<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berbual &#187; Politik dan Birokrasi</title>
	<atom:link href="http://berbual.com/category/politik-dan-birokrasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://berbual.com</link>
	<description>tempat ngobrol ngalor-ngidul</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Jul 2010 04:37:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>MUI Berfikir dengan Cara yang Pelik</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/mui-berfikir-dengan-cara-yang-pelik/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/mui-berfikir-dengan-cara-yang-pelik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 04:37:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/mui-berfikir-dengan-cara-yang-pelik/</guid>
		<description><![CDATA[MUI mengharamkan salah satu jenis vaksin untuk penyakit meningitis, dengan alasan bahwa proses pembuatannya tercemar oleh babi. Hal ini sempat menimbulkan masalah dalam pelaksanaan haji, di mana jamaah haji diwajibkan untuk divaksin. Cerita soal keterlibatan babi ini bukan hal baru, karena sebelumnya juga pernah terjadi yang lebih heboh, menyangkut produk Ajinomoto. Bagi saya, cara berfikir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MUI mengharamkan salah satu jenis vaksin untuk penyakit meningitis, dengan alasan bahwa proses pembuatannya tercemar oleh babi. Hal ini sempat menimbulkan masalah dalam pelaksanaan haji, di mana jamaah haji diwajibkan untuk divaksin. Cerita soal keterlibatan babi ini bukan hal baru, karena sebelumnya juga pernah terjadi yang lebih heboh, menyangkut produk Ajinomoto. Bagi saya, cara berfikir MUI dalam melihat masalah terlalu pelik.</p>
<p>Saya ingat dulu di MUI pernah ada perdebatan cukup panjang mengenai kandungan alkohol dalam obat. Sebuah perdebatan yang sebenarnya tidak perlu. Quran mengharamkan khamar. Itupun penegasannya sebenarnya pada perbuatan minum khamar (rijsun min amalis syaithan), bukan pada zat khamar itu sendiri. Tapi sebagian ulama modern berfikir dengan cara yang pelik tadi. Ketika tahu bahwa khamar itu memabukkan oleh karena kandungan alkoholnya, maka pesan Quran yang mengharamkan khamar tadi direduksi alias dipelikkan menjadi urusan bahwa alkohol itu haram. Maka muncullah perdebatan yang tidak perlu mengenai status alkohol dalam obat, kosmetik, dan lain-lain. Kesimpulan akhir MUI, hindari minum obat dengan kadar alkohol lebih dari 1%.</p>
<p>Saya pernah berdiskusi cukup panjang dengan Pak Azhar Basyir (almarhum), Ketua Umum PP Muhammadiyah. Waktu itu pendapat beliau adalah yang dimaksud khamar itu adalah sesuatu yang secara sosial biasa dipakai untuk bermabuk-mabukan. Poin terpenting di sini adalah menyangkut peri laku sosial, bukan sekedar soal zat khamarnya. Artinya, dalam konteks obat, berapa persenpun kadar alkoholnya tidak jadi masalah, karena tidak ada unsur bermabuk-mabukan di situ. Dalam fikiran saya sendiri, kalau misalnya khamar itu dipakai untuk keperluan lain di luar urusan bermabuk-mabukan, misalnya dijadikan bumbu masak, maka ia tak perlu lagi diharamkan.</p>
<p>Lebih rumit lagi ketika yang diharamkan adalah alkohol. Quran sama sekali tidak menyebut alkohol. Alkohol sendiri terkandung pada berbagai makanan yang tidak dianggap haram seperti buah-buahan maupun makanan olahan. Bila alkoholnya yang diharamkan, maka persoalan menjadi tambah pelik.</p>
<p>Dalam hal babi, yang diharamkan Quran adalah daging babi (lahm hinzir). Tentu kita tidak perlu nakal dengan berandai-andai bahwa yang bukan daging, seperti kaldu, kulit, dan lain-lain itu tidak haram. Tapi juga saya kira berlebihan kalau segala sesuatu yang menyangkut babi lantas diharamkan.</p>
<p>Yang saya pahami dari ayat mengenai haramnya daging babi adalah daging babi haram dikonsumsi sebagai produk makanan. Sedangkan pada kasus Ajinomoto maupun vaksin meningitis, kita sebenarnya bicara pada tingkat kimiawi, atau pada tingkat molekuler. Demikian pula halnya pada soal alkohol. Dengan kata lain, telah terjadi penyelewengan dari pengharaman khamar menjadi pengharaman alkohol, juga pengharaman daging babi dengan pengharaman bahan-bahan kimia yang proses pembuatannya melibatkan babi.</p>
<p>Saya tidak tahu persis soal keterlibatan babi dalam pembuatan virus meningitis. Tapi menyangkut Ajinomoto, yang dipermasalahkan adalah katalis yang dibuat dari babi. Katalis sendiri sebenarnya tidak menjadi produk akhir dari sebuah reaksi kimia, karena ia akan didapatkan kembali di akhir reaksi. Tapi di luar soal itu, reduksi dari daging babi ke tingkat molekuler adalah soal utamanya.</p>
<p>Kita misalnya bisa mengekstrak air dari daging babi. Air murni, H2O. Lalu apakah air yang kita hasilkan dari daging babi ini menjadi haram? Kenapa? Apa bedanya ia dengan air yang kita hasilkan dari air sungai atau air laut? Bedanya hanya karena ia pernah lewat di tubuh babi. Tapi siapa yang menjamin bahwa air yang biasa kita minum itu tidak pernah lewat di tubuh babi? Lha air itu bersumber dari hujan, dan hujan itu hasil penguapan yang terjadi di muka bumi, termasuk dari tubuh dan kotoran babi, juga dari tubuh dan kotoran manusia. Bukankah air yang kita minum juga kemungkinan pernah lewat di tubuh babi?</p>
<p>Lihatlah betapa peliknya kalau ayat Quran yang bicara soal daging dipelikkan menjadi urusan molekul. Singkat kata, yang diharamkan Quran menyangkut babi adalah dagingnya, artinya produk makanan yang nyata-nyata berasal dari daging babi yang diolah. Sedangkan sesuatu yang sudah diolah dengan berbagai proses kimiawi, meskipun melibatkan atau bersumber dari babi tidak lagi dapat dikategorikan sebagai daging babi (lahm hinzir). Dalam hal yang terakhir ini kita sudah berurusan dengan molekul, bukan lagi daging.</p>
<p>Penentuan tingkat ini menurut saya penting. Karena tidak ada dasar untuk menggiring hal sederhana dalam Quran menjadi hal yang pelik hingga ke tingkat molekul. Kalau itu dilakukan, mbok ya jangan berhenti di situ. Bahan-bahan organik seperti alkohol atau daging babi itu penyusunnya tak lebih dari karbon, nitrogen, oksigen, dan hidrogen. Yang membedakan hanyalah bagaimana unsure-unsur tersebut membentuk ikatan. Apakah kita mau haramkan atom-atom itu? Atau kalau mau dipelikkan lagi, semua bahan itu ya ujung-ujungnya terdiri dari elektron, proton, dan netron. Kalau sudah begitu, semua jadi haram deh.</p>
<p>Jadi, kembali lah ke hal yang paling mendasar dalam agama, jangan mempersulit. Ketika seorang sahabat menerima daging yang tak jelas berasal dari hewan yang sudah disembelih atau tidak, Rasulullah hanya berpesan, bacalah basmalah ketika makannya, maka daging itu jadi halal. Tak pelik bukan?</p>
