<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berbual &#187; Cerita-Dongeng-Fiksi</title>
	<atom:link href="http://berbual.com/category/cerita-dongeng-fiksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://berbual.com</link>
	<description>tempat ngobrol ngalor-ngidul</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Oct 2011 09:24:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Fajar di Dermaga</title>
		<link>http://berbual.com/fajar-di-dermaga/</link>
		<comments>http://berbual.com/fajar-di-dermaga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2010 01:55:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Dongeng-Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/fajar-di-dermaga/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika memilih untuk menerima lamaran Karim empat tahun yang lalu Limah tidak berfikir untuk jadi ibu rumah tangga. Hanya ibu rumah tangga, yang sehari-harinya hanya perlu mengurus rumah, masak, serta merawat anak. Limah sudah biasa bekerja mencari nafkah. Waktu keluarga Karim melamar pada neneknya di kampung, Limah berusia 15 tahun, sedang bekerja sebagai pembantu rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika memilih untuk menerima lamaran Karim empat tahun yang lalu Limah tidak berfikir untuk jadi ibu rumah tangga. Hanya ibu rumah tangga, yang sehari-harinya hanya perlu mengurus rumah, masak, serta merawat anak. Limah sudah biasa bekerja mencari nafkah. Waktu keluarga Karim melamar pada neneknya di kampung, Limah berusia 15 tahun, sedang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota. Ia memutuskan untuk kembali ke kampung dan menikah karena ia tahu, jadi pembantu tak akan pernah mengubah nasibnya. Ia ingin punya suami, dan bersamanya ia berjuang mengubah nasib.</p>
<p>Limah tak pernah menyangka Karim akan melamarnya. Orang tua Karim cukup berada dan terpandang. Ayahnya seorang tengkulak kopra. Ia membeli kopra dari petani di kampung, lalu mengangkutnya dengan kapal motor miliknya untuk dijual ke kota. Kini kabarnya ia tak cuma berbisnis kopra. Ia mulai mengembangkan usahanya dengan membuka usaha penggergajian kayu yang cukup besar di kampung lain.</p>
<p>Di samping itu Ayah Karim juga pengurus mesjid kampung yang sering memberi khutbah Jumat maupun hari raya. Karim sejak kecil sering dilibatkan ayahnya pada urusan mesjid. Sejak berumur sepuluh tahun ia sudah jadi muazin. Karim juga cukup tampan. Dengan semua itu tak sulit bagi Karim untuk mendapatkan istri dari keluarga lain yang berada dan terpandang.</p>
<p>Entah mengapa pilihan Karim jatuh pada Limah. Mungkin Karim jatuh cinta pada Limah sejak kecil. Rumah mereka memang berdekatan. Karim hanya setahun lebih tua dari Limah. Sejak kecil mereka sering main bersama.</p>
<p>Limah memutuskan untuk menikah bukan karena lamaran itu datang dari keluarga Karim yang berada dan terpandang. Ia hanya menginginkan seorang suami, seorang lelaki. Seorang pemimpin. Limah tumbuh tanpa lindungan seorang lelaki. Ayah dan emaknya mati oleh wabah kolera saat ia berumur dua tahun. Sejak itu Limah dibesarkan oleh neneknya dalam kemiskinan. Saat Limah berumur dua belas tahun, neneknya meninggal. Hidup Limah tertolong karena ada yang kebetulan membutuhkan pembantu rumah tangga di kota. Di usia itu ia mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga.</p>
<p>Di hari-hari pertama sebagai istri Karim dilalui Limah dengan suka cita. Meski sesungguhnya Limah merasakan banyak kecanggungan. Ia canggung dengan makanan lezat yang sehari-hari dapat ia makan. Ia bahkan canggung duduk semeja dengan keluarga Karim. Biasanya ia makan di sudut dapur di rumah majikannya. Itupun setelah semua orang di rumah itu makan. Bukan makan bersama. Limah juga canggung dengan pakaian bagus yang ia kenakan.</p>
<p>Hari-hari di rumah Karim tak begitu melelahkan. Ia hanya membantu pekerjaan rumah Emak Karim. Itupun bersama saudara jauh Karim yang ikut tinggal di rumah itu. Boleh dikata tak banyak pekerjaan yang mesti dilakukan oleh Limah. Mungkin begitulah seharusnya seorang menantu di keluarga berada.</p>
<p>Tapi tak lama Limah bisa menikmati semua itu. Ia merasa ada yang salah dengan pernikahan ini. Ia tak menemukan seorang lelaki pemimpin pada sosok Karim. Karim bukan pemimpin, bukan pekerja keras. Ia memang bangun sangat pagi. Sebelum subuh Karim sudah bangun, mandi, lalu pergi ke mesjid. Di situ ia salat malam dan mengaji hingga subuh tiba, saat dia kemudian mengumandangkan azan. Pulang dari mesjid Karim makan pagi, lalu pergi tidur lagi. Karim tak bekerja. Jarang sekali dia membantu ayahnya.</p>
<p>Ayah Karim juga jarang bekerja. Ia lebih banyak di rumah atau di mesjid untuk beribadah. Ayah Karim memang sudah cukup uzur. Di samping itu dia punya karyawan yang mengurus usahanya. Tapi Karim tidak uzur. Dalam fikiran Limah, dia harus bekerja.</p>
<p>Beberapa bulan di rumah keluarga Karim barulah Limah paham. Karim memang merasa tak perlu bekerja. Untuk apa bekerja? Karim anak tunggal. Semua milik ayahnya akan diwarisinya kelak. Karim merasa nyaman dengan itu semua. &#8220;Kita harus mensyukuri semua ini, Limah. Karena itulah aku banyak-banyak beribadah.&#8221;begitu penjelasan Karim suatu ketika. Karim memang tekun beribadah. Lebih tekun dari ayahnya.</p>
<p>Limah tak bisa membantah Karim. Kadang ia merasa keterlaluan. Ia hidup berkecukupan. Suaminya bukan lelaki jahat. Karim seorang ahli ibadah. Mengapa Limah masih merasa tak puas? Limah kadang merasa ketidakpuasannya itu tak patut. Tapi ia juga risau.</p>
<p>Limah ingin seorang suami yang pemimpin, yang membangun hidupnya dengan tangannya sendiri. Bukan benalu yang seumur hidup menumpang makan dari orang lain. Karim harus dipisahkan dari induknya, ia harus berhenti menyusu. Limah mengajak Karim pindah, punya rumah sendiri. Karim sontak menolak.</p>
<p>&#8220;Apa perlakuan ayah dan emakku padamu tak patut?&#8221; tanya Karim tak paham.</p>
<p>&#8220;Bukan itu.&#8221; jawab Limah. “Aku ingin rumah tangga kita mandiri.”</p>
<p>Emak Karim lebih keberatan lagi. Ia merasa Limah terlalu banyak menuntut pada anak kesayangannya. &#8220;Rupanya kebaikan kami selama ini tak membuatmu senang, Limah. Hidup macam apa lagi yang kau inginkan?&#8221; katanya pedas.</p>
<p>Ayah Karim sepertinya lebih paham. Ia memerintahkan Karim mengelola salah satu kebunnya yang belum jadi benar. Di atas tanah kebun itu sudah berdiri rumah sederhana, yang sudah ada saat kebun ini dibeli oleh ayah Karim. Dengan perbaikan di sana sini rumah itu jadi layak dihuni sebuah keluarga baru.</p>
<p>Berumah sendiri ternyata tak membuat Karim berubah. Ia tetap Karim yang lama, yang enggan bekerja. Ia lebih suka berlama-lama di mesjid untuk beribadah. &#8220;Harta tak akan kita bawa mati, berapapun banyaknya kita punya.&#8221; kata Karim. &#8220;Hanya pahala amal ibadah yang membawa kita ke akhirat.&#8221;</p>
<p>Limah tak membantah Karim. Percuma. Karim benar dalam setiap kata yang dia ucapkan. Itulah yang diajarkan agama, Limah tahu itu. Tapi dia juga tahu bahwa sikap Karim tak betul. Hanya saja dia tak tahu cara membantah atau membetulkan sikap itu. Sesekali mereka kehabisan belanja karena kebun yang belum jadi ini tak banyak benar hasilnya. Limah berharap kekurangan itu menyadarkan Karim. Sayangnya Karim kembali berdalil. &#8220;Barang siapa yang bertakwa pada Allah, Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan rezekinya datang dari sumber yang tak ia duga.&#8221; Jalan keluar itu memang ada, lagi-lagi dari ayah Karim. Lebih tepat lagi dari emaknya. Karim merasa itulah ganjaran atas ibadahnya.</p>
<p>Limah mencoba cara lain. Ia bekerja sendiri. Ia bekerja di kebun, menebas rumput, menggali selokan. Bahkan ia menebang pohon. Berharap Karim malu. Tapi itupun tak mengubah Karim.</p>
<p>Karim bahkan bergeming saat ayahnya jatuh miskin. Usaha penggergajian kayu ternyata gagal. Ayah Karim ditipu orang. Hartanya habis untuk membayar hutang yang dibuat oleh penipu itu. Yang tersisa hanya sebidang kebun tempat di mana rumahnya berdiri. Ayah Karim sudah merasa uzur untuk membangun kembali usahanya. Ia hanya ingin hidup seadanya dari hasil kebun, yang tak cukup banyak untuk dibagi pada keluarga Karim. &#8220;Semua ini ujian dari Allah. Setelah kesulitan akan datang kemudahan.&#8221; Karim berdalil lagi.</p>
<p>Kesulitan mulai terasa saat bantuan dari emak Karim tak lagi mengalir lancar. Tapi Karim tetap Karim yang berdalil, bukan Karim yang bekerja. &#8220;Ada sahabat Rasul ahli ibadah. Ia tak bekerja, hanya beribadah. Saat ia pulang ke rumah, penggiling gandumnya bergerak sendiri, mengeluarkan gandum. Tiada henti, sampai sahabat tadi menyentuh penggiling itu.&#8221; katanya mengutip sebuah riwayat.</p>
<p>Limah mulai tak peduli pada dalil-dalil Karim. Ia bekerja keras. Ia bekerja lebih keras saat dia sadar bahwa dia sedang hamil. Dia berharap dia celaka karena terlalu keras bekerja, agar Karim sadar. Tapi Karim tetap berdalil. Limah kembali bekerja tak lama setelah ia melewatkan empat puluh hari seusai melahirkan. Bayi merahnya ia letakkan di atas daun kelapa, bernaung pohon saat ia bekerja. Sementara Karim tekun di mesjid.</p>
<p>Kesabaran Limah akhirnya sampai pada batasnya. &#8220;Ceraikan aku, Bang.&#8221; pintanya saat bayinya berumur lima bulan. Karim menolak. Tapi Limah tak peduli. Ia memilih untuk pergi meninggalkan Karim. Akhirnya Karim pun tak kuasa menahan. Ia menjatuhkan talak.</p>
<p>Hari masih gelap saat Limah turun dari rumah. Di punggungnya tergantung bungkusan kain batik berisi beberapa helai bajunya dan baju anaknya. Dalam gelap ia berjalan menuju dermaga di muara kampung, tempat ia akan naik kapal menuju ke kota. Limah tak ingin banyak orang kampung tahu soal perceraian dan kepergiannya. Matahari baru menyembul di ufuk timur saat kapal dari kecamatan datang, menjemput penumpang yang hendak ke kota.</p>
<p>Sepanjang perjalanan kapal menuju kota Limah seperti memutar kembali cerita hidupnya. Masih terbayang saat-saat bahagia saat dia naik pelaminan bersama Karim. Ia bukan tak sayang pada Karim. Karim yang selalu lembut pada Limah dan anaknya. Beberapa kali ia menyesal telah membuat keputusan untuk meninggalkan Karim. Tapi bayangan Karim yang selalu berdalil membuat Limah kembali tegar.</p>
<p>Limah yakin pada tujuannya. Ia tak ke kota untuk jadi pembantu. Ia akan berdagang sayur. Selama bekerja sebagai pembantu dulu ia sering disuruh belanja ke pasar. Di situ dia kenal dengan beberapa pedagang sayur, dan sedikit banyak dia belajar dari mereka. &#8220;Menjual sayur tak sulit, aku pasti bisa.&#8221; Limah meyakinkan dirinya.</p>
<p>Dirabanya stagen yang melilit pingangnya. Di situ tersimpan harta berharga satu-satunya milik Limah. Sebuah gelang peninggalan emaknya. Gelang itu hendak dia jual untuk modal berdagang sayur. Limah tak tahu berapa hasil yang akan dia dapat penjualan gelang itu. Yang ia tahu hasilnya tak akan cukup untuk menyewa rumah tempat tinggal. Tapi Limah tak peduli. &#8220;Aku akan tidur di pasar seperti pedagang lain.&#8221; tekadnya. Sejenak ia merasakan kegetiran saat teringat bahwa anaknya masih bayi dalam gendongannya. Anak itu berhak tidur di tempat yang lebih layak, bukan di tengah gunungan sayur di pasar. &#8220;Maafkan Emak ya nak.&#8221;</p>
<p>Genap sehari semalam sudah sejak Limah meninggalkan rumahnya, meninggalkan Karim. Kapal yang ia tumpangi sudah merapat di dermaga. Limah teringat saat ia naik ke dermaga ini lima tahun yang lalu. Saat itu dia masih seorang gadis kecil. Kini ia menggendong bayi di pelukannya. Mesin kapal sudah dimatikan, tapi telinga Limah masih berdengung akibat mendengar raung mesin kapal sehari semalam.</p>
<p>Perlahan Limah naik ke dermaga, menuju mesjid terdekat untuk salat subuh. Di situ Limah hendak menunggu sampai hari terang, saat toko-toko sudah buka. Ia akan mencari toko emas untuk menjual gelangnya.</p>
