Melampaui Persaudaraan Islam
5 January 2009“I am really angry with you.” kata teman saya. Ketika itu saya adalah visiting scientist di Kumamoto University, Jepang. Teman saya itu masih berstatus mahasiswa S3. Kebetulan kami satu fakultas, dan gedung yang kami tempati berdekatan, sehingga di waktu-waktu luang kami sering saling mengunjungi.
Dia orang Tunisia. Badannya tinggi besar, dan wajahnya dihiasi jenggot dan cambang. Ketika dia mengatakan hal itu tadi wajahnya memang tampak seram. Tapi saya masih bisa santai dan nyengir, karena saya fikir dia sedang bercanda. Tapi dia bilang sekali lagi dengan tegas, “I am serious, brother. I am angry with you.”katanya. Lalu saya mulai menanggapi dia dengan serius.
Ini terjadi tahun 2002. Ketika itu saya baru saja selesai kuliah S3. Selesai belajar saya tidak langsung kembali ke Indonesia, karena ada tawaran untuk bekerja sebagai visiting scientist selama 2 tahun. Saya terima tawaran itu. Karena selama belajar di program S3 saya tidak pulang, saya gunakan sedikit waktu yang ada untuk pulang ke Indonesia. Sekedar berlibur, juga mengurus beberapa dokumen perizinan karena waktu itu saya masih berstatus PNS. Tapi yang terpenting adalah memperkenalkan putri pertama saya ke keluarga di Indonesia.
Sarah, putri pertama saya, lahir saat saya sedang menulis disertasi, di musim dingin tahun 2002. Saat saya selesai belajar dia sudah berumur 7 bulan. Seusia itu, hanya kakek dan nenek dari pihak istri saya yang pernah melihat Sarah. Mereka datang berkunjung menjelang Sarah lahir. Anggota keluarga yang lain belum pernah melihat. Maka kami putuskan untuk membawa dia pulang kampung.
Menjelang pulang, kami pindah apartemen. Karena sibuk, kami benar-benar hanya memindahkan barang-barang ke apartemen baru. Tidak ada waktu untuk mengeluarkanya dari kardus. Apalagi menatanya.
Begitulah. Setelah selama kurang lebih sebulan berkumpul dengan handai tolan, kami pun kembali ke Kumamoto dengan penerbangan malam hari pada rute rute Jakarta-Kuala Lumpur-Fukuoka selama kurang lebih 8 jam, disambung dengan perjalanan darat selama 2 jam dari Fukuoka ke Kumamoto. Sampai di rumah dalam lelah kami harus mulai menata barang-barang pindahan, sambil tentu saja mengasuh bayi.
Saat berniat memindahkan sebuah kotak, istri saya merasakan sakit pada pinggangnya, hingga dia tidak bisa bergerak. Sedikit gerakan saja akan membuat dia menjerit kesakitan. Akhirnya dia hanya bisa terbaring tak berdaya. Saya duga ini akibat kelelahan. Sepanjang penerbangan dia harus tidur bersandar di sandaran kursi, sambil memeluk bayi. Ini mungkin memberi beban yang berlebih pada otot-otot punggungnya. Dan kelelahan itu mencapai puncak ketika dia mencoba mengangkat beban berat.
Setelah 1-2 jam mencoba meringankan rasa sakit istri saya tanpa hasil akhirnya saya telepon layanan gawat darurat untuk meminta bantuan ambulans. Lima menit kemudian ambulans datang. (Ya, layanan ambulans dan pemadam kebakaran di Jepang diset sedemikian rupa sehingga penelpon bisa mendapat layanan paling lambat 5 menit setelah ia menelpon). Istri saya dibawa ke rumah sakit terdekat. Saya mendampinginya di ambulans sambil menggendong bayi yang baru berumur 9 bulan.
