Archive for September, 2010

Muslim Domestik, Muslim Internasional

21 September 2010

Waktu kuliah di Jepang dulu saya punya teman akrab, orang Iran. Namanya Nima. Kami sama-sama muslim. Tapi ada perbedaan penting. Nima ini, sejauh yang saya tahu dan diakuinya sendiri, tidak salat dan tidak puasa. Dalam suatu bulan Ramadan, saya berbincang dengan Nima saat dia sedang makan siang. Kemudian datang sensei, profesor pembimbing kami. Sensei tahu bahwa saya sedang puasa, dan selalu puasa saat Ramadan. Dia berkomentar, meledek Nima. “Hasan ini muslim internasional. Di manapun dia pergi, dia muslim. Sedangkan Nima, muslim domestik. Dia hanya muslim saat berada di negaranya.”

Kami berdua tertawa dengan komentar sensei itu.

Saya tak tahu persis bagaimana Nima di negaranya. Tapi gejala yang demikian itu saya lihat ada pada orang-orang Iran. Banyak yang, misalnya, memakai jilbab saat masih di Iran, dan saat baru tiba di Jepang. Tapi tak lama setelah itu mereka tak lagi pakai jilbab. Sepertinya mereka hanya berjilbab karena diwajibkan oleh negara.

Catatan tambahan lain, orang-orang Iran ini, sejauh yang bisa saya amati agak kurang membaur dengan komunitas Islam yang lain. Jarang saya lihat ada orang Iran ikut salat Jumat, atau hadir dalam berbagai acara yang diselenggarakan oleh Islamic Center. Entah karena mereka ini syiah, yang merasa berbeda dengan orang-orang lain yang kebanyakan sunni, atau karena mereka ini kebanyakan memang “muslim domestik”.

Ada tekanan atau tidak, pindah tempat tinggal, khususnya pindah negara, bisa membuat sikap orang dalam beragama berubah. Ada yang jadi makin religius, ada yang makin jauh dari agama. Pada kebanyakan orang Indonesia, mereka malah jadi lebih religius (dengan ukuran-ukuran zahir, atau yang bisa tampak belaka, tentunya). Beberapa yang saya dengar kisahnya, merasakan nikmatnya beragama justru saat menjadi minoritas, saat sarana dan kesempatan untuk beribadah minim.

Saya sendiri juga merasakan hal serupa. Tak jarang saya tak bisa pergi salat Jumat karena kesibukan studi yang tak bisa ditinggalkan. Profesor pembimbing tak secara resmi memberi izin untuk salat Jumat. Bila pekerjaan tak selesai karena kita pergi salat, kita bisa kena damprat. Idul Fitri dan Idul Adha juga tidak libur. Beberapa kali saya harus absen dari salat Ied karena tak beroleh ijin.

Suatu hari, saya pernah minta izin tidak masuk kepada sensei. Kalau tak salah, saat itu saya sudah bekerja sebagai Visiting Researcher, dan punya hak cuti. Dengan adanya hak itu pun sensei masih komentar miring. “Kamu itu, saat hari-hari libur Jepang kamu juga ikut libur. Dan kamu minta tambahan lagi libur untuk hari besar agama kamu.” Saya cuma bisa tersenyum pahit.

Di luar soal-soal yang demikian, beribadah di tengah minimnya sarana dan kesempatan sering kali malah lebih nikmat. Saya pernah salat di tengah taman, stasiun kereta, atau di bawah tangga airport. Di kampus mencuri-curi tempat untuk salat. Kadang harus salat di luar ruangan, saat dingin menggigit. Tak enak seenak seperti saat sedang di tanah air. Tapi itu tadi, ada kenikmatan khusus yang tak dirasakan seperti saat salat di tempat-tempat yang seharusnya.