<p>Limah membasuh mukanya di tempat wudu. Sejuk menyapu wajahnya. Ia sedikit menggigil saat mencuci kaki. Ia menoleh ke dermaga tempat ia naik tadi, berlatar fajar yang mulai menyingsing. Limah menatap dermaga berselimut fajar itu. Ada sedikit rasa khawatir dalam hatinya. Hanya sedikit. Selebihnya adalah keyakinan. Keyakinan bahwa hari-hari esok akan cerah, secerah harapan yang dijanjikan fajar<br />
itu.</p>
<p><a style="cursor: pointer; color: #3b5998; text-decoration: none;" rel="nofollow" href="http://berbual.com/" target="_blank">http://berbual.com</a></p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Ffajar-di-dermaga%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/fajar-di-dermaga/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Fajar di Dermaga" data-url="http://berbual.com/fajar-di-dermaga/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/fajar-di-dermaga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadrah</title>
		<link>http://berbual.com/hadrah/</link>
		<comments>http://berbual.com/hadrah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 10:55:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Dongeng-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Hadrah]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat]]></category>
		<category><![CDATA[tarbang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/hadrah/</guid>
		<description><![CDATA[Sahat berbaring di atas sampan kecilnya. Matahari sudah tegak di atas kepala. Sejak fajar menyingsing ia sudah menebar pancing-pancing kepitingnya di sepanjang sungai berhutan bakau. Sampannya kini ia tambatkan pada akar bakau, bayangan dedaunan melindunginya dari sengatan matahari. Ia sudah makan siang. Masih banyak waktu menuju petang, saat ia harus memeriksa pancing-pancingnya, untuk mengambil kepiting [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sahat berbaring di atas sampan kecilnya. Matahari sudah tegak di atas kepala. Sejak fajar menyingsing ia sudah menebar pancing-pancing kepitingnya di sepanjang sungai berhutan bakau. Sampannya kini ia tambatkan pada akar bakau, bayangan dedaunan melindunginya dari sengatan matahari. Ia sudah makan siang. Masih banyak waktu menuju petang, saat ia harus memeriksa pancing-pancingnya, untuk mengambil kepiting yang terpancing. </p>
<p>Sahat memejamkan matanya, mencoba tidur. Perutnya kenyang. Semilir angin laut yang sejuk, alunan ombak kecil membuat sampannya berayun lembut, memperkuat hasratnya untuk larut dalam mimpi. Tapi telinganya membisikkan hal lain. Di telinganya terngiang suara tarbang yang ia dengar semalam.</p>
<p>Tengah malam tadi Sahat terbangun dari tidurnya oleh dengungan suara nyamuk. Obat nyamuk yang dia bakar di sampingnya seperti tak berdaya menghalau serbuan nyamuk-nyamuk hutan bakau yang selalu kekurangan mangsa. Sahat sudah terbiasa terbangun tengah malam oleh gangguan nyamuk. Tapi malam tadi berbeda. Saat ia mencoba tidur kembali telinganya menangkap suara lain di tengah dengungan kepak sayap nyamuk. Suara tabuhan tarbang!</p>
<p>Sahat memang sangat menyukai hadrah. Syair puja-puji untuk Nabi yang ditulis oleh al-Barazanji, dinyanyikan dengan iringan tarbang, diikuti dengan liukan penari rodat. Sahat adalah penabuh tarbang. Ia bisa betah berjam-jam menabuh tarbang pada pagelaran hadrah semalam suntuk. Ia piawai sebagai penabuh utama, diapit dua penabuh pendamping, penentu jenis tabuhan yang dibawakan. Bila giliran sebagai penabuh utama usai, ia beralih menjadi penabuh pendamping, atau penari rodat. Suaranya merdu saat melantunkan puja-puji.</p>
<p>Pekerjaannya sebagai pemancing kepiting membuat Sahat jarang tinggal di kampungnya untuk waktu yang lama. Ia lebih sering berada di laut, di atas sampannya. Berkeliling menjelajahi laut berhutan bakau bersama empat lima orang lain. Kepiting hasil tangkapannya diambil oleh kapal motor pengumpul, lalu dikirim ke kota dengan kapal yang lebih besar. Ia kembali ke kampung dua-tiga minggu sekali untuk mengantarkan uang pada keluarganya, lalu melaut lagi. Meski jauh di tengah laut, ia selalu minta kabar soal pagelaran hadrah di kampung melalui awak kapal motor. Bila ada hadrah, diusahakannya untuk pulang. Tak jarang pula Sahat menghadiri hadrah di kampung di dekat tempat ia memancing, bila kebetulan ada yang berhajat menyelenggarakan hadrah. Untuk itu Sahat selalu membawa baju teluk belanga dan sarung terbaik yang ia miliki di dalam sampannya.</p>
<p>Suara tarbang yang didengar Sahat semalam cukup mengganggunya sepanjang hari ini. Ia memang sudah hampir dua bulan tak main. Tapi bukan itu sebabnya. Arah sumber suara itu tidak wajar. Dari balik tanjung, kira-kira dua jam perjalanan dengan sampan dari tempat itu berlabuh sekarang. Dia mengenal daerah ini dengan baik, karena sudah bertahun-tahun dia mancing di situ. Dia tahu persis tak ada kampung di situ. Tapi kenapa ada suara tabuhan tarbang?</p>
<p>Jemu memejamkan mata tanpa bisa tertidur, ia bangun dan menyalakan rokok. Di tiga sampan lain teman-temannya sedang lelap tertidur. Tapi di satu sampan dia lihat Hamdan juga sedang duduk merokok. Dilepasnya tambatan sampannya dari pohon bakau, perlahan ia mengayuh menuju sampan Hamdan.</p>
<p>“Ndan, malam tadi aku dengar tabuhan tarbang dari balik tanjung itu.“ bisiknya pada Hamdan. Ia tak ingin yang lain tahu dan menganggapnya kerasukan jin hadrah. Hamdan tak bermuka heran, tapi langsung tertawa keras-keras. Sahat panik. Reaksi Hamdan tepat seperti perkiraannya. </p>
<p>“Kau ini lapar hadrah. Mana ada kampung di balik tanjung itu. Kalaupun kau dengar bunyi tarbang dari situ, itu pastilah kerja jin yang sedang mengawinkan anaknya.“ kata Hamdan sambil terus tertawa. Suara keras Hamdan membuat yang lain terbangun, lalu ikut memperolok Sahat. Merasa malu Sahat mencoba menganggap suara yang ia dengar tadi malam adalah mimpi.</p>
<p>Malam hari selepas magrib, saat bersiap memeriksa pancing-pancingnya Sahat kembali mendengar suara itu. Sayup-sayup. Ia coba mengabaikannya. Tapi suara itu makin jelas terdengar. Ia tetap mengabaikannya. Takut ditertawakan lagi. Tapi suara itu sudah semakin jelas, tak mungkin ia abaikan. Lalu ia datangi lagi sampan Hamdan.</p>
<p>“Kau dengar itu?”</p>
<p>„Apa? Suara tarbang jin?“ Hamdan balik bertanya dan siap hendak tertawa lagi.</p>
<p>„Coba kau diam dan dengar baik-baik!“ sergah Sahat.</p>
<p>Hamdan menurut. Sejenak kemudian raut wajahnya berubah. Mimiknya serius sekarang.</p>
<p>„Iya, aku dengar.“ katanya dengan wajah tak percaya.</p>
<p>Berdua mereka mengayuh sampan, mendekati tiga sampan lain. Semua bersikap sama. Mula-mula tak percaya. Tapi lama-lama mereka semua mendengar apa yang malam tadi didengar Sahat. </p>
<p>“Ah, mungkin itu hanya suara dari kampung lain yang terbawa angin.“ kata Samad mencoba menjelaskan. Tapi tak ada yang yakin betul dengan penjelasan itu. Tak menemukan penjelasan, mereka mengabaikannya, lalu mulai larut dengan pekerjaan masing-masing.</p>
<p>Tapi Sahat tak bisa begitu. Tabuhan tarbang itu begitu mengganggunya. Ia tak dapat bekerja dengan baik malam ini. Beberapa kepiting tangkapannya lolos. Bahkan jari telunjuknya bengkak terjepit capit kepiting yang memberontak. Setelah itu semalaman ia tak tidur. Risau dengan suara tarbang yang tak ia pahami dari mana asalnya.</p>
<p>Petang hari berikutnya suara itu terdengar lagi. Sahat tak tahan lagi. Dikeluarkannya baju teluk belanga dan sarung miliknya. Ia akan pergi ke balik tanjung itu.</p>
<p>„Nah, pergilah, daripada kau jadi gila di sini.“ kata Hamdan.</p>
<p>„Bawakan aku kue kalau kau pulang nanti.“ kata Nasir mengolok.</p>
<p>„Kalau ada anak jin yang belum kawin, tangkapkan untuk aku.“ Samad menambahi.</p>
<p>Sahat tak peduli. Ia mulai mengayuh sampan, menuju tanjung itu. Makin banyak kayuhan yang ia buat, makin jelas suara tarbang yang ia dengar. Ia yakin tak salah arah. </p>
<p>Hampir dua jam berkayuh, Sahat sampai di tanjung yang ia tuju. Suara tabuhan tarbang sudah semakin menjadi. Ia mempercepat kayuhannya, meski belum jelas benar ke mana ia hendak menuju. Ia hanya mengayuh dan mengayuh ke arah dari mana datangnya suara itu.</p>
<p>Tak lama berselang, ia melihat sebuah lampu di tepi hutan bakau di bibir pantai. Nalurinya mengatakan ia harus menuju ke arah lampu itu. Makin lama makin jelas terlihat. Ia terus mengayuh. Lalu semua jadi lebih jelas saat sampannya semakin dekat ke sumber cahaya itu. Lampu yang ia lihat tadi adalah lampu penerang sebuah dermaga. Sebuah dermaga kecil, lebarnya hanya kurang lebih sepuluh depa. Hanya ada sebuah lampu di situ. Bukan obor, bukan pula petromak. Juga bukan listrik, karena Sahat tak melihat adanya kabel. Hanya sebuah bola bercahaya terang yang digantung pada sebatang tiang. Tak ada sampan atau kapal yang berlabuh di dermaga itu.</p>
<p>Dengan dada bergemuruh Sahat merapatkan sampannya ke dermaga, lalu menambatkannya. Sejenak ia berhenti untuk berfikir. Sudah puluhan kali ia lewat tempat ini. Tak pernah sekalipun ia lihat ada dermaga. Sejak kapan ada dermaga di sini? Aneh. Tapi perasaan aneh itu segera sirna oleh suara tabuhan tarbang yang semakin bertalu. Ia merayap naik ke dermaga.</p>
<p>Dengan langkah pasti ia menyusuri jembatan penghubung dermaga dengan daratan. Di ujung sana ia mendapatkan jalan terbentang lurus ke depan. Permukaannya keras dan halus, tepi-tepinya dibatasi oleh tembok rendah, lebih rendah dari lutut Sahat. Belum pernah Sahat melihat jalan seperti ini. Di kampungnya jalan dibuat dari tanah liat yang ditumpuk seadanya. Permukaannya tak rata dan tak keras. Saat hujan turun jalan itu licin dan becek. Jalan yang membentang di depannya membuat Sahat terkesima.</p>
<p>Sahat mulai menyusuri jalan itu. Sepi dan hening. Tak ada sosok manusia yang ia temukan. Pun tak ada suara lain selain tabuhan tarbang. Di kiri kanan jalan terpancang tiang-tiang berlampu seperti yang ia lihat di dermaga. Setiap belasan depa ada satu tiang berlampu. Cahayanya lembut menyinari permukaan jalan. </p>
<p>Tak jauh berjalan Sahat menemukan rumah-rumah berjejer di sepanjang sisi jalan. Rumah-rumah yang tak besar, hampir sama besar dengan rumah-rumah di kampung Sahat. Tapi rumah-rumah ini tak seperti rumah kampung yang berdinding papan dan beratap daun nipah. Rumah-rumah ini bertembok rapi, beratap sirap. Setiap rumah dihiasi dengan taman cantik di depannya. Pun semua meriah bermandi cahaya. Hanya saja Sahat tak menemukan sosok manusia maupun bayangannya di rumah-rumah itu.</p>
<p>Sahat terus berjalan, menuju ke arah sumber suara. Dan tak lama kemudian ia tiba ke sebuah rumah besar. Lebih besar dari rumah-rumah lain di sekitarnya. Halamannya pun lebih luas. Juga lebih terang bermandi cahaya. Di rumah itu ia melihat banyak orang. Sahat melangkah mantap, masuk ke halaman, lalu ke pintu depan. Di situ ia disambut beberapa orang berbaju teluk belanga putih bersih. Para penyambutnya tampak berkilau ditimpa cahaya lampu. Para penyambut itu menyilakannya dan mengantarnya masuk ke ruang utama.</p>
<p>Di ruang itu Sahat menemukan kemeriahan hadrah yang tak pernah ia saksikan. Bukan tiga, ia menyaksikan sembilan tarbang sedang ditabuh. Suara tabuhannya merdu belaka. Demikian pula dengan suara puja puji yang dilantunkan. Penabuhnya berbaju seragam, teluk belanga merah menyala. Di hadapan mereka berjajar belasan orang penari rodat berbaju kuning gading.. Dua baris penabuh dan penari itu dikelilingi oleh berpuluh hadirin yang duduk hidmat, sambil menyanyikan puja puji.</p>
<p>Sahat duduk, tepat saat satu babak pujian usai. Dari barisan terdepan para hadirin bangkit berdiri seorang pemuda tampan. Ia langsung berjalan menuju tempat Sahat duduk, lalu duduk bersila di depan Sahat. Ia mengulurkan salam yang disambut hangat oleh Sahat.</p>
<p>„Selamat datang di kampung kami. Terima kasih Tuan sudi singgah di kampung ini. Tuan tentu datang dari jauh.“</p>
<p>„Iya, saya datang dari kampung yang agak jauh dari sini.“</p>
<p>„Silakan Tuan duduk di barisan penabuh. Kehormatan bagi kami kalau Tuan mau mempimpin puja puji barang satu dua pasal.“</p>
<p>Tanpa ragu Sahat bangkit lalu mengambil posisi duduk di tengah barisan penabuh tarbang, diapit oleh empat penabuh lain di kanan kirinya. Lalu ia mulai melantunkan puja puji.</p>
