Aceh dan Solidaritas Kita

11 January 2005

Media Indonesia, 11 Januari 2005

Skala bencana tsunami yang melanda Aceh selain tampak pada gambar-gambar visual yang disiarkan media, terlihat pula dari perhatian yang diberikan oleh pihak-pihak yang tak terkena bencana. Segera setelah terjadinya bencana, di seluruh pelosok tanah air dilakukan pengumpulan dana bantuan. Baru kali ini kita saksikan spontanitas yang demikian besar dari masyarakat untuk memberikan bantuan. Hampir di setiap pelosok kota dan desa kita saksikan masyarakat berbondong-bondong memberikan sumbangan.

Spontanitas itu ternyata tak hanya terjadi di tanah air. Di luar bantuan yang dikeluarkan oleh secara resmi oleh pemerintah mereka, masyarakat internasional juga telah menunjukkan solidaritas yang besar. Ketika mendarat kembali di Jepang beberapa hari setelah bencana, saya menemukan penggalangan dana bantuan juga dilakukan oleh masyarakat setempat secara spontan. Di banyak convinient store saya temukan kotak-kotak sumbangan untuk membantu masyarakat Aceh. Ini di luar kegiatan serupa yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia di Jepang yang terutama dipelopori oleh mahasiswa kita.

Di tengah kepedihan akibat bencana ini, solidaritas itu, khususnya dari sesama bangsa Indonesia, terasa sedikit menyejukkan. Ini menunjukkan bahwa rasa cinta kita sebagai sesama anak bangsa tertanam dalam di lubuk hati, dan itu secara spontan keluar ketika saudara kita tertimpa musibah.

Bagi rakyat Aceh solidaritas yang kita tunjukkan ini mungkin lebih dalam maknanya. Sebagian rakyat Aceh telah lama terluka oleh berbagai konflik bersenjata di daerah itu. Sebagian dari mereka bahkan mungkin telah hilang rasa persaudaraannya dengan bangsa Indonesia. Solidaritas spontan yang kita tunjukkan saat ini mudah-mudahan dapat kembali mengambil hati mereka, untuk meneruskan persaudaraan dengan kita sebagai satu bangsa.

Pertanyaannya, apakah solidaritas ini dapat kita pertahankan setelah kepedihan akibat bencana ini berlalu? Atau kita sebenarnya hanyalah manusia dengan solidaritas temporer, yang hanya mampu solider ketika ada bencana (besar) saja?

***

Kesenjangan adalah ciri yang menonjol dalam keseharian masyarakat kita. Ini terutama dapat segera kita amati di kota-kota besar. Kita dapat dengan mudah menemukan gubuk-gubuk dan pemukiman kumuh, tak jauh dari rumah-rumah mewah di kawasan elit di berbagai kota. Jalan-jalan raya kita adalah tempat berbaurnya orang kaya yang naik mobil-mobil mewah nan mulus dan nyaman, dengan orang-orang miskin berdesakan dalam bis-bis yang panas, pengap, sekaligus berbahaya karena penuh pencopet dan pengemudinya ugal-ugalan.

Artinya setiap hari, setiap saat, di sekitar kita selalu ada orang yang membutuhkan bantuan seperti saudara-saudara kita di Aceh saat ini. Mereka bahkan seringkali hadir dalam rumah kita, dalam sosok-sosok pembantu yang melayani kita. Mereka memperoleh penghasilan yang jauh lebih kecil dari biaya yang kita keluarkan untuk kebutuhan-kebutuhan sepele, seperti jajan di kafe-kafe mewah atau ngobrol dengan telepon genggam.

Di hadapan saudara-saudara kita yang kurang beruntung itu, kita sanggup memamerkan nikmatnya keberuntungan yang kita miliki tanpa sungkan. Dan kita enggan berbagi. Terhadap pembantu, kebanyakan dari kita menyediakan makanan yang kualitasnya jauh lebih rendah dari yang kita nikmati. Seakan kita hendak menunjukkan bahwa kita adalah manusia dengan darah dan daging yang berbeda dengan mereka.