<p>Disclaimer: Penulis bukan ahli agama, juga bukan ahli kimia. Ia hanya seorang yang ahli dalam urusan yang bukan-bukan.</p>
<p>http://berbual.com/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/mui-berfikir-dengan-cara-yang-pelik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Anak Usia Dini, untuk apa?</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/pendidikan-anak-usia-dini-untuk-apa/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/pendidikan-anak-usia-dini-untuk-apa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 02:49:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/pendidikan-anak-usia-dini-untuk-apa/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika pulang ke Indonesia awal tahun 2007 anak saya yang pertama baru berusia 5 tahun, masih di TK. Sebelumnya dia masuk TK di Jepang. Pulang ke tanah air saya masukkan dia ke TK Islam di dekat rumah kami. Setelah mengetahui bahwa kami dari Jepang, guru TK yang saya temui berkomentar, &#8220;Kami bisa terima anak Bapak. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika pulang ke Indonesia awal tahun 2007 anak saya yang pertama baru berusia 5 tahun, masih di TK. Sebelumnya dia masuk TK di Jepang. Pulang ke tanah air saya masukkan dia ke TK Islam di dekat rumah kami. Setelah mengetahui bahwa kami dari Jepang, guru TK yang saya temui berkomentar, &#8220;Kami bisa terima anak Bapak. Tapi harap maklum kalau nanti dia tidak bisa mengejar ketertinggalan pelajaran.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudnya bagaimana?&#8221; tanya saya.</p>
<p>&#8220;Teman-teman sekelasnya sudah maju dalam pelajaran, seperti hafalan surat-surat pendek dan doa. Kami tidak bisa menjamin bahwa dia akan bisa mengejar ketertinggalannya.&#8221;</p>
<p>Saya jawab bahwa bagi saya hafalan itu tidak penting. Saya tidak berharap anak saya belajar di TK. Saya berharap dia bermain dan menikmati masa kecilnya.</p>
<p>Kini giliran anak kedua saya Ghifari masuk TK. Tiap akhir caturwulan guru TK Ghifari selalu menyodorkan rapor, rekaman kemajuan anak saya itu. Dia menunjukkan poin-poin di mana anak saya masih perlu meningkatkan diri. Lagi-lagi soal pelajaran. Dan tiap kali juga saya jelaskan bahwa bagi saya itu tidak penting. Saya malah tidak ingin anak saya diajari berbagai hal, seperti membaca dan berhitung, karena itu belum perlu.</p>
<p>Saya masih ingat bagaimana Mendikbud Fuad Hasan marah ketika tahu banyak TK yang mengajarkan anak-anak membaca dan menulis. Menurut beliau itu berlebihan karena pendidikan anak usia dini tidak untuk itu. Saya setuju dengan pendapat Pak Fuad itu.</p>
<p>Tapi guru-guru TK juga terjepit oleh tuntutan orang tua murid. Orang tua menuntut agar TK mengajarkan baca tulis. Alasannya, ujian masuk SD sudah mengharuskan anak-anak yang hendak masuk SD bisa baca tulis. Tak sedikit orang tua yang menyuruh anaknya ikut les baca tulis di sore hari.</p>
<p>Menghadapi suasana ini saya terkenang pada TK tempat Sarah bermain selama setahun di Jepang. Setiap pagi saya mengantar Sarah. Beberapa kali saya juga hadir dalam berbagai kegiatan yang melibatkan orang tua. Jadi sedikit banyak saya tahu tentang seluk beluk kegiatan di situ.</p>
<p>TK di dekat rumah kami berupa sebuah bangunan sederhana, dengan tiga ruang kelas, satu aula, dan halaman yang luas. Luas halaman nyaris sama dengan luas gedung. Untuk ukuran Jepang di mana harga tanah sangat mahal, ini luar biasa mewah. Di halaman itulah anak-anak bermain.Kegiatan di kelas dimulai jam 8.30. Banyak anak yang sudah datang sebelum jam 8. Mereka bermain bebas di halaman. </p>
<p>Saya biasanya mengantar Sarah sekitar jam 8. Masuk ke gerbang, lalu berganti sepatu yg khusus untuk dipakai di dalam ruangan di pintu masuk (genkan). Menarik bahwa di titik itu guru biasanya menyambut sambil mengucapkan salam. Biasanya saya membawakan tas Sarah. Di titik itu gurunya mengambil tas itu dari tangan saya, lalu memindahkannya ke Sarah. Dia harus membuka sepatu sendiri, meletakkannya di tempat sepatu, dan menggantinya dengan sepatu khusus untuk di ruangan. Lalu dia juga harus pergi sendiri ke tempat menyimpan tas dan jaket, menaruh semuanya di situ. Anak-anak diajar mandiri sejak masuk genkan.</p>
<p>Kelas adalah sebuah ruangan kecil dan sederhana. Ada bangku-bangku kecil, mainan, dan berbagai hasil pekerjaan anak-anak. Yang menonjol adalah adanya piano. Setiap kelas ada satu piano. Dan setiap guru mahir bermain piano. Aba-aba mengajak anak-anak duduk atau berdiri menggunakan irama piano. Hal pertama yang dilakukan dikelas adalah menyangi dengan iringan piano. </p>
<p>Kegiatan di TK berlangsung hingga jam 11.30. Selama itu anak-anak bermain, menyanyi, mendengarkan dongeng, dan sejenis itu. Tak ada saya lihat alat peraga angka-angka atau huruf yang menunjukkan bahwa anak-anak diajari pelajaran. Pelajaran yang terasa menonjol adalah pelajaran bersikap. Pelajaran mandiri.</p>
<p>Anak-anak diajari untuk menata sendiri bangku-bangku mereka. Juga mengembalikan alat/mainan ke tempat semula setelah digunakan. Membuang sampah dengan benar, juga membersihkan kotoran yang terlihat. Semua dilakukan sambil bermain.</p>
<p>Dua bulan yang lalu ada kegiatan hari Kartini di sekolah Ghifari. Anak-anak diberi hadiah berupa makanan kecil dan minuman. Tapi saya tak melihat ada tempat sampah di situ. Anak-anak makan lalu membuang bungkus makanan sembarangan. Sampah bertebaran di mana-mana.</p>
<p>Saya dekati salah satu guru Ghifari. &#8220;Bu, kenapa tidak disediakan tempat sampah? Bukankah ini momen yang penting untuk mengajari anak-anak membuang sampah dengan benar?&#8221; protes saya.</p>
<p>&#8220;Oh, ada kok, Pak. Ini dia.&#8221; katanya sambil menunjukkan sebuah kardus yang tertutup. Tidak ada tulisan yang menunjukkan bahwa itu tempat sampah. Juga tidak ada yang mengingatkan anak-anak untuk membuang sampah di situ. Saya ambil kotak itu, saya kumpulkan sampah-sampah yang bertebaran, lalu saya masukkan ke kotak itu. Tak ada orang lain yang peduli dengan apa yang saya lakukan.</p>
<p>htpp://berbual.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/pendidikan-anak-usia-dini-untuk-apa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Radio</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/radio/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/radio/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 03:01:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/radio/</guid>
		<description><![CDATA[Ayah sebenarnya suka pada radio. Di kampung kami hampir tak ada sarana hiburan. Alunan lagu-lagu yang disiarkan oleh RRI atau RTM (Radio Televisyen Malaysia) adalah hiburan yang menyenangkan. Tapi bagi Ayah radio lebih dari sekedar lagu-lagu. Ada azan pemberi tahu waktu salat. Juga ada ceramah agama.