Di rumah sakit dokter memutuskan bahwa istri saya harus menjalani rawat inap. Ini adalah masalah. Soal pekerjaan, karena status saya peneliti, saya bisa agak fleksibel dalam soal jadwal. Membolos beberapa hari masih bisa diizinkan, yang penting target pekerjaan nantinya bisa dikejar. Masalahnya adalah bayi saya. Dia harus mendapat air susu dari ibunya beberapa kali sehari. Padahal jarak dari rumah sakit ke apartemen saya cukup jauh, dan saya tidak punya kendaraan (mobil). Yang saya punya hanyalah sepeda. Tidak mungkin jarak itu bisa saya tempuh berkali-kali sehari dengan sepeda. Pun anak saya tidak bisa ikut menginap bersama ibunya.
Untunglah dewa penolong datang pada saat yang tepat. Sebenarnya lebih cocok saya sebut dengan dewi-dewi penolong. Mereka adalah dua orang nenek, orang Jepang. Mereka ini tadinya adalah “murid” saya. Ceritanya saat jadi mahasiswa saya bekerja paruh waktu, mengajar bahasa Inggris. Pesertanya adalah orang-orang tua pensiunan yang ingin mengisi waktu luang, dan ibu-ibu rumah tangga. Bagi saya ini lebih cocok disebut kelompok minum teh karena mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar belajar. Yang saya ajarkan minggu ini seringkali tidak pernah benar-benar mereka ingat pada pertemuan berikutnya. Karenanya saya lebih sering mengisi forum ini dengan obrolan tentang berbagai hal, termasuk memperkenalkan budaya Indonesia. Tentu saja dalam bahasa Jepang, bukan bahasa Inggris.
Selayaknya klub ibu-ibu, acara di forum ini senantiasa dibumbui dengan pertukaran kue, bumbu dapur, teh, sayuran, buah, atau acar (tsuke mono) hasil karya ibu-ibu itu dalam rangka mengisi waktu luang mereka. Sebagai yang bukan ibu-ibu, apalagi dengan status saya sebagai sensei (guru), saya lebih sering jadi penerima ketimbang penukar. Dan terkadang pemberian itu dalam porsi yang agak berlebihan.
Suatu ketika, saat saya menunjukkan minat pada beras organik, dua orang nenek tadi menganugerahi saya dengan sekarung beras. Tepat menjelang saya pulang ke tanah air, mereka menjanjikan akan membawakan lagi sekarung. Karena saya tidak di rumah, saya minta mereka untuk menundanya. Nah, saat berniat mengantarkan beras itulah mereka menemukan saya sedang merana: mengasuh bayi di rumah berantakan, sementara istri saya terbaring di rumah sakit. Mereka, secara otomatis mengambil inisiatif membantu membereskan rumah. Lebih tepat disebut merekalah yang membereskan rumah saya, karena saya lebih banyak mengurus bayi. Duh, saya sampai bingung. Mereka membelikan makanan, juga beberapa perabot kecil yang mereka anggap saya butuhkan. Pada saat diperlukan salah satu dari mereka menyupiri saya ke rumah sakit, agar anak saya bisa menyusu.
Setelah 4 hari menjalani rawat inap istri saya diperbolehkan pulang. Karena merasa lega saya mengirim e-mail ke komunitas muslim di Kumamoto, memberitakan bahwa istri saya sakit, tapi sudah sembuh. Inilah yang membuat teman saya tadi marah. Dia menganggap saya lebih memilih orang Jepang, yang non-muslim, sebagai tempat berbagi, ketimbang saudara saya sesama muslim.
Saya tidak ingin mendebat teman saya itu, karena saya tahu itu hal yang percuma. Tentu saja saya sadar soal persaudaraan sesama muslim. Saya sering menikmati hal yang indah melalui hal itu. Tapi pada saat yang sama, hal itu tidak pernah membuat saya membatasi pergaulan.
