Archive for the ‘Media, Bahasa, dan Tulisan’ Category

Menulis itu sedekah

24 March 2010

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan
hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk
keabadian” – Pramoedya Ananta Toer–

Kouichi Tanaka dan Eiji Osawa adalah dua orang ilmuwan kimia Jepang. Ada perbedaan mendasar antara keduanya. Tanaka adalah penerima Hadiah Nobel (Kimia, 2002), sedangkan Osawa tidak. Yang membedakan keduanya adalah Tanaka menulis, sedangkan Osawa tidak.

Tahun 1970 Osawa meramalkan adanya struktur bahan karbon yang membentuk bola melalui sebuah tulisan ilmiah. Sayangnya gagasan tersebut ditulis di sebuah jurnal berbahasa Jepang, sehingga tidak pernah sampai ke Eropa maupun Amerika. Pada saat yang sama seorang ilmuwan Amerika RW Hanson juga meramalkan hal yang serupa. Tapi dia malah sama sekali tidak menuliskan gagasan tersebut.

Lima belas tahun kemudian struktur karbon yang diramalkan Osawa itu terwujud secara ekperimental, dan kemudian disebut C60 oleh Harold Kroto , James R. Heath, Sean O’Brien, Robert Curl, dan Richard Smalley. Penemuan ini berlanjut dengan penemuan fullerene, yaitu bahan karbon berstruktur tabung dalam skala nanometer, yang dalam dunia ilmiah dikenal dengan carbon nanotube. Carbon nanotube adalah salah satu bahan yang sangat penting dalam pengembangan nanoteknologi saat ini. Atas penemuan ini keempat ilmuwan tadi dianugerahi Hadiah Nobel pada tahun 1996.

Tanaka adalah peneliti di Shimazu corporation, sebuah perusahaan Jepang produsen alat ukur. Ia mengembangkan spektrometer massa, sebuah alat yang mampu mengurai komponen penyusun suatu bahan berdasarkan massa molekul penyusunnya. Tanaka menulis hasil risetnya dalam bahasa Inggris. Satu di sebuah konferensi internasional, dan satu lagi di sebuah jurnal internasional tentang spektroskopi massa. Tadinya Hadiah Nobel atas penemuan/pengembangan spektrometer massa hendak diberikan kepada ilmuwan Inggris yang lebih banyak menghasilkan makalah sehingga lebih dikenal. Tapi belakangan panitia menemukan makalah Tanaka yang dipublikasi lebih dahulu dan menjadi bahan rujukan, sehingga diputuskan untuk menganugerahkan penghargaan itu kepadanya.

Tanaka sebenarnya tidak mahir berbahasa Inggris. Berbeda dengan kebanyakan penerima Hadiah Nobel sains yang kebanyakan adalah profesor yang biasa bergaul secara internasional, Tanaka „hanyalah“ seorang sarjana S1. Ia adalah satu-satunya penerima Hadiah Nobel di bidang sains yang bukan doktor. Saat menyampaikan kuliah pada seremoni Nobel, dia harus menyampaikannya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata. Saat ditanya wartawan tentang kesannya setelah kuliah tersebut, ia berujar pendek, „I hate English!“

Menulis adalah berbagi. Gagasan yang kita tulis dan dibaca orang lain boleh jadi akan menginspirasi orang untuk berbuat lebih lanjut atau lebih baik. Itulah hal yang paling mendasar pada publikasi di dunia sains. Dari suatu temuan seorang ilmuwan, ilmuwan lain akan melanjutkan dan mengembangkannya. Itu hanya bisa dicapai kalau mereka saling berbagi. Salah satu media untuk berbagi itu adalah tulisan.

Osawa memang telah menuliskan gagasannya tentang struktur karbon tadi. Sayangnya media yang dia pakai tidak memadai. Ia menulis dalam bahasa Jepang, yang tidak bisa menjangkau pusat sains dunia, yaitu Eropa dan Amerika. Artinya gagasannya tidak tersebar dengan baik. Sebaliknya, Hanson sebenarnya punya peluang lebih baik karena dia berbahasa Inggris. Tapi ia melalaikan satu hal penting, yaitu ia tidak menuliskan gagasannya.

