Archive for the ‘Politik dan Birokrasi’ Category

Buah Tangan dari Ayah

4 March 2010

Langkah kakiku aku percepat. Aku ingin segera tiba di rumah. Karena itu aku tolak ajakan kawan-kawan untuk main guli di halam sekolah usai jam pelajaran terakhir tadi. Tak kupedulikan ejekan Mansur saat aku menolak untuk main guli tadi.

“Takut kalah dia. Gulinya tinggal beberapa biji. Kalau kalah habislah semua.“ ejek Mansur. Sesungguhnya hatiku panas mendengarnya. Tapi tak kupedulikan.

Matahari sudah hampir tegak di atas kepala. Sebentar lagi lohor, dan perutku mulai terasa lapar. Tapi bukan karena itu aku buru-buru pulang. Aku berharap bisa segera bertemu Ayah. Atau kalaupun dia belum pulang, aku ingin berada di rumah saat dia pulang. Kata Emak, Ayah akan pulang hari ini.

Ayahku bekerja di Teluk Air. Pernahkah kau mendengar nama tempat itu? Guru di sekolahku sering mengajarkan bahwa Teluk Air adalah pelabuhan alam terbesar di Indonesia. Mungkin gurumu juga pernah mengatakan hal serupa. Aku bangga dengan ini, karena Teluk Air tak jauh benar dari kampungku. Bangga rasanya punya tempat terkenal di dekat kampung sendiri.

Teluk Air adalah pelabuhan untuk ekspor kayu. Kayu-kayu ditebang dari hutan-hutan di sekitarnya. Lalu dirakit dan dihanyutkan atau diangkut dengan tongkang besi. Sebagian digergaji di sawmil, sebagian langsung dimuat ke kapal untuk dijual ke luar negeri. Nah, Ayahku bekerja luding di situ. Ia membantu memuat kayu-kayu itu ke kapal.

Ayah pergi kerja beberapa hari. Kadang sampai seminggu. Ia pulang sehari dua, lalu pergi lagi. Aku suka kalau Ayah pulang. Ia selalu membawa buah tangan. Tak jarang ia membawakan buah tangan yang ia dapat dari kapal, yang tentu tak bisa didapat di kampung kami. Misalnya buah apel atau anggur. Juga biskuit yang bungkusnya bertuliskan bahasa yang tak kukenal. Kadang Ayah membawakan mainan. Pokoknya semua buah tangan dari Ayah menarik dan menyenangkan.

Ayah baru bekerja luding beberapa bulan ini. Sebelumnya Ayah bertani, merawat kebun kelapa miliknya. Tapi sejak dulu Ayah memang selalu membawakan buah tangan buatku. Dari kebun biasanya dia membawakan telur burung keruwak atau pipit. Sesekali dia membawa burung punai yang dia tangkap dari jerat yang dia pasang di pohon jambu di kebun. Burung punai ini oleh Emak dibuat gulai. Atau hanya sebatang tebu. Kalau Ayah menghadiri selamatan di rumah orang dia juga kadang membawakan buah tangan. Aku paling suka telur rebus yang kulitnya diberi warna dari pohon telur yang biasanya hadir pada acara gunting rambut bayi atau pernikahan. Pada telur itu ada daun yang dibuat dari uang kertas seratus rupiah.

Rumahku sudah tak jauh lagi. Langkahku makin kupercepat. Dadaku terasa berdebar membayangkan buah tangan apa yang akan dibawakan Ayah hari ini.

Sampai di rumah ternyata Ayah belum pulang.

“Basuhlah tangan kau, lalu makan.“ perintah Emak.

„Nanti ja, nunggu Ayah.“

„Ai, entah pukul berapa Ayah kau pulang. Makanlah kau dulu.“

„Tak apa. Aku tunggu Ayah ja.“

„Nanti kau sakit perut. Makan sana!“ kata Emak tegas.

Aku menurut. Percuma membantah Emak kalau sudah begini. Salah-salah nanti pahaku dicubitnya. Pelan-pelan aku menuju ke dapur, di situ terhampar tikar pandan dengan tudung saji tertungkup di tengahnya. Di bawah tudung itu ada makanan. Pelan-pelan pula aku ambil piring, ku isi nasi dan lauk. Lalu aku mulai makan pelan-pelan, berharap Ayah akan datang sebelum aku selesai.

+++
Tadinya Ayah tak berminat kerja luding. Ia bahkan tak berminat bekerja di Teluk Air. Banyak orang kampung kami yang bekerja di sana. Selain yang kerja luding ada yang juga bekerja di sawmil, tempat kayu digergaji jadi papan, atau bekerja menebang kayu di hutan. Orang-orang ini kelihatan lebih berada dari kebanyakan orang kampung kami yang bertani. Pak Ngah Matnur, sepupu Ayah bekerja luding sejak lama. Rumahnya berdinding semen, beratap sirap. Sudah lama pula dia mengajak Ayah. Tapi Ayah menolak.

“Senang juga kalau kita punya rumah semen.” kata Ayah pada Emak suatu ketika.

Emak Cuma tersenyum. Dia tahu Ayah sedang menguji minatnya.

„Aku senang kalau di rumah ini ada Abang. Tak peduli dindingnya semen atau papan, atapnya sirap atau daun nipah.” jawab Emak. Ayah tersenyum mendengarnya.

Ayah lebih suka berkebun meski hasilnya tak seberapa. „Kebun ini Ayah buka sendiri. Ayah yang merimba, menebang kayu-kayu waktu kebun ini masih hutan. Ayah juga yang menanam kelapa dan kopinya. Ayah tak akan meninggalkannya.“ begitu kata Ayah menjelaskan padaku suatu ketika. „Kalau Ayah bekerja kayu Ayah dapat duit. Tapi tak ada yang Ayah tinggalkan. Kebun ini adalah peninggalan Ayah kalau kelak Ayah mati.” itu alasan Ayah di lain waktu.

Hasil kebun Ayah sebenarnya tak seberapa. Tanah yang dirimba Ayah, kemudian diolah menjadi kebun ternyata tak subur. Tanah tempulur, terlalu asam. Itu yang aku dengar dari Ayah. Kelapa tumbuh tinggi tapi buahnya tak lebat. Demikian pula pohon kopi. Sejak dua tahun yang lalu Ayah mulai membuka lahan lain untuk kebun. Tapi pohon kelapa yang ditanam di situ baru mulai bertunas, masih 4-5 tahun lagi baru akan berbuah. „Mudah-mudahan kali ini tanahnya subur.“ doa Ayah.

Sikap Ayah berubah beberapa bulan yang lalu. Waktu itu aku baru saja naik ke kelas lima. Aku kembali juara satu di kelas, seperti tahun-tahun sebelumnya.

„Kau mau nyambung tak kalau tamat nanti?“ tanya Ayah waktu melihat raporku.

