<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berbual &#187; Media, Bahasa, dan Tulisan</title>
	<atom:link href="http://berbual.com/category/media-bahasa-dan-tulisan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://berbual.com</link>
	<description>tempat ngobrol ngalor-ngidul</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Oct 2011 09:24:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Menulis itu sedekah</title>
		<link>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/menulis-itu-sedekah-2/</link>
		<comments>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/menulis-itu-sedekah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 05:42:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa dan Budaya Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Media, Bahasa, dan Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Sains, Teknologi, Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Neobel]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/menulis-itu-sedekah-2/</guid>
		<description><![CDATA[“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” – Pramoedya Ananta Toer– Kouichi Tanaka dan Eiji Osawa adalah dua orang ilmuwan kimia Jepang. Ada perbedaan mendasar antara keduanya. Tanaka adalah penerima Hadiah Nobel (Kimia, 2002), sedangkan Osawa tidak. Yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan<br />
hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk<br />
keabadian” – Pramoedya Ananta Toer–</p>
<p>Kouichi Tanaka dan Eiji Osawa adalah dua orang ilmuwan kimia Jepang. Ada perbedaan mendasar antara keduanya. Tanaka adalah penerima Hadiah Nobel (Kimia, 2002), sedangkan Osawa tidak. Yang membedakan keduanya adalah Tanaka menulis, sedangkan Osawa tidak.</p>
<p>Tahun 1970 Osawa meramalkan adanya struktur bahan karbon yang membentuk bola melalui sebuah tulisan ilmiah. Sayangnya gagasan tersebut ditulis di sebuah jurnal berbahasa Jepang, sehingga tidak pernah sampai ke Eropa maupun Amerika. Pada saat yang sama seorang ilmuwan Amerika RW Hanson juga meramalkan hal yang serupa. Tapi dia malah sama sekali tidak menuliskan gagasan tersebut.</p>
<p>Lima belas tahun kemudian struktur karbon yang diramalkan Osawa itu terwujud secara ekperimental, dan kemudian disebut C60 oleh Harold Kroto , James R. Heath, Sean O&#8217;Brien, Robert Curl, dan Richard Smalley. Penemuan ini berlanjut dengan penemuan fullerene, yaitu bahan karbon berstruktur tabung dalam skala nanometer, yang dalam dunia ilmiah dikenal dengan carbon nanotube. Carbon nanotube adalah salah satu bahan yang sangat penting dalam pengembangan nanoteknologi saat ini. Atas penemuan ini keempat ilmuwan tadi dianugerahi Hadiah Nobel pada tahun 1996. </p>
<p>Tanaka adalah peneliti di Shimazu corporation, sebuah perusahaan Jepang produsen alat ukur. Ia mengembangkan spektrometer massa, sebuah alat yang mampu mengurai komponen penyusun suatu bahan berdasarkan massa molekul penyusunnya. Tanaka menulis hasil risetnya dalam bahasa Inggris. Satu di sebuah konferensi internasional, dan satu lagi di sebuah jurnal internasional tentang spektroskopi massa. Tadinya Hadiah Nobel atas penemuan/pengembangan spektrometer massa hendak diberikan kepada ilmuwan Inggris yang lebih banyak menghasilkan makalah sehingga lebih dikenal. Tapi belakangan panitia menemukan makalah Tanaka yang dipublikasi lebih dahulu dan menjadi bahan rujukan, sehingga diputuskan untuk menganugerahkan penghargaan itu kepadanya.</p>
<p>Tanaka sebenarnya tidak mahir berbahasa Inggris. Berbeda dengan kebanyakan penerima Hadiah Nobel sains yang kebanyakan adalah profesor yang biasa bergaul secara internasional, Tanaka „hanyalah“ seorang sarjana S1. Ia adalah satu-satunya penerima Hadiah Nobel di bidang sains yang bukan doktor. Saat menyampaikan kuliah pada seremoni Nobel, dia harus menyampaikannya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata. Saat ditanya wartawan tentang kesannya setelah kuliah tersebut, ia berujar pendek, „I hate English!“</p>
<p>Menulis adalah berbagi. Gagasan yang kita tulis dan dibaca orang lain boleh jadi akan menginspirasi orang untuk berbuat lebih lanjut atau lebih baik. Itulah hal yang paling mendasar pada publikasi di dunia sains. Dari suatu temuan seorang ilmuwan, ilmuwan lain akan melanjutkan dan mengembangkannya. Itu hanya bisa dicapai kalau mereka saling berbagi. Salah satu media untuk berbagi itu adalah tulisan.</p>
<p>Osawa memang telah menuliskan gagasannya tentang struktur karbon tadi. Sayangnya media yang dia pakai tidak memadai. Ia menulis dalam bahasa Jepang, yang tidak bisa menjangkau pusat sains dunia, yaitu Eropa dan Amerika. Artinya gagasannya tidak tersebar dengan baik. Sebaliknya, Hanson sebenarnya punya peluang lebih baik karena dia berbahasa Inggris. Tapi ia melalaikan satu hal penting, yaitu ia tidak menuliskan gagasannya.</p>
<p>Menulis adalah berbagi. Kita tidak menulis untuk menunjukkan bahwa kita pintar atau hebat. Kalau niatnya demikian, tulisan kita akan dipenuhi oleh hal-hal hebat yang mungkin sulit dipahami pembaca. Menulis dengan niat berbagi artinya kita akan berusaha sedemikian mungkin untuk membuat tulisan yang mudah dipahami oleh pembaca. Kalau Anda merasa bahwa menulis itu sulit, cobalah tulis gagasan Anda. Lalu baca sendiri tulisan itu, dengan membayangkan diri Anda sebagai orang yang sangat awam dalam hal yang Anda tulis. Dengan begitu Anda akan berempati pada pembaca, menemukan hal yang sulit dipahami pada tulisan Anda. Lalu ubahlah tulisan itu agar mudah dipahami.</p>
<p>Menulis itu sedekah. Bersedekah itu tidak sulit.</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fsains-teknologi-pendidikan%2Fmenulis-itu-sedekah-2%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/menulis-itu-sedekah-2/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Menulis itu sedekah" data-url="http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/menulis-itu-sedekah-2/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/menulis-itu-sedekah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jidoushi, tadoushi</title>