Menulis adalah berbagi. Kita tidak menulis untuk menunjukkan bahwa kita pintar atau hebat. Kalau niatnya demikian, tulisan kita akan dipenuhi oleh hal-hal hebat yang mungkin sulit dipahami pembaca. Menulis dengan niat berbagi artinya kita akan berusaha sedemikian mungkin untuk membuat tulisan yang mudah dipahami oleh pembaca. Kalau Anda merasa bahwa menulis itu sulit, cobalah tulis gagasan Anda. Lalu baca sendiri tulisan itu, dengan membayangkan diri Anda sebagai orang yang sangat awam dalam hal yang Anda tulis. Dengan begitu Anda akan berempati pada pembaca, menemukan hal yang sulit dipahami pada tulisan Anda. Lalu ubahlah tulisan itu agar mudah dipahami.

Menulis itu sedekah. Bersedekah itu tidak sulit.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Jidoushi, tadoushi

13 November 2009

Jidoushi dan tadoushi adalah istilah tata bahasa Jepang untuk kata kerja transitif dan intransitif. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal kata kerja transitf sebagai kata kerja yang membutuhkan objek, sedangkan intransitif tidak membutuhkan objek. Definisi kedua kata kerja ini dalam bahasa Jepang sedikit berbeda, dan bagi saya sangat inspiratif. Karenanya saya ingin sedikit berbagi inspirasi.

Doushi berarti kata kerja. Ji berarti sendiri atau dengan sendirinya, sedangkan ta berarti (pihak) lain. Jidoushi artinya kata kerja yang menggambarkan kejadian/kerja yang terjadi dengan sendirinya, atau dilakukan sendiri oleh subjek. Sedangkan tadoushi adalah kejadian/kerja oleh subjek kepada suatu objek.

Salah satu contoh pasangan kata kerja intransitif-transitif dalam bahasa Jepang adalah deru (keluar, intransitif) dan dasu (mengeluarkan, transitif). Saya punya sedikit cerita tentang dua kata kerja ini.

Saat ini saya diberi amanah untuk memimpin sebuah perusahaan Jepang di bidang plastic molding injection yang baru beroperasi sekitar 3 tahun. Selama ini kami membuat barang-barang pesanan dari perusahaan induk di Jepang, untuk dipasarkan di Jepang dan beberapa negara lain. Namun tahun ini pesanan dari Jepang menurun drastis, sehingga kami dihadapkan pada kemungkinan kami akan merugi.

Untuk menutupi kerugian, kami menerima pekerjaan maklun (subkontrak). Nilai pekerjaan yang kami terima cukup rendah, karena perusahaan mitra kami yang memberi pekerjaan itu juga sedang melakukan cost down secara ketat. Kami yang selama ini terbiasa mendapat order dengan margin keuntungan besar dari Jepang merasa berat melakukan pekerjaan ini.

Namun dengan pertimbangan bahwa ada sedikit pekerjaan lebih baik dari tidak sama sekali, kami putuskan untuk menerima pekerjaan ini. Minimal mesin tidak menganggur dan biaya-biaya rutin (overhead) bisa tertutupi.

Dengan kesadaran sejak awal bahwa pekerjaan ini murah nilainya, kami sangat berhati-hati. Segala macam biaya yang bisa dipotong kami potong. Berbagai cara kami lakukan untuk berhemat. Yang terpenting, tingkat apkiran (reject) kami tekan sekecil mungkin.

Setelah beberapa lama berjalan, kami menyadari bahwa pekerjaan ini ternyata bisa memberikan laba. Tidak besar memang. Tapi ada. Dan itu lebih dari sekedar menutup pengeluaran rutin. Saat menyadari hal itu saya berkata kepada teman saya: „Rieki wa deru mono dewa naku, dasu mono da.“ Secara harfiah kalimat itu berarti, „Laba itu tidak keluar, tapi (kita) keluarkan.“ Maksudnya adalah laba itu tidak dihasilkan dari harga yang dihasilkan dari negosiasi dengan pembeli, tapi dari berbagai efisiensi yang kita lakukan dalam proses produksi.

Ilustrasi kecil di bawah ini mungkin bisa lebih memperjelas. Secara umum hubungan antara biaya produksi(P), harga jual(J), dan laba (L) adalah sebagai berikut:
P + L = J
Artinya kita menentukan harga jual produk kita dengan mempertimbangkan biaya produksi dan laba yang ingin kita peroleh. Namun dalam banyak kasus kita tidak bebas menentukan harga jual. Harga jual seringkali sudah ditentukan oleh pasar. Dalam situasi itu rumusnya berubah menjadi:
J – P = L
Dari harga jual yang sudah tertentu itu yang bisa kita lakukan untuk memperoleh dan memperbesar laba adalah dengan menekan ongkos produksi.