<p>„Shalla rabbunaa alaa muhammad, syafiil anaam, ya rasulullah&#8230;&#8230;&#8230;“</p>
<p>Lalu tabuhan bertalu, diiringi derai puja puji dari penabuh lain, juga para hadirin. Para penari rodat meliuk-liuk seirama tabuhan dan puja puji.</p>
<p>Selesai satu pasal, Sahat pindah agak ke samping, menjadi penabuh pengiring. Lalu ia ikut pula menari rodat. Sesekali dia duduk di antara para hadirin, berehat sambil menikmati hidangan. Kue-kue yang terhidang serba lezat belaka. Teringat pada olokan Nasir tadi, ia masukkan dua potong kue ke dalam saku bajunya.</p>
<p>Berkali-kali memimpin tabuhan, akhirnya tiba saatnya untuk tahtim, pujian penutup. Selesai tahtim makanan utama dihidangkan. Nasi kebuli dengan gulai kambing serta acar. Luar biasa lezat. Usai makan Sahat pun beranjak berdiri. Badannya terasa penat. Sudah waktunya ia kembali ke tempat semua. Tak sabar rasanya untuk berbagi cerita.</p>
<p>Seluruh hadirin bangkit mengantarkan Sahat hingga ke pintu masuk rumah. Semua memandang saat Sahat menapaki jalan menuju dermaga. Langit malam masih gelap. Ini mengherankan Sahat lagi. Seharusnya sudah fajar sekarang. Biasanya tahtim dilantunkan saat fajar mulai menyingsing. </p>
<p>Mendekati jembatan menuju ke dermaga tiba-tiba semua berubah. Lampu-lampu tiba-tiba padam serentak. Gelap gulita menyelimuti Sahat. Ia baru sadar bahwa lampu senternya ia tinggalkan di sampan. Langkahnya terantuk pada batang kayu. Sahat mencoba meraba sekitarnya. Matanya kini mulai terbiasa dengan kegelapan. Ia sedang berada di tengah hutan bakau. Tak ada lagi jalan keras dan mulus. Yang ada hanyalah lumpur berair di tengah akar-akar bakau yang bersilangan. Susah payah Sahat maju menuju bibir laut sambil meraba. Terengah, takut bercampur panik ia berjalan terseok menuju sampan. Bulu tengkuknya merinding. Peluh membasahi tubuhnya. Sebagian karena letih berjalan, sebagian lagi adalah peluh dingin karena takut.</p>
<p>Napas Sahat tersengal saat ia tiba di sampan. Bergegas ia naik, dan membuka tambatan sampannya. Tiang dermaga tempat ia menambatkan sampannya kini adalah sebuah batang bakau besar. Panik ia mengayuh sampannya menjauhi bibir pantai bakau, menuju tempat ia datang.</p>
<p>Setelah cukup jauh berkayuh ia mulai sedikit tenang. Lalu ia teringat pada dua potong kue yang ia masukkan ke kantong bajunya. Dengan berdebar dirogohnya kantong itu. Tangannya menyentuh dua potong benda keras dan dingin. Dikeluarkannya kedua benda itu. Yang ia lihat adalah dua potong buah nipah.</p>
<p>(Mengenang Ayah, pecinta hadrah)</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fhadrah%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/hadrah/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Hadrah" data-url="http://berbual.com/hadrah/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/hadrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buah Tangan dari Ayah</title>
		<link>http://berbual.com/buah-tangan-dari-ayah/</link>
		<comments>http://berbual.com/buah-tangan-dari-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 09:13:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Dongeng-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Buruh]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[Teluk Air]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/buah-tangan-dari-ayah/</guid>
		<description><![CDATA[Langkah kakiku aku percepat. Aku ingin segera tiba di rumah. Karena itu aku tolak ajakan kawan-kawan untuk main guli di halam sekolah usai jam pelajaran terakhir tadi. Tak kupedulikan ejekan Mansur saat aku menolak untuk main guli tadi. “Takut kalah dia. Gulinya tinggal beberapa biji. Kalau kalah habislah semua.“ ejek Mansur. Sesungguhnya hatiku panas mendengarnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Langkah kakiku aku percepat. Aku ingin segera tiba di rumah. Karena itu aku tolak ajakan kawan-kawan untuk main guli di halam sekolah usai jam pelajaran terakhir tadi. Tak kupedulikan ejekan Mansur saat aku menolak untuk main guli tadi.</p>
<p>“Takut kalah dia. Gulinya tinggal beberapa biji. Kalau kalah habislah semua.“ ejek Mansur. Sesungguhnya hatiku panas mendengarnya. Tapi tak kupedulikan. </p>
<p>Matahari sudah hampir tegak di atas kepala. Sebentar lagi lohor, dan perutku mulai terasa lapar. Tapi bukan karena itu aku buru-buru pulang. Aku berharap bisa segera bertemu Ayah. Atau kalaupun dia belum pulang, aku ingin berada di rumah saat dia pulang. Kata Emak, Ayah akan pulang hari ini.</p>
<p>Ayahku bekerja di Teluk Air. Pernahkah kau mendengar nama tempat itu? Guru di sekolahku sering mengajarkan bahwa Teluk Air adalah pelabuhan alam terbesar di Indonesia. Mungkin gurumu juga pernah mengatakan hal serupa. Aku bangga dengan ini, karena Teluk Air tak jauh benar dari kampungku. Bangga rasanya punya tempat terkenal di dekat kampung sendiri.</p>
<p>Teluk Air adalah pelabuhan untuk ekspor kayu. Kayu-kayu ditebang dari hutan-hutan di sekitarnya. Lalu dirakit dan dihanyutkan atau diangkut dengan tongkang besi. Sebagian digergaji di sawmil, sebagian langsung dimuat ke kapal untuk dijual ke luar negeri. Nah, Ayahku bekerja luding di situ. Ia membantu memuat kayu-kayu itu ke kapal. </p>
<p>Ayah pergi kerja beberapa hari. Kadang sampai seminggu. Ia pulang sehari dua, lalu pergi lagi. Aku suka kalau Ayah pulang. Ia selalu membawa buah tangan. Tak jarang ia membawakan buah tangan yang ia dapat dari kapal, yang tentu tak bisa didapat di kampung kami. Misalnya buah apel atau anggur. Juga biskuit yang bungkusnya bertuliskan bahasa yang tak kukenal. Kadang Ayah membawakan mainan. Pokoknya semua buah tangan dari Ayah menarik dan menyenangkan.</p>
<p>Ayah baru bekerja luding beberapa bulan ini. Sebelumnya Ayah bertani, merawat kebun kelapa miliknya. Tapi sejak dulu Ayah memang selalu membawakan buah tangan buatku. Dari kebun biasanya dia membawakan telur burung keruwak atau pipit. Sesekali dia membawa burung punai yang dia tangkap dari jerat yang dia pasang di pohon jambu di kebun. Burung punai ini oleh Emak dibuat gulai. Atau hanya sebatang tebu. Kalau Ayah menghadiri selamatan di rumah orang dia juga kadang membawakan buah tangan. Aku paling suka telur rebus yang kulitnya diberi warna dari pohon telur yang biasanya hadir pada acara gunting rambut bayi atau pernikahan. Pada telur itu ada daun yang dibuat dari uang kertas seratus rupiah. </p>
<p>Rumahku sudah tak jauh lagi. Langkahku makin kupercepat. Dadaku terasa berdebar membayangkan buah tangan apa yang akan dibawakan Ayah hari ini.</p>
<p>Sampai di rumah ternyata Ayah belum pulang.</p>
<p>“Basuhlah tangan kau, lalu makan.“ perintah Emak.</p>
<p>„Nanti ja, nunggu Ayah.“</p>
<p>„Ai, entah pukul berapa Ayah kau pulang. Makanlah kau dulu.“</p>
<p>„Tak apa. Aku tunggu Ayah ja.“</p>
<p>„Nanti kau sakit perut. Makan sana!“ kata Emak tegas.</p>
<p>Aku menurut. Percuma membantah Emak kalau sudah begini. Salah-salah nanti pahaku dicubitnya. Pelan-pelan aku menuju ke dapur, di situ terhampar tikar pandan dengan tudung saji tertungkup di tengahnya. Di bawah tudung itu ada makanan. Pelan-pelan pula aku ambil piring, ku isi nasi dan lauk. Lalu aku mulai makan pelan-pelan, berharap Ayah akan datang sebelum aku selesai. </p>
<p>+++<br />
Tadinya Ayah tak berminat kerja luding. Ia bahkan tak berminat bekerja di Teluk Air. Banyak orang kampung kami yang bekerja di sana. Selain yang kerja luding ada yang juga bekerja di sawmil, tempat kayu digergaji jadi papan, atau bekerja menebang kayu di hutan. Orang-orang ini kelihatan lebih berada dari kebanyakan orang kampung kami yang bertani. Pak Ngah Matnur, sepupu Ayah bekerja luding sejak lama. Rumahnya berdinding semen, beratap sirap. Sudah lama pula dia mengajak Ayah. Tapi Ayah menolak.</p>
<p>“Senang juga kalau kita punya rumah semen.” kata Ayah pada Emak suatu ketika.</p>
<p>Emak Cuma tersenyum. Dia tahu Ayah sedang menguji minatnya.</p>
<p>„Aku senang kalau di rumah ini ada Abang. Tak peduli dindingnya semen atau papan, atapnya sirap atau daun nipah.” jawab Emak. Ayah tersenyum mendengarnya. </p>
<p>Ayah lebih suka berkebun meski hasilnya tak seberapa. „Kebun ini Ayah buka sendiri. Ayah yang merimba, menebang kayu-kayu waktu kebun ini masih hutan. Ayah juga yang menanam kelapa dan kopinya. Ayah tak akan meninggalkannya.“ begitu kata Ayah menjelaskan padaku suatu ketika. „Kalau Ayah bekerja kayu Ayah dapat duit. Tapi tak ada yang Ayah tinggalkan. Kebun ini adalah peninggalan Ayah kalau kelak Ayah mati.” itu alasan Ayah di lain waktu. </p>
<p>Hasil kebun Ayah sebenarnya tak seberapa. Tanah yang dirimba Ayah, kemudian diolah menjadi kebun ternyata tak subur. Tanah tempulur, terlalu asam. Itu yang aku dengar dari Ayah. Kelapa tumbuh tinggi tapi buahnya tak lebat. Demikian pula pohon kopi. Sejak dua tahun yang lalu Ayah mulai membuka lahan lain untuk kebun. Tapi pohon kelapa yang ditanam di situ baru mulai bertunas, masih 4-5 tahun lagi baru akan berbuah. „Mudah-mudahan kali ini tanahnya subur.“ doa Ayah. </p>
<p>Sikap Ayah berubah beberapa bulan yang lalu. Waktu itu aku baru saja naik ke kelas lima. Aku kembali juara satu di kelas, seperti tahun-tahun sebelumnya.</p>
<p>„Kau mau nyambung tak kalau tamat nanti?“ tanya Ayah waktu melihat raporku.</p>
<p>Aku terkejut dengan pertanyaan itu. Tak berani aku menjawabnya. Sebenarnya sudah lama aku memendam mimpi untuk menyambung sekolah ke kota. Aku ingin jadi guru seperti Pak Ibrahim, anak Nek Ngah yang sekarang mengajar di sekolahku. Dia dulu juga sekolah di sekolah itu. Tamat SD dia melanjutkan ke SMP di kota, lalu masuk SPG. Sudah hampir dua tahun dia pulang kampung dan jadi guru.<br />
Tapi aku sadar, Ayah tak berada seperti Nek Ngah. Kebun kelapa Nek Ngah luas dan tak cuma sebidang. Hasil kelapa dan kopinya banyak. Tak sulit bagi dia untuk menyekolahkan anaknya. Tak cuma seorang. Adik Pak Ibrahim yang perempuan sekarang sedang sekolah perawat di kota. </p>
<p>Tapi Ayah tak mungkin membiayai sekolahku. Karenanya aku tak pernah mengungkapkan keinginanku itu pada Ayah. Kali inipun aku tak berani.</p>
<p>„Kau mau nyambung tak?“ ulang Ayah.</p>
<p>Aku mengangguk. Ragu sebenarnya anggukan itu.</p>
<p>„Ya sudah, kau belajar dengan baik. Tamat nanti kau nyambung ke kota.“</p>
<p>„Tapi yah&#8230;&#8230;“ jawabku tertahan.</p>
<p>“Tak usah khawatir. Untuk kau, bergadai kulit kepala pun Ayah sanggup.“</p>
<p>Sejak itulah Ayah memutuskan untuk kerja luding. Ia rela meninggalkan kebunnya. Ia ingin dapat uang lebih banyak lagi untuk biaya sekolahku kelak. “Kalau kita ada uang lebih kita bisa mengupah orang untuk merawat kebun. Lagipula, kalau sedang tak kerja luding aku masih bisa merawatnya.” kilah Ayah kali ini. Emak pun setuju.</p>
<p>Ada yang berubah sejak Ayah kerja luding. Ayah tak lagi tiap hari ada di rumah. Sudah jarang dia mengajarku mengaji. Emak yang sekarang mengajar. Hanya sesekali Ayah sempat mendongeng menjelang aku tidur. Kalaupun dia ada di rumah, dia kelihatan sudah sangat letih. Dia segera tidur selesai salat isya.</p>
<p>Tak apa. Aku tahu Ayah letih. Dia letih bekerja untuk aku. Aku tak keberatan kehilangan banyak kesempatan bersama Ayah. Yang jelas ada satu yang tak berubah. Ayah selalu membawakan buah tangan untukku. </p>
<p>Baru separuh isi piringku aku makan. Di depan aku dengar suara yang agak gaduh, makin lama makin keras gaduhnya. Ayah sudah pulang? pikirku. Tanpa membasuh tangan aku berlari ke depan. Di halaman aku lihat banyak orang. Ada Pak Ngah Matnur di situ. Kulihat orang-orang itu menggotong sesuatu yang dibalut dengan tikar pandan. Ada darah menetes dari ujung tikar itu.</p>
<p>„Abaaaaaaaaaaaaang&#8230;&#8230;&#8230;..“ teriak Emak histeris, menghambur ke arah bungkusan tikar pandan itu.</p>
<p>Suasana tambah gaduh.</p>
<p>“Dia tertimpa balok kayu waktu kami sedang luding.“ Begitu penjelasan Pak Ngah kepada tetangga yang datang mendengar kegaduhan itu. Aku tak mendengar lagi lanjutan kata-kata Pak Ngah. Aku tak ingin mendengarnya. Ayah tak kan pernah lagi pulang membawa buah tangan.</p>
