Archive for the ‘Bahasa dan Budaya Jepang’ Category

Belajar Makna Kata

3 December 2009

Saya selalu terkenang dan kagum pada guru-guru bahasa Jepang saya. Saya belajar bahasa Jepang di Kuala Lumpur, bersama 10 orang pelajar lain dari negara-negara ASEAN+Bangladesh melalui Asian Youth Fellowship Program (http://www.asiaseed.org/ayfj/info/info_A3.htm). Kami adalah pelajar-pelajar yang hendak melanjutkan pendidikan S2-S3 di Jepang, dan sebelum kedatangan ke Jepang kami mendapat pelatihan bahasa Jepang selama setahun.

Kami semua buta bahasa Jepang ketika masuk program ini. Saya bahkan tak tahu makna kata “konnichiwa” ketika itu. Hari demi hari kami belajar. Kata demi kata kami ingat. Juga sedikit demi sedikit, tata bahasa, hiragana, katakana, dan huruf kanji kami pelajari. Guru-guru kami bisa berbahasa Inggris. Tapi tak pernah mereka mengajar dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Bahasa pengantar saat mengajar, ya bahasa Jepang. Kami hanya menemukan bahasa Inggris di kamus Inggris-Jepang yang kami gunakan.

Di saat-saat awal pelajaran guru-guru kami menggunakan gambar dan bahasa isyarat untuk menjelaskan makna sebuah kata. Kemudian hari, saat kami mulai paham banyak kosa kata bahasa Jepang, mereka menjelaskan kata-kata yang rumit dengan kosa kata sederhana yang sudah kami pahami.

Komunikasi di luar kelas juga selalu dipaksakan dengan bahasa Jepang. Dan bagian inilah yang paling menarik buat saya. Kami selalu bisa berkomunikasi dengan guru kami. Tak kami rasakan adanya kesulitan yang mendasar. Guru kami sepertinya paham betul sampai dimana penguasaan kosa kata dan tata bahasa kami. Mereka berbicara sesuai dengan kemampuan tersebut. Tidak cuma itu. Mereka dengan tertib menyesuaikan diri dengan perkembangan kemampuan kami.

Di akhir program yang berlangsung selama setahun, kami bisa berkomunikasi dengan sangat lancar dalam bahasa Jepang. Kalau diingat saat-saat kami mulai ikut program ini, kemampuan ini terasa aneh dan mengejutkan. Aneh rasanya bahwa kami bisa mengingat ribuan kata dalam setahun. Sesekali saya mencoba mengingat kapan saya memahami makna suatu kata tertentu. Tapi tak banyak yang bisa saya ingat. Saya lupa dengan cara apa, pada saat apa saya mulai paham dan ingat makna sebuah kata. Yang saya ingat hanya makna kata tersebut.

+++

Saya bandingkan pengalaman saya itu dengan pengalaman membesarkan dan mendidik anak saya. Ada kesamaan, yaitu bahwa kepada anak-anak juga kita perkenalkan makna kata, satu demi satu. Mulai dari kata-kata sederhana, makna sederhana, lalu ke kata-kata yang rumit, dan makna kata yang lebih dalam. Bedanya, saya menyerap kata-kata baru dalam bahasa Jepang dengan kematangan logika dan pengalaman, sedangkan anak-anak saya dengan kepolosan.

Kadang saya merasa sulit menjelaskan makna suatu kata kepada anak-anak karena soal kepolosan ini.

Ada kejadian lucu ketika anak saya yang tertua masih usia TK. Suatu hari dia bertanya, “Ayah, dulu waktu kecil TK-nya di mana?”

“Ayah dulu nggak masuk TK.”

“Kenapa?”

“Karena Ayah dulu waktu kecil di kampung. Di kampung tidak ada TK.”

“Kenapa tidak ada TK, Ayah?”

Saya sempat bingung harus menjawab apa. Lalu keluarlah jawaban ini, “Di kampung dulu orang-orangnya tidak punya uang. Miskin. Jadi tidak bisa bikin TK. Dan Datuk, ayah Ayah, juga tidak punya uang untuk memasukkan Ayah ke TK.”

Kata kunci “miskin” ini sengaja saya masukkan ke alam fikiran anak saya dengan suatu niat. Saat ini boleh dibilang kehidupan saya berkecukupan, walau tidak mewah. Ini suatu hal yang sangat saya syukuri. Tentu cara hidup anak-anak saya sangat berbeda dengan cara hidup saya ketika masih kecil dulu. Dulu kami biasa diajari hidup prihatin oleh orang tua kami. Sekarang sedikit banyak anak-anak saya harus paham soal hidup prihatin ini, walau mereka mungkin tak akan pernah bisa mengalaminya.

Rupanya kata “miskin” ini membekas betul di hati anak saya. Dia sering bertanya seperti apa miskin itu. Saya jelaskan bagaimana kondisi hidup saya waktu kecil dulu. Rumah kami, kata saya, berdinding papan, beratap daun nipah. Saya pergi ke sekolah jalan kaki, tidak pakai sepatu. Dan seterusnya.

Saat kami bepergian dan melewati rumah-rumah kampung, anak saya bertanya, “Ayah, rumah Ayah dulu seperti itu, ya?”

“Iya.”

“Oooh, jadi rumah orang miskin itu seperti itu, ya.” kata anak saya membuat kesimpulan.

+++

Makin lama anak saya makin serius memikirkan topik miskin ini. Suatu hari dia bertanya, “Ayah, kenapa sih orang itu bisa miskin?”

“Karena mereka malas.”

“Malas itu apa sih?”

“Malas itu nggak mau kerja. Kalau kerja merasa capek sedikit sudah langsung berhenti. Tidak ditahan capeknya, sehingga kerjanya cuma sedikit. Hasilnya sedikit, sehingga jadi miskin.”

