Archive for the ‘Agama dan Sosial – Budaya’ Category

Justin Bibier, Take It Easy

Tuesday, April 26th, 2011

Setidaknya ada 3 kelompok yang berbeda dalam menyikapi konser Justin Bibier (JB) akhir pekan lalu. Sekelompok orang antusias. Ada yang sanggup antri berjam-jam untuk menukarkan tiket. Beberapa bulan sebelumnya mereka sudah membayar biaya tiket itu. Umumnya mereka adalah anak-anak muda belasan tahun. Tapi ada juga yang sudah berumur 40-an tahun, beberapa di antaranya dengan dalih dalam rangka mengantar anak.

 

Kelompok lain adalah kelompok pencibir. Banyak yang menganggap penggemar JB itu adalah remaja-remaja yang hanya suka hura-hura, yang hidup tak punya tujuan. Ada yang menggelari mereka dengan istilah Ababil alias ABG Labil. Bagi kelompok ini, penggemar JB adalah orang-orang yang sakit jiwa.

 

Kelompok yang ketiga adalah yang tidak peduli. Saya tadinya masuk kelompok ini. Saya bahkan tak tahu siapa itu JB sampai saya membaca riwayat hidupnya di majalah TEMPO minggu lalu. Lalu saya tertarik untuk berbagi pendapat.

 

Histeria penggemar pemusik adalah hal yang terjadi di setiap zaman. Jaman dulu ada New Kids On The Block. Di masa sebelumnya ada berbagai jenis grup musik. Bahkan untuk grup yang sudah bubar seperti The Beatles penggemarnya masih bisa histeris. Saya termasuk penggemar Beatles. Kalau grup seperti Bharata Band memainkan lagu-lagu Beatles, saya bisa sedikit histeris. Padahal masa-masa kejayaan Beatles adalah masa saat saya masih sangat kecil, dan bahkan belum mengenal radio.

 

Tentu tak cuma terhadap pemusik luar negeri. Penggemar Iwan Fals, atau Peterpan juga bisa histeris. Lantas, apakah cibiran tadi sekedar untuk penggemar JB, penggemar musik barat, atau penggemar musik pada umumnya? Entahlah. Jawabannya bisa sangat variatif.

 

Tapi ingat, bukan hanya penggemar musik yang bisa histeris. Penggemar yang selain itu juga bisa begitu, dengan format yang sedikit berbeda. Penggemar Aa Gym, atau Arifin Ilham juga bisa histeris. Anda boleh saja tak setuju dengan sebutan histeris untuk mereka. Tapi bagi saya sama saja. Buat saya tak ada perlunya minta tanda tangan Aa Gym seperti yang dilakukan banyak orang. Karenanya saya bisa sebut itu histeria. Yang berbeda hanya cara mengeksperikan belaka.

 

Adakah sisi negatif pada semua itu? Banyak. Musik bisa membuat orang terlena. Kalau anak kita menggemari musik sedemikian rupa sehingga dia hanya menghabiskan waktu secara negatif hanya untuk menikmati musik, tentu itu berbahaya. Dan sebenarnya ini berlaku untuk semua hal. Musik, game, kumpul-kumpul. Semua bisa jadi hal yang tak produktif dan menjerumuskan. Bahkan agama sekalipun bisa demikian.

 

Tapi tentu saja ada pula sisi positif pada segala sesuatu. Saya baca sekilas riwayat hidup JB. Luar biasa. Anak ini penuh bakat. Dan bakat itu dia kembangkan dengan kerja keras. Tak usahlah kita melihat bagaimana dia menyanyi. Saya saksikan bagaimana dia bermain bola basket, hobinya. Luar biasa juga. Di sosok JB saya melihat perpaduan antara bakat, kerja keras, dan dukungan profesional dari orang-orang sekelilingnya.

 

Kalau anak saya menggemari JB, saya akan tunjukkan sisi-sisi itu. Akan saya tunjukkan bahwa orang bisa jadi apa saja selama dia mengenal potensi dirinya, punya visi untuk mengembangkan potensi itu, lalu menikmati sukses, menikmati hidup, serta berbagi.

 

Saya sedikit “beruntung”, karena anak saya tidak tertarik pada JB. Mungkin belum. Tapi saya bertanya, seandainya anak saya ingin nonton konser JB, akankah saya meluluskan permintaannya? Mungkin akan saya luluskan. Masa kecil dulu saya juga menyukai musik. Masa remaja saya juga pernah ingin nonton Stevie Wonder atau Scorpions. Hanya saja tak punya uang. Kini saya sanggup membayar bila anak saya ingin nonton konser. Jadi, mengapa tidak?