 

Seperti saya katakan, ada pula orang-orang yang menjadi tidak religius setelah tinggal sekian lama di luar negeri. Orang yang melihatnya mungkin akan segera menyimpulkan bahwa ia terpengaruh pergaulan, lupa daratan, atau hal-hal negatif lainnya. Saya melihatnya berbeda. Perjalanan spiritual setiap orang itu unik. Orang bisa memperoleh insight dengan berbagai cara dan hasilnya juga sangat variatif. Saya lebih suka melihat perubahan itu sebagai pilihan yang dibuat seseorang dengan sadar, dan bagian dari perjalanan spiritual, yang ujungnya tak akan pernah kita ketahui.

http://berbual.com/

wordpress plugins and themes

Islam dan Kekerasan

21 September 2010

Apakah Islam mengajarkan kekerasan? Terhadap pertanyaan ini saya akan menjawab tegas dan lantang: YA!

Dikisahkan tentang seorang lelaki buta. Istrinya suka mencaci maki Muhammad. Laki-laki ini dengan meraba-raba mencari sebilah pisau. Dan ketika ia temukan, pisau itu ia gunakan untuk menikam dan membunuh istrinya, Ketika hal itu sampai ke telinga Muhammad, ia mendiamkannya. Diamnya Muhammad umumnya diartikan sebagai persetujuan.

Di riwayat lain diceritakan tentang dua orang yang berselisih tentang suatu perkara. Mereka minta pada Muhammad untuk mengadili. Setelah Muhammad memberi keputusan, salah satu dari mereka tidak merasa puas. Lalu mereka meminta pendapat Abu Bakar. Abu Bakar memerintahkan mereka untuk patuh pada keputusan Muhammad. Mereka tetap tidak puas, lalu datang ke Umar untuk minta pendapat. Umar kemudian mengambil pedang dan memenggal leher orang yang tak puas atas keputusan Muhammad tadi. Allah membenarkan langkah Umar ini dengan menurunkan ayat 65 surat An-Nisa.

Itu adalah rangkaian cerita kekerasan dalam sejarah Islam. Cerita-cerita yang muncul dalam berbagai format. Kekerasan dalam berbagai bentuk dan sebab. Semua bentuk kekerasan itu sah, bahkan terpuji.

Bila kita mencari ayat Quran dengan kata kunci qitaal, atau qatala, maka akan kita temukan puluhan ayat. Apa makna qital itu? Berperang dan membunuh. Demikian pula, kalau kita cari ayat dengan kata kunci jahada atau turunannya, kita akan menemukan puluhan ayat lagi. Lagi-lagi, jahada dalam puluhan ayat Quran maknanya tidak jauh berbeda dari qatala.

Sejarah Islam adalah sejarah berhias kekerasan. Sejak Muhammad mampu membangun kekuatan di Madinah, Islam berjalan dari perang ke perang. Tentu saja dimulai dengan provokasi kaum Quraisy Mekah. Tapi perang dan kekerasan tidak berhenti pada perang-perang defensif belaka. Kita bisa mencatat sebuan ofensif pada perang Khaibar, atau pada ekspedisi Mu’ta.

Setelah Muhammad wafat, kita melihat kekuasaan kekhalifahan Islam berkembang luas, melalui perang-perang ekpansif. Tentu saya tidak akan mengabaikan fakta sejarah bahwa di banyak tempat seperti di Nusantara, Islam tidak melulu disebarkan melalui perang.

Di luar itu, Islam menggunakan kekerasan sebagai hukuman atas tindak pidana. Orang berzina dicambuk atau dirajam. Pencuri dipotong tangan. Dan seterusnya.

Maka sekali lagi, tanpa sedikitpun ragu, saya mengatakan bahwa Islam mengajarkan kekerasan. Ini perlu saya tegaskan terlebih dahulu, karena banyak orang yang berkata bahwa Islam itu agama damai, anti kekerasan, sesuai dengan namanya. Atau orang yang menggambarkan sosok Muhammad sebagai sosok yang sangat pemaaf, yang bagi saya agak antagonis dengan apa yang diceritakan melalui riwayat orang buta tadi.

Orang seperti Tariq Ramadhan mencoba mengeksplorasi makna jihad menurut pada akar katanya, yang berarti bekerja sungguh-sungguh. Perang, menurut Tariq hanyalah salah satu konteks jihad. Pandangan Tariq ini bagi saya adalah pandangan apologetik, yang sama sekali mengabaikan fakta sejarah.

