Archive for the ‘Cerita-Dongeng-Fiksi’ Category

Belajar Makna Kata

3 December 2009

Saya selalu terkenang dan kagum pada guru-guru bahasa Jepang saya. Saya belajar bahasa Jepang di Kuala Lumpur, bersama 10 orang pelajar lain dari negara-negara ASEAN+Bangladesh melalui Asian Youth Fellowship Program (http://www.asiaseed.org/ayfj/info/info_A3.htm). Kami adalah pelajar-pelajar yang hendak melanjutkan pendidikan S2-S3 di Jepang, dan sebelum kedatangan ke Jepang kami mendapat pelatihan bahasa Jepang selama setahun.

Kami semua buta bahasa Jepang ketika masuk program ini. Saya bahkan tak tahu makna kata “konnichiwa” ketika itu. Hari demi hari kami belajar. Kata demi kata kami ingat. Juga sedikit demi sedikit, tata bahasa, hiragana, katakana, dan huruf kanji kami pelajari. Guru-guru kami bisa berbahasa Inggris. Tapi tak pernah mereka mengajar dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Bahasa pengantar saat mengajar, ya bahasa Jepang. Kami hanya menemukan bahasa Inggris di kamus Inggris-Jepang yang kami gunakan.

Di saat-saat awal pelajaran guru-guru kami menggunakan gambar dan bahasa isyarat untuk menjelaskan makna sebuah kata. Kemudian hari, saat kami mulai paham banyak kosa kata bahasa Jepang, mereka menjelaskan kata-kata yang rumit dengan kosa kata sederhana yang sudah kami pahami.

Komunikasi di luar kelas juga selalu dipaksakan dengan bahasa Jepang. Dan bagian inilah yang paling menarik buat saya. Kami selalu bisa berkomunikasi dengan guru kami. Tak kami rasakan adanya kesulitan yang mendasar. Guru kami sepertinya paham betul sampai dimana penguasaan kosa kata dan tata bahasa kami. Mereka berbicara sesuai dengan kemampuan tersebut. Tidak cuma itu. Mereka dengan tertib menyesuaikan diri dengan perkembangan kemampuan kami.

Di akhir program yang berlangsung selama setahun, kami bisa berkomunikasi dengan sangat lancar dalam bahasa Jepang. Kalau diingat saat-saat kami mulai ikut program ini, kemampuan ini terasa aneh dan mengejutkan. Aneh rasanya bahwa kami bisa mengingat ribuan kata dalam setahun. Sesekali saya mencoba mengingat kapan saya memahami makna suatu kata tertentu. Tapi tak banyak yang bisa saya ingat. Saya lupa dengan cara apa, pada saat apa saya mulai paham dan ingat makna sebuah kata. Yang saya ingat hanya makna kata tersebut.

+++

Saya bandingkan pengalaman saya itu dengan pengalaman membesarkan dan mendidik anak saya. Ada kesamaan, yaitu bahwa kepada anak-anak juga kita perkenalkan makna kata, satu demi satu. Mulai dari kata-kata sederhana, makna sederhana, lalu ke kata-kata yang rumit, dan makna kata yang lebih dalam. Bedanya, saya menyerap kata-kata baru dalam bahasa Jepang dengan kematangan logika dan pengalaman, sedangkan anak-anak saya dengan kepolosan.

Kadang saya merasa sulit menjelaskan makna suatu kata kepada anak-anak karena soal kepolosan ini.

Ada kejadian lucu ketika anak saya yang tertua masih usia TK. Suatu hari dia bertanya, “Ayah, dulu waktu kecil TK-nya di mana?”

“Ayah dulu nggak masuk TK.”

“Kenapa?”

“Karena Ayah dulu waktu kecil di kampung. Di kampung tidak ada TK.”

“Kenapa tidak ada TK, Ayah?”

Saya sempat bingung harus menjawab apa. Lalu keluarlah jawaban ini, “Di kampung dulu orang-orangnya tidak punya uang. Miskin. Jadi tidak bisa bikin TK. Dan Datuk, ayah Ayah, juga tidak punya uang untuk memasukkan Ayah ke TK.”

Kata kunci “miskin” ini sengaja saya masukkan ke alam fikiran anak saya dengan suatu niat. Saat ini boleh dibilang kehidupan saya berkecukupan, walau tidak mewah. Ini suatu hal yang sangat saya syukuri. Tentu cara hidup anak-anak saya sangat berbeda dengan cara hidup saya ketika masih kecil dulu. Dulu kami biasa diajari hidup prihatin oleh orang tua kami. Sekarang sedikit banyak anak-anak saya harus paham soal hidup prihatin ini, walau mereka mungkin tak akan pernah bisa mengalaminya.

Rupanya kata “miskin” ini membekas betul di hati anak saya. Dia sering bertanya seperti apa miskin itu. Saya jelaskan bagaimana kondisi hidup saya waktu kecil dulu. Rumah kami, kata saya, berdinding papan, beratap daun nipah. Saya pergi ke sekolah jalan kaki, tidak pakai sepatu. Dan seterusnya.

Saat kami bepergian dan melewati rumah-rumah kampung, anak saya bertanya, “Ayah, rumah Ayah dulu seperti itu, ya?”

“Iya.”

“Oooh, jadi rumah orang miskin itu seperti itu, ya.” kata anak saya membuat kesimpulan.

+++

Makin lama anak saya makin serius memikirkan topik miskin ini. Suatu hari dia bertanya, “Ayah, kenapa sih orang itu bisa miskin?”

“Karena mereka malas.”

“Malas itu apa sih?”

“Malas itu nggak mau kerja. Kalau kerja merasa capek sedikit sudah langsung berhenti. Tidak ditahan capeknya, sehingga kerjanya cuma sedikit. Hasilnya sedikit, sehingga jadi miskin.”

Saya ucapkan itu untuk memberi motivasi pada anak saya, karena dia sering mengeluh capek dan langsung mau berhenti saat melaksanakan suatu aktivitas. Saya fikir dia cuma manja saja.

Ajaran saya itu rupanya membekas di benaknya. Suatu hari dia kami suruh pergi membeli roti bersama pembantu ke toko roti di dekat rumah. Tapi tidak seperti biasa, mereka pergi hampir setengah jam. Padahal jarak toko roti ke rumah kami tak jauh. Khawatir, saya berniat mencari mereka. Kebetulan saat itu mereka sudah terlihat sedang menuju ke rumah.

Pembantu saya mengeluh.

“Pak, saya diajak pergi ke toko roti yang di sana itu, jauh.”

“Lha, ngapain?” tanya saya.

“Kata dia harus pergi ke toko yang jauh. Saya bilang ntar capek. Eh dia bilang, capek itu harus ditahan, biar kita tidak miskin.”

Ampun, deh.

http://berbual.com

Emak Pahlawanku

10 November 2009

Dalam usahanya memperbaiki nasib, Emak membuka lahan baru. Bersama Ayah dan Aki (ayah Emak) dia mengayun kapak, menebang pohon. Merimba. Yang dia hadapi adalah hutan belantara. Pohon-pohon besar ditumbangkan. Pohon-pohon kecil dipotong. Semak belukar dibabat. Hasilnya adalah sebidang tanah kosong, siap ditanami padi. Kelak ladang padi itu ditanami kelapa, kopi, dan pisang. Jadilah ia kebun.

Merimba bukan perkara gampang. Pohon-pohon kayu itu entah sejak kapan tumbuh di situ. Besar batangnya rata-rata sepelukan orang dewasa. Ada yang lebih besar dari itu. Ada pula yang lebih kecil. Emak mengayun sendiri kapaknya. Kapak yang lebih kecil dari kapak Ayah. Ia pun menebang pohon-pohon yang lebih kecil. Atau membabat semak.