 

Kalau saya kebetulan tak mampu membayarnya, akan saya beri pengertian pada anak saya bahwa saya tak mampu. Anak saya akan saya arahkan untuk menikmati kegemarannya dengan cara lain. Jadi, tak perlulah kita mencibir para penggemar JB itu. Yang perlu kita lakukan adalah mengalirkan energi positif JB untuk diserap oleh anak-anak kita.

 

http://berbual.com/

wordpress plugins and themes

Pak Amien, sudahlah……………

Wednesday, March 10th, 2010

Saya pernah sangat dekat dengan Amien Rais. Entah dia masih ingat saya atau tidak sekarang. Lulus kuliah saya melamar jadi dosen di PTN di kota kelahiran saya. Setelah selesai proses seleksi saya mesti menunggu kurang lebih setahun sampai saya diangkat menjadi PNS. Masa setahun itu saya lewatkan dengan kembali ke Yogya tempat saya kuliah.

Saya berniat melanjutkan studi S2 di UGM. Harapannya saat pengangkatan saya sebagai PNS nanti saya sudah separo jalan dalam pendidikan S2, agar karir saya sebagai dosen lebih mulus jalannya. Sudah ada sponsor yang bersedia membiayai kuliah saya. Tapi hanya untuk biaya kuliah. Untuk biaya hidup saya harus cari sendiri.

Saya sudah kenal akrab dengan Amien Rais sejak saya kuliah. Dia pun mengenal saya. Karenanya saya tak ragu untuk datang minta bantuan. Saya berniat menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi milik Muhammadiyah di Yogya. Waktu itu Amien adalah ketua PP Mumahhadiyah. Dia menyatakan dengan senang hati bersedia membantu saya. Di atas kertas berkop PP Muhammadiyah dia menulis rekomendasi singkat bertulis tangan, dalam bahasa Jawa kepada rektor universitas yang hendak saya masuki. „Rebat cekap. Ini ada kader kita mohon dibantu agar bisa menjadi dosen di universitas kita.“

Di saat lain di masa itu Amien pernah menyalami saya dengan tempelan sebuah amplop berisi uang. „Mas Hasan ini ada titipan dari seseorang.“ kata dia sambil tersenyum. Saya tahu uang itu dari dia sendiri. Meski saya sebenarnya tidak sedang kesulitan keuangan karena masih ada tabungan dari sisa gaji saya waktu kerja di perusahaan minyak, saya terima uang itu. Ada rasa bangga mendapat perhatian dari tokoh penting seperti Amien Rais.

Begitulah Amien Rais. Sosok sederhana, cerdas, berani, dan begitu perhatian pada anak muda. Banyak orang yang besar di samping Amien. Dia memang memberi jalan bagi orang lain untuk maju. Suatu saat ada diskusi di PPSK, lembaga penelitian yang dipimpinnya. Waktu itu hari Jumat dan peserta diskusi lumayan banyak, sehingga diputuskan untuk menyelenggarakan shalat Jumat di situ. Amien menyuruh salah satu rekan saya menjadi khatib dan imam.

Saat Mukatamar Muhammadiyah di Yogya Amien terpilih sebagai wakil ketua PP Muhammadiyah, mendampingi KH Azhar Basyir. Dalam suasana muktamar itu Amien mendapat giliran khutbah Jumat di Gelanggang Mahasiswa UGM. Saya waktu itu adalah pengurus Jamaah Shalahuddin yang menyelenggarakan kegiatan itu di kampus. Selesai khutbah Amien meminta saya menjadi imam, di salat di belakang saya. Sebuah sikap yang lagi-lagi mengesankan saya.

Tapi Amien bukan tokoh tanpa cela. Kami yang melihat sosok Amien dari dekat tahu betul soal itu. Banyak sikap dan kata-kata Amien yang menurut kami tak pantas. Tapi justru itu kami mengagumi Amien. Kami belajar darinya. Seorang teman berkomentar, „Semakin dekat kita dengan tokoh, semakin tahu kita bahwa tokohpun hanyalah manusia. Dari kemanusiaannya yang tak sempurna itulah kita bisa belajar.“ Sikap itulah yang saya pegang dalam berinteraksi dengan tokoh. Saya terbiasa melihat dan mendukung seseorang saat dia benar, dan mengoreksinya bila salah.

