yang melilit pingangnya. Di situ tersimpan harta berharga satu-satunya milik Limah. Sebuah gelang peninggalan emaknya. Gelang itu hendak dia jual untuk modal berdagang sayur. Limah tak tahu berapa hasil yang akan dia dapat penjualan gelang itu. Yang ia tahu hasilnya tak akan cukup untuk menyewa rumah tempat tinggal. Tapi Limah tak peduli. “Aku akan tidur di pasar seperti pedagang lain.” tekadnya. Sejenak ia merasakan kegetiran saat teringat bahwa anaknya masih bayi dalam gendongannya. Anak itu berhak tidur di tempat yang lebih layak, bukan di tengah gunungan sayur di pasar. “Maafkan Emak ya nak.”

Genap sehari semalam sudah sejak Limah meninggalkan rumahnya, meninggalkan Karim. Kapal yang ia tumpangi sudah merapat di dermaga. Limah teringat saat ia naik ke dermaga ini lima tahun yang lalu. Saat itu dia masih seorang gadis kecil. Kini ia menggendong bayi di pelukannya. Mesin kapal sudah dimatikan, tapi telinga Limah masih berdengung akibat mendengar raung mesin kapal sehari semalam.

Perlahan Limah naik ke dermaga, menuju mesjid terdekat untuk salat subuh. Di situ Limah hendak menunggu sampai hari terang, saat toko-toko sudah buka. Ia akan mencari toko emas untuk menjual gelangnya.

Limah membasuh mukanya di tempat wudu. Sejuk menyapu wajahnya. Ia sedikit menggigil saat mencuci kaki. Ia menoleh ke dermaga tempat ia naik tadi, berlatar fajar yang mulai menyingsing. Limah menatap dermaga berselimut fajar itu. Ada sedikit rasa khawatir dalam hatinya. Hanya sedikit. Selebihnya adalah keyakinan. Keyakinan bahwa hari-hari esok akan cerah, secerah harapan yang dijanjikan fajar
itu.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Hadrah

26 March 2010

Sahat berbaring di atas sampan kecilnya. Matahari sudah tegak di atas kepala. Sejak fajar menyingsing ia sudah menebar pancing-pancing kepitingnya di sepanjang sungai berhutan bakau. Sampannya kini ia tambatkan pada akar bakau, bayangan dedaunan melindunginya dari sengatan matahari. Ia sudah makan siang. Masih banyak waktu menuju petang, saat ia harus memeriksa pancing-pancingnya, untuk mengambil kepiting yang terpancing.

Sahat memejamkan matanya, mencoba tidur. Perutnya kenyang. Semilir angin laut yang sejuk, alunan ombak kecil membuat sampannya berayun lembut, memperkuat hasratnya untuk larut dalam mimpi. Tapi telinganya membisikkan hal lain. Di telinganya terngiang suara tarbang yang ia dengar semalam.

Tengah malam tadi Sahat terbangun dari tidurnya oleh dengungan suara nyamuk. Obat nyamuk yang dia bakar di sampingnya seperti tak berdaya menghalau serbuan nyamuk-nyamuk hutan bakau yang selalu kekurangan mangsa. Sahat sudah terbiasa terbangun tengah malam oleh gangguan nyamuk. Tapi malam tadi berbeda. Saat ia mencoba tidur kembali telinganya menangkap suara lain di tengah dengungan kepak sayap nyamuk. Suara tabuhan tarbang!

Sahat memang sangat menyukai hadrah. Syair puja-puji untuk Nabi yang ditulis oleh al-Barazanji, dinyanyikan dengan iringan tarbang, diikuti dengan liukan penari rodat. Sahat adalah penabuh tarbang. Ia bisa betah berjam-jam menabuh tarbang pada pagelaran hadrah semalam suntuk. Ia piawai sebagai penabuh utama, diapit dua penabuh pendamping, penentu jenis tabuhan yang dibawakan. Bila giliran sebagai penabuh utama usai, ia beralih menjadi penabuh pendamping, atau penari rodat. Suaranya merdu saat melantunkan puja-puji.

Pekerjaannya sebagai pemancing kepiting membuat Sahat jarang tinggal di kampungnya untuk waktu yang lama. Ia lebih sering berada di laut, di atas sampannya. Berkeliling menjelajahi laut berhutan bakau bersama empat lima orang lain. Kepiting hasil tangkapannya diambil oleh kapal motor pengumpul, lalu dikirim ke kota dengan kapal yang lebih besar. Ia kembali ke kampung dua-tiga minggu sekali untuk mengantarkan uang pada keluarganya, lalu melaut lagi. Meski jauh di tengah laut, ia selalu minta kabar soal pagelaran hadrah di kampung melalui awak kapal motor. Bila ada hadrah, diusahakannya untuk pulang. Tak jarang pula Sahat menghadiri hadrah di kampung di dekat tempat ia memancing, bila kebetulan ada yang berhajat menyelenggarakan hadrah. Untuk itu Sahat selalu membawa baju teluk belanga dan sarung terbaik yang ia miliki di dalam sampannya.

Suara tarbang yang didengar Sahat semalam cukup mengganggunya sepanjang hari ini. Ia memang sudah hampir dua bulan tak main. Tapi bukan itu sebabnya. Arah sumber suara itu tidak wajar. Dari balik tanjung, kira-kira dua jam perjalanan dengan sampan dari tempat itu berlabuh sekarang. Dia mengenal daerah ini dengan baik, karena sudah bertahun-tahun dia mancing di situ. Dia tahu persis tak ada kampung di situ. Tapi kenapa ada suara tabuhan tarbang?

Jemu memejamkan mata tanpa bisa tertidur, ia bangun dan menyalakan rokok. Di tiga sampan lain teman-temannya sedang lelap tertidur. Tapi di satu sampan dia lihat Hamdan juga sedang duduk merokok. Dilepasnya tambatan sampannya dari pohon bakau, perlahan ia mengayuh menuju sampan Hamdan.