Aku terkejut dengan pertanyaan itu. Tak berani aku menjawabnya. Sebenarnya sudah lama aku memendam mimpi untuk menyambung sekolah ke kota. Aku ingin jadi guru seperti Pak Ibrahim, anak Nek Ngah yang sekarang mengajar di sekolahku. Dia dulu juga sekolah di sekolah itu. Tamat SD dia melanjutkan ke SMP di kota, lalu masuk SPG. Sudah hampir dua tahun dia pulang kampung dan jadi guru.
Tapi aku sadar, Ayah tak berada seperti Nek Ngah. Kebun kelapa Nek Ngah luas dan tak cuma sebidang. Hasil kelapa dan kopinya banyak. Tak sulit bagi dia untuk menyekolahkan anaknya. Tak cuma seorang. Adik Pak Ibrahim yang perempuan sekarang sedang sekolah perawat di kota.

Tapi Ayah tak mungkin membiayai sekolahku. Karenanya aku tak pernah mengungkapkan keinginanku itu pada Ayah. Kali inipun aku tak berani.

„Kau mau nyambung tak?“ ulang Ayah.

Aku mengangguk. Ragu sebenarnya anggukan itu.

„Ya sudah, kau belajar dengan baik. Tamat nanti kau nyambung ke kota.“

„Tapi yah……“ jawabku tertahan.

“Tak usah khawatir. Untuk kau, bergadai kulit kepala pun Ayah sanggup.“

Sejak itulah Ayah memutuskan untuk kerja luding. Ia rela meninggalkan kebunnya. Ia ingin dapat uang lebih banyak lagi untuk biaya sekolahku kelak. “Kalau kita ada uang lebih kita bisa mengupah orang untuk merawat kebun. Lagipula, kalau sedang tak kerja luding aku masih bisa merawatnya.” kilah Ayah kali ini. Emak pun setuju.

Ada yang berubah sejak Ayah kerja luding. Ayah tak lagi tiap hari ada di rumah. Sudah jarang dia mengajarku mengaji. Emak yang sekarang mengajar. Hanya sesekali Ayah sempat mendongeng menjelang aku tidur. Kalaupun dia ada di rumah, dia kelihatan sudah sangat letih. Dia segera tidur selesai salat isya.

Tak apa. Aku tahu Ayah letih. Dia letih bekerja untuk aku. Aku tak keberatan kehilangan banyak kesempatan bersama Ayah. Yang jelas ada satu yang tak berubah. Ayah selalu membawakan buah tangan untukku.

Baru separuh isi piringku aku makan. Di depan aku dengar suara yang agak gaduh, makin lama makin keras gaduhnya. Ayah sudah pulang? pikirku. Tanpa membasuh tangan aku berlari ke depan. Di halaman aku lihat banyak orang. Ada Pak Ngah Matnur di situ. Kulihat orang-orang itu menggotong sesuatu yang dibalut dengan tikar pandan. Ada darah menetes dari ujung tikar itu.

„Abaaaaaaaaaaaaang………..“ teriak Emak histeris, menghambur ke arah bungkusan tikar pandan itu.

Suasana tambah gaduh.

“Dia tertimpa balok kayu waktu kami sedang luding.“ Begitu penjelasan Pak Ngah kepada tetangga yang datang mendengar kegaduhan itu. Aku tak mendengar lagi lanjutan kata-kata Pak Ngah. Aku tak ingin mendengarnya. Ayah tak kan pernah lagi pulang membawa buah tangan.

Catatan:
Guli= gundu, kelereng
Luding= loading, memuat barang ke kapal
Sawmil= sawmill, pabrik penggergajian kayu

http://berbual.com

Love what you do!

3 March 2010

Mengerjakan sesuatu yang kita sukai tentu menyenangkan. Karenanya dalam memilih pekerjaan umumnya orang akan mencari pekerjaan yang dia sukai. Tapi dalam kenyataan tak semua orang bisa menemukan pekerjaan yang dia sukai. Pada situasi itu hanya ada satu pilihan, yaitu (mencoba) menyukai apa yang kita kerjakan.

Sejak kecil saya suka pelajaran Matematika dan IPA. Nilai saya untuk mata pelajaran itu selalu bagus. Ketika SMA lebih khusus lagi saya menyukai pelajaran Fisika. Karena itulah saya memilih untuk melanjutkan kuliah ke jurusan Fisika.

Tapi Fisika yang saya hadapi saat SMA ternyata berbeda dengan yang saya hadapi saat kuliah. Mulai tahun kedua saya mulai mengalami kesulitan dalam pelajaran. Banyak topik yang gagal saya pahami. Aljabar vektor yang merupakan salah satu alat untuk memahami Mekanika Kuantum terlalu rumit buat saya. Otomatis saya juga keteteran saat mendalami Mekanika Kuantum. Padahal topic-topik Fisika tingkat lanjut semua berbasis pada Mekanika Kuantum.

Terus terang saya sempat frustrasi dengan dunia Fisika, lalu mencari „pelarian“ di dunia aktivitas ekstrakurikuler. Di sini suasananya lebih menarik. Dan yang penting, saya tidak harus berhadapan dengan dunia abstrak seperti ruang vektor atau ruang kuantum. Kala itu tak jarang orang mengira saya mahasiswa Fisipol.

Tapi ada saatnya saya harus berhenti dengan keasyikan itu. Memasuki tahun ke 6 kuliah saya sadar bahwa saya harus lulus. Kasihan orang tua yang sudah membiayai kuliah saya. Tak ada pilihan, saya harus kembali ke Fisika. Saya mulai mencari topik skripsi. Kebetulan ada dosen yang baru selesai S2 di UI, dan dia dibimbing oleh seorang profesor tamu dari Jepang. Saya memilih untuk mengerjakan topik yang sama dengan dosen tersebut, di bidang Fisika Zat Padat.

Waktu itu saya membutuhkan kristal untuk bahan eksperimen, dan kristal itu tidak tersedia di Indonesia. Saya beranikan diri menyurati profesor Jepang tadi untuk minta bantuan. Berhasil. Dia mengirimi saya 3 potong kristal. Lalu saya membuat alat untuk keperluan eksperimen, mencari sendiri alat ukur di berbagai laboratorium di UGM dan Batan. Dosen pembimbing saya nyaris tak melakukan apa-apa. Semua saya kerjakan atas inisiatif saya sendiri.

Dalam waktu enam bulan saya berhasil menyelesaikan skripsi. Banyak mahasiswa yang terhambat di situ hingga bertahun-tahun. Saya sadar bahwa saya bisa melakukan itu bukan karena saya pintar di bidang Fisika. Modal utamanya tidak di situ, tapi pada ketekunan saya. Itu ditambah dengan kemampuan saya menulis, yang memang cukup baik. Hasilnya, skripsi saya diterima nyaris tanpa koreksi dari pembimbing, dan saya lulus kuliah.

Lepas dari bangku kuliah saya mencoba berkarir sebagai logging engineer di lapangan minyak. Saya menyukai pekerjaan ini. Basisnya adalah ilmu Fisika, tapi bukan yang rumit dan abstrak seperti Mekanika Kuantum. Pekerjaannya sendiri menantang, di alam terbuka, dan penuh bahaya. Cocok untuk laki-laki yang punya jiwa petualang.

Tapi saya tak suka lingkungan kerjanya. Tak ada manusia di situ. Cuma segelintir. Saya adalah mantan aktivis yang punya kawan seantero Yogya. Waktu itu belum ada HP atau internet seperti sekarang. Terisolasi di pedalaman Sumatera Selatan sana adalah siksaan luar biasa. Akhirnya saya keluar dari pekerjaan ini. Saya kemudian menjadi dosen, pekerjaan yang sejak lama jadi cita-cita saya.