		<link>http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/jidoushi-tadoushi/</link>
		<comments>http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/jidoushi-tadoushi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 02:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa dan Budaya Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis dan Manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[Media, Bahasa, dan Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/jidoushi-tadoushi/</guid>
		<description><![CDATA[Jidoushi dan tadoushi adalah istilah tata bahasa Jepang untuk kata kerja transitif dan intransitif. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal kata kerja transitf sebagai kata kerja yang membutuhkan objek, sedangkan intransitif tidak membutuhkan objek. Definisi kedua kata kerja ini dalam bahasa Jepang sedikit berbeda, dan bagi saya sangat inspiratif. Karenanya saya ingin sedikit berbagi inspirasi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jidoushi dan tadoushi adalah istilah tata bahasa Jepang untuk kata kerja transitif dan intransitif. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal kata kerja transitf sebagai kata kerja yang membutuhkan objek, sedangkan intransitif tidak membutuhkan objek. Definisi kedua kata kerja ini dalam bahasa Jepang sedikit berbeda, dan bagi saya sangat inspiratif. Karenanya saya ingin sedikit berbagi inspirasi.</p>
<p>Doushi berarti kata kerja. Ji berarti sendiri atau dengan sendirinya, sedangkan ta berarti (pihak) lain. Jidoushi artinya kata kerja yang menggambarkan kejadian/kerja yang terjadi dengan sendirinya, atau dilakukan sendiri oleh subjek. Sedangkan tadoushi adalah kejadian/kerja oleh subjek kepada suatu objek.</p>
<p>Salah satu contoh pasangan kata kerja intransitif-transitif dalam bahasa Jepang adalah deru (keluar, intransitif) dan dasu (mengeluarkan, transitif). Saya punya sedikit cerita tentang dua kata kerja ini.</p>
<p>Saat ini saya diberi amanah untuk memimpin sebuah perusahaan Jepang di bidang plastic molding injection yang baru beroperasi sekitar 3 tahun. Selama ini kami membuat barang-barang pesanan dari perusahaan induk di Jepang, untuk dipasarkan di Jepang dan beberapa negara lain. Namun tahun ini pesanan dari Jepang menurun drastis, sehingga kami dihadapkan pada kemungkinan kami akan merugi.</p>
<p>Untuk menutupi kerugian, kami menerima pekerjaan maklun (subkontrak). Nilai pekerjaan yang kami terima cukup rendah, karena perusahaan mitra kami yang memberi pekerjaan itu juga sedang melakukan cost down secara ketat. Kami yang selama ini terbiasa mendapat order dengan margin keuntungan besar dari Jepang merasa berat melakukan pekerjaan ini.</p>
<p>Namun dengan pertimbangan bahwa ada sedikit pekerjaan lebih baik dari tidak sama sekali, kami putuskan untuk menerima pekerjaan ini. Minimal mesin tidak menganggur dan biaya-biaya rutin (overhead) bisa tertutupi. </p>
<p>Dengan kesadaran sejak awal bahwa pekerjaan ini murah nilainya, kami sangat berhati-hati. Segala macam biaya yang bisa dipotong kami potong. Berbagai cara kami lakukan untuk berhemat. Yang terpenting, tingkat apkiran (reject) kami tekan sekecil mungkin. </p>
<p>Setelah beberapa lama berjalan, kami menyadari bahwa pekerjaan ini ternyata bisa memberikan laba. Tidak besar memang. Tapi ada. Dan itu lebih dari sekedar menutup pengeluaran rutin. Saat menyadari hal itu saya berkata kepada teman saya: „Rieki wa deru mono dewa naku, dasu mono da.“ Secara harfiah kalimat itu berarti, „Laba itu tidak keluar, tapi (kita) keluarkan.“ Maksudnya adalah laba itu tidak dihasilkan dari harga yang dihasilkan dari negosiasi dengan pembeli, tapi dari berbagai efisiensi yang kita lakukan dalam proses produksi.</p>
<p>Ilustrasi kecil di bawah ini mungkin bisa lebih memperjelas. Secara umum hubungan antara biaya produksi(P), harga jual(J), dan laba (L) adalah sebagai berikut:<br />
P + L = J<br />
Artinya kita menentukan harga jual produk kita dengan mempertimbangkan biaya produksi dan laba yang ingin kita peroleh. Namun dalam banyak kasus kita tidak bebas menentukan harga jual. Harga jual seringkali sudah ditentukan oleh pasar. Dalam situasi itu rumusnya berubah menjadi:<br />
J – P = L<br />
Dari harga jual yang sudah tertentu itu yang bisa kita lakukan untuk memperoleh dan memperbesar laba adalah dengan menekan ongkos produksi. </p>
<p>Kata deru dan dasu, sama-sama bisa digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan, yaitu sesuatu yang keluar. Tapi pilihan atas kata transitif atau transitif memberi semangat yang berbeda. Kata kerja transitif mewakili semangat kita untuk melakukan sesuatu, bukan menerima atau menyerah begitu saja pada keadaan.</p>
<p>Ada satu lagi pasangan kata kerja yang bagi saya juga memberi inspirasi, yaitu kowareru (rusak) dan kowasu (merusak). Bentuk lampau kedua kata kerja ini masing-masing kowareta dan kowashita. Saat melakukan eksperimen keteledoran saya menyebabkan sebuah alat laboratorium rusak. </p>
<p>Saya melaporkan kejadian itu kepada Sensei (profesor) saya. Dalam logika bahasa Indonesia otak saya berkata, “Alat itu rusak.” Logika itu saya terjemahkan dalam bahasa Jepang, sehingga dari mulut saya keluar kalimat „Souchi (alat) ga kowareta.” Setelah mendengar penjelasan saya, Sensei menjawab,“Kore wa kowareta janaku, kowashita desho.“ (Ini sih bukan rusak, tapi kamu rusakkan.)</p>
<p>Ada perbedaan mendasar pada dua kata kerja di atas. Kowareru berarti alat itu rusak dengan sendirinya. Sedangkan kowasu berarti ada sesuatu yang menyebabkan kerusakan, dan sesuatu itulah yang (harus) bertanggung jawab. Mengungkapkan kejadian di atas dengan kata kowareru adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab tersebut.</p>