“Ndan, malam tadi aku dengar tabuhan tarbang dari balik tanjung itu.“ bisiknya pada Hamdan. Ia tak ingin yang lain tahu dan menganggapnya kerasukan jin hadrah. Hamdan tak bermuka heran, tapi langsung tertawa keras-keras. Sahat panik. Reaksi Hamdan tepat seperti perkiraannya.

“Kau ini lapar hadrah. Mana ada kampung di balik tanjung itu. Kalaupun kau dengar bunyi tarbang dari situ, itu pastilah kerja jin yang sedang mengawinkan anaknya.“ kata Hamdan sambil terus tertawa. Suara keras Hamdan membuat yang lain terbangun, lalu ikut memperolok Sahat. Merasa malu Sahat mencoba menganggap suara yang ia dengar tadi malam adalah mimpi.

Malam hari selepas magrib, saat bersiap memeriksa pancing-pancingnya Sahat kembali mendengar suara itu. Sayup-sayup. Ia coba mengabaikannya. Tapi suara itu makin jelas terdengar. Ia tetap mengabaikannya. Takut ditertawakan lagi. Tapi suara itu sudah semakin jelas, tak mungkin ia abaikan. Lalu ia datangi lagi sampan Hamdan.

“Kau dengar itu?”

„Apa? Suara tarbang jin?“ Hamdan balik bertanya dan siap hendak tertawa lagi.

„Coba kau diam dan dengar baik-baik!“ sergah Sahat.

Hamdan menurut. Sejenak kemudian raut wajahnya berubah. Mimiknya serius sekarang.

„Iya, aku dengar.“ katanya dengan wajah tak percaya.

Berdua mereka mengayuh sampan, mendekati tiga sampan lain. Semua bersikap sama. Mula-mula tak percaya. Tapi lama-lama mereka semua mendengar apa yang malam tadi didengar Sahat.

“Ah, mungkin itu hanya suara dari kampung lain yang terbawa angin.“ kata Samad mencoba menjelaskan. Tapi tak ada yang yakin betul dengan penjelasan itu. Tak menemukan penjelasan, mereka mengabaikannya, lalu mulai larut dengan pekerjaan masing-masing.

Tapi Sahat tak bisa begitu. Tabuhan tarbang itu begitu mengganggunya. Ia tak dapat bekerja dengan baik malam ini. Beberapa kepiting tangkapannya lolos. Bahkan jari telunjuknya bengkak terjepit capit kepiting yang memberontak. Setelah itu semalaman ia tak tidur. Risau dengan suara tarbang yang tak ia pahami dari mana asalnya.

Petang hari berikutnya suara itu terdengar lagi. Sahat tak tahan lagi. Dikeluarkannya baju teluk belanga dan sarung miliknya. Ia akan pergi ke balik tanjung itu.

„Nah, pergilah, daripada kau jadi gila di sini.“ kata Hamdan.

„Bawakan aku kue kalau kau pulang nanti.“ kata Nasir mengolok.

„Kalau ada anak jin yang belum kawin, tangkapkan untuk aku.“ Samad menambahi.

Sahat tak peduli. Ia mulai mengayuh sampan, menuju tanjung itu. Makin banyak kayuhan yang ia buat, makin jelas suara tarbang yang ia dengar. Ia yakin tak salah arah.

Hampir dua jam berkayuh, Sahat sampai di tanjung yang ia tuju. Suara tabuhan tarbang sudah semakin menjadi. Ia mempercepat kayuhannya, meski belum jelas benar ke mana ia hendak menuju. Ia hanya mengayuh dan mengayuh ke arah dari mana datangnya suara itu.

Tak lama berselang, ia melihat sebuah lampu di tepi hutan bakau di bibir pantai. Nalurinya mengatakan ia harus menuju ke arah lampu itu. Makin lama makin jelas terlihat. Ia terus mengayuh. Lalu semua jadi lebih jelas saat sampannya semakin dekat ke sumber cahaya itu. Lampu yang ia lihat tadi adalah lampu penerang sebuah dermaga. Sebuah dermaga kecil, lebarnya hanya kurang lebih sepuluh depa. Hanya ada sebuah lampu di situ. Bukan obor, bukan pula petromak. Juga bukan listrik, karena Sahat tak melihat adanya kabel. Hanya sebuah bola bercahaya terang yang digantung pada sebatang tiang. Tak ada sampan atau kapal yang berlabuh di dermaga itu.

Dengan dada bergemuruh Sahat merapatkan sampannya ke dermaga, lalu menambatkannya. Sejenak ia berhenti untuk berfikir. Sudah puluhan kali ia lewat tempat ini. Tak pernah sekalipun ia lihat ada dermaga. Sejak kapan ada dermaga di sini? Aneh. Tapi perasaan aneh itu segera sirna oleh suara tabuhan tarbang yang semakin bertalu. Ia merayap naik ke dermaga.

Dengan langkah pasti ia menyusuri jembatan penghubung dermaga dengan daratan. Di ujung sana ia mendapatkan jalan terbentang lurus ke depan. Permukaannya keras dan halus, tepi-tepinya dibatasi oleh tembok rendah, lebih rendah dari lutut Sahat. Belum pernah Sahat melihat jalan seperti ini. Di kampungnya jalan dibuat dari tanah liat yang ditumpuk seadanya. Permukaannya tak rata dan tak keras. Saat hujan turun jalan itu licin dan becek. Jalan yang membentang di depannya membuat Sahat terkesima.

Sahat mulai menyusuri jalan itu. Sepi dan hening. Tak ada sosok manusia yang ia temukan. Pun tak ada suara lain selain tabuhan tarbang. Di kiri kanan jalan terpancang tiang-tiang berlampu seperti yang ia lihat di dermaga. Setiap belasan depa ada satu tiang berlampu. Cahayanya lembut menyinari permukaan jalan.

