Archive for April, 2010

Radio

27 April 2010

Ayah sebenarnya suka pada radio. Di kampung kami hampir tak ada sarana hiburan. Alunan lagu-lagu yang disiarkan oleh RRI atau RTM (Radio Televisyen Malaysia) adalah hiburan yang menyenangkan. Tapi bagi Ayah radio lebih dari sekedar lagu-lagu. Ada azan pemberi tahu waktu salat. Juga ada ceramah agama.

Tapi Ayah tak hendak membeli radio. “Ah, apa pula bagusnya. Hanya ada suara orang menyanyi dan mengaji, tapi tak nampak orangnya. Kalau dah nampak orangnya, barulah aku mau beli.” begitu dalih Ayah selalu kalau ada orang menawarkan radio kepadanya. Aku tak sepenuhnya percaya bahwa itu alasan yang sebenarnya. Ayah sepertinya memang menahan diri untuk tidak membelanjakan uangnya untuk kesenangan, karena anak-anaknya mesti disekolahkan.

Ayah harus berpuas dengan limpahan suara radio tetangga. Di kampung kami orang biasa berbagi. Termasuk dalam hal suara radio. Orang yang punya radio membunyikan radionya keras-keras agar tetangga juga bisa ikut mendengar.

Waktu berlalu. Di kota kata orang sudah ada televisi. Ya, inilah radio impian Ayah. Yang menyanyi dan berbicara sudah terlihat. Orang-orang menggoda Ayah untuk membeli. “Nah, sekarang radio impian awah sudah ada, bila nak beli?” begitu tuntutan mereka. Ayah Cuma tersenyum kecut, termakan omongannya sendiri. Ketika itu abangku sudah lulus SPG dan mulai bekerja sebagai guru di kota. Ayah mungkin sudah sedikit lega, lalu memanjakan dirinya dengan sebuah kesenangan kecil. Ayah membeli televisi? Ah, tidak. Ayah hanya membeli sebuah radio.

Radio yang dibeli Ayah adalah radio tiga band. Sudah pakai transistor. Jauh terlihat lebih modern dari radio tua yang ada di rumah nenek. Badannya dari plastik, bukan kayu. Ukurannya juga kecil, bisa dibawa-bawa. Baterinya tiga. Kalau bateri lampu senter Ayah sudah melemah, bateri tersebut dipasang di radio.

Sejak punya radio barang pujaan Ayah yang tak boleh disentuh orang lain bertambah jadi dua. Tadinya hanya lampu senter. Ayah marah besar kalau aku main-main dengan benda itu. Khususnya bila saat dia membutuhkannya di malam hari dia tak menemukannya. Pastilah aku jadi sasaran amuknya. Kini barang pusaka Ayah bertambah satu lagi, yaitu radio.

Ayah tak mengizinkan aku menyentuh radio itu. “Nanti rusak.” katanya. Aku paham. Dan aku pun tak tertarik benar dengan radio. Tak seperti lampu senter yang selalu memancing hasratku untuk menyentuh dan menyalakannya.

Ayah suka mendengar warta berita, juga ceramah agama. Untuk lagu-lagu Ayah lebih suka mendengarkan RTM. RRI banyak menyiarkan lagu-lagu yang tak dikenal Ayah. Sedangkan dari RTM masih sering mengalun lagu-lagu dari penyanyi kegemaran Ayah, P. Ramlee.

Tapi radio bagi Ayah bukan hanya itu. RRI di kota punya acara berita pendengar yang disiarkan petang hari menjelang magrib. Sambil menunggu azan Ayah menyimak berita-berita itu. Berita atas permintaan pendengar, ditujukan untuk pendengar lain. Berbagai ragam berita yang disiarkan. Ada berita gembira seperti kelahiran, ada juga berita duka tentang sakit dan kematian. Pedagang yang berniaga menyampaikan berita tentang harga-harga barang dagangan.

Aku masih ingat betul suaranya. „Berita berikut datang dari Pak Aslam di Pontianak, ditujukan kepada sanak saudara di Kubu. Isi berita, telah berpulang ke rahmatullah ibunda kami…………..“ Kadang-kadang ada sanak saudara di kota yang mengirim berita kepada orang di kampung kami. Kalau Ayah mendengar berita itu, dia akan bergegas menyampaikannya kepada yang dituju.