Bekerja sebagai dosen sungguh menyenangkan saya. Saya suka mengajar dengan berbagai aspeknya. Tapi menjadi dosen membuka „hubungan lama“ saya dengan Fisika yang memusingkan itu. Saya berusaha menghindar. Ketika mendapat kesempatan untuk kuliah S2 ke Jepang saya sengaja memilih Fisika Terapan dengan niat agar tak lagi berurusan dengan Mekanika Kuantum. Celakanya tanpa saya kehendaki saya malah mendapat profesor pembimbing yang topik penelitiannya di bidang ilmu dasar, bukan terapan. Lebih parah lagi saya harus meneliti bahan organik. Padahal sejak SMA saya sangat benci pada Kimia Organik.

Lagi-lagi saya tak punya pilihan. Saya harus belajar dan melakukan eksperimen di bidang yang tak saya sukai. Sudah kepalang basah, saya harus hadapi itu dengan tekun, meski banyak hari-hari harus saya lalui dengan dimaki-maki oleh professor saya, karena saya tidak mampu memahami atau menjelaskan sebuah persoalan. Itu karena basis saya di bidang Mekanika Kuantum dan Fisika Zat Padat memang lemah.

Tak cuma masalah pemahaman. Juga ada hambatan fisik. Salah satu eksperimen yang harus saya lakukan dalam penelitian adalah mengamati karakter material di bawah tekanan tinggi. Saya menggunakan alat yang disebut diamond anvil cell. Alat ini terdiri dari dua potong intan yang digunakan untuk menjepit sebuah pelat logam. Pelat itu dilubangi sehingga di dalamnya tercipta sebuah ruang. Ke dalam ruang itulah dimasukkan sampel yang hendak diamati, ditambah media cair penerus tekanan dan serpihan kristal ruby untuk mengukur tekanan. Saat kedua potong intan itu ditekan, ruangan tadi akan mengecil dan terciptalah kondisi tekanan tinggi.

Saya menggunakan istilah ruang, tapi ini ruang yang sungguh kecil! Diameter lubang hanya 0.3 milimeter. Untuk memasukkan benda-benda tadi saya menggunakan lidi yang di ujungnya saya ikatkan benang wol yang sangat halus. Ujung benang wol itu saya gunakan untuk mengangkat dan menggeser benda-benda itu. Ukuran benda serta lubang sangat kecil sehingga tak mungkin semua itu dilakukan dengan mata telanjang. Seluruh pekerjaan itu dilakukan dengan panduan pengamatan visual di bawah mikroskop.

Saya punya masalah fisik. Tangan saya tidak stabil. Sering gemetaran. Tremor, kata dokter. Tapi saya harus memasukkan beberapa benda yang sangat kecil dan rapuh ke dalam sebuah lubang yang sangat kecil pula. Luar biasa sulit.

Ada tiga bulan yang saya lalui untuk berlatih menggunakan alat itu. Tiga bulan terus menerus, tiap hari saya mengulang hal yang sama. Tiap hari gagal, saya mulai lagi. Lagi dan lagi. Setelah tiga bulan itu barulah saya mulai menghasilkan data eksperimen.

Begitulah. Dengan terseok-seok akhirnya saya bisa menyelesaikan studi hingga meraih gelar doctor. Bahkan kemudian saya berkarir selama 4 tahun sebagai peneliti tamu di Jepang. Kadang saya heran sendiri, kok saya bisa jadi doktor bahkan profesor tamu di Jepang.

Sejak masih kuliah S1 saya tidak berminat untuk bekerja di dunia industri. Saya tak suka. Saya tak suka pada jadwal yang tetap, harus masuk jam sekian, pulang jam sekian. Saya juga tak suka bekerja di bawah orang, disuruh-suruh. Saya suka pekerjaan yang independen, di mana saya menentukan apa yang harus saya lakukan.

Tapi lagi-lagi saya harus menghadapi itu. Karena berbagai alasan saya harus memulai karir di dunia industri. Tak terasa sudah tiga tahun saya berkarir di dunia ini. Sejauh ini saya menikmatinya.
Kawan. Dalam hidup ini sering kita harus melakukan hal-hal yang tidak kita sukai. Tapi pengalaman saya mengajarkan bahwa kita pun bisa melakukan hal-hal yang tadinya tidak kita sukai. Bahkan kita kemudian bisa menyukainya.

If you cannot do what you love, try to love what you do. Itulah resep saya.

http://berbual.com

Manajemen

23 February 2010

Kita harus berterima kasih pada yang menciptakan istilah dan konsep manajemen. Sungguh, dengan manajemen segala sesuatu jadi mudah. Kita semua mungkin sudah merasakan hal itu. Tapi saya ingin berbagi informasi tentang berbagai bentuk kemudahan lain yang dihasilkan oleh sesuatu bernama manajemen.

Kalau Anda pemegang gelar sarjana di bidang ilmu yang sulit-sulit, dan Anda membutuhkan gelar S2, tapi berbagai keterbatasan membuat Anda tak mungkin meraih gelar itu, cobalah dengan manajemen. Pilihan pertama adalah paket Magister Manajemen (MM). Tersedia banyak pilihan di situ. Ada yang bisa diperoleh dengan kuliah di akhir pekan atau malam hari. Ada yang cuma memerlukan waktu kuliah enam bulan di akhir pekan. Ada yang bahkan tak memerlukan kuliah sama sekali. Ijazahnya bisa dipesan, Anda cukup hadir di acara wisuda.

Masih ada pilihan lain. Kalau Anda seorang dokter, dan sulit bagi Anda untuk mengambil program dokter spesialis yang makan waktu, tenaga dan biaya, maka Anda punya pilihan, misalnya Manajemen Rumah Sakit, atau Manajemen Kesehatan, atau yang sejenis itu. Dijamin, Anda akan bisa memperkaya diri dengan gelar tanpa harus bersusah payah.

Yang di jurusan teknik bisa mengambil jurusan Manajemen Infrastruktur, atau Manajemen Energi. Dijamin tak serumit kalau Anda harus mengambil jurusan Teknik Sipil atau Elektro. Toh, gelar yang Anda peroleh sama juga, yaitu Magister Teknik atau MT.

Saya pernah mengajar di program S2 Teknik Sipil di suatu PTN. Pesertanya adalah pejabat-pejabat daerah, setingkat Kepala Dinas atau Kepala Bidang. Juga dosen-dosen senior yang dulu belum sempat melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Sudah barang tentu mereka ini berduit. Lebih berduit dari dosen yang mengajar. Sudah barang tentu mereka tidak bisa diharapkan untuk belajar dengan benar. Sudah tua, otaknya tumpul. Atau boleh jadi otaknya sudah tumpul sejak muda. Wallahu alam.

Sudah barang tentu mereka juga tak bisa disuruh riset sebagaimana lazimnya mahasiswa pasca sarjana. Juga tak boleh diharapkan mereka membuat tesis. Lha, tugas kuliah saja mungkin mereka tak sanggup membuatnya.

