Berpuasa itu berdisiplin
27 August 2009Ini percakapan saya dengan seorang teman.
„Mas kerja di perusahaan Jepang, ya?“
„Iya.“
„Stress nggak, Mas?“
„Nggak. Emang kenapa?“
„Kan orang Jepang itu disiplin banget. Kata orang-orang di perusahaan Jepang terlambat masuk kerja satu menit aja nggak boleh.“
„Emang iya.“
„Apa nggak stress dengan situasi kerja seperti itu?“
„Kamu muslim?“ sekarang saya yang gantian bertanya.
„100%, Mas.“
„Kalau kamu puasa, saat sudah masuk waktu subuh, kamu masih boleh sahur?“
„Nggak.”
“Terlambat satu menit pun nggak boleh?“
“Nggak.”
“Stress nggak kamu?”
+++
Terlambat satu menit bagi banyak orang dianggap hal yang masih bisa ditolerir. Padahal dalam urusan keterlambatan perkaranya bukan soal satu atau dua menit. Terlambat adalah terlambat. Satu menit itulah yang membedakan orang yang berdisiplin dengan yang tidak. Itulah soalnya.
Banyak orang yang pernah bersinggungan dengan orang-orang dari negara maju terkesan melihat bagaimana mereka disiplin dalam soal waktu. Tapi mungkin banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa suatu negara tidak mungkin bisa maju kalau penduduknya tidak disiplin.
Kota-kota besar di negara maju biasanya ditopang dengan sistem transportasi massal yang handal. Salah satunya adalah kereta bawah tanah (subway). Pada kota yang sibuk, bahkan super sibuk, di tiap stasiun kereta keluar/masuk hanya berselang 1-2 menit dengan kereta berikutnya. Tanpa disiplin waktu, subway tidak akan berfungsi sebagai angkutan massal. Lebih buruk dari itu, terlambat satu menit pada subway bisa menjadi sebab terjadinya tabrakan.
Sebaliknya, perusahaan penerbangan kita dikenal buruk reputasinya, salah satu sebabnya karena sering terjadinya keterlambatan.
Perusahaan manufaktur Jepang merajai industri dunia. Kunci utamanya adalah improvement (kaizen) dalam proses produksi, sehingga dicapai efisiensi. Dengan begitu ongkos produksi bisa ditekan, yang artinya keuntungan meningkat.
Salah satu caranya adalah dengan menerapkan system Kanban atau Just In Time. Bahan baku masuk, langsung ke production line, berpindah dari satu unit produksi ke unit berikutnya tanpa berhenti. Ini berlangsung terus hingga diperoleh barang jadi di akhir production line, dan barang jadi langsung dikirim ke pembeli.
Sistem ini menghemat waktu, dan tentu saja menghemat biaya. Tapi tidak hanya itu. Dengan sistem ini tidak lagi diperlukan gudang, baik untuk bahan baku, barang setengah jadi, serta barang jadi. Artinya tidak diperlukan lagi investasi untuk membuat gudang. Juga tidak diperlukan penumpukan stok yang mengganggu cash flow perusahaan.
Semua itu, sekali lagi, hanya bisa dicapai dengan disiplin yang tinggi. Jangankan terlambat satu menit, satu detik saja pun sudah bisa membuat system gagal mencapai tujuan.
Itu hanya beberapa contoh kecil saja. Jadi, masihkah Anda menganggap terlambat satu menit sebagai persoalan kecil?
http://berbual.com
August 31st, 2009 at 09:02
Tulisan yang sangat menarik, Bung! Saya share kemana-mana ya!
August 31st, 2009 at 11:12
silakan bu Dewi.