Bupati Tidur, SBY Marah

13 April 2008

Ketika berpidato di depan peserta Kursus Lemhanas, SBY marah ketika mendapati ada peserta yang tertidur saat mendengarkan pidatonya. Dia bilang: “Sedang membahas masalah rakyat, kok tidur.”

Benarkah SBY marah karena ia begitu peduli pada rakyat?

Rasanya enggak deh. Bagi saya, SBY marah terutama karena merasa tersinggung. Sebagai presiden, dia menganggap bupati yang tidur itu tidak sopan. Ada orang penting ngomong, kok malah tidur. Kenapa saya tidak percaya bahwa SBY marah karena ia peduli pada rakyat? Karena berbagai tindak tanduk SBY sebagai presiden tidak mencerminkan kepeduliannya pada rakyat.

Seorang pengantri gas elpiji di Surabaya marah besar. Dia sudah mengantri sehari penuh untuk mendapatkan satu tangki elpiji 12 kg, akhirnya gagal memperolehnya. Esoknya ia harus antri lagi 4 jam,
baru akhirnya berhasil. Komentar dia: “Pemerintah sekarang ini, buta dan tuli, tidak mendengar dan melihat penderitaan rakyatnya.”

Saya setuju dengan kemarahan orang itu. Hal yang sama digambarkan dengan baik pada kartun Panji Koming minggu lalu (kalau nggak salah), yang menggambarkan Presiden selesai menonton film ayat-ayat cinta, sementara sebelumnya seorang ibu bunuh diri setelah membunuh anak-anaknya karena stress akibat penderitaan yang tak tertahankan. Lalu Pailul berteriak pada Presiden: “Hooooooooi, sudah lihat ayat-ayat kemiskinan belum?”

Tidurnya si bupati saya kira pelajaran bagi SBY. Begitulah rasanya kalau suara kita tidak didengar. Bagi SBY ini cuma masalah ego. Ia kesal. Tapi tak lebih dari itu. Bagi masyarakat lain, ketika suaranya tak didengar, boleh jadi itu berarti ia tak bisa hidup lagi esok hari.

Pelajaran lain, SBY mungkin perlu lebih memperjelas ketulusannya. Orang yang berbicara dengan tulus, biasanya akan menarik pendengar. Tapi pembicara yang palsu akan membuat muak. Saya termasuk yang muak setiap kali melihat SBY bicara di TV. Tidak tergambar ketulusan di raut mukanya. Mungkin bupati itu juga muak. Lalu, SBY perlu sadar bahwa ia bukan presenter yang baik. Presenter yang baik tahu cara membuat pendengarnya betah.

Boleh jadi, SBY sudah tak lagi punya pesona. Nah, inilah mungkin yang paling mengesalkannya.

wordpress plugins and themes

3 Responses to “Bupati Tidur, SBY Marah”

  1. canggih marbun Says:

    bro jangan marah-marah, basing bae bro… okey bro….
    take it easy

  2. Fajar H Says:

    Ya.. wajar saja klo marah
    Klo rakyat sendiri, bahkan pejabat negara seklas bupati gak bisa menghargai seorang Presiden. Gak usah jadi bupatilah.
    Jadi seniman aja lebih pas.
    Ini masalah etika….
    Salam,

    FH’80

  3. Abdullah Says:

    Terima kasih, Ulasan/ analisa anda tampaknya berasal dari hati nurani sehingga membuat hati saya tersentuh dan menyadari bahwa ternyata memang sampai saat ini, sebagian besar kemarahan kita karena ego kita yang terusik. Kita marah bukan karena sesuatu yang benar yang terusik.

Leave a Reply