Saya ucapkan itu untuk memberi motivasi pada anak saya, karena dia sering mengeluh capek dan langsung mau berhenti saat melaksanakan suatu aktivitas. Saya fikir dia cuma manja saja.

Ajaran saya itu rupanya membekas di benaknya. Suatu hari dia kami suruh pergi membeli roti bersama pembantu ke toko roti di dekat rumah. Tapi tidak seperti biasa, mereka pergi hampir setengah jam. Padahal jarak toko roti ke rumah kami tak jauh. Khawatir, saya berniat mencari mereka. Kebetulan saat itu mereka sudah terlihat sedang menuju ke rumah.

Pembantu saya mengeluh.

“Pak, saya diajak pergi ke toko roti yang di sana itu, jauh.”

“Lha, ngapain?” tanya saya.

“Kata dia harus pergi ke toko yang jauh. Saya bilang ntar capek. Eh dia bilang, capek itu harus ditahan, biar kita tidak miskin.”

Ampun, deh.

http://berbual.com

Jidoushi, tadoushi

13 November 2009

Jidoushi dan tadoushi adalah istilah tata bahasa Jepang untuk kata kerja transitif dan intransitif. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal kata kerja transitf sebagai kata kerja yang membutuhkan objek, sedangkan intransitif tidak membutuhkan objek. Definisi kedua kata kerja ini dalam bahasa Jepang sedikit berbeda, dan bagi saya sangat inspiratif. Karenanya saya ingin sedikit berbagi inspirasi.

Doushi berarti kata kerja. Ji berarti sendiri atau dengan sendirinya, sedangkan ta berarti (pihak) lain. Jidoushi artinya kata kerja yang menggambarkan kejadian/kerja yang terjadi dengan sendirinya, atau dilakukan sendiri oleh subjek. Sedangkan tadoushi adalah kejadian/kerja oleh subjek kepada suatu objek.

Salah satu contoh pasangan kata kerja intransitif-transitif dalam bahasa Jepang adalah deru (keluar, intransitif) dan dasu (mengeluarkan, transitif). Saya punya sedikit cerita tentang dua kata kerja ini.

Saat ini saya diberi amanah untuk memimpin sebuah perusahaan Jepang di bidang plastic molding injection yang baru beroperasi sekitar 3 tahun. Selama ini kami membuat barang-barang pesanan dari perusahaan induk di Jepang, untuk dipasarkan di Jepang dan beberapa negara lain. Namun tahun ini pesanan dari Jepang menurun drastis, sehingga kami dihadapkan pada kemungkinan kami akan merugi.

Untuk menutupi kerugian, kami menerima pekerjaan maklun (subkontrak). Nilai pekerjaan yang kami terima cukup rendah, karena perusahaan mitra kami yang memberi pekerjaan itu juga sedang melakukan cost down secara ketat. Kami yang selama ini terbiasa mendapat order dengan margin keuntungan besar dari Jepang merasa berat melakukan pekerjaan ini.

Namun dengan pertimbangan bahwa ada sedikit pekerjaan lebih baik dari tidak sama sekali, kami putuskan untuk menerima pekerjaan ini. Minimal mesin tidak menganggur dan biaya-biaya rutin (overhead) bisa tertutupi.

Dengan kesadaran sejak awal bahwa pekerjaan ini murah nilainya, kami sangat berhati-hati. Segala macam biaya yang bisa dipotong kami potong. Berbagai cara kami lakukan untuk berhemat. Yang terpenting, tingkat apkiran (reject) kami tekan sekecil mungkin.

Setelah beberapa lama berjalan, kami menyadari bahwa pekerjaan ini ternyata bisa memberikan laba. Tidak besar memang. Tapi ada. Dan itu lebih dari sekedar menutup pengeluaran rutin. Saat menyadari hal itu saya berkata kepada teman saya: „Rieki wa deru mono dewa naku, dasu mono da.“ Secara harfiah kalimat itu berarti, „Laba itu tidak keluar, tapi (kita) keluarkan.“ Maksudnya adalah laba itu tidak dihasilkan dari harga yang dihasilkan dari negosiasi dengan pembeli, tapi dari berbagai efisiensi yang kita lakukan dalam proses produksi.

Ilustrasi kecil di bawah ini mungkin bisa lebih memperjelas. Secara umum hubungan antara biaya produksi(P), harga jual(J), dan laba (L) adalah sebagai berikut:
P + L = J
Artinya kita menentukan harga jual produk kita dengan mempertimbangkan biaya produksi dan laba yang ingin kita peroleh. Namun dalam banyak kasus kita tidak bebas menentukan harga jual. Harga jual seringkali sudah ditentukan oleh pasar. Dalam situasi itu rumusnya berubah menjadi:
J – P = L
Dari harga jual yang sudah tertentu itu yang bisa kita lakukan untuk memperoleh dan memperbesar laba adalah dengan menekan ongkos produksi.

Kata deru dan dasu, sama-sama bisa digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan, yaitu sesuatu yang keluar. Tapi pilihan atas kata transitif atau transitif memberi semangat yang berbeda. Kata kerja transitif mewakili semangat kita untuk melakukan sesuatu, bukan menerima atau menyerah begitu saja pada keadaan.

Ada satu lagi pasangan kata kerja yang bagi saya juga memberi inspirasi, yaitu kowareru (rusak) dan kowasu (merusak). Bentuk lampau kedua kata kerja ini masing-masing kowareta dan kowashita. Saat melakukan eksperimen keteledoran saya menyebabkan sebuah alat laboratorium rusak.

Saya melaporkan kejadian itu kepada Sensei (profesor) saya. Dalam logika bahasa Indonesia otak saya berkata, “Alat itu rusak.” Logika itu saya terjemahkan dalam bahasa Jepang, sehingga dari mulut saya keluar kalimat „Souchi (alat) ga kowareta.” Setelah mendengar penjelasan saya, Sensei menjawab,“Kore wa kowareta janaku, kowashita desho.“ (Ini sih bukan rusak, tapi kamu rusakkan.)