Tapi Ayah tak hendak membeli radio. “Ah, apa pula bagusnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ayah sebenarnya suka pada radio. Di kampung kami hampir tak ada sarana hiburan. Alunan lagu-lagu yang disiarkan oleh RRI atau RTM (Radio Televisyen Malaysia) adalah hiburan yang menyenangkan. Tapi bagi Ayah radio lebih dari sekedar lagu-lagu. Ada azan pemberi tahu waktu salat. Juga ada ceramah agama.</p>
<p>Tapi Ayah tak hendak membeli radio. “Ah, apa pula bagusnya. Hanya ada suara orang menyanyi dan mengaji, tapi tak nampak orangnya. Kalau dah nampak orangnya, barulah aku mau beli.” begitu dalih Ayah selalu kalau ada orang menawarkan radio kepadanya. Aku tak sepenuhnya percaya bahwa itu alasan yang sebenarnya. Ayah sepertinya memang menahan diri untuk tidak membelanjakan uangnya untuk kesenangan, karena anak-anaknya mesti disekolahkan.</p>
<p>Ayah harus berpuas dengan limpahan suara radio tetangga. Di kampung kami orang biasa berbagi. Termasuk dalam hal suara radio. Orang yang punya radio membunyikan radionya keras-keras agar tetangga juga bisa ikut mendengar.</p>
<p>Waktu berlalu. Di kota kata orang sudah ada televisi. Ya, inilah radio impian Ayah. Yang menyanyi dan berbicara sudah terlihat. Orang-orang menggoda Ayah untuk membeli. “Nah, sekarang radio impian awah sudah ada, bila nak beli?” begitu tuntutan mereka. Ayah Cuma tersenyum kecut, termakan omongannya sendiri. Ketika itu abangku sudah lulus SPG dan mulai bekerja sebagai guru di kota. Ayah mungkin sudah sedikit lega, lalu memanjakan dirinya dengan sebuah kesenangan kecil. Ayah membeli televisi? Ah, tidak. Ayah hanya membeli sebuah radio.</p>
<p>Radio yang dibeli Ayah adalah radio tiga band. Sudah pakai transistor. Jauh terlihat lebih modern dari radio tua yang ada di rumah nenek. Badannya dari plastik, bukan kayu. Ukurannya juga kecil, bisa dibawa-bawa. Baterinya tiga. Kalau bateri lampu senter Ayah sudah melemah, bateri tersebut dipasang di radio.</p>
<p>Sejak punya radio barang pujaan Ayah yang tak boleh disentuh orang lain bertambah jadi dua. Tadinya hanya lampu senter. Ayah marah besar kalau aku main-main dengan benda itu. Khususnya bila saat dia membutuhkannya di malam hari dia tak menemukannya. Pastilah aku jadi sasaran amuknya. Kini barang pusaka Ayah bertambah satu lagi, yaitu radio.</p>
<p>Ayah tak mengizinkan aku menyentuh radio itu. “Nanti rusak.” katanya. Aku paham. Dan aku pun tak tertarik benar dengan radio. Tak seperti lampu senter yang selalu memancing hasratku untuk menyentuh dan menyalakannya. </p>
<p>Ayah suka mendengar warta berita, juga ceramah agama. Untuk lagu-lagu Ayah lebih suka mendengarkan RTM. RRI banyak menyiarkan lagu-lagu yang tak dikenal Ayah. Sedangkan dari RTM masih sering mengalun lagu-lagu dari penyanyi kegemaran Ayah, P. Ramlee.</p>
<p>Tapi radio bagi Ayah bukan hanya itu. RRI di kota punya acara berita pendengar yang disiarkan petang hari menjelang magrib. Sambil menunggu azan Ayah menyimak berita-berita itu. Berita atas permintaan pendengar, ditujukan untuk pendengar lain. Berbagai ragam berita yang disiarkan. Ada berita gembira seperti kelahiran, ada juga berita duka tentang sakit dan kematian. Pedagang yang berniaga menyampaikan berita tentang harga-harga barang dagangan.</p>
<p>Aku masih ingat betul suaranya. „Berita berikut datang dari Pak Aslam di Pontianak, ditujukan kepada sanak saudara di Kubu. Isi berita, telah berpulang ke rahmatullah ibunda kami&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..“ Kadang-kadang ada sanak saudara di kota yang mengirim berita kepada orang di kampung kami. Kalau Ayah mendengar berita itu, dia akan bergegas menyampaikannya kepada yang dituju. </p>
<p>Sesekali Emak juga mengirim berita kalau dia sedang pergi ke kota. Emak seorang pedagang. Dia membeli pakaian, obat, kosmetik, serta berbagai barang lain di kota, untuk dijajakan berkeliling kampung. Kalau ke kota, Emak berbelanja dalam jumlah besar. Emak pulang naik kapal motor. Tapi kapal motor hanya sampai ke kecamatan. Dari situ harus naik sampan lagi ke kampung kami. </p>
<p>Menjelang pulang Emak mengirim berita, memberitahukan dia akan pulang hari apa. Lalu pada hari tersebut aku dan Ayah berkayuh sampan, pergi menjemput Emak ke kecamatan.</p>
<p>Aku pernah mendapat berita yang ditujukan untuk diriku sendiri. Hanya sekali. Waktu itu Emak dan Ayah pergi ke kota. Emak sakit dan dia perlu berobat. Aku pikir Emak hanya perlu ke dokter untuk diperiksa dan minta obat, lalu segera kembali. Tapi dua hari setelah keberangkatannya aku mendengar berita dari Ayah, melalui radionya. Isinya: Emak harus diopname di rumah sakit.</p>
<p>Kelak setelah aku sekolah di madrasah tsanawiyah di kota, aku bersama dua siswa lain dipilih untuk mewakili sekolah dalam acara cerdas cermat kandungan al-Quran pada acara MTQ. Aku jadi juru bicara. Acaranya disiarkan langsung oleh RRI. Di tingkat kota kami juara. Lalu kami mewakili kota di MTQ tingkat provinsi, kami juara tiga. Acara itu juga disiarkan secara langsung oleh RRI. Ayah memberi tahu dan mengajak orang kampung untuk mendengarkan siaran itu.</p>
<p>http://berbual.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/radio/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembuat Keputusan Radikal</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/pembuat-keputusan-radikal/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/pembuat-keputusan-radikal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 02:59:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[pindah karir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/pembuat-keputusan-radikal/</guid>
		<description><![CDATA[Selama sekolah di Jepang saya berkenalan dengan orang-orang yang menurut saya brilliant di bidang sains. Saya menduga mereka ini akan menjalani karir di dunia riset hingga pensiun. Kebanyakan memang demikian. Tapi ada beberapa yang pindah jalur, dan ini sungguh mencengangkan bagi saya. 