Tak jauh berjalan Sahat menemukan rumah-rumah berjejer di sepanjang sisi jalan. Rumah-rumah yang tak besar, hampir sama besar dengan rumah-rumah di kampung Sahat. Tapi rumah-rumah ini tak seperti rumah kampung yang berdinding papan dan beratap daun nipah. Rumah-rumah ini bertembok rapi, beratap sirap. Setiap rumah dihiasi dengan taman cantik di depannya. Pun semua meriah bermandi cahaya. Hanya saja Sahat tak menemukan sosok manusia maupun bayangannya di rumah-rumah itu.

Sahat terus berjalan, menuju ke arah sumber suara. Dan tak lama kemudian ia tiba ke sebuah rumah besar. Lebih besar dari rumah-rumah lain di sekitarnya. Halamannya pun lebih luas. Juga lebih terang bermandi cahaya. Di rumah itu ia melihat banyak orang. Sahat melangkah mantap, masuk ke halaman, lalu ke pintu depan. Di situ ia disambut beberapa orang berbaju teluk belanga putih bersih. Para penyambutnya tampak berkilau ditimpa cahaya lampu. Para penyambut itu menyilakannya dan mengantarnya masuk ke ruang utama.

Di ruang itu Sahat menemukan kemeriahan hadrah yang tak pernah ia saksikan. Bukan tiga, ia menyaksikan sembilan tarbang sedang ditabuh. Suara tabuhannya merdu belaka. Demikian pula dengan suara puja puji yang dilantunkan. Penabuhnya berbaju seragam, teluk belanga merah menyala. Di hadapan mereka berjajar belasan orang penari rodat berbaju kuning gading.. Dua baris penabuh dan penari itu dikelilingi oleh berpuluh hadirin yang duduk hidmat, sambil menyanyikan puja puji.

Sahat duduk, tepat saat satu babak pujian usai. Dari barisan terdepan para hadirin bangkit berdiri seorang pemuda tampan. Ia langsung berjalan menuju tempat Sahat duduk, lalu duduk bersila di depan Sahat. Ia mengulurkan salam yang disambut hangat oleh Sahat.

„Selamat datang di kampung kami. Terima kasih Tuan sudi singgah di kampung ini. Tuan tentu datang dari jauh.“

„Iya, saya datang dari kampung yang agak jauh dari sini.“

„Silakan Tuan duduk di barisan penabuh. Kehormatan bagi kami kalau Tuan mau mempimpin puja puji barang satu dua pasal.“

Tanpa ragu Sahat bangkit lalu mengambil posisi duduk di tengah barisan penabuh tarbang, diapit oleh empat penabuh lain di kanan kirinya. Lalu ia mulai melantunkan puja puji.

„Shalla rabbunaa alaa muhammad, syafiil anaam, ya rasulullah………“

Lalu tabuhan bertalu, diiringi derai puja puji dari penabuh lain, juga para hadirin. Para penari rodat meliuk-liuk seirama tabuhan dan puja puji.

Selesai satu pasal, Sahat pindah agak ke samping, menjadi penabuh pengiring. Lalu ia ikut pula menari rodat. Sesekali dia duduk di antara para hadirin, berehat sambil menikmati hidangan. Kue-kue yang terhidang serba lezat belaka. Teringat pada olokan Nasir tadi, ia masukkan dua potong kue ke dalam saku bajunya.

Berkali-kali memimpin tabuhan, akhirnya tiba saatnya untuk tahtim, pujian penutup. Selesai tahtim makanan utama dihidangkan. Nasi kebuli dengan gulai kambing serta acar. Luar biasa lezat. Usai makan Sahat pun beranjak berdiri. Badannya terasa penat. Sudah waktunya ia kembali ke tempat semua. Tak sabar rasanya untuk berbagi cerita.

Seluruh hadirin bangkit mengantarkan Sahat hingga ke pintu masuk rumah. Semua memandang saat Sahat menapaki jalan menuju dermaga. Langit malam masih gelap. Ini mengherankan Sahat lagi. Seharusnya sudah fajar sekarang. Biasanya tahtim dilantunkan saat fajar mulai menyingsing.

Mendekati jembatan menuju ke dermaga tiba-tiba semua berubah. Lampu-lampu tiba-tiba padam serentak. Gelap gulita menyelimuti Sahat. Ia baru sadar bahwa lampu senternya ia tinggalkan di sampan. Langkahnya terantuk pada batang kayu. Sahat mencoba meraba sekitarnya. Matanya kini mulai terbiasa dengan kegelapan. Ia sedang berada di tengah hutan bakau. Tak ada lagi jalan keras dan mulus. Yang ada hanyalah lumpur berair di tengah akar-akar bakau yang bersilangan. Susah payah Sahat maju menuju bibir laut sambil meraba. Terengah, takut bercampur panik ia berjalan terseok menuju sampan. Bulu tengkuknya merinding. Peluh membasahi tubuhnya. Sebagian karena letih berjalan, sebagian lagi adalah peluh dingin karena takut.

Napas Sahat tersengal saat ia tiba di sampan. Bergegas ia naik, dan membuka tambatan sampannya. Tiang dermaga tempat ia menambatkan sampannya kini adalah sebuah batang bakau besar. Panik ia mengayuh sampannya menjauhi bibir pantai bakau, menuju tempat ia datang.

Setelah cukup jauh berkayuh ia mulai sedikit tenang. Lalu ia teringat pada dua potong kue yang ia masukkan ke kantong bajunya. Dengan berdebar dirogohnya kantong itu. Tangannya menyentuh dua potong benda keras dan dingin. Dikeluarkannya kedua benda itu. Yang ia lihat adalah dua potong buah nipah.

(Mengenang Ayah, pecinta hadrah)

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Menulis itu sedekah

24 March 2010

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan
hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk
keabadian” – Pramoedya Ananta Toer–

Kouichi Tanaka dan Eiji Osawa adalah dua orang ilmuwan kimia Jepang. Ada perbedaan mendasar antara keduanya. Tanaka adalah penerima Hadiah Nobel (Kimia, 2002), sedangkan Osawa tidak. Yang membedakan keduanya adalah Tanaka menulis, sedangkan Osawa tidak.