Sesekali Emak juga mengirim berita kalau dia sedang pergi ke kota. Emak seorang pedagang. Dia membeli pakaian, obat, kosmetik, serta berbagai barang lain di kota, untuk dijajakan berkeliling kampung. Kalau ke kota, Emak berbelanja dalam jumlah besar. Emak pulang naik kapal motor. Tapi kapal motor hanya sampai ke kecamatan. Dari situ harus naik sampan lagi ke kampung kami.

Menjelang pulang Emak mengirim berita, memberitahukan dia akan pulang hari apa. Lalu pada hari tersebut aku dan Ayah berkayuh sampan, pergi menjemput Emak ke kecamatan.

Aku pernah mendapat berita yang ditujukan untuk diriku sendiri. Hanya sekali. Waktu itu Emak dan Ayah pergi ke kota. Emak sakit dan dia perlu berobat. Aku pikir Emak hanya perlu ke dokter untuk diperiksa dan minta obat, lalu segera kembali. Tapi dua hari setelah keberangkatannya aku mendengar berita dari Ayah, melalui radionya. Isinya: Emak harus diopname di rumah sakit.

Kelak setelah aku sekolah di madrasah tsanawiyah di kota, aku bersama dua siswa lain dipilih untuk mewakili sekolah dalam acara cerdas cermat kandungan al-Quran pada acara MTQ. Aku jadi juru bicara. Acaranya disiarkan langsung oleh RRI. Di tingkat kota kami juara. Lalu kami mewakili kota di MTQ tingkat provinsi, kami juara tiga. Acara itu juga disiarkan secara langsung oleh RRI. Ayah memberi tahu dan mengajak orang kampung untuk mendengarkan siaran itu.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Pembuat Keputusan Radikal

27 April 2010

Selama sekolah di Jepang saya berkenalan dengan orang-orang yang menurut saya brilliant di bidang sains. Saya menduga mereka ini akan menjalani karir di dunia riset hingga pensiun. Kebanyakan memang demikian. Tapi ada beberapa yang pindah jalur, dan ini sungguh mencengangkan bagi saya.

Yang pertama akan saya perkenalkan Elisabeth Kurtz. Ia orang Jerman, lulusan Universitas Wurzburg. Saat saya sedang belajar di program master Eli, begitu kami biasa memanggilnya, adalah Post-doctoral Fellow di grup riset kami. Ia melakukan riset di bidang penumbuhan kristal semikonduktor dengan metode molecular beam epitaxy (MBE).

Bidang riset saya sebenarnya berbeda agak jauh dengan Eli. Tapi kami sering berdiskusi, khususnya selama seminar mingguan di lab. Saya mengenal Eli sebagai ilmuwan yang cerdas. Ini ditandai dengan banyaknya publikasi dia di berbagai jurnal ilmiah internasional.

Setelah menyelesaikan program post doctoralnya Eli kembali ke Jerman dan bekerja sebagai asisten profesor di almamaternya. Tapi saya terkejut ketika beberapa tahun kemudian mendapat kabar lagi dari Eli. Dia berhenti bekerja sebagai ilmuwan. Dia berkarir sebagai desainer grafis, sekaligus melanjutkan usaha ayahnya yang baru saja meninggal. Dalam e-mailnya pada saya Eli menulis, „I finally realized that graphic designing is the world where I belong.”

Saya terkesima. Eli bukan ilmuwan kacangan. Di akhir karirnya ia tercatat telah mempublikasikan 43 makalah di berbagai jurnal ilmiah. Dengan beberapa tahun berkarir lagi dia akan jadi profesor. Itu bukan main-main. Hanya ilmuwan yang benar-benar berbakat yang bisa begitu. Tapi sungguhpun begitu Eli mengatakan bahwa Fisika sebenarnya bukan dunia dia. Dunia dia adalah desain grafis.

Eli juga sepertinya tidak main-main dengan desain grafis. Perusahaan yang ia kelola juga bukan perusahaan main-main. Salah satu kliennya adalah Braun, produsen alat cukur elektronik.
Saya kagum pada dua hal dalam keputusan Eli untuk berganti karir. Pertama, keberaniannya membuat keputusan radikal, pindah karir ke dunia yang sama sekali tak berhubungan dengan karir dia sebelumnya. Kedua pada multi-bakat yang dia miliki. Dia bisa menjadi fisikawan yang hebat, tapi kemudian juga bisa jadi seorang desainer. Profil Eli dan perusahaannya bisa dilihat di sini: http://www.elikurtz.de/ http://www.kurtzdesign.de/

Teman saya yang lain adalah Meoung-Whan Cho, orang Korea. Saat saya pertama kali mengenalnya dia adalah mahasiswa program doktor. Sebelum sekolah ke Jepang dia adalah engineer di LG, perusahaan elektronik Korea. Bidang risetnya hampir sama dengan Eli, dan mereka banyak berkolaborasi menerbitkan makalah. Saat itu, akhir dekade 90-an, laser dioda berwarna biru belum berhasil dibuat. Cho waktu itu terlibat dalam „perlombaan“ membuat dioda itu. Ia bekerja sama dengan peneliti dari Sony.