Penebang pohon harus pandai menempatkan tetakan mata kapaknya. Salah tetak batang pohon yang tumbang bisa menimpa diri sendiri. Kesalahan lain membuat kita tertumbuk pangkal batang yang baru dipotong. Semua bisa berakibat fatal.

Begitulah. Suatu hari sebatang pohon yang ditebang Ayah tumbang ke arah yang di luar perhitungan. Sehelai tanaman perambat menghalangi tumbangnya pohon, mengubah arahnya. Pohon tumbang itu menuju tempat Aki berdiri, menghantam tepat di kepalanya. Aki tumbang bersimbah darah. Luka parah.

Ini di tengah rimba. Tak ada dokter. Tak ada mantri. Tak ada obat. Hanya ada daun-daun yang ditumbuk dengan dahan pohon, lalu dibebatkan pada luka. Tak ada perban. Sobekan baju usang yang tadi dikenakan saat bekerja digunakan untuk membalut luka. Berdua dengan Ayah, Emak membawa Aki pulang, dan merawatnya. Entah berapa lama baru Aki sembuh. Yang aku ingat di kepala Aki ada cekungan cukup besar, bekas hantaman pohon tadi. Aku kira mukjizatlah yang telah menyelamatkan nyawa Aki saat itu.

Itulah salah satu medan perang yang dihadapi Emak. Benar-benar sebuah pertaruhan nyawa. Pohon tumbang itu bisa menimpa siapa saja yang ada di dekatnya. Emak bukanlah pengecualian.

Kelak, setelah aku agak besar dan mulai ikut membantu Emak di kebun, aku berhadapan dengan hal yang sama. Luka, patah tulang, adalah resiko yang selalu mengintai. Sedikit kelengahan berakibat celaka. Tangan dan kaki kami, orang-orang kampung, dihiasi bekas luka. Luka bekas parang. Luka bakar. Atau patah tulang. Emak tak terkecualikan. Aku pun tidak.

+++

Kemarau adalah musuh kami. Musim kemarau membuat kampung kering kerontang. Tong dan tempayan tempat kami menampung air hujan untuk minum dan memasak, kering. Perigi (kolam) tempat kami mandi, juga kering. Kami harus pergi ke perigi-perigi lain yang belum kering, yang jaraknya lebih jauh dari rumah. Kami mandi di situ, lalu memikul beberapa ember air, dibawa pulang untuk minum dan memasak.

Tapi kemarau bisa lebih buruk dari itu. Rumput-rumput mengering. Ini adalah makanan empuk bagi api liar. Tiupan angin menggoyang dahan-dahan pohon kering dalam semak di tengah kebun. Gesekan menimbulkan panas, memercikkan api. Lalu kebun terbakar.

Kebakaran kebun adalah petaka. Sekali api melahap, kerja kami selama bertahun-tahun akan punah dibuatnya. Kebakaran tak selalu datang dari kebun sendiri. Api bisa menjalar dari mana saja, semau dia.
Suatu musim kemarau, ada kebakaran kebun. Tak jauh dari kebun kami. Waktu itu hanya kami bertiga di rumah. Emak, Ayah, dan aku. Tengah hari. Kami sebenarnya baru saja pulang dari kebun. Makan siang, dan bersiap untuk tidur siang. Tapi kabar dari tetangga memberi tahu bahwa api sudah mengamuk.

Berbekal parang panjang dan ember kami menuju ke kebun. Kebun ini baru. Tanahnya dibeli Emak beberapa tahun yang lalu. Di situ kami tanam singkong, kelapa dan kopi. Emak sungguh senang, karena tanah di kebun ini subur. Pohon kelapa kami gemuk-gemuk. Demikian pula kopi. Ubi kayu menghasilkan umbi yang berlebih, membusuk dimakan tikus, karena manusia tak mampu menghabiskannya.

Kebun ini tak boleh terbakar! Ini adalah hasil kerja kami bertahun-tahun. Bertiga kami menebas rumput di dekat batas kebun milik tetangga. Sebuah kebun yang tak terawat, semaknya lebat dan kering. Umpan lezat bagi lidah api. Pemiliknya tak peduli, karena kebun ini nyaris tanah kosong.

Bertiga kami membuat jalur penahan api. Lupa kami pada kelelahan yang masih menyandera tubuh. Rumput kami tebas, membuat lorong selebar sedepa, sepanjang perbatasan kebun. Jalur ini kami harapkan menghentikan rambatan api yang hendak masuk ke kebun kami.

Api sudah mendekat. Asapnya membumbung. Bunyi rumput kering terbakar berkeretek, terdengar mengerikan. Hawa panas terbawa angin menyapu tubuh kami. Ayah mengayunkan parang lebih cepat. Emak juga. Aku juga. Bertiga kami menggila.

Saat api sudah masuk ke kebun sebelah, kami hampir selesai. Tapi belum aman. Kami harus memastikan api benar-benar mati. Dengan pelepah kelapa kering Emak dan Ayah memukul lidah api yang terdekat dengan tepi jalur penahan yang kami buat. Aku berlari ke selokan menjinjing dua ember, mengangkut sisa-sisa air, atau bahkan lumpurnya sekalipun. Dengan sisa air dan lumpur itu, aku membantu memadamkan api.

Saat pekerjaan itu usai, kebun kami selamat. Tapi Emak nyaris pingsan kelelahan dan kehabisan nafas. Ayah pun terkapar tak berdaya.

+++

Emak adalah pedagang gendong. Ia memanggul buntalan besar di punggungnya, berisi pakaian untuk dijual. Di tangannya ia jinjing keranjang berisi kosmetik dan obat-obatan. Ia berkeliling kampung, berjualan. Juga ke kampung tetangga.

Jalan yang harus ia lalui ke kampung tetangga adalah jalan setapak di tengah kebun. Jalan ini selalu sepi, karena hanya segelintir manusia yang lewat di situ. Malam hari sepi itu berpadu dengan gelap. Di musim hujan, jalan itu becek dan licin. Salah melangkah, kita bisa terpelet jatuh.

Itulah jalan yang harus dilalui Emak.

Sesekali Emak mengeluh padaku, bahwa sebenarnya ia takut melalui jalan itu. Khususnya pada malam hari. Emak membawa sejumlah uang hasil berdagang. Ia bisa saja dirampok di tengah jalan. Atau beruang liar bisa saja menerkamnya. Atau sekawanan celeng penghuni kebun. Terpeleset jatuh di jalan yang licin saja pun bisa celaka. Karena tak ada yang bisa segera datang memberikan pertolongan.

Di tengah kebun itu Emak adalah sosok tak berdaya. Bermacam bahaya siap menghadangnya. Bahkan merenggut nyawanya.

+++

Begitulah Emak. Untuk memperbaiki nasib ia tak cuma membanting tulang. Ia mempertaruhkan nyawanya. Begitulah pahlawanku. Pahlawan kami.

http://berbual.com

Khatib

5 August 2009

Hari Jumat ini, untuk ke sekian kalinya, aku jadi khatib di sebuah mesjid di kota kelahiranku. Aku bukan ustaz, apalagi ulama. Ilmu agamaku hanya sebatas apa yang aku dapat dari madrasah tsanawiyah dulu. Tapi berbagai kebetulan memaksaku jadi khatib.

Aku pertama kali jadi khatib saat kuliah. Ketika itu aku terlibat dalam organisasi yang menyelenggarakan kegiatan dakwah di kampus. Selain berdakwah di kampus kami juga membina anak-anak SMA. Salah satu kegiatan mereka adalah salat Jumat di sekolah. Nah, pada salat Jumat ini kami sebagai pembina diminta untuk memberi khutbah.
Itu sebenarnya hanya terjadi beberapa kali. Aku baru sering memberi khutbah saat aku sekolah di Jepang. Sejumlah mahasiswa muslim dari berbagai negara mengusahakan pinjaman ruangan dari kampus sebagai tempat salat. Bergiliran kami memberi khutbah. Aku termasuk yang diberi kepercayaan untuk itu.