Bagi saya sangat penting untuk terlebih dahulu mengakui bahwa ajaran kekerasan itu ada dalam ajaran Islam. Bukan sekedar ada, tapi menempati porsi yang cukup besar. Kalau itu sudah diakui, barulah kita boleh beranjak pada diskusi selanjutnya, yaitu bagaimana kita bersikap terhadap ajaran kekerasan itu.

Apakah saya berpendapat bahwa Islam itu adalah agama kekerasan? Yang menyebarkan agama dengan pedang di satu tangan, serta Quran di tangan yang lain? Tidak. Bagi saya kekerasan dalam Islam itu hanyalah alat yang harus dipakai sesuai kebutuhan. Kekerasan itu bukan tujuan.

Sebagaimana diketahui, saat mulai hidup, umat Islam menghadapi teror yang luar biasa. Tidak ada jalan lain untuk bertahan hidup, selain melawan dengan kekerasan pula. Di luar soal itu, Islam sejak awal kehadirannya memosisikan diri sebagai sebuah kekuasaan. Muhammad selain seorang nabi juga adalah seorang kepala negara, juga seorang panglima bala tentara. Dan pada jaman itu sudah lazim bagi sebuah kekuatan yang demikian itu untuk melakukan penaklukan. Dan itu berarti perang.

Sayangnya kita tidak menemukan dalil yang tegas-tegas memisahkan peran Muhammad sebagai nabi dengan peran sebagai kepala negara. Karenanya semua tindakan dia dipandang sebagai ajaran Islam.

Demikian pula, tak ada dalil yang tegas yang menyatakan bahwa perintah melakukan kekerasan, seperti perintah untuk membunuh orang kafir, adalah perintah kontekstual hanya untuk kebutuhan saat itu saja. Orang mungkin akan menyodorkan asbabun nuzul untuk menjelaskan konteks ayat yang dimaksud. Namun asbabun nuzul, menurut para ulama, tidak serta merta membatasi makna teks. Mereka umumnya berpendapat bahwa sekali dinuzulkan, teks akan berdiri sendiri, harus dimaknai sebagaimana yang terlafalkan.

Karena hal-hal tersebut di atas maka kita sering mendengar ayat-ayat Quran dikumandangkan untuk melegitimasi kekerasan. Para pelaku tindak kekerasan sering mengutip ayat-ayat yang menyuruh untuk melakukan tindak kekerasan. Dengan ayat-ayat itu tindakan keji berubah menjadi amal yang suci.

Ketika meletus kasus Monitor tahun 90-an, sekelompok orang merusak kantor tabloid tersebut. Waktu itu terjadi silang pendapat mengenai kejadian itu serta kasus Monitor itu sendiri. Dalam sebuah tulisannya (atau ceramah, saya lupa persisnya) Jalaluddin Rakhmat mengutip riwayat tentang orang buta yang saya kutip di bagian awal tulisan ini. Dia tak serta merta membenarkan kekerasan atas kantor Monitor tadi. Tapi kutipan tadi seakanya mengisyaratkan bahwa yang diterima oleh Monitor itu sesuatu yang jauh lebih ringan dibandingkan dengan apa yang diterima penghina Muhammad yang lain.

Tentu Jalal tak sendiri. Tak sedikit orang atau ulama yang dengan enteng sampai pada kesimpulan bahwa si Fulan halal darahnya, hanya karena menurut orang itu si Fulan sudah memenuhi syarat untuk dihalalkan darahnya berdasar dalil-dalil yang ada. Padahal yang dilakukan si Fulan hanyalah berfikir dengan cara yang berbeda dari orang tadi.

Bagi saya, kekerasan berlabel agama Islam hanya bisa dihindari bila kita berhenti memandang Quran sebagai sumber hukum. Selama Quran masih dianggap sebagai kitab hukum maka kita setiap perintah membunuh dalam Quran wajib dituruti. Karena dalam kaidah ushl fiqh setiap perintah pada dasarnya adalah kewajiban.