***

Gambar-gambar visual dari bencana Aceh selain menunjukkan dahsyatnya bencana, juga menunjukkan sisa-sia kemewahan yang tadinya dinikmati oleh sebagian dari penduduk di sana, seperti bangkai mobil-mobil mewah di sela-sela puing reruntuhan bangunan. Pemiliknya boleh jadi tadinya adalah penikmat kemewahan seperti kita saat ini. Dan bencana itu seketika mengubah mereka menjadi orang yang hidupnya bergantung pada bantuan orang lain, walau mungkin hanya untuk sementara.

Tentu tak sulit untuk membayangkan bahwa hal yang sama bisa setiap saat terjadi pada kita. Bahwa tangan Tuhan bisa merampas apa saja yang kita miliki saat ini dengan berbagai cara. Karena semua yang kita miliki saat ini pada dasarnya memang fana sifatnya.

Dengan kesadaran itu, bencana Aceh seharusnya kita jadikan momen penting untuk mengubah perilaku. Untuk lebih peka terhadap nasib saudara-saudara kita yang belum beruntung.

Sebagian dari kita boleh jadi berdalih bahwa yang kita nikmati adalah hasil jerih payah kita sendiri, yang tentu sudah selayaknya kita nikmati. Namun kita harus ingat bahwa apa yang kita peroleh tak semata-mata datang dari hasil kerja keras kita, melainkan karena kita diuntungkan oleh sistem yang tidak adil. Biaya pendidikan kita misalnya, sebagian besar datang dari subsidi negara dengan uang rakyat, yang sayangnya hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil anak bangsa. Demikian pula, keseharian kita sebenarnya penuh dengan subsidi yang porsinya lebih besar kita nikmati ketimbang rakyat kecil, seperti subsidi BBM yang sebentar lagi akan dihapuskan.

Kemajuan ekonomi yang dinikmati oleh sebagian dari kita adalah kemajuan ekonomi semu. Kemajuan yang ditopang oleh penderitaan sebagian besar rakyat. Belum lagi kalau diingat bahwa sebagian dari kita menikmati kekayaan yang diperoleh secara tak sah melalui kejahatan korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Artinya, tanpa harus bersikap sok soliderpun kita seharusnya sadar bahwa sebagian, mungkin sebagian besar, kemewahan yang kita nikmati adalah sesuatu yang sebenarnya bukan hak kita.

***

Salah satu persoalan ekonomi kita yang terbesar adalah hutang luar negeri. Hutang yang telah mencapai taraf melampaui kemampuan kita untuk membayarnya itu sebagian (besar) telah digunakan untuk membiayai kemewahan segelintir warga negara. Untuk membangun kembali Aceh pasca bencana, negara-negara maju telah menawarkan bantuan dalam jumlah besar. Sayang, bantuan itu hanya indah terdengar di telinga, tapi sebenarnya mencekik masa depan kita, karena apa yang disebut bantuan itu sebenarnya berwujud hutang baru. Beban hutang yang baru itu akan semakin memperberat beban keuangan negara, yang tentu saja akan sangat besar pengaruhnya bagi masa depan kita.

Dalam situasi yang demikian, maka kita harus menggalang solidaritas dalam bentuk yang lebih fundamental. Bukan sekedar solidaritas sesaat seperti yang selama ini kita tunjukkan ketika terjadi bencana.

Tahun 2005 ini sudah selayaknya dijadikan Tahun Keprihatinan Nasional. Segenap komponen anak bangsa harus hidup dalam suasana prihatin, dengan meminimalkan aktivitas-aktivitas yang membebani keuangan negara secara tidak perlu. Pemerintah perlu memberi penjelasan tentang sektor-sektor yang dapat memboroskan keuangan negara, serta memimpin dan memberi contoh penghematan. Ini bisa dilakukan, misalnya, dengan memotong atau menghilangkan fasilitas mewah yang selama ini dinikmati oleh pejabat negara dalam bentuk rumah, mobil, atau kegiatan jalan-jalan ke luar negeri.

Kita harus sedapat mungkin membangun kembali Aceh dengan dana yang digali dari sumber-sumber dalam negeri. Hutang luar negeri baru harus ditekan pada tingkat yang seminimal mungkin. Dan yang paling penting, pembangunan kembali Aceh harus bebas dari segala bentuk penyelewengan.

wordpress plugins and themes

Leave a Reply