Lama-lama aku menikmati ini. Menjadi khatib bagiku adalah sebuah kebebasan. Bebas dari kewajiban mendengar khutbah-khutbah yang menjemukan. Kalau tidak sedang bertugas sebagai khatib aku harus duduk di barisan jamaah. Mendengarkan khutbah yang tak memberi manfaat, memicu rasa kantuk.

Khatib-khatib laksana pita rekaman. Mengucap hal yang sama berulang-ulang. Hal-hal yang sering kali tak ada hubungannya dengan hidup kita. Ada khatib berkhutbah tentang satu hal, aku dengar dia waktu aku kecil. Kelak ketika aku sudah besar hal yang sama, nyaris sama persis hingga ke setiap titik komanya, diulang lagi.

Tak cuma itu. Khatib-khatib itu laksana robot. Mereka bicara tanpa cita rasa. Datar. Tanpa tekanan. Tanpa irama. Bunyinya tak beda dengan lenguhan kereta api kuno yang menempuh perjalanan panjang. Monoton, mengulang bunyi yang sama. Yang berdiri di mimbar itu tak tampak seperti manusia, yang dengan kasih sayang mengajak orang kepada kebaikan, atau meyakinkan orang tentang sesuatu yang baik.

Sebagai khatib, tentu aku tak perlu mendengar itu semua. Akulah yang didengar. Tak cuma soal bebas dari posisi sebagai pendengar, tentu. Jadi khatib adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku berbeda dengan para kereta api tua itu. Aku tak membahas hal-hal yang sudah jamak dibahas khatib lain. Aku membahas hal-hal yang terjadi sehari-hari. Lalu aku beri makna, aku beri sentuhan, dengan sudut pandang kitab suci. Aku bahas keseharian manusia.

Dan aku punya retorika. Setidaknya aku sangka aku punya. Ketika berdiri di mimbar, aku adalah orang yang sedang bicara pada pendengarku. Aku tatap mata mereka. Aku sampaikan kata-kata, seakan aku sedang bicara kepada mereka satu per satu. Aku ajak mereka. Aku yakinkan.

Ternyata banyak yang menyukai khutbah-khutbahku. Ada yang mendatangiku usai salat untuk sekedar mengatakan, „Nice speech, brother.“ Ada yang mengajakku berdiskusi lebih lanjut tentang apa yang sudah aku khutbahkan. Walhasil, aku diminta untuk sering berkhutbah, lebih sering dari yang lain.

Pulang ke tanah air ke kotaku, aku tetap seorang khatib. Abangku pengurus organisasi Islam, sekaligus pengurus mesjid di dekat rumahnya. Dia juga sering jadi khatib. Dia tahu aku juga biasa berkhutbah. Maka dia menyodorkan aku untuk khutbah di sana sini, di kota kami. Mulanya mengisi jadwal yang telah ditetapkan untuk dia sendiri. Lalu orang mulai mengenalku, dan memintaku untuk khutbah di mana-mana.

+++

Hari ini, entah untuk yang ke berapa kali, aku memberi khutbah. Sudah biasa. Tak ada kecanggungan, tak ada kegugupan. Aku mulai berkhutbah. Aku tak membaca teks. Menurutku itu menghalangi aku untuk menjaga kontak mata dengan hadirin. Kontak mata sangat penting dalam public speaking, begitu yang aku tahu.

Lalu pandangan mataku tertumbuk pada mata di wajah itu. Sebuah wajah yang biasa. Lelaki berumur sekitar lima puluh tahun. Perawakannya kecil. Tak ada ciri khas di wajahnya. Wajah orang kebanyakan. Sorot matanya juga biasa saja. Bulan sorot yang tajam. Menatapku penuh perhatian.

Tapi entah mengapa, wajah dan tatap mata yang biasa itu menyedot perhatianku. Tak pernah selama khutbah aku memberi perhatian khusus pada seorang pendengar. Tapi yang ini lain. Aku selalu menatap wajahnya, matanya. Entah kenapa. Pandangan matanya selalu mengundang aku untuk melihat, lagi, dan lagi. Meski dengan perasaan aneh, aku selesaikan tugasku memberi khutbah.

Satu dua minggu berikutnya aku kembali berkhutbah di sebuah mesjid lain, yang jaraknya cukup jauh dari mesjid tempat aku khutbah sebelumnya. Saat aku memberi salam kepada jamaah sebelum azan, mataku sudah tertumbuk pada wajah itu lagi. Aku agak sedikit heran. Aku tak menduga akan melihat wajah itu di sini. Tapi sadar dengan kenyataan bahwa kota kami tak begitu besar, aku menerimanya sebagai sebuah kebetulan.

Tapi kali ini wajah itu tak hanya menatapku. Saat pandangan kami bertemu, aku mendengar suara. Aku yakin dia yang berkata. Karena kata-kata itu hanya terdengar saat tatapan mata kami bertemu.

„Ittaqullah…..“

„Apa kau merasa pantas menyuruh orang lain?“

„Ittaqullah haqqa tuqaatihi.“

“Apa takwa kamu sendiri sudah haq?“

Terkejut aku dengan suara itu. Menusuk. Tapi aku coba menguasai diri. Aku sedang melaksanakan tugas penting. Tak boleh ada sesuatu yang mengacaukan tugas itu. Untunglah, aku hanya mendengar dua kalimat itu. Setelah itu tak ada lagi. Aku selesaikan tugasku, meski dengan perasaan tak nyaman.

Usai salat Jumat suara itu sesekali menggiang di telingaku. Tapi aku anggap ini sebagai suara hatiku sendiri. Kadang aku memang membisiki diriku sendiri, agar senantiasa bercermin, apakah yang aku khutbahkan sudah aku laksanakan.

Kali berikutnya aku khutbah, aku lihat wajah itu lagi. Kali ini aku tak lagi menganggapnya kebetulan. Dan kali ini suara-suara itu lebih banyak. Lebih berani.

„Ittaqullah.“ kataku memulai khutbah.

„Sadarkah kamu, di tempat apa kamu berdiri sekarang ini? Sadarkah kamu, siapa yang berdiri di situ pertama kali?“

Aku mulai kehilangan konsentrasi. Untung aku kebetulan membawa naskah khutbah. Sesuatu yang sebenarnya jarang aku lakukan. Kehilangan konsentrasi, aku putuskan untuk membaca saja naskah itu.

„Rasulullah. Itu mimbar rasul. Dia dulu yang pertama berdiri di situ.“

Aku sedang berkhutbah. Tidak. Aku sedang membaca sesuatu. Membacakan sesuatu. Hanya mulutku yang membaca. Fikiranku sama sekali tak sadar dengan apa yang sedang aku baca. Aku justru sedang dikhutbahi oleh sebuah sorot mata.

“Yang berhak berdiri di situ mengkhutbahi orang lain adalah rasul Allah. Dan orang-orang yang serupa dengan dia. Yang benar-benar patuh pada Allah.“

„Kamu fikir ini mimbar pidato? Seminar? Atau panggung? Di mana kamu bisa memamerkan intelektualitasmu. Di mana kamu bisa memamerkan kemampuan oratormu. Di mana kamu fikir kamu bisa mempesona orang-orang.“

„Bukan. Ini adalah mimbar rasul.“

„Apa kamu merasa layak berdiri di mimbar rasul?“

Kalimat-kalimat senada itu terus bergema selama aku berdiri di mimbar. Aku berkeringat. Tanganku gemetar. Cepat-cepat aku akhiri khutbah. Lalu meminta pengurus mesjid untuk jadi imam. Tak sanggup aku mengimami salat.
Usai salat aku mencoba mencari pemilik wajah itu. Tapi sia-sia. Aku duduk di barisan terdepan. Tak mungkin aku bisa segera pergi seusai salat. Banyak orang yang masih berzikir di belakangku. Lagipula, biasanya aku harus sedikit berbincang dengan pengurus mesjid. Saat semua itu usai, lebih dari separuh hadirin sudah pulang. Pemilik wajah itu mestinya sudah pulang juga.