Kata deru dan dasu, sama-sama bisa digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan, yaitu sesuatu yang keluar. Tapi pilihan atas kata transitif atau transitif memberi semangat yang berbeda. Kata kerja transitif mewakili semangat kita untuk melakukan sesuatu, bukan menerima atau menyerah begitu saja pada keadaan.

Ada satu lagi pasangan kata kerja yang bagi saya juga memberi inspirasi, yaitu kowareru (rusak) dan kowasu (merusak). Bentuk lampau kedua kata kerja ini masing-masing kowareta dan kowashita. Saat melakukan eksperimen keteledoran saya menyebabkan sebuah alat laboratorium rusak.

Saya melaporkan kejadian itu kepada Sensei (profesor) saya. Dalam logika bahasa Indonesia otak saya berkata, “Alat itu rusak.” Logika itu saya terjemahkan dalam bahasa Jepang, sehingga dari mulut saya keluar kalimat „Souchi (alat) ga kowareta.” Setelah mendengar penjelasan saya, Sensei menjawab,“Kore wa kowareta janaku, kowashita desho.“ (Ini sih bukan rusak, tapi kamu rusakkan.)

Ada perbedaan mendasar pada dua kata kerja di atas. Kowareru berarti alat itu rusak dengan sendirinya. Sedangkan kowasu berarti ada sesuatu yang menyebabkan kerusakan, dan sesuatu itulah yang (harus) bertanggung jawab. Mengungkapkan kejadian di atas dengan kata kowareru adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab tersebut.

Di akhir tulisan ini saya akan kutipkan sebuah ilustrasi dari buku Seven Habits tulisan Stephen Covey. Kali ini bukan tentang pasangan kata kerja transitif dan intransitif. Tapi tentang kata benda dan kata kerja transitif.

Ada seseorang yang berada di ambang perceraian. Dia merasa sudah tidak ada lagi cinta antara dia dengan istrinya. Dia meminta nasihat pada Stephen Covey.

“Cintai dia.” Nasihat Stephen.

“Itu tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Cinta itu sudah tidak ada antara aku dan dia. Bagaimana aku bisa mencintai dia?”

“Bisa. Cintai dia.”

“Tidak mungkin.”

“Ingat. Cinta itu kata kerja. Kata kerja transitif. Cintai dia. Lakukan usaha untuk mencintai dia. Maka cinta itu akan tumbuh di hatimu dan di hatinya.”

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Didebottlenecking

5 November 2009

Anda tidak paham makna kata yang saya gunakan sebagai judul pada tulisan ini? Silahkan tanya pada Presiden SBY. Kata itu keluar dari mulutnya pada pidato di acara National Summit 2009.

Banyak orang heran. Acara kenegaraan resmi, oleh pejabat-pejabat pemerintahan Republik Indonesia dinamai dalam bahasa Inggris. Mengapa? Ternyata ini tak jauh-jauh dari urusan citra, sesuatu yang maha penting bagi SBY. Konon kegiatan ini meniru cara kerja Presiden Obama. Bahkan nama National Summit itu sendiri meniru nama acara yang digelar Obama tak lama setelah dilantik jadi presiden.

Ini lagi-lagi ciri khas SBY. Semua serba berbau Amerika. Berbau Obama. Marna-warna yang dia pakai saat kampanye tempo hari, tata letak panggung kampanye, tampilan homepage, dan banyak hal lagi, semua meniru Obama. Setelah terpilih pun dia masih juga meniru Obama. Coba lihat semboyan kabinet yang dia cetuskan. Pakai bahasa Inggris. Salah satunya adalah Change and Continuity. Lagi-lagi meniru Obama, karena Change adalah tema kampanye yang diusung oleh Obama. Bisa kita bayangkan betapa Presiden kita ini sangat tidak percaya diri.

Lucunya, dia tampaknya hanya mampu meniru hanya sampai pada soal-soal yang sepele seperti itu. Soal-soal tampak luar. Substansinya hilang. Kabinet yang ia bentuk sudah bekerja 16 hari, tapi belum punya program kerja!