Tentu, Islam mengatur tata cara melakukan kekerasan itu. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Namun, sialnya, syarat-syarat itu pun sangat mudah terpengaruh pada presepsi pribadi atau kelompok pemahaman. Tafsirnya bisa sangat berbeda antara kelompok yang satu dengan yang lain.

Pada umumnya ulama berpendapat bahwa Islam membolehkan penggunaan kekerasan saat umat dizalimi. Tapi tidak sedikit orang/kelompok Islam yang berpendapat bahwa dalam tataran internasional posisi umat Islam saat ini sedang terzalimi, sehingga penggunaan kekerasan selalu sah.

Saya pernah berdiskusi dengan seorang kenalan. Dia kebetulan adalah seorang yang terdidik. Seorang doktor lulusan Inggris. Saya mengritik kekerasan melalui bom bunuh diri di Palestina, yang sasarannya adalah sasaran sipil, seperti bis sekolah atau pasar. Menurut saya itu justru bertentangan dengan tata krama perang dalam Islam. Yang saya tahu, Muhammad melarang penyerangan terhadap orang tak bersenjata.

Tapi kenalan saya tadi berpendapat lain. Israel memberlakukan wajib militer. Itu artinya, menurut kenalan saya tadi, setiap orang Israel adalah militer. Karenanya sah untuk diserang.

Saya melihat pesan-pesan kekerasan dalam ajaran Islam lebih kuat ketimbang pesan-pesan yang mengatur cara penggunaannya. Karenanya, penggunaannya sering menyalahi aturan Islam sendiri.

Saya, sekali lagi, lebih suka melihat Quran, demikian pula hadist, sebagai kitab sejarah ketimbang kitab hukum. Quran adalah rekaman sejarah tentang bagaimana sebuah masyarakat beradab ditegakkan. Apa yang terekam di situ boleh menjadi inspirasi saat kita menegakkan peradaban di masa kini. Tapi bukan panduan manual tentang apa yang harus kita lakukan. Penggunaan kekerasan bukanlah kewajiban, bukan pula anjuran. Ia hanya contoh, bahwa di masa lalu kekerasan pernah digunakan. Di masa kini boleh jadi kita harus menghindarinya.

http://berbual.com/

wordpress plugins and themes

Presiden Tak Setujui Gedung Baru DPR

2 September 2010

Presiden Susila Pandir Yardhayana mengumpulkan beberapa orang penting di ruang kerjanya. Di antara yang hadir adalah Ketua DPR, yang memang berasal dari partai pendukung utamanya. Juga ketua partai, serta ketua fraksi dia undang. Lalu ada pula Menteri Hukum.

Lagi-lagi Presiden menghadirkan wajah cemberut. Muram. Wajah gemuknya yang sehari-hari dipenuhi lekuk-lekuk dalam, semakin terlihat penuh lekuk. Para hadirin membaca gelagat buruk. Ada apakah gerangan? Apakah Presiden sedang stress memikirkan hubungan dengan negeri jiran? Atau sedang kecewa karena album-album yang dirilisnya tak kunjung laku di pasaran? Entahlah. Yang jelas di tengah gelagat buruk itu tak ada yang berani buka suara duluah. Para hadirin duduk rapi di meja sidang, menunggu Presiden buka suara.

Setelah pamer tampang perang beberapa saat, Presiden buka suara.

„Saya sudah mendengar soal rencana pembangunan gedung baru DPR beserta kontroversinya. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, maka saya perintahkan agar rencana itu dibatalkan!”

Ruang sidang lantas dipenuhi bisik-bisik tak jelas. Ketua DPR Majuki tampak gusar. Mukanya agak merah, mulai berkeringat. Napasnya terengah-engah. Titah Presiden tadi bagi Juki bak siraman air dingin di tengah tidur lelapnya yang penuh mimpi indah.