+++

Aku kembali ke Jepang. Ke kota tempat aku belajar dulu. Belum lama aku tinggalkan kota ini. Masih banyak teman yang dulu aku kenal, masih berada di situ. Dan tentu saja, mereka kembali memintaku memberi khutbah.

Aku agak takut sebenarnya. Sejak kejadian itu aku tak pernah berkhutbah lagi. Aku takut. Untungnya, kebetulan tak ada yang memintaku sampai aku berangkat ke Jepang. Tapi di sini, di tempat yang sangat jauh dari kotaku, apa yang aku takutkan? Tak mungkin dia ada di sini. Aku sanggupi permintaan temanku.

Tepat saat memberi salam, jantungku sejenak berhenti berdetak. Dia ada di sini! Di baris ke dua dari depan. Sangat dekat dengaku, karena ruang kecil tempat salat kami cuma bisa diisi empat baris. Dia duduk tak lebih dua meter dari tempat aku berdiri.

Kali ini dia tak menggangguku dengan suara-suara. Dia hanya menatapku seperti kala pertama kali aku melihatnya dulu. Tapi tetap saja dia mengganggu. Bagaimana mungkin dia bisa berada di sini. Sebuah kebetulan yang mustahil!

Sengaja aku tak mengimami salat. Aku berdiri tepat di belakang imam. Dia ada di baris ke dua. Tepat di belakangku. Diapit oleh dua orang yang aku kenal. Satu orang Mesir, satu lagi orang Pakistan. Kali ini aku pasti bisa menangkapnya. Akan aku tanyai dia. Siapa dia sebenarnya.
Usai memberi salam di akhir salat, aku langsung menoleh ke belakang. Tapi dia tak ada di situ. Dua orang tadi, orang Mesir dan Pakistan, duduk berdampingan. Dia tak ada. Aku sungguh heran. Tidak. Aku takut.

Aku masih mencoba meyakinkan bahwa pandanganku tak salah. Aku tanya beberapa orang Indonesia yang kebetulan salat di barisan kedua. Siapa tahu mereka kenal orang ini. Tapi tak ada satupun yang mengiyakan kehadiran orang itu. Aku jelaskan bagaimana wajahnya, postur tubuhnya. Tapi tak seorangpun yang memberi kesaksian bahwa orang itu wujud di ruang salat Jumat tadi.

Itulah terakhir kali aku memberi khutbah.

http://berbual.com

Intelijen

27 July 2009

Pagi buta di hari Senin. Presiden Susila Pandir Yardayana memanggil seluruh menteri untuk rapat darurat. Para menteri baru saja selesai beristirahat di akhir pekan. Banyak yang masih bermalas-malasan. Tapi telepon dari ajudan presiden memerintahkan mereka untuk hadir di kantor kepresidenan pukul enam pagi. Keadaan genting.

Di depan menteri yang masih berwajah kuyu dan ngantuk, Presiden Pandir memberi arahan.

“Saudara-saudara, ini keadaan genting. Saya baru saja mendapat informasi dari intelijen kita bahwa akan ada tindakan makar untuk merongrong kewibawaan pemerintah. Menciptakan keadaan kacau, menurunkan kepercayaan rakyat lalu menyengsarakan mereka, serta memberi malu kita di depan masyarakat internasional.”

Ruang rapat langsung gaduh. Tak ada lagi menteri yang mengantuk. Semua jadi serius.

“Lebih jelasnya bagaimana, Pak?” tanya Menteri Pertahanan. Dia heran, karena sebagai orang yang bertanggung jawab dalam soal keamanan dia justru tidak mendapat laporan.

“Jadi begini.” jawab Presiden. “Ini soal intelijen. Ada informasi bahwa akan ada yang mencoba untuk mengubah lusa menjadi hari Kamis.”

Ruang rapat tambah gaduh. Presiden agak jengkel, lalu melanjutkan bicara keras-keras.

“Sekali lagi ini intelijen. Ada pihak-pihak yang mencoba membuat kekacauan, dengan mengubah lusa menjadi hari Kamis. Tujuannya jelas, menciptakan kebingungan dan keresahan. Juga kekacauan ekonomi. Ini intelijen. bukan fitnah, bukan pula gosip.”

“Coba bayangkan, bagaimana kacaunya perekonomian kita bila hanya kita saja yang menjalani hari Kamis, sementara di belahan dunia lain orang menjalani hari Rabu. Seluruh transaksi ekonomi kita akan kacau.”

“Ini jelas usaha untuk mempermalukan saya sebagai Presiden, dan tentu saja mempermalukan bangsa Indonesia.”

“Kita baru saja memulai sejarah baru di bawah kepemimpinan saya. Di sana-sini terlihat kemajuan pesat yang hanya bisa disaksikan selama pemerintahan saya. Kesejahteraan membaik, politik dan keamanan stabil. Dunia luar juga mulai menghargai kita. Saya mulai dikenal sebagai tokoh yang berpengaruh di tengah percaturan politik dunia.”

“Bangsa kita…….”

“Maaf, Pak. Saya minta izin bicara.” kata Menteri Pertahanan agak gemetar. Dia merasa Presiden sudah bicara melantur, agak jauh dari pokok pembicaraan.

“Apa?” tanya Presiden berang. Dia tersinggung pembicaraannya dipotong.

“Maksud saya apa mungkin…? Bagaimana caranya?”

“Apa yang tidak mungkin? Orang jahat selalu bisa mewujudkan niatnya kalau kita tidak pintar mencegahnya.”

“Tapi bagaimana caranya? Bagaimana mengubah lusa, hari Rabu menjadi hari Kamis? Itu tidak mungkin, dan belum pernah terjadi di manapun.”

“Justru karena itu, belum pernah terjadi di manapun. Ini akan menjadi kejadian pertama di dunia. Itu akan makin mempermalukan kita. Negara lain mungkin sudah pernah menghadapi usaha makar semacam ini, tapi berhasil menggagalkannya. Kita juga harus bisa.”

“Maksud saya, itu mustahil!”

“Hah??!! Kamu merendahkan kemampuan bangsa kita. Kalau negara lain bisa, artinya kita juga pasti bisa!”

“Bukan begitu maksud saya, Presiden Pandir. Maksud saya mengubah hari Rabu menjadi hari Kamis itu sesuatu yang mustahil.”

“Mustahil bagaimana? Tak ada yang mustahil. Yang jelas saya tidak mau kecolongan. Jangan meremehkan potensi ancaman sekecil apapun. Paham? Dan kamu Menteri Pertahanan, kamu paling bertanggung jawab di sini.”

Menteri Pertahanan diam sejenak. Hendak mengajukan protes, tapi kemudian membatalkannya. Wajahnya terlihat putus asa.

“Segera siagakan seluruh kekuatan militer dan polisi. Kerahkan seluruh intel dan reserse. Cari dan gali semua kemungkinan. Cegah jangan sampai makar ini terjadi. Ingat, kita tidak punya banyak waktu. Jangan sampai kecolongan. Saya akan segera memberitahu rakyat. Kumpulkan semua wartawan, saya akan membuat konferensi pers darurat.”

Lalu rapat dibubarkan. Di teras istana Presiden menemui wartawan untuk menyampaikan berita tentang keadaan darurat.

+++

Pengumuman Presiden ditanggapi rakyat dengan kebingungan. Tak ada yang paham maksudnya. Tak ada yang percaya ada yang bisa mengubah lusa menjadi hari Kamis. Mereka heran dengan ketakutan Presiden. Kritik bermunculan menanggapi berita itu. Presiden dianggap mengada-ada, justru membuat rakyat resah.