<p>Catatan:<br />
Guli= gundu, kelereng<br />
Luding= loading, memuat barang ke kapal<br />
Sawmil= sawmill, pabrik penggergajian kayu</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fbuah-tangan-dari-ayah%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/buah-tangan-dari-ayah/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Buah Tangan dari Ayah" data-url="http://berbual.com/buah-tangan-dari-ayah/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/buah-tangan-dari-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Love what you do!</title>
		<link>http://berbual.com/love-what-you-do/</link>
		<comments>http://berbual.com/love-what-you-do/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 03:39:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa dan Budaya Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita-Dongeng-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sains, Teknologi, Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[eksperimen]]></category>
		<category><![CDATA[Fisika]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/love-what-you-do/</guid>
		<description><![CDATA[Mengerjakan sesuatu yang kita sukai tentu menyenangkan. Karenanya dalam memilih pekerjaan umumnya orang akan mencari pekerjaan yang dia sukai. Tapi dalam kenyataan tak semua orang bisa menemukan pekerjaan yang dia sukai. Pada situasi itu hanya ada satu pilihan, yaitu (mencoba) menyukai apa yang kita kerjakan. Sejak kecil saya suka pelajaran Matematika dan IPA. Nilai saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengerjakan sesuatu yang kita sukai tentu menyenangkan. Karenanya dalam memilih pekerjaan umumnya orang akan mencari pekerjaan yang dia sukai. Tapi dalam kenyataan tak semua orang bisa menemukan pekerjaan yang dia sukai. Pada situasi itu hanya ada satu pilihan, yaitu (mencoba) menyukai apa yang kita kerjakan. </p>
<p>Sejak kecil saya suka pelajaran Matematika dan IPA. Nilai saya untuk mata pelajaran itu selalu bagus. Ketika SMA lebih khusus lagi saya menyukai pelajaran Fisika. Karena itulah saya memilih untuk melanjutkan kuliah ke jurusan Fisika. </p>
<p>Tapi Fisika yang saya hadapi saat SMA ternyata berbeda dengan yang saya hadapi saat kuliah. Mulai tahun kedua saya mulai mengalami kesulitan dalam pelajaran. Banyak topik yang gagal saya pahami. Aljabar vektor yang merupakan salah satu alat untuk memahami Mekanika Kuantum terlalu rumit buat saya. Otomatis saya juga keteteran saat mendalami Mekanika Kuantum. Padahal topic-topik Fisika tingkat lanjut semua berbasis pada Mekanika Kuantum.</p>
<p>Terus terang saya sempat frustrasi dengan dunia Fisika, lalu mencari „pelarian“ di dunia aktivitas ekstrakurikuler. Di sini suasananya lebih menarik. Dan yang penting, saya tidak harus berhadapan dengan dunia abstrak seperti ruang vektor atau ruang kuantum. Kala itu tak jarang orang mengira saya mahasiswa Fisipol.</p>
<p>Tapi ada saatnya saya harus berhenti dengan keasyikan itu. Memasuki tahun ke 6 kuliah saya sadar bahwa saya harus lulus. Kasihan orang tua yang sudah membiayai kuliah saya. Tak ada pilihan, saya harus kembali ke Fisika. Saya mulai mencari topik skripsi. Kebetulan ada dosen yang baru selesai S2 di UI, dan dia dibimbing oleh seorang profesor tamu dari Jepang. Saya memilih untuk mengerjakan topik yang sama dengan dosen tersebut, di bidang Fisika Zat Padat. </p>
<p>Waktu itu saya membutuhkan kristal untuk bahan eksperimen, dan kristal itu tidak tersedia di Indonesia. Saya beranikan diri menyurati profesor Jepang tadi untuk minta bantuan. Berhasil. Dia mengirimi saya 3 potong kristal. Lalu saya membuat alat untuk keperluan eksperimen, mencari sendiri alat ukur di berbagai laboratorium di UGM dan Batan. Dosen pembimbing saya nyaris tak melakukan apa-apa. Semua saya kerjakan atas inisiatif saya sendiri.</p>
<p>Dalam waktu enam bulan saya berhasil menyelesaikan skripsi. Banyak mahasiswa yang terhambat di situ hingga bertahun-tahun. Saya sadar bahwa saya bisa melakukan itu bukan karena saya pintar di bidang Fisika. Modal utamanya tidak di situ, tapi pada ketekunan saya. Itu ditambah dengan kemampuan saya menulis, yang memang cukup baik. Hasilnya, skripsi saya diterima nyaris tanpa koreksi dari pembimbing, dan saya lulus kuliah.</p>
<p>Lepas dari bangku kuliah saya mencoba berkarir sebagai logging engineer di lapangan minyak. Saya menyukai pekerjaan ini. Basisnya adalah ilmu Fisika, tapi bukan yang rumit dan abstrak seperti Mekanika Kuantum. Pekerjaannya sendiri menantang, di alam terbuka, dan penuh bahaya. Cocok untuk laki-laki yang punya jiwa petualang.</p>
<p>Tapi saya tak suka lingkungan kerjanya. Tak ada manusia di situ. Cuma segelintir. Saya adalah mantan aktivis yang punya kawan seantero Yogya. Waktu itu belum ada HP atau internet seperti sekarang. Terisolasi di pedalaman Sumatera Selatan sana adalah siksaan luar biasa. Akhirnya saya keluar dari pekerjaan ini. Saya kemudian menjadi dosen, pekerjaan yang sejak lama jadi cita-cita saya.</p>
<p>Bekerja sebagai dosen sungguh menyenangkan saya. Saya suka mengajar dengan berbagai aspeknya. Tapi menjadi dosen membuka „hubungan lama“ saya dengan Fisika yang memusingkan itu. Saya berusaha menghindar. Ketika mendapat kesempatan untuk kuliah S2 ke Jepang saya sengaja memilih Fisika Terapan dengan niat agar tak lagi berurusan dengan Mekanika Kuantum. Celakanya tanpa saya kehendaki saya malah mendapat profesor pembimbing yang topik penelitiannya di bidang ilmu dasar, bukan terapan. Lebih parah lagi saya harus meneliti bahan organik. Padahal sejak SMA saya sangat benci pada Kimia Organik. </p>
<p>Lagi-lagi saya tak punya pilihan. Saya harus belajar dan melakukan eksperimen di bidang yang tak saya sukai. Sudah kepalang basah, saya harus hadapi itu dengan tekun, meski banyak hari-hari harus saya lalui dengan dimaki-maki oleh professor saya, karena saya tidak mampu memahami atau menjelaskan sebuah persoalan. Itu karena basis saya di bidang Mekanika Kuantum dan Fisika Zat Padat memang lemah.</p>
<p>Tak cuma masalah pemahaman. Juga ada hambatan fisik. Salah satu eksperimen yang harus saya lakukan dalam penelitian adalah mengamati karakter material di bawah tekanan tinggi. Saya menggunakan alat yang disebut diamond anvil cell. Alat ini terdiri dari dua potong intan yang digunakan untuk menjepit sebuah pelat logam. Pelat itu dilubangi sehingga di dalamnya tercipta sebuah ruang. Ke dalam ruang itulah dimasukkan sampel yang hendak diamati, ditambah media cair penerus tekanan dan serpihan kristal ruby untuk mengukur tekanan. Saat kedua potong intan itu ditekan, ruangan tadi akan mengecil dan terciptalah kondisi tekanan tinggi.</p>
<p>Saya menggunakan istilah ruang, tapi ini ruang yang sungguh kecil! Diameter lubang hanya 0.3 milimeter. Untuk memasukkan benda-benda tadi saya menggunakan lidi yang di ujungnya saya ikatkan benang wol yang sangat halus. Ujung benang wol itu saya gunakan untuk mengangkat dan menggeser benda-benda itu. Ukuran benda serta lubang sangat kecil sehingga tak mungkin semua itu dilakukan dengan mata telanjang. Seluruh pekerjaan itu dilakukan dengan panduan pengamatan visual di bawah mikroskop.</p>
<p>Saya punya masalah fisik. Tangan saya tidak stabil. Sering gemetaran. Tremor, kata dokter. Tapi saya harus memasukkan beberapa benda yang sangat kecil dan rapuh ke dalam sebuah lubang yang sangat kecil pula. Luar biasa sulit.</p>
<p>Ada tiga bulan yang saya lalui untuk berlatih menggunakan alat itu. Tiga bulan terus menerus, tiap hari saya mengulang hal yang sama. Tiap hari gagal, saya mulai lagi. Lagi dan lagi. Setelah tiga bulan itu barulah saya mulai menghasilkan data eksperimen.</p>
<p>Begitulah. Dengan terseok-seok akhirnya saya bisa menyelesaikan studi hingga meraih gelar doctor. Bahkan kemudian saya berkarir selama 4 tahun sebagai peneliti tamu di Jepang. Kadang saya heran sendiri, kok saya bisa jadi doktor bahkan profesor tamu di Jepang.</p>
<p>Sejak masih kuliah S1 saya tidak berminat untuk bekerja di dunia industri. Saya tak suka. Saya tak suka pada jadwal yang tetap, harus masuk jam sekian, pulang jam sekian. Saya juga tak suka bekerja di bawah orang, disuruh-suruh. Saya suka pekerjaan yang independen, di mana saya menentukan apa yang harus saya lakukan. </p>
<p>Tapi lagi-lagi saya harus menghadapi itu. Karena berbagai alasan saya harus memulai karir di dunia industri. Tak terasa sudah tiga tahun saya berkarir di dunia ini. Sejauh ini saya menikmatinya.<br />
Kawan. Dalam hidup ini sering kita harus melakukan hal-hal yang tidak kita sukai. Tapi pengalaman saya mengajarkan bahwa kita pun bisa melakukan hal-hal yang tadinya tidak kita sukai. Bahkan kita kemudian bisa menyukainya.</p>
<p>If you cannot do what you love, try to love what you do. Itulah resep saya.</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Flove-what-you-do%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/love-what-you-do/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Love what you do!" data-url="http://berbual.com/love-what-you-do/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/love-what-you-do/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Makna Kata</title>
		<link>http://berbual.com/belajar-makna-kata/</link>
		<comments>http://berbual.com/belajar-makna-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 02:27:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa dan Budaya Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita-Dongeng-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[belajar bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/belajar-makna-kata/</guid>
		<description><![CDATA[Saya selalu terkenang dan kagum pada guru-guru bahasa Jepang saya. Saya belajar bahasa Jepang di Kuala Lumpur, bersama 10 orang pelajar lain dari negara-negara ASEAN+Bangladesh melalui Asian Youth Fellowship Program (http://www.asiaseed.org/ayfj/info/info_A3.htm). Kami adalah pelajar-pelajar yang hendak melanjutkan pendidikan S2-S3 di Jepang, dan sebelum kedatangan ke Jepang kami mendapat pelatihan bahasa Jepang selama setahun. Kami semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya selalu terkenang dan kagum pada guru-guru bahasa Jepang saya. Saya belajar bahasa Jepang di Kuala Lumpur, bersama 10 orang pelajar lain dari negara-negara ASEAN+Bangladesh melalui Asian Youth Fellowship Program (http://www.asiaseed.org/ayfj/info/info_A3.htm). Kami adalah pelajar-pelajar yang hendak melanjutkan pendidikan S2-S3 di Jepang, dan sebelum kedatangan ke Jepang kami mendapat pelatihan bahasa Jepang selama setahun.</p>
<p>Kami semua buta bahasa Jepang ketika masuk program ini. Saya bahkan tak tahu makna kata &#8220;konnichiwa&#8221; ketika itu. Hari demi hari kami belajar. Kata demi kata kami ingat. Juga sedikit demi sedikit, tata bahasa, hiragana, katakana, dan huruf kanji kami pelajari. Guru-guru kami bisa berbahasa Inggris. Tapi tak pernah mereka mengajar dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Bahasa pengantar saat mengajar, ya bahasa Jepang. Kami hanya menemukan bahasa Inggris di kamus Inggris-Jepang yang kami gunakan.</p>
<p>Di saat-saat awal pelajaran guru-guru kami menggunakan gambar dan bahasa isyarat untuk menjelaskan makna sebuah kata. Kemudian hari, saat kami mulai paham banyak kosa kata bahasa Jepang, mereka menjelaskan kata-kata yang rumit dengan kosa kata sederhana yang sudah kami pahami.</p>
<p>Komunikasi di luar kelas juga selalu dipaksakan dengan bahasa Jepang. Dan bagian inilah yang paling menarik buat saya. Kami selalu bisa berkomunikasi dengan guru kami. Tak kami rasakan adanya kesulitan yang mendasar. Guru kami sepertinya paham betul sampai dimana penguasaan kosa kata dan tata bahasa kami. Mereka berbicara sesuai dengan kemampuan tersebut. Tidak cuma itu. Mereka dengan tertib menyesuaikan diri dengan perkembangan kemampuan kami.</p>