Setelah era Soeharto berakhir, Amien resmi memasuki dunia politik praktis, menjadi Ketua Umum PAN, meninggalkan jabatannya sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Kita semua masih ingat manuver Amien melalui Poros Tengah yang oleh banyak orang dianggap melanggar etika politik. Karena itu banyak tokoh penting seperti Faisal Basri hengkang dari PAN. Saya termasuk yang tak suka dengan manuver Amien itu.

Sungguhpun begitu saya tetap pendukung Amien. Saat dia maju sebagai calon presiden tahun 2004 berbagai cara saya lakukan untuk mendukungnya. Masih ada harapan melalui tangan Amien reformasi yang mandek bisa digelindingkan kembali. Sayang, Amien kalah.

Turun jabatan sebagai Ketua MPR Amien kembali menunjukkan contoh yang baik dengan tidak lagi bersedia menjadi Ketua Umum PAN. Sebuah sikap yang bagus untuk regenerasi. Amien berjanji untuk kembali ke kampus, menjadi akademisi. Sayang, dunia politik praktis sepertinya masih sangat menarik buat Amien. Dia masih jadi penentu dalam banyak hal di PAN. Termasuk soal dengan partai mana PAN harus berkoalisi pasca pemilu 2009.

Berada di luar kekuasaan Amien masih menjadi bintang walau tak cemerlang benar sinarnya. Sesekali suaranya masih terdengar keras, meski banyak suara keras yang sudah tak lagi patut. Amien tampak seperti kehilangan sesuatu, dan berusaha mengambilnya kembali, tanpa menyadari bahwa zamannya sudah berlalu.

Kini Amien dikabarkan hendak mundur dari PAN kembali ke Muhammadiyah. Bukan sebagai sesepuh, tapi sebagai calon Ketua Umum. Untuk apa? Niat Amien untuk mundur dari PAN menurut saya bagus. Tapi bukan untuk kembali ke Muhammadiyah. Tapi untuk menjadi orang tua.

Amien sudah masuk pada usia „tasyahud akhir” dalam karirnya sebagai manusia. Sudah saatnya dia melakukan kontemplasi dan evaluasi. Amien sudah tidak lagi pada fase berteriak lantang, pun tidak lagi bugar untuk memimpin organisasi besar seperti Muhammadiyah. Itu urusan orang yang lebih muda.

Lebih baik Amien menyepi dari hiruk pikuk dunia politik. Tanpa memimpin Muhammadiyah atau PAN Amien tetap seorang tokoh besar. Sudah saatnya tokoh besar ini menulis ulang strategi yang pernah dia gagas dan jalankan, menjelaskan kekurangannya. Agar kita bisa belajar dari situ. Tapi untuk itu memang diperlukan keberanian yang luar biasa besar. Yaitu keberanian untuk menyepi, dan keberanian untuk mengakui kesalahan sendiri.

Pak Amien yang saya hormati, sudahlah…………………..

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Manajemen

Tuesday, February 23rd, 2010

Kita harus berterima kasih pada yang menciptakan istilah dan konsep manajemen. Sungguh, dengan manajemen segala sesuatu jadi mudah. Kita semua mungkin sudah merasakan hal itu. Tapi saya ingin berbagi informasi tentang berbagai bentuk kemudahan lain yang dihasilkan oleh sesuatu bernama manajemen.

Kalau Anda pemegang gelar sarjana di bidang ilmu yang sulit-sulit, dan Anda membutuhkan gelar S2, tapi berbagai keterbatasan membuat Anda tak mungkin meraih gelar itu, cobalah dengan manajemen. Pilihan pertama adalah paket Magister Manajemen (MM). Tersedia banyak pilihan di situ. Ada yang bisa diperoleh dengan kuliah di akhir pekan atau malam hari. Ada yang cuma memerlukan waktu kuliah enam bulan di akhir pekan. Ada yang bahkan tak memerlukan kuliah sama sekali. Ijazahnya bisa dipesan, Anda cukup hadir di acara wisuda.

Masih ada pilihan lain. Kalau Anda seorang dokter, dan sulit bagi Anda untuk mengambil program dokter spesialis yang makan waktu, tenaga dan biaya, maka Anda punya pilihan, misalnya Manajemen Rumah Sakit, atau Manajemen Kesehatan, atau yang sejenis itu. Dijamin, Anda akan bisa memperkaya diri dengan gelar tanpa harus bersusah payah.