Selain itu, soal bantuan tadi cuma soal kebetulan. Kebetulan dua nenek tadilah yang pertama menemukan kami, sebelum saya sempat minta tolong kepada pihak lain. Kebetulan pula mereka ini adalah orang kaya, dalam arti berlebih dalam soal harta, juga soal waktu, karena mereka pensiunan. Bantuan-bantuan yang mereka berikan kepada saya kecil nilainya untuk ukuran finansial mereka. Itu tentu jumlah yang besar bagi anggota komunitas muslim kota kami yang sebagian besar adalah mahasiswa itu. Lalu, dua orang nenek ini punya waktu luang hampir sehari penuh, yang tentu saja tidak dimiliki oleh seorang mahasiswa asing di Jepang. Jadi saya sedikit merasa nyaman kalau saya “hanya” merepotkan dua orang nenek ini, tanpa perlu merepotkan rekan saya yang lain. Toh bantuan dari mereka sudah lebih dari cukup. Makanya saya memilih untuk tidak mengabarkan situasi keluarga saya sampai istri saya sembuh.
Kembali ke soal persaudaraan muslim. Saya sering menikmati hal ini. Banyak teman saya sesama pelajar asing di Jepang dari berbagai bangsa yang tanpa pamrih membantu saya dalam berbagai hal. Ini bagi saya luar biasa indah, mengingat kami tidak punya hubungan kekerabatan. Bertemu saja karena kebetulan, sama-sama berada di negeri asing.
Tapi setelah saya fikir lagi, tidak hanya agama yang bisa mengikat demikian kuat. Ada teman saya sejak sama-sama masih belajar bahasa Jepang di Kuala Lumpur, orang Filipina, katolik, yang juga sangat dekat hubungannya dengan saya. Dia malah merasa saya lebih dekat daripada teman dia sesama orang Filipina.
Ada pula seorang nenek Jepang yang lain. Anak perempuannya sempat belajar bahasa Indonesia pada istri saya. Namun hubungan kami melampaui hal itu. Dia rutin mengunjungi kami. Saat saya harus ke luar kota untuk urusan kuliah, dia sampai menginap di apartemen saya, menemani istri dan bayi saya. Ini terjadi beberapa kali.Dan masih banyak yang lain. Tidak bisa saya sebut satu-satu. Intinya, kami berteman, saling membantu, tanpa perlu ada ikatan khusus yang mempertautkan, kecuali, tentu saja, bahwa kami sama-sama manusia.
Persaudaraan Islam, bagi saya sangat indah. Tapi ini masih membutuhkan sebuah syarat: bahwa kita seagama. Persaudaraan antar sesama manusia adalah persaudaraan tanpa syarat. Persaudaraan Islam, kadang saya rasakan berat syaratnya. Karena ada semacam keharusan untuk meninggalkan atau setidaknya mengurangi persaudaraan dalam bentuk lain, dengan umat lain, seperti yang diekspresikan oleh teman saya tadi. Ini kadang terasa sebagai beban. Dan saya memilih untuk melampauinya.
January 5th, 2009 at 19:08
Si teman itu barangkali nggak tahu kalau Kang Hasan bukan Muslim.
Btw, aku kok baru tahu ada persaudaraan Islam yg punya syarat seperti di cerita di atas ya?
January 6th, 2009 at 09:01
Ya memang begitulah Kang…katanya memang banyak yg mungkin terasa “nggak enak” di dunia ini buat seorang muslim termasuk dlm soal interaksi sosial yg namanya pertemanan/persahabatan/persaudaraan ato entah apa kata laennya krn smua ada aturan maennya klo di Islam…tapi insya allah nanti akan mendapat balasan yg “sangat enak” kelak klo kita bs melewatinya melalui “garis” yg sudah ditentukan.
January 6th, 2009 at 09:47
maksudnya gimana sih jeng tatik? apakah menurut anda islam memang mengajarkan untuk lebih mementingkan saudara seagama dan mengurangi interaksi dengan yang lain? dan sebagai imbalannya nanti di akhirat dapat bla bla bla gitu?
