Teman saya, Dr. Khoirul Anwar, yang bekerja sebagai peneliti di Jepang diwawancarai dalam acara Kick Andy di Metro TV. Artikel di situs resmi Kick Andy menuliskan sebagai berikut.
Putra Indonesia yang banyak mendapat simpati para ilmuwan dunia lainnya adalah Dr Khoirul Anwar. Pria asal Kediri, Jawa Timur itu baru-baru ini telah menciptakan sistem telekomunikasi berbasis 4 G alias generasi ke empat. Artinya, ciptaan pemuda desa, yang berusia 32 tahun itu telah menyempurnakan sistem komunikasi yang kita kenal saat ini yaitu 3 G alias generasi ketiga. “Jadi, dengan sistem komunikasi 4 G ini hambatan yang ada di 3 G bisa disempurnakan di 4 G, kata Dr Khoirul menjelaskan. Tentu saja penemuan atau karya Dr Khoirul itu telah dipatenkan di Jepang.
Karena awam dalam soal teknologi komunikasi, saya tanyakan hal ini kepada teman saya yang paham soal ini. Penjelasan dia sebagai berikut.
Intinya, biasanya, agar suatu komunikasi wireless bisa bekerja tanpa adanya interferensi dari sesi komunikasi lainnya, dibutuhkan yang namanya guard interval. Dia membuat mekanisme komunikasi tanpa guardinterval ini. Hasilnya sudah dipatenkan (like many other researchers did) dan “katanya” bisa digunakan dalam teknologi 4G.
Di media lain nama peneliti ini ditulis sebagai Prof. Dr. Khoirul Anwar. Padahal jabatan dia sekarang adalah research associate. Ini mengingatkan saya pada berita bombastis tentang Nelson Tansu yang disebut sebagai profesor termuda di Amerika Serikat. Padahal jabatan Nelson Tansu saat itu adalah assistant professor, sebuah jabatan yang lumrah bagi seorang peneliti yang baru lulus doktor.
Kesalahan soal jabatan profesor ini sepertinya sudah jadi penyakit kronis. Wartawan bahkan masih banyak yang tidak tahu bahwa profesor itu bukan gelar, melainkan jabatan.
Pekerjaan riset Khoirul memang bukan konsumsi awam. Tak mudah untuk menjelaskannya ke dalam bahasa yang bisa dipahami awam. Pada level tertentu, mungkin kesalahan wartawan masih bisa dimaafkan. Namun saya lihat beberapa media seperti Koran Tempo dan Kompas mampu memberitakan masalah ini sesuai dengan porsinya, walaupun beritanya bertaburan istilah teknis yang bisa membuat kening orang awam berkerut.
Saya paham, tak semua wartawan punya bekal yang cukup untuk memahami soal-soal yang rumit itu. Apalagi kemudian ia harus menuliskannya ke dalam bahasa yang dipahami publik. Maka tak sedikit wartawan yang kemudian mengambil jalan pintas, menuliskan sesuai dengan presepsi dia sendiri. Terlebih, dunia jurnalistik punya pameo “orang menggigit anjing, jadi berita”. Artinya perlu ada yang bombastis agar sesuatu bisa jadi berita. Maka lahirlah berita-berita yang bukan memberi informasi, melainkan menyesatkan publik.
Minimnya pengetahuan, ditambah keinginan untuk membuat berita besar, sering membuat berita-berita sains menjadi jauh dari proporsi sebenarnya. Dalam bahasa guyonan teman saya di milis, bila seorang membuat pernyataan berikut:
Saya menemukan satu konstanta yang menyempurnakan Salmonmagurosky-Iikuranov equation yang membuat akurasi pengamatan virus oleh mikroskop elektron jadi lebih super drpd yang ada sekarang. Temuan ini diharapkan dapat mempercepatupaya penelitian menuju penemuan obat penyakit AIDS.
dalam bahasa wartawan bisa berubah menjadi:
Ilmuwan telah menemukan mikroskop super yang dapat menyembuhkan AIDS.