Yang di jurusan teknik bisa mengambil jurusan Manajemen Infrastruktur, atau Manajemen Energi. Dijamin tak serumit kalau Anda harus mengambil jurusan Teknik Sipil atau Elektro. Toh, gelar yang Anda peroleh sama juga, yaitu Magister Teknik atau MT.

Saya pernah mengajar di program S2 Teknik Sipil di suatu PTN. Pesertanya adalah pejabat-pejabat daerah, setingkat Kepala Dinas atau Kepala Bidang. Juga dosen-dosen senior yang dulu belum sempat melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Sudah barang tentu mereka ini berduit. Lebih berduit dari dosen yang mengajar. Sudah barang tentu mereka tidak bisa diharapkan untuk belajar dengan benar. Sudah tua, otaknya tumpul. Atau boleh jadi otaknya sudah tumpul sejak muda. Wallahu alam.

Sudah barang tentu mereka juga tak bisa disuruh riset sebagaimana lazimnya mahasiswa pasca sarjana. Juga tak boleh diharapkan mereka membuat tesis. Lha, tugas kuliah saja mungkin mereka tak sanggup membuatnya.

Alkisah suatu hari saya didatangi seorang mahasiswa saya di program S2 itu. Umurnya lebih tua dari saya. Mobilnya lebih bagus dari saya. Dan hebatnya dia mengerti betul prinsip manajemen. Sungguh membanggakan, karena dia mahasiswa saya.

Prinsip manajemen yang saya maksud adalah prinsip yang sangat mendasar, yaitu “getting things done through other people’s hands” alias “menyelesaikan masalah dengan meminjam tangan orang lain”.

Setelah basa-basi sejenak, dia bicara. “Saya mau bikin tesis nih, Pak.”

“Wah, bagus itu. Mudah-mudahan Bapak bisa jadi orang pertama yang lulus di program ini.”

“Iya, tapi saya ada sedikit kendala.”

“Apa itu?”

“Saya kadang kesulitan mengekspresikan pendapat saya dalam bahasa tulisan.”

“Oh, kalau itu saya bisa bantu. Kebetulan saya punya banyak pengalaman menulis karya ilmiah, termasuk di jurnal internasional. Saya bisa menjadi pembimbing informal Bapak, karena bidang saya bukan Teknik Sipil. Nanti saya bantu untuk masalah redaksionalnya.”

“Kalau Bapak mau bantu saya, ada baiknya Bapak bantu secara menyeluruh saja. Jadi saya terima jadi saja.”

“Maksudnya gimana?”

“Ya, minta tolong Bapak saja yang menulis semua.”

Oh, my God. Oh Manajemen……………….

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Muhammad Noboru Sato

Friday, September 4th, 2009

Namanya Noboru Sato. Nama keluarga Sato adalah nama keluarga yang populasinya paling tinggi di Jepang. Ia seorang muslim. Waktu masuk Islam di depan namanya ditambahi nama Muhammad. Kami memanggilnya Brother Sato atau Sato san.

Saat saya pertama kali mengenalnya tahun 1997 Sato san berumur kira-kira 50-an tahun, mungkin sudah mendekati 60. Saya agak banyak berinteraksi dengan beliau saat saya jadi General Secretary di Islamic Center. Sato san adalah President di lembaga tersebut. Dia adalah President seumur hidup. Tiap tahun pengurus berganti, tapi Sato san selalu dipilih menjadi President.

Setidaknya ada dua alasan untuk hal itu. Pertama, Sato san adalah yang paling senior di antara kami. Menjadikan dia sebagai pemimpin adalah cara kami untuk menghormati dia. Alasan lain bersifat pragmatis. Beliau adalah orang Jepang, penduduk asli di kota itu. Dia tahu lebih banyak tentang berbagai hal mengenai daerah itu. Yang jelas, dia tidak akan pergi dari kota itu sebagaimana kami para pendatang.

Kami menyewa dua kamar apartemen sederhana untuk dijadikan Islamic Center. Di situlah salat Jumat dan berbagai acara dakwah diadakan. Termasuk toko daging dan makanan halal. Ruangan yang kami sewa tidak besar. Karenanya kalau ada acara yang menghadirkan banyak orang seperti salat Ied, kami meminjam ruangan besar milik universitas di dormitori untuk mahasiswa asing.