Tahun 1970 Osawa meramalkan adanya struktur bahan karbon yang membentuk bola melalui sebuah tulisan ilmiah. Sayangnya gagasan tersebut ditulis di sebuah jurnal berbahasa Jepang, sehingga tidak pernah sampai ke Eropa maupun Amerika. Pada saat yang sama seorang ilmuwan Amerika RW Hanson juga meramalkan hal yang serupa. Tapi dia malah sama sekali tidak menuliskan gagasan tersebut.

Lima belas tahun kemudian struktur karbon yang diramalkan Osawa itu terwujud secara ekperimental, dan kemudian disebut C60 oleh Harold Kroto , James R. Heath, Sean O’Brien, Robert Curl, dan Richard Smalley. Penemuan ini berlanjut dengan penemuan fullerene, yaitu bahan karbon berstruktur tabung dalam skala nanometer, yang dalam dunia ilmiah dikenal dengan carbon nanotube. Carbon nanotube adalah salah satu bahan yang sangat penting dalam pengembangan nanoteknologi saat ini. Atas penemuan ini keempat ilmuwan tadi dianugerahi Hadiah Nobel pada tahun 1996.

Tanaka adalah peneliti di Shimazu corporation, sebuah perusahaan Jepang produsen alat ukur. Ia mengembangkan spektrometer massa, sebuah alat yang mampu mengurai komponen penyusun suatu bahan berdasarkan massa molekul penyusunnya. Tanaka menulis hasil risetnya dalam bahasa Inggris. Satu di sebuah konferensi internasional, dan satu lagi di sebuah jurnal internasional tentang spektroskopi massa. Tadinya Hadiah Nobel atas penemuan/pengembangan spektrometer massa hendak diberikan kepada ilmuwan Inggris yang lebih banyak menghasilkan makalah sehingga lebih dikenal. Tapi belakangan panitia menemukan makalah Tanaka yang dipublikasi lebih dahulu dan menjadi bahan rujukan, sehingga diputuskan untuk menganugerahkan penghargaan itu kepadanya.

Tanaka sebenarnya tidak mahir berbahasa Inggris. Berbeda dengan kebanyakan penerima Hadiah Nobel sains yang kebanyakan adalah profesor yang biasa bergaul secara internasional, Tanaka „hanyalah“ seorang sarjana S1. Ia adalah satu-satunya penerima Hadiah Nobel di bidang sains yang bukan doktor. Saat menyampaikan kuliah pada seremoni Nobel, dia harus menyampaikannya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata. Saat ditanya wartawan tentang kesannya setelah kuliah tersebut, ia berujar pendek, „I hate English!“

Menulis adalah berbagi. Gagasan yang kita tulis dan dibaca orang lain boleh jadi akan menginspirasi orang untuk berbuat lebih lanjut atau lebih baik. Itulah hal yang paling mendasar pada publikasi di dunia sains. Dari suatu temuan seorang ilmuwan, ilmuwan lain akan melanjutkan dan mengembangkannya. Itu hanya bisa dicapai kalau mereka saling berbagi. Salah satu media untuk berbagi itu adalah tulisan.

Osawa memang telah menuliskan gagasannya tentang struktur karbon tadi. Sayangnya media yang dia pakai tidak memadai. Ia menulis dalam bahasa Jepang, yang tidak bisa menjangkau pusat sains dunia, yaitu Eropa dan Amerika. Artinya gagasannya tidak tersebar dengan baik. Sebaliknya, Hanson sebenarnya punya peluang lebih baik karena dia berbahasa Inggris. Tapi ia melalaikan satu hal penting, yaitu ia tidak menuliskan gagasannya.

Menulis adalah berbagi. Kita tidak menulis untuk menunjukkan bahwa kita pintar atau hebat. Kalau niatnya demikian, tulisan kita akan dipenuhi oleh hal-hal hebat yang mungkin sulit dipahami pembaca. Menulis dengan niat berbagi artinya kita akan berusaha sedemikian mungkin untuk membuat tulisan yang mudah dipahami oleh pembaca. Kalau Anda merasa bahwa menulis itu sulit, cobalah tulis gagasan Anda. Lalu baca sendiri tulisan itu, dengan membayangkan diri Anda sebagai orang yang sangat awam dalam hal yang Anda tulis. Dengan begitu Anda akan berempati pada pembaca, menemukan hal yang sulit dipahami pada tulisan Anda. Lalu ubahlah tulisan itu agar mudah dipahami.

Menulis itu sedekah. Bersedekah itu tidak sulit.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Pak Amien, sudahlah……………

10 March 2010

Saya pernah sangat dekat dengan Amien Rais. Entah dia masih ingat saya atau tidak sekarang. Lulus kuliah saya melamar jadi dosen di PTN di kota kelahiran saya. Setelah selesai proses seleksi saya mesti menunggu kurang lebih setahun sampai saya diangkat menjadi PNS. Masa setahun itu saya lewatkan dengan kembali ke Yogya tempat saya kuliah.

Saya berniat melanjutkan studi S2 di UGM. Harapannya saat pengangkatan saya sebagai PNS nanti saya sudah separo jalan dalam pendidikan S2, agar karir saya sebagai dosen lebih mulus jalannya. Sudah ada sponsor yang bersedia membiayai kuliah saya. Tapi hanya untuk biaya kuliah. Untuk biaya hidup saya harus cari sendiri.

Saya sudah kenal akrab dengan Amien Rais sejak saya kuliah. Dia pun mengenal saya. Karenanya saya tak ragu untuk datang minta bantuan. Saya berniat menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi milik Muhammadiyah di Yogya. Waktu itu Amien adalah ketua PP Mumahhadiyah. Dia menyatakan dengan senang hati bersedia membantu saya. Di atas kertas berkop PP Muhammadiyah dia menulis rekomendasi singkat bertulis tangan, dalam bahasa Jawa kepada rektor universitas yang hendak saya masuki. „Rebat cekap. Ini ada kader kita mohon dibantu agar bisa menjadi dosen di universitas kita.“

Di saat lain di masa itu Amien pernah menyalami saya dengan tempelan sebuah amplop berisi uang. „Mas Hasan ini ada titipan dari seseorang.“ kata dia sambil tersenyum. Saya tahu uang itu dari dia sendiri. Meski saya sebenarnya tidak sedang kesulitan keuangan karena masih ada tabungan dari sisa gaji saya waktu kerja di perusahaan minyak, saya terima uang itu. Ada rasa bangga mendapat perhatian dari tokoh penting seperti Amien Rais.