Alkisah suatu hari saya didatangi seorang mahasiswa saya di program S2 itu. Umurnya lebih tua dari saya. Mobilnya lebih bagus dari saya. Dan hebatnya dia mengerti betul prinsip manajemen. Sungguh membanggakan, karena dia mahasiswa saya.

Prinsip manajemen yang saya maksud adalah prinsip yang sangat mendasar, yaitu “getting things done through other people’s hands” alias “menyelesaikan masalah dengan meminjam tangan orang lain”.

Setelah basa-basi sejenak, dia bicara. “Saya mau bikin tesis nih, Pak.”

“Wah, bagus itu. Mudah-mudahan Bapak bisa jadi orang pertama yang lulus di program ini.”

“Iya, tapi saya ada sedikit kendala.”

“Apa itu?”

“Saya kadang kesulitan mengekspresikan pendapat saya dalam bahasa tulisan.”

“Oh, kalau itu saya bisa bantu. Kebetulan saya punya banyak pengalaman menulis karya ilmiah, termasuk di jurnal internasional. Saya bisa menjadi pembimbing informal Bapak, karena bidang saya bukan Teknik Sipil. Nanti saya bantu untuk masalah redaksionalnya.”

“Kalau Bapak mau bantu saya, ada baiknya Bapak bantu secara menyeluruh saja. Jadi saya terima jadi saja.”

“Maksudnya gimana?”

“Ya, minta tolong Bapak saja yang menulis semua.”

Oh, my God. Oh Manajemen……………….

http://berbual.com

Integritas Anggota Parlemen

14 December 2009

Februari 2006. Parlemen Jepang heboh. Hisayasu Nagata, seorang anggota parlemen dari partai oposisi Democratic Party of Japan (DPJ) menuduh seorang petinggi partai berkuasa LDP menerima suap dari Takafumi Horie. Horie adalah seorang pengusaha muda dan terkenal yang saat itu sedang berada dalam tahanan polisi atas tuduhan melakukan kecurangan dalam perdagangan saham. Nagata menyebutkan bahwa tuduhannya tersebut didasarkan atas selembar kertas hasil cetakan isi e-mail yang diperkirakan dikirim oleh Horie, berisi perintah untuk mengirimkan uang sebesar 30 juta yen kepada putra petinggi LDP tadi.

Tuduhan itu menggemparkan Jepang. Kalau terbukti benar, tidak hanya petinggi partai tadi yang akan kena akibatnya. Tapi bisa jadi LDP yang saat itu sedang cukup kuat di bawah kepemimpinan Junichiro Koizumi akan terguncang. Karenanya sempat berhembus pula wacana pergantian kekuasaan (seiken koutai) dari LDP ke DPJ.

Malang bagi Nagata, tuduhan yang ia lancarkan ternyata tidak terbukti. E-mail yang dia duga asli ternyata palsu. E-mail itu tidak pernah dikeluarkan oleh Horie. Dan tentu saja Horie pun tidak pernah menyogok pimpinan LDP.

Akibat kecerobohannya itu Nagata dikenai sangsi. Ia dipecat dari parlemen, dan dikenai larangan tampil dalam pemilu selama 2 tahun. Itu adalah akhir dari karir politik Nagata. Belakangan dikabarkan bahwa ia melakukan usaha bunuh diri karena frustrasi.

Kini kita berhadapan dengan kasus yang mirip. Anggota Pansus Angket Bang Century Bambang Susetyo menuduh Menteri Keuangan Sri Mulyani bertemu dengan Robert Tantular dan melakukan pembicaraan. Dasar tuduhannya adalah sebuah rekaman pembicaraan. Tapi dari penjelasan Sri Mulyani, besar kemungkinan tuduhan itu adalah tuduhan palsu. Sri Mulyani akan melakukan tindakan hukum atas hal tersebut.

Bambang mungkin akan berdalih bahwa yang ia lakukan dalam lingkup kerja dia sebagai anggota parlemen. Dalam konteks itu apapun yang dia ucapkan tidak bisa dipersoalkan secara hukum, karena ia memiliki kekebalan. Boleh jadi nasibnya tak akan seburuk Nagata.

Tapi masalahnya tak cuma di situ. Kita memerlukan anggota parlemen yang bekerja serius. Yang berkata dan bertindak berdasar data yang valid. Karenanya konfrimasi, dan re-konfirmasi menjadi sangat penting dalam pekerjaan anggota DPR. Bila tidak, kerja itu hanya berwujud main-main. Sangkaan-sangkaan yang serius sekalipun akan dengan mudah dipatahkan. Ini bisa memandulkan fungsi pengawasan DPR.

Kasus Bank Century adalah kasus besar. Semua masalah harus dibuka dan dijelaskan kepada publik. Harus dijelaskan pula mana bagian yang merupakan ranah hukum, ranah politik, dan ranah kebijakan, berikut segala konsekwensinya. Ini adalah kerja besar yang tidak mudah. Karenanya wajib dikerjakan secara serius.

Bila ada niat untuk menuai popularitas di benak anggota Pansus, harap niat itu segera dibuang jauh-jauh. Rakyat memantau semuanya. Sebuah niat tak patut akan segera terlihat, dan Anda, anggota DPR atau siapapun yang berniat cari muka, akan kehilangan muka.

Jadi, kembalikan arah penyelidikan kasus Bank Century ke arah yang benar, yaitu untuk membuka kebenaran dan menegakkan keadilan. Bukan untuk petualangan politik menjungkalkan seseorang atau suatu kekuatan politik.

http://berbual.com

Jidoushi, tadoushi

13 November 2009

Jidoushi dan tadoushi adalah istilah tata bahasa Jepang untuk kata kerja transitif dan intransitif. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal kata kerja transitf sebagai kata kerja yang membutuhkan objek, sedangkan intransitif tidak membutuhkan objek. Definisi kedua kata kerja ini dalam bahasa Jepang sedikit berbeda, dan bagi saya sangat inspiratif. Karenanya saya ingin sedikit berbagi inspirasi.

Doushi berarti kata kerja. Ji berarti sendiri atau dengan sendirinya, sedangkan ta berarti (pihak) lain. Jidoushi artinya kata kerja yang menggambarkan kejadian/kerja yang terjadi dengan sendirinya, atau dilakukan sendiri oleh subjek. Sedangkan tadoushi adalah kejadian/kerja oleh subjek kepada suatu objek.

Salah satu contoh pasangan kata kerja intransitif-transitif dalam bahasa Jepang adalah deru (keluar, intransitif) dan dasu (mengeluarkan, transitif). Saya punya sedikit cerita tentang dua kata kerja ini.

Saat ini saya diberi amanah untuk memimpin sebuah perusahaan Jepang di bidang plastic molding injection yang baru beroperasi sekitar 3 tahun. Selama ini kami membuat barang-barang pesanan dari perusahaan induk di Jepang, untuk dipasarkan di Jepang dan beberapa negara lain. Namun tahun ini pesanan dari Jepang menurun drastis, sehingga kami dihadapkan pada kemungkinan kami akan merugi.

Untuk menutupi kerugian, kami menerima pekerjaan maklun (subkontrak). Nilai pekerjaan yang kami terima cukup rendah, karena perusahaan mitra kami yang memberi pekerjaan itu juga sedang melakukan cost down secara ketat. Kami yang selama ini terbiasa mendapat order dengan margin keuntungan besar dari Jepang merasa berat melakukan pekerjaan ini.