<p>Di akhir program yang berlangsung selama setahun, kami bisa berkomunikasi dengan sangat lancar dalam bahasa Jepang. Kalau diingat saat-saat kami mulai ikut program ini, kemampuan ini terasa aneh dan mengejutkan. Aneh rasanya bahwa kami bisa mengingat ribuan kata dalam setahun. Sesekali saya mencoba mengingat kapan saya memahami makna suatu kata tertentu. Tapi tak banyak yang bisa saya ingat. Saya lupa dengan cara apa, pada saat apa saya mulai paham dan ingat makna sebuah kata. Yang saya ingat hanya makna kata tersebut.</p>
<p>+++</p>
<p>Saya bandingkan pengalaman saya itu dengan pengalaman membesarkan dan mendidik anak saya. Ada kesamaan, yaitu bahwa kepada anak-anak juga kita perkenalkan makna kata, satu demi satu. Mulai dari kata-kata sederhana, makna sederhana, lalu ke kata-kata yang rumit, dan makna kata yang lebih dalam. Bedanya, saya menyerap kata-kata baru dalam bahasa Jepang dengan kematangan logika dan pengalaman, sedangkan anak-anak saya dengan kepolosan.</p>
<p>Kadang saya merasa sulit menjelaskan makna suatu kata kepada anak-anak karena soal kepolosan ini.</p>
<p>Ada kejadian lucu ketika anak saya yang tertua masih usia TK. Suatu hari dia bertanya, &#8220;Ayah, dulu waktu kecil TK-nya di mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayah dulu nggak masuk TK.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena Ayah dulu waktu kecil di kampung. Di kampung tidak ada TK.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak ada TK, Ayah?&#8221;</p>
<p>Saya sempat bingung harus menjawab apa. Lalu keluarlah jawaban ini, &#8220;Di kampung dulu orang-orangnya tidak punya uang. Miskin. Jadi tidak bisa bikin TK. Dan Datuk, ayah Ayah, juga tidak punya uang untuk memasukkan Ayah ke TK.&#8221;</p>
<p>Kata kunci &#8220;miskin&#8221; ini sengaja saya masukkan ke alam fikiran anak saya dengan suatu niat. Saat ini boleh dibilang kehidupan saya berkecukupan, walau tidak mewah. Ini suatu hal yang sangat saya syukuri. Tentu cara hidup anak-anak saya sangat berbeda dengan cara hidup saya ketika masih kecil dulu. Dulu kami biasa diajari hidup prihatin oleh orang tua kami. Sekarang sedikit banyak anak-anak saya harus paham soal hidup prihatin ini, walau mereka mungkin tak akan pernah bisa mengalaminya.</p>
<p>Rupanya kata &#8220;miskin&#8221; ini membekas betul di hati anak saya. Dia sering bertanya seperti apa miskin itu. Saya jelaskan bagaimana kondisi hidup saya waktu kecil dulu. Rumah kami, kata saya, berdinding papan, beratap daun nipah. Saya pergi ke sekolah jalan kaki, tidak pakai sepatu. Dan seterusnya.</p>
<p>Saat kami bepergian dan melewati rumah-rumah kampung, anak saya bertanya, &#8220;Ayah, rumah Ayah dulu seperti itu, ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oooh, jadi rumah orang miskin itu seperti itu, ya.&#8221; kata anak saya membuat kesimpulan.</p>
<p>+++</p>
<p>Makin lama anak saya makin serius memikirkan topik miskin ini. Suatu hari dia bertanya, &#8220;Ayah, kenapa sih orang itu bisa miskin?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena mereka malas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Malas itu apa sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Malas itu nggak mau kerja. Kalau kerja merasa capek sedikit sudah langsung berhenti. Tidak ditahan capeknya, sehingga kerjanya cuma sedikit. Hasilnya sedikit, sehingga jadi miskin.&#8221;</p>
<p>Saya ucapkan itu untuk memberi motivasi pada anak saya, karena dia sering mengeluh capek dan langsung mau berhenti saat melaksanakan suatu aktivitas. Saya fikir dia cuma manja saja.</p>
<p>Ajaran saya itu rupanya membekas di benaknya. Suatu hari dia kami suruh pergi membeli roti bersama pembantu ke toko roti di dekat rumah. Tapi tidak seperti biasa, mereka pergi hampir setengah jam. Padahal jarak toko roti ke rumah kami tak jauh. Khawatir, saya berniat mencari mereka. Kebetulan saat itu mereka sudah terlihat sedang menuju ke rumah.</p>
<p>Pembantu saya mengeluh.</p>
<p>&#8220;Pak, saya diajak pergi ke toko roti yang di sana itu, jauh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lha, ngapain?&#8221; tanya saya.</p>
<p>&#8220;Kata dia harus pergi ke toko yang jauh. Saya bilang ntar capek. Eh dia bilang, capek itu harus ditahan, biar kita tidak miskin.&#8221;</p>
<p>Ampun, deh.</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fbelajar-makna-kata%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/belajar-makna-kata/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Belajar Makna Kata" data-url="http://berbual.com/belajar-makna-kata/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/belajar-makna-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emak Pahlawanku</title>
		<link>http://berbual.com/emak-pahlawanku/</link>
		<comments>http://berbual.com/emak-pahlawanku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 02:59:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Dongeng-Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/emak-pahlawanku/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam usahanya memperbaiki nasib, Emak membuka lahan baru. Bersama Ayah dan Aki (ayah Emak) dia mengayun kapak, menebang pohon. Merimba. Yang dia hadapi adalah hutan belantara. Pohon-pohon besar ditumbangkan. Pohon-pohon kecil dipotong. Semak belukar dibabat. Hasilnya adalah sebidang tanah kosong, siap ditanami padi. Kelak ladang padi itu ditanami kelapa, kopi, dan pisang. Jadilah ia kebun. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam usahanya memperbaiki nasib, Emak membuka lahan baru. Bersama Ayah dan Aki (ayah Emak) dia mengayun kapak, menebang pohon. Merimba. Yang dia hadapi adalah hutan belantara. Pohon-pohon besar ditumbangkan. Pohon-pohon kecil dipotong. Semak belukar dibabat. Hasilnya adalah sebidang tanah kosong, siap ditanami padi. Kelak ladang padi itu ditanami kelapa, kopi, dan pisang. Jadilah ia kebun.</p>
<p>Merimba bukan perkara gampang. Pohon-pohon kayu itu entah sejak kapan tumbuh di situ. Besar batangnya rata-rata sepelukan orang dewasa. Ada yang lebih besar dari itu. Ada pula yang lebih kecil. Emak mengayun sendiri kapaknya. Kapak yang lebih kecil dari kapak Ayah. Ia pun menebang pohon-pohon yang lebih kecil. Atau membabat semak.</p>
<p>Penebang pohon harus pandai menempatkan tetakan mata kapaknya. Salah tetak batang pohon yang tumbang bisa menimpa diri sendiri. Kesalahan lain membuat kita tertumbuk pangkal batang yang baru dipotong. Semua bisa berakibat fatal.</p>
<p>Begitulah. Suatu hari sebatang pohon yang ditebang Ayah tumbang ke arah yang di luar perhitungan. Sehelai tanaman perambat menghalangi tumbangnya pohon, mengubah arahnya. Pohon tumbang itu menuju tempat Aki berdiri, menghantam tepat di kepalanya. Aki tumbang bersimbah darah. Luka parah.</p>
<p>Ini di tengah rimba. Tak ada dokter. Tak ada mantri. Tak ada obat. Hanya ada daun-daun yang ditumbuk dengan dahan pohon, lalu dibebatkan pada luka. Tak ada perban. Sobekan baju usang yang tadi dikenakan saat bekerja digunakan untuk membalut luka. Berdua dengan Ayah, Emak membawa Aki pulang, dan merawatnya. Entah berapa lama baru Aki sembuh. Yang aku ingat di kepala Aki ada cekungan cukup besar, bekas hantaman pohon tadi. Aku kira mukjizatlah yang telah menyelamatkan nyawa Aki saat itu.</p>
<p>Itulah salah satu medan perang yang dihadapi Emak. Benar-benar sebuah pertaruhan nyawa. Pohon tumbang itu bisa menimpa siapa saja yang ada di dekatnya. Emak bukanlah pengecualian. </p>
<p>Kelak, setelah aku agak besar dan mulai ikut membantu Emak di kebun, aku berhadapan dengan hal yang sama. Luka, patah tulang, adalah resiko yang selalu mengintai. Sedikit kelengahan berakibat celaka. Tangan dan kaki kami, orang-orang kampung, dihiasi bekas luka. Luka bekas parang. Luka bakar. Atau patah tulang. Emak tak terkecualikan. Aku pun tidak.</p>
<p>+++</p>
<p>Kemarau adalah musuh kami. Musim kemarau membuat kampung kering kerontang. Tong dan tempayan tempat kami menampung air hujan untuk minum dan memasak, kering. Perigi (kolam) tempat kami mandi, juga kering. Kami harus pergi ke perigi-perigi lain yang belum kering, yang jaraknya lebih jauh dari rumah. Kami mandi di situ, lalu memikul beberapa ember air, dibawa pulang untuk minum dan memasak.</p>
<p>Tapi kemarau bisa lebih buruk dari itu. Rumput-rumput mengering. Ini adalah makanan empuk bagi api liar. Tiupan angin menggoyang dahan-dahan pohon kering dalam semak di tengah kebun. Gesekan menimbulkan panas, memercikkan api. Lalu kebun terbakar.</p>
<p>Kebakaran kebun adalah petaka. Sekali api melahap, kerja kami selama bertahun-tahun akan punah dibuatnya. Kebakaran tak selalu datang dari kebun sendiri. Api bisa menjalar dari mana saja, semau dia.<br />
Suatu musim kemarau, ada kebakaran kebun. Tak jauh dari kebun kami. Waktu itu hanya kami bertiga di rumah. Emak, Ayah, dan aku. Tengah hari. Kami sebenarnya baru saja pulang dari kebun. Makan siang, dan bersiap untuk tidur siang. Tapi kabar dari tetangga memberi tahu bahwa api sudah mengamuk.</p>
<p>Berbekal parang panjang dan ember kami menuju ke kebun. Kebun ini baru. Tanahnya dibeli Emak beberapa tahun yang lalu. Di situ kami tanam singkong, kelapa dan kopi. Emak sungguh senang, karena tanah di kebun ini subur. Pohon kelapa kami gemuk-gemuk. Demikian pula kopi. Ubi kayu menghasilkan umbi yang berlebih, membusuk dimakan tikus, karena manusia tak mampu menghabiskannya.</p>
<p>Kebun ini tak boleh terbakar! Ini adalah hasil kerja kami bertahun-tahun. Bertiga kami menebas rumput di dekat batas kebun milik tetangga. Sebuah kebun yang tak terawat, semaknya lebat dan kering. Umpan lezat bagi lidah api. Pemiliknya tak peduli, karena kebun ini nyaris tanah kosong.</p>
<p>Bertiga kami membuat jalur penahan api. Lupa kami pada kelelahan yang masih menyandera tubuh. Rumput kami tebas, membuat lorong selebar sedepa, sepanjang perbatasan kebun. Jalur ini kami harapkan menghentikan rambatan api yang hendak masuk ke kebun kami.</p>
<p>Api sudah mendekat. Asapnya membumbung. Bunyi rumput kering terbakar berkeretek, terdengar mengerikan. Hawa panas terbawa angin menyapu tubuh kami. Ayah mengayunkan parang lebih cepat. Emak juga. Aku juga. Bertiga kami menggila.</p>
<p>Saat api sudah masuk ke kebun sebelah, kami hampir selesai. Tapi belum aman. Kami harus memastikan api benar-benar mati. Dengan pelepah kelapa kering Emak dan Ayah memukul lidah api yang terdekat dengan tepi jalur penahan yang kami buat. Aku berlari ke selokan menjinjing dua ember, mengangkut sisa-sisa air, atau bahkan lumpurnya sekalipun. Dengan sisa air dan lumpur itu, aku membantu memadamkan api.</p>
<p>Saat pekerjaan itu usai, kebun kami selamat. Tapi Emak nyaris pingsan kelelahan dan kehabisan nafas. Ayah pun terkapar tak berdaya.</p>
<p>+++</p>
<p>Emak adalah pedagang gendong. Ia memanggul buntalan besar di punggungnya, berisi pakaian untuk dijual. Di tangannya ia jinjing keranjang berisi kosmetik dan obat-obatan. Ia berkeliling kampung, berjualan. Juga ke kampung tetangga.</p>
<p>Jalan yang harus ia lalui ke kampung tetangga adalah jalan setapak di tengah kebun. Jalan ini selalu sepi, karena hanya segelintir manusia yang lewat di situ. Malam hari sepi itu berpadu dengan gelap. Di musim hujan, jalan itu becek dan licin. Salah melangkah, kita bisa terpelet jatuh.</p>
<p>Itulah jalan yang harus dilalui Emak.</p>
<p>Sesekali Emak mengeluh padaku, bahwa sebenarnya ia takut melalui jalan itu. Khususnya pada malam hari. Emak membawa sejumlah uang hasil berdagang. Ia bisa saja dirampok di tengah jalan. Atau beruang liar bisa saja menerkamnya. Atau sekawanan celeng penghuni kebun. Terpeleset jatuh di jalan yang licin saja pun bisa celaka. Karena tak ada yang bisa segera datang memberikan pertolongan.</p>
<p>Di tengah kebun itu Emak adalah sosok tak berdaya. Bermacam bahaya siap menghadangnya. Bahkan merenggut nyawanya. </p>
<p>+++</p>
<p>Begitulah Emak. Untuk memperbaiki nasib ia tak cuma membanting tulang. Ia mempertaruhkan nyawanya. Begitulah pahlawanku. Pahlawan kami. </p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Femak-pahlawanku%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/emak-pahlawanku/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Emak Pahlawanku" data-url="http://berbual.com/emak-pahlawanku/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/emak-pahlawanku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khatib</title>