Rencana pembangunan gedung baru itu sangat menggairahkan Juki. Ia sudah mendapat gambaran detil tentang rancangannya. Ada kolam renang. Ada apotek. Dan ada spa. Hemmmm………. Ini surga. „Usai berenang dan berjemur di pinggir kolam renang,“ khayal Juki, „aku bisa ke apotek untuk membeli multivitamin, obat kuat, juga beberapa peralatan kecil. Lalu aku akan ke spa……..“ Hmmmmm, spa. Juki tahu bahwa tak mungkin ada spa plus plus di gedung semulia gedung DPR. Tapi dia juga lebih tahu bahwa di DPR semua bisa diatur. Kalau ia bisa mengatur agar tersedia duit 1,6 triliun rupiah untuk membangun gedung, apa susahnya untuk diam-diam menambahkan ++ pada sebuah spa?

Meski sering mendapat sorotan dan kritik, dengan berbagai cara Juki sudah berhasil membuat orang lupa soal biaya yang diperlukan untuk membangun gedung ini. Ia mencontoh cara Presiden, menggunakan konsultan dalam mengelola isu. Ia rela mengalirkan sedikit anggaran untuk keperluan itu.

Titah Presiden yang membuyarkan mimpi indahnya itu kontan membuat Juki gusar. Ia tak berani terang-terangan membantah Presiden. Presiden Pandir menduduki posisi paling penting di partai. Kalau Presiden tak berkenan, Juki bisa terpental dari jabatan Ketua DPR. Itu petaka besar. Tapi dia juga tak bisa berdiam kalau mimpi indahnya dibuyarkan.

„Mohon ijin bicara, Pak. Saya paham bahwa Bapak sangat penuh perhatian pada kepentingan rakyat kecil. Saya yang selalu mendampingi Bapak selama kampanye pemilu kemarin, sadar betul bahwa Bapak senantiasa berpihak kepada rakyat kecil. Program-program yang Bapak tawarkan kepada rakyat adalah program yang pro rakyat kecil belaka.”

Mendengar ucapan Juki itu kerut tekuk-tekuk di wajah Presiden sedikit berkurang. Ia senang mendapat pujian dari anak buahnya. Melihat reaksi itu Juki tambah semangat.

„Memasuki periode kedua jabatan Bapak rakyat terlihat semakin sejahtera. Mereka semakin cinta pada Bapak. Tak salah kiranya kalau Bapak senantiasa bertitah bahwa pembangunan yang Bapak pimpin ini memang benar-benar sudah on the right track. Bapa juga sudah berhasil melaksanakan berbagai debottlenecking, sehingga berbagai hambatan pembangunan sudah di-eliminated. Sebentar lagi, our country will be known as a perfectly developed country in the region………”

Terbuai sejenak oleh puji-puji dari Juki, Presiden kemudian sadar bahwa Juki tak hanya bicara kepanjangan, tapi sudah lancang meniru style bicara dia yang bertabur bahasa asing itu. “Kedawan! Sakjane kamu itu mau ngomong apa to?” sergah Presiden.

“Eh, nganu, Pak.” kata Juki mulai gugup lagi. “Melihat kinerja Bapak itu, kami di DPR termotivasi untuk bekerja lebih keras lagi. Untuk itu diperlukan fasilitas-fasilitas pendukung yang memadai. Dalam rangka itulah kami berniat mempernaharui tempat kerja kami.”

Presiden langsung menjawab. „Itu aku paham. Kalian sudah selayaknya mendapatkan fasilitas itu. Oleh karena itulah maka anggaran itu aku setujui dimasukkan ke dalam APBN.”

Presiden mengambil jeda sejenak. Juki sumringah.

„Tapi ada perkembangan baru yang terus terang meresahkan sata. Ini membuat saya berfikir untuk mengubah rencana itu. Dana yang cukup besar itu akan saya alihkan untuk keperluan lain.“

“Apakah dana itu akan digunakan untuk membeli senjata baru untuk berperang mengganyang Malaysia?“ tanya ketua partai yang sejak tadi diam.

