Mesjid Yes, Gereja No Way
21 August 2009Cerita ini terjadi saat saya masih menjadi dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Suatu hari sebuah perbincangan sambil menyelesaikan suatu urusan dengan staf administrasi di kampus menyerempet ke sebuah isu sensitif.
“Hampir saja kita kecolongan, Bang”, kata staf administrasi yang berjilbab itu mengadu, setelah sekian lama tak bertemu saya karena saya lama meninggalkan tanah air untuk tugas belajar.
“Ada apa?”, tanya saya.
“Iya, beberapa waktu lalu orang-orang Kristen berniat mendirikan gereja di kampus ini. Untung kita cepat tahu, lalu bergerak mencegahnya. Alhamdulillah kita berhasil.”
“Kenapa dicegah? Kenapa dihalangi?”
“Lho, kan…..”
“Mbak, saya ini hampir 8 tahun tinggal di Jepang. Selama itu saya jadi minoritas dalam hal agama. Coba Anda bayangkan bagaimana rasanya kalau niat saya hendak membangun mesjid atau beribadah selama saya berada di Jepang dihalangi orang.”
“Mbak mengkhawatirkan kristenisasi?” tanya saya. Ia mengangguk.
“Apa iya kalau berdiri gereja di kampus ini lantas orang berbondong-bondong masuk Kristen?”.
Ia lalu terdiam, dan percakapan kami berakhir.
+++
Pola fikir staf administrasi tadi sebenarnya pernah saya anut. Waktu itu saya masih kuliah di UGM dan aktif di organisasi dakwah kampus. Saat itu di UGM belum ada mesjid, dan kami sedang bersiap untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan mesjid. Mantan Rektor, alm. Koesnadi Hardjasoemantri menjadi ketua panitia.
Saat itu kami mendengar bahwa orang-orang Kristen akan mendirikan gereka di kampus. Lokasinya tak jauh dari lahan yang hendak digunakan untuk membangun mesjid. Kami langsung bereaksi. Rencana pembangunan gereja ini harus dihentikan!
Kami, beberapa aktivis Islam di kampus melakukan berbagai lobi. Yang terutama tentu kepada Rektor. Pergilah kami menghadap Rektor, menanyakan soal rencana itu, dan tentu saja (niatnya) menekan Rektor agar membatalkan atau mencegah rencana itu kalau benar adanya.
Sambil menunggu di ruang tamu kantor Rektor, kami berbincang dengan sekretaris Rektor. Topiknya tentu soal yang sama dengan yang hendak kami adukan ke Rektor. Lucunya, belakangan baru kami tahu bahwa sekretaris Rektor tadi adalah seorang penganut agama Kristen. Ampun, deh!
+++
Pola fikir saya berubah saat saya merasakan pengalaman menjadi minoritas. Yaitu saat saya kuliah di Jepang. Saya pernah tinggal di kota kecil di bagian selatan Jepang. Jumlah orang Islam di kota itu sangat sedikit. Tak lebih dari 50 orang. Hampir semua adalah mahasiswa asing.
Karena jumlah kami kecil, kami tak mampu untuk sekedar menyewa apartemen untuk digunakan sebagai mesjid, sebagaimana dilakukan oleh muslim di berbagai kota. Kami mengandalkan kebaikan hati satu dua profesor yang mau meminjamkan ruangan di kampus untuk dijadikan mushalla.
Suatu ketika kami tak lagi diperbolehkan memakai ruangan itu. Alasan pihak kampus, ruangan itu akan dipakai untuk keperluan akademik. Lagipula Jepang adalah negara sekuler, urusan peribadatan warga tidak boleh melibatkan fasilitas milik pemerintah. Saat itu kami benar-benar kesulitan. Kami harus salat Jumat berpindah-pindah tempat. Untunglah akhirnya ada profesor yang mau membantu mencarikan ruangan untuk dijadikan mushalla.