Ada perbedaan mendasar pada dua kata kerja di atas. Kowareru berarti alat itu rusak dengan sendirinya. Sedangkan kowasu berarti ada sesuatu yang menyebabkan kerusakan, dan sesuatu itulah yang (harus) bertanggung jawab. Mengungkapkan kejadian di atas dengan kata kowareru adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab tersebut.

Di akhir tulisan ini saya akan kutipkan sebuah ilustrasi dari buku Seven Habits tulisan Stephen Covey. Kali ini bukan tentang pasangan kata kerja transitif dan intransitif. Tapi tentang kata benda dan kata kerja transitif.

Ada seseorang yang berada di ambang perceraian. Dia merasa sudah tidak ada lagi cinta antara dia dengan istrinya. Dia meminta nasihat pada Stephen Covey.

“Cintai dia.” Nasihat Stephen.

“Itu tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Cinta itu sudah tidak ada antara aku dan dia. Bagaimana aku bisa mencintai dia?”

“Bisa. Cintai dia.”

“Tidak mungkin.”

“Ingat. Cinta itu kata kerja. Kata kerja transitif. Cintai dia. Lakukan usaha untuk mencintai dia. Maka cinta itu akan tumbuh di hatimu dan di hatinya.”

http://berbual.com

Muhammad Noboru Sato

4 September 2009
Muhammad Noboru Sato

Namanya Noboru Sato. Nama keluarga Sato adalah nama keluarga yang populasinya paling tinggi di Jepang. Ia seorang muslim. Waktu masuk Islam di depan namanya ditambahi nama Muhammad. Kami memanggilnya Brother Sato atau Sato san.

Saat saya pertama kali mengenalnya tahun 1997 Sato san berumur kira-kira 50-an tahun, mungkin sudah mendekati 60. Saya agak banyak berinteraksi dengan beliau saat saya jadi General Secretary di Islamic Center. Sato san adalah President di lembaga tersebut. Dia adalah President seumur hidup. Tiap tahun pengurus berganti, tapi Sato san selalu dipilih menjadi President.

Setidaknya ada dua alasan untuk hal itu. Pertama, Sato san adalah yang paling senior di antara kami. Menjadikan dia sebagai pemimpin adalah cara kami untuk menghormati dia. Alasan lain bersifat pragmatis. Beliau adalah orang Jepang, penduduk asli di kota itu. Dia tahu lebih banyak tentang berbagai hal mengenai daerah itu. Yang jelas, dia tidak akan pergi dari kota itu sebagaimana kami para pendatang.

Kami menyewa dua kamar apartemen sederhana untuk dijadikan Islamic Center. Di situlah salat Jumat dan berbagai acara dakwah diadakan. Termasuk toko daging dan makanan halal. Ruangan yang kami sewa tidak besar. Karenanya kalau ada acara yang menghadirkan banyak orang seperti salat Ied, kami meminjam ruangan besar milik universitas di dormitori untuk mahasiswa asing.

(more…)

Aisatsu

27 July 2009

Aisatsu (salam/greeting) sangat penting dalam budaya Jepang. Sebelum ke Jepang saya tidak biasa menyapa orang dengan sapaan “selamat pagi“ atau sejenisnya. Sebagai gantinya saya ganti dengan pertanyaan “sedang apa”, “mau ke mana”, dan sejenis itu. Di Jepang aisatsu itu wajib. Tidak hanya di kantor/sekolah, juga di rumah. Saat bertemu pertama kali di pagi hari, juga saat hendak pulang sore hari. Pernah saya ditegur oleh Sensei karena tidak aisatsu saat bertemu dia. Sejak itu saya tak pernah lupa untuk aisatsu.

Ucapan salam dalam berbagai bahasa menarik untuk dicermati maknanya. Berikut makna beberapa aisatsu dalam bahasa Jepang.

Ohayougozaimasu. Ini adalah aisatsu di pagi hari. Saat keluarga baru bangun tidur, biasanya saling mengucapkan ini. Bentuk pendek yang tidak formal adalah sekedar mengucap „ohayo“.

Kata ini berasal dari kata “hayai” yang artinya cepat (early). Penambahan o di depan kata, gozaimasu di belakang, serta perubahan bentuk hayai menjadi hayaou adalah format perubahan kata dalam bahasa penghormatan (sonkeigo). Yang hendak diungkapkan dalam aisatsu ini adalah sebuah pujian: “Anda bangun cepat, ya.” Karena itu, kalau seseorang terlambat bangun, atau terlambat masuk kantor, biasanya sapaannya diplesetkan menjadi “osougozaimasu”, berasal dari kata “osoi” yang artinya lambat.

Konnichiwa dan konbanwa. Keduanya masing-masing berarti selamat siang dan selamat malam. Secara lateral keduanya adalah kalimat yang terpenggal, seakan ada bagian yang hendak diucapkan. Konnichiwa berarti „hari ini………..“, demikian pula konbanwa berarti „malam ini………“. Mungkin sisa kalimatnya berisi harapan/doa agar hari/malam ini jadi hari/malam yang baik.

Ucapan selamat malam yang setara dengan „good night“ adalah oyasuminasai. Artin lateralnya kurang lebih sama dengan good night, yaitu selamat beristirahat.

Aisatsu yang paling umum dikenal adalah arigatou gozaimasu, yang dipadankan dengan “terima kasih”. Bentuk katanya sama dengan ohayo gozaimasu, yaitu bentuk halus dari sebuah kata sifat. Asal katanya adalah arigatai. Kata ini sendiri berasal dari dua kata, yaitu ari (aru) yang artinya ada, dan katai (berubah ucapan menjadi gatai) yang artinya sulit. Arigatai sendiri maknanya „sulit/jarang ada“, karena itu menjadi sangat penting dan bermakna sekali. Mengucapkan arigatogozaimasu berarti kita menganggap sesuatu yang telah dilakukan untuk kita sangat penting dan berarti buat kita, karena itu kita berterima kasih.