Namun dengan pertimbangan bahwa ada sedikit pekerjaan lebih baik dari tidak sama sekali, kami putuskan untuk menerima pekerjaan ini. Minimal mesin tidak menganggur dan biaya-biaya rutin (overhead) bisa tertutupi.

Dengan kesadaran sejak awal bahwa pekerjaan ini murah nilainya, kami sangat berhati-hati. Segala macam biaya yang bisa dipotong kami potong. Berbagai cara kami lakukan untuk berhemat. Yang terpenting, tingkat apkiran (reject) kami tekan sekecil mungkin.

Setelah beberapa lama berjalan, kami menyadari bahwa pekerjaan ini ternyata bisa memberikan laba. Tidak besar memang. Tapi ada. Dan itu lebih dari sekedar menutup pengeluaran rutin. Saat menyadari hal itu saya berkata kepada teman saya: „Rieki wa deru mono dewa naku, dasu mono da.“ Secara harfiah kalimat itu berarti, „Laba itu tidak keluar, tapi (kita) keluarkan.“ Maksudnya adalah laba itu tidak dihasilkan dari harga yang dihasilkan dari negosiasi dengan pembeli, tapi dari berbagai efisiensi yang kita lakukan dalam proses produksi.

Ilustrasi kecil di bawah ini mungkin bisa lebih memperjelas. Secara umum hubungan antara biaya produksi(P), harga jual(J), dan laba (L) adalah sebagai berikut:
P + L = J
Artinya kita menentukan harga jual produk kita dengan mempertimbangkan biaya produksi dan laba yang ingin kita peroleh. Namun dalam banyak kasus kita tidak bebas menentukan harga jual. Harga jual seringkali sudah ditentukan oleh pasar. Dalam situasi itu rumusnya berubah menjadi:
J – P = L
Dari harga jual yang sudah tertentu itu yang bisa kita lakukan untuk memperoleh dan memperbesar laba adalah dengan menekan ongkos produksi.

Kata deru dan dasu, sama-sama bisa digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan, yaitu sesuatu yang keluar. Tapi pilihan atas kata transitif atau transitif memberi semangat yang berbeda. Kata kerja transitif mewakili semangat kita untuk melakukan sesuatu, bukan menerima atau menyerah begitu saja pada keadaan.

Ada satu lagi pasangan kata kerja yang bagi saya juga memberi inspirasi, yaitu kowareru (rusak) dan kowasu (merusak). Bentuk lampau kedua kata kerja ini masing-masing kowareta dan kowashita. Saat melakukan eksperimen keteledoran saya menyebabkan sebuah alat laboratorium rusak.

Saya melaporkan kejadian itu kepada Sensei (profesor) saya. Dalam logika bahasa Indonesia otak saya berkata, “Alat itu rusak.” Logika itu saya terjemahkan dalam bahasa Jepang, sehingga dari mulut saya keluar kalimat „Souchi (alat) ga kowareta.” Setelah mendengar penjelasan saya, Sensei menjawab,“Kore wa kowareta janaku, kowashita desho.“ (Ini sih bukan rusak, tapi kamu rusakkan.)

Ada perbedaan mendasar pada dua kata kerja di atas. Kowareru berarti alat itu rusak dengan sendirinya. Sedangkan kowasu berarti ada sesuatu yang menyebabkan kerusakan, dan sesuatu itulah yang (harus) bertanggung jawab. Mengungkapkan kejadian di atas dengan kata kowareru adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab tersebut.

Di akhir tulisan ini saya akan kutipkan sebuah ilustrasi dari buku Seven Habits tulisan Stephen Covey. Kali ini bukan tentang pasangan kata kerja transitif dan intransitif. Tapi tentang kata benda dan kata kerja transitif.

Ada seseorang yang berada di ambang perceraian. Dia merasa sudah tidak ada lagi cinta antara dia dengan istrinya. Dia meminta nasihat pada Stephen Covey.

“Cintai dia.” Nasihat Stephen.

“Itu tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Cinta itu sudah tidak ada antara aku dan dia. Bagaimana aku bisa mencintai dia?”

“Bisa. Cintai dia.”

“Tidak mungkin.”

“Ingat. Cinta itu kata kerja. Kata kerja transitif. Cintai dia. Lakukan usaha untuk mencintai dia. Maka cinta itu akan tumbuh di hatimu dan di hatinya.”

http://berbual.com

Jalur Gaza

11 November 2009

Ini bukan cerita tentang Palestina. Ini cerita tentang Jakarta. Tentang sebuah sekolah.

Di TV diberitakan tentang seorang siswa kelas 1 di sebuah SMA Negeri di Jakarta. Ia dijemput paksa oleh sejumlah seniornya, dibawa ke sebuah taman, lalu dianiaya. Ia mengalami luka-luka di wajah. Bibirnya robek, wajahnya lebam-lebam. Ia harus menjalani rawat inap di rumah sakit selama beberapa hari.

Apa pasal? Alkisah, siswa kelas 3 menetapkan beberapa jalur di sekolah yang mereka sebut Jalur Gaza. Jalur ini tidak boleh dilewati oleh selain anak kelas 3. Si anak yang teraniaya tadi lalai. Ia melewati jalur itu.

Cerita ini sungguh menyesakkan dada saya. Di sekolah, tempat anak-anak harusnya dididik dan dikendalikan, ada manusia-manusia fasis yang bisa seenaknya membuat aturan. Di sekolah, tempat di mana seharusnya guru-guru yang mengatur, ada sekelompok murid yang punya kekuasaan mengatur. Dan mereka mengatur dengan kekerasan!

Para guru dalam wawancara TV mengatakan bahwa sebenarnya mereka tahu soal Jalur Gaza ini. Tapi sepertinya mereka tak berdaya untuk menghapuskannya. Konon tradisi dungu ini sudah berlangsung sejak tahun 80-an. Itulah salah satu alasan kenapa tradisi ini tidak dihapus.

Perlu dicatat bahwa SMA adalah SMA percontohan untuk proyek anti kekerasan (anti-bullying). Sebuah ironi yang lebih menyakitkan.

Lalu kita bertanya, ke mana anak-anak kita akan kita kirim untuk belajar? Sekolah ternyata bukan tempat yang aman untuk belajar. Di sekolah anak kita bisa celaka. Di sekolah justru premanisme dibiarkan. Di sekolah justru kesewenangan diajarkan.

Polisi sepertinya tidak menganggap serius kasus ini. Ada ratusan kejadian kekerasan di tanah air, seingat saya memang belum pernah ada yang berujung hingga ke pengadilan. Biasanya polisi meminta pihak-pihak yang terlibat, termasuk orang tua siswa untuk berdamai. Lalu selanjutnya pihak sekolah diminta untuk melakukan “pembinaan”.

Ini kesalahan fatal. Ini bukan perkara disiplin ringan yang bisa diselesaikan dengan cara damai dan pembinaan. Ini adalah tindak kriminal. Tindak kriminal harus diproses dengan hukum pidana. Pembiaran oleh polisi berarti membiarkan kriminal-kriminal muda tumbuh di lingkungan pendidikan. Membebaskan mereka dari jerat hukum berarti mengajarkan kepada mereka bahwa mereka bisa melakukan tindak pidana tanpa dikenai sangsi hukum.