Di kota lain di mana saya pernah tinggal juga, kami menyewa dua ruangan apartemen untuk dijadikan mushalla. Di situlah kami melaksanakan shalat Jumat serta pengajian. Bagian lain dari apartemen ini adalah tempat tinggal yang disewa oleh orang lain, orang Jepang. Kami harus berhati-hati agar aktivitas kami tidak mengganggu kenyamanan mereka.
Kami mengumpulkan dana untuk pembangunan mesjid. Belasan tahun diperlukan hingga akhirnya dana itu terkumpul. Baru 3 tahun yang lalu kota tempat saya tinggal itu memiliki mesjid. Untungnya pemerintah Jepang yang sekuler itu tidak menghalangi. Selama syarat-syarat mendirikan bangunan dipatuhi tidak ada masalah.
Semua kejadian yang saya alami di Jepang itu mengingatkan saya pada nasib minoritas, khususnya orang Kristen di Indonesia. Mereka sering kesulitan mendirikan gereja. Beribadah di ruko atau di rumah milik sendiri pun sering diganggu. Kami, muslim yang minoritas di Jepang, untungnya tidak mengalami hal itu. Alangkah indahnya kalau minoritas di negeri muslim juga tidak mengalami hal itu.
+++
Kembali ke cerita di kampus tempat saya kerja tadi. Di kampus ini ada mesjid yang cukup besar. Dulu dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Lalu, di setiap fakultas didirikan mushalla yang juga tak kecil. Tapi itu pun ternyata tak cukup. Di banyak bangunan di fakultas masih saja ada ruangan yang difungsikan sebagai mushalla. Bagi mereka yang malas untuk ke mushalla fakultas, bisa shalat di mushalla kecil ini. Yang sedikit rajin berjamaah di mushalla fakultas. Yang lebih rajin, ke mesjid.
Melihat ini semua saya merasa sesak. Keterlaluan benar orang muslim ini.
Jaman Rasulullah masih hidup, di Madinah hanya ada satu mesjid. Apa umat Islam ketika itu tidak mampu membangun lebih dari satu? Rasanya tak mungkin. Orang-orang ketika itu rela menyumbangkan apa saja untuk Islam. Mesjid hanya satu dengan tujuan persatuan. Di situlah semua orang berjamaah, bersilaturrahmi. Di satu tempat.
Kota Madinah ketika itu memang kota kecil. Saya tentu tak berharap kota sebesar Jakarta hanya punya satu mesjid. Itu tak masuk akal. Tapi saya yakin kota Madinah di jaman itu lebih besar dari area kampus saya. Kalau Madinah cukup dengan satu mesjid, kenapa kampus tidak? Kenapa kampus masih perlu ditambah dengan beberapa mushalla, plus puluhan ruangan untuk pengganti mushalla?
Dalam situasi yang sudah berlebih itu, orang Islam masih ribut ketika orang Kristen hendak mendirikan satu gereja. Hanya satu gereja saja.
Adilkah kita ini? Tidakkah kita ini berlebihan? Seingat saya tidak adil dan berlebihan adalah dua sifat yang dibenci Allah.
http://berbual.com
August 21st, 2009 at 12:58
Selamat siang. Saya pertama kali menulis komentar di blog ini. Luar biasa! Tulisan tentang mesjid dan gereja ini bagus sekali! Saya benar-benar tersentuh. Saya juga saat ini menjadi kaum minoritas, baik di tempat tinggal sekarang (Jepang) maupun di negara suami (US). Saya harap, akan ada jutaan orang lainnya yang punya pemikiran seperti Anda!
August 22nd, 2009 at 05:34
What a nice article, Kang Hasan! Seandainya saja pandangan Anda ini bisa disebarluaskan kepada para mahasiswa militan yang ada di kampus-kampus! Seandainya saja kasih sayang dan toleransi macam ini bisa ditularkan kepada para pemuda Islam!
Sering-seringlah menulis artikel semacam ini Kang!