January 6th, 2009 at 10:30
setau saya dalam islam itu sauadara itu ya berarti yg seiman, Kang Hasan kan lbh pakar pasti tau lah. kalo yg nggak seiman alias bukan islam ya nggak bisa disebut sodara lah. Saya pernah mengikuti pengajian dan memang kita disarankan untuk membatasi ( sama nggak ya dengan mengurangi?) pergaulan dengan yg nggak seiman..untuk menhindari hal2 yg nggak diinginkan…sbg contoh narkoba, itu jelas nggak baik buat kita..makanya lbh baik dihindari drpd nanti nyoba trus ketagiahan.
begitupula denga pergaulan dengan yg ngga seiman..kita memang nggak seharusnya merecoki mereka ( kan agamu agamamu dan agamaku agamaku)..tp biar nggak terlalu mendarah daging hubungannya mendingan jaga jarak en nggak terlalu akrab. ya imbalan untuk orang yg bisa brejalan di “garis” nya ya surga lah Kang…tapi emang nggak mudah ya berjalan lurus terus..hehe..
January 6th, 2009 at 12:02
wah, maaf nih saya jadi ikut menanggapi, bukan bermaksud ikut campur, tapi gak tahan aja..
saya fikir pemahaman dari jeng Tatik, yang menganggap persaudaraan itu “hanya” dalam relasi sesama Islam terlalu sederhana dan tidak masuk akal untuk sebuah agama seperti Islam. barangkali persoalan pemahaman kita saja yang berbeda, tapi bagi saya Islam tidak membatasi bersahabat dengan siapa saja. asalkan persahabatan itu membawa kebaikan.
saya menganggap siapa yang Islam dan yang tidak adalah prerogatif dari Tuhan, tapi kalau yang dimaksud siapa yang Islam secara identitas-lah yang bisa di jadikan sahabat saya tidak sepakat. untuk banyak hal orang yang tidak Islam secara identitas, lebih Islamois dibandingkan yang mengusung ID ke mana-mana sebagai Islam.
salam
saya Abdul Rahman, baca tulisan kang Hasan di Milis ICRP,
salam kenal
PS: kenapa “sutan paruik gadang” kang???
January 6th, 2009 at 16:07
waduh, itu ngajinya di mana jeng tatik? kamu ingat nggak, siapa yang didatangi oleh nabi ketika dia menerima wahyu pertama? itu waraqah bin naufal, seorang kristen.
lagian saya heran, kok bergaul dengan orang beragama lain bisa mendangkalkan akidah? apalagi dianalogikan dengan narkoba. nggak tepat deh.
bagaimana mungkin kita yang nggak seiman nggak bisa disebut bersaudara, padahal kita berasal dari satu keturunan. ya bersaudara dong.
untuk mas abdul rahman, terima kasih atas komentarnya. saya sepakat dengan anda. btw, ambo sutan paruik gadang karana paruik ambo gadang bana…….
January 7th, 2009 at 11:14
Duh..maap maap..rupanya saya ada salah tulis sehingga menimbulkan salah pehaman, saya sadar kok Islam tu nggak picik…maksud saya begaul boleh dengan siapa saja, spt sy blg sebelumnya agamamu agamamu dan agamaku agamaku dan kit aga boleh merecoki orang laen..
Bahkan seorang muslim pun bisa menikah dengan non muslim asalkan si non muslim itu pindah agama saat dan setelah menikah..
cuma saya mau negesin sekali lagi ajah..biar kita boleh dan bebas bergaul, berteman ato entah apa namanya dengan yg ga seiman akan tetapi bukannya yg namanya “sodara” yg sebenarnya itu ya yg seiman?
saya sendiri byk temen yg non..tp frankly emang nggak seakrab temen2 dr yg seiman..soalnya byk hal yg membatasi tentu saja…contoh plg sederhana : saat kemaren orang nasrani merayakan natal, kita sebagai muslim kan nggak bisa ngucapin selamat natal ke mereka? bener kan?
January 8th, 2009 at 16:08
Agama itu tidak membatasi. Setahu saya sih agama itu ada untuk mengatur, memberi arahan/petunjuk, mencerahkan, meng-inspirasi ke arah kebaikan.
Kalau kita tahu suatu hal itu suatu hal yang baik, tapi agama malah membatasi untuk tidak melakukannya, jadinya gimana dong Kang Hasan?