Tapi Presiden tak peduli. Selasa pagi dia kembali mengundang wartawan, memberi keterangan pers.

“Peringatan saya dianggap main-main dan menakut-nakuti rakyat. Sekali lagi saya tegaskan, saya hanya mengingatkan, bukan menakut-nakuti.”

+++

Lusa harinya semua berjalan seperti biasa. Menteri pertahanan bangun paling pagi. Sebenarnya dia memang tidak tidur semalaman, menunggu hari berganti. Dia sudah memerintahkan bawahannya untuk waspada, tapi dia sendiri bingung. Ia tidak bisa memberi instruksi yang jelas, karena dia tak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Tapi agar tidak kecolongan dia memerintahkan semua jajarannya untuk waspada.

Begitu jam berdetang dua belas kali di tengah malam, dia segera mengecek di TV apakah hari itu sudah hari Rabu. Sialnya tak ada stasiun TV yang bicara soal nama hari. Jadi dia terpaksa menunggu datangnya koran pagi, sambil gemetar khawatir. Pukul 4 subuh koran datang. Dia lega. Jelas di situ tertulis hari Rabu.

+++

Pagi-pagi Menteri Pertahanan sudah datang menghadap Presiden. Mengabarkan bahwa hari itu tetap hari Rabu. “Saya sudah tahu.” jawab Presiden pendek.

Pukul delapan pagi Presiden kembali melakukan jumpa pers.

“Seperti saudara-saudara ketahui, hari ini tetap hari Rabu. Artinya jajaran aparat keamanan kita berhasil menggagalkan usaha makar. Kita berhasil melakukan antisipasi. Peringatan yang saya berikan dua hari yang lalu agaknya membuat para drakula yang hendak mengkhianati perjuangan bangsa kita menjadi takut. Boleh jadi mereka membatalkan niatnya, karena melihat rakyat begitu bersatu padu, setia kepada pemerintahan saya. Untuk itu saya ucapkan ribuan terima kasih kepada seluruh rakyat.”

Pedagang Gendong

14 July 2009

Emakku pedagang gendong. Sehelai kain batik panjang dia selempangkan di punggungnya, menyangga buntalan barang dagangan. Ujung kain panjang itu ia simpulkan di dadanya. Buntalan di punggungnya itu berisi pakaian. Ada kain batik (jarik), sarung, kemeja, celana, gaun, rok, pakaian anak, hingga pakaian dalam. Di tangan emak menjinjing sebuah keranjang pelastik, berisi obat-obatan, jamu, dan kosmetik. Itu juga barang dagangan.

Emak selalu berkebaya kalau pergi berdagang. Seingatku emak memang selalu berkebaya kalau keluar rumah. Tak pernah dia memakai rok. Kain batik yang dia pakai untuk bawahan kebaya, diikat dengan sebuah setagen berwarna merah hati. Tapi setagen Emak sungguh istimewa. Di tengahnya ada kantong bertutup restleting. Itulah dompet Emak. Dengan itu ia memastikan uangnya tidak akan pernah tercecer.

Emak kadang memakai sandal. Tapi jalan di kampung kami selalu becek kalau turun hujan. Di jalan yang becek sendal tak lagi nyaman dipakai. Permukaannya jadi licin, sehingga telapak kaki kita tak lagi bisa menginjaknya dengan tepat. Kalau telapak kaki terpeleset di atas sendal, tali sendal bisa putus. Karenanya di kampung kami lebih suka berkaki ayam saat jalanan becek. Demikian pula dengan Emak.

+++
Aku tak tahu persis kapan Emak mulai berdagang. Sejak aku mulai bisa mengingat sesuatu aku lihat Emak sudah berdagang. Cerita Emak, mulanya dia mengambil barang dagangan dari sepupunya yang tinggal di kota. Sesekali sepupunya itu pergi ke desa untuk berjualan. Emak membeli barang dagangan yang dia bawa, lalu dia jajakan berkeliling kampung.

Tak puas dengan itu, Emak pergi sendiri ke kota. Oleh sepupunya dia diperkenalkan kepada pedagang di pasar grosir. Emak menitipkan perhiasannya kepada pedagang itu untuk jaminan. Dia mendapat sejumlah barang dagangan untuk dibawa ke kampung. Uang hasil menjual dagangan itu nanti disetorkan, sambil mengambil dagangan baru. Setelah beberapa kali berhasil menyetor dengan baik, Emak tak perlu lagi menitipkan jaminan.

Beberapa kali bolak-balik ke pasar grosir, Emak kemudian menemukan sendiri pedagang lain yang mau memberi dia kulakan. Di masa jayanya seingatku Emak punya mitra sampai belasan pedagang grosir.

+++

Kenangan tentang Emak hampir selalu tentang seorang pedagang gendong. Aku banyak menghabiskan masa kecilku dengan menemani Emak berdagang. Saat SD aku hanya sekolah hingga jam sepuluh pagi. Pulang sekolah biasanya aku ikut Emak berdagang.

Aku adalah sekretaris pribadi Emak. Emak buta huruf. Dia memerlukan aku untuk mencatat siapa saja yang membeli barang. Orang kampung jarang membeli barang secara tunai. Mereka berutang, membayarnya dengan dua atau tiga kali cicilan. Aku mencatat siapa saja dan berapa utangnya, juga mencatat saat orang membayar sebagian atau melunasi utangnya.

Emak sebenarnya tak butuh catatan, karena dia selalu ingat. Dia ingat berapa harga sepotong kain yang dia beli di pasar grosir, juga berapa harga yang dia tetapkan saat kain itu dijual. Dia ingat siapa membeli apa, harganya berapa, kapan cicilan dibayar, berapa sisa hutang, dan kapan lunasnya. Tapi supaya aman, kami mencatatnya. Kalau aku kebetulan tidak ikut mendampingi Emak saat berdagang, catatan itu aku buat malam hari, setelah Emak pulang. Dia akan mendiktekan semua transaksi hari itu, aku mencatat semuanya.

Selain sebagai tukang catat, tugasku adalah menenteng keranjang pelastik. Kami berdua berjalan dari rumah ke rumah. Melewati kebun kelapa kami menyambangi kampung tetangga. Entah berapa rumah kami singgahi sehari, aku tak ingat benar. Tak jarang kami pulang ke rumah saat hari sudah gelap.

Berjalan bersama Emak selalu menyenangkan. Kami menyusuri jalan yang tak selalu nyaman. Di musim kemarau jalan tanah itu keras dan berdebu. Di musim hujan becek dan licin. Melintasi kebun kelapa di antara perkampungan, kami ditemani oleh gerombolan nyamuk. Jumlahnya ratusan, hingga dengung suaranya jelas terdengar.

Tapi berjalan bersama Emak memang selalu menyenangkan. Kami selalu mengobrol saat berjalan. Ada saja yang diceritakan Emak. Biasanya tentang masa kecil dia. Emak juga suka bergalur, menjelaskan silsilah keluarga. Dia menjelaskan siapa si Fulan, apa hubungan kekerabatannya dengan kami.

Di rumah yang kami kunjungi kami datang sebagai kerabat. Di kampung semua orang adalah kerabat. Masuk ke rumah biasanya Emak larut dalam obrolan. Dia tak langsung membuka barang dagangan. Nanti sambil mengobrol, barulah perlahan barang dagangan dibukakan.

Saat Emak larut dalam obrolan adalah saat yang memjemukan. Tak ada yang bisa aku lakukan. Tak jarang aku larut dalam kantuk.

