Setidaknya ada 3 kelompok yang berbeda dalam menyikapi konser Justin Bibier (JB) akhir pekan lalu. Sekelompok orang antusias. Ada yang sanggup antri berjam-jam untuk menukarkan tiket. Beberapa bulan sebelumnya mereka sudah membayar biaya tiket itu. Umumnya mereka adalah anak-anak muda belasan tahun. Tapi ada juga yang sudah berumur 40-an tahun, beberapa di antaranya dengan dalih dalam rangka mengantar anak.
Kelompok lain adalah kelompok pencibir. Banyak yang menganggap penggemar JB itu adalah remaja-remaja yang hanya suka hura-hura, yang hidup tak punya tujuan. Ada yang menggelari mereka dengan istilah Ababil alias ABG Labil. Bagi kelompok ini, penggemar JB adalah orang-orang yang sakit jiwa.
Kelompok yang ketiga adalah yang tidak peduli. Saya tadinya masuk kelompok ini. Saya bahkan tak tahu siapa itu JB sampai saya membaca riwayat hidupnya di majalah TEMPO minggu lalu. Lalu saya tertarik untuk berbagi pendapat.
Histeria penggemar pemusik adalah hal yang terjadi di setiap zaman. Jaman dulu ada New Kids On The Block. Di masa sebelumnya ada berbagai jenis grup musik. Bahkan untuk grup yang sudah bubar seperti The Beatles penggemarnya masih bisa histeris. Saya termasuk penggemar Beatles. Kalau grup seperti Bharata Band memainkan lagu-lagu Beatles, saya bisa sedikit histeris. Padahal masa-masa kejayaan Beatles adalah masa saat saya masih sangat kecil, dan bahkan belum mengenal radio.
Tentu tak cuma terhadap pemusik luar negeri. Penggemar Iwan Fals, atau Peterpan juga bisa histeris. Lantas, apakah cibiran tadi sekedar untuk penggemar JB, penggemar musik barat, atau penggemar musik pada umumnya? Entahlah. Jawabannya bisa sangat variatif.
Tapi ingat, bukan hanya penggemar musik yang bisa histeris. Penggemar yang selain itu juga bisa begitu, dengan format yang sedikit berbeda. Penggemar Aa Gym, atau Arifin Ilham juga bisa histeris. Anda boleh saja tak setuju dengan sebutan histeris untuk mereka. Tapi bagi saya sama saja. Buat saya tak ada perlunya minta tanda tangan Aa Gym seperti yang dilakukan banyak orang. Karenanya saya bisa sebut itu histeria. Yang berbeda hanya cara mengeksperikan belaka.
Adakah sisi negatif pada semua itu? Banyak. Musik bisa membuat orang terlena. Kalau anak kita menggemari musik sedemikian rupa sehingga dia hanya menghabiskan waktu secara negatif hanya untuk menikmati musik, tentu itu berbahaya. Dan sebenarnya ini berlaku untuk semua hal. Musik, game, kumpul-kumpul. Semua bisa jadi hal yang tak produktif dan menjerumuskan. Bahkan agama sekalipun bisa demikian.
Tapi tentu saja ada pula sisi positif pada segala sesuatu. Saya baca sekilas riwayat hidup JB. Luar biasa. Anak ini penuh bakat. Dan bakat itu dia kembangkan dengan kerja keras. Tak usahlah kita melihat bagaimana dia menyanyi. Saya saksikan bagaimana dia bermain bola basket, hobinya. Luar biasa juga. Di sosok JB saya melihat perpaduan antara bakat, kerja keras, dan dukungan profesional dari orang-orang sekelilingnya.
Kalau anak saya menggemari JB, saya akan tunjukkan sisi-sisi itu. Akan saya tunjukkan bahwa orang bisa jadi apa saja selama dia mengenal potensi dirinya, punya visi untuk mengembangkan potensi itu, lalu menikmati sukses, menikmati hidup, serta berbagi.
Saya sedikit “beruntung”, karena anak saya tidak tertarik pada JB. Mungkin belum. Tapi saya bertanya, seandainya anak saya ingin nonton konser JB, akankah saya meluluskan permintaannya? Mungkin akan saya luluskan. Masa kecil dulu saya juga menyukai musik. Masa remaja saya juga pernah ingin nonton Stevie Wonder atau Scorpions. Hanya saja tak punya uang. Kini saya sanggup membayar bila anak saya ingin nonton konser. Jadi, mengapa tidak?
Kalau saya kebetulan tak mampu membayarnya, akan saya beri pengertian pada anak saya bahwa saya tak mampu. Anak saya akan saya arahkan untuk menikmati kegemarannya dengan cara lain. Jadi, tak perlulah kita mencibir para penggemar JB itu. Yang perlu kita lakukan adalah mengalirkan energi positif JB untuk diserap oleh anak-anak kita.