<p>Di akhir tulisan ini saya akan kutipkan sebuah ilustrasi dari buku Seven Habits tulisan Stephen Covey. Kali ini bukan tentang pasangan kata kerja transitif dan intransitif. Tapi tentang kata benda dan kata kerja transitif.</p>
<p>Ada seseorang yang berada di ambang perceraian. Dia merasa sudah tidak ada lagi cinta antara dia dengan istrinya. Dia meminta nasihat pada Stephen Covey.</p>
<p>“Cintai dia.” Nasihat Stephen. </p>
<p>“Itu tidak mungkin.”</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Cinta itu sudah tidak ada antara aku dan dia. Bagaimana aku bisa mencintai dia?”</p>
<p>“Bisa. Cintai dia.”</p>
<p>“Tidak mungkin.”</p>
<p>“Ingat. Cinta itu kata kerja. Kata kerja transitif. Cintai dia. Lakukan usaha untuk mencintai dia. Maka cinta itu akan tumbuh di hatimu dan di hatinya.”</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fbisnis-dan-manajemen%2Fjidoushi-tadoushi%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/jidoushi-tadoushi/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Jidoushi, tadoushi" data-url="http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/jidoushi-tadoushi/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/jidoushi-tadoushi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Didebottlenecking</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/didebottlenecking/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/didebottlenecking/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 05:52:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media, Bahasa, dan Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/didebottlenecking/</guid>
		<description><![CDATA[Anda tidak paham makna kata yang saya gunakan sebagai judul pada tulisan ini? Silahkan tanya pada Presiden SBY. Kata itu keluar dari mulutnya pada pidato di acara National Summit 2009. Banyak orang heran. Acara kenegaraan resmi, oleh pejabat-pejabat pemerintahan Republik Indonesia dinamai dalam bahasa Inggris. Mengapa? Ternyata ini tak jauh-jauh dari urusan citra, sesuatu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda tidak paham makna kata yang saya gunakan sebagai judul pada tulisan ini? Silahkan tanya pada Presiden SBY. Kata itu keluar dari mulutnya pada pidato di acara National Summit 2009.</p>
<p>Banyak orang heran. Acara kenegaraan resmi, oleh pejabat-pejabat pemerintahan Republik Indonesia dinamai dalam bahasa Inggris. Mengapa? Ternyata ini tak jauh-jauh dari urusan citra, sesuatu yang maha penting bagi SBY. Konon kegiatan ini meniru cara kerja Presiden Obama. Bahkan nama National Summit itu sendiri meniru nama acara yang digelar Obama tak lama setelah dilantik jadi presiden.</p>
<p>Ini lagi-lagi ciri khas SBY. Semua serba berbau Amerika. Berbau Obama. Marna-warna yang dia pakai saat kampanye tempo hari, tata letak panggung kampanye, tampilan homepage, dan banyak hal lagi, semua meniru Obama. Setelah terpilih pun dia masih juga meniru Obama. Coba lihat semboyan kabinet yang dia cetuskan. Pakai bahasa Inggris. Salah satunya adalah Change and Continuity. Lagi-lagi meniru Obama, karena Change adalah tema kampanye yang diusung oleh Obama. Bisa kita bayangkan betapa Presiden kita ini sangat tidak percaya diri.</p>
<p>Lucunya, dia tampaknya hanya mampu meniru hanya sampai pada soal-soal yang sepele seperti itu. Soal-soal tampak luar. Substansinya hilang. Kabinet yang ia bentuk sudah bekerja 16 hari, tapi belum punya program kerja!</p>
<p>Selain soal nama National Summit itu, pada pidato di acara tersebut SBY dengan fasih mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Menurut catatan KOMPAS dalam pidato selama 65 menit SBY melafalkan 75 kosa kata bahasa Inggris. Tidak hanya itu. Dia juga menggunakan istilah yang tak jelas, apakah itu bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, ya itu tadi &#8220;didebottlenecking&#8221;. </p>
<p>&#8220;Banyak hal yang masih ada di-&#8221;debottlenecking&#8221; ini yang harus diselesaikan,&#8221; kata SBY. Apa yang dia maksud? Kita mengenal istilah bottleneck (leher botol) untuk menggambarkan adanya hambatan. Debottlenecking adalah kira-kira bermakna &#8220;menghilangkan hambatan&#8221;. Mungkin SBY hendak mengungkapkan bahwa masih banyak perkara yang mengalami berbagai hambatan dalam penyelesaiannya, dan hambatan itu harus diurai. Saya bisa dengan mudah mengatakannya dalam bahasa Indonesia: &#8220;Masih banyak hal yang harus diurai permasalahannya.&#8221; Selesai. Tidak perlu pakai istilah asing, dan tidak perlu mengeluarkan kosa kata yang tak termuat dalam kamus bahasa manapun!</p>
<p>Banyak kata yang sebetulnya punya padanan yang pas dalam bahasa kita dipaksakan untuk dipakai dalam kosa kata aslinya. Lebih kacau lagi, kata tersebut ditambahi awalan dan akhiran, sehingga menjadi sebuah kata berwujud Frankenstein. Contohnya adalah kata &#8220;impeach&#8221; dan &#8220;impeachment&#8221;. Sederhananya kata &#8220;impeach&#8221; berpadanan dengan kata &#8220;pecat&#8221;. Kata ini menjadi populer di media massa Indonesia sejak skandal Bill Clinton dengan Monica Lewinski. Sejak itu media lebih suka menggunakan kata &#8220;impeach&#8221; ketimbang &#8220;pecat&#8221;, khususnya bila menyangkut lembaga kepresidenan. Maka kemudian kita mengenal kata-kata &#8220;mengimpeach&#8221; dan &#8220;diimpeach&#8221;. </p>