		<link>http://berbual.com/khatib/</link>
		<comments>http://berbual.com/khatib/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 06:08:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Dongeng-Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/khatib/</guid>
		<description><![CDATA[Hari Jumat ini, untuk ke sekian kalinya, aku jadi khatib di sebuah mesjid di kota kelahiranku. Aku bukan ustaz, apalagi ulama. Ilmu agamaku hanya sebatas apa yang aku dapat dari madrasah tsanawiyah dulu. Tapi berbagai kebetulan memaksaku jadi khatib. Aku pertama kali jadi khatib saat kuliah. Ketika itu aku terlibat dalam organisasi yang menyelenggarakan kegiatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Jumat ini, untuk ke sekian kalinya, aku jadi khatib di sebuah mesjid di kota kelahiranku. Aku bukan ustaz, apalagi ulama. Ilmu agamaku hanya sebatas apa yang aku dapat dari madrasah tsanawiyah dulu. Tapi berbagai kebetulan memaksaku jadi khatib.</p>
<p>Aku pertama kali jadi khatib saat kuliah. Ketika itu aku terlibat dalam organisasi yang menyelenggarakan kegiatan dakwah di kampus. Selain berdakwah di kampus kami juga membina anak-anak SMA. Salah satu kegiatan mereka adalah salat Jumat di sekolah. Nah, pada salat Jumat ini kami sebagai pembina diminta untuk memberi khutbah.<br />
Itu sebenarnya hanya terjadi beberapa kali. Aku baru sering memberi khutbah saat aku sekolah di Jepang. Sejumlah mahasiswa muslim dari berbagai negara mengusahakan pinjaman ruangan dari kampus sebagai tempat salat. Bergiliran kami memberi khutbah. Aku termasuk yang diberi kepercayaan untuk itu.</p>
<p>Lama-lama aku menikmati ini. Menjadi khatib bagiku adalah sebuah kebebasan. Bebas dari kewajiban mendengar khutbah-khutbah yang menjemukan. Kalau tidak sedang bertugas sebagai khatib aku harus duduk di barisan jamaah. Mendengarkan khutbah yang tak memberi manfaat, memicu rasa kantuk.</p>
<p>Khatib-khatib laksana pita rekaman. Mengucap hal yang sama berulang-ulang. Hal-hal yang sering kali tak ada hubungannya dengan hidup kita. Ada khatib berkhutbah tentang satu hal, aku dengar dia waktu aku kecil. Kelak ketika aku sudah besar hal yang sama, nyaris sama persis hingga ke setiap titik komanya, diulang lagi.</p>
<p>Tak cuma itu. Khatib-khatib itu laksana robot. Mereka bicara tanpa cita rasa. Datar. Tanpa tekanan. Tanpa irama. Bunyinya tak beda dengan lenguhan kereta api kuno yang menempuh perjalanan panjang. Monoton, mengulang bunyi yang sama. Yang berdiri di mimbar itu tak tampak seperti manusia, yang dengan kasih sayang mengajak orang kepada kebaikan, atau meyakinkan orang tentang sesuatu yang baik.</p>
<p>Sebagai khatib, tentu aku tak perlu mendengar itu semua. Akulah yang didengar. Tak cuma soal bebas dari posisi sebagai pendengar, tentu. Jadi khatib adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku berbeda dengan para kereta api tua itu. Aku tak membahas hal-hal yang sudah jamak dibahas khatib lain. Aku membahas hal-hal yang terjadi sehari-hari. Lalu aku beri makna, aku beri sentuhan, dengan sudut pandang kitab suci. Aku bahas keseharian manusia.</p>
<p>Dan aku punya retorika. Setidaknya aku sangka aku punya. Ketika berdiri di mimbar, aku adalah orang yang sedang bicara pada pendengarku. Aku tatap mata mereka. Aku sampaikan kata-kata, seakan aku sedang bicara kepada mereka satu per satu. Aku ajak mereka. Aku yakinkan.</p>
<p>Ternyata banyak yang menyukai khutbah-khutbahku. Ada yang mendatangiku usai salat untuk sekedar mengatakan, „Nice speech, brother.“ Ada yang mengajakku berdiskusi lebih lanjut tentang apa yang sudah aku khutbahkan. Walhasil, aku diminta untuk sering berkhutbah, lebih sering dari yang lain.</p>
<p>Pulang ke tanah air ke kotaku, aku tetap seorang khatib. Abangku pengurus organisasi Islam, sekaligus pengurus mesjid di dekat rumahnya. Dia juga sering jadi khatib. Dia tahu aku juga biasa berkhutbah. Maka dia menyodorkan aku untuk khutbah di sana sini, di kota kami. Mulanya mengisi jadwal yang telah ditetapkan untuk dia sendiri. Lalu orang mulai mengenalku, dan memintaku untuk khutbah di mana-mana.</p>
<p>+++</p>
<p>Hari ini, entah untuk yang ke berapa kali, aku memberi khutbah. Sudah biasa. Tak ada kecanggungan, tak ada kegugupan. Aku mulai berkhutbah. Aku tak membaca teks. Menurutku itu menghalangi aku untuk menjaga kontak mata dengan hadirin. Kontak mata sangat penting dalam public speaking, begitu yang aku tahu.</p>
<p>Lalu pandangan mataku tertumbuk pada mata di wajah itu. Sebuah wajah yang biasa. Lelaki berumur sekitar lima puluh tahun. Perawakannya kecil. Tak ada ciri khas di wajahnya. Wajah orang kebanyakan. Sorot matanya juga biasa saja. Bulan sorot yang tajam. Menatapku penuh perhatian.</p>
<p>Tapi entah mengapa, wajah dan tatap mata yang biasa itu menyedot perhatianku. Tak pernah selama khutbah aku memberi perhatian khusus pada seorang pendengar. Tapi yang ini lain. Aku selalu menatap wajahnya, matanya. Entah kenapa. Pandangan matanya selalu mengundang aku untuk melihat, lagi, dan lagi. Meski dengan perasaan aneh, aku selesaikan tugasku memberi khutbah.</p>
<p>Satu dua minggu berikutnya aku kembali berkhutbah di sebuah mesjid lain, yang jaraknya cukup jauh dari mesjid tempat aku khutbah sebelumnya. Saat aku memberi salam kepada jamaah sebelum azan, mataku sudah tertumbuk pada wajah itu lagi. Aku agak sedikit heran. Aku tak menduga akan melihat wajah itu di sini. Tapi sadar dengan kenyataan bahwa kota kami tak begitu besar, aku menerimanya sebagai sebuah kebetulan.</p>
<p>Tapi kali ini wajah itu tak hanya menatapku. Saat pandangan kami bertemu, aku mendengar suara. Aku yakin dia yang berkata. Karena kata-kata itu hanya terdengar saat tatapan mata kami bertemu.</p>
<p>„Ittaqullah&#8230;..“</p>
<p>„Apa kau merasa pantas menyuruh orang lain?“</p>
<p>„Ittaqullah haqqa tuqaatihi.“</p>
<p>“Apa takwa kamu sendiri sudah haq?“</p>
<p>Terkejut aku dengan suara itu. Menusuk. Tapi aku coba menguasai diri. Aku sedang melaksanakan tugas penting. Tak boleh ada sesuatu yang mengacaukan tugas itu. Untunglah, aku hanya mendengar dua kalimat itu. Setelah itu tak ada lagi. Aku selesaikan tugasku, meski dengan perasaan tak nyaman.</p>
<p>Usai salat Jumat suara itu sesekali menggiang di telingaku. Tapi aku anggap ini sebagai suara hatiku sendiri. Kadang aku memang membisiki diriku sendiri, agar senantiasa bercermin, apakah yang aku khutbahkan sudah aku laksanakan.</p>
<p>Kali berikutnya aku khutbah, aku lihat wajah itu lagi. Kali ini aku tak lagi menganggapnya kebetulan. Dan kali ini suara-suara itu lebih banyak. Lebih berani.</p>
<p>„Ittaqullah.“ kataku memulai khutbah.</p>
<p>„Sadarkah kamu, di tempat apa kamu berdiri sekarang ini? Sadarkah kamu, siapa yang berdiri di situ pertama kali?“</p>
<p>Aku mulai kehilangan konsentrasi. Untung aku kebetulan membawa naskah khutbah. Sesuatu yang sebenarnya jarang aku lakukan. Kehilangan konsentrasi, aku putuskan untuk membaca saja naskah itu.</p>
<p>„Rasulullah. Itu mimbar rasul. Dia dulu yang pertama berdiri di situ.“</p>
<p>Aku sedang berkhutbah. Tidak. Aku sedang membaca sesuatu. Membacakan sesuatu. Hanya mulutku yang membaca. Fikiranku sama sekali tak sadar dengan apa yang sedang aku baca. Aku justru sedang dikhutbahi oleh sebuah sorot mata.</p>
<p>“Yang berhak berdiri di situ mengkhutbahi orang lain adalah rasul Allah. Dan orang-orang yang serupa dengan dia. Yang benar-benar patuh pada Allah.“</p>
<p>„Kamu fikir ini mimbar pidato? Seminar? Atau panggung? Di mana kamu bisa memamerkan intelektualitasmu. Di mana kamu bisa memamerkan kemampuan oratormu. Di mana kamu fikir kamu bisa mempesona orang-orang.“</p>
<p>„Bukan. Ini adalah mimbar rasul.“</p>
<p>„Apa kamu merasa layak berdiri di mimbar rasul?“</p>
<p>Kalimat-kalimat senada itu terus bergema selama aku berdiri di mimbar. Aku berkeringat. Tanganku gemetar. Cepat-cepat aku akhiri khutbah. Lalu meminta pengurus mesjid untuk jadi imam. Tak sanggup aku mengimami salat.<br />
Usai salat aku mencoba mencari pemilik wajah itu. Tapi sia-sia. Aku duduk di barisan terdepan. Tak mungkin aku bisa segera pergi seusai salat. Banyak orang yang masih berzikir di belakangku. Lagipula, biasanya aku harus sedikit berbincang dengan pengurus mesjid. Saat semua itu usai, lebih dari separuh hadirin sudah pulang. Pemilik wajah itu mestinya sudah pulang juga.</p>
<p>+++</p>
<p>Aku kembali ke Jepang. Ke kota tempat aku belajar dulu. Belum lama aku tinggalkan kota ini. Masih banyak teman yang dulu aku kenal, masih berada di situ. Dan tentu saja, mereka kembali memintaku memberi khutbah.</p>
<p>Aku agak takut sebenarnya. Sejak kejadian itu aku tak pernah berkhutbah lagi. Aku takut. Untungnya, kebetulan tak ada yang memintaku sampai aku berangkat ke Jepang. Tapi di sini, di tempat yang sangat jauh dari kotaku, apa yang aku takutkan? Tak mungkin dia ada di sini. Aku sanggupi permintaan temanku.</p>
<p>Tepat saat memberi salam, jantungku sejenak berhenti berdetak. Dia ada di sini! Di baris ke dua dari depan. Sangat dekat dengaku, karena ruang kecil tempat salat kami cuma bisa diisi empat baris. Dia duduk tak lebih dua meter dari tempat aku berdiri.</p>
<p>Kali ini dia tak menggangguku dengan suara-suara. Dia hanya menatapku seperti kala pertama kali aku melihatnya dulu. Tapi tetap saja dia mengganggu. Bagaimana mungkin dia bisa berada di sini. Sebuah kebetulan yang mustahil!</p>
<p>Sengaja aku tak mengimami salat. Aku berdiri tepat di belakang imam. Dia ada di baris ke dua. Tepat di belakangku. Diapit oleh dua orang yang aku kenal. Satu orang Mesir, satu lagi orang Pakistan. Kali ini aku pasti bisa menangkapnya. Akan aku tanyai dia. Siapa dia sebenarnya.<br />
Usai memberi salam di akhir salat, aku langsung menoleh ke belakang. Tapi dia tak ada di situ. Dua orang tadi, orang Mesir dan Pakistan, duduk berdampingan. Dia tak ada. Aku sungguh heran. Tidak. Aku takut.</p>
<p>Aku masih mencoba meyakinkan bahwa pandanganku tak salah. Aku tanya beberapa orang Indonesia yang kebetulan salat di barisan kedua. Siapa tahu mereka kenal orang ini. Tapi tak ada satupun yang mengiyakan kehadiran orang itu. Aku jelaskan bagaimana wajahnya, postur tubuhnya. Tapi tak seorangpun yang memberi kesaksian bahwa orang itu wujud di ruang salat Jumat tadi.</p>
<p>Itulah terakhir kali aku memberi khutbah.</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fkhatib%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/khatib/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Khatib" data-url="http://berbual.com/khatib/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/khatib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Intelijen</title>
		<link>http://berbual.com/intelijen/</link>
		<comments>http://berbual.com/intelijen/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 03:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Dongeng-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/intelijen/</guid>
		<description><![CDATA[Pagi buta di hari Senin. Presiden Susila Pandir Yardayana memanggil seluruh menteri untuk rapat darurat. Para menteri baru saja selesai beristirahat di akhir pekan. Banyak yang masih bermalas-malasan. Tapi telepon dari ajudan presiden memerintahkan mereka untuk hadir di kantor kepresidenan pukul enam pagi. Keadaan genting. Di depan menteri yang masih berwajah kuyu dan ngantuk, Presiden [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi buta di hari Senin. Presiden Susila Pandir Yardayana memanggil seluruh menteri untuk rapat darurat. Para menteri baru saja selesai beristirahat di akhir pekan. Banyak yang masih bermalas-malasan. Tapi telepon dari ajudan presiden memerintahkan mereka untuk hadir di kantor kepresidenan pukul enam pagi. Keadaan genting.</p>
<p>Di depan menteri yang masih berwajah kuyu dan ngantuk, Presiden Pandir memberi arahan.</p>