January 8th, 2009 at 16:56
salah jeng. ndak ada dalil yang kuat yang melarang umat islam mengucapkan selamat natal. itu cuma logika sebagian orang MUI. kamu pernah mbaca fatwanya? aku pernah.
dasar berfikirnya begini. isa itu oleh orang islam dianggap nabi, tapi oleh orang kristen dianggap tuhan. yang percaya sama kepercayaan kristen itu kafir.
nah, mengucapkan selamat natal, bagi para ulama MUI, berarti kita mengucapkan selamat atas kelahiran yesus, tuhannya orang kristen. dus, berarti kita ikut mempercayai hal itu, yaitu bahwa isa/yesus itu tuhan.
nggak nyambung banget kan?
tapi aku mafhum, karena fatwa itu keluar tahun 80-an. kamu mungkin nggak ngalami. situasi psikologis waktu itu sangat kencang ada ajakan berlebihan pasa pluralisme, prinsipnya semua agama itu baik. cenderung campur aduk. sampek2 ali murtoto menyalakan lilin natal dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim.
ini yang mendorong ulama mengeluarkan fatwa. jadi sangat situasional sifatnya.
January 9th, 2009 at 13:27
Jadi begitu ya Kang ceritanya…maklumlah saya ini kan msh bau kencur….mungkin memang perlu belajar dan menggali lbh dalam lagi..biar nggak sesat hehehe…
Anyways, thanks buat pencerahannya yach.Wass.
January 11th, 2009 at 17:09
buat informasi saja nih jeng,
nanggapin statement sebelumnya, tentang pernikahan beda keyakinan, yang jeng sebut bisa terlaksana dengan syarat bahwa pasangan harus seiman kemudian (kurang lebih artinya seperti itu ya), barangkali harus di tunda dulu.
sekarang ini justru sudah banyak pasangan2 yang sudah hidup bahagia tanpa menggugat sedikitpun keyakinan masing-masing. dasar teologis, sosiologis antropologisnya tentu saja menguatkan pandangan ini.
coba gabung dengan milis ICRP, kang Hasan salah satu anggota nya tuh..atau cari Buku Fikih Lintas Agama, Passing Over, dan dua buah buku yang di terbitkan ICRP yang di tulis oleh Akhmad Nurcholis tentang pernikahan beda agama. saya fikir bagus.
trimakasih.
buat da hasan
, sepertinya kita berangkat dari latar belakang culture yang sama. atau kebetulan saja..?!
anyway..alah tu da, diet lay diet!!!
January 12th, 2009 at 11:26
kalau soal nikah atau fikih lintas agama, saya khawatir itu akan jadi kontroversi. bagi orang awam itu akan sulit diterima.
kalau saya lebih suka menggunakan dalil yang sangat qath’i dari quran sendiri. misalnya, kalau kebetulan orang tua kita berbeda agama, agama tetap menyuruh kita untuk bergaul dengan mereka dengan cara yg ma’ruf (baik). cara yang sama saya kira bisa diberlakukan terhadap orang lain yg tidak ada hubungan darah dengan kita. kuncinya, akidah kita bisa dijaga dengan prinsip lakum diinukum waliyadiin.
January 15th, 2009 at 18:14
Salam Kenal pak
Ingin juga rasanya ikutan nimbrung,
Yang pertama mengenai perlakuan rekanan anda yang non-muslim ketika istri anda dirawat. Menurut saya itu sah2 saja, begitu ada rekan kita yang mengalami kesusahan walaupun non-muslim wajib kita bantu juga. so..i think its not a big deal
Tapi yang ditakutkan adalah begini, saya melihat kepada diri saya sendiri yang menjadi hutang budi dengan pertolongan orang lain sehingga karena hutang budi itu takutnya dapat melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama. Contohnya, karena anda merasa berhutang budi kepada nenek2 itu, ketika nenek2 itu mengundang anda dan istri minum2 sake di rumahnya karena anda merasa tidak enak maka anda memenuhi undangan tersebut…saya rasa situasi sejenis ini sering terjadi di masyarakat…mungkin KETEGASAN yang kita perlukan.