Begitulah Amien Rais. Sosok sederhana, cerdas, berani, dan begitu perhatian pada anak muda. Banyak orang yang besar di samping Amien. Dia memang memberi jalan bagi orang lain untuk maju. Suatu saat ada diskusi di PPSK, lembaga penelitian yang dipimpinnya. Waktu itu hari Jumat dan peserta diskusi lumayan banyak, sehingga diputuskan untuk menyelenggarakan shalat Jumat di situ. Amien menyuruh salah satu rekan saya menjadi khatib dan imam.

Saat Mukatamar Muhammadiyah di Yogya Amien terpilih sebagai wakil ketua PP Muhammadiyah, mendampingi KH Azhar Basyir. Dalam suasana muktamar itu Amien mendapat giliran khutbah Jumat di Gelanggang Mahasiswa UGM. Saya waktu itu adalah pengurus Jamaah Shalahuddin yang menyelenggarakan kegiatan itu di kampus. Selesai khutbah Amien meminta saya menjadi imam, di salat di belakang saya. Sebuah sikap yang lagi-lagi mengesankan saya.

Tapi Amien bukan tokoh tanpa cela. Kami yang melihat sosok Amien dari dekat tahu betul soal itu. Banyak sikap dan kata-kata Amien yang menurut kami tak pantas. Tapi justru itu kami mengagumi Amien. Kami belajar darinya. Seorang teman berkomentar, „Semakin dekat kita dengan tokoh, semakin tahu kita bahwa tokohpun hanyalah manusia. Dari kemanusiaannya yang tak sempurna itulah kita bisa belajar.“ Sikap itulah yang saya pegang dalam berinteraksi dengan tokoh. Saya terbiasa melihat dan mendukung seseorang saat dia benar, dan mengoreksinya bila salah.

Setelah era Soeharto berakhir, Amien resmi memasuki dunia politik praktis, menjadi Ketua Umum PAN, meninggalkan jabatannya sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Kita semua masih ingat manuver Amien melalui Poros Tengah yang oleh banyak orang dianggap melanggar etika politik. Karena itu banyak tokoh penting seperti Faisal Basri hengkang dari PAN. Saya termasuk yang tak suka dengan manuver Amien itu.

Sungguhpun begitu saya tetap pendukung Amien. Saat dia maju sebagai calon presiden tahun 2004 berbagai cara saya lakukan untuk mendukungnya. Masih ada harapan melalui tangan Amien reformasi yang mandek bisa digelindingkan kembali. Sayang, Amien kalah.

Turun jabatan sebagai Ketua MPR Amien kembali menunjukkan contoh yang baik dengan tidak lagi bersedia menjadi Ketua Umum PAN. Sebuah sikap yang bagus untuk regenerasi. Amien berjanji untuk kembali ke kampus, menjadi akademisi. Sayang, dunia politik praktis sepertinya masih sangat menarik buat Amien. Dia masih jadi penentu dalam banyak hal di PAN. Termasuk soal dengan partai mana PAN harus berkoalisi pasca pemilu 2009.

Berada di luar kekuasaan Amien masih menjadi bintang walau tak cemerlang benar sinarnya. Sesekali suaranya masih terdengar keras, meski banyak suara keras yang sudah tak lagi patut. Amien tampak seperti kehilangan sesuatu, dan berusaha mengambilnya kembali, tanpa menyadari bahwa zamannya sudah berlalu.

Kini Amien dikabarkan hendak mundur dari PAN kembali ke Muhammadiyah. Bukan sebagai sesepuh, tapi sebagai calon Ketua Umum. Untuk apa? Niat Amien untuk mundur dari PAN menurut saya bagus. Tapi bukan untuk kembali ke Muhammadiyah. Tapi untuk menjadi orang tua.

Amien sudah masuk pada usia „tasyahud akhir” dalam karirnya sebagai manusia. Sudah saatnya dia melakukan kontemplasi dan evaluasi. Amien sudah tidak lagi pada fase berteriak lantang, pun tidak lagi bugar untuk memimpin organisasi besar seperti Muhammadiyah. Itu urusan orang yang lebih muda.

Lebih baik Amien menyepi dari hiruk pikuk dunia politik. Tanpa memimpin Muhammadiyah atau PAN Amien tetap seorang tokoh besar. Sudah saatnya tokoh besar ini menulis ulang strategi yang pernah dia gagas dan jalankan, menjelaskan kekurangannya. Agar kita bisa belajar dari situ. Tapi untuk itu memang diperlukan keberanian yang luar biasa besar. Yaitu keberanian untuk menyepi, dan keberanian untuk mengakui kesalahan sendiri.

Pak Amien yang saya hormati, sudahlah…………………..

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Buah Tangan dari Ayah

4 March 2010

Langkah kakiku aku percepat. Aku ingin segera tiba di rumah. Karena itu aku tolak ajakan kawan-kawan untuk main guli di halam sekolah usai jam pelajaran terakhir tadi. Tak kupedulikan ejekan Mansur saat aku menolak untuk main guli tadi.

“Takut kalah dia. Gulinya tinggal beberapa biji. Kalau kalah habislah semua.“ ejek Mansur. Sesungguhnya hatiku panas mendengarnya. Tapi tak kupedulikan.

Matahari sudah hampir tegak di atas kepala. Sebentar lagi lohor, dan perutku mulai terasa lapar. Tapi bukan karena itu aku buru-buru pulang. Aku berharap bisa segera bertemu Ayah. Atau kalaupun dia belum pulang, aku ingin berada di rumah saat dia pulang. Kata Emak, Ayah akan pulang hari ini.