<p>&#8220;Saudara-saudara, ini keadaan genting. Saya baru saja mendapat informasi dari intelijen kita bahwa akan ada tindakan makar untuk merongrong kewibawaan pemerintah. Menciptakan keadaan kacau, menurunkan kepercayaan rakyat lalu menyengsarakan mereka, serta memberi malu kita di depan masyarakat internasional.&#8221;</p>
<p>Ruang rapat langsung gaduh. Tak ada lagi menteri yang mengantuk. Semua jadi serius.</p>
<p>&#8220;Lebih jelasnya bagaimana, Pak?&#8221; tanya Menteri Pertahanan. Dia heran, karena sebagai orang yang bertanggung jawab dalam soal keamanan dia justru tidak mendapat laporan.</p>
<p>&#8220;Jadi begini.&#8221; jawab Presiden. &#8220;Ini soal intelijen. Ada informasi bahwa akan ada yang mencoba untuk mengubah lusa menjadi hari Kamis.&#8221;</p>
<p>Ruang rapat tambah gaduh. Presiden agak jengkel, lalu melanjutkan bicara keras-keras.</p>
<p>&#8220;Sekali lagi ini intelijen. Ada pihak-pihak yang mencoba membuat kekacauan, dengan mengubah lusa menjadi hari Kamis. Tujuannya jelas, menciptakan kebingungan dan keresahan. Juga kekacauan ekonomi. Ini intelijen. bukan fitnah, bukan pula gosip.&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba bayangkan, bagaimana kacaunya perekonomian kita bila hanya kita saja yang menjalani hari Kamis, sementara di belahan dunia lain orang menjalani hari Rabu. Seluruh transaksi ekonomi kita akan kacau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini jelas usaha untuk mempermalukan saya sebagai Presiden, dan tentu saja mempermalukan bangsa Indonesia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita baru saja memulai sejarah baru di bawah kepemimpinan saya. Di sana-sini terlihat kemajuan pesat yang hanya bisa disaksikan selama pemerintahan saya. Kesejahteraan membaik, politik dan keamanan stabil. Dunia luar juga mulai menghargai kita. Saya mulai dikenal sebagai tokoh yang berpengaruh di tengah percaturan politik dunia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bangsa kita&#8230;&#8230;.&#8221; </p>
<p>&#8220;Maaf, Pak. Saya minta izin bicara.&#8221; kata Menteri Pertahanan agak gemetar. Dia merasa Presiden sudah bicara melantur, agak jauh dari pokok pembicaraan.</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221; tanya Presiden berang. Dia tersinggung pembicaraannya dipotong.</p>
<p>&#8220;Maksud saya apa mungkin&#8230;? Bagaimana caranya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang tidak mungkin? Orang jahat selalu bisa mewujudkan niatnya kalau kita tidak pintar mencegahnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi bagaimana caranya? Bagaimana mengubah lusa, hari Rabu menjadi hari Kamis? Itu tidak mungkin, dan belum pernah terjadi di manapun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Justru karena itu, belum pernah terjadi di manapun. Ini akan menjadi kejadian pertama di dunia. Itu akan makin mempermalukan kita. Negara lain mungkin sudah pernah menghadapi usaha makar semacam ini, tapi berhasil menggagalkannya. Kita juga harus bisa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksud saya, itu mustahil!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah??!! Kamu merendahkan kemampuan bangsa kita. Kalau negara lain bisa, artinya kita juga pasti bisa!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan begitu maksud saya, Presiden Pandir. Maksud saya mengubah hari Rabu menjadi hari Kamis itu sesuatu yang mustahil.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mustahil bagaimana? Tak ada yang mustahil. Yang jelas saya tidak mau kecolongan. Jangan meremehkan potensi ancaman sekecil apapun. Paham? Dan kamu Menteri Pertahanan, kamu paling bertanggung jawab di sini.&#8221;</p>
<p>Menteri Pertahanan diam sejenak. Hendak mengajukan protes, tapi kemudian membatalkannya. Wajahnya terlihat putus asa.</p>
<p>&#8220;Segera siagakan seluruh kekuatan militer dan polisi. Kerahkan seluruh intel dan reserse. Cari dan gali semua kemungkinan. Cegah jangan sampai makar ini terjadi. Ingat, kita tidak punya banyak waktu. Jangan sampai kecolongan. Saya akan segera memberitahu rakyat. Kumpulkan semua wartawan, saya akan membuat konferensi pers darurat.&#8221;</p>
<p>Lalu rapat dibubarkan. Di teras istana Presiden menemui wartawan untuk menyampaikan berita tentang keadaan darurat.</p>
<p>+++</p>
<p>Pengumuman Presiden ditanggapi rakyat dengan kebingungan. Tak ada yang paham maksudnya. Tak ada yang percaya ada yang bisa mengubah lusa menjadi hari Kamis. Mereka heran dengan ketakutan Presiden. Kritik bermunculan menanggapi berita itu. Presiden dianggap mengada-ada, justru membuat rakyat resah.</p>
<p>Tapi Presiden tak peduli. Selasa pagi dia kembali mengundang wartawan, memberi keterangan pers.</p>
<p>&#8220;Peringatan saya dianggap main-main dan menakut-nakuti rakyat. Sekali lagi saya tegaskan, saya hanya mengingatkan, bukan menakut-nakuti.&#8221;</p>
<p>+++</p>
<p>Lusa harinya semua berjalan seperti biasa. Menteri pertahanan bangun paling pagi. Sebenarnya dia memang tidak tidur semalaman, menunggu hari berganti. Dia sudah memerintahkan bawahannya untuk waspada, tapi dia sendiri bingung. Ia tidak bisa memberi instruksi yang jelas, karena dia tak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Tapi agar tidak kecolongan dia memerintahkan semua jajarannya untuk waspada.</p>
<p>Begitu jam berdetang dua belas kali di tengah malam, dia segera mengecek di TV apakah hari itu sudah hari Rabu. Sialnya tak ada stasiun TV yang bicara soal nama hari. Jadi dia terpaksa menunggu datangnya koran pagi, sambil gemetar khawatir. Pukul 4 subuh koran datang. Dia lega. Jelas di situ tertulis hari Rabu.</p>
<p>+++</p>
<p>Pagi-pagi Menteri Pertahanan sudah datang menghadap Presiden. Mengabarkan bahwa hari itu tetap hari Rabu. &#8220;Saya sudah tahu.&#8221; jawab Presiden pendek.</p>
<p>Pukul delapan pagi Presiden kembali melakukan jumpa pers.</p>
<p>&#8220;Seperti saudara-saudara ketahui, hari ini tetap hari Rabu. Artinya jajaran aparat keamanan kita berhasil menggagalkan usaha makar. Kita berhasil melakukan antisipasi. Peringatan yang saya berikan dua hari yang lalu agaknya membuat para drakula yang hendak mengkhianati perjuangan bangsa kita menjadi takut. Boleh jadi mereka membatalkan niatnya, karena melihat rakyat begitu bersatu padu, setia kepada pemerintahan saya. Untuk itu saya ucapkan ribuan terima kasih kepada seluruh rakyat.&#8221;</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fintelijen%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/intelijen/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Intelijen" data-url="http://berbual.com/intelijen/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/intelijen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pedagang Gendong</title>
		<link>http://berbual.com/pedagang-gendong/</link>
		<comments>http://berbual.com/pedagang-gendong/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 05:12:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Dongeng-Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/pedagang-gendong/</guid>
		<description><![CDATA[Emakku pedagang gendong. Sehelai kain batik panjang dia selempangkan di punggungnya, menyangga buntalan barang dagangan. Ujung kain panjang itu ia simpulkan di dadanya. Buntalan di punggungnya itu berisi pakaian. Ada kain batik (jarik), sarung, kemeja, celana, gaun, rok, pakaian anak, hingga pakaian dalam. Di tangan emak menjinjing sebuah keranjang pelastik, berisi obat-obatan, jamu, dan kosmetik. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Emakku pedagang gendong. Sehelai kain batik panjang dia selempangkan di punggungnya, menyangga buntalan barang dagangan. Ujung kain panjang itu ia simpulkan di dadanya. Buntalan di punggungnya itu berisi pakaian. Ada kain batik (jarik), sarung, kemeja, celana, gaun, rok, pakaian anak, hingga pakaian dalam. Di tangan emak menjinjing sebuah keranjang pelastik, berisi obat-obatan, jamu, dan kosmetik. Itu juga barang dagangan.</p>
<p>Emak selalu berkebaya kalau pergi berdagang. Seingatku emak memang selalu berkebaya kalau keluar rumah. Tak pernah dia memakai rok. Kain batik yang dia pakai untuk bawahan kebaya, diikat dengan sebuah setagen berwarna merah hati. Tapi setagen Emak sungguh istimewa. Di tengahnya ada kantong bertutup restleting. Itulah dompet Emak. Dengan itu ia memastikan uangnya tidak akan pernah tercecer.</p>
<p>Emak kadang memakai sandal. Tapi jalan di kampung kami selalu becek kalau turun hujan. Di jalan yang becek sendal tak lagi nyaman dipakai. Permukaannya jadi licin, sehingga telapak kaki kita tak lagi bisa menginjaknya dengan tepat. Kalau telapak kaki terpeleset di atas sendal, tali sendal bisa putus. Karenanya di kampung kami lebih suka berkaki ayam saat jalanan becek. Demikian pula dengan Emak.</p>
<p>+++<br />
Aku tak tahu persis kapan Emak mulai berdagang. Sejak aku mulai bisa mengingat sesuatu aku lihat Emak sudah berdagang. Cerita Emak, mulanya dia mengambil barang dagangan dari sepupunya yang tinggal di kota. Sesekali sepupunya itu pergi ke desa untuk berjualan. Emak membeli barang dagangan yang dia bawa, lalu dia jajakan berkeliling kampung.</p>
<p>Tak puas dengan itu, Emak pergi sendiri ke kota. Oleh sepupunya dia diperkenalkan kepada pedagang di pasar grosir. Emak menitipkan perhiasannya kepada pedagang itu untuk jaminan. Dia mendapat sejumlah barang dagangan untuk dibawa ke kampung. Uang hasil menjual dagangan itu nanti disetorkan, sambil mengambil dagangan baru. Setelah beberapa kali berhasil menyetor dengan baik, Emak tak perlu lagi menitipkan jaminan.</p>
<p>Beberapa kali bolak-balik ke pasar grosir, Emak kemudian menemukan sendiri pedagang lain yang mau memberi dia kulakan. Di masa jayanya seingatku Emak punya mitra sampai belasan pedagang grosir.</p>
<p>+++</p>
<p>Kenangan tentang Emak hampir selalu tentang seorang pedagang gendong. Aku banyak menghabiskan masa kecilku dengan menemani Emak berdagang. Saat SD aku hanya sekolah hingga jam sepuluh pagi. Pulang sekolah biasanya aku ikut Emak berdagang. </p>
<p>Aku adalah sekretaris pribadi Emak. Emak buta huruf. Dia memerlukan aku untuk mencatat siapa saja yang membeli barang. Orang kampung jarang membeli barang secara tunai. Mereka berutang, membayarnya dengan dua atau tiga kali cicilan. Aku mencatat siapa saja dan berapa utangnya, juga mencatat saat orang membayar sebagian atau melunasi utangnya.</p>
<p>Emak sebenarnya tak butuh catatan, karena dia selalu ingat. Dia ingat berapa harga sepotong kain yang dia beli di pasar grosir, juga berapa harga yang dia tetapkan saat kain itu dijual. Dia ingat siapa membeli apa, harganya berapa, kapan cicilan dibayar, berapa sisa hutang, dan kapan lunasnya. Tapi supaya aman, kami mencatatnya. Kalau aku kebetulan tidak ikut mendampingi Emak saat berdagang, catatan itu aku buat malam hari, setelah Emak pulang. Dia akan mendiktekan semua transaksi hari itu, aku mencatat semuanya.</p>
<p>Selain sebagai tukang catat, tugasku adalah menenteng keranjang pelastik. Kami berdua berjalan dari rumah ke rumah. Melewati kebun kelapa kami menyambangi kampung tetangga. Entah berapa rumah kami singgahi sehari, aku tak ingat benar. Tak jarang kami pulang ke rumah saat hari sudah gelap.</p>
<p>Berjalan bersama Emak selalu menyenangkan. Kami menyusuri jalan yang tak selalu nyaman. Di musim kemarau jalan tanah itu keras dan berdebu. Di musim hujan becek dan licin. Melintasi kebun kelapa di antara perkampungan, kami ditemani oleh gerombolan nyamuk. Jumlahnya ratusan, hingga dengung suaranya jelas terdengar. </p>
<p>Tapi berjalan bersama Emak memang selalu menyenangkan. Kami selalu mengobrol saat berjalan. Ada saja yang diceritakan Emak. Biasanya tentang masa kecil dia. Emak juga suka bergalur, menjelaskan silsilah keluarga. Dia menjelaskan siapa si Fulan, apa hubungan kekerabatannya dengan kami. </p>
<p>Di rumah yang kami kunjungi kami datang sebagai kerabat. Di kampung semua orang adalah kerabat. Masuk ke rumah biasanya Emak larut dalam obrolan. Dia tak langsung membuka barang dagangan. Nanti sambil mengobrol, barulah perlahan barang dagangan dibukakan.</p>