(more…)

wordpress plugins and themes

Fundamentalis Mata Kaki

Thursday, September 3rd, 2009

Namanya Khaleed, orang Pakistan. Perawakannya kurus tinggi. Wajahnya dihiasi hidung mancung, khas orang Asia Selatan. Pipi dan dagunya dihiasi janggut tebal dan panjang. Khaleed adalah teman saya. Kami sama-sama kuliah di program doktor di sebuah universitas di Jepang. Kelak ketika sama-sama sudah lulus, dia dan saya sama-sama menjadi peneliti tamu di universitas tersebut.

Ada ciri yang cukup menonjol dalam cara Khaleed berpakaian. Meski berada di Jepang, Khaleed sering tampil dengan baju tradisional Pakistan. Baju yang mirip dengan baju koko kita, tapi lebih panjang. Yang lebih khas, ujung celana Khaleed menggantung agak tinggi, di atas mata kaki. Belakangan aku paham bahwa soal ujung celana ini adalah persoalan penting bagi dia.

(more…)

wordpress plugins and themes

Paranoia Kristenisasi

Wednesday, September 2nd, 2009

Suatu ketika di tahun 2005. Saat itu saya bekerja sebagai dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Kebetulan saya menjabat sebagai Ketua Jurusan/Program Studi. Saya sebetulnya baru saja pulang dari tugas belajar di luar negeri. Saya diangkat jadi Ketua Jurusan karena posisi itu lowong, dan kami sedang kekurangan staf pengajar.

Suatu hari saya menerima SMS berbunyi sebagai berikut:
“Tolong kau awasi gerak-gerik Ibu B itu. Hati-hati, sudah ada satu
mahasiswa kita yang dia murtadkan.”
Pengirim SMS itu adalah kawan saya, beberapa tahun lebih tua dari saya. Saya mengenal dia sejak sama-sama kuliah. Kebetulan kami satu fakultas, dan saya juga pernah tinggal sekamar dengan dia di asrama daerah tempat saya tinggal di masa-masa awal kuliah dulu. Saat mengirim SMS itu dia adalah Dekan di fakultas tempat saya bekerja. Artinya dia adalah atasan saya.

(more…)

wordpress plugins and themes

Berpuasa itu berdisiplin

Thursday, August 27th, 2009

Ini percakapan saya dengan seorang teman.

„Mas kerja di perusahaan Jepang, ya?“

„Iya.“

„Stress nggak, Mas?“

„Nggak. Emang kenapa?“

„Kan orang Jepang itu disiplin banget. Kata orang-orang di perusahaan Jepang terlambat masuk kerja satu menit aja nggak boleh.“

„Emang iya.“

„Apa nggak stress dengan situasi kerja seperti itu?“

„Kamu muslim?“ sekarang saya yang gantian bertanya.

„100%, Mas.“

„Kalau kamu puasa, saat sudah masuk waktu subuh, kamu masih boleh sahur?“

„Nggak.”

“Terlambat satu menit pun nggak boleh?“

“Nggak.”

“Stress nggak kamu?”

+++

Terlambat satu menit bagi banyak orang dianggap hal yang masih bisa ditolerir. Padahal dalam urusan keterlambatan perkaranya bukan soal satu atau dua menit. Terlambat adalah terlambat. Satu menit itulah yang membedakan orang yang berdisiplin dengan yang tidak. Itulah soalnya.

Banyak orang yang pernah bersinggungan dengan orang-orang dari negara maju terkesan melihat bagaimana mereka disiplin dalam soal waktu. Tapi mungkin banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa suatu negara tidak mungkin bisa maju kalau penduduknya tidak disiplin.

Kota-kota besar di negara maju biasanya ditopang dengan sistem transportasi massal yang handal. Salah satunya adalah kereta bawah tanah (subway). Pada kota yang sibuk, bahkan super sibuk, di tiap stasiun kereta keluar/masuk hanya berselang 1-2 menit dengan kereta berikutnya. Tanpa disiplin waktu, subway tidak akan berfungsi sebagai angkutan massal. Lebih buruk dari itu, terlambat satu menit pada subway bisa menjadi sebab terjadinya tabrakan.

Sebaliknya, perusahaan penerbangan kita dikenal buruk reputasinya, salah satu sebabnya karena sering terjadinya keterlambatan.