Ayahku bekerja di Teluk Air. Pernahkah kau mendengar nama tempat itu? Guru di sekolahku sering mengajarkan bahwa Teluk Air adalah pelabuhan alam terbesar di Indonesia. Mungkin gurumu juga pernah mengatakan hal serupa. Aku bangga dengan ini, karena Teluk Air tak jauh benar dari kampungku. Bangga rasanya punya tempat terkenal di dekat kampung sendiri.

Teluk Air adalah pelabuhan untuk ekspor kayu. Kayu-kayu ditebang dari hutan-hutan di sekitarnya. Lalu dirakit dan dihanyutkan atau diangkut dengan tongkang besi. Sebagian digergaji di sawmil, sebagian langsung dimuat ke kapal untuk dijual ke luar negeri. Nah, Ayahku bekerja luding di situ. Ia membantu memuat kayu-kayu itu ke kapal.

Ayah pergi kerja beberapa hari. Kadang sampai seminggu. Ia pulang sehari dua, lalu pergi lagi. Aku suka kalau Ayah pulang. Ia selalu membawa buah tangan. Tak jarang ia membawakan buah tangan yang ia dapat dari kapal, yang tentu tak bisa didapat di kampung kami. Misalnya buah apel atau anggur. Juga biskuit yang bungkusnya bertuliskan bahasa yang tak kukenal. Kadang Ayah membawakan mainan. Pokoknya semua buah tangan dari Ayah menarik dan menyenangkan.

Ayah baru bekerja luding beberapa bulan ini. Sebelumnya Ayah bertani, merawat kebun kelapa miliknya. Tapi sejak dulu Ayah memang selalu membawakan buah tangan buatku. Dari kebun biasanya dia membawakan telur burung keruwak atau pipit. Sesekali dia membawa burung punai yang dia tangkap dari jerat yang dia pasang di pohon jambu di kebun. Burung punai ini oleh Emak dibuat gulai. Atau hanya sebatang tebu. Kalau Ayah menghadiri selamatan di rumah orang dia juga kadang membawakan buah tangan. Aku paling suka telur rebus yang kulitnya diberi warna dari pohon telur yang biasanya hadir pada acara gunting rambut bayi atau pernikahan. Pada telur itu ada daun yang dibuat dari uang kertas seratus rupiah.

Rumahku sudah tak jauh lagi. Langkahku makin kupercepat. Dadaku terasa berdebar membayangkan buah tangan apa yang akan dibawakan Ayah hari ini.

Sampai di rumah ternyata Ayah belum pulang.

“Basuhlah tangan kau, lalu makan.“ perintah Emak.

„Nanti ja, nunggu Ayah.“

„Ai, entah pukul berapa Ayah kau pulang. Makanlah kau dulu.“

„Tak apa. Aku tunggu Ayah ja.“

„Nanti kau sakit perut. Makan sana!“ kata Emak tegas.

Aku menurut. Percuma membantah Emak kalau sudah begini. Salah-salah nanti pahaku dicubitnya. Pelan-pelan aku menuju ke dapur, di situ terhampar tikar pandan dengan tudung saji tertungkup di tengahnya. Di bawah tudung itu ada makanan. Pelan-pelan pula aku ambil piring, ku isi nasi dan lauk. Lalu aku mulai makan pelan-pelan, berharap Ayah akan datang sebelum aku selesai.

+++
Tadinya Ayah tak berminat kerja luding. Ia bahkan tak berminat bekerja di Teluk Air. Banyak orang kampung kami yang bekerja di sana. Selain yang kerja luding ada yang juga bekerja di sawmil, tempat kayu digergaji jadi papan, atau bekerja menebang kayu di hutan. Orang-orang ini kelihatan lebih berada dari kebanyakan orang kampung kami yang bertani. Pak Ngah Matnur, sepupu Ayah bekerja luding sejak lama. Rumahnya berdinding semen, beratap sirap. Sudah lama pula dia mengajak Ayah. Tapi Ayah menolak.

“Senang juga kalau kita punya rumah semen.” kata Ayah pada Emak suatu ketika.

Emak Cuma tersenyum. Dia tahu Ayah sedang menguji minatnya.

„Aku senang kalau di rumah ini ada Abang. Tak peduli dindingnya semen atau papan, atapnya sirap atau daun nipah.” jawab Emak. Ayah tersenyum mendengarnya.

Ayah lebih suka berkebun meski hasilnya tak seberapa. „Kebun ini Ayah buka sendiri. Ayah yang merimba, menebang kayu-kayu waktu kebun ini masih hutan. Ayah juga yang menanam kelapa dan kopinya. Ayah tak akan meninggalkannya.“ begitu kata Ayah menjelaskan padaku suatu ketika. „Kalau Ayah bekerja kayu Ayah dapat duit. Tapi tak ada yang Ayah tinggalkan. Kebun ini adalah peninggalan Ayah kalau kelak Ayah mati.” itu alasan Ayah di lain waktu.

Hasil kebun Ayah sebenarnya tak seberapa. Tanah yang dirimba Ayah, kemudian diolah menjadi kebun ternyata tak subur. Tanah tempulur, terlalu asam. Itu yang aku dengar dari Ayah. Kelapa tumbuh tinggi tapi buahnya tak lebat. Demikian pula pohon kopi. Sejak dua tahun yang lalu Ayah mulai membuka lahan lain untuk kebun. Tapi pohon kelapa yang ditanam di situ baru mulai bertunas, masih 4-5 tahun lagi baru akan berbuah. „Mudah-mudahan kali ini tanahnya subur.“ doa Ayah.

Sikap Ayah berubah beberapa bulan yang lalu. Waktu itu aku baru saja naik ke kelas lima. Aku kembali juara satu di kelas, seperti tahun-tahun sebelumnya.

„Kau mau nyambung tak kalau tamat nanti?“ tanya Ayah waktu melihat raporku.