Masih dengan pola yang sama adalah ucapan selamat atas keberhasilan seseorang, yaitu omedetou gozaimasu. Asal katanya adalah medetai, yang artinya sesuatu yang menyenangkan dan patut dirayakan.

Saat hendak keluar rumah orang Jepang mengucapkan ittekimasu, artinya saya pergi (sekarang). Orang yang ditinggalkan membalasnya dengan itterashai (selamat jalan). Yang unik adalah saat pulang, yang diucapkan adalah tadaima. Arti lateralnya adalah „sekarang“. Mungkin lengkapnya adalah tadima kaerimashita, saya sekarang sudah pulang. Dalam kartun Doraemon, Nobita selalu mengatakan „saya sudah pulang“, yang merupakan terjemahan dari tadaima. Jawaban atas tadaima adalah okaerinasai, yang artinya „selamat pulang“.

Aisatsu yang agak jarang saya temukan dalam bahasa lain adalah otsukaresamadeshita dan gokurosamadeshita. Asal kata kedua aisatsu ini bermakna hampir sama. Tsukare artinya capek/lelah, kurou juga kurang lebih sama maknanya. Kata sama dalam kata ini bermakna tuan, bentuk halus dari san.

Kedua aisatsu ini dutujukan kepada seseorang yang baru selesai melakukan sesuatu. Otsukaresama deshita bisa digunakan kalau pengucapnya juga ikut bersama melakukan aktivitas tadi. Sedangkan gokurosamadeshita lebih khusus, yaitu ucapan untuk seseorang yang telah melakukan sesuatu bagi si pengucap. Arti lateral secara lengkapnya kurang lebih „Anda telah melakukan sesuatu untuk saya sampai Anda kelelahan“.

Mirip dengan struktur ini, kepada orang yang telah menunggu kita kita ucapkan omachido samadeshita (artinya Anda telah menunggu).

Ganbatte kudasai atau ganbare adalah ucapan untuk menyemangati seseorang yang akan melakukan sesuatu seperti menjalani ujian atau mencoba sebuah tantangan. Asal katanya adalah ganbaru, yang artinya mengerahkan segenap kemampuan. Aisatsu ini berbentuk kalimat perintah. Pesannya adalah „gunakan seluruh kemampuanmu“. Yang diberi ucapan membalasnya dengan ucapan ganbarimasu, artinya dia akan mengerahkan seluruh kemampuan.

Di pabrik saya setiap selesai upacara Senin pagi seluruh karyawan saya ajak menerikakkan kata-kata itu: Ganbarimasu!

http://berbual.com

Showa no oyaji

18 June 2009

Orang Jepang memulai perhitungan tahun dengan bertahtanya Kaisar (Tenno). Dalam dokumen resmi, mereka tidak menggunakan perhitungan tahun Masehi (Seireki-西暦), meski perhitungan bulannya tetap mengikuti. Tahun 2009 ditulis sebagai tahun Heisei 21.

Kaisar Hirohito berkuasa dari tahun 1926 sampai tahun 1989. Periode itu disebut periode Showa (昭和) dan Kaisar Hirohito disebut sebagai Showa Tenno. (昭和天皇). Saat dia meninggal tahun 1989, itu adalah tahun ke 64 Tahun Showa, dan tahun yang sama menjadi tahun pertama atau Gannen (元年) bagi kaisar berikutnya, Akihito. Periode pemerintahan Kaisar Akihito disebut periode Heisei (平成) dan saat ini memasuki tahun ke 21.

Periode Showa adalah periode yang sulit bagi orang Jepang. Dalam periode ini Jepang mulai melakukan ekspansi ke Asia Tenggara, kemudian diikuti dengan Perang Dunia II, di mana Jepang mengalami kekalahan. Pasca perang, orang-orang Jepang harus berjuang dalam kemiskinan, untuk bangkit. Saya ingin menuliskan perjalanan para ayah atau oyaji (親父)pada periode ini untuk menggambarkan situasi pada zaman tersebut.

Sensei saya lahir tahun 1942. Tepat saat perang mulai berkecamuk. Ayahnya adalah seorang tentara, sebagaimana banyak orang lain pada zaman itu. Saat Sensei baru berusia beberapa tahun, ayahnya ditugaskan berangkat perang. Ayahnya gugur di Papua.

Sensei saya adalah satu dari ribuan anak zaman itu. Artinya ada ribuan ayah bernasib sama dengan ayah Sensei. Adapun ayah-ayah yang lain, yang tidak dikirim ke medan perang, tidak kalah menderitanya dengan yang berperang. Itulah salah satu potret ayah zaman Showa.

Perang usai. Tapi Jepang sudah terlanjur luluh lantak. Di sana sini mulai diusahakan perbaikan. Tapi perubahan berjalan lambat. Selama beberapa periode, tak banyak yang bisa dikerjakan. Pada masa-masa seperti ini para ayah pulang ke rumah sore hari, dan secara keras mendidik disiplin pada anak-anaknya.

Ayah adalah figur sentral. Ayah akan duduk di ruang tengah (ima), anak-anak berkumpul bersama. Baru makan malam bisa dimulai.

Orang Jepang mandi malam dengan berendam di air panas (ofuro). Ayah mendapat giliran pertama masuk ofuro. Baru kemudian anggota keluarga yang lain. Tak jarang ibu mendapat jatah terakhir.

Masa-masa akhir decade 50-an, ekonomi mulai membaik. Dekade 60-an adalah saat ekonomi sedang menuju puncak. Salah satu tandanya adalah penyelenggaraan Olimpiade di Tokyo tahun 1964.

Pada masa ini, para ayah adalah para pekerja keras. Keluar rumah saat anak-anaknya masih tidur, dan kembali saat anak-anaknya sudah tidur. Beberapa teman saya bercerita bahwa dia sama sekali tidak mengenal sosok ayahnya ketika masih kecil.