“Bukan. Kita tak akan berperang melawan Malaysia. Perang itu cara orang yang tak bermartabat. Kita akan tetap menempuh jalur diplomasi dengan Malaysia. Saya sedang membentuk Tim Satgas baru untuk mengkaji persoalan dengan Malaysia. Beberapa mantan aktivis mahasiswa yang dulu mendukung saya dalam kampanye sudah saya daftar untuk dimasukkan ke dalam Tim Satgas ini.”

“Lalu, apakah dana itu akan dipakai untuk promosi album terbaru, Bapak?“ tanya Luhut, ketua fraksi.

“Ah, kamu ini selalu ngawur, Luhut. Aku tidak akan menggunakan uang negara untuk keperluan semacam itu. Untuk promosi albumku sudah ada sumber dana sendiri sumbangan dari para pengusaha yang loyal kepadaku.“

„Lalu alokasinya untuk apa?“ tanya Menteri Hukum.

Presiden menatap Menteri agak lama. Lalu bicara lagi.

„Ini tugasmu, Lis. Aku ingin dana itu dipakai untuk membenahi penjara-penjara kita.“

Menteri Hukum tersentak kaget, tapi kemudian segera jadi sumringah. „Proyek, proyek, proyek.“ kata batinnya. Dan tak cuma Menteri Hukum yang kaget. Semua orang kaget. Apalaki Majuki. Dia sangat tak rela dana itu dialihkan untuk membenahi penjara. Dia mulai nekat, memberanikan diri membantah Presiden.

“Mohon maaf, Bapak. Saya kira dalam hal ini Bapak agak sedikit, sangat sedikit sih, melenceng dari program yang sudah Bapak tetapkan. Seingat saya tidak pernah ada rencana memperbaiki penjara. Dan saya yakin Bapak tahu bahwa sudah ada pihak-pihak yang bertanggung jawab soal ini, yaitu para terpidana korupsi.”

“Betul, Juki. Selama ini memang urusan memperbaiki fasilitas penjara kita serahkan kepada para penggunanya, yaitu terpidana korupsi. Tapi ke depan, saya ingin program ini diambil alih oleh negara. Dan dilakukan secara terstruktur dan menyeluruh.”

“Dalam rencana saya, beberapa penjara penting akan kita lengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti kolam renang, ruang fitness, serta spa. Sedangkan penjara-penjara lain akan kita perbaiki agar tak terlihat kesenjangan yang terlalu mencolok. Program itu harus selesai tuntas sebelum tahun 2014.”

Hadirin semakin bingung, tak paham dengan apa yang ada dibenk Presiden.

“Tapi untuk apa semua itu, Pak?” Tanya Juki tak sabar. “Apakah ini tekanan dari Amnesti International?“

„Bukan. Aku melihat perkembangan yang meresahkan belakangan ini.“

„Apa itu, Pak?“ tanya ketua partai.

“Meski saya coba untuk mengarahkan, arus pemberantasan korupsi nampaknya semakin liar. Coba perhatikan. Setelah memenjarakan besanku, KPK sekarang memidanakan beberapa mantan menteri di kabinetku. Aku melihat KPK ini tak bisa diatur. Pada tahap ini mereka memang beraninya sama mantan-mantan belaka. Tapi saya tak merasa tenang. Karena suatu saat, saya pasti akan jadi mantan juga.”

Presiden mengambil jeda lagi. Hadirin terdiam semua.

“Tahun 2014, kita semua akan jadi mantan. Coba kau bayangkan, Juki. Berapa lama kau bisa menikmati gedung DPR yang hendak kau bangun? Paling-paling selesai tahun 2013, di ujung masa jabatanmu. Artinya kau hanya menikmatinya setahun, kurang lebih.“

Juki mengangguk-anggung, sedikit paham, banyak tidak.

„Lalu ke mana kau akan pergi setelah jadi mantan, Juki? Boleh jadi ke penjara. Karena itulah, mumpung masih ada kesempatan, kita benahi tempat tinggal kita di masa depan itu.“

Hadirin terdiam. Paham.

 

http://berbual.com

wordpress plugins and themes