Ini tidak boleh dibiarkan.

http://berbual.com

Didebottlenecking

5 November 2009

Anda tidak paham makna kata yang saya gunakan sebagai judul pada tulisan ini? Silahkan tanya pada Presiden SBY. Kata itu keluar dari mulutnya pada pidato di acara National Summit 2009.

Banyak orang heran. Acara kenegaraan resmi, oleh pejabat-pejabat pemerintahan Republik Indonesia dinamai dalam bahasa Inggris. Mengapa? Ternyata ini tak jauh-jauh dari urusan citra, sesuatu yang maha penting bagi SBY. Konon kegiatan ini meniru cara kerja Presiden Obama. Bahkan nama National Summit itu sendiri meniru nama acara yang digelar Obama tak lama setelah dilantik jadi presiden.

Ini lagi-lagi ciri khas SBY. Semua serba berbau Amerika. Berbau Obama. Marna-warna yang dia pakai saat kampanye tempo hari, tata letak panggung kampanye, tampilan homepage, dan banyak hal lagi, semua meniru Obama. Setelah terpilih pun dia masih juga meniru Obama. Coba lihat semboyan kabinet yang dia cetuskan. Pakai bahasa Inggris. Salah satunya adalah Change and Continuity. Lagi-lagi meniru Obama, karena Change adalah tema kampanye yang diusung oleh Obama. Bisa kita bayangkan betapa Presiden kita ini sangat tidak percaya diri.

Lucunya, dia tampaknya hanya mampu meniru hanya sampai pada soal-soal yang sepele seperti itu. Soal-soal tampak luar. Substansinya hilang. Kabinet yang ia bentuk sudah bekerja 16 hari, tapi belum punya program kerja!

Selain soal nama National Summit itu, pada pidato di acara tersebut SBY dengan fasih mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Menurut catatan KOMPAS dalam pidato selama 65 menit SBY melafalkan 75 kosa kata bahasa Inggris. Tidak hanya itu. Dia juga menggunakan istilah yang tak jelas, apakah itu bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, ya itu tadi “didebottlenecking”.

“Banyak hal yang masih ada di-”debottlenecking” ini yang harus diselesaikan,” kata SBY. Apa yang dia maksud? Kita mengenal istilah bottleneck (leher botol) untuk menggambarkan adanya hambatan. Debottlenecking adalah kira-kira bermakna “menghilangkan hambatan”. Mungkin SBY hendak mengungkapkan bahwa masih banyak perkara yang mengalami berbagai hambatan dalam penyelesaiannya, dan hambatan itu harus diurai. Saya bisa dengan mudah mengatakannya dalam bahasa Indonesia: “Masih banyak hal yang harus diurai permasalahannya.” Selesai. Tidak perlu pakai istilah asing, dan tidak perlu mengeluarkan kosa kata yang tak termuat dalam kamus bahasa manapun!

Banyak kata yang sebetulnya punya padanan yang pas dalam bahasa kita dipaksakan untuk dipakai dalam kosa kata aslinya. Lebih kacau lagi, kata tersebut ditambahi awalan dan akhiran, sehingga menjadi sebuah kata berwujud Frankenstein. Contohnya adalah kata “impeach” dan “impeachment”. Sederhananya kata “impeach” berpadanan dengan kata “pecat”. Kata ini menjadi populer di media massa Indonesia sejak skandal Bill Clinton dengan Monica Lewinski. Sejak itu media lebih suka menggunakan kata “impeach” ketimbang “pecat”, khususnya bila menyangkut lembaga kepresidenan. Maka kemudian kita mengenal kata-kata “mengimpeach” dan “diimpeach”.

Bagi saya ini adalah bentuk kedunguan dalam berbahasa. Dan sangat menyedihkan bahwa Presiden turut menjadi pelopor kedunguan ini dengan melakukannya di acara kenegaraan.

http://berbual.com

Bahasa ke Dua di Indonesia

29 October 2009

Saya menelepon ke ponsel teman. Perusahaan operator telepon itu adalah perusahaan Indonesia. Karena telepon yang saya tuju dalam keadaan tidak aktif, saya menerima pesan sebagai berikut:

“The telephone you are calling is switched off.”

Sudah. Hanya itu. Hanya pesan dalam bahasa Inggris, tidak ada pesan dalam bahasa Indonesia.

Di beberapa bioskop yang pernah saya kunjungi, petunjuk yang ditayangkan di layar sebelum film dimulai, juga ditulis dalam bahasa Inggris. Tidak ada terjemahan bahasa Indonesia sama sekali.

Kalau kita telepon hotel atau perusahaan besar di Jakarta, penjawab telepon akan menjawab dalam bahasa Inggris. Setelah tahu penelepon berbahasa Indonesia, barulah dia meladeni kita dalam bahasa Indonesia.

Saya teringat perjalanan saya ke berbagai negara. Di Jerman saat saya berbelanja ke toko penjaganya selalu menyapa saya dalam bahasa Jerman. Setelah tahu bahwa saya tidak berbahasa Jerman, barulah dia meladeni saya dalam bahasa Jerman. Demikian pula saat saya berkunjung ke Perancis, pertama kali saya akan disapa dalam bahasa Perancis. Hal yang sama saya dapatkan dalam percakapan telepon.

Dengan kata lain, di banyak negara, orang mendahulukan bahasa mereka sendiri. Bahasa kita adalah bahasa pertama dan utama, bahasa Inggris dan bahasa asing lain adalah bahasa ke dua, tiga, dan seterusnya. Sayangnya yang sering terjadi di Indonesia adalah seperti saya ungkapkan dalam ilustrasi di atas. Bahasa Indonesia adalah bahasa ke dua, atau bahkan tidak diperlukan sama sekali.

Parahnya, ini tidak hanya terjadi di dunia usaha. Birokrasi pemerintah, bahkan Kepala Negara terlihat lebih suka mendepankan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Tengoklah bagaimana Presiden merumuskan semboyan kabinetnya. Dalam bahasa Inggris! Bahasa Indonesia ditampilkan sebagai terjemahan belaka.

Kalau Presiden lebih suka mendepankan bahasa Inggris, jangan heran kalau bangsa ini lebih suka memakai produk-produk dari luar, ketimbang produk bangsa sendiri. Karena kepada mereka setiap hari diajarkan bahwa yang berasal dari luar itu lebih baik. Itulah yang sedang dipamerkan para pemimpin, khususnya sang Presiden.

Sebagai penutup, saya ajukan pertanyaan untuk Anda renungkan.

“Anda mungkin malu kalau kemampuan berbahasa Inggris Anda jelek. Tapi pernahkah Anda merasa malu kalau kemampuan berbahasa Indonesia Anda jelek?

http://berbual.com

Masayoshi

9 September 2009

Aku tak pernah berhenti menyesali keputusanku untuk berkunjung ke rumahnya di tahun baru itu. Ia kakek tua berusia 80 tahun lebih. Namanya Masayoshi Uehara. Istrinya yang nyaris setua dia, bernama Masako. Mereka tinggal di sebuah rumah, persis di berhadapan dengan bangunan apartemen di mana kami menyewa sebuah kamar untuk tempat tinggal.