<p>Saat Emak larut dalam obrolan adalah saat yang memjemukan. Tak ada yang bisa aku lakukan. Tak jarang aku larut dalam kantuk.</p>
<p>+++</p>
<p>Emak tak hanya menjual barang. Ia memperkenalkan gaya hidup. Kampung kami ada di pulau. Untuk sampai ke kota orang perlu menumpang kapal motor sehari penuh. Pun biayanya tak murah. Banyak orang tak pernah pergi ke kota seumur hidupnya. Emak tak hanya menjual barang, tapi juga memperkenalkan cara hidup orang kota. Melalui Emak orang kampung kami mengenal kosmetik, berbagai model baju, juga jamu dan obat-obatan.</p>
<p>Kami, anak-anak Emak adalah peraga. Emak membelikan kami baju-baju dari kota. Baju bagus biasanya dipakai saat ada pesta nikah atau perayaan. Orang kampung tertarik membeli setelah melihat baju-baju yang kami pakai. Tak jarang orang rela membeli baju yang sudah pernah kami pakai.</p>
<p>+++<br />
Selain menemani Emak berdagang aku juga menemani Emak belanja ke kota. Saat libur sekolah aku boleh ikut ke kota. Ini adalah keistimewaan keluarga kami. Tak banyak orang kampung yang bisa pergi ke kota. Apalagi anak-anak. Kami secara rutin pergi ke kota.</p>
<p>Menemani Emak berbelanja sebenarnya membosankan. Emak menghabiskan waktu berjam-jam di satu toko, membeli berbagai barang. Lalu dia pindah ke toko lain, mengulangi ritual yang sama. Aku biasanya duduk di pojok, dengan segelas es teh pemberian pemilik toko, menahan kantuk.</p>
<p>Tapi kota memang penuh daya tarik. Oplet, becak, sepeda motor adalah tontonan yang tak pernah aku lihat di desa. Juga lampu listrik. Pesona itu membuat aku tak pernah jera ikut Emak belanja.</p>
<p>Tentu ada hal lain. Sore hari, saat selesai belanja adalah waktunya makan enak. Biasanya Emak mengajakku makan di warung. Sate sapi dengan potongan lontong adalah kegemaranku. Juga gado-gado atau nasi Padang, atau semangkok mie bakso. Juga sop kaki sapi. Semua serba lezat belaka. Dan semua ini hanya ada di kota, saat menemani Emak berbelanja.</p>
<p>+++</p>
<p>Kenangan tentang Emak adalah kenangan tentang gelap, saat senja baru saja berlalu. Gelap di jalan kecil, sepanjang selokan di tengah kebun kelapa. Saat kami berjalan pulang ke rumah. Saat kaki pegal setelah berjalan berkilo-kilo. Saat tangan penat menenteng kerangjang pelastik.</p>
<p>Juga tentang toko-toko grosir. Tentang oplet dan becak. Tentang sate.</p>
<p>Tentang Emak yang tak pernah berhenti mencari cara menghidupi anak-anaknya.</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fpedagang-gendong%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/pedagang-gendong/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Pedagang Gendong" data-url="http://berbual.com/pedagang-gendong/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/pedagang-gendong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kabur</title>
		<link>http://berbual.com/kabur/</link>
		<comments>http://berbual.com/kabur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 01:25:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Dongeng-Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/kabur/</guid>
		<description><![CDATA[Telepon berdering di suatu pagi buta, di penghujung musim dingin. Udara dingin yang menyapu hidungku hingga ke rongga dalamnya mengingatkan aku satu hal: di luar sana dingin, kontras benar dengan kehangatan futon yang membungkus tubuhku. Peringatan itu langsung mematikan gerak reflek tubuhku yang tadinya hendak beranjak bangun ketika mendengar dering telepon. Aku bertahan, berharap penelepon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telepon berdering di suatu pagi buta, di penghujung musim dingin. Udara dingin yang menyapu hidungku hingga ke rongga dalamnya mengingatkan aku satu hal: di luar sana dingin, kontras benar dengan kehangatan futon yang membungkus tubuhku. Peringatan itu langsung mematikan gerak reflek tubuhku yang tadinya hendak beranjak bangun ketika mendengar dering telepon. Aku bertahan, berharap penelepon menyadari bahwa dia menelpon terlalu pagi.</p>
<p>Tapi harapanku sia-sia. Dering telepon hanya berhenti sejenak, lalu mulai lagi. Aku fikir ini pasti telepon penting. Mungkin dari keluarga di tanah air. Dengan malas aku melangkah ke pesawat telepon di ruang tengah.</p>
<p>“Halo….</p>
<p>“Pak Hasan?”</p>
<p>“Ya…” jawabku sambil mengantuk.</p>
<p>„Ini Nadri, Pak.“</p>
<p>„Iya. Ada apa?“ tanyaku datar. “Siapa pula Nadri ini”, fikirku.</p>
<p>“Pak, saya ambil keputusan. Saya mau kabur.”</p>
<p>“Apa???!!” teriakku. Sekarang aku ingat siapa si Nadri ini.</p>
<p>„Iya, Pak. Maaf, saya tidak mengikuti nasihat, Bapak. Doakan saya ya, Pak.”</p>
<p>Lalu telepon diputus tergesa-gesa.</p>
<p>Masih agak mengantuk aku henyakkan punggungku ke sandaran sofa butut di ruang tengah. Dingin masih terasa menggigit di permukaan kulitku. Tapi tak ku hiraukan. Fikiranku tak bisa lepas dari Nadri.</p>
<p>„Nekat benar dia.“ fikirku putus asa.</p>
<p>Aku hanya pernah bertemu Nadri sekali. Bukan pula pertemuan yang disengaja. Waktu itu aku dalam perjalanan pulang dari Sendai, sebuah kota di bagian utara Jepang. Saat itu aku menetap di Kumamoto, sebuah kota di pulau Kyushu, di bagian selatan.</p>
<p>Hari itu, seperti biasa aku tiba di bandara hampir 2 jam sebelum keberangkatan pesawat. Tak ada hal yang perlu dikerjakan di hotel. Jadi aku memilih untuk cepat-cepat saja ke bandara. Tak ada yang menarik di sini. Ini bandara kecil saja. Aku sudah ke sini lebih dari sepuluh kali. Karena itu segera setelah check in aku langsung menuju ke ruang tunggu untuk duduk-duduk.</p>
<p>Di ruang tunggu itu untuk pertama kali aku melihat Nadri. Ia waktu itu bersama 3 orang temannya. Sejak melihatnya dari kejauhan aku sudah langsung bisa mengenali mereka. Empat orang pemuda, berumur sekitar 25 tahun. Berkulit gelap, kontras dengan orang-orang Jepang di sekeliling mereka. „Mereka pasti trainee dari Indonesia“, fikirku. Aku langsung menuju ke kursi tempat mereka duduk.</p>
<p>„Orang Indonesia, ya?“ sapaku. Lalu kami berkenalan.</p>
<p>Berempat mereka dalam perjalanan dari Kesennuma, sebuah kota pelabuhan kapal penangkap ikan, berpuluh kilometer di utara Sendai. Aku pernah sekali berkunjung ke kota yang menghadap ke laut Pasifik ini. Di sana memang ada cukup banyak orang Indonesia yang bekerja sebagai awak kapal penangkap ikan.</p>
<p>Tapi Nadri dan kawan-kawannya bukan pekerja. Mereka trainee. Ada ribuan, bahkan mungkin belasan ribu trainee asal Indonesia di Jepang. Mereka belajar dengan cara magang, belajar sambil bekerja di berbagai tempat.Aku beberapa kali bertemu dengan para trainee ini dalam berbagai kesempatan. Umumnya pertemuan tak sengaja, saat main ke kota, di tempat wisata. Ada pertemuan yang berlanjut. Beberapa trainee di sekitar Kumamoto sesekali berkunjung ke rumahku, khususnya saat lebaran.</p>
<p>Ada beberapa trainee yang aku temui di kantor imigrasi. Mereka ini trainee yang bermasalah. Ada yang terlibat tindak kriminal di tempat kerja, antara lain berkelahi. Ada pula yang melanggar aturan keimigrasian, yaitu kabur dari majikan tempat magang, lalu tinggal melebihi batas waktu yang ditetapkan pada visa mereka. Karenanya mereka diproses untuk dipulangkan ke Indonesia. Aku jadi penerjemah saat mereka dalam proses pemeriksaan di imigrasi.</p>
<p>Dari berbagai pertemuan itu terekam berbagai cerita. Ada cerita indah. Para trainee itu magang di perusahaan. Sambil magang mereka diajari berbagai ketrampilan teknis. Ada yang disuruh ikut kursus bahasa Jepang di akhir pekan. Beberapa trainee yang aku temui merasa puas. Dengan sisa uang saku yang mereka tabung, ditambah ketrampilan yang mereka peroleh, mereka berniat membuka usaha kalau nanti sudah pulang. Bahkan ada trainee yang tadinya memang sudah sarjana di Indonesia, berhasil memperoleh beasiswa untuk kuliah S2.</p>
<p>Tapi tak sedikit pula kisah pilu. Ada trainee yang dipekerjakan bak kuli. Di proyek-proyek konstruksi, mereka hanya jadi tukang angkut, tukang pikul. Tak ada ketrampilan khusus yang bisa dipelajari di situ. Mereka dipekerjakan melebihi batas maksimal jam kerja, tanpa uang lembur. Alasannya, mereka trainee, tidak berhak atas uang lembur. Uang saku yang mereka terima pun, jauh di bawah standar upah minimum di Jepang.</p>
<p>Itulah yang dialami Nadri dan kawan-kawan.</p>
<p>Nadri kebetulan sekampung denganku. Ia berasal dari Sambas, pesisir utara Kalimantan Barat. Kampungku ada di pesisir selatan. Ia lulusan SMK Perikanan. Lulus SMK iya menganggur, hanya kerja serabutan. Ia tertarik melamar saat mendengar ada kesempatan magang di Jepang melalui Disnaker. Ia tahu jepang maju dalam bidang perikanan. Ia berharap dapat ketrampilan dan pengetahuan di sana.</p>
<p>Nadri ditempatkan di sebuah kapal penangkap ikan, kalau tak salah khusus untuk menangkap ikan tuna (maguro). Wilayah operasinya di Indonesia juga. Di sekitar Papua. Sekali melaut menghabiskan waktu 2-3 bulan. Pekerjaannya tak lebih dari tukang angkat dan tukang pikul. Tak ada teknik khusus yang diajarkan. Ia sama sekali tak dapat kesempatan untuk, misalnya, belajar mengoperasikan peralatan.</p>
<p>Soal upah dan jam kerja yang tak seimbang adalah keluhan utama Nadri. Rekan-rekannya yang bekerja di darat mendapat uang saku sekitar 70-80 ribu yen sebulan. Mereka umumnya libur pada hari Minggu. Nadri selama melaut harus bekerja tanpa libur. Uang saku yang dia terima 50 ribu yen. Sebenarnya jumlah ini tak jauh berbeda nilainya dengan teman-temannya yang bekerja di darat tadi. Para trainee yang kerja di darat itu harus membayar sendiri sewa tempat tinggal berikut kebutuhan makan mereka. Sedangkan Nadri, semua kebutuhan itu ditanggung perusahaan. Tapi bagi Nadri, kerja berbulan bulan tanpa libur itu sungguh berat. Ia hanya libur saat kapal merapat, sekitar 1 minggu sebelum kembali melaut.</p>
<p>Aku mendengar keluhan Nadri sambil mencoba membetulkan cara pandangnya.</p>
<p>“Orang Jepang itu kasar, Pak. Suka memaki. Kalau saya salah dalam bekerja, saya dimaki-maki.”</p>
<p>“Budaya mereka memang begitu. Saya saja, yang sudah S2 dan calon doktor juga dimaki-maki oleh Sensei saya.”</p>
<p>“Lebih parah lagi, mereka kadang main tangan. Main tempeleng.“</p>
<p>Nadri tak mengada-ada. Trainee yang aku temui saat dia sedang menjalani proses hukum di kantor imigrasi juga bercerita tentang hal yang sama.</p>
<p>Sering aku lihat di acara TV. Pembuat ramen (la mien dalam bahasa Cina, bakmi) yang sedang belajar pada yang sudah senior sering mendapat perlakuan itu. Dimaki-maki, tak jarang dipukul. Pukulan itu menurutku bukan untuk menyakiti, tapi untuk menggugah kesadaran. Namun bagi orang Indonesia macam Nadri, hal seperti itu dianggap tak patut.</p>
<p>Nadri mengungkapkan niatnya untuk kabur. Artinya lari dari majikannya, lalu bekerja sebagai pekerja ilegal. Berulang kali aku berusaha mencegahnya.</p>
<p>„Kamu akan ditangkap. Itu pasti. Bagaimanapun lihainya kamu lari, kamu pasti akan tertangkap.“</p>
<p>„Tidak apa-apa. Yang penting kerja, kumpulkan uang, segera kirim uang itu ke Indonesia. Saat<br />
tertangkap nanti, kalau kita tidak punya uang, tiket pulang akan dibayari pemerintah Jepang.”</p>
<p>“Tapi ada kemungkinan kamu dipenjara, tidak langsung dikirim pulang.“</p>
<p>„Tidak apa-apa. Penjara Jepang toh tidak buruk.”</p>
<p>Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Kalau penjara pun dianggap baik olehnya, apa yang bisa kukatakan? Kami tinggal di negeri yang sama. Tapi kata-kata Nadri mengingatkanku bahwa dia berada di dunia yang lain. Tak patut bagiku untuk memaksakan cara pandangku padanya. Aku sama sekali tak mengenal dunianya.</p>
<p>Kata-kata Nadri yang terakhir itu kembali terngiang di telingaku. „Ki wo tsukete.“ Cuma itu yang bisa aku gumankan. Hati-hati, dik.</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fkabur%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/kabur/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Kabur" data-url="http://berbual.com/kabur/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/kabur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

