Ajal dan Kematian

13 April 2008

“Andai ku tahu, kapan tiba ajalku.” Ungu

Kapan ajal kita? Orang beragama, khususnya Islam, mengatakan tak tahu. Yang pasti kematian itu datang, tapi tak seorangpun tahu kapan tibanya. Waktu kematian seseorang adalah misteri yang tidak diketahui manusia. Dalam Islam waktu kematian adalah sesuatu yang sudah fixed, hanya Allah yang tahu, dan ia tak mungkin dimajukan atau dimundurkan.

Apakah kita demikian tak berdaya terhadap ajal?

Dr. Robert Butler mengatakan hal yang berbeda. Seperti dikutip oleh Hendrawan Nadesul dalam sebuah kolomnya di Tempo, manusia punya potensi untuk hidup selama 120 tahun. Kematian sebelum itu dianggap kematian dini (premature death) atau kematian sebelum ajal.

Menurut Nadesul, berapa lama kita hidup, sangat ditentukan oleh cara hidup kita. Ia mengibaratkan dengan gelas. Kita masing-masing diberi gelas, yang volumenya 120 tahun tadi. Nah, kita lah yang menentukan apakah gelas itu akan terisi 3/4, 1/2, atau cuma 1/4 nya.

Penjelasan ini bagi saya lebih masuk akal ketimbang penjelasan versi agama. Fakta menunjukkan bahwa angka harapan hidup di negera maju, yang tingkat pelayanan kesehatannya baik, jauh lebih tinggi dari negara miskin. Masih dari kolom Nadesul tadi, harapan hidup penduduk Boswana 37 tahun, sedangkan Amerika 78 tahun. Fakta ini lebih mudah dijelaskan dengan konsep Nadesul tadi ketimbang konsep ajal yang misterius itu.

Bagi saya konsep ajal yang misterius itu salah satu produk mistisme yang merupakan tulang punggung agama-agama. Di masa ketika agama- agama lahir, manusia begitu tak berdaya terhadap kematian, karena nyaris tidak ada teknologi pengobatan. Mistisme selalu mengasosiasikan semua hal di luar jangkauan kepada eksistensi tuhan. Maka kematianpun lalu diasosiasikan sebagai kuasa tuhan yang sudah fixed.

wordpress plugins and themes

2 Responses to “Ajal dan Kematian”

  1. Mas Tato Says:

    Bagaimana dengan orang yg tiba-tiba kunduran trek Kang, sing lagi mlaku terus keno peluru nyasar, lagi turu ketiban montor mabur, terus wong sing numpak pesawat ra sido mati soale tikete dikekke uwong, Koyo kancane Pak Jazi, dosen ITS, sing wis menjaga kesehatan dengan ngrowot, ati-ati di jalan, ning tetep meninggal karena kecelakaan, wis ati2 lho kang?…hehehe
    =
    jadi sing tok omongke kuwi mungkin kondisi normal, umum, sunatullah/hukum alam, sing njaga kesehatan dan kualitas hidup lebih tinggi harapan usia hidup, ning banyak juga sing keno kasus khusus, tetep mati muda walau wis diupayakke karna sesuatu yg tak mampu dicerna akal :D
    =
    yo Allah kan tidak akan semena-mena menyalahi sunatullah, wis digawe hukum alam/sunatullah, jadi semua sudah berjalan sesuai Hukum-Nya, anomali tetep ono ning ora okeh..
    =
    kuwi menurutku Kang…oleh to bedo…heheheh

  2. Hasanudin Abdurakhman Says:

    Sama saja. Tingkat kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, dll, berbanding lurus dengan kemajuan negara. Artinya angkanya bisa “direkayasa”. Pada negara-negara yang disiplin lalu lintasnya tinggi, tingkat kecelakaan akan turun.

    Tapi sekali lagi, ini skala makro. Kalau dilihat dari sisi mikro, sangat kasuistik, polanya ndak akan terlihat.

Leave a Reply