Selain soal nama National Summit itu, pada pidato di acara tersebut SBY dengan fasih mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Menurut catatan KOMPAS dalam pidato selama 65 menit SBY melafalkan 75 kosa kata bahasa Inggris. Tidak hanya itu. Dia juga menggunakan istilah yang tak jelas, apakah itu bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, ya itu tadi “didebottlenecking”.

“Banyak hal yang masih ada di-”debottlenecking” ini yang harus diselesaikan,” kata SBY. Apa yang dia maksud? Kita mengenal istilah bottleneck (leher botol) untuk menggambarkan adanya hambatan. Debottlenecking adalah kira-kira bermakna “menghilangkan hambatan”. Mungkin SBY hendak mengungkapkan bahwa masih banyak perkara yang mengalami berbagai hambatan dalam penyelesaiannya, dan hambatan itu harus diurai. Saya bisa dengan mudah mengatakannya dalam bahasa Indonesia: “Masih banyak hal yang harus diurai permasalahannya.” Selesai. Tidak perlu pakai istilah asing, dan tidak perlu mengeluarkan kosa kata yang tak termuat dalam kamus bahasa manapun!

Banyak kata yang sebetulnya punya padanan yang pas dalam bahasa kita dipaksakan untuk dipakai dalam kosa kata aslinya. Lebih kacau lagi, kata tersebut ditambahi awalan dan akhiran, sehingga menjadi sebuah kata berwujud Frankenstein. Contohnya adalah kata “impeach” dan “impeachment”. Sederhananya kata “impeach” berpadanan dengan kata “pecat”. Kata ini menjadi populer di media massa Indonesia sejak skandal Bill Clinton dengan Monica Lewinski. Sejak itu media lebih suka menggunakan kata “impeach” ketimbang “pecat”, khususnya bila menyangkut lembaga kepresidenan. Maka kemudian kita mengenal kata-kata “mengimpeach” dan “diimpeach”.

Bagi saya ini adalah bentuk kedunguan dalam berbahasa. Dan sangat menyedihkan bahwa Presiden turut menjadi pelopor kedunguan ini dengan melakukannya di acara kenegaraan.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Bahasa ke Dua di Indonesia

29 October 2009

Saya menelepon ke ponsel teman. Perusahaan operator telepon itu adalah perusahaan Indonesia. Karena telepon yang saya tuju dalam keadaan tidak aktif, saya menerima pesan sebagai berikut:

“The telephone you are calling is switched off.”

Sudah. Hanya itu. Hanya pesan dalam bahasa Inggris, tidak ada pesan dalam bahasa Indonesia.

Di beberapa bioskop yang pernah saya kunjungi, petunjuk yang ditayangkan di layar sebelum film dimulai, juga ditulis dalam bahasa Inggris. Tidak ada terjemahan bahasa Indonesia sama sekali.

Kalau kita telepon hotel atau perusahaan besar di Jakarta, penjawab telepon akan menjawab dalam bahasa Inggris. Setelah tahu penelepon berbahasa Indonesia, barulah dia meladeni kita dalam bahasa Indonesia.

Saya teringat perjalanan saya ke berbagai negara. Di Jerman saat saya berbelanja ke toko penjaganya selalu menyapa saya dalam bahasa Jerman. Setelah tahu bahwa saya tidak berbahasa Jerman, barulah dia meladeni saya dalam bahasa Jerman. Demikian pula saat saya berkunjung ke Perancis, pertama kali saya akan disapa dalam bahasa Perancis. Hal yang sama saya dapatkan dalam percakapan telepon.

Dengan kata lain, di banyak negara, orang mendahulukan bahasa mereka sendiri. Bahasa kita adalah bahasa pertama dan utama, bahasa Inggris dan bahasa asing lain adalah bahasa ke dua, tiga, dan seterusnya. Sayangnya yang sering terjadi di Indonesia adalah seperti saya ungkapkan dalam ilustrasi di atas. Bahasa Indonesia adalah bahasa ke dua, atau bahkan tidak diperlukan sama sekali.

Parahnya, ini tidak hanya terjadi di dunia usaha. Birokrasi pemerintah, bahkan Kepala Negara terlihat lebih suka mendepankan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Tengoklah bagaimana Presiden merumuskan semboyan kabinetnya. Dalam bahasa Inggris! Bahasa Indonesia ditampilkan sebagai terjemahan belaka.

Kalau Presiden lebih suka mendepankan bahasa Inggris, jangan heran kalau bangsa ini lebih suka memakai produk-produk dari luar, ketimbang produk bangsa sendiri. Karena kepada mereka setiap hari diajarkan bahwa yang berasal dari luar itu lebih baik. Itulah yang sedang dipamerkan para pemimpin, khususnya sang Presiden.