August 22nd, 2009 at 10:09
nice artikel…Indonesia adalah negara pluralisme dimana terdapat keanekaragaman karakteristik pada Warga2nya.. Khususnya mengenai agama dan peribadatan, bahwa sudah jelas dalam PANCASILA yaitu dasar ideologi negara kita yg terdapat pada UUD 45 pasal 29 yaitu Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
August 22nd, 2009 at 11:07
kunjungan pertma
empat jempol (2 tangan + 2 kaki)!!
coba konsep pemikiran Anda bisa sampe ke masyarakat akar rumput, pasti mantabs.
August 22nd, 2009 at 13:19
seandainya smua org bpikiran spt ini psti hidup ini mjd lbh indah.syangnya kenyataannya yg tjd memang spt cerita diats.u mbangun gereja susahnya minta ampun.sdgkn sbuah masjid?sgt mudahnya..kami hanya ingin beribadah tdk bmksd mengganggu!
September 4th, 2009 at 16:07
Great mind only came from great people..
November 7th, 2009 at 22:14
Gax usah sok pada tau lah, mikir aja masih katro udah ngomomgin orang lain. urusin aja diri lu sendiri, orang mau bangun gereja, orang mau bangun rumah kenapa lu yang pada sewot. Indonesia kan negara hukum (Pasal 1 ayat 3 UUD 1945), jelaskan! jadi indonesia bukan negara agama.
“Walau seribu rebah disisiki, dan sepuluh ribu rebah dikananku Tak akan ku Goyah sebab Jesus sertaku. salam persatuan dan kesatuan, berpikirlah dengan bijak.
November 7th, 2009 at 22:15
Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu
December 13th, 2009 at 16:46
Terima kasih tulisannya sangat mencerahkan
@Ridwan : Anda ini memalukan tidak membaca isinya sudah ngomel, hanya terkecoh oleh judul. Baca dulu baru komentar!
Anda mestinya berterima kasih karena masih ada yang peduli dengan nasib agama minoritas di Indonesia dan Anda berhutang maaf pada penulis artikel di atas dan Saudara-Saudarimu di kolom ini yang memberikan dukungan pada agama minoritas termasuk untuk agamamu, Mas Ridwan.
February 17th, 2010 at 23:42
Saya sepakat dengan esensi apa yang Kang Hasan uraikan dalam artikel ini dan juga artikel lain terutama tentang agama… cuma seyogyanya Kang Hasan juga lebih berimbang dalam mengungkapkan fakta-fakta. Kang Hasan selalu saja menyalahkan / memojokkan sikap kaum muslim sbg mayoritas di negeri Indonesia ini. Mungkin kalau kita mau jujur, sikap umat Islam Indonesia terhadap umat lain (nasrani) masih jauh lebih toleran jika dibandingkan dengan sikap umat nasrani terhadap umat Islam di negeri-negeri yang notabene nasrani menjadi mayoritas di sana. Sebut saja di negeri Jerman, Inggris atau Perancis..di sana kaum muslim mendapatkan perlakuan diskriminatif semisal larangan memakai jilbab bagi kaum permpuan, bahkan sudah sampai kepada tindak kekerasan fisik. Di Indonesia? adakah umat nasrani yang sampai mendapat kekerasan fisik…saya kira belum pernah terdengar. Bahkan mungkin malah sebaliknya, di daerah-daerah yang umat nasrani (baru) hampir (belum sampai) mayoritas, mereka memerangi bahkan membantai kaum muslim (ingat kasus Ambon dan Poso?). Oleh karena itu marilah kita bijak dan menilai secara adil terhadap realita-realita kehidupan keberagamaan dan keberagaman di negeri ini. Islam itu rahmatan lil ‘alamiin, yang penting kita saling menghormati dan saling menghargai, tidak saling mencurigai dan saling membenci. Wallahu a’lam bishshowaab.
March 6th, 2010 at 16:45
@ fauzi asu, ah, banyak bacot lo, Fauzi H. bilang aja lu gak seneng kalo ada orang muslim yg memiliki pemikiran terbuka.
orang2 kayak elo tuh mulutnya isinya bom semua.
March 6th, 2010 at 16:46
btw, gw setuju dengan pemikiran kang hasan. semoga anda menjadi orang yang Islam gak cuman di luarnya aja. namun hatinya juga. GBU!