<p>Bagi saya ini adalah bentuk kedunguan dalam berbahasa. Dan sangat menyedihkan bahwa Presiden turut menjadi pelopor kedunguan ini dengan melakukannya di acara kenegaraan.</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fpolitik-dan-birokrasi%2Fdidebottlenecking%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/didebottlenecking/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Didebottlenecking" data-url="http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/didebottlenecking/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/didebottlenecking/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa ke Dua di Indonesia</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/bahasa-ke-dua-di-indonesia/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/bahasa-ke-dua-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 05:27:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media, Bahasa, dan Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/bahasa-ke-dua-di-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Saya menelepon ke ponsel teman. Perusahaan operator telepon itu adalah perusahaan Indonesia. Karena telepon yang saya tuju dalam keadaan tidak aktif, saya menerima pesan sebagai berikut: “The telephone you are calling is switched off.” Sudah. Hanya itu. Hanya pesan dalam bahasa Inggris, tidak ada pesan dalam bahasa Indonesia. Di beberapa bioskop yang pernah saya kunjungi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya menelepon ke ponsel teman. Perusahaan operator telepon itu adalah perusahaan Indonesia. Karena telepon yang saya tuju dalam keadaan tidak aktif, saya menerima pesan sebagai berikut:</p>
<p>“The telephone you are calling is switched off.”</p>
<p>Sudah. Hanya itu. Hanya pesan dalam bahasa Inggris, tidak ada pesan dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Di beberapa bioskop yang pernah saya kunjungi, petunjuk yang ditayangkan di layar sebelum film dimulai, juga ditulis dalam bahasa Inggris. Tidak ada terjemahan bahasa Indonesia sama sekali.</p>
<p>Kalau kita telepon hotel atau perusahaan besar di Jakarta, penjawab telepon akan menjawab dalam bahasa Inggris. Setelah tahu penelepon berbahasa Indonesia, barulah dia meladeni kita dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Saya teringat perjalanan saya ke berbagai negara. Di Jerman saat saya berbelanja ke toko penjaganya selalu menyapa saya dalam bahasa Jerman. Setelah tahu bahwa saya tidak berbahasa Jerman, barulah dia meladeni saya dalam bahasa Jerman. Demikian pula saat saya berkunjung ke Perancis, pertama kali saya akan disapa dalam bahasa Perancis. Hal yang sama saya dapatkan dalam percakapan telepon.</p>
<p>Dengan kata lain, di banyak negara, orang mendahulukan bahasa mereka sendiri. Bahasa kita adalah bahasa pertama dan utama, bahasa Inggris dan bahasa asing lain adalah bahasa ke dua, tiga, dan seterusnya. Sayangnya yang sering terjadi di Indonesia adalah seperti saya ungkapkan dalam ilustrasi di atas. Bahasa Indonesia adalah bahasa ke dua, atau bahkan tidak diperlukan sama sekali.</p>
<p>Parahnya, ini tidak hanya terjadi di dunia usaha. Birokrasi pemerintah, bahkan Kepala Negara terlihat lebih suka mendepankan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Tengoklah bagaimana Presiden merumuskan semboyan kabinetnya. Dalam bahasa Inggris! Bahasa Indonesia ditampilkan sebagai terjemahan belaka.</p>
<p>Kalau Presiden lebih suka mendepankan bahasa Inggris, jangan heran kalau bangsa ini lebih suka memakai produk-produk dari luar, ketimbang produk bangsa sendiri. Karena kepada mereka setiap hari diajarkan bahwa yang berasal dari luar itu lebih baik. Itulah yang sedang dipamerkan para pemimpin, khususnya sang Presiden.</p>
<p>Sebagai penutup, saya ajukan pertanyaan untuk Anda renungkan.</p>
<p>“Anda mungkin malu kalau kemampuan berbahasa Inggris Anda jelek. Tapi pernahkah Anda merasa malu kalau kemampuan berbahasa Indonesia Anda jelek?</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fpolitik-dan-birokrasi%2Fbahasa-ke-dua-di-indonesia%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/bahasa-ke-dua-di-indonesia/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Bahasa ke Dua di Indonesia" data-url="http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/bahasa-ke-dua-di-indonesia/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/bahasa-ke-dua-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petromak</title>
		<link>http://berbual.com/media-bahasa-dan-tulisan/petromak/</link>
		<comments>http://berbual.com/media-bahasa-dan-tulisan/petromak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 03:37:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Dongeng-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Media, Bahasa, dan Tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Kenangan tentang petromak bagiku hampir identik dengan kenangan tentang ayah. Ayah yang kukenal sepanjang masa kecilku adalah seorang pria berumur sekitar 50 tahun. Tinggi badannya sekitar 165 senti meter. Badan dan tangannya kekar, tapi perutnya agak buncit. Persis seperti potongan tubuhku saat ini. Kulit putih, hidung mancung. Tapi hampir semua wajah kami anak laki-lakinya tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenangan tentang petromak bagiku hampir identik dengan kenangan tentang ayah. Ayah yang kukenal sepanjang masa kecilku adalah seorang pria berumur sekitar 50 tahun. Tinggi badannya sekitar 165 senti meter. Badan dan tangannya kekar, tapi perutnya agak buncit. Persis seperti potongan tubuhku saat ini. Kulit putih, hidung mancung. Tapi hampir semua wajah kami anak laki-lakinya tak mirip dengan dia. Kami lebih mirip Emak.</p>
<p>Ayah adalah lelaki biasa. Ia tidak ambisius seperti Emak. Ia lebih suka menikmati apa saja yang bisa dia nikmati sekarang, bukan nanti-nanti. Agak kontras dengan Emak yang lebih suka menabung hari ini yang manfaatnya dirasakan kemudian. Kalau sudah lelah dia akan berhenti bekerja, sementara Emak berprinsip kalau ada pekerjaan besok yang bisa diselesaikan hari ini, selesaikanlah.</p>
<p><span id="more-249"></span></p>
<p><img class="aligncenter" src="http://farm4.static.flickr.com/3144/3099160772_1e867da8cc.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p> </p>
<p>Pagi hari, subuh-subuh dia sudah bangun. Dengan diterangi lampu senter ia pergi ke perigi di belakang rumah untuk mandi. Lampu senter ini adalah satu-satunya barang milik dia yang tak boleh disentuh orang lain. Dia akan marah besar kalau tak menemukan lampyu itu di tempatnya saat dia membutuhkan. Lampu itu selalu di sampingnya saat dia tidur. Tengah malam terkadang dia keluar rumah untuk buang air ke kakus di belakang rumah. Di tengah gulita malam di kampung lampu senter memang sangat dibutuhkan.</p>