Perusahaan manufaktur Jepang merajai industri dunia. Kunci utamanya adalah improvement (kaizen) dalam proses produksi, sehingga dicapai efisiensi. Dengan begitu ongkos produksi bisa ditekan, yang artinya keuntungan meningkat.

Salah satu caranya adalah dengan menerapkan system Kanban atau Just In Time. Bahan baku masuk, langsung ke production line, berpindah dari satu unit produksi ke unit berikutnya tanpa berhenti. Ini berlangsung terus hingga diperoleh barang jadi di akhir production line, dan barang jadi langsung dikirim ke pembeli.

Sistem ini menghemat waktu, dan tentu saja menghemat biaya. Tapi tidak hanya itu. Dengan sistem ini tidak lagi diperlukan gudang, baik untuk bahan baku, barang setengah jadi, serta barang jadi. Artinya tidak diperlukan lagi investasi untuk membuat gudang. Juga tidak diperlukan penumpukan stok yang mengganggu cash flow perusahaan.

Semua itu, sekali lagi, hanya bisa dicapai dengan disiplin yang tinggi. Jangankan terlambat satu menit, satu detik saja pun sudah bisa membuat system gagal mencapai tujuan.

Itu hanya beberapa contoh kecil saja. Jadi, masihkah Anda menganggap terlambat satu menit sebagai persoalan kecil?

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Mesjid Yes, Gereja No Way

Friday, August 21st, 2009

Cerita ini terjadi saat saya masih menjadi dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Suatu hari sebuah perbincangan sambil menyelesaikan suatu urusan dengan staf administrasi di kampus menyerempet ke sebuah isu sensitif.

“Hampir saja kita kecolongan, Bang”, kata staf administrasi yang berjilbab itu mengadu, setelah sekian lama tak bertemu saya karena saya lama meninggalkan tanah air untuk tugas belajar.

“Ada apa?”, tanya saya.

“Iya, beberapa waktu lalu orang-orang Kristen berniat mendirikan gereja di kampus ini. Untung kita cepat tahu, lalu bergerak mencegahnya. Alhamdulillah kita berhasil.”

“Kenapa dicegah? Kenapa dihalangi?”

“Lho, kan…..”

“Mbak, saya ini hampir 8 tahun tinggal di Jepang. Selama itu saya jadi minoritas dalam hal agama. Coba Anda bayangkan bagaimana rasanya kalau niat saya hendak membangun mesjid atau beribadah selama saya berada di Jepang dihalangi orang.”

“Mbak mengkhawatirkan kristenisasi?” tanya saya. Ia mengangguk.

“Apa iya kalau berdiri gereja di kampus ini lantas orang berbondong-bondong masuk Kristen?”.

Ia lalu terdiam, dan percakapan kami berakhir.
+++

Pola fikir staf administrasi tadi sebenarnya pernah saya anut. Waktu itu saya masih kuliah di UGM dan aktif di organisasi dakwah kampus. Saat itu di UGM belum ada mesjid, dan kami sedang bersiap untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan mesjid. Mantan Rektor, alm. Koesnadi Hardjasoemantri menjadi ketua panitia.

Saat itu kami mendengar bahwa orang-orang Kristen akan mendirikan gereka di kampus. Lokasinya tak jauh dari lahan yang hendak digunakan untuk membangun mesjid. Kami langsung bereaksi. Rencana pembangunan gereja ini harus dihentikan!

Kami, beberapa aktivis Islam di kampus melakukan berbagai lobi. Yang terutama tentu kepada Rektor. Pergilah kami menghadap Rektor, menanyakan soal rencana itu, dan tentu saja (niatnya) menekan Rektor agar membatalkan atau mencegah rencana itu kalau benar adanya.

Sambil menunggu di ruang tamu kantor Rektor, kami berbincang dengan sekretaris Rektor. Topiknya tentu soal yang sama dengan yang hendak kami adukan ke Rektor. Lucunya, belakangan baru kami tahu bahwa sekretaris Rektor tadi adalah seorang penganut agama Kristen. Ampun, deh!

+++

Pola fikir saya berubah saat saya merasakan pengalaman menjadi minoritas. Yaitu saat saya kuliah di Jepang. Saya pernah tinggal di kota kecil di bagian selatan Jepang. Jumlah orang Islam di kota itu sangat sedikit. Tak lebih dari 50 orang. Hampir semua adalah mahasiswa asing.