Yang pertama akan saya perkenalkan Elisabeth Kurtz. Ia orang Jerman, lulusan Universitas Wurzburg. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama sekolah di Jepang saya berkenalan dengan orang-orang yang menurut saya brilliant di bidang sains. Saya menduga mereka ini akan menjalani karir di dunia riset hingga pensiun. Kebanyakan memang demikian. Tapi ada beberapa yang pindah jalur, dan ini sungguh mencengangkan bagi saya. </p>
<p>Yang pertama akan saya perkenalkan Elisabeth Kurtz. Ia orang Jerman, lulusan Universitas Wurzburg. Saat saya sedang belajar di program master Eli, begitu kami biasa memanggilnya, adalah Post-doctoral Fellow di grup riset kami. Ia melakukan riset di bidang penumbuhan kristal semikonduktor dengan metode molecular beam epitaxy (MBE). </p>
<p>Bidang riset saya sebenarnya berbeda agak jauh dengan Eli. Tapi kami sering berdiskusi, khususnya selama seminar mingguan di lab. Saya mengenal Eli sebagai ilmuwan yang cerdas. Ini ditandai dengan banyaknya publikasi dia di berbagai jurnal ilmiah internasional.</p>
<p>Setelah menyelesaikan program post doctoralnya Eli kembali ke Jerman dan bekerja sebagai asisten profesor di almamaternya. Tapi saya terkejut ketika beberapa tahun kemudian mendapat kabar lagi dari Eli. Dia berhenti bekerja sebagai ilmuwan. Dia berkarir sebagai desainer grafis, sekaligus melanjutkan usaha ayahnya yang baru saja meninggal. Dalam e-mailnya pada saya Eli menulis, „I finally realized that graphic designing is the world where I belong.” </p>
<p>Saya terkesima. Eli bukan ilmuwan kacangan. Di akhir karirnya ia tercatat telah mempublikasikan 43 makalah di berbagai jurnal ilmiah. Dengan beberapa tahun berkarir lagi dia akan jadi profesor. Itu bukan main-main. Hanya ilmuwan yang benar-benar berbakat yang bisa begitu. Tapi sungguhpun begitu Eli mengatakan bahwa Fisika sebenarnya bukan dunia dia. Dunia dia adalah desain grafis.</p>
<p>Eli juga sepertinya tidak main-main dengan desain grafis. Perusahaan yang ia kelola juga bukan perusahaan main-main. Salah satu kliennya adalah Braun, produsen alat cukur elektronik.<br />
Saya kagum pada dua hal dalam keputusan Eli untuk berganti karir. Pertama, keberaniannya membuat keputusan radikal, pindah karir ke dunia yang sama sekali tak berhubungan dengan karir dia sebelumnya. Kedua pada multi-bakat yang dia miliki. Dia bisa menjadi fisikawan yang hebat, tapi kemudian juga bisa jadi seorang desainer. Profil Eli dan perusahaannya bisa dilihat di sini: http://www.elikurtz.de/ http://www.kurtzdesign.de/</p>
<p>Teman saya yang lain adalah Meoung-Whan Cho, orang Korea. Saat saya pertama kali mengenalnya dia adalah mahasiswa program doktor. Sebelum sekolah ke Jepang dia adalah engineer di LG, perusahaan elektronik Korea. Bidang risetnya hampir sama dengan Eli, dan mereka banyak berkolaborasi menerbitkan makalah. Saat itu, akhir dekade 90-an, laser dioda berwarna biru belum berhasil dibuat. Cho waktu itu terlibat dalam „perlombaan“ membuat dioda itu. Ia bekerja sama dengan peneliti dari Sony.</p>
<p>Dan Cho berhasil. Saya masih ingat, suatu pagi Cho berteriak-teriak membuat keributan di lab. “Yatta…………yatta.“ teriaknya. Sebuah teriakan dalam bahasa Jepang yang artinya kurang lebih sama dengan „I did it.“ Saya dan beberapa teman lain mendatangi Cho, dan kemudian kami melihat dioda buatan Cho bersinar biru. Cho berhasil membuat dioda itu, meski dia bukan yang pertama. Dengan temuan itu Cho meraih gelar doktor.</p>
<p>Setelah lulus Cho mengikuti jejak Eli, menjadi Post-doctoral selama dua tahun lalu kembali ke Korea sebagai Senior R n D Engineer di LG. Tadinya saya fakir Cho akan menikmati karirnya. Ternyata saya keliru. Tak lama setelah itu saya bertemu kembali dengan Cho. Dia menjadi associate professor di lab. tempat kami belajar dulu. Sebuah pilihan yang masuk akal sebenarnya, kalau saya tidak diberitahu latar belakang pilihannya itu.</p>
<p>Cho ternyata tak sampai setahun mudik ke Korea. Dia memutuskan untuk berhenti bekerja di Korea, lalu memilih beremigrasi ke Kanada. Ia mendapat green card dan memboyong keluarganya pindah. Alasan dia, pendidikan di Korea tak lagi bagus. Anak-anak dipaksa belajar demi nilai ujian dan nilai rapor yang bagus. Tak ada lagi waktu bagi anak-anak untuk bermain dan menikmati masa kecil dan remaja mereka.<br />
Sayangnya karir Cho di Kanada juga tidak mulus. Akhirnya ia kembali ke tempat dia belajar dulu. Di situ Cho tetap menjadi ilmuwan yang gemilang. Dia menghasilkan beberapa paten. </p>
<p>Kebetulan lagi kemudian saya juga bekerja sebagai visiting associate professor di instutusi yang sama dengan Cho meski berlainan lab. Kami kembali berinteraksi selama setahun. Saat terakhir bertemu Cho di akhir karir saya sebagai ilmuwan tahun 2006, Cho bercerita bahwa dia sedang mempersiapkan pendirian perusahaan di Korea. Perusahaan itu akan memproduksi komponen elektronik yang ditemukan Cho selama karir risetnya.</p>
<p>Teman terakhir yang hendak saya ceritakan adalah Jim Minglana, orang Filipina. Saya dan Jim adalah penerima beasiswa Asian Youth Fellowship Program (http://www.asiaseed.org/ayfj/). Kami bersama-sama belajar bahasa Jepang selama setahun di Kuala Lumpur sebelum melanjutkan kuliah ke Jepang. Kebetulan saat di Jepang kami kuliah di universitas yang sama, yaitu Universitas Tohoku. Jim kuliah di jurusan Kimia, saya di Fisika Terapan. </p>
<p>Lulus program doktor, Jim kembali ke negaranya untuk menjadi dosen di University of Phillipine. Saya sendiri masih tinggal di Jepang selama beberapa tahun dan bekerja sebagai peneliti di sana. Beberapa tahun kemudian saya mendapat kabar bahwa Jim sempat bekerja sebagai post-doctoal fellow di Swiss selama dua tahun, lalu kembali lagi ke Filipina, menjadi dosen.</p>
<p>Tapi kemudian lagi-lagi saya dikejutkan oleh keputusan radikal. Jim berhenti dari karirnya sebagi dosen, dan memilih untuk bekerja di Departemen Luar Negeri. Dalam waktu dekat dia akan jadi diplomat. </p>
<p>Adapun saya, tadinya saya seorang dosen. Sejak S1 sampai S3 saya belajar Fisika. Lalu saya juga bekerja sebagai peneliti selama empat tahun di Jepang. Lalu saya memutuskan untuk berhenti, lalu memulai karir sebagai mandor pabrik.</p>
<p>Kisah Eli dan Cho sedikit banyak membantu saya saat memutuskan untuk pindah karir. Jim menyusul saya berpindah karir. Entah dia terinspirasi oleh saya atau tidak.</p>
<p>http://berbual.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/pembuat-keputusan-radikal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak Amien, sudahlah&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/pak-amien-sudahlah/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/pak-amien-sudahlah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 08:24:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama dan Sosial - Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Amien Rais]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[PAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/pak-amien-sudahlah/</guid>
		<description><![CDATA[Saya pernah sangat dekat dengan Amien Rais. Entah dia masih ingat saya atau tidak sekarang. Lulus kuliah saya melamar jadi dosen di PTN di kota kelahiran saya. Setelah selesai proses seleksi saya mesti menunggu kurang lebih setahun sampai saya diangkat menjadi PNS. Masa setahun itu saya lewatkan dengan kembali ke Yogya tempat saya kuliah.
Saya berniat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya pernah sangat dekat dengan Amien Rais. Entah dia masih ingat saya atau tidak sekarang. Lulus kuliah saya melamar jadi dosen di PTN di kota kelahiran saya. Setelah selesai proses seleksi saya mesti menunggu kurang lebih setahun sampai saya diangkat menjadi PNS. Masa setahun itu saya lewatkan dengan kembali ke Yogya tempat saya kuliah.</p>
<p>Saya berniat melanjutkan studi S2 di UGM. Harapannya saat pengangkatan saya sebagai PNS nanti saya sudah separo jalan dalam pendidikan S2, agar karir saya sebagai dosen lebih mulus jalannya. Sudah ada sponsor yang bersedia membiayai kuliah saya. Tapi hanya untuk biaya kuliah. Untuk biaya hidup saya harus cari sendiri.</p>
<p>Saya sudah kenal akrab dengan Amien Rais sejak saya kuliah. Dia pun mengenal saya. Karenanya saya tak ragu untuk datang minta bantuan. Saya berniat menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi milik Muhammadiyah di Yogya. Waktu itu Amien adalah ketua PP Mumahhadiyah. Dia menyatakan dengan senang hati bersedia membantu saya. Di atas kertas berkop PP Muhammadiyah dia menulis rekomendasi singkat bertulis tangan, dalam bahasa Jawa kepada rektor universitas yang hendak saya masuki. „Rebat cekap. Ini ada kader kita mohon dibantu agar bisa menjadi dosen di universitas kita.“</p>
<p>Di saat lain di masa itu Amien pernah menyalami saya dengan tempelan sebuah amplop berisi uang. „Mas Hasan ini ada titipan dari seseorang.“ kata dia sambil tersenyum. Saya tahu uang itu dari dia sendiri. Meski saya sebenarnya tidak sedang kesulitan keuangan karena masih ada tabungan dari sisa gaji saya waktu kerja di perusahaan minyak, saya terima uang itu. Ada rasa bangga mendapat perhatian dari tokoh penting seperti Amien Rais.</p>
<p>Begitulah Amien Rais. Sosok sederhana, cerdas, berani, dan begitu perhatian pada anak muda. Banyak orang yang besar di samping Amien. Dia memang memberi jalan bagi orang lain untuk maju. Suatu saat ada diskusi di PPSK, lembaga penelitian yang dipimpinnya. Waktu itu hari Jumat dan peserta diskusi lumayan banyak, sehingga diputuskan untuk menyelenggarakan shalat Jumat di situ. Amien menyuruh salah satu rekan saya menjadi khatib dan imam.</p>
<p>Saat Mukatamar Muhammadiyah di Yogya Amien terpilih sebagai wakil ketua PP Muhammadiyah, mendampingi KH Azhar Basyir. Dalam suasana muktamar itu Amien mendapat giliran khutbah Jumat di Gelanggang Mahasiswa UGM. Saya waktu itu adalah pengurus Jamaah Shalahuddin yang menyelenggarakan kegiatan itu di kampus. Selesai khutbah Amien meminta saya menjadi imam, di salat di belakang saya. Sebuah sikap yang lagi-lagi mengesankan saya.</p>
<p>Tapi Amien bukan tokoh tanpa cela. Kami yang melihat sosok Amien dari dekat tahu betul soal itu. Banyak sikap dan kata-kata Amien yang menurut kami tak pantas. Tapi justru itu kami mengagumi Amien. Kami belajar darinya. Seorang teman berkomentar, „Semakin dekat kita dengan tokoh, semakin tahu kita bahwa tokohpun hanyalah manusia. Dari kemanusiaannya yang tak sempurna itulah kita bisa belajar.“ Sikap itulah yang saya pegang dalam berinteraksi dengan tokoh. Saya terbiasa melihat dan mendukung seseorang saat dia benar, dan mengoreksinya bila salah.</p>
<p>Setelah era Soeharto berakhir, Amien resmi memasuki dunia politik praktis, menjadi Ketua Umum PAN, meninggalkan jabatannya sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Kita semua masih ingat manuver Amien melalui Poros Tengah yang oleh banyak orang dianggap melanggar etika politik. Karena itu banyak tokoh penting seperti Faisal Basri hengkang dari PAN. Saya termasuk yang tak suka dengan manuver Amien itu.</p>
<p>Sungguhpun begitu saya tetap pendukung Amien. Saat dia maju sebagai calon presiden tahun 2004 berbagai cara saya lakukan untuk mendukungnya. Masih ada harapan melalui tangan Amien reformasi yang mandek bisa digelindingkan kembali. Sayang, Amien kalah.</p>
<p>Turun jabatan sebagai Ketua MPR Amien kembali menunjukkan contoh yang baik dengan tidak lagi bersedia menjadi Ketua Umum PAN. Sebuah sikap yang bagus untuk regenerasi. Amien berjanji untuk kembali ke kampus, menjadi akademisi. Sayang, dunia politik praktis sepertinya masih sangat menarik buat Amien. Dia masih jadi penentu dalam banyak hal di PAN. Termasuk soal dengan partai mana PAN harus berkoalisi pasca pemilu 2009.</p>
<p>Berada di luar kekuasaan Amien masih menjadi bintang walau tak cemerlang benar sinarnya. Sesekali suaranya masih terdengar keras, meski banyak suara keras yang sudah tak lagi patut. Amien tampak seperti kehilangan sesuatu, dan berusaha mengambilnya kembali, tanpa menyadari bahwa zamannya sudah berlalu.</p>
<p>Kini Amien dikabarkan hendak mundur dari PAN kembali ke Muhammadiyah. Bukan sebagai sesepuh, tapi sebagai calon Ketua Umum. Untuk apa? Niat Amien untuk mundur dari PAN menurut saya bagus. Tapi bukan untuk kembali ke Muhammadiyah. Tapi untuk menjadi orang tua.</p>
<p>Amien sudah masuk pada usia „tasyahud akhir” dalam karirnya sebagai manusia. Sudah saatnya dia melakukan kontemplasi dan evaluasi. Amien sudah tidak lagi pada fase berteriak lantang, pun tidak lagi bugar untuk memimpin organisasi besar seperti Muhammadiyah. Itu urusan orang yang lebih muda.</p>
<p>Lebih baik Amien menyepi dari hiruk pikuk dunia politik. Tanpa memimpin Muhammadiyah atau PAN Amien tetap seorang tokoh besar. Sudah saatnya tokoh besar ini menulis ulang strategi yang pernah dia gagas dan jalankan, menjelaskan kekurangannya. Agar kita bisa belajar dari situ. Tapi untuk itu memang diperlukan keberanian yang luar biasa besar. Yaitu keberanian untuk menyepi, dan keberanian untuk mengakui kesalahan sendiri.</p>
<p>Pak Amien yang saya hormati, sudahlah…………………..</p>
<p>http://berbual.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/pak-amien-sudahlah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/manajemen/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/manajemen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 09:59:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama dan Sosial - Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sains, Teknologi, Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[gelar akademik]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/manajemen/</guid>
		<description><![CDATA[Kita harus berterima kasih pada yang menciptakan istilah dan konsep manajemen. Sungguh, dengan manajemen segala sesuatu jadi mudah. Kita semua mungkin sudah merasakan hal itu. Tapi saya ingin berbagi informasi tentang berbagai bentuk kemudahan lain yang dihasilkan oleh sesuatu bernama manajemen.
Kalau Anda pemegang gelar sarjana di bidang ilmu yang sulit-sulit, dan Anda membutuhkan gelar S2, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita harus berterima kasih pada yang menciptakan istilah dan konsep manajemen. Sungguh, dengan manajemen segala sesuatu jadi mudah. Kita semua mungkin sudah merasakan hal itu. Tapi saya ingin berbagi informasi tentang berbagai bentuk kemudahan lain yang dihasilkan oleh sesuatu bernama manajemen.</p>
<p>Kalau Anda pemegang gelar sarjana di bidang ilmu yang sulit-sulit, dan Anda membutuhkan gelar S2, tapi berbagai keterbatasan membuat Anda tak mungkin meraih gelar itu, cobalah dengan manajemen. Pilihan pertama adalah paket Magister Manajemen (MM). Tersedia banyak pilihan di situ. Ada yang bisa diperoleh dengan kuliah di akhir pekan atau malam hari. Ada yang cuma memerlukan waktu kuliah enam bulan di akhir pekan. Ada yang bahkan tak memerlukan kuliah sama sekali. Ijazahnya bisa dipesan, Anda cukup hadir di acara wisuda.</p>
<p>Masih ada pilihan lain. Kalau Anda seorang dokter, dan sulit bagi Anda untuk mengambil program dokter spesialis yang makan waktu, tenaga dan biaya, maka Anda punya pilihan, misalnya Manajemen Rumah Sakit, atau Manajemen Kesehatan, atau yang sejenis itu. Dijamin, Anda akan bisa memperkaya diri dengan gelar tanpa harus bersusah payah. </p>
<p>Yang di jurusan teknik bisa mengambil jurusan Manajemen Infrastruktur, atau Manajemen Energi. Dijamin tak serumit kalau Anda harus mengambil jurusan Teknik Sipil atau Elektro. Toh, gelar yang Anda peroleh sama juga, yaitu Magister Teknik atau MT.</p>
<p>Saya pernah mengajar di program S2 Teknik Sipil di suatu PTN. Pesertanya adalah pejabat-pejabat daerah, setingkat Kepala Dinas atau Kepala Bidang. Juga dosen-dosen senior yang dulu belum sempat melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Sudah barang tentu mereka ini berduit. Lebih berduit dari dosen yang mengajar. Sudah barang tentu mereka tidak bisa diharapkan untuk belajar dengan benar. Sudah tua, otaknya tumpul. Atau boleh jadi otaknya sudah tumpul sejak muda. Wallahu alam.</p>
<p>Sudah barang tentu mereka juga tak bisa disuruh riset sebagaimana lazimnya mahasiswa pasca sarjana. Juga tak boleh diharapkan mereka membuat tesis. Lha, tugas kuliah saja mungkin mereka tak sanggup membuatnya.</p>
<p>Alkisah suatu hari saya didatangi seorang mahasiswa saya di program S2 itu. Umurnya lebih tua dari saya. Mobilnya lebih bagus dari saya. Dan hebatnya dia mengerti betul prinsip manajemen. Sungguh membanggakan, karena dia mahasiswa saya.</p>
<p>Prinsip manajemen yang saya maksud adalah prinsip yang sangat mendasar, yaitu &#8220;getting things done through other people&#8217;s hands&#8221; alias &#8220;menyelesaikan masalah dengan meminjam tangan orang lain&#8221;.</p>
<p>Setelah basa-basi sejenak, dia bicara. &#8220;Saya mau bikin tesis nih, Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, bagus itu. Mudah-mudahan Bapak bisa jadi orang pertama yang lulus di program ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, tapi saya ada sedikit kendala.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa itu?&#8221; </p>
<p>&#8220;Saya kadang kesulitan mengekspresikan pendapat saya dalam bahasa tulisan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, kalau itu saya bisa bantu. Kebetulan saya punya banyak pengalaman menulis karya ilmiah, termasuk di jurnal internasional. Saya bisa menjadi pembimbing informal Bapak, karena bidang saya bukan Teknik Sipil. Nanti saya bantu untuk masalah redaksionalnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau Bapak mau bantu saya, ada baiknya Bapak bantu secara menyeluruh saja. Jadi saya terima jadi saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudnya gimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, minta tolong Bapak saja yang menulis semua.&#8221;</p>
<p>Oh, my God. Oh Manajemen&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>http://berbual.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/manajemen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Integritas Anggota Parlemen</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/integritas-anggota-parlemen/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/integritas-anggota-parlemen/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 03:05:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Century]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[skandal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/integritas-anggota-parlemen/</guid>
		<description><![CDATA[Februari 2006. Parlemen Jepang heboh. Hisayasu Nagata, seorang anggota parlemen dari partai oposisi Democratic Party of Japan (DPJ) menuduh seorang petinggi partai berkuasa LDP menerima suap dari Takafumi Horie. Horie adalah seorang pengusaha muda dan terkenal yang saat itu sedang berada dalam tahanan polisi atas tuduhan melakukan kecurangan dalam perdagangan saham. Nagata menyebutkan bahwa tuduhannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Februari 2006. Parlemen Jepang heboh. Hisayasu Nagata, seorang anggota parlemen dari partai oposisi Democratic Party of Japan (DPJ) menuduh seorang petinggi partai berkuasa LDP menerima suap dari Takafumi Horie. Horie adalah seorang pengusaha muda dan terkenal yang saat itu sedang berada dalam tahanan polisi atas tuduhan melakukan kecurangan dalam perdagangan saham. Nagata menyebutkan bahwa tuduhannya tersebut didasarkan atas selembar kertas hasil cetakan isi e-mail yang diperkirakan dikirim oleh Horie, berisi perintah untuk mengirimkan uang sebesar 30 juta yen kepada putra petinggi LDP tadi.</p>
<p>Tuduhan itu menggemparkan Jepang. Kalau terbukti benar, tidak hanya petinggi partai tadi yang akan kena akibatnya. Tapi bisa jadi LDP yang saat itu sedang cukup kuat di bawah kepemimpinan Junichiro Koizumi akan terguncang. Karenanya sempat berhembus pula wacana pergantian kekuasaan (seiken koutai) dari LDP ke DPJ.</p>
<p>Malang bagi Nagata, tuduhan yang ia lancarkan ternyata tidak terbukti. E-mail yang dia duga asli ternyata palsu. E-mail itu tidak pernah dikeluarkan oleh Horie. Dan tentu saja Horie pun tidak pernah menyogok pimpinan LDP.</p>
<p>Akibat kecerobohannya itu Nagata dikenai sangsi. Ia dipecat dari parlemen, dan dikenai larangan tampil dalam pemilu selama 2 tahun. Itu adalah akhir dari karir politik Nagata. Belakangan dikabarkan bahwa ia melakukan usaha bunuh diri karena frustrasi.</p>
<p>Kini kita berhadapan dengan kasus yang mirip. Anggota Pansus Angket Bang Century Bambang Susetyo menuduh Menteri Keuangan Sri Mulyani bertemu dengan Robert Tantular dan melakukan pembicaraan. Dasar tuduhannya adalah sebuah rekaman pembicaraan. Tapi dari penjelasan Sri Mulyani, besar kemungkinan tuduhan itu adalah tuduhan palsu. Sri Mulyani akan melakukan tindakan hukum atas hal tersebut.</p>
<p>Bambang mungkin akan berdalih bahwa yang ia lakukan dalam lingkup kerja dia sebagai anggota parlemen. Dalam konteks itu apapun yang dia ucapkan tidak bisa dipersoalkan secara hukum, karena ia memiliki kekebalan. Boleh jadi nasibnya tak akan seburuk Nagata.</p>
<p>Tapi masalahnya tak cuma di situ. Kita memerlukan anggota parlemen yang bekerja serius. Yang berkata dan bertindak berdasar data yang valid. Karenanya konfrimasi, dan re-konfirmasi menjadi sangat penting dalam pekerjaan anggota DPR. Bila tidak, kerja itu hanya berwujud main-main. Sangkaan-sangkaan yang serius sekalipun akan dengan mudah dipatahkan. Ini bisa memandulkan fungsi pengawasan DPR.</p>
<p>Kasus Bank Century adalah kasus besar. Semua masalah harus dibuka dan dijelaskan kepada publik. Harus dijelaskan pula mana bagian yang merupakan ranah hukum, ranah politik, dan ranah kebijakan, berikut segala konsekwensinya. Ini adalah kerja besar yang tidak mudah. Karenanya wajib dikerjakan secara serius.</p>
<p>Bila ada niat untuk menuai popularitas di benak anggota Pansus, harap niat itu segera dibuang jauh-jauh. Rakyat memantau semuanya. Sebuah niat tak patut akan segera terlihat, dan Anda, anggota DPR atau siapapun yang berniat cari muka, akan kehilangan muka. </p>
<p>Jadi, kembalikan arah penyelidikan kasus Bank Century ke arah yang benar, yaitu untuk membuka kebenaran dan menegakkan keadilan. Bukan untuk petualangan politik menjungkalkan seseorang atau suatu kekuatan politik.</p>
<p>http://berbual.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/integritas-anggota-parlemen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jidoushi, tadoushi</title>
		<link>http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/jidoushi-tadoushi/</link>
		<comments>http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/jidoushi-tadoushi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 02:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa dan Budaya Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis dan Manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[Media, Bahasa, dan Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/jidoushi-tadoushi/</guid>
		<description><![CDATA[Jidoushi dan tadoushi adalah istilah tata bahasa Jepang untuk kata kerja transitif dan intransitif. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal kata kerja transitf sebagai kata kerja yang membutuhkan objek, sedangkan intransitif tidak membutuhkan objek. Definisi kedua kata kerja ini dalam bahasa Jepang sedikit berbeda, dan bagi saya sangat inspiratif. Karenanya saya ingin sedikit berbagi inspirasi.
Doushi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jidoushi dan tadoushi adalah istilah tata bahasa Jepang untuk kata kerja transitif dan intransitif. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal kata kerja transitf sebagai kata kerja yang membutuhkan objek, sedangkan intransitif tidak membutuhkan objek. Definisi kedua kata kerja ini dalam bahasa Jepang sedikit berbeda, dan bagi saya sangat inspiratif. Karenanya saya ingin sedikit berbagi inspirasi.</p>
<p>Doushi berarti kata kerja. Ji berarti sendiri atau dengan sendirinya, sedangkan ta berarti (pihak) lain. Jidoushi artinya kata kerja yang menggambarkan kejadian/kerja yang terjadi dengan sendirinya, atau dilakukan sendiri oleh subjek. Sedangkan tadoushi adalah kejadian/kerja oleh subjek kepada suatu objek.</p>
<p>Salah satu contoh pasangan kata kerja intransitif-transitif dalam bahasa Jepang adalah deru (keluar, intransitif) dan dasu (mengeluarkan, transitif). Saya punya sedikit cerita tentang dua kata kerja ini.</p>
<p>Saat ini saya diberi amanah untuk memimpin sebuah perusahaan Jepang di bidang plastic molding injection yang baru beroperasi sekitar 3 tahun. Selama ini kami membuat barang-barang pesanan dari perusahaan induk di Jepang, untuk dipasarkan di Jepang dan beberapa negara lain. Namun tahun ini pesanan dari Jepang menurun drastis, sehingga kami dihadapkan pada kemungkinan kami akan merugi.</p>
<p>Untuk menutupi kerugian, kami menerima pekerjaan maklun (subkontrak). Nilai pekerjaan yang kami terima cukup rendah, karena perusahaan mitra kami yang memberi pekerjaan itu juga sedang melakukan cost down secara ketat. Kami yang selama ini terbiasa mendapat order dengan margin keuntungan besar dari Jepang merasa berat melakukan pekerjaan ini.</p>
<p>Namun dengan pertimbangan bahwa ada sedikit pekerjaan lebih baik dari tidak sama sekali, kami putuskan untuk menerima pekerjaan ini. Minimal mesin tidak menganggur dan biaya-biaya rutin (overhead) bisa tertutupi. </p>
<p>Dengan kesadaran sejak awal bahwa pekerjaan ini murah nilainya, kami sangat berhati-hati. Segala macam biaya yang bisa dipotong kami potong. Berbagai cara kami lakukan untuk berhemat. Yang terpenting, tingkat apkiran (reject) kami tekan sekecil mungkin. </p>
<p>Setelah beberapa lama berjalan, kami menyadari bahwa pekerjaan ini ternyata bisa memberikan laba. Tidak besar memang. Tapi ada. Dan itu lebih dari sekedar menutup pengeluaran rutin. Saat menyadari hal itu saya berkata kepada teman saya: „Rieki wa deru mono dewa naku, dasu mono da.“ Secara harfiah kalimat itu berarti, „Laba itu tidak keluar, tapi (kita) keluarkan.“ Maksudnya adalah laba itu tidak dihasilkan dari harga yang dihasilkan dari negosiasi dengan pembeli, tapi dari berbagai efisiensi yang kita lakukan dalam proses produksi.</p>
<p>Ilustrasi kecil di bawah ini mungkin bisa lebih memperjelas. Secara umum hubungan antara biaya produksi(P), harga jual(J), dan laba (L) adalah sebagai berikut:<br />
P + L = J<br />
Artinya kita menentukan harga jual produk kita dengan mempertimbangkan biaya produksi dan laba yang ingin kita peroleh. Namun dalam banyak kasus kita tidak bebas menentukan harga jual. Harga jual seringkali sudah ditentukan oleh pasar. Dalam situasi itu rumusnya berubah menjadi:<br />
J – P = L<br />
Dari harga jual yang sudah tertentu itu yang bisa kita lakukan untuk memperoleh dan memperbesar laba adalah dengan menekan ongkos produksi. </p>
<p>Kata deru dan dasu, sama-sama bisa digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan, yaitu sesuatu yang keluar. Tapi pilihan atas kata transitif atau transitif memberi semangat yang berbeda. Kata kerja transitif mewakili semangat kita untuk melakukan sesuatu, bukan menerima atau menyerah begitu saja pada keadaan.</p>
<p>Ada satu lagi pasangan kata kerja yang bagi saya juga memberi inspirasi, yaitu kowareru (rusak) dan kowasu (merusak). Bentuk lampau kedua kata kerja ini masing-masing kowareta dan kowashita. Saat melakukan eksperimen keteledoran saya menyebabkan sebuah alat laboratorium rusak. </p>
<p>Saya melaporkan kejadian itu kepada Sensei (profesor) saya. Dalam logika bahasa Indonesia otak saya berkata, “Alat itu rusak.” Logika itu saya terjemahkan dalam bahasa Jepang, sehingga dari mulut saya keluar kalimat „Souchi (alat) ga kowareta.” Setelah mendengar penjelasan saya, Sensei menjawab,“Kore wa kowareta janaku, kowashita desho.“ (Ini sih bukan rusak, tapi kamu rusakkan.)</p>
<p>Ada perbedaan mendasar pada dua kata kerja di atas. Kowareru berarti alat itu rusak dengan sendirinya. Sedangkan kowasu berarti ada sesuatu yang menyebabkan kerusakan, dan sesuatu itulah yang (harus) bertanggung jawab. Mengungkapkan kejadian di atas dengan kata kowareru adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab tersebut.</p>
<p>Di akhir tulisan ini saya akan kutipkan sebuah ilustrasi dari buku Seven Habits tulisan Stephen Covey. Kali ini bukan tentang pasangan kata kerja transitif dan intransitif. Tapi tentang kata benda dan kata kerja transitif.</p>
<p>Ada seseorang yang berada di ambang perceraian. Dia merasa sudah tidak ada lagi cinta antara dia dengan istrinya. Dia meminta nasihat pada Stephen Covey.</p>
<p>“Cintai dia.” Nasihat Stephen. </p>
<p>“Itu tidak mungkin.”</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Cinta itu sudah tidak ada antara aku dan dia. Bagaimana aku bisa mencintai dia?”</p>
<p>“Bisa. Cintai dia.”</p>
<p>“Tidak mungkin.”</p>
<p>“Ingat. Cinta itu kata kerja. Kata kerja transitif. Cintai dia. Lakukan usaha untuk mencintai dia. Maka cinta itu akan tumbuh di hatimu dan di hatinya.”</p>
<p>http://berbual.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/jidoushi-tadoushi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalur Gaza</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/jalur-gaza/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/jalur-gaza/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 02:03:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sains, Teknologi, Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/jalur-gaza/</guid>
		<description><![CDATA[Ini bukan cerita tentang Palestina. Ini cerita tentang Jakarta. Tentang sebuah sekolah.
Di TV diberitakan tentang seorang siswa kelas 1 di sebuah SMA Negeri di Jakarta. Ia dijemput paksa oleh sejumlah seniornya, dibawa ke sebuah taman, lalu dianiaya. Ia mengalami luka-luka di wajah. Bibirnya robek, wajahnya lebam-lebam. Ia harus menjalani rawat inap di rumah sakit selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini bukan cerita tentang Palestina. Ini cerita tentang Jakarta. Tentang sebuah sekolah.</p>
<p>Di TV diberitakan tentang seorang siswa kelas 1 di sebuah SMA Negeri di Jakarta. Ia dijemput paksa oleh sejumlah seniornya, dibawa ke sebuah taman, lalu dianiaya. Ia mengalami luka-luka di wajah. Bibirnya robek, wajahnya lebam-lebam. Ia harus menjalani rawat inap di rumah sakit selama beberapa hari.</p>
<p>Apa pasal? Alkisah, siswa kelas 3 menetapkan beberapa jalur di sekolah yang mereka sebut Jalur Gaza. Jalur ini tidak boleh dilewati oleh selain anak kelas 3. Si anak yang teraniaya tadi lalai. Ia melewati jalur itu.</p>
<p>Cerita ini sungguh menyesakkan dada saya. Di sekolah, tempat anak-anak harusnya dididik dan dikendalikan, ada manusia-manusia fasis yang bisa seenaknya membuat aturan. Di sekolah, tempat di mana seharusnya guru-guru yang mengatur, ada sekelompok murid yang punya kekuasaan mengatur. Dan mereka mengatur dengan kekerasan!</p>
<p>Para guru dalam wawancara TV mengatakan bahwa sebenarnya mereka tahu soal Jalur Gaza ini. Tapi sepertinya mereka tak berdaya untuk menghapuskannya. Konon tradisi dungu ini sudah berlangsung sejak tahun 80-an. Itulah salah satu alasan kenapa tradisi ini tidak dihapus.</p>
<p>Perlu dicatat bahwa SMA adalah SMA percontohan untuk proyek anti kekerasan (anti-bullying). Sebuah ironi yang lebih menyakitkan.</p>
<p>Lalu kita bertanya, ke mana anak-anak kita akan kita kirim untuk belajar? Sekolah ternyata bukan tempat yang aman untuk belajar. Di sekolah anak kita bisa celaka. Di sekolah justru premanisme dibiarkan. Di sekolah justru kesewenangan diajarkan. </p>
<p>Polisi sepertinya tidak menganggap serius kasus ini. Ada ratusan kejadian kekerasan di tanah air, seingat saya memang belum pernah ada yang berujung hingga ke pengadilan. Biasanya polisi meminta pihak-pihak yang terlibat, termasuk orang tua siswa untuk berdamai. Lalu selanjutnya pihak sekolah diminta untuk melakukan &#8220;pembinaan&#8221;. </p>
<p>Ini kesalahan fatal. Ini bukan perkara disiplin ringan yang bisa diselesaikan dengan cara damai dan pembinaan. Ini adalah tindak kriminal. Tindak kriminal harus diproses dengan hukum pidana. Pembiaran oleh polisi berarti membiarkan kriminal-kriminal muda tumbuh di lingkungan pendidikan. Membebaskan mereka dari jerat hukum berarti mengajarkan kepada mereka bahwa mereka bisa melakukan tindak pidana tanpa dikenai sangsi hukum. </p>
<p>Ini tidak boleh dibiarkan.</p>
<p>http://berbual.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/jalur-gaza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Didebottlenecking</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/didebottlenecking/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/didebottlenecking/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 05:52:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media, Bahasa, dan Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/didebottlenecking/</guid>
		<description><![CDATA[Anda tidak paham makna kata yang saya gunakan sebagai judul pada tulisan ini? Silahkan tanya pada Presiden SBY. Kata itu keluar dari mulutnya pada pidato di acara National Summit 2009.
Banyak orang heran. Acara kenegaraan resmi, oleh pejabat-pejabat pemerintahan Republik Indonesia dinamai dalam bahasa Inggris. Mengapa? Ternyata ini tak jauh-jauh dari urusan citra, sesuatu yang maha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda tidak paham makna kata yang saya gunakan sebagai judul pada tulisan ini? Silahkan tanya pada Presiden SBY. Kata itu keluar dari mulutnya pada pidato di acara National Summit 2009.</p>
<p>Banyak orang heran. Acara kenegaraan resmi, oleh pejabat-pejabat pemerintahan Republik Indonesia dinamai dalam bahasa Inggris. Mengapa? Ternyata ini tak jauh-jauh dari urusan citra, sesuatu yang maha penting bagi SBY. Konon kegiatan ini meniru cara kerja Presiden Obama. Bahkan nama National Summit itu sendiri meniru nama acara yang digelar Obama tak lama setelah dilantik jadi presiden.</p>
<p>Ini lagi-lagi ciri khas SBY. Semua serba berbau Amerika. Berbau Obama. Marna-warna yang dia pakai saat kampanye tempo hari, tata letak panggung kampanye, tampilan homepage, dan banyak hal lagi, semua meniru Obama. Setelah terpilih pun dia masih juga meniru Obama. Coba lihat semboyan kabinet yang dia cetuskan. Pakai bahasa Inggris. Salah satunya adalah Change and Continuity. Lagi-lagi meniru Obama, karena Change adalah tema kampanye yang diusung oleh Obama. Bisa kita bayangkan betapa Presiden kita ini sangat tidak percaya diri.</p>
<p>Lucunya, dia tampaknya hanya mampu meniru hanya sampai pada soal-soal yang sepele seperti itu. Soal-soal tampak luar. Substansinya hilang. Kabinet yang ia bentuk sudah bekerja 16 hari, tapi belum punya program kerja!</p>
<p>Selain soal nama National Summit itu, pada pidato di acara tersebut SBY dengan fasih mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Menurut catatan KOMPAS dalam pidato selama 65 menit SBY melafalkan 75 kosa kata bahasa Inggris. Tidak hanya itu. Dia juga menggunakan istilah yang tak jelas, apakah itu bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, ya itu tadi &#8220;didebottlenecking&#8221;. </p>
<p>&#8220;Banyak hal yang masih ada di-&#8221;debottlenecking&#8221; ini yang harus diselesaikan,&#8221; kata SBY. Apa yang dia maksud? Kita mengenal istilah bottleneck (leher botol) untuk menggambarkan adanya hambatan. Debottlenecking adalah kira-kira bermakna &#8220;menghilangkan hambatan&#8221;. Mungkin SBY hendak mengungkapkan bahwa masih banyak perkara yang mengalami berbagai hambatan dalam penyelesaiannya, dan hambatan itu harus diurai. Saya bisa dengan mudah mengatakannya dalam bahasa Indonesia: &#8220;Masih banyak hal yang harus diurai permasalahannya.&#8221; Selesai. Tidak perlu pakai istilah asing, dan tidak perlu mengeluarkan kosa kata yang tak termuat dalam kamus bahasa manapun!</p>
<p>Banyak kata yang sebetulnya punya padanan yang pas dalam bahasa kita dipaksakan untuk dipakai dalam kosa kata aslinya. Lebih kacau lagi, kata tersebut ditambahi awalan dan akhiran, sehingga menjadi sebuah kata berwujud Frankenstein. Contohnya adalah kata &#8220;impeach&#8221; dan &#8220;impeachment&#8221;. Sederhananya kata &#8220;impeach&#8221; berpadanan dengan kata &#8220;pecat&#8221;. Kata ini menjadi populer di media massa Indonesia sejak skandal Bill Clinton dengan Monica Lewinski. Sejak itu media lebih suka menggunakan kata &#8220;impeach&#8221; ketimbang &#8220;pecat&#8221;, khususnya bila menyangkut lembaga kepresidenan. Maka kemudian kita mengenal kata-kata &#8220;mengimpeach&#8221; dan &#8220;diimpeach&#8221;. </p>
<p>Bagi saya ini adalah bentuk kedunguan dalam berbahasa. Dan sangat menyedihkan bahwa Presiden turut menjadi pelopor kedunguan ini dengan melakukannya di acara kenegaraan.</p>
<p>http://berbual.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/didebottlenecking/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