<p>Setelah mandi Ayah berganti baju, pakaian pagi hari. Sehelai kain sarung, di dalamnya ia pakai celana kolor gombrong dari kain belacu, setengah panjang hingga ke bawah lututnya. Ia memakai kaos singlet cap jambu, di luarnya baju teluk belanga warna putih. Kepalanya ditutup dengan peci hitam.</p>
<p>Kemudian ia mengumandangkan azan. Suaranya sangat merdu. Ayah adalah imam di mesjid kampung kami. Tak sedikit orang memanggilnya dengan gelar Pak Imam. Ia menjadi imam saat shalat jumat dan lebaran. Ia juga memberi khutbah, bergantian dengan beberapa tokoh lain di kampung. </p>
<p>Azan membuat kami terbangun. Tapi tak semua orang lantas segera bangun untuk salat. Ayah kemudian mendatangi ranjang-ranjang berbalut kelambu tempat kami tidur untuk membangunkan kami. Tak jarang Ayah salat sendiri tanpa membangunkan kami.</p>
<p>Usai salat, kadang ia mengaji. Kalau di luar sudah agak terang ia akan siap-siap sarapan. Ayah tak minum kopi maupun teh. Ia pemakan nasi sejati. Sarapannya selalu nasi putih dengan lauk sederhana. Minumnya air putih panas. Setelah sarapan dia bersiap-siap untuk bekerja.</p>
<p>Kerja rutinnya adalah merawat kebun kelapa. Kami punya 3 bidang kebun. Satu bidang di atas tanah di mana rumah kami berdiri. Lebarnya 25 depa, panjang 250 depa. Ada lagi 2 bidang kebun yang agak jauh dari rumah. Kebun itu dipenuhi pohon kelapa yang ditanam dalam jarak 5 depa antar pohon. Kebun dipetak-petak dengan selokan selebar satu hasta lebih, satu petak berukuran 25 x 25 depa. Kebun kelapa ini sudah cukup lama dia buat. Ketika aku kecil seingatku pohon-pohon kelapa itu sudah sangat tinggi. Mungkin sudah mencapai sepuluh meter. Di bawahnya kami menanam kopi.</p>
<p>Pekerjaan rutin dalam merawat kebun kelapa adalah menebas rumput-rumput yang tumbuh di bawahnya. Sesekali selokan yang sudah dangkal diperdalam. Mulai kelas 4 SD aku turut serta dalam pekerjaan-pekerjaan itu. Semua abangku juga begitu. Pulang sekolah, setelah makan dan istirahat siang aku harus ke kebun bersama Ayah. Emak juga ikut kalau dia tidak sedang pergi berjualan. Emak berjualan pakaian, berkeliling dari rumah ke rumah, di kampung kami dan kampung tetangga.</p>
<p>Menebas rumput sangat melelahkan. Aku harus menebas dengan parang panjang, lebih dari setengah depaku. Parang diayun, memotong pangkal rumput yang tingginya kadang melebihi tinggi badanku. Di tengah semak rumput kadang tumbuh pula pohon-pohon yang batangnya agak keras, seperti pohon mengkudu. Pohon ini juga harus ditebang. Pelepah kelapa tua yang gugur harus dioptong-potong lalu ditumpuk agak jauh dari pohon kelapa.</p>
<p>Beberapa ayunan parang untuk menebas cukup untuk membuat napas terengah-engah. Aku mengaso sejenak, mengambil napas, lalu mulai menebas lagi. Beberapa kali hal ini berulang cukup membuat badan lelah. Lalu aku duduk istirahat. Kadang berbaring di atas rumput yang sudah aku tebas. Keringat bercucuran membasahi tubuh. </p>
<p>Untuk menghilangkan haus aku minum air bekal yang dibawa dari rumah, atau minum air kelapa muda. Setelah mengaso beberapas saat, mulai lagi menebas. Begitu seterusnya, berulang-ulang.</p>
<p>Aku lebih suka kalau disuruh menggali selokan. Tempo kerjanya lebih lambat, jadi tidak menguras tenaga. Sekalian bisa main lumpur. Asyik.</p>
<p>Pulang biasanya sore. Ayah pulang sebelum gelap agar dia bisa salat ashar di rumah. Dari kebun dia langsung ke perigi untuk mandi. Aku sendiri biasanya tak langsung pulang. Aku menuju ke halaman sekolah tak jauh dari rumah untuk main sepak bola. Saat aku tiba biasanya permainan sudah hampir berakhir. Anak-anak lain sudah mulai saat aku masih kerja di kebun. Tapi tak apa. Sedikit waktu yang tersisa masih bisa dimanfaatkan. Kadang karena terlalu asyik aku main sampai hari sudah gelap. Ini biasanya jadi petaka di rumah, karena pasti akan dipukul sama Emak.</p>
<p>Menjelang maghrib adalah saat ayah menyalakan petromak. Kami menggunakan satu petromak untuk menerangi rumah. Rumah kami sebenarnya terlalu besar sehingga tak cukup diterangi oleh satu petromak. Untuk tambahan kami memakai pelita sumbu, berbahan bakar minyak tanah.</p>
<p>Menonton Ayah menyalakan petromak sangat menyenangkan. Aku jarang sekali melewatkan kesempatan itu. Iya menurunkannya dari gantungan, lalu membawanya ke beranda rumah. Hari sudah mulai agak gelap, teras rumah adalah satu-satunya tempat yang masih agak terang. Setelah petromak ditelakkan di lantai Ayah mengangkat kepala petromak. Ini harus perlahan, agar kaos lampu yang sangat tunak itu tidak menyenggol apapun. Kalau itu terjadi kaos lampu akan pecah.</p>
<p>Ayah memeriksa minyak tanah yang tersedia di tangki petromak, menambahnya kalau sudah sedikit. Lalu ia memasukkan spiritus ke dalam mangkok kecil di dalam petromak, menyulut spiritus itu untuk memanaskan petromak. Kepala lampu dipasang kembali. Beberapa saat kemudian ia mulai memompa. Tak lama setelah itu api yang membakar sipitus tadi mulai menjilari butiran kecil minyak tanah yang disemprotkan dari tangki bertekanan tinggi ke dalam kaos lampu. Dan petromak sudah menyala.</p>
<p>Petromak mengeluarkan suara khas. Sebuah desis berkepanjangan, menandakan bahwa ia sedang bekerja. Bekerja menerangi kami. Saat kami salat magrib, lalu makan malam. Sesudah itu aku akan mulai mengaji, di bawah sinar petromak.</p>
<p>Di rumah kami mengaji lebih penting bagi anak-anak. Ayah dan Emak tak pernah mau tahu kapan anak-anaknya belajar pelajaran sekolah atau membuat PR. Mungkin karena mereka tak paham apa yang dipelajari anak-anaknya di sekolah. Ayahku cuma sekolah sampai kelas dua Sekolah Rakyat. Emak tak pernah sekolah sama sekali. Tapi mungkin juga mereka tak ribut soal ini karena anak-anaknya memang tak perlu benar belajar di rumah. Tanpa itupun kami kakak beradik selalu jadi juara di sekolah.</p>