Karena jumlah kami kecil, kami tak mampu untuk sekedar menyewa apartemen untuk digunakan sebagai mesjid, sebagaimana dilakukan oleh muslim di berbagai kota. Kami mengandalkan kebaikan hati satu dua profesor yang mau meminjamkan ruangan di kampus untuk dijadikan mushalla.

Suatu ketika kami tak lagi diperbolehkan memakai ruangan itu. Alasan pihak kampus, ruangan itu akan dipakai untuk keperluan akademik. Lagipula Jepang adalah negara sekuler, urusan peribadatan warga tidak boleh melibatkan fasilitas milik pemerintah. Saat itu kami benar-benar kesulitan. Kami harus salat Jumat berpindah-pindah tempat. Untunglah akhirnya ada profesor yang mau membantu mencarikan ruangan untuk dijadikan mushalla.

Di kota lain di mana saya pernah tinggal juga, kami menyewa dua ruangan apartemen untuk dijadikan mushalla. Di situlah kami melaksanakan shalat Jumat serta pengajian. Bagian lain dari apartemen ini adalah tempat tinggal yang disewa oleh orang lain, orang Jepang. Kami harus berhati-hati agar aktivitas kami tidak mengganggu kenyamanan mereka.

Kami mengumpulkan dana untuk pembangunan mesjid. Belasan tahun diperlukan hingga akhirnya dana itu terkumpul. Baru 3 tahun yang lalu kota tempat saya tinggal itu memiliki mesjid. Untungnya pemerintah Jepang yang sekuler itu tidak menghalangi. Selama syarat-syarat mendirikan bangunan dipatuhi tidak ada masalah.

Semua kejadian yang saya alami di Jepang itu mengingatkan saya pada nasib minoritas, khususnya orang Kristen di Indonesia. Mereka sering kesulitan mendirikan gereja. Beribadah di ruko atau di rumah milik sendiri pun sering diganggu. Kami, muslim yang minoritas di Jepang, untungnya tidak mengalami hal itu. Alangkah indahnya kalau minoritas di negeri muslim juga tidak mengalami hal itu.

+++

Kembali ke cerita di kampus tempat saya kerja tadi. Di kampus ini ada mesjid yang cukup besar. Dulu dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Lalu, di setiap fakultas didirikan mushalla yang juga tak kecil. Tapi itu pun ternyata tak cukup. Di banyak bangunan di fakultas masih saja ada ruangan yang difungsikan sebagai mushalla. Bagi mereka yang malas untuk ke mushalla fakultas, bisa shalat di mushalla kecil ini. Yang sedikit rajin berjamaah di mushalla fakultas. Yang lebih rajin, ke mesjid.

Melihat ini semua saya merasa sesak. Keterlaluan benar orang muslim ini.

Jaman Rasulullah masih hidup, di Madinah hanya ada satu mesjid. Apa umat Islam ketika itu tidak mampu membangun lebih dari satu? Rasanya tak mungkin. Orang-orang ketika itu rela menyumbangkan apa saja untuk Islam. Mesjid hanya satu dengan tujuan persatuan. Di situlah semua orang berjamaah, bersilaturrahmi. Di satu tempat.

Kota Madinah ketika itu memang kota kecil. Saya tentu tak berharap kota sebesar Jakarta hanya punya satu mesjid. Itu tak masuk akal. Tapi saya yakin kota Madinah di jaman itu lebih besar dari area kampus saya. Kalau Madinah cukup dengan satu mesjid, kenapa kampus tidak? Kenapa kampus masih perlu ditambah dengan beberapa mushalla, plus puluhan ruangan untuk pengganti mushalla?

Dalam situasi yang sudah berlebih itu, orang Islam masih ribut ketika orang Kristen hendak mendirikan satu gereja. Hanya satu gereja saja.

Adilkah kita ini? Tidakkah kita ini berlebihan? Seingat saya tidak adil dan berlebihan adalah dua sifat yang dibenci Allah.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Tsukiai

Tuesday, February 24th, 2009

     Rekan sekerja saya, orang Jepang, menemukan produk pengharum ruangan di ruang administrasi produksi pabrik kami. Perusahaan grup kami kebetulan juga membuat dan memasarkan pengharum ruangan. Melihat produk yang ada ruangan tadi bukan produk yang dibuat oleh grup kami, teman saya tadi menegur karyawan yang ada di situ. “Lain kali beli yang buatan grup kita, ya. Kalau kamu beli merk lain nanti dia (perusahaan grup kita) marah.” katanya dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata. Mengira teman saya tadi sedang bercanda, karyawan tadi hanya senyum-senyum. Saya menduga dia tidak paham latar belakang teguran itu. Saya mengenalnya dengan konsep “tsukiai”.?Dalam aksara Jepang ditulis ????.