+++

Emak tak hanya menjual barang. Ia memperkenalkan gaya hidup. Kampung kami ada di pulau. Untuk sampai ke kota orang perlu menumpang kapal motor sehari penuh. Pun biayanya tak murah. Banyak orang tak pernah pergi ke kota seumur hidupnya. Emak tak hanya menjual barang, tapi juga memperkenalkan cara hidup orang kota. Melalui Emak orang kampung kami mengenal kosmetik, berbagai model baju, juga jamu dan obat-obatan.

Kami, anak-anak Emak adalah peraga. Emak membelikan kami baju-baju dari kota. Baju bagus biasanya dipakai saat ada pesta nikah atau perayaan. Orang kampung tertarik membeli setelah melihat baju-baju yang kami pakai. Tak jarang orang rela membeli baju yang sudah pernah kami pakai.

+++
Selain menemani Emak berdagang aku juga menemani Emak belanja ke kota. Saat libur sekolah aku boleh ikut ke kota. Ini adalah keistimewaan keluarga kami. Tak banyak orang kampung yang bisa pergi ke kota. Apalagi anak-anak. Kami secara rutin pergi ke kota.

Menemani Emak berbelanja sebenarnya membosankan. Emak menghabiskan waktu berjam-jam di satu toko, membeli berbagai barang. Lalu dia pindah ke toko lain, mengulangi ritual yang sama. Aku biasanya duduk di pojok, dengan segelas es teh pemberian pemilik toko, menahan kantuk.

Tapi kota memang penuh daya tarik. Oplet, becak, sepeda motor adalah tontonan yang tak pernah aku lihat di desa. Juga lampu listrik. Pesona itu membuat aku tak pernah jera ikut Emak belanja.

Tentu ada hal lain. Sore hari, saat selesai belanja adalah waktunya makan enak. Biasanya Emak mengajakku makan di warung. Sate sapi dengan potongan lontong adalah kegemaranku. Juga gado-gado atau nasi Padang, atau semangkok mie bakso. Juga sop kaki sapi. Semua serba lezat belaka. Dan semua ini hanya ada di kota, saat menemani Emak berbelanja.

+++

Kenangan tentang Emak adalah kenangan tentang gelap, saat senja baru saja berlalu. Gelap di jalan kecil, sepanjang selokan di tengah kebun kelapa. Saat kami berjalan pulang ke rumah. Saat kaki pegal setelah berjalan berkilo-kilo. Saat tangan penat menenteng kerangjang pelastik.

Juga tentang toko-toko grosir. Tentang oplet dan becak. Tentang sate.

Tentang Emak yang tak pernah berhenti mencari cara menghidupi anak-anaknya.

http://berbual.com

Kabur

2 July 2009

Telepon berdering di suatu pagi buta, di penghujung musim dingin. Udara dingin yang menyapu hidungku hingga ke rongga dalamnya mengingatkan aku satu hal: di luar sana dingin, kontras benar dengan kehangatan futon yang membungkus tubuhku. Peringatan itu langsung mematikan gerak reflek tubuhku yang tadinya hendak beranjak bangun ketika mendengar dering telepon. Aku bertahan, berharap penelepon menyadari bahwa dia menelpon terlalu pagi.

Tapi harapanku sia-sia. Dering telepon hanya berhenti sejenak, lalu mulai lagi. Aku fikir ini pasti telepon penting. Mungkin dari keluarga di tanah air. Dengan malas aku melangkah ke pesawat telepon di ruang tengah.

“Halo….

“Pak Hasan?”

“Ya…” jawabku sambil mengantuk.

„Ini Nadri, Pak.“

„Iya. Ada apa?“ tanyaku datar. “Siapa pula Nadri ini”, fikirku.

“Pak, saya ambil keputusan. Saya mau kabur.”

“Apa???!!” teriakku. Sekarang aku ingat siapa si Nadri ini.

„Iya, Pak. Maaf, saya tidak mengikuti nasihat, Bapak. Doakan saya ya, Pak.”

Lalu telepon diputus tergesa-gesa.

Masih agak mengantuk aku henyakkan punggungku ke sandaran sofa butut di ruang tengah. Dingin masih terasa menggigit di permukaan kulitku. Tapi tak ku hiraukan. Fikiranku tak bisa lepas dari Nadri.

„Nekat benar dia.“ fikirku putus asa.

Aku hanya pernah bertemu Nadri sekali. Bukan pula pertemuan yang disengaja. Waktu itu aku dalam perjalanan pulang dari Sendai, sebuah kota di bagian utara Jepang. Saat itu aku menetap di Kumamoto, sebuah kota di pulau Kyushu, di bagian selatan.

Hari itu, seperti biasa aku tiba di bandara hampir 2 jam sebelum keberangkatan pesawat. Tak ada hal yang perlu dikerjakan di hotel. Jadi aku memilih untuk cepat-cepat saja ke bandara. Tak ada yang menarik di sini. Ini bandara kecil saja. Aku sudah ke sini lebih dari sepuluh kali. Karena itu segera setelah check in aku langsung menuju ke ruang tunggu untuk duduk-duduk.

Di ruang tunggu itu untuk pertama kali aku melihat Nadri. Ia waktu itu bersama 3 orang temannya. Sejak melihatnya dari kejauhan aku sudah langsung bisa mengenali mereka. Empat orang pemuda, berumur sekitar 25 tahun. Berkulit gelap, kontras dengan orang-orang Jepang di sekeliling mereka. „Mereka pasti trainee dari Indonesia“, fikirku. Aku langsung menuju ke kursi tempat mereka duduk.

„Orang Indonesia, ya?“ sapaku. Lalu kami berkenalan.

Berempat mereka dalam perjalanan dari Kesennuma, sebuah kota pelabuhan kapal penangkap ikan, berpuluh kilometer di utara Sendai. Aku pernah sekali berkunjung ke kota yang menghadap ke laut Pasifik ini. Di sana memang ada cukup banyak orang Indonesia yang bekerja sebagai awak kapal penangkap ikan.

Tapi Nadri dan kawan-kawannya bukan pekerja. Mereka trainee. Ada ribuan, bahkan mungkin belasan ribu trainee asal Indonesia di Jepang. Mereka belajar dengan cara magang, belajar sambil bekerja di berbagai tempat.Aku beberapa kali bertemu dengan para trainee ini dalam berbagai kesempatan. Umumnya pertemuan tak sengaja, saat main ke kota, di tempat wisata. Ada pertemuan yang berlanjut. Beberapa trainee di sekitar Kumamoto sesekali berkunjung ke rumahku, khususnya saat lebaran.

Ada beberapa trainee yang aku temui di kantor imigrasi. Mereka ini trainee yang bermasalah. Ada yang terlibat tindak kriminal di tempat kerja, antara lain berkelahi. Ada pula yang melanggar aturan keimigrasian, yaitu kabur dari majikan tempat magang, lalu tinggal melebihi batas waktu yang ditetapkan pada visa mereka. Karenanya mereka diproses untuk dipulangkan ke Indonesia. Aku jadi penerjemah saat mereka dalam proses pemeriksaan di imigrasi.

Dari berbagai pertemuan itu terekam berbagai cerita. Ada cerita indah. Para trainee itu magang di perusahaan. Sambil magang mereka diajari berbagai ketrampilan teknis. Ada yang disuruh ikut kursus bahasa Jepang di akhir pekan. Beberapa trainee yang aku temui merasa puas. Dengan sisa uang saku yang mereka tabung, ditambah ketrampilan yang mereka peroleh, mereka berniat membuka usaha kalau nanti sudah pulang. Bahkan ada trainee yang tadinya memang sudah sarjana di Indonesia, berhasil memperoleh beasiswa untuk kuliah S2.

Tapi tak sedikit pula kisah pilu. Ada trainee yang dipekerjakan bak kuli. Di proyek-proyek konstruksi, mereka hanya jadi tukang angkut, tukang pikul. Tak ada ketrampilan khusus yang bisa dipelajari di situ. Mereka dipekerjakan melebihi batas maksimal jam kerja, tanpa uang lembur. Alasannya, mereka trainee, tidak berhak atas uang lembur. Uang saku yang mereka terima pun, jauh di bawah standar upah minimum di Jepang.