<p>Hal wajib di rumah kami di malam hari adalah belajar mengaji, selepas magrib dan makan malam. Ayah dan Emak akan marah besar kalau ada yang mangkir dari acara ini tanpa alasan yang jelas. Ayah punya sebatang rotan, sepanjang satu hasta. Satu ujungnya dilancipkan, sedangkan ujung yang lain dibelah empat. Ujung lancip berfungsi sebagai penunjuk saat ia mengajari kami mengaji. Ujung yang berbelah empat digunakan untuk memukul kami kalau mangkir dari acara mengaji. Sekali sembat kau kena empat kali, kata Ayah mengagumi senjatanya itu.</p>
<p>Petromak dimatikan saat kami menjelang tidur. Tugasnya akan digantikan oleh pelita kecil. Sebuah tobol kecil diputar untuk membocorkan tangki, udara bertekanan di dalam tangki akan keluar. Itu artinya pasokan butiran minyak tanah ke kaos lampu berhenti. Lalu petromak padam.</p>
<p>Gulita datang menyelimuti kami. Pelita kecil itu takkan pernah sanggup melawannya.</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fmedia-bahasa-dan-tulisan%2Fpetromak%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/media-bahasa-dan-tulisan/petromak/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Petromak" data-url="http://berbual.com/media-bahasa-dan-tulisan/petromak/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/media-bahasa-dan-tulisan/petromak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asbak Portabel</title>
		<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/asbak-portabel/</link>
		<comments>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/asbak-portabel/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 03:04:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama dan Sosial - Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa dan Budaya Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Media, Bahasa, dan Tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[        Salah satu tempat belanja favorit saya  di Jepang adalah &#8220;Hyaku-en shop&#8221; atau &#8220;toko seratus yen&#8221;. Di situ dijual beraneka barang dengan harga sama, yaitu 100 yen. Jenis tokonya bermacam-macam. Ada yang berupa toko kecil. Tapi ada pula yang berupa supermarket besar, menjual berbagai jenis barang seperti makanan, sayur, barang-barang kelontong, alat tulis, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>        Salah satu tempat belanja favorit saya  di Jepang adalah &#8220;Hyaku-en shop&#8221; atau &#8220;toko seratus yen&#8221;. Di situ dijual beraneka barang dengan harga sama, yaitu 100 yen. Jenis tokonya bermacam-macam. Ada yang berupa toko kecil. Tapi ada pula yang berupa supermarket besar, menjual berbagai jenis barang seperti makanan, sayur, barang-barang kelontong, alat tulis, dan lain-lain. </p>
<p>       Kepana 100 yen? 100 yen (sekitar 12.000 rupiah dengan kurs saat ini) boleh dibilang sebagai nilai terendah yang masih bisa digunakan untuk berbelanja. Hampir tidak ada barang yang bisa kita beli dengan harga di bawah 100 yen. Satu kaleng Coca Cola seharga 120 yen. Satu bungkus rokok Marlboro 320 yen. Satu liter bensin 120 yen. Jadi, barang dengan harga 100 yen adalah barang murah.<span id="more-209"></span><img class="alignnone" title="Asbak portabel" src="http://www.d-kaimono.net/images/417.jpg" alt="" width="300" height="300" /></p>
<p>       Karena murah, toko 100 yen adalah tujuan pertama untuk membeli barang kebutuhan. Mulai dari alat-alat dapur: sendok, piring, gelas, panci, perlengkapan kamar mandi, alat tulis, hingga perlengkapan piknik. Kalau tidak tersedia di toko itu, barulah saya mencari ke tempat lain. Tentu saja itu berarti saya harus membeli barang dengan harga di atas 100 yen.</p>
<p>       Selain murah, toko 100 yen banyak menyediakan barang yang disebut &#8220;idea goods&#8221;. Barang yang fungsinya unik, dan memudahkan berbagai kegiatan. Misalnya pembelah telur rebus, yang memungkinkan kita mengiris telur rebus tipis-tipis dengan sekali tekan. Nah, salah satu barang yang bagi saya masuk kategori &#8220;idea goods&#8221; adalah asbak portabel. Ini adalah sebuah asbak berbentuk kantong kecil dari bahan tahan panas, dan bisa dilipat. Ada juga yang terbuat dari almunium, kecil, kompak, bisa dilipat.</p>
<p>      Mengapa sebuah asbak portabel diperlukan? Ini erat kaitannya dengan kebiasaan orang Jepang untuk menjaga kebersihan. Ketika merokok di luar ruangan, mereka tidak ingin mengotori lingkungan dengan abu dan puntung rokok. Karenanya asbak ini diperlukanm agar mereka bisa merokok termasuk di tempat-tempat yang tidak tersedia asbak.</p>
<p>     Tentu tidak semua orang Jepang berdisiplin tinggi. Ada saja perokok yang tidak beradab. Cukup sering saya lihat orang dengan tenang menjatuhkan puntung rokoknya di jalan, lalu menginjaknya. Lebih parah lagi, ada yang sengaja membuang puntung rokoknya ke lubang celah penutup got. Ini adalah tindakan yang luar biasa bodoh. Kalau puntung rokok dibuang di jalan, masih ada kemungkinan puntung rokok itu tersapu oleh tukang sapu. Tapi kalau dibuang ke got yang tertutup, maka puntung tadi tidak akan pernah bisa dibersihkan.</p>
<p>     Nah, terhadap perokok tak beradab ini, perusahaan rokok Jepang JT melakukan kampanye perbaikan adab perokok, melalui TV, koran, maupun poster. Salah satu tema yang diangkat adalah penggunaan asbak portabel ini. Berikut ini adalah contoh poster kampanye tersebut.</p>
<p><img class="alignnone" title="Iklan" src="http://www.jti.co.jp/sstyle/manners/ad/poster/images/kehai_gr.gif" alt="" width="694" height="1045" /></p>
<p>Selain menerbitkan iklan, perusahaan ini juga memantau efektivitas iklan yang mereka keluarkan. Di bawah ini adalah grafik perkembangan jumlah pemilik asbak portabel (hijau) dan jumlah orang yang terbiasa membawa asbak portabel.</p>
<p><img class="alignnone" title="Grafik" src="http://www.jti.co.jp/sstyle/manners/ad/images/ashtray_g01.gif" alt="" width="380" height="230" /></p>
<p> </p>