    Tsukiai sedernananya bisa diartikan sebagai “berhubungan” atau “menemani”. Dalam hubungan pribadi ia bisa bermakna “pacaran”. Secara lebih luas ia bermakna “sebuah hubungan baik yang perlu/harus dijaga secara jangka panjang”. Dalam konteks bisnis hal itu antara lain diwujudkan dengan memakai produk dari rekanan di mana kita memiliki hubungan baik. Itulah pesan yang hendak disampaikan oleh rekan Jepang saya tadi. (more…)

wordpress plugins and themes

Fatwa-fatwa yang kita butuhkan

Tuesday, February 10th, 2009

     MUI sepertinya sedang kurang kerjaan. Akibatnya keluarlah fatwa-fatwa, yang dalam istilah ABG “nggak penting banget deeeeeeeeeeh”, seperti fatwa soal yoga dan haramnya golput. Saya sungguh heran, MUI bisa sampai pada kesimpulan hukum bahwa golput itu haram. Mikirnya bagaimana? Lha wong pemilu itu sendiri ndak ada hukumnya dalam Islam. Menurut hukum Islam, apakah pemerintah wajib menyelenggarakan pemilu? Tidak. Sunnah? Tidak juga. Mubah? Embuh!  Tapi herannya ujug-ujug, mak jeglek, MUI bisa memutuskan hukum yang sebetulnya “berada di bawah payung” hukum fiqh mengenai pemilu, yaitu memilih. 

   Lebih mengherankan lagi, hal-hal lain mengenai pemilu, yang sebetulnya lebih urgen untuk diperhatikan, malah tidak diperhatikan. Kita lihat anggota legislatif hasil pemilu yang lalu-lalu bergelimang duit korupsi. Mereka sekarang berduyun-duyun jadi pesakitan dan masuk penjara karena korupsi. Yang tidak/belum tertangkap jumlahnya lebih banyak. Yang tidak nyata-nyata korupsi sekalipun, tidak menunjukkan itikad baik untuk melayani kepentingan rakyat. Mereka sibuk memperkaya diri, atau mencari nikmat dengan duit rakyat, misalnya dengan pelesir ke luar negeri. Mengapa MUI tidak mengeluarkan fatwa untuk melaknat mereka?

    Kalau benar MUI kurang kerjaan, berikut ini saya beri daftar agenda masalah yang harus difatwakan MUI, yang urgensinya jauuuuuuuuuuuuuuuuuuh lebih penting daripada fatwa golput.

1. Haram hukumnya menghambur-hamburkan uang untuk kampanye pemilu, saat rakyat sebenarnya butuh uang itu untuk membeli makanan, berobat, dan membiayai anak sekolah.

2. Haram hukumnya berbohong dalam kampanye. Membangun citra seolah-olah seorang calon presiden/ legislatif peduli dengan nasib rakyat. Padahal mereka hanya peduli pada diri dan kepentingan mereka.

3. Haram hukumnya memberikan jabatan di BUMN/lembaga negara sebagai balas jasa kepada orang-orang yang telah berjasa dalam membantu seorang pejabat mencapai jabatannya. Contoh kasus: Presiden SBY memberikan jabatan komisaris BUMN kepada beberapa anggota tim kampanyenya.

4. Haram hukumnya mengklaim program-program yang didanai dengan anggaran negara (uang rakyat) sebagai program-program partai tertentu.

5. Haram hukumnya menghimpun dana kampanye dari konglomerat hitam/putih, pengusaha, dan lain-lain, dengan memberi kompensasi bisnis kalau nanti yang dibantu kampanyenya sukses terpilih.

6. Haram hukumnya tidak menerima hasil pemilu bagi peserta yang kalah, sehingga menyebabkan pemilu harus diulang dan menghabiskan uang rakyat, atau malah memprovokasi rakyat untuk bentrok dengan sesamanya.

7. Haram hukumnya bagi para ulama untuk mengambil keuntungan dalam bentuk apapun dari kegiatan sertifikasi halal, atau dari bisnis-bisnis berlabel syariat.

8. Masih banyak lagi………………………………….saya sudah capek ngetiknya.

wordpress plugins and themes