Sebagai penutup, saya ajukan pertanyaan untuk Anda renungkan.

“Anda mungkin malu kalau kemampuan berbahasa Inggris Anda jelek. Tapi pernahkah Anda merasa malu kalau kemampuan berbahasa Indonesia Anda jelek?

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Petromak

3 April 2009

Kenangan tentang petromak bagiku hampir identik dengan kenangan tentang ayah. Ayah yang kukenal sepanjang masa kecilku adalah seorang pria berumur sekitar 50 tahun. Tinggi badannya sekitar 165 senti meter. Badan dan tangannya kekar, tapi perutnya agak buncit. Persis seperti potongan tubuhku saat ini. Kulit putih, hidung mancung. Tapi hampir semua wajah kami anak laki-lakinya tak mirip dengan dia. Kami lebih mirip Emak.

Ayah adalah lelaki biasa. Ia tidak ambisius seperti Emak. Ia lebih suka menikmati apa saja yang bisa dia nikmati sekarang, bukan nanti-nanti. Agak kontras dengan Emak yang lebih suka menabung hari ini yang manfaatnya dirasakan kemudian. Kalau sudah lelah dia akan berhenti bekerja, sementara Emak berprinsip kalau ada pekerjaan besok yang bisa diselesaikan hari ini, selesaikanlah.

(more…)

wordpress plugins and themes

Asbak Portabel

18 December 2008

        Salah satu tempat belanja favorit saya  di Jepang adalah “Hyaku-en shop” atau “toko seratus yen”. Di situ dijual beraneka barang dengan harga sama, yaitu 100 yen. Jenis tokonya bermacam-macam. Ada yang berupa toko kecil. Tapi ada pula yang berupa supermarket besar, menjual berbagai jenis barang seperti makanan, sayur, barang-barang kelontong, alat tulis, dan lain-lain. 

       Kepana 100 yen? 100 yen (sekitar 12.000 rupiah dengan kurs saat ini) boleh dibilang sebagai nilai terendah yang masih bisa digunakan untuk berbelanja. Hampir tidak ada barang yang bisa kita beli dengan harga di bawah 100 yen. Satu kaleng Coca Cola seharga 120 yen. Satu bungkus rokok Marlboro 320 yen. Satu liter bensin 120 yen. Jadi, barang dengan harga 100 yen adalah barang murah. (more…)

wordpress plugins and themes

Agama dan Bahasa

17 September 2006

Di sebuah milis saya menegur beberapa rekan soal transliterasi. Masih banyak yang menulis kata “Allah” dengan ejaan “Alloh”, “shalat” dengan “sholat”, dan sebagainya. Tapi salah seorang itu menolak koreksi saya, karena menurut dia lafalnya lebih tepat adalah Alloh, bukan Allah.

(more…)

wordpress plugins and themes

Impeachment

28 August 2006

“Impeachment Hakim, Muskilkah?”, demikian judul sebuah artikel di kolom Opini yang dimuat di Harian KOMPAS  beberapa hari yang lalu. Kata “impeachment” cukup banyak digunakan dalam berbagai artikel/berita di media cetak beberapa tahun terakhir. Beberapa tulisan malah menggunakan versi yang sudah “diindonesiakan” seperti “meng-impeach” atau “di-impeach”.

Kata “impeachment” berasal dari kata “to impeach”, sebuah kata kerja transitif. Merujuk pada Kamus Merriam-Webster, kata ini memiliki beberapa arti, dan arti yang paling cocok untuk konteks berbagai artikel/berita tadi adalah “to remove from office especially for misconduct”. Bahasa Indonesia sudah punya padanan kata yang sangat tepat untuk keperluan ini, yaitu “pecat”.

Penggunaan kata “impeachment” terasa sangat janggal di tengah kecenderungan untuk mengindonesiakan berbagai istilah asing. Kita, misalnya, telah dengan baik mengganti istilah track record dengan rekam jejak, pre-paid dengan pra-bayar. Bahkan ada yang mencoba mengganti singkatan ATM (automatic teller machine) dengan anjungan tunai mandiri. Tapi mengapa masih ada yang menggunakan kata “impeach”, padahal kita sudah lama punya kata “pecat”?

(more…)

wordpress plugins and themes