<p>         Bagaimana dengan perusahaan rokok kita?  Saya tidak pernah menemukan iklan rokok kita yang bertujuan menyadarkan orang untuk memperbaiki adab merokok. Padahal adab merokok di negeri kita termasuk parah. Orang masih seenaknya merokok di tempat-tempat yang telah ditetapkan sebagai tempat dilarang merokok. </p>
<p>      Karena tidak ada iklan yang mendidik dan menyadarkan dari perusahaan rokok, maka banyak yang kreatif membuat iklan sendiri. Contohnya adalah poster-poster berikut. Bagi saya poster-poster ini lebih menarik dan mendidik. </p>
<p><img class="alignnone" src="http://farm4.static.flickr.com/3094/2831468613_98727bf788.jpg" alt="" width="329" height="500" /></p>
<p><img class="alignnone" src="http://farm4.static.flickr.com/3013/2831468445_9afd684de5.jpg" alt="" width="400" height="263" /></p>
<p><img class="alignnone" src="http://farm4.static.flickr.com/3200/2832304692_fb0cd2b6ba.jpg" alt="" width="400" height="263" /></p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fagama-dan-sosial-budaya%2Fasbak-portabel%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/asbak-portabel/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Asbak Portabel" data-url="http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/asbak-portabel/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/asbak-portabel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agama dan Bahasa</title>
		<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/agama-dan-bahasa/</link>
		<comments>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/agama-dan-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Sep 2006 15:57:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama dan Sosial - Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Media, Bahasa, dan Tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah milis saya menegur beberapa rekan soal transliterasi. Masih banyak yang menulis kata “Allah” dengan ejaan “Alloh”, “shalat” dengan “sholat”, dan sebagainya. Tapi salah seorang itu menolak koreksi saya, karena menurut dia lafalnya lebih tepat adalah Alloh, bukan Allah. Menurut saya, tidak ada ejaan yang bisa dengan tepat menggambarkan bagaimana kata “Allah” harus dilafalkan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sebuah milis saya menegur beberapa rekan soal transliterasi. Masih banyak yang menulis kata “Allah” dengan ejaan “Alloh”, “shalat” dengan “sholat”, dan sebagainya. Tapi salah seorang itu menolak koreksi saya, karena menurut dia lafalnya lebih tepat adalah Alloh, bukan Allah.</p>
<p><span id="more-26"></span></p>
<p>Menurut saya, tidak ada ejaan yang bisa dengan tepat menggambarkan bagaimana kata “Allah” harus dilafalkan. Tidak “Allah”, juga tidak “Alloh” karena kata itu berasal dari bahasa Arab yang tidak semua bunyi hurufnya bisa dipadankan dengan tepat dengan menggunakan huruf latin. Penggunaan ejaan “Allah” bagi saya adalah hasil kesepakatan ahli bahasa untuk transliterasi, dan itu harus dipatuhi.</p>
<p>Argumen rekan saya tadi menunjukkan betapa peliknya sebuah persoalan bila sudah bersinggungan dengan agama. Secara agak berlebihan kita mungkin bisa mengatakan bahwa kaidah boleh saja ditabrak dengan alasan agama.</p>
<p>Dulu saya suka mengiritik rekan-rekan yang menggunakan bahasa campuran. Mereka menggunakan kata “ana” untuk “saya”, “antum” untuk “kamu”, “akh” untuk “saudara”, dan seterusnya. Saya bilang, kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia saja? Sebuah kata membawa sebuah konsep di dalamnya, jawab rekan saya. Penerjemahan dapat mengurangi bobot makna yang dikandung oleh sebuah kata. Benarkah? Entahlah. Saya tidak punya cukup ilmu untuk membahas masalah ini lebih dalam.</p>
<p>Saya lalu teringat pada peristiwa di tahun 80-an. Ketika itu umat Islam melakukan protes atas kata-kata yang digunakan dalam buku-buku pelajaran, khususnya PMP, di mana banyak istilah-istilah Islam ditulis dalam bentuk “terjemahan”. “Shalat berjamaah” misalnya ditulis menjadi “sembahyang bersama”. Penggunaan kata-kata ini dianggap sebagai cara untuk mendangkalkan aqidah.</p>
<p>Lagi-lagi saya tak tahu pasti apakah penggunaan kata-kata itu memang dimaksudkan demikian. Pun saya tak tahu apakah benar telah terjadi pendangkalan aqidah melalui buku-buku pelajaran tersebut. Saya hanya merasakan sebuah alur berfikir yang sama dengan yang diucapkan oleh teman saya tadi.</p>
<p>Saya merasa jalan fikiran seperti itu tidak begitu searah dengan keinginan untuk lebih mencintai bahasa Indonesia. Saya ingat bagaimana rekan-rekan fisikawan bersusah payah mencari padanan berbagai istilah teknis fisika dalam bahasa Indonesia. Mereka berusaha menggunakan kata asli bahasa Indonesia, bukan kata serapan. Maka “percepatan” dipilih untuk digunakan, bukan “akselerasi”. Juga, diperkenalkan kata “malar” untuk mengganti kata “kontinyu”, meski yang terakhir sudah digunakan secara luas.</p>
<p>Meski tak mendapat sambutan yang cukup baik, setidaknya usaha segelintir fisikawan tadi tidak menuai perlawanan. Saya tidak berani berharap bahwa situasi yang sama akan kita hadapi kalau kita mencoba mengganti istilah-istilah agama (Islam) dengan kata-kata asli. Salah-salah kita akan dituduh melakukan pendangkalan aqidah.</p>
<p>Betul, bahwa istilah “asli” yang saya gunakan masih sangat kabur batasannya. Pada kenyataannya kita memang sangat banyak menyerap kosa kata dari bahasa asing, terutama bahasa Arab. Kata serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia sangat luas dan tidak terbatas pada istilah-istilah Islam.<br />
Tapi sampai kapan proses penyerapan ini akan kita buka seluas-luasnya? Tidak perlukah hal itu kita batasi hanya pada kata-kata yang benar-benar tak ada padanannya dalam kosa kata kita?</p>
<p>Mudah-mudahan kita tidak menjadikan agama sebagai “panglima” dalam setiap lini kehidupan, termasuk dalam berbahasa, sehingga seperti kekhawatiran saya (yang mungkin berlebihan) tadi, kita menganggap sah pelanggaran kaidah atas nama agama.</p>