Aku terkejut dengan pertanyaan itu. Tak berani aku menjawabnya. Sebenarnya sudah lama aku memendam mimpi untuk menyambung sekolah ke kota. Aku ingin jadi guru seperti Pak Ibrahim, anak Nek Ngah yang sekarang mengajar di sekolahku. Dia dulu juga sekolah di sekolah itu. Tamat SD dia melanjutkan ke SMP di kota, lalu masuk SPG. Sudah hampir dua tahun dia pulang kampung dan jadi guru.
Tapi aku sadar, Ayah tak berada seperti Nek Ngah. Kebun kelapa Nek Ngah luas dan tak cuma sebidang. Hasil kelapa dan kopinya banyak. Tak sulit bagi dia untuk menyekolahkan anaknya. Tak cuma seorang. Adik Pak Ibrahim yang perempuan sekarang sedang sekolah perawat di kota.

Tapi Ayah tak mungkin membiayai sekolahku. Karenanya aku tak pernah mengungkapkan keinginanku itu pada Ayah. Kali inipun aku tak berani.

„Kau mau nyambung tak?“ ulang Ayah.

Aku mengangguk. Ragu sebenarnya anggukan itu.

„Ya sudah, kau belajar dengan baik. Tamat nanti kau nyambung ke kota.“

„Tapi yah……“ jawabku tertahan.

“Tak usah khawatir. Untuk kau, bergadai kulit kepala pun Ayah sanggup.“

Sejak itulah Ayah memutuskan untuk kerja luding. Ia rela meninggalkan kebunnya. Ia ingin dapat uang lebih banyak lagi untuk biaya sekolahku kelak. “Kalau kita ada uang lebih kita bisa mengupah orang untuk merawat kebun. Lagipula, kalau sedang tak kerja luding aku masih bisa merawatnya.” kilah Ayah kali ini. Emak pun setuju.

Ada yang berubah sejak Ayah kerja luding. Ayah tak lagi tiap hari ada di rumah. Sudah jarang dia mengajarku mengaji. Emak yang sekarang mengajar. Hanya sesekali Ayah sempat mendongeng menjelang aku tidur. Kalaupun dia ada di rumah, dia kelihatan sudah sangat letih. Dia segera tidur selesai salat isya.

Tak apa. Aku tahu Ayah letih. Dia letih bekerja untuk aku. Aku tak keberatan kehilangan banyak kesempatan bersama Ayah. Yang jelas ada satu yang tak berubah. Ayah selalu membawakan buah tangan untukku.

Baru separuh isi piringku aku makan. Di depan aku dengar suara yang agak gaduh, makin lama makin keras gaduhnya. Ayah sudah pulang? pikirku. Tanpa membasuh tangan aku berlari ke depan. Di halaman aku lihat banyak orang. Ada Pak Ngah Matnur di situ. Kulihat orang-orang itu menggotong sesuatu yang dibalut dengan tikar pandan. Ada darah menetes dari ujung tikar itu.

„Abaaaaaaaaaaaaang………..“ teriak Emak histeris, menghambur ke arah bungkusan tikar pandan itu.

Suasana tambah gaduh.

“Dia tertimpa balok kayu waktu kami sedang luding.“ Begitu penjelasan Pak Ngah kepada tetangga yang datang mendengar kegaduhan itu. Aku tak mendengar lagi lanjutan kata-kata Pak Ngah. Aku tak ingin mendengarnya. Ayah tak kan pernah lagi pulang membawa buah tangan.

Catatan:
Guli= gundu, kelereng
Luding= loading, memuat barang ke kapal
Sawmil= sawmill, pabrik penggergajian kayu

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Love what you do!

3 March 2010

Mengerjakan sesuatu yang kita sukai tentu menyenangkan. Karenanya dalam memilih pekerjaan umumnya orang akan mencari pekerjaan yang dia sukai. Tapi dalam kenyataan tak semua orang bisa menemukan pekerjaan yang dia sukai. Pada situasi itu hanya ada satu pilihan, yaitu (mencoba) menyukai apa yang kita kerjakan.

Sejak kecil saya suka pelajaran Matematika dan IPA. Nilai saya untuk mata pelajaran itu selalu bagus. Ketika SMA lebih khusus lagi saya menyukai pelajaran Fisika. Karena itulah saya memilih untuk melanjutkan kuliah ke jurusan Fisika.

Tapi Fisika yang saya hadapi saat SMA ternyata berbeda dengan yang saya hadapi saat kuliah. Mulai tahun kedua saya mulai mengalami kesulitan dalam pelajaran. Banyak topik yang gagal saya pahami. Aljabar vektor yang merupakan salah satu alat untuk memahami Mekanika Kuantum terlalu rumit buat saya. Otomatis saya juga keteteran saat mendalami Mekanika Kuantum. Padahal topic-topik Fisika tingkat lanjut semua berbasis pada Mekanika Kuantum.

Terus terang saya sempat frustrasi dengan dunia Fisika, lalu mencari „pelarian“ di dunia aktivitas ekstrakurikuler. Di sini suasananya lebih menarik. Dan yang penting, saya tidak harus berhadapan dengan dunia abstrak seperti ruang vektor atau ruang kuantum. Kala itu tak jarang orang mengira saya mahasiswa Fisipol.

Tapi ada saatnya saya harus berhenti dengan keasyikan itu. Memasuki tahun ke 6 kuliah saya sadar bahwa saya harus lulus. Kasihan orang tua yang sudah membiayai kuliah saya. Tak ada pilihan, saya harus kembali ke Fisika. Saya mulai mencari topik skripsi. Kebetulan ada dosen yang baru selesai S2 di UI, dan dia dibimbing oleh seorang profesor tamu dari Jepang. Saya memilih untuk mengerjakan topik yang sama dengan dosen tersebut, di bidang Fisika Zat Padat.

Waktu itu saya membutuhkan kristal untuk bahan eksperimen, dan kristal itu tidak tersedia di Indonesia. Saya beranikan diri menyurati profesor Jepang tadi untuk minta bantuan. Berhasil. Dia mengirimi saya 3 potong kristal. Lalu saya membuat alat untuk keperluan eksperimen, mencari sendiri alat ukur di berbagai laboratorium di UGM dan Batan. Dosen pembimbing saya nyaris tak melakukan apa-apa. Semua saya kerjakan atas inisiatif saya sendiri.