Itulah yang dialami Nadri dan kawan-kawan.

Nadri kebetulan sekampung denganku. Ia berasal dari Sambas, pesisir utara Kalimantan Barat. Kampungku ada di pesisir selatan. Ia lulusan SMK Perikanan. Lulus SMK iya menganggur, hanya kerja serabutan. Ia tertarik melamar saat mendengar ada kesempatan magang di Jepang melalui Disnaker. Ia tahu jepang maju dalam bidang perikanan. Ia berharap dapat ketrampilan dan pengetahuan di sana.

Nadri ditempatkan di sebuah kapal penangkap ikan, kalau tak salah khusus untuk menangkap ikan tuna (maguro). Wilayah operasinya di Indonesia juga. Di sekitar Papua. Sekali melaut menghabiskan waktu 2-3 bulan. Pekerjaannya tak lebih dari tukang angkat dan tukang pikul. Tak ada teknik khusus yang diajarkan. Ia sama sekali tak dapat kesempatan untuk, misalnya, belajar mengoperasikan peralatan.

Soal upah dan jam kerja yang tak seimbang adalah keluhan utama Nadri. Rekan-rekannya yang bekerja di darat mendapat uang saku sekitar 70-80 ribu yen sebulan. Mereka umumnya libur pada hari Minggu. Nadri selama melaut harus bekerja tanpa libur. Uang saku yang dia terima 50 ribu yen. Sebenarnya jumlah ini tak jauh berbeda nilainya dengan teman-temannya yang bekerja di darat tadi. Para trainee yang kerja di darat itu harus membayar sendiri sewa tempat tinggal berikut kebutuhan makan mereka. Sedangkan Nadri, semua kebutuhan itu ditanggung perusahaan. Tapi bagi Nadri, kerja berbulan bulan tanpa libur itu sungguh berat. Ia hanya libur saat kapal merapat, sekitar 1 minggu sebelum kembali melaut.

Aku mendengar keluhan Nadri sambil mencoba membetulkan cara pandangnya.

“Orang Jepang itu kasar, Pak. Suka memaki. Kalau saya salah dalam bekerja, saya dimaki-maki.”

“Budaya mereka memang begitu. Saya saja, yang sudah S2 dan calon doktor juga dimaki-maki oleh Sensei saya.”

“Lebih parah lagi, mereka kadang main tangan. Main tempeleng.“

Nadri tak mengada-ada. Trainee yang aku temui saat dia sedang menjalani proses hukum di kantor imigrasi juga bercerita tentang hal yang sama.

Sering aku lihat di acara TV. Pembuat ramen (la mien dalam bahasa Cina, bakmi) yang sedang belajar pada yang sudah senior sering mendapat perlakuan itu. Dimaki-maki, tak jarang dipukul. Pukulan itu menurutku bukan untuk menyakiti, tapi untuk menggugah kesadaran. Namun bagi orang Indonesia macam Nadri, hal seperti itu dianggap tak patut.

Nadri mengungkapkan niatnya untuk kabur. Artinya lari dari majikannya, lalu bekerja sebagai pekerja ilegal. Berulang kali aku berusaha mencegahnya.

„Kamu akan ditangkap. Itu pasti. Bagaimanapun lihainya kamu lari, kamu pasti akan tertangkap.“

„Tidak apa-apa. Yang penting kerja, kumpulkan uang, segera kirim uang itu ke Indonesia. Saat
tertangkap nanti, kalau kita tidak punya uang, tiket pulang akan dibayari pemerintah Jepang.”

“Tapi ada kemungkinan kamu dipenjara, tidak langsung dikirim pulang.“

„Tidak apa-apa. Penjara Jepang toh tidak buruk.”

Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Kalau penjara pun dianggap baik olehnya, apa yang bisa kukatakan? Kami tinggal di negeri yang sama. Tapi kata-kata Nadri mengingatkanku bahwa dia berada di dunia yang lain. Tak patut bagiku untuk memaksakan cara pandangku padanya. Aku sama sekali tak mengenal dunianya.

Kata-kata Nadri yang terakhir itu kembali terngiang di telingaku. „Ki wo tsukete.“ Cuma itu yang bisa aku gumankan. Hati-hati, dik.

http://berbual.com

Suri

24 April 2009

Aku tersadar dengan perasaan yang luar biasa asing. Kepalaku bagian belakang sakit luar biasa. Perlahan aku buka kelopak mataku. Tapi yang tampak hanya hitam, gelap, pekat. Aku tutup mataku, lalu aku buka kembali, untuk memastikan bahwa kelopak mataku benar terbuka. Hasilnya sama, gelap. Butakah aku?

Perlahan kesadaran menjalari seluruh tubuhku. Aku merasa sedang berbaring miring di atas alas papan keras, sedikit terendam air. Punggungku disangga oleh bantal lunak namun dingin. Tubuhku berbalut selimut tipis namun ketat, yang tak kuasa sedikitpun menghangatkan tubuhku. 

Kurebahkan badanku telentang. Kulepaskan tanganku dari belitan selimut tipis, lalu aku gerakkan ia untuk mencari tahu. Segera tanganku terbentur, kanan, kiri, atas. Aku berada di sebuah ruang sempit lagi rendah. Kuraba lagi langit-langit ruangan ini. Sangat rendah, tak cukup tinggi kalau aku sekedar ingin duduk sekalipun. 

Ku hentikan usahaku untuk mencari tahu lebih jauh dengan rabaan tangan, karena itu melelahkan. Aku lemaskan seluruh tubuhku, lalu berfikir. Lalu gagasan itu datang begitu saja, dan tentu saja sangat menakutkan. Aku sudah mati! Kini aku sedang berbaring di liang kubur.

Bagaimana aku mati? Ah, pasti karena penyakit darah tinggi. Penyakit laknat ini musuh kami sekeluarga. Ayah, Emak, dan abangku yang tertua mati karena penyakit ini. Sejak menjelang usia empat puluh aku sudah ada gejala juga. Dan itu membuatku cemas. Dan cemas itu membuat tekanan darahku makin tinggi.

Tapi, tunggu dulu! Aku ingat sekarang. Baru bulan lalu aku ikut general check up, dan hasilnya aku sehat. Tidak ada masalah tekanan darah, gula darah, kolersterol atau apapun. Ginjal, jantung, semua organku berfungsi baik. Aku tak mungkin mati karena suatu penyakit. 

Aku coba ingat kembali saat-saat ketika aku masih hidup. Aku cari ujungnya untuk menemukan sebab kematianku. Lalu kenangan itu hadir. Samar-samar aku ingat, aku sedang melakukan pemeriksaan rutin di pabrik. 

Aku tidak bekerja di bagian produksi di perusahaan kami. Artinya tak ada tugas utamaku yang mengharuskan aku pergi ke pabrik. Aku berurusan dengan segala urusan administrasi, sehingga pekerjaanku bisa kulakukan di kantor saja. 

Tapi aku merasa perlu memastikan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Di perusahaan aku adalah orang lokal dengan jabatan tertinggi. Artinya aku pemimpin atas seluruh karyawan. Aku merasa perlu untuk sesekali datang menjenguk mereka saat bekerja. Menyapa mereka. Kadang mendengar keluhan mereka. Sesekali aku menegur, kalau aku temukan ada yang tidak benar. Aku juga merasa perlu melihat sendiri suasana di tempat kerja bawahanku. Siapa tahu ada hal-hal yang berbahaya, yang tidak mereka sadari karena terlalu terbiasa dengan rutinitas. Atau ada hal-hal yang perlu diubah untuk kebaikan.

