Archive for the ‘Agama dan Sosial - Budaya’ Category

Asbak Portabel

18 December 2008

        Salah satu tempat belanja favorit saya  di Jepang adalah “Hyaku-en shop” atau “toko seratus yen”. Di situ dijual beraneka barang dengan harga sama, yaitu 100 yen. Jenis tokonya bermacam-macam. Ada yang berupa toko kecil. Tapi ada pula yang berupa supermarket besar, menjual berbagai jenis barang seperti makanan, sayur, barang-barang kelontong, alat tulis, dan lain-lain. 

       Kepana 100 yen? 100 yen (sekitar 12.000 rupiah dengan kurs saat ini) boleh dibilang sebagai nilai terendah yang masih bisa digunakan untuk berbelanja. Hampir tidak ada barang yang bisa kita beli dengan harga di bawah 100 yen. Satu kaleng Coca Cola seharga 120 yen. Satu bungkus rokok Marlboro 320 yen. Satu liter bensin 120 yen. Jadi, barang dengan harga 100 yen adalah barang murah. (more…)

Membicarakan Indonesia tanpa Mengeluh

12 November 2008

      Awal tahun 2007, ketika saya baru beberapa bulan mudik dan mulai hidup baru di tanah air, pada suatu kesempatan saya bertemu kangen dengan teman-teman semasa kuliah dan jadi aktivis kampus di UGM dulu. Seperti biasa acara diisi dengan makan dan obrolan ringan. Karena sudah lama tidak saling bertemu tentu saja isi pembicaraan di masa awal adalah seputar sudah nikah atau belum, anak berapa, sekarang kerja di mana, dan seterusnya. 

     Dasar mantan aktivis, pembicaraan akhirnya nyerempet juga ke urusan politik, birokrasi, dan sejenis itu. Tentu isinya kebanyakan adalah kekecewaan. Mulai dari keluhan soal tidak cakapnya petugas, buruknya pelayanan, sampai kecurangan-kecurangan petugas. Setelah lelah mengeluh, Anies Baswedan (waktu itu baru saja dilantik jadi Rektor Universitas Paramadina) berujar, “Kapan ya kita bisa berkumpul, membicarakan Indonesia, yang isinya bukan keluhan.”

     Kemarin, untuk pertama kalinya saya bisa merasa lega. Untuk pertama kalinya saya bisa menulis hal yang baik tentang Indonesia, yaitu tentang Reformasi di Kantor Pajak. Maaf, saya bukan tukang memburuk-burukkan bangsa sendiri. Tapi terlalu banyak kejadian yang begitu menyesakkan dada tentang bangsa ini. Pada saat yang sama saya mengalami banyak hal-hal baik, tapi sayangnya itu di negeri orang. Di Jepang, tempat saya pernah bermukim selama hampir 10 tahun. Hal-hal baik yang selama ini saya tulis, apa boleh buat, selalu tentang Jepang. 

    Tulisan saya tentang Reformasi di Kantor Pajak banyak mendapat tanggapan. Umumnya memberi kesaksian yang sama dengan yang saya tulis. Juga tidak sedikit yang memberi informasi tentang perbaikan di berbagai tempat, seperti pelayanan pembuatan SIM, pembuatan paspor, dan sebagainya. Tentu saja diiringi dengan cerita lama tentang kecurangan dan kebusukan pegawai pemerintah yang masih belum juga mau berubah. 

    Situasi ini sangat membahagiakan saya. 

    Seperti saya tulis sebelumnya, apa yang saya dan banyak orang saksikan itu belum menggambarkan reformasi di Kantor Pajak secara keseluruhan. Di tempat-tempat tersembunyi boleh jadi masih banyak yang berbuat nakal. Tapi perubahan ini terjadi di Kantor Pajak. Tempat yang selama ini dikenal sebagai “sarang penyamun” uang negara. Perubahan yang terlihat di sarang penyamun, tentu merupakan sebuah perubahan besar yang patut menjadi perhatian.

    Itu baru di Kantor Pajak. Pada saat yang sama kita menyaksikan masih banyak tempat yang masih belum juga mau berubah. Di Kejaksaan misalnya. Meski KPK sudah menangkap jaksa-jaksa nakal, dan kasusnya menjadi sorotan luas, tetap saja belum tampak geliat perubahan berarti di Kejaksaan. Demikian pula di Kepolisian.

    Lebih dari itu, reformasi kita tidak hanya menyangkut birokrasi. Tapi juga peri laku keseharian kita. Cara kita berlalu lintas, menggunakan tempat umum, menjaga kebersihan, menjaga ketertiban, semua masih jauh dari baik. Juga cara kita dalam melihat perbedaan. Ini semua perlu diubah.

    Banyak hal yang masih harus diubah. Saya mungkin harus kembali menulis tentang yang buruk-buruk. Obrolan dengan teman-teman mungkin masih akan berisi keluhan. Tapi setidaknya sesekali kita bisa membicarakan Indonesia dengan bangga, tanpa mengeluh.

18 tahun yang lalu

29 October 2008

         Ketika itu saya aktivis Jamaah Shalahuddin UGM. Ketika itu di UGM belum ada mesjid. Kami menyelenggarakan salat jumat di hall gelanggang mahasiswa. Juga salat tarawih selama bulan ramadan. Ketika itu tarawih di gelanggang sangat trendy, karenanya jamaah hadir berjubel, hingga melimpah ke boulevard di depan gelanggang. Lembaga Dakwah Kampus (LDK) seperti Jamaah Shalahuddin ada hampir di setiap kampus. Untuk berkomunikasi diadakanlah Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). Pelaksanaan forum ini tahun 1998 “ditunggangi” untuk mendeklarasikan lahirnya KAMMI. (Deklarasi KAMMI dilakukan di tempat berbeda dari pelaksanaan FSLDK, tapi pesertanya ya itu-itu juga).