Mengenai fatwa pelarangan ucapan natal(saya pro pada fatwa ini),
Saya agak ngeri melihat orang yang terlalu berlogika manusia dalam beragama, setahu saya keputusan ulama untuk menjadi suatu fatwa melalui proses pemikiran dengan dasar ilmu2 yang menjadi pakem2 dalam beragama seperti (fikih,dan lain2…) jadi bukan hanya mengandalkan logika manusia biasa saja yang tidak memahami pakem2 yang saya maksud itu…Bukankah Logika manusia masih terbatas???
Contoh nyata orang2 yang hanya mengandalkan logika dalam agama adalah JIL.
Anda termasuk kelompok ini pak???
January 19th, 2009 at 15:04
Pertama, perlu ibu ketahui bahwa orang-orang Jepang itu sangat menghormati agama yang kita anut. 10 tahun saya bergaul dengan mereka, tidak pernah setetespun saya minum sake. Begitu kita kasih tahu bahwa kita ndak boleh minum karena dilarang oleh agama, mereka ndak akan pernah lagi menawarkan.
Soal fatwa ulama, kalau ibu belajar ushul fiqh ibu akan tahu bahwa fatwa ulama itu paling rendah derajatnya dalam hirarki hukum Islam. Menurut ushul fiqh pula, fatwa ulama itu tidak mengikat sifatnya. Kebetulan saya paham tata cara ijtihad (yang ibu sebut pakem) jadi tidak asal berlogika semata.
January 23rd, 2009 at 09:24
Kang Hasan, sori perlu koreksi. Yang difatwakan MUI th 80-an itu bukan larangan memberikan ucapan selamat Natal. Tetapi fatwa itu mengharamkan umat Islam mengikuti Upacara Natal bersama atau kegiatan2 Natal (download fatwa).
Sedangkan larangan memberikan ucapan selamat natal itu lebih merupakan anjuran sebagian umat Islam yang menggunakan logika, bahwa kalau memberikan ucapan selamat itu berarti mengimani yesus sebagai tuhan. Logika inilah yang menurut Kang Hasan gak nyambung. Jadi bukan fatwa MUI.
Salam buat keluarga Kang.
January 23rd, 2009 at 17:15
Lalu apa saja dong yang dimaksud dengan “kegiatan2 natal”, apakah hanya kebaktian di gereja, bernyanyi-nyanyi lagu gospel atau lainnya???
Apakah tidak terlalu naif jika berpikiran seperti itu??
January 29th, 2009 at 15:25
Pak Dillah,
samar-samar saya ingat selebaran fatwa soal ini di tahun 80-an. Sependek ingatan saya, dalam fatwa itu umat Islam dilarang menghadiri perayaan Natal yang di dalamnya terdapat kegiatan ritual (misa). Sementara perayaan yang sifatnya sosial tanpa acara ritual boleh dihadiri.
February 11th, 2009 at 12:18
Ikutan gabung ya Kang…
Aku nih tertarik dengan tulisan ini, dan aku setuju dengan pendapat Kang Hasan. Dari pengalaman aku selama ini, bergaul dengan orang non muslim tidak menimbulkan masalah apa-apa buat aku. Apakah itu Kristen, Hindu, ataupun Budha, Putih, Cina, India. Dan dalam pandangan aku mereka adalah penganut yang fanatik terhadap agamanya, budi pekerti mereka baik dan ‘mempersaudarakan’ aku dengan tulus, bahkan aku bisa akrab dengan keluarga mereka, dengan keluarganya. Tanpa aku ikut dalam acara atau ritual apapun yang mereka lakukan pada saat aku ada bersama mereka. Yang kadang menjadikan aku heran adalah, kadang persaudaraan yang mereka tunjukkan itu lebih alami dari yang aku dapatkan dari sesama muslim. Mungkin kuncinya adalah dari budi pekerti itulah, merasa sebagai sesama manusia yang beritikat baik terhadap sesama. Siapa sih yang mau ‘dijahati’? dalam persaudaraan seperti itu pula lakum diinukum waa liadiin bisa diterapkan.
February 11th, 2009 at 12:34
Ikutan gabung ya Kang…
Aku nih tertarik dengan tulisan ini, dan aku setuju dengan pendapat Kang Hasan. Dari pengalaman aku selama ini, bergaul dengan orang non muslim tidak menimbulkan masalah apa-apa buat aku. Apakah itu Kristen, Hindu, ataupun Budha, Putih, Cina, India. Dan dalam pandangan aku mereka adalah penganut yang fanatik terhadap agamanya, budi pekerti mereka baik dan ‘mempersaudarakan’ aku dengan tulus, bahkan aku bisa akrab dengan keluarga mereka, dengan keluarganya. Tanpa aku ikut dalam acara atau ritual apapun yang mereka lakukan pada saat aku ada bersama mereka dan dengan senang hati mereka akan mengatakan ini kamu ndak boleh makan ini atau itu karena haram, kalau mau sholat di situ, pakai ini, dikasih kamar biar aku bisa buka kerudung dan seterusnya. Yang kadang menjadikan aku heran adalah, kadang persaudaraan yang mereka tunjukkan itu lebih alami dari yang aku dapatkan dari sesama muslim, tapi mungkin karena belum kenal aja, ya? Mungkin kuncinya adalah pada fitrah manusia, untuk mengasihi, berempati, merasa sebagai sesama manusia yang beritikat baik terhadap sesama. Aku pikir kalau kita baik orang lain pun akan baik ke kita. Siapa sih yang mau ‘dijahati’? dalam persaudaraan seperti itu pula aku bisa menerapkan lakum diinukum waa liadiin.
Ada satu pengalaman yang kurang menyenangkan saat aku SMA, kalau peringatan Natal kita wajib hadir, dan diabsen. Salah satu acaranya adalah nyanyian misa yang belakangan aku tahu itu semacam sahadatnya orang Kristen. Teman aku yang kristen yang ngasih tau. Dia cuma bilang, kita keluar aja yuk! Dan kami masih berteman sampai sekarang, kalau pulang kampung aku sempatkan untuk mengunjungi keluarganya.
Itu saja, Kang……
July 26th, 2009 at 11:14
Saya baru tahu, ternyata dalam hal “berteman” ternyata sangat rumit bagi orang Islam. Pantasan, selama ini saya terasa susah sekali bisa berteman dengan orang Islam. Saya mencoba untuk memahami, mungkin tujuan dari pembatasan ini adalah baik yaitu agar tidak mudah terpengaruh hal buruk dalam pergaulan. Salam. Semoga sehat selalu.
August 24th, 2009 at 09:56
we’ll salut buat akang..
terlebih buat postingan tentang Mesjid Yes, Gereja No!
jujur kenapa sih kok kesannya di Indonesia bener2 ada gap antara Islam dan Kristen? why? gara2 Agama?
contoh paling enak klo dilihat di Lebanon. knp ya meeka bisa enak2 aja?
we’ll sampai sekarang gw di UI masih enak2 aja bergaul sama yang namanya non-kristen.. dan teman2 gw yang muslim juga asik2 aja..
sukur ga ada yang militan di FHUI..
ya klo mau dibilang sih klo soal agama ga usah di pakai2 lah.. klo bergaul ya bergaul aja.. klo soal agama ga ada di dunia yang tau agama mana yang benar.. cuma Tuhan di atas yang tau mana yang paling benar.. kita di dunia cuma mempertahankan apa yang kita anggap benar saja.. klo ada kegiatan ibadat agama lain ya mbok kita saling membantu.. bukan dalam hal ikut ibadah ya.. mungkin dalam bantu siap2 makanan, atau bantu jaga keamanan, atau bantu siapin laha parkir.. atau yang lainnya..
semoga Tuhan memberkati Indonesia!
E pluribus unum!!
September 15th, 2009 at 13:24
Kang Hasan, Sutan Paruik Gadang, onde…
Kang Hasan nulisnya dengan frase persaudaraan Islam.
Cuma kok saya lebih sreg kalau kejadian di atas dihubungkan dengan hadits-hadits nabi tentang hidup bertetangga. Dan sepemahaman saya, tetangga itu ga harus muslim.
September 16th, 2009 at 09:18
iya pak, memang nabi mengajarkan untuk berbuat baik pada tetangga.