Tapi saya juga tak ingin semata menyalahkan wartawan. Para narasumber dari kalangan ilmuwan sendiri sering juga sengaja membiarkan persoalan kabur, atau sejak awal memang sengaja mengaburkannya. Atau lebih tepatnya, membesar-besarkan persoalan. Dulu waktu masih bekerja sebagai peneliti di Jepang saya sering menulis proposal penelitian untuk keperluan permohonan dana riset. Proposal yang saya tulis oleh profesor saya sering ditambahi bagian yang mengaitkan isi riset tersebut dengan topik-topik yang sedang menjadi trend di dunia riset. Kata profesor saya hal-hal itu diperlukan untuk menarik perhatian reviewer.
Dalam bahasa profesor saya, “Kita, orang basic science, melakukan riset dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tentang alam. Apa gunanya, itu bukan hal yang perlu kita pusingkan. Ibarat melukis, kita tak perlu peduli lukisan itu nanti dihargai berapa, yang penting kita melukis dengan indah. Tapi para pemberi dana itu tak paham hal itu. Mereka hanya mau memberi dana pada riset-riset yang menurut mereka bermanfaat. Karena itu, kita perlu membuat proposal sesuai dengan mind set mereka.”
Kebiasaan ini kemudian meluas. Saat menyampaikan hasil riset kepada publik, ilmuwan tak jarang membuat hasil risetnya terlihat bombastis dengan berbagai bumbu. Tak jarang ilmuwan tidak hanya sekedar membicarakan risetnya, tapi juga tentang dirinya. Soal kehebatan diri, soal gaji, fasilitas, dan hal-hal yang tak penting lainnya. Ada kenalan saya yang berkata bahwa dia sebenarnya pernah diminta bekerja dalam tim Eropa untuk anu anu, tapi dia memilih pulang ke tanah air. Dan itu dimuat di koran. Saya yang kebetulan paham rekam jejak dia hanya bisa tersenyum membacaanya.
Cerita akan sedikit saya simpangkan. Kita tentu masih ingat bagaimana “kecemerlangan” siswa-siswi kita di berbagai olimpiade sains internasional diberitakan. “Siswa kita menggondol 5 medali emas.” Itu contoh salah satu berita tentang hal itu. Fikiran kita tentu menyamakan medali itu dengan apa yang terjadi di olimpiade olah raga. Bahwa yang dapat medali emas itu adalah satu, yang terbaik.
Beginilah penjelasan Mikrajuddin Abdullah, guru besar di ITB yang pernah menjadi juri pada Olimpiade Fisika tentang medali ini.
Pada IPhO ke-33 di Bali tahun 2002, jumlah peserta adalah 296 orang. Jumlah peserta peraih medali emas adalah 42 orang, peraih medali perak 37 orang, peraih medali perunggu adalah 58 orang dan honorable mention 68 orang (Total 296 orang). Tampak di sini bahwa meraih medali emas dalam IPhO bukan berarti siswa tersebut berada di rangking-rangking atas, misalnya “top ten”. Seperti dalam IPhO di Bali, siswa pada rangking 42 juga memperoleh medali emas.
Sejauh yang pernah saya baca, tak pernah ada penjelasan soal medali ini, baik oleh penyelenggara maupun pembina tim olimpiade sains. Alih-alih menjelaskan, seorang pembina olimpiade sains kita pernah mengirim e-mail mengabarkan kemenangan timnya dengan kalimat, “Kemenangan siswa-siswi kita telah menggetarkan daratan Eropa.” Tak jelas pihak mana yang digetarkan, karena setahu saya baik kalangan ilmuwan maupun publik di Eropa tak begitu tertarik dengan olimpiade sains ini.
Dan lagi-lagi, sayangnya, wartawan pun tak pernah menanyakan, bagaimana duduk soal medali dalam olimpiade sains ini. Seperti kata Farid Gaban, wartawan kita terlalu sering mengutip begitu saja ucapan narasumber, tanpa memeriksanya secara kritis.
Idealnya, para ilmuwan mengabarkan sesuatu yang tidak mudah dipahami publik secara bijak, agar dipahami secara benar. Sedangkan wartawan, tentu punya kewajiban memeriksa agar apa yang ia sampaikan tidak menyesatkan. Tapi susahnya, keduanya kadang punya kepentingan, lebih dari sekedar kepentingan untuk menyampaikan informasi. Terlebih kalau diingat bahwa keberhasilan di dunia sains juga bisa jadi modal untuk jadi selebriti, yang ujung-ujungnya bisa membawa orang ke lingkaran elit politik. Itu yang pelik.
http://berbual.com/