(more…)

Ajal dan Kematian

13 April 2008

“Andai ku tahu, kapan tiba ajalku.” Ungu

Kapan ajal kita? Orang beragama, khususnya Islam, mengatakan tak tahu. Yang pasti kematian itu datang, tapi tak seorangpun tahu kapan tibanya. Waktu kematian seseorang adalah misteri yang tidak diketahui manusia. Dalam Islam waktu kematian adalah sesuatu yang sudah fixed, hanya Allah yang tahu, dan ia tak mungkin dimajukan atau dimundurkan.

Apakah kita demikian tak berdaya terhadap ajal?

(more…)

Undoukai

28 October 2006
Undoukai

Hari Minggu lalu saya hadir di TK (youchien) tempat anak saya Sarah “sekolah”. Ada kegiatan pertandingan olah raga, yang disebut undoukai. Di Jepang tanggal 10 Oktober adalah Hari Olah Raga, karenanya di sekolah-sekolah dan tempat-tempat lain banyak diselenggarakan pertandingan olah raga.

(more…)

Minoritas Muslim Berpuasa

28 September 2006

Sudah hampir sepuluh tahun saya bermukim dan melewatkan suasana bulan Ramadhan di Jepang. Sudah kurang lebih sepuluh kali bulan Ramadhan saya lalui sebagai bagian dari 100 ribu muslim di tengah 120 juta penduduk Jepang. Itu berarti sudah selama itu pula saya menjalani kehidupan sebagai seorang muslim minoritas. Pengalaman beribadah dan berdakwah, khususnya suasana bulan Ramadhan, sungguh berbeda dengan yang sebelumnya saya alami di negeri sendiri, di mana Islam merupakan agama mayoritas. Perbedaan itu, untungnya, justru memberikan banyak pelajaran berharga untuk direfleksikan bagi kehidupan beragama di tanah air.

(more…)

Agama dan Bahasa

17 September 2006

Di sebuah milis saya menegur beberapa rekan soal transliterasi. Masih banyak yang menulis kata “Allah” dengan ejaan “Alloh”, “shalat” dengan “sholat”, dan sebagainya. Tapi salah seorang itu menolak koreksi saya, karena menurut dia lafalnya lebih tepat adalah Alloh, bukan Allah.

(more…)

Pengeras Suara di Mesjid Kita

11 October 2005

Tulisan ini saya buat tahun lalu, ketika saya berkesempatan menunaikan ibadah puasa Ramadhan di tanah air.

(more…)

Menyemai Bibit Pluralisme

7 March 2005

Tulisan Lama

Obrolan ringan saya sambil menyelesaikan suatu urusan dengan staf administrasi di kampus tempat saya bekerja (di Indonesia) menyerempet ke sebuah isu sensitif.

“Hampir saja kita kecolongan, Bang”, kata staf administratif yang berjilbab itu mengadu, setelah sekian lama tak bertemu saya karena saya lama meninggalkan tanah air untuk tugas belajar.

“Ada apa?”, tanya saya.
“Iya, beberapa waktu lalu orang-orang Kristen berniat mendirikan gereja di kampus ini. Untung kita cepat tahu, lalu bergerak mencegahnya. Alhamdulillah kita berhasil.”
“Kenapa dicegah? Kenapa dihalangi?”
“Lho, kan…..”
“Mbak, saya ini hampir 8 tahun tinggal di Jepang. Selama itu saya jadi minoritas dalam hal agama. Coba Anda bayangkan bagaimana rasanya kalau niat saya hendak membangun mesjid atau beribadah selama saya berada di Jepang di halangi orang.”
“Mbak mengkhawatirkan kristenisasi?” tanya saya. Ia mengangguk.
“Apa iya kalau berdiri gereja di kampus ini lantas orang berbondong-bondong masuk Kristen?”. Ia lalu terdiam, dan percakapan kami berakhir.

(more…)

Aceh dan Solidaritas Kita

11 January 2005

Media Indonesia, 11 Januari 2005

Skala bencana tsunami yang melanda Aceh selain tampak pada gambar-gambar visual yang disiarkan media, terlihat pula dari perhatian yang diberikan oleh pihak-pihak yang tak terkena bencana. Segera setelah terjadinya bencana, di seluruh pelosok tanah air dilakukan pengumpulan dana bantuan. Baru kali ini kita saksikan spontanitas yang demikian besar dari masyarakat untuk memberikan bantuan. Hampir di setiap pelosok kota dan desa kita saksikan masyarakat berbondong-bondong memberikan sumbangan.

Spontanitas itu ternyata tak hanya terjadi di tanah air. Di luar bantuan yang dikeluarkan oleh secara resmi oleh pemerintah mereka, masyarakat internasional juga telah menunjukkan solidaritas yang besar. Ketika mendarat kembali di Jepang beberapa hari setelah bencana, saya menemukan penggalangan dana bantuan juga dilakukan oleh masyarakat setempat secara spontan. Di banyak convinient store saya temukan kotak-kotak sumbangan untuk membantu masyarakat Aceh. Ini di luar kegiatan serupa yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia di Jepang yang terutama dipelopori oleh mahasiswa kita.

(more…)