<p>Sendai, 17 September 2006</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fagama-dan-sosial-budaya%2Fagama-dan-bahasa%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/agama-dan-bahasa/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Agama dan Bahasa" data-url="http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/agama-dan-bahasa/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/agama-dan-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Impeachment</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/impeachment/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/impeachment/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Aug 2006 14:05:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media, Bahasa, dan Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[“Impeachment Hakim, Muskilkah?”, demikian judul sebuah artikel di kolom Opini yang dimuat di Harian KOMPAS  beberapa hari yang lalu. Kata “impeachment” cukup banyak digunakan dalam berbagai artikel/berita di media cetak beberapa tahun terakhir. Beberapa tulisan malah menggunakan versi yang sudah “diindonesiakan” seperti “meng-impeach” atau “di-impeach”. Kata “impeachment” berasal dari kata “to impeach”, sebuah kata kerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Impeachment Hakim, Muskilkah?”, demikian judul sebuah artikel di kolom Opini yang dimuat di Harian KOMPAS  beberapa hari yang lalu. Kata “impeachment” cukup banyak digunakan dalam berbagai artikel/berita di media cetak beberapa tahun terakhir. Beberapa tulisan malah menggunakan versi yang sudah “diindonesiakan” seperti “meng-impeach” atau “di-impeach”.</p>
<p>Kata “impeachment” berasal dari kata “to impeach”, sebuah kata kerja transitif. Merujuk pada Kamus Merriam-Webster, kata ini memiliki beberapa arti, dan arti yang paling cocok untuk konteks berbagai artikel/berita tadi adalah “to remove from office especially for misconduct”. Bahasa Indonesia sudah punya padanan kata yang sangat tepat untuk keperluan ini, yaitu “pecat”.</p>
<p>Penggunaan kata “impeachment” terasa sangat janggal di tengah kecenderungan untuk mengindonesiakan berbagai istilah asing. Kita, misalnya, telah dengan baik mengganti istilah track record dengan rekam jejak, pre-paid dengan pra-bayar. Bahkan ada yang mencoba mengganti singkatan ATM (automatic teller machine) dengan anjungan tunai mandiri. Tapi mengapa masih ada yang menggunakan kata “impeach”, padahal kita sudah lama punya kata “pecat”?</p>
<p><span id="more-97"></span></p>
<p>Maraknya penggunaan kata “impeachment” di media massa kita tidak bisa dilepaskan dari populernya skandal seks antara Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dengan Monica Lewinsky beberapa tahun yang lalu. Karena skandal itu Clinton dihadapkan pada sangsi pemecatan. Kebetulan tak lama setelah itu Presiden Indonesia ketika itu, Abdurrahman Wahid, menghadapi ancaman yang sama. Maka agar selaras dengan peristiwa yang terjadi di Amerika, media kita banyak yang “latah” menggunakan kata “impeachment”, bukan “pemecatan”.</p>
<p>Tadinya kata ini hanya digunakan secara khusus dalam kasus pemecatan terhadap presiden. Namun belakangan, kata tersebut mulai “turun pangkat”, digunakan juga untuk objek selain presiden, seperti pada artikel Opini yang saya sebut di muka. Bagi saya ini merupakan sebuah gejala yang kurang baik, dan sudah pada tempatnya bila media massa berhenti menggunakan kata ini.</p>
<p>Selain untuk menyelaraskan dengan peristiwa di belahan bumi lain, istilah asing sering digunakan untuk memperoleh kesan mentereng. Ini bisa kita anggap sebagai “penyakit” rendah diri dalam berbahasa. Namun kita mungkin boleh menghibur diri, bahwa kita bukan satu-satunya penderita penyakit rendah diri tadi. “Saudara tua” kita, Jepang, yang sudah lebih maju dalam teknologi dan ekonomi, juga masih menderita penyakit yang sama.</p>
<p>Dalam bahasa Jepang, penyerapan kata asing yang tidak ada padanannya dalam bahasa asli diberi ruang dalam kata-kata yang ditulis dengan huruf katakana. Kata-kata tersebut dikenal dengan sebutan katakana-go (bahasa katakana). Contohnya adalah aisu kuri-mu untuk ice cream, rajio untuk radio, dan sebagainya.</p>
<p>Sayangnya penggunaan katakana-go ini berkembang tak terkendali, sehingga banyak kata yang sebenarnya sudah tersedia dalam khasanah kosa kata Jepang yang asli, juga ikut diserap. Sebagian orang Jepang, misalnya, mulai suka menggunakan kata faito (fight) ketimbang ganbaru, untuk mengeskpresikan “kerja keras”. Padahal kata ganbaru sendiri punya makna dan konsep yang sangat dalam dalam bahasa dan budaya Jepang.</p>
<p>Penggunaan kata asing dengan cara berlebihan seperti ini membuat katakana-go menjadi rumit dan sulit dipahami, terutama bagi generasi tua. Saking rumitnya, ada pihak yang sampai menerbikan kamus khusus untuk kata-kata asing yang dijepangkan itu.</p>
<p>Bagi saya ini tidak sekedar merusak bahasa dalam pengertian mempersulit komunikasi, tapi juga akan menyebabkan rusaknya budaya. Bayangkan, bila kata ganbaru yang sangat dalam maknanya dalam budaya Jepang tadi secara perlahan tersingkir dari khasanah kosa kata Jepang, diganti dengan istilah faito, maka secara perlahan konsep kerja keras tadi mungkin akan tergerus juga dari budaya Jepang.</p>
<p>Untunglah kekhawatiran saya ini sedikit terobati. Sekitar dua tahun yang lalu, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga dan Sains (Monbukagakusho) berpendapat bahwa penggunaan istilah asing dalam bahasa Jepang perlu ditertibkan. Atas dasar itu dibentuklah semacam komisi untuk merumuskan istilah-istilah asing, dengan menggunakan kosa kata asli Jepang sebagai dasarnya.</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fpolitik-dan-birokrasi%2Fimpeachment%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/impeachment/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Impeachment" data-url="http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/impeachment/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/impeachment/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