Apartemen ini adalah tempat pertama di tengah pemukiman orang Jepang yang kami tinggali. Sebelumnya, selama enam tahun lebih kami selalu tinggal dormitori untuk mahasiswa asing yang disediakan oleh universitas. Waktu aku selesai kuliah di program doktor, aku mendapat tawaran untuk bekerja sebagai peneliti tamu. Dengan status baru itu aku tak lagi berhak tinggal di dormitori.

Aku berkenalan dengan pasangan kakek-nenek ini dua hari setelah kami pindah ke apartemen itu, di suatu musim gugur. Sebenarnya tak cukup tepat untuk disebut berkenalan. Waktu itu kami hanya saling bercakap sejenak. Mereka tak tahu namaku, karena aku tidak memperkenalkan diri. Mereka juga tak memperkenalkan nama mereka. Aku tahu nama mereka dari papan nama kecil bertulis huruf kanji di kotak pos di gerbang pagar rumah mereka.

Pagi itu aku dan istriku sedang menata barang-barang yang kami bawa dari dormitori ke apartemen itu. Ada cukup banyak kardus berisi barang. Di antaranya ada kardus yang cukup berat. Waktu mencoba mengangkat salah satu kardus berat itu, istriku mengalami sakit yang luar biasa pada pinggangnya. Mungkin dia keseleo. Dia merasa sakit, dan tidak bisa bergerak. Aku papah dia ke kamar tidur, lalu aku rebahkan di atas futon yang aku hamparkan seadanya. Aku melanjutkan pekerjaan menata barang-barang sambil menjaga anakku yang baru berusia sembilan bulan, sambil pula sesekali memantau kondisi istriku. Aku fikir dia cuma keseleo, dan berharap segera pulih.

Tapi hingga malam hari tak ada tanda-tanda istriku membaik. Dia tak bisa bergerak. Setiap kali mencoba bergerak dia menjerit kesakitan. Khawatir keadaannya makin memburuk, aku putuskan untuk menelepon pemadam kebakaran, untuk minta bantuan ambulan. Saat itu sudah sekitar pukul sepuluh.
Tak lama setelah kutelepon, ambulan datang. Dengan tandu istriku diangkut keluar apartemen, lalu dimasukkan ke ambulan. Aku ikut masuk, sambil menggendong anakku yang sedang tidur. Dengan ambulan kami menuju rumah sakit terdekat.

Saat masuk ambulan aku lihat pasangan kakek-nenek itu keluar rumah. Ambulan itu memang tak membunyikan sirene saat masuk ke depan apartemen kami. Tapi apartemen itu terletak di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilewati satu mobil. Rumah kakek-nenek itu tak lebih dari dua meter dari pinggir jalan. Kilatan lampu sirene ambulan membuat mereka keluar rumah, dengan wajah ingin tahu. Tak sempat aku menyapa mereka karena aku buru-buru masuk ambulan.

Malam itu setelah isteriku diperiksa dokter aku diberitahu bahwa dia harus menjalani rawat inap selama beberapa hari. Naik taksi aku pulang ke apartemen sambil memeluk anakku.

Esok hari, saat aku keluar apartemen untuk pergi ke rumah sakit, aku lihat Masako san di depan rumahnya. Dia menyapaku dengan wajah khawatir.

“Kino douka sarenano desuka.” tanyanya dalam sonkeigo, bahasa Jepang halus. Dia menanyakan ada apa semalam. Aku jelaskan bahwa istriku mengalami masalah dengan otot pinggangnya. Gikkorigoshi, itu istilah bahasa Jepang yang diberitahukan dokter kepadaku tadi malam. Saat istilah itu aku sebutkan, dia langsung paham.

“Sore wa taihen desune.” katanya prihatin. „Kalau butuh bantuan, jangan segan-segan memberi tahu kami.“

Aku mengangguk dan lalu pamit untuk melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.

Beberapa hari kemudian istriku sembuh, lalu keluar dari rumah sakit. Kejadian sakitnya istriku itu membuka hubungan kami dengan pasangan kakek-nenek itu.

+++
Apartemen yang kami sewa kecil dan sederhana. Berlantai tiga dan tak terlalu luas. Khas apartemen di kota-kota kecil di Jepang. Bangunan ini sebenarnya lebih cocok disebut rumah kos. Letaknya hanya beberapa ratus meter dari kampus. Kamar-kamarnya kecil, cocok untuk hunian mahasiswa. Kamar yang kami sewa terletak di lantai satu, tadinya adalah dua kamar, digabung menjadi satu untuk memperoleh kamar yang lebih besar. Hanya kami penghuni yang berkeluarga di apartemen itu.

Rumah kakek-nenek tadi persis di depan apartemen kami. Pintu pagarnya persis berhadapan dengan pintu keluar apartemen. Hanya terpisah oleh jarak kira-kira dua meter. Di sekitar situ banyak rumah-rumah penduduk, juga beberapa apartemen. Kami tak pernah bertegur sapa dengan penduduk di sekitar apartemen. Paling-paling hanya saling bertukar senyum tipis atau anggukan kecil saat berpapasan.

Tapi dengan kakek-nenek ini agak lain. Setidaknya aku bertukar salam “ohayougozaimasu” atau “konnichiwa” kalau bertemu mereka. Sesekali aku berbincang ringan dengan mereka. Istriku tak pernah berbincang, karena kemampuan bahasa Jepangnya agak terbatas. Ia akan kesulitan kalau berbicara dengan kakek-nenek yang menggunakan bahasa Jepang dengan dialek lokal dan gaya orang tua.

Makin lama berinteraksi kami makin akrab. Kadang kakek-nenek itu memberi kami makanan atau buah-buahan. Sesekali sengaja mereka membeli mainan kecil di pasar untuk anak kami. Kami membalasnya dengan memberi makanan juga, khususnya kalau kami membuat makanan Indonesia yang menurut kami cocok untuk lidah orang Jepang.

Di musim semi mereka mengantarkan sakuranbo (cherry). Musim panas anakku dihadiahi satu set hanabi (kembang api). Musim gugur giliran buah kaki (kesemak) dari pohon di halaman rumah mereka di antarkan kepada kami.

Musim dingin ini adalah musim dingin ke dua kami tinggal di apartemen ini, dan bertetanggan dengan kakek-nenek itu. Tahun baru sudah menjelang. Ini adalah hari istimewa bagi orang Jepang. Suasananya persis seperti lebaran di negeri kita. Karena hubungan baik kami sudah berlangsung setahun lebih, aku putuskan untuk mengunjungi kakek-nenek itu ke rumah mereka saat tahun baru. Istriku setuju dengan gagasanku.

Begitulah. Di suatu petang, tanggal 1 Januari, kami bertiga berkunjung ke rumah itu untuk menyampaikan ucapan selamat tahun baru. Kakek-nenek itu menyambut dengan gembira. Ketika itulah baru kami berbincang lebih akrab.

Kakek-nenek ini punya anak laki-laki. Anak tunggal. Dia bekerja di Tokyo, dan sudah berkeluarga. Anaknya dua, sudah usia sekolah dasar. Biasanya anaknya pulang saat tahun baru. Tapi tahun ini tidak pulang.

Obrolan kami akhirnya tiba pada suatu topik yang memicu petaka. Sesuatu yang tak pernah aku sangka akan terjadi. Kakek itu bercerita bahwa dia pensiunan tentara. Dia jadi tentara saat Perang Dunia II. Dia bertugas di Indonesia saat itu. Di Tarakan tepatnya. Dua tahun dia bertugas di Tarakan. Dia kembali ke Jepang saat Jepang kalah perang dan mundur dari kawasan Asia yang dikuasainya. Hanya itu yang dia ceritakan. Tak detil.

Pulang dari rumah itu istriku banyak diam. Wajahnya agak cemberut. Ini memberi firasat tak sedap. Biasanya ini adalah tanda bahwa ada yang kuran berkenan di hatinya. Ujungnya adalah pertengkaran kami. Sebuah situasi yang paling aku benci.

„Ada apa?“ tanyaku lembut, mencoba untuk tak mengobarkan amarahnya.

Dia hanya diam. Dan ini paling rumit buatku. Aku tak pandai merayu istriku bila ia merajuk. Sejak dulu tak pandai, sekarangpun tak pandai.

“Ada kata-kataku yang menyinggung perasaanmu?“

Dia masih diam. Aku juga akhirnya terdiam, tak tahu harus berkata apa. Putus asa aku alihkan perhatianku pada anakku, dan beberapa pekerjaan kecil di rumah.

„Aku benci kakek itu.“ kata istriku beberawa saat kemudian. Ucapan itu mengejutkanku. Aku sama sekali tak menyadari ada yang membuat istriku kesal pada kakek itu.

„Kenapa?“ tanyaku hati-hati.

„Masa Abang nggak ngerti?“ tanyanya balik. Duh, ini pertanyaan yang selalu menusuk. Selalu membuatku merasa gagal jadi laki-laki. Gagal memahami perasaan perempuan, istriku.

“Kakek tua bangka itu adalah bekas serdadu Jepang. Tahu kan apa yang mereka lakukan selama menjajah Indonesia? Coba Tanya, berapa perempuan yang dia perkosa selama bertugas di Indonesia?” omel istriku berang.

Aku terhenyak. Lagi-lagi kehabisan kata-kata. Tak pernah aku menyangka bahwa masa lalu kakek itu akan membuat istriku berang. Aku coba membantah. Kakek itu belum tentu sejahat itu. Lagipula ia tak menyakiti kami.

„Ya itulah. Abang memang tak pernah paham perasaan perempuan.“ Itu kata-kata pemungkas dari istriku, nyaris di setiap pertengkaran kami.

+++

Sejak itu aku menghindari interaksi dengan kakek itu. Juga dengan istrinya. Sungguh, aku merasa mereka sama sekali tak bersalah pada kami. Tapi aku harus menjaga perasaan istriku. Dia gampang tersinggung.

Aku coba memahami perasaan istriku. Tak ada keluarga kami yang terkena perbuatan jahat tentara Jepang di jaman penjajahan dulu. Tak ada perempuan dari keluarga kami yang diperkosa tentara Jepang. Tapi istriku memang sensitif terhadap kejahatan serdadu. Khususnya kejahatan terhadap perempuan. Juga terhadap anak-anak. Setiap kejahatan itu bagi dia seperti serangan terhadap diri pribadinya. Aku coba berempati padanya.

Sejak tahun baru itu aku selalu menghindar dari kakek itu. Juga dari istrinya. Kalau kulihat salah satu dari mereka ada di depan rumah saat aku hendak keluar apartemen, aku tunda sampai mereka masuk. Demikian pula saat aku hendak pulang. Aku berputar balik, menunda ketibaan di apartemen kalau aku lihat mereka di depan rumah.

Begitulah. Selama sisa masa tinggal kami di apartemen itu, interaksi dengan kakek-nenek itu jauh berkurang. Sangat jauh. Aku rasa mereka juga sadar akan hal itu.

Lalu tibalah saatnya kami mudik ke tanah air. Saat itu sudah penghujung musim gugur. Artinya hampir setahun aku menghindar dari kakek-nenek itu. Pekerjaanku sebagai peneliti tamu selesai, aku harus pulang bersama keluargaku. Satu hal yang mengganggu adalah bahwa aku merasa harus berpamitan dengan kakek-nenek itu. Tapi aku juga tak mau melukai perasaan istriku.

Diam-diam, suatu hari, beberapa hari menjelang keberangkatanku ke tanah air, aku menyelinap sendirian ke rumah kakek-nenek itu. Aku berpamitan, terburu-buru. Setelah aku mengabarkan bahwa kami sekeluarga hendak pulang ke tanah air dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan selama ini, aku lagi-lagi dihadapkan pada kejadian yang tak pernah aku duga.

Kakek itu, Masayoshi Uehara, bersujud di depanku. Sujud khas orang Jepang. Menunduk dalam, wajahnya menyentuh tatami tempat aku duduk.

„Wareware, mukashi hidoi koto wo shite shimatte, makotoni mousiwake arimasen.” Ia meminta maaf atas perbuatan buruk di masa lalu. Aku sangat terkejut. Lalu bayangan yang selama ini menghuni benak istriku terasa mulai menghantui benakku pula. Aku membayangkan kakek tua ini sebagai serdadu muda yang bengis, liar. Seorang pemerkosa dan penjagal.

Tapi bayangan itu hanya sekejap. Kakek tua itu, masih dalam keadaan bersujud, melanjutkan. Seakan dia membaca isi fikiranku.

„Jangan salah sangka. Tak pernah sekalipun aku berbuat buruk pada bangsamu. Aku tak membunuh mereka. Tak menyakiti mereka. Aku juga tak memperkosa. Tapi teman-temanku melakukan itu semua. Aku tak sanggup mencegah mereka, menghentikan mereka. Untuk itulah aku minta maaf padamu. Pada bangsamu.“

Ketika ia bangun dari sujudnya, wajahnya berurai air mata.

http://berbual.com

Paranoia Kristenisasi

2 September 2009

Suatu ketika di tahun 2005. Saat itu saya bekerja sebagai dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Kebetulan saya menjabat sebagai Ketua Jurusan/Program Studi. Saya sebetulnya baru saja pulang dari tugas belajar di luar negeri. Saya diangkat jadi Ketua Jurusan karena posisi itu lowong, dan kami sedang kekurangan staf pengajar.

Suatu hari saya menerima SMS berbunyi sebagai berikut:
“Tolong kau awasi gerak-gerik Ibu B itu. Hati-hati, sudah ada satu
mahasiswa kita yang dia murtadkan.”
Pengirim SMS itu adalah kawan saya, beberapa tahun lebih tua dari saya. Saya mengenal dia sejak sama-sama kuliah. Kebetulan kami satu fakultas, dan saya juga pernah tinggal sekamar dengan dia di asrama daerah tempat saya tinggal di masa-masa awal kuliah dulu. Saat mengirim SMS itu dia adalah Dekan di fakultas tempat saya bekerja. Artinya dia adalah atasan saya.

(more…)