Dalam waktu enam bulan saya berhasil menyelesaikan skripsi. Banyak mahasiswa yang terhambat di situ hingga bertahun-tahun. Saya sadar bahwa saya bisa melakukan itu bukan karena saya pintar di bidang Fisika. Modal utamanya tidak di situ, tapi pada ketekunan saya. Itu ditambah dengan kemampuan saya menulis, yang memang cukup baik. Hasilnya, skripsi saya diterima nyaris tanpa koreksi dari pembimbing, dan saya lulus kuliah.

Lepas dari bangku kuliah saya mencoba berkarir sebagai logging engineer di lapangan minyak. Saya menyukai pekerjaan ini. Basisnya adalah ilmu Fisika, tapi bukan yang rumit dan abstrak seperti Mekanika Kuantum. Pekerjaannya sendiri menantang, di alam terbuka, dan penuh bahaya. Cocok untuk laki-laki yang punya jiwa petualang.

Tapi saya tak suka lingkungan kerjanya. Tak ada manusia di situ. Cuma segelintir. Saya adalah mantan aktivis yang punya kawan seantero Yogya. Waktu itu belum ada HP atau internet seperti sekarang. Terisolasi di pedalaman Sumatera Selatan sana adalah siksaan luar biasa. Akhirnya saya keluar dari pekerjaan ini. Saya kemudian menjadi dosen, pekerjaan yang sejak lama jadi cita-cita saya.

Bekerja sebagai dosen sungguh menyenangkan saya. Saya suka mengajar dengan berbagai aspeknya. Tapi menjadi dosen membuka „hubungan lama“ saya dengan Fisika yang memusingkan itu. Saya berusaha menghindar. Ketika mendapat kesempatan untuk kuliah S2 ke Jepang saya sengaja memilih Fisika Terapan dengan niat agar tak lagi berurusan dengan Mekanika Kuantum. Celakanya tanpa saya kehendaki saya malah mendapat profesor pembimbing yang topik penelitiannya di bidang ilmu dasar, bukan terapan. Lebih parah lagi saya harus meneliti bahan organik. Padahal sejak SMA saya sangat benci pada Kimia Organik.

Lagi-lagi saya tak punya pilihan. Saya harus belajar dan melakukan eksperimen di bidang yang tak saya sukai. Sudah kepalang basah, saya harus hadapi itu dengan tekun, meski banyak hari-hari harus saya lalui dengan dimaki-maki oleh professor saya, karena saya tidak mampu memahami atau menjelaskan sebuah persoalan. Itu karena basis saya di bidang Mekanika Kuantum dan Fisika Zat Padat memang lemah.

Tak cuma masalah pemahaman. Juga ada hambatan fisik. Salah satu eksperimen yang harus saya lakukan dalam penelitian adalah mengamati karakter material di bawah tekanan tinggi. Saya menggunakan alat yang disebut diamond anvil cell. Alat ini terdiri dari dua potong intan yang digunakan untuk menjepit sebuah pelat logam. Pelat itu dilubangi sehingga di dalamnya tercipta sebuah ruang. Ke dalam ruang itulah dimasukkan sampel yang hendak diamati, ditambah media cair penerus tekanan dan serpihan kristal ruby untuk mengukur tekanan. Saat kedua potong intan itu ditekan, ruangan tadi akan mengecil dan terciptalah kondisi tekanan tinggi.

Saya menggunakan istilah ruang, tapi ini ruang yang sungguh kecil! Diameter lubang hanya 0.3 milimeter. Untuk memasukkan benda-benda tadi saya menggunakan lidi yang di ujungnya saya ikatkan benang wol yang sangat halus. Ujung benang wol itu saya gunakan untuk mengangkat dan menggeser benda-benda itu. Ukuran benda serta lubang sangat kecil sehingga tak mungkin semua itu dilakukan dengan mata telanjang. Seluruh pekerjaan itu dilakukan dengan panduan pengamatan visual di bawah mikroskop.

Saya punya masalah fisik. Tangan saya tidak stabil. Sering gemetaran. Tremor, kata dokter. Tapi saya harus memasukkan beberapa benda yang sangat kecil dan rapuh ke dalam sebuah lubang yang sangat kecil pula. Luar biasa sulit.

Ada tiga bulan yang saya lalui untuk berlatih menggunakan alat itu. Tiga bulan terus menerus, tiap hari saya mengulang hal yang sama. Tiap hari gagal, saya mulai lagi. Lagi dan lagi. Setelah tiga bulan itu barulah saya mulai menghasilkan data eksperimen.

Begitulah. Dengan terseok-seok akhirnya saya bisa menyelesaikan studi hingga meraih gelar doctor. Bahkan kemudian saya berkarir selama 4 tahun sebagai peneliti tamu di Jepang. Kadang saya heran sendiri, kok saya bisa jadi doktor bahkan profesor tamu di Jepang.

Sejak masih kuliah S1 saya tidak berminat untuk bekerja di dunia industri. Saya tak suka. Saya tak suka pada jadwal yang tetap, harus masuk jam sekian, pulang jam sekian. Saya juga tak suka bekerja di bawah orang, disuruh-suruh. Saya suka pekerjaan yang independen, di mana saya menentukan apa yang harus saya lakukan.

Tapi lagi-lagi saya harus menghadapi itu. Karena berbagai alasan saya harus memulai karir di dunia industri. Tak terasa sudah tiga tahun saya berkarir di dunia ini. Sejauh ini saya menikmatinya.
Kawan. Dalam hidup ini sering kita harus melakukan hal-hal yang tidak kita sukai. Tapi pengalaman saya mengajarkan bahwa kita pun bisa melakukan hal-hal yang tadinya tidak kita sukai. Bahkan kita kemudian bisa menyukainya.

If you cannot do what you love, try to love what you do. Itulah resep saya.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes