<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Melampaui Persaudaraan Islam</title>
	<atom:link href="http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/melampaui-persaudaraan-islam-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/melampaui-persaudaraan-islam-2/</link>
	<description>tempat ngobrol ngalor-ngidul</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Sep 2010 02:11:32 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<item>
		<title>By: Hasanudin Abdurakhman</title>
		<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/melampaui-persaudaraan-islam-2/comment-page-1/#comment-281</link>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 02:18:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=219#comment-281</guid>
		<description>iya pak, memang nabi mengajarkan untuk berbuat baik pada tetangga.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>iya pak, memang nabi mengajarkan untuk berbuat baik pada tetangga.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rifki</title>
		<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/melampaui-persaudaraan-islam-2/comment-page-1/#comment-276</link>
		<dc:creator>rifki</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 06:24:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=219#comment-276</guid>
		<description>Kang Hasan, Sutan Paruik Gadang, onde...

Kang Hasan nulisnya dengan frase persaudaraan Islam.
Cuma kok saya lebih sreg kalau kejadian di atas dihubungkan dengan hadits-hadits nabi tentang hidup bertetangga. Dan sepemahaman saya, tetangga itu ga harus muslim.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kang Hasan, Sutan Paruik Gadang, onde&#8230;</p>
<p>Kang Hasan nulisnya dengan frase persaudaraan Islam.<br />
Cuma kok saya lebih sreg kalau kejadian di atas dihubungkan dengan hadits-hadits nabi tentang hidup bertetangga. Dan sepemahaman saya, tetangga itu ga harus muslim.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Michael</title>
		<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/melampaui-persaudaraan-islam-2/comment-page-1/#comment-244</link>
		<dc:creator>Michael</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 02:56:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=219#comment-244</guid>
		<description>we&#039;ll salut buat akang.. :D terlebih buat postingan tentang Mesjid Yes, Gereja No!
jujur kenapa sih kok kesannya di Indonesia bener2 ada gap antara Islam dan Kristen? why? gara2 Agama?
contoh paling enak klo dilihat di Lebanon. knp ya meeka bisa enak2 aja?

we&#039;ll sampai sekarang gw di UI masih enak2 aja bergaul sama yang namanya non-kristen.. dan teman2 gw yang muslim juga asik2 aja.. :D sukur ga ada yang militan di FHUI..

ya klo mau dibilang sih klo soal agama ga usah di pakai2 lah.. klo bergaul ya bergaul aja.. klo soal agama ga ada di dunia yang tau agama mana yang benar.. cuma Tuhan di atas yang tau mana yang paling benar.. kita di dunia cuma mempertahankan apa yang kita anggap benar saja.. klo ada kegiatan ibadat agama lain ya mbok kita saling membantu.. bukan dalam hal ikut ibadah ya.. mungkin dalam bantu siap2 makanan, atau bantu jaga keamanan, atau bantu siapin laha parkir.. atau yang lainnya.. :D

semoga Tuhan memberkati Indonesia!

E pluribus unum!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>we&#8217;ll salut buat akang.. <img src='http://berbual.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  terlebih buat postingan tentang Mesjid Yes, Gereja No!<br />
jujur kenapa sih kok kesannya di Indonesia bener2 ada gap antara Islam dan Kristen? why? gara2 Agama?<br />
contoh paling enak klo dilihat di Lebanon. knp ya meeka bisa enak2 aja?</p>
<p>we&#8217;ll sampai sekarang gw di UI masih enak2 aja bergaul sama yang namanya non-kristen.. dan teman2 gw yang muslim juga asik2 aja.. <img src='http://berbual.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  sukur ga ada yang militan di FHUI..</p>
<p>ya klo mau dibilang sih klo soal agama ga usah di pakai2 lah.. klo bergaul ya bergaul aja.. klo soal agama ga ada di dunia yang tau agama mana yang benar.. cuma Tuhan di atas yang tau mana yang paling benar.. kita di dunia cuma mempertahankan apa yang kita anggap benar saja.. klo ada kegiatan ibadat agama lain ya mbok kita saling membantu.. bukan dalam hal ikut ibadah ya.. mungkin dalam bantu siap2 makanan, atau bantu jaga keamanan, atau bantu siapin laha parkir.. atau yang lainnya.. <img src='http://berbual.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>semoga Tuhan memberkati Indonesia!</p>
<p>E pluribus unum!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mahardika</title>
		<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/melampaui-persaudaraan-islam-2/comment-page-1/#comment-219</link>
		<dc:creator>Mahardika</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 04:14:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=219#comment-219</guid>
		<description>Saya baru tahu, ternyata dalam hal &quot;berteman&quot; ternyata sangat rumit bagi orang Islam. Pantasan, selama ini saya terasa susah sekali bisa berteman dengan orang Islam. Saya mencoba untuk memahami, mungkin tujuan dari pembatasan ini adalah baik yaitu agar tidak mudah terpengaruh hal buruk dalam pergaulan. Salam. Semoga sehat selalu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya baru tahu, ternyata dalam hal &#8220;berteman&#8221; ternyata sangat rumit bagi orang Islam. Pantasan, selama ini saya terasa susah sekali bisa berteman dengan orang Islam. Saya mencoba untuk memahami, mungkin tujuan dari pembatasan ini adalah baik yaitu agar tidak mudah terpengaruh hal buruk dalam pergaulan. Salam. Semoga sehat selalu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rahma.SK</title>
		<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/melampaui-persaudaraan-islam-2/comment-page-1/#comment-96</link>
		<dc:creator>Rahma.SK</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 05:34:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=219#comment-96</guid>
		<description>Ikutan gabung ya Kang...
Aku nih tertarik dengan tulisan ini, dan aku setuju dengan pendapat Kang Hasan. Dari pengalaman aku selama ini, bergaul dengan orang non muslim tidak menimbulkan masalah apa-apa buat aku. Apakah itu Kristen, Hindu, ataupun Budha, Putih, Cina, India. Dan dalam pandangan aku mereka adalah penganut yang fanatik terhadap agamanya, budi pekerti mereka baik dan &#039;mempersaudarakan&#039; aku dengan tulus, bahkan aku bisa akrab dengan keluarga mereka, dengan keluarganya. Tanpa aku ikut dalam acara atau ritual apapun yang mereka lakukan pada saat aku ada bersama mereka dan dengan senang hati mereka akan mengatakan ini kamu ndak boleh makan ini atau itu karena haram, kalau mau sholat di situ, pakai ini, dikasih kamar biar aku bisa buka kerudung dan seterusnya. Yang kadang menjadikan aku heran adalah, kadang persaudaraan yang mereka tunjukkan itu lebih alami dari yang aku dapatkan dari sesama muslim, tapi mungkin karena belum kenal aja, ya? Mungkin kuncinya adalah pada fitrah manusia, untuk mengasihi, berempati, merasa sebagai sesama manusia yang beritikat baik terhadap sesama. Aku pikir kalau kita baik orang lain pun akan baik ke kita. Siapa sih yang mau &#039;dijahati&#039;? dalam persaudaraan seperti itu pula aku bisa menerapkan lakum diinukum waa liadiin. 
Ada satu pengalaman yang kurang menyenangkan saat aku SMA, kalau peringatan Natal kita wajib hadir, dan diabsen. Salah satu acaranya adalah nyanyian misa yang belakangan aku tahu itu semacam sahadatnya orang Kristen.  Teman aku yang kristen yang ngasih tau. Dia cuma bilang, kita keluar aja yuk! Dan kami masih berteman sampai sekarang, kalau pulang kampung aku sempatkan untuk mengunjungi keluarganya. 
Itu saja, Kang......</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ikutan gabung ya Kang&#8230;<br />
Aku nih tertarik dengan tulisan ini, dan aku setuju dengan pendapat Kang Hasan. Dari pengalaman aku selama ini, bergaul dengan orang non muslim tidak menimbulkan masalah apa-apa buat aku. Apakah itu Kristen, Hindu, ataupun Budha, Putih, Cina, India. Dan dalam pandangan aku mereka adalah penganut yang fanatik terhadap agamanya, budi pekerti mereka baik dan &#8216;mempersaudarakan&#8217; aku dengan tulus, bahkan aku bisa akrab dengan keluarga mereka, dengan keluarganya. Tanpa aku ikut dalam acara atau ritual apapun yang mereka lakukan pada saat aku ada bersama mereka dan dengan senang hati mereka akan mengatakan ini kamu ndak boleh makan ini atau itu karena haram, kalau mau sholat di situ, pakai ini, dikasih kamar biar aku bisa buka kerudung dan seterusnya. Yang kadang menjadikan aku heran adalah, kadang persaudaraan yang mereka tunjukkan itu lebih alami dari yang aku dapatkan dari sesama muslim, tapi mungkin karena belum kenal aja, ya? Mungkin kuncinya adalah pada fitrah manusia, untuk mengasihi, berempati, merasa sebagai sesama manusia yang beritikat baik terhadap sesama. Aku pikir kalau kita baik orang lain pun akan baik ke kita. Siapa sih yang mau &#8216;dijahati&#8217;? dalam persaudaraan seperti itu pula aku bisa menerapkan lakum diinukum waa liadiin.<br />
Ada satu pengalaman yang kurang menyenangkan saat aku SMA, kalau peringatan Natal kita wajib hadir, dan diabsen. Salah satu acaranya adalah nyanyian misa yang belakangan aku tahu itu semacam sahadatnya orang Kristen.  Teman aku yang kristen yang ngasih tau. Dia cuma bilang, kita keluar aja yuk! Dan kami masih berteman sampai sekarang, kalau pulang kampung aku sempatkan untuk mengunjungi keluarganya.<br />
Itu saja, Kang&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rahma.SK</title>
		<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/melampaui-persaudaraan-islam-2/comment-page-1/#comment-95</link>
		<dc:creator>Rahma.SK</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 05:18:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=219#comment-95</guid>
		<description>Ikutan gabung ya Kang...
Aku nih tertarik dengan tulisan ini, dan aku setuju dengan pendapat Kang Hasan. Dari pengalaman aku selama ini, bergaul dengan orang non muslim tidak menimbulkan masalah apa-apa buat aku. Apakah itu Kristen, Hindu, ataupun Budha, Putih, Cina, India. Dan dalam pandangan aku mereka adalah penganut yang fanatik terhadap agamanya, budi pekerti mereka baik dan &#039;mempersaudarakan&#039; aku dengan tulus, bahkan aku bisa akrab dengan keluarga mereka, dengan keluarganya. Tanpa aku ikut dalam acara atau ritual apapun yang mereka lakukan pada saat aku ada bersama mereka. Yang kadang menjadikan aku heran adalah, kadang persaudaraan yang mereka tunjukkan itu lebih alami dari yang aku dapatkan dari sesama muslim. Mungkin kuncinya adalah dari budi pekerti itulah, merasa sebagai sesama manusia yang beritikat baik terhadap sesama. Siapa sih yang mau &#039;dijahati&#039;? dalam persaudaraan seperti itu pula lakum diinukum waa liadiin bisa diterapkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ikutan gabung ya Kang&#8230;<br />
Aku nih tertarik dengan tulisan ini, dan aku setuju dengan pendapat Kang Hasan. Dari pengalaman aku selama ini, bergaul dengan orang non muslim tidak menimbulkan masalah apa-apa buat aku. Apakah itu Kristen, Hindu, ataupun Budha, Putih, Cina, India. Dan dalam pandangan aku mereka adalah penganut yang fanatik terhadap agamanya, budi pekerti mereka baik dan &#8216;mempersaudarakan&#8217; aku dengan tulus, bahkan aku bisa akrab dengan keluarga mereka, dengan keluarganya. Tanpa aku ikut dalam acara atau ritual apapun yang mereka lakukan pada saat aku ada bersama mereka. Yang kadang menjadikan aku heran adalah, kadang persaudaraan yang mereka tunjukkan itu lebih alami dari yang aku dapatkan dari sesama muslim. Mungkin kuncinya adalah dari budi pekerti itulah, merasa sebagai sesama manusia yang beritikat baik terhadap sesama. Siapa sih yang mau &#8216;dijahati&#8217;? dalam persaudaraan seperti itu pula lakum diinukum waa liadiin bisa diterapkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Hasanudin Abdurakhman</title>
		<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/melampaui-persaudaraan-islam-2/comment-page-1/#comment-92</link>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 08:25:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=219#comment-92</guid>
		<description>Pak Dillah,
samar-samar saya ingat selebaran fatwa soal ini di tahun 80-an. Sependek ingatan saya, dalam fatwa itu umat Islam dilarang menghadiri perayaan Natal yang di dalamnya terdapat kegiatan ritual (misa). Sementara perayaan yang sifatnya sosial tanpa acara ritual boleh dihadiri.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Dillah,<br />
samar-samar saya ingat selebaran fatwa soal ini di tahun 80-an. Sependek ingatan saya, dalam fatwa itu umat Islam dilarang menghadiri perayaan Natal yang di dalamnya terdapat kegiatan ritual (misa). Sementara perayaan yang sifatnya sosial tanpa acara ritual boleh dihadiri.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dillah</title>
		<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/melampaui-persaudaraan-islam-2/comment-page-1/#comment-88</link>
		<dc:creator>dillah</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 10:15:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=219#comment-88</guid>
		<description>Lalu apa saja dong yang dimaksud dengan &quot;kegiatan2 natal&quot;, apakah hanya kebaktian di gereja, bernyanyi-nyanyi lagu gospel atau lainnya???

Apakah tidak terlalu naif jika berpikiran seperti itu??</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Lalu apa saja dong yang dimaksud dengan &#8220;kegiatan2 natal&#8221;, apakah hanya kebaktian di gereja, bernyanyi-nyanyi lagu gospel atau lainnya???</p>
<p>Apakah tidak terlalu naif jika berpikiran seperti itu??</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: joko sudiyono</title>
		<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/melampaui-persaudaraan-islam-2/comment-page-1/#comment-87</link>
		<dc:creator>joko sudiyono</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 02:24:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=219#comment-87</guid>
		<description>Kang Hasan, sori perlu koreksi. Yang difatwakan MUI th 80-an itu bukan larangan memberikan ucapan selamat Natal. Tetapi fatwa itu mengharamkan umat Islam mengikuti Upacara Natal bersama atau kegiatan2 Natal (&lt;a href=&quot;http://www.mui.or.id/files/Fatwa%20Perayaan%20Natal%20Bersama.pdf&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;download fatwa&lt;/a&gt;).
Sedangkan larangan memberikan ucapan selamat natal itu lebih merupakan anjuran sebagian umat Islam yang menggunakan logika, bahwa kalau memberikan ucapan selamat itu berarti mengimani yesus sebagai tuhan. Logika inilah yang menurut Kang Hasan gak nyambung. Jadi bukan fatwa MUI.

Salam buat keluarga Kang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kang Hasan, sori perlu koreksi. Yang difatwakan MUI th 80-an itu bukan larangan memberikan ucapan selamat Natal. Tetapi fatwa itu mengharamkan umat Islam mengikuti Upacara Natal bersama atau kegiatan2 Natal (<a href="http://www.mui.or.id/files/Fatwa%20Perayaan%20Natal%20Bersama.pdf" rel="nofollow">download fatwa</a>).<br />
Sedangkan larangan memberikan ucapan selamat natal itu lebih merupakan anjuran sebagian umat Islam yang menggunakan logika, bahwa kalau memberikan ucapan selamat itu berarti mengimani yesus sebagai tuhan. Logika inilah yang menurut Kang Hasan gak nyambung. Jadi bukan fatwa MUI.</p>
<p>Salam buat keluarga Kang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Hasanudin Abdurakhman</title>
		<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/melampaui-persaudaraan-islam-2/comment-page-1/#comment-86</link>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 08:04:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=219#comment-86</guid>
		<description>Pertama, perlu ibu ketahui bahwa orang-orang Jepang itu sangat menghormati agama yang kita anut. 10 tahun saya bergaul dengan mereka, tidak pernah setetespun saya minum sake. Begitu kita kasih tahu bahwa kita ndak boleh minum karena dilarang oleh agama, mereka ndak akan pernah lagi menawarkan.

Soal fatwa ulama, kalau ibu belajar ushul fiqh ibu akan tahu bahwa fatwa ulama itu paling rendah derajatnya dalam hirarki hukum Islam. Menurut ushul fiqh pula, fatwa ulama itu tidak mengikat sifatnya. Kebetulan saya paham tata cara ijtihad (yang ibu sebut pakem) jadi tidak asal berlogika semata.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama, perlu ibu ketahui bahwa orang-orang Jepang itu sangat menghormati agama yang kita anut. 10 tahun saya bergaul dengan mereka, tidak pernah setetespun saya minum sake. Begitu kita kasih tahu bahwa kita ndak boleh minum karena dilarang oleh agama, mereka ndak akan pernah lagi menawarkan.</p>
<p>Soal fatwa ulama, kalau ibu belajar ushul fiqh ibu akan tahu bahwa fatwa ulama itu paling rendah derajatnya dalam hirarki hukum Islam. Menurut ushul fiqh pula, fatwa ulama itu tidak mengikat sifatnya. Kebetulan saya paham tata cara ijtihad (yang ibu sebut pakem) jadi tidak asal berlogika semata.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