Sensei saya yang punya anak seumur dengan saya juga bercerita, bahwa dia tidak pernah bercengkrama dengan anak-anaknya saat mereka masih kecil. Dia selalu sibuk bekerja.

Baru-baru ini saya berbincang dengan salah seorang kenalan saya, seorang Presdir perusahaan Jepang di Indonesia. Dia juga bercerita hal yang sama. Belasan tahun dari karirnya dihabiskan dengan bekerja di kota yang berbeda dengan tempat keluarganya tinggal. Ia tinggal sendiri terpisah dari keluarganya. Termasuk beberapa tahun di luar negeri.Dalam bahasa Jepang ini disebut tanshin funin (単身赴任). Dia nyaris tak mengenal anaknya, karena tidak bersama dia selama masa pertumbuhan.

Bagi orang Jepang, tanshin funin itu hal yang tidak enak, tapi harus diterima sebagai sesuatu yang lumrah. Ada mungkin yang keberatan, tapi jarang yang mengelak. Orang Jepang memperlakukan tugas dari perusahaan seperti tentara menerima perintah. Mereka hanya menjalankan. Tidak membantah. Juga tidak mengelak, misalnya dengan pindah ke perusahaan lain untuk mencari suasana yang lebih baik.

Para ayah di dekade 80-an adalah mereka yang menikmati puncak kemajuan ekonomi Jepang, khususnya pada masa bubble. Mereka ini tetap pekerja keras. Tapi sudah lebih „manusiawi“. Artinya sudah bisa menyisihkan waktu untuk berkumpul besama keluarga.

http://berbual.com

Sonkeigo

16 June 2009

Sonkeigo

„Yao sensei wa tadaima irassyaimasen.“

Kalimat itu sangat sering diucapkan oleh mahasiwa Jepang saat menerima telepon di kantor grup riset kami saat saya belajar di Jepang dulu. Penelepon minta bicara dengan Sensei (profesor) bernama Yao, yang kebetulan sedang tidak ada di tempat. Mahasiswa tadi menjelaskan situasi itu dengan kalimat di atas.

Saya sering tersenyum kecil mendengar kalimat seperti itu, karena saya tahu kalimat itu salah. Lho? Orang Jepang salah dalam berhasa Jepang?

Mahasiswa tadi berbicara dengan bahasa halus, untuk penghormatan, yang disebut sonkeigo. Tidak ada yang salah dalam tata bahasa yang dia gunakan. Struktur kalimatnya benar. Hanya saja dia salah dalam penerapannya. Sonkeigo memang rumit. Ini adalah salah satu bagian yang paling memusingkan bagi saya saat mempelajari bahasa Jepang, di samping-tentu saja- saat menghafal huruf-huruf kanji. Bagi orang Jepang sekalipun, sonkeigo ini rumit.

Bahasa Jepang memiliki tiga tingkatan. Ada bahasa untuk penghormatan (sonkeigo), bahasa standar (futsugo), dan ada bahasa untuk merendah (kenjogo). Kosa kata yang digunaka membedakan tingkatan itu. Misalnya, untuk kata ada/hadir digunakan “irassyaru” (sonkei), „iru“ (futsu), dan „oru“ (kenjo).

Selain soal kosa kata, ada hal yang lebih penting dalam sonkeigo, yaitu soal pengenaan. Sonkeigo dipakai untuk orang yang lebih tinggi (me ue) dari penutur. Misalnya orang yang lebih tua, atau lebih tinggi jabatannya. Tapi ada lagi aturan lain. Saat mendeskripsikan atau menerangkan seseorang dalam kelompok/keluarga kita (anggota uchi gawa) kepada orang luar, kita tidak boleh menggunakan kosa kata sonkeigo.

Guru bahasa Jepang saya memberi deskripsi yang sederhana untuk aturan di atas. „Seluruh anggota uchi diperlakukan sama di hadapan orang luar. Bapak sama dengan kucing.“ Kita, misalnya, tidak akan mengatakan: „Kucing saya wafat“. Wafat adalah bentuk kata halus/penghormatan yang tidak cocok digunakan untuk kucing.

Kesalahan itulah yang dilakukan oleh mahasiswa tadi. Dia sedang menjelaskan situasi tentang profesor di grupnya kepada orang luar. Tapi dia menggunakan dua kata penghormatan yang tidak pada tempatnya, yaitu „sensei“ dan „irassyaimasen“. Seharusnya dia mengatakan: „Yao wa tadaima orimasen.“. Perhatikan bahwa dalam kalimat tersebut nama orang (Yao) sama sekali tidak diberi embel-embel penghormatan, san atau sensei.

Sebagai orang Indonesia kita bisa „memahami“ kesalahan mahasiswa Jepang tadi. Tentu tak elok bagi kita untuk menyebut nama saja kepada bapak/guru/atasan kita. Demikian pula, kita tak akan nyaman menggunakan kata-kata kasar untuk mendeskripsikan dirinya.

Tapi logika bahasa Jepang ternyata tidak demikian. Meninggikan orang serumah adalah hal yang tabu. Sama seperti tak wajarnya saat kita berkata „Kucing saya wafat.“

Sonkeigo dipertahankan dalam percakapan bisnis. Ini adalah bagian penting dari tata krama bisnis Jepang. Karenanya anak-anak muda yang baru lulus kuliah, dalam masa training di perusahaan, biasanya diberi pelajaran mengenai sonkeigo.

http://berbual.com

Uchi

4 June 2009

Bondan Winarno dalam Kolom KIAT di Majalah Tempo (edisi tahun 1980-an) menggambarkan karakter khas orang/perusahaan Jepang sebagai berikut. Seorang engineer Inggris yang bekerja di BBC akan memperkenalkan dirinya dengan berkata: Saya seorang engineer. Sejawatnya orang Jepang yang bekerja di NHK akan memperkenalkan diri: Saya bekerja di NHK. 

Lebih jelas lagi, kita umumnya akan memperkenalkan diri kita dengan menyebut nama kita terlebih dahulu, baru menyebutkan afiliasi kita. Sedangkan orang Jepang akan memperkenalkan afiliasinya terlebih dahulu. Seseorang bernama Hashimoto yang bekerja di NHK memperkenalkan dirinya dengan berkata, “NHK no Hashimoto desu.” Partikel “no” dalam kalimat tersebut bermakna “bagian”, artinya Hashimoto san ini memperkenalkan dirinya sebagai bagian dari NHK. 

Bagi orang Jepang, perusahaan itu adalah uchi (内). Uchi artinya (bagian) dalam, dan lawannya adalah soto (外). Uchi juga berarti rumah. Secara umum, dengan cara itulah orang Jepang menempatkan dirinya pada suatu lingkungan. Ia menempatkan dirinya di suatu titik, titik terdekat dari dirinya hingga suatu batas tertentu disebut uchi, dan yang di luar itu adalah soto. Ini semua tercermin dari berbagai perlakuan, termasuk penggunaan tata bahasa dan kosa kata. Bahasa Jepang mengenal bahasa halus/penghormatan atau sonkeigo (尊敬語) dan bahasa untuk merendah kenjougo謙譲語. Sonkeigo digunakan untuk pihak luar, sedangkan kenjougo digunakan untuk orang dalam. Soal ini akan saya jelaskan dalam tulisan tersendiri.

 Orang Jepang melihat uchi dalam dua makna tadi, yaitu dalam (internal) dan rumah. Artinya, perusahaan bukan sekedar tempat bekerja, tapi juga rumah bagi karyawannya. Perusahaan dipandang sebagai sebuah keluarga besar. Salah satu konsekwensinya adalah bahwa nama baik perusahaan harus dijaga. Baik dalam konteks bisnis perusahaan maupun dalam konteks kehidupan pribadi. Dalam konteks bisnis hal itu diwujudkan dengan menjaga mutu produk maupun layanan. Dalam konteks pribadi, dalam kehidupan pribadi sekalipun, seseorang dianggap mewakili perusahaan. Pelanggaran lalu lintas yang fatal (misalnya mengemudi dalam keadaan mabuk) dapat membuat seseorang dipecat dari perusahaan.

 Selain soal menjaga nama, konsep kekeluargaan ini muncul dalam bentuk beberapa karakter khas. Salah satunya adalah lebih menonjolnya identitas perusahaan pada diri karyawan ketimbang identitas profesi individu. Ciri lain adalah rendahnya tingkat kepindahan karyawan. Sekali seseorang masuk ke sebuah perusahaan, umumnya dia akan bekerja di situ sampai pensiun. Pindah kerja dari suatu perusahaan ke perusahaan lain di Jepang masih terbilang langka, khususnya kalau dibandingkan dengan Indonesia.

 Saya menduga konsep ini sejarah perjalanan bisnis Jepang yang memang khas. Umumnya bisnis di Jepang dimulai dari bisnis keluarga. Tak heran kalau nama perusahaan serta brand produknya memakai nama keluarga pendiri perusahaan itu. Kita tahu bahwa Honda, Suzuki, Mazda (Matsuda), itu adalah nama orang. Ada juga yang menggunakan namanya secara nyentrik. Bridgestone itu didirikan oleh seseorang bernama Ishibashi yang artinya jembatan batu.

Di Jepang hingga saat ini kita bisa menemukan perusahaan kecil-menengah yang dikelola dengan basis bisnis keluarga. Produknya variatif, mulai dari produk tradisional (yang sejak dulu memang dikerjakan secara turun temurun) seperti kecap (shoyu), miso, hingga produk manufaktur. Demikian pula di sektor jasa. Bisnis dikepalai oleh bapak (oyaji) sebagai shacho (direktur utama), kalau nanti dia pensiun biasanya akan diteruskan oleh anaknya.

 Beberapa bagian dari konsep kekeluargaan itu bertahan meski perusahaan membesar, mendunia, dan mengadopsi konsep manajemen modern.

 Konsep ini kerap memunculkan masalah ketika perusahaan Jepang berbisnis di luar Jepang. Konsep kekeluargaan menjadi kabur maknanya. Mereka sendiri saya duga tak siap untuk memasukkan orang-orang lokal ke dalam lingkaran kekeluargaan mereka. Orang lokal sulit dianggap sebagai bagian dari uchi. Tak sedikit yang merasakan adanya diskriminasi. Ada orang yang bercerita bahwa di perusahaannya toilet saja dipisahkan, untuk staf Jepang dibuatkan toilet khusus, yang tidak boleh dipakai oleh orang lokal (kebenaran dan situasi kontekstualnya tidak saya konfirmasi).

 Tapi pada saat yang sama dalam banyak kasus mereka tidak menyadari hal itu. Sering mereka heran melihat rendahnya rasa memiliki pada karyawan mereka. Mereka heran ketika serikat pekerja, misalnya, tak jarang memperlakukan perusahaan sebagai musuh, bukan sebagai rumah tempat para pekerja itu bernaung. Padahal, menurut hemat saya, itu sebuah konsekwensi logis. Anak yang tak jelas diterima atau tidak di suatu rumah, tak akan merasa nyaman di rumah itu.

Sop Miso Kepala Kakap

18 May 2009
Miso adalah bumbu yang sangat penting bagi orang Jepang. Orang Jepang mungkin tidak akan keberatan kalau kita tuduh tidak bisa hidup tanpa miso. Begitulah kenyataannya. Setiap kali makan, setiap jenis masakan, miso siru (sop miso) adalah side-menu tetap dalam khazanah kuliner Jepang. Tidak hanya untuk sop miso, banyak masakan yang menggunakan miso sebagai bumbu. Di antaranya miso ramen, dan nabe. 

Miso terbuat dari kacang kedelai yang yang difermentasi. Proses pembuatannya tidak saya pahami benar. Saya hanya menyaksikannya melalui berbagai laporan di TV. Tapi kelihatannya resep pembuatannya sangat tradisional, dan dijaga oleh pembuatnya secara turun temurun. Jenis dan rasa miso juga variatif, berdasar daerah pembuatnya. Kesan saya, di daerah utara Jepang, dari Kanto ke Tohoku miso cenderung agak manis, sedangkan ke selatan cenderung asin.

Isi (gu) miso siru sendiri sangat variatif. Isi standar biasanya berupa irisan tahu sutra, rumput laut (wakame), potongan tahu kering, dan irisan daun bawang (negi). Tapi tak jarang ada yang berisi kerang (asari), kepiting (kani), atau kepala dan tulang ikan kakap (tai).

Nah, salah satu menu favorit saya kalau berkunjung ke restoran sushi adalah miso siru berisi kepala dan tulang kakap (tai no ara miso siru). Ikan kakap (tai) adalah ikan yang sangat populer di Jepang. Dagingnya dibuat sashimi atau sushi. Sedangkan sisanya (ara) berupa kepala dan tulang, dimasukkan ke dalam miso siru atau nabe.

Rasa gurih kaldu ikan berpadu dengan manis-asinnya miso, betul-betul maknyus.

Jatuh cinta dengan rasanya, saya tertarik untuk membuat sendiri. Hasil tanya-tanya dengan obachan (nenek) penjual ikan langganan saya waktu di Kumamoto, saya peroleh resep berikut:

Belah kepala ikan kakap, bersihkan, buang sisiknya. Potong tulang ikan sepanjang kurang lebih 3 cm. Siram dengan air mendidih, dan diamkan sejenak, lalu buang air penyiramnya untuk menghilangkan bau amis. Lalu rebus dengan air secukupnya.

Saat ikan sudah hampir lunak, masukkan miso instan, lalu rebus dengan api kecil. Ya, cukup gunakan miso instan, karena kalau tidak akan sangat repot dengan proses menyaring miso, menambahkan dashi (kaldu dari rumput laut (kombu) dan ikan). Tunggu sampai air perebus mendidih, diamkan sejenak, lalu angkat.

Selamat mencoba.

PS. Miso instan bisa diperoleh di berbagai supermarket. Untuk memperoleh sup miso kepiting, yang gambarnya cukup menggiurkan itu prosesnya sama. Cukup ganti kepala kakap dengan kepiting. Rajungan lebih cocok untuk dimasak dengan miso.

Tai

San, Kun, Bucho, Shacho

8 May 2009

Pengetahuan umum kita, orang Jepang menambahkan kata “san” di belakang nama seseorang (untuk orang Jepang di belakang nama keluarga) untuk penghormatan kepada seseorang. Namun sebenarnya ada banyak pernik-pernik menarik dalam soal ini.

Tambahan san ini dikenakan pada nama laki-laki maupun perempuan. Pada komunikasi yang lebih formal, khususnya dalam bahasa tulis, digunakan kata “sama”. Nah, khusus untuk laki-laki yang lebih muda dari si pembicara, (bisa) digunakan sebutan lain, yaitu kun. Kun juga digunakan untuk memanggil anak-anak, khususnya saat memanggil nama diri (first name). Untuk perempuan dewasa selalu digunakan san, sedangan untuk anak-anak digunakan chan.

Bahasa Jepang memang memiliki beberapa tingkatan, berdasarkan umur, dan juga status sosial seseorang. Ada bahasa halus dan formal (sonkeigo), ada bahasa standar (futsugo) dan ada bahasa untuk merendah (kenjogo). Tulisan ini tidak akan membahas lebih lanjut soal tingkatan bahasa ini. Yang hendak dibahas hanya kaitannya dengan panggilan tadi.

Panggilan san, sekali lagi untuk penghormatan. Tapi, ada keunikan tersendiri dalam soal penghormatan ini. Logika budaya Jepang, seseorang yang kita hormati biasanya adalah orang yang lebih tinggi umur dan atau status sosialnya. Tapi tidak hanya itu. Penghormatan juga dilakukan terhadap orang luar keluarga/kelompok. Karenanya meski seseorang lebih tua dari lawan bicaranya, dia tetap tidak bisa menggunakan sapaan kun, kalau kebetulan lawan bicara tersebut adalah orang luar.

Tak jarang panggilan ini berubah. Saat baru kenal seseorang disapa dengan panggilan san. Saat sudah lebih akrab dan tidak lagi merasa asing satu sama lain, panggilan akan berubah menjadi kun, atau bahkan tanpa imbuhan sama sekali. Hanya nama saja.

Artinya, kalau Anda masih dipanggil san oleh orang Jepang, itu bisa bermakna ganda. Anda dihormati, atau Anda dianggap orang luar. 

***
Selain panggilan san yang bersifat umum tadi, seseorang juga dipanggil dengan nama jabatan atau profesinya. Yang paling umum adalah panggilan sensei untuk jabatan/profesi guru, profesor, dan dokter. Orang-orang dengan jabatan ini biasanya dipanggil sensei, baik dalam lingkup pekerjaannya maupun dalam pergaulan pribadi. Saya sempat menikmati panggilan ini di tahun-tahun terakhir masa tinggal saya di Jepang, khususnya saat saya bekerja sebagai visiting associate professor.

Selain itu ada beberapa profesi lain yang melekat menjadi nama panggilan, seperti pengacara (bengoshi), atau akuntan (keirishi). Seperti san, kun, dan sensei, profesi itu dilekatkan di belakang nama orang saat memanggilnya. Contoh, Nakayama bengoshi.

Seseorang yang menduduki jabatan dalam suatu struktur organisasi juga dipanggil dengan tambahan jabatan di belakang nama dirinya. Dalam komunikasi lisan bahkan nama diri tak lagi disebut, cukup dengan nama jabatan saja. Seorang kepala seksi dipanggil kacho, kepala departemen dipanggil bucho, dan seorang presiden direktur dipanggil sacho. Daftarnya bisa diperpanjang. Kepala pabrik (factory manager) adalah kojocho, wakilnya jicho. Komisaris adalah kansayaku, penasihat, sodanyaku. Direktur adalah torishimariyaku.

Here I am. Hasanudin torishimariyaku;)

Oyabaka, Oyagokoro

1 May 2009

Dua istilah ini adalah istilah dalam bahasa Jepang. Oya (親)artinya orang tua (parent). Baka artinya bodoh. (Dalam format makian, kata baka ini kerap di digandeng dengan kata yarou sehingga lengkapnya berbunyi bakayarou artinya kurang lebih “si bodoh”. Dalam pelajaran sejarah kita mengenalnya sebagai kata “bagero”.) Sedangkan kata gokoro berasal dari kata kokoro” yang sudah mengalami perubahan ucapan. Kokoro artinya hati. Kita mengenal kata ini dari lagu Kokoro no tomo (Tambatan Hati).

Oyabaka dapat kita maknai sebagaimana makna lateralnya, kebodohan orang tua (bapak/ibu). Ini adalah sesuatu yang universal sifatnya. Orang tua pasti mencintai anak-anaknya. Dan cinta itu buta lagi membutakan. Juga bodoh, dan membuat orang bodoh. Artinya, rasa cinta pada anak-anak dapat membuat seseorang jadi bodoh. Wujud kebodohan itu adalah perasaan subjektif orang tua yang membuat anak-anaknya selalu terlihat baik.

Kalau oyabaka ini kita umpamakan seperti penyakit, kita bisa klasifikasikan ke dalam beberapa kelompok. Ada yang masuk kelompok ringan. Ini biasanya dialami oleh orang-orang yang baru punya anak. Sangat alami bahwa dia akan merasa anaknya cantik, ganteng, menggemaskan. Ia akan mengabaikan pendapat-pendapat lain yang berbeda tentang anaknya. 

Gejala oyabaka stadium ringan salah satunya adalah gemarnya seseorang mengumpulkan foto-foto anak, dan memajangnya. Di era Facebook ini gejala oyabaka berjejer dengan sindrom narsis si empunya Facebook. Selain memajang foto diri, disertai pajangan foto anak-anak.

Anak-anak selalu manis, selalu menyenangkan. Selalu baik di mata kita. Tapi, itu tadi, mata kita sendiri kadang tertutupi oleh perasaan. Kita kemudian kehilangan objektivitas. Saat anak-anak kita sudah besar, beberapa tingkahnya tak lagi manis. Ada yang menyakitkan, ada yang berbahaya dan harus dihentikan. Tapi lagi-lagi kita tak jarang membohongi diri, bahwa anak kita baik dan manis. “Right or wrong, it’s my kid.” Ini mulai jadi masalah, dan tak jarang jadi masalah gawat.

Secara internal kadang kita mengakui bahwa anak-anak kita itu salah, tidak baik. Tapi sikap yang keluar dari tubuh kita bertolak belakang dengan hal itu. Tanpa sadar kita tidak lagi sedang mencurahkan kasih sayang yang baik bagi anak-anak kita. Tapi kita sebenarnya kita sedang menjerumuskannya ke jurang.

Saya teringat jaman saya masih kecil dulu. Abang saya, guru SMP, bercerita tentang seorang pejabat di daerah. Anaknya bersekolah di tempat abang saya mengajar. Saat kenaikan kelas, anak tersebut tidak naik. Si Bapak, dengan kekuasaannya, meminta guru untuk menaikkan. Guru, tentu sulit melakukan hal ini . Akhirnya diambil “jalan tengah”. Anak tadi dinaikkan kelasnya, tapi dia harus pindah ke sekolah lain.

***

Oyagokoro adalah hati subjektif orang tua. Inilah (barangkali) sumber penyakit oyabaka tadi. Hati orang tua yang tidak hanya memandang anaknya selalu manis dan baik. Tapi juga selalu berusaha memberikan perlindungan, apapun bentuknya, berapapun biayanya. Hati yang dewasa memberikan perlindungan dalam wujud yang positif. Sebaliknya, hati yang kekanak-kanakan memberikan sesuatu yang diniati untuk melindungi, tapi sebenarnya justru menjerumuskan.

Oyagokoro, hati subjektif orang tua, kadang lambat menyadari bahwa anak-anak tidak lagi kanak-kanak. Di mata orang tua, anak-anak selalu kecil, dan layak diperlakukan sebagai anak-anak. Uniknya, hampir semua bahasa, termasuk bahasa Jepang, tidak membedakan kosa kata “anak” untuk pengertian “muda usia” dengan “keturunan”. Anak, dalam hati subjektif orang tua, selalu anak yang muda usia, tak peduli keduanya (orang tua dan anak) sudah sama-sama berada di usia manula.

Dulu, ketika saya kuliah di Jepang, saya sering dimarahi oleh Sensei (profesor pembimbing) saya. Khususnya saat-saat awal saya berada dalam bimbingan dia. Beberapa kejadian memang karena saya berbuat salah. Beberapa kejadian lain karena mis-komunikasi. Tapi ada beberapa kasus yang menurut saya sudah berlebihan. Ketika menyadari dia berlebihan, Sensei pernah meminta maaf dan menjelaskan. “Ini masalah saya, masalah oyagokoro. Saya kebetulan punya anak yang seumur dengan kamu. Jadi, tak jarang saya melihat kamu itu sebagai anak-anak.” katanya.

Saya, saat ini secara sadar bahwa saya seorang penderita oyabaka. Tapi saya berjanji, saya akan sembuh;)

 

http://berbual.com