Lagipula, pekerjaan kantor membuatku merasa jenuh. Aku butuh selingan, dan jalan-jalan ke pabrik adalah selingan yang menyenangkan. 

Hari itu, saat aku sedang masuk ke pabrik, salah seorang operator sedang memindahkan mold, cetakan plastik, seberat 200 kilo dengan hoist crane. Hoist crane ini sepertinya sedang bermasalah. Gerakannya tak singkron dengan pengaturan pada remote control. Aku mencatat masalah ini, berniat menghubungi suppliernya untuk meminta perbaikan.

Tiba-tiba aku mendengar pekikan kaget.

„Awas, Pak!! Bahaya!!!”

Sebuah hantaman keras terasa di belakang kepalaku. Lalu gelap……………

Selesai mengingat itu semua, aku raba belakang kepalaku, terasa ada luka menganga di situ. Sedikit basah, aku kira itu sisa-sisa darah. 

Ada perlawanan alami dari tubuhku saat aku sampai pada kepastian bahwa aku sudah mati. Refleks tanganku bergerak, mendorong dinding di atasku. Aku ingin keluar dari sini. Ada kerinduan yang sangat pada istriku, juga anak-anakku. Ya terutama pada anak-anakku. Mereka masih kecil-kecil. Mereka butuh aku untuk memberi mereka kasih sayang. Juga butuh aku untuk menafkahi mereka.

Anakku yang tertua berumur tujuh tahun, perempuan. Ia cantik. Matanya indah, dihiasi alis lentik yang ia dapat dari istriku. Ia seorang pengoceh, salah satu tanda bahwa ia keturunanku. Manja dan agak cengeng, tapi aku tahu dia cerdas.

Anakku yang kedua, laki-laki, tiga tahun lebih muda dari kakaknya. Agak pemalu, tapi keras kepala. Ia lebih mandiri, dan agak suka menyendiri. Tapi kalau sudah melihat kakaknya bermanja-manja padaku, biasanya ia juga tak mau kalah.

Yang nomor tiga masih bayi. Anak laki-laki yang sehat, montok. Dalam banyak hal dia mirip kakak perempuannya. Satu perbedaan menyolok, dia juga keras seperti abangnya. Kalau ada hal yang kurang berkenan, ia akan menangis sekerasnya.

Aku dorong lagi dinding di atasku, lebih keras. Tapi aku kemudian menyerah. Bukan hanya pada kenyataan bahwa dinding-dinding aku coba dobrak ini sangat kokoh. Juga bukan pada kenyataan bahwa tubuhku sekarang jauh lebih lemah dari saat aku mulai tersadar tadi. Aku bahkan baru sadar bahwa sekarang tubuhku semakin lemah, nafasku semakin sesak, dan tubuhku makin sulit digerakkan.

Yang membuat aku menyerah lebih dari itu. Aku sadar, bukan sekedar tembok kokoh yang menghalangiku. Bukan tembok fisik. Aku sekarang sudah berada di alam lain. Kembali ke keluargaku, dari alamku sekarang, mungkin malah tidak akan membuat mereka bahagia. Aku akan menakuti mereka. Akhirnya aku pasrah.

Aku coba menghibur diri dengan berhitung-hitung, memastikan setidaknya anak-anakku tak akan kekurangan nafkah kalau aku tak ada. Ada sejumlah tabungan yang aku tinggalkan, dalam bentuk uang tunai di bank. Juga ada asuransi kecelakaan dari perusahaan. Aku bersyukur aku mati kecelakaan, sehingga anak-anakku akan dapat uang dari situ. Juga ada asuransi yang polisnya aku bayar sendiri. 
Aku jumlahkan semuanya, kiranya cukuplah untuk menghidupi mereka sampai mereka selesai sekolah dan mandiri.

Sejenak aku merasa lega. Tapi cuma lega dalam perasaan. Karena rasanya liang kubur ini semakin pengap, panas. Aku sudah sangat sulit bernafas.

Lalu aku sadar akan satu hal lain. Kalau aku di kubur, mana malaikat pemeriksa? Bukankah mereka seharusnya sudah datang sejak tadi? Ketika para pengantar sudah melangkah pulang tujuh langkah? Aku sudah di sini sejak tadi, seharusnya mereka sudah lebih dari tujuh langkah. Mereka mungkin sudah sampai di rumah. Mengapa mereka belum juga datang?

Hmmmm……..berarti dulu aku benar. Segala macam cerita soal pemeriksaan dan siksa kubur itu cuma dongeng belaka. Aku tersenyum menang.

Tapi, kalau malaikat itu tak datang, sampai kapan aku akan terus di sini?

Nafasku semakin sesak, aku tersengal. Lalu gelap.

http://berbual.com

Long Mesir

24 April 2009

Suasana pemilihan umum sering mengingatkan aku pada seorang sanak. Namanya Mesir. Ia anak sulung, dalam logat kampung kami sulong. Karena itu dia kami panggil Long Mesir. Adik lelakinya menikah dengan kakak tertuaku.

Perawakannya kurus tinggi. Kulitnya coklat kehitaman. Meski tak kekar, otot-otot lengan, betis dan pahanya menojol jelas, tanda bahwa otot-otot itu sering dipakai untuk bekerja. Aku tak tahu pasti berapa umurnya ketika aku mulai mengenalnya di masa kecilku dulu. Pastilah lebih muda dari ayahku, karena anak tertuanya sebaya denganku.

Long Mesir seorang buruh panjat kelapa. Ia memanjat dan memetik kelapa yang sudah tua, lalu mengumpulkannya untuk diangkut. Kalau air sedang pasang kelapa-kelapa itu cukup dihanyutkan sepanjang selokan ke bagian depan kebun. Kalau tidak ada air di selokan, ia harus memasukkannya ke dalam keranjang lalu dipikul. (more…)

Emakku bukan Kartini

21 April 2009
Emakku bukan Kartini

Emakku bukan Kartini. Dia hanya anak seorang petani kelapa. Istri seorang petani kelapa pula. Sampai akhir hayatnya dia buta huruf latin (bisa membaca huruf Arab). Dia tak sekolah bukan karena tak hendak. Dia tak sekolah karena berbagai kombinasi yang tak menguntungkannya.

Suatu hari di kampung kedatangan ustaz dari desa lain. Ada pengajian kecil, mempelajari sifat dua puluh. Emak, ketika itu seorang gadis kecil, ingin ikut serta belajar. Tapi ia dihardik ayahnya. “Kau bukan anak perempuan yang patut untuk menjadi cendekia.” Emak hanya bisa menangis.

Tapi Emak tak pernah mengeluh. Pun ia tak melawan. Ia hanya menunggu datangnya sesuatu: Kebebasan. (more…)

Magang

8 April 2009

Yanti terduduk lemah. Mukanya pucat, pandangannya kabur. Tangannya gemetar. Perutnya terasa mual. Tapi ia masih nekat, hendak bertahan. Aliran barang di atas conveyor di depannya bergerak lambat. Dalam pandangannya yang kabur tampak seperti benda mengapung di atas aliran air sungai di kampungnya. Benda itu harus ia raih, harus ia rangkai dengan bagian yang ada di tangannya, selanjutnya dioper ke pekerja di sebelahnya. Pekerja di sebelahnya akan menambahkan bagian yang lain. Begitu seterusnya, di ujung sana benda itu akan jadi barang sempurna.

Ia paksakan tangannya yang lemah untuk menggapai benda itu. Tapi rasanya ia semakin melayang. Benda-benda itu seperti menjauh darinya, terseret arus yang pelan, namun pasti. Ia mencoba mengulurkan tangannya lebih panjang untuk menjangkaunya. Tapi iapun mulai hanyut terbawa arus. Tangannya kini menggapai-gapai, berusaha mengangkat badan lemahnya agar tak terbenam dalam arus air. Tapi ia tak kuasa. Lalu gelap. (more…)