Dan Cho berhasil. Saya masih ingat, suatu pagi Cho berteriak-teriak membuat keributan di lab. “Yatta…………yatta.“ teriaknya. Sebuah teriakan dalam bahasa Jepang yang artinya kurang lebih sama dengan „I did it.“ Saya dan beberapa teman lain mendatangi Cho, dan kemudian kami melihat dioda buatan Cho bersinar biru. Cho berhasil membuat dioda itu, meski dia bukan yang pertama. Dengan temuan itu Cho meraih gelar doktor.

Setelah lulus Cho mengikuti jejak Eli, menjadi Post-doctoral selama dua tahun lalu kembali ke Korea sebagai Senior R n D Engineer di LG. Tadinya saya fakir Cho akan menikmati karirnya. Ternyata saya keliru. Tak lama setelah itu saya bertemu kembali dengan Cho. Dia menjadi associate professor di lab. tempat kami belajar dulu. Sebuah pilihan yang masuk akal sebenarnya, kalau saya tidak diberitahu latar belakang pilihannya itu.

Cho ternyata tak sampai setahun mudik ke Korea. Dia memutuskan untuk berhenti bekerja di Korea, lalu memilih beremigrasi ke Kanada. Ia mendapat green card dan memboyong keluarganya pindah. Alasan dia, pendidikan di Korea tak lagi bagus. Anak-anak dipaksa belajar demi nilai ujian dan nilai rapor yang bagus. Tak ada lagi waktu bagi anak-anak untuk bermain dan menikmati masa kecil dan remaja mereka.
Sayangnya karir Cho di Kanada juga tidak mulus. Akhirnya ia kembali ke tempat dia belajar dulu. Di situ Cho tetap menjadi ilmuwan yang gemilang. Dia menghasilkan beberapa paten.

Kebetulan lagi kemudian saya juga bekerja sebagai visiting associate professor di instutusi yang sama dengan Cho meski berlainan lab. Kami kembali berinteraksi selama setahun. Saat terakhir bertemu Cho di akhir karir saya sebagai ilmuwan tahun 2006, Cho bercerita bahwa dia sedang mempersiapkan pendirian perusahaan di Korea. Perusahaan itu akan memproduksi komponen elektronik yang ditemukan Cho selama karir risetnya.

Teman terakhir yang hendak saya ceritakan adalah Jim Minglana, orang Filipina. Saya dan Jim adalah penerima beasiswa Asian Youth Fellowship Program (http://www.asiaseed.org/ayfj/). Kami bersama-sama belajar bahasa Jepang selama setahun di Kuala Lumpur sebelum melanjutkan kuliah ke Jepang. Kebetulan saat di Jepang kami kuliah di universitas yang sama, yaitu Universitas Tohoku. Jim kuliah di jurusan Kimia, saya di Fisika Terapan.

Lulus program doktor, Jim kembali ke negaranya untuk menjadi dosen di University of Phillipine. Saya sendiri masih tinggal di Jepang selama beberapa tahun dan bekerja sebagai peneliti di sana. Beberapa tahun kemudian saya mendapat kabar bahwa Jim sempat bekerja sebagai post-doctoal fellow di Swiss selama dua tahun, lalu kembali lagi ke Filipina, menjadi dosen.

Tapi kemudian lagi-lagi saya dikejutkan oleh keputusan radikal. Jim berhenti dari karirnya sebagi dosen, dan memilih untuk bekerja di Departemen Luar Negeri. Dalam waktu dekat dia akan jadi diplomat.

Adapun saya, tadinya saya seorang dosen. Sejak S1 sampai S3 saya belajar Fisika. Lalu saya juga bekerja sebagai peneliti selama empat tahun di Jepang. Lalu saya memutuskan untuk berhenti, lalu memulai karir sebagai mandor pabrik.

Kisah Eli dan Cho sedikit banyak membantu saya saat memutuskan untuk pindah karir. Jim menyusul saya berpindah karir. Entah dia terinspirasi oleh saya atau tidak.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes