Archive for the ‘Politik dan Birokrasi’ Category

Bahasa ke Dua di Indonesia

29 October 2009

Saya menelepon ke ponsel teman. Perusahaan operator telepon itu adalah perusahaan Indonesia. Karena telepon yang saya tuju dalam keadaan tidak aktif, saya menerima pesan sebagai berikut:

“The telephone you are calling is switched off.”

Sudah. Hanya itu. Hanya pesan dalam bahasa Inggris, tidak ada pesan dalam bahasa Indonesia.

Di beberapa bioskop yang pernah saya kunjungi, petunjuk yang ditayangkan di layar sebelum film dimulai, juga ditulis dalam bahasa Inggris. Tidak ada terjemahan bahasa Indonesia sama sekali.

Kalau kita telepon hotel atau perusahaan besar di Jakarta, penjawab telepon akan menjawab dalam bahasa Inggris. Setelah tahu penelepon berbahasa Indonesia, barulah dia meladeni kita dalam bahasa Indonesia.

Saya teringat perjalanan saya ke berbagai negara. Di Jerman saat saya berbelanja ke toko penjaganya selalu menyapa saya dalam bahasa Jerman. Setelah tahu bahwa saya tidak berbahasa Jerman, barulah dia meladeni saya dalam bahasa Jerman. Demikian pula saat saya berkunjung ke Perancis, pertama kali saya akan disapa dalam bahasa Perancis. Hal yang sama saya dapatkan dalam percakapan telepon.

Dengan kata lain, di banyak negara, orang mendahulukan bahasa mereka sendiri. Bahasa kita adalah bahasa pertama dan utama, bahasa Inggris dan bahasa asing lain adalah bahasa ke dua, tiga, dan seterusnya. Sayangnya yang sering terjadi di Indonesia adalah seperti saya ungkapkan dalam ilustrasi di atas. Bahasa Indonesia adalah bahasa ke dua, atau bahkan tidak diperlukan sama sekali.

Parahnya, ini tidak hanya terjadi di dunia usaha. Birokrasi pemerintah, bahkan Kepala Negara terlihat lebih suka mendepankan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Tengoklah bagaimana Presiden merumuskan semboyan kabinetnya. Dalam bahasa Inggris! Bahasa Indonesia ditampilkan sebagai terjemahan belaka.

Kalau Presiden lebih suka mendepankan bahasa Inggris, jangan heran kalau bangsa ini lebih suka memakai produk-produk dari luar, ketimbang produk bangsa sendiri. Karena kepada mereka setiap hari diajarkan bahwa yang berasal dari luar itu lebih baik. Itulah yang sedang dipamerkan para pemimpin, khususnya sang Presiden.

Sebagai penutup, saya ajukan pertanyaan untuk Anda renungkan.

“Anda mungkin malu kalau kemampuan berbahasa Inggris Anda jelek. Tapi pernahkah Anda merasa malu kalau kemampuan berbahasa Indonesia Anda jelek?

http://berbual.com

Masayoshi

9 September 2009

Aku tak pernah berhenti menyesali keputusanku untuk berkunjung ke rumahnya di tahun baru itu. Ia kakek tua berusia 80 tahun lebih. Namanya Masayoshi Uehara. Istrinya yang nyaris setua dia, bernama Masako. Mereka tinggal di sebuah rumah, persis di berhadapan dengan bangunan apartemen di mana kami menyewa sebuah kamar untuk tempat tinggal.

Apartemen ini adalah tempat pertama di tengah pemukiman orang Jepang yang kami tinggali. Sebelumnya, selama enam tahun lebih kami selalu tinggal dormitori untuk mahasiswa asing yang disediakan oleh universitas. Waktu aku selesai kuliah di program doktor, aku mendapat tawaran untuk bekerja sebagai peneliti tamu. Dengan status baru itu aku tak lagi berhak tinggal di dormitori.

Aku berkenalan dengan pasangan kakek-nenek ini dua hari setelah kami pindah ke apartemen itu, di suatu musim gugur. Sebenarnya tak cukup tepat untuk disebut berkenalan. Waktu itu kami hanya saling bercakap sejenak. Mereka tak tahu namaku, karena aku tidak memperkenalkan diri. Mereka juga tak memperkenalkan nama mereka. Aku tahu nama mereka dari papan nama kecil bertulis huruf kanji di kotak pos di gerbang pagar rumah mereka.

Pagi itu aku dan istriku sedang menata barang-barang yang kami bawa dari dormitori ke apartemen itu. Ada cukup banyak kardus berisi barang. Di antaranya ada kardus yang cukup berat. Waktu mencoba mengangkat salah satu kardus berat itu, istriku mengalami sakit yang luar biasa pada pinggangnya. Mungkin dia keseleo. Dia merasa sakit, dan tidak bisa bergerak. Aku papah dia ke kamar tidur, lalu aku rebahkan di atas futon yang aku hamparkan seadanya. Aku melanjutkan pekerjaan menata barang-barang sambil menjaga anakku yang baru berusia sembilan bulan, sambil pula sesekali memantau kondisi istriku. Aku fikir dia cuma keseleo, dan berharap segera pulih.

Tapi hingga malam hari tak ada tanda-tanda istriku membaik. Dia tak bisa bergerak. Setiap kali mencoba bergerak dia menjerit kesakitan. Khawatir keadaannya makin memburuk, aku putuskan untuk menelepon pemadam kebakaran, untuk minta bantuan ambulan. Saat itu sudah sekitar pukul sepuluh.
Tak lama setelah kutelepon, ambulan datang. Dengan tandu istriku diangkut keluar apartemen, lalu dimasukkan ke ambulan. Aku ikut masuk, sambil menggendong anakku yang sedang tidur. Dengan ambulan kami menuju rumah sakit terdekat.

Saat masuk ambulan aku lihat pasangan kakek-nenek itu keluar rumah. Ambulan itu memang tak membunyikan sirene saat masuk ke depan apartemen kami. Tapi apartemen itu terletak di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilewati satu mobil. Rumah kakek-nenek itu tak lebih dari dua meter dari pinggir jalan. Kilatan lampu sirene ambulan membuat mereka keluar rumah, dengan wajah ingin tahu. Tak sempat aku menyapa mereka karena aku buru-buru masuk ambulan.

Malam itu setelah isteriku diperiksa dokter aku diberitahu bahwa dia harus menjalani rawat inap selama beberapa hari. Naik taksi aku pulang ke apartemen sambil memeluk anakku.

Esok hari, saat aku keluar apartemen untuk pergi ke rumah sakit, aku lihat Masako san di depan rumahnya. Dia menyapaku dengan wajah khawatir.

“Kino douka sarenano desuka.” tanyanya dalam sonkeigo, bahasa Jepang halus. Dia menanyakan ada apa semalam. Aku jelaskan bahwa istriku mengalami masalah dengan otot pinggangnya. Gikkorigoshi, itu istilah bahasa Jepang yang diberitahukan dokter kepadaku tadi malam. Saat istilah itu aku sebutkan, dia langsung paham.

“Sore wa taihen desune.” katanya prihatin. „Kalau butuh bantuan, jangan segan-segan memberi tahu kami.“

Aku mengangguk dan lalu pamit untuk melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.

Beberapa hari kemudian istriku sembuh, lalu keluar dari rumah sakit. Kejadian sakitnya istriku itu membuka hubungan kami dengan pasangan kakek-nenek itu.

+++
Apartemen yang kami sewa kecil dan sederhana. Berlantai tiga dan tak terlalu luas. Khas apartemen di kota-kota kecil di Jepang. Bangunan ini sebenarnya lebih cocok disebut rumah kos. Letaknya hanya beberapa ratus meter dari kampus. Kamar-kamarnya kecil, cocok untuk hunian mahasiswa. Kamar yang kami sewa terletak di lantai satu, tadinya adalah dua kamar, digabung menjadi satu untuk memperoleh kamar yang lebih besar. Hanya kami penghuni yang berkeluarga di apartemen itu.

Rumah kakek-nenek tadi persis di depan apartemen kami. Pintu pagarnya persis berhadapan dengan pintu keluar apartemen. Hanya terpisah oleh jarak kira-kira dua meter. Di sekitar situ banyak rumah-rumah penduduk, juga beberapa apartemen. Kami tak pernah bertegur sapa dengan penduduk di sekitar apartemen. Paling-paling hanya saling bertukar senyum tipis atau anggukan kecil saat berpapasan.

Tapi dengan kakek-nenek ini agak lain. Setidaknya aku bertukar salam “ohayougozaimasu” atau “konnichiwa” kalau bertemu mereka. Sesekali aku berbincang ringan dengan mereka. Istriku tak pernah berbincang, karena kemampuan bahasa Jepangnya agak terbatas. Ia akan kesulitan kalau berbicara dengan kakek-nenek yang menggunakan bahasa Jepang dengan dialek lokal dan gaya orang tua.

Makin lama berinteraksi kami makin akrab. Kadang kakek-nenek itu memberi kami makanan atau buah-buahan. Sesekali sengaja mereka membeli mainan kecil di pasar untuk anak kami. Kami membalasnya dengan memberi makanan juga, khususnya kalau kami membuat makanan Indonesia yang menurut kami cocok untuk lidah orang Jepang.

Di musim semi mereka mengantarkan sakuranbo (cherry). Musim panas anakku dihadiahi satu set hanabi (kembang api). Musim gugur giliran buah kaki (kesemak) dari pohon di halaman rumah mereka di antarkan kepada kami.

Musim dingin ini adalah musim dingin ke dua kami tinggal di apartemen ini, dan bertetanggan dengan kakek-nenek itu. Tahun baru sudah menjelang. Ini adalah hari istimewa bagi orang Jepang. Suasananya persis seperti lebaran di negeri kita. Karena hubungan baik kami sudah berlangsung setahun lebih, aku putuskan untuk mengunjungi kakek-nenek itu ke rumah mereka saat tahun baru. Istriku setuju dengan gagasanku.

Begitulah. Di suatu petang, tanggal 1 Januari, kami bertiga berkunjung ke rumah itu untuk menyampaikan ucapan selamat tahun baru. Kakek-nenek itu menyambut dengan gembira. Ketika itulah baru kami berbincang lebih akrab.

Kakek-nenek ini punya anak laki-laki. Anak tunggal. Dia bekerja di Tokyo, dan sudah berkeluarga. Anaknya dua, sudah usia sekolah dasar. Biasanya anaknya pulang saat tahun baru. Tapi tahun ini tidak pulang.

Obrolan kami akhirnya tiba pada suatu topik yang memicu petaka. Sesuatu yang tak pernah aku sangka akan terjadi. Kakek itu bercerita bahwa dia pensiunan tentara. Dia jadi tentara saat Perang Dunia II. Dia bertugas di Indonesia saat itu. Di Tarakan tepatnya. Dua tahun dia bertugas di Tarakan. Dia kembali ke Jepang saat Jepang kalah perang dan mundur dari kawasan Asia yang dikuasainya. Hanya itu yang dia ceritakan. Tak detil.

Pulang dari rumah itu istriku banyak diam. Wajahnya agak cemberut. Ini memberi firasat tak sedap. Biasanya ini adalah tanda bahwa ada yang kuran berkenan di hatinya. Ujungnya adalah pertengkaran kami. Sebuah situasi yang paling aku benci.

„Ada apa?“ tanyaku lembut, mencoba untuk tak mengobarkan amarahnya.

Dia hanya diam. Dan ini paling rumit buatku. Aku tak pandai merayu istriku bila ia merajuk. Sejak dulu tak pandai, sekarangpun tak pandai.

“Ada kata-kataku yang menyinggung perasaanmu?“

Dia masih diam. Aku juga akhirnya terdiam, tak tahu harus berkata apa. Putus asa aku alihkan perhatianku pada anakku, dan beberapa pekerjaan kecil di rumah.

„Aku benci kakek itu.“ kata istriku beberawa saat kemudian. Ucapan itu mengejutkanku. Aku sama sekali tak menyadari ada yang membuat istriku kesal pada kakek itu.

„Kenapa?“ tanyaku hati-hati.

„Masa Abang nggak ngerti?“ tanyanya balik. Duh, ini pertanyaan yang selalu menusuk. Selalu membuatku merasa gagal jadi laki-laki. Gagal memahami perasaan perempuan, istriku.

“Kakek tua bangka itu adalah bekas serdadu Jepang. Tahu kan apa yang mereka lakukan selama menjajah Indonesia? Coba Tanya, berapa perempuan yang dia perkosa selama bertugas di Indonesia?” omel istriku berang.

Aku terhenyak. Lagi-lagi kehabisan kata-kata. Tak pernah aku menyangka bahwa masa lalu kakek itu akan membuat istriku berang. Aku coba membantah. Kakek itu belum tentu sejahat itu. Lagipula ia tak menyakiti kami.

„Ya itulah. Abang memang tak pernah paham perasaan perempuan.“ Itu kata-kata pemungkas dari istriku, nyaris di setiap pertengkaran kami.

+++

Sejak itu aku menghindari interaksi dengan kakek itu. Juga dengan istrinya. Sungguh, aku merasa mereka sama sekali tak bersalah pada kami. Tapi aku harus menjaga perasaan istriku. Dia gampang tersinggung.

Aku coba memahami perasaan istriku. Tak ada keluarga kami yang terkena perbuatan jahat tentara Jepang di jaman penjajahan dulu. Tak ada perempuan dari keluarga kami yang diperkosa tentara Jepang. Tapi istriku memang sensitif terhadap kejahatan serdadu. Khususnya kejahatan terhadap perempuan. Juga terhadap anak-anak. Setiap kejahatan itu bagi dia seperti serangan terhadap diri pribadinya. Aku coba berempati padanya.

Sejak tahun baru itu aku selalu menghindar dari kakek itu. Juga dari istrinya. Kalau kulihat salah satu dari mereka ada di depan rumah saat aku hendak keluar apartemen, aku tunda sampai mereka masuk. Demikian pula saat aku hendak pulang. Aku berputar balik, menunda ketibaan di apartemen kalau aku lihat mereka di depan rumah.

Begitulah. Selama sisa masa tinggal kami di apartemen itu, interaksi dengan kakek-nenek itu jauh berkurang. Sangat jauh. Aku rasa mereka juga sadar akan hal itu.

Lalu tibalah saatnya kami mudik ke tanah air. Saat itu sudah penghujung musim gugur. Artinya hampir setahun aku menghindar dari kakek-nenek itu. Pekerjaanku sebagai peneliti tamu selesai, aku harus pulang bersama keluargaku. Satu hal yang mengganggu adalah bahwa aku merasa harus berpamitan dengan kakek-nenek itu. Tapi aku juga tak mau melukai perasaan istriku.

Diam-diam, suatu hari, beberapa hari menjelang keberangkatanku ke tanah air, aku menyelinap sendirian ke rumah kakek-nenek itu. Aku berpamitan, terburu-buru. Setelah aku mengabarkan bahwa kami sekeluarga hendak pulang ke tanah air dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan selama ini, aku lagi-lagi dihadapkan pada kejadian yang tak pernah aku duga.

Kakek itu, Masayoshi Uehara, bersujud di depanku. Sujud khas orang Jepang. Menunduk dalam, wajahnya menyentuh tatami tempat aku duduk.

„Wareware, mukashi hidoi koto wo shite shimatte, makotoni mousiwake arimasen.” Ia meminta maaf atas perbuatan buruk di masa lalu. Aku sangat terkejut. Lalu bayangan yang selama ini menghuni benak istriku terasa mulai menghantui benakku pula. Aku membayangkan kakek tua ini sebagai serdadu muda yang bengis, liar. Seorang pemerkosa dan penjagal.

Tapi bayangan itu hanya sekejap. Kakek tua itu, masih dalam keadaan bersujud, melanjutkan. Seakan dia membaca isi fikiranku.

„Jangan salah sangka. Tak pernah sekalipun aku berbuat buruk pada bangsamu. Aku tak membunuh mereka. Tak menyakiti mereka. Aku juga tak memperkosa. Tapi teman-temanku melakukan itu semua. Aku tak sanggup mencegah mereka, menghentikan mereka. Untuk itulah aku minta maaf padamu. Pada bangsamu.“

Ketika ia bangun dari sujudnya, wajahnya berurai air mata.

http://berbual.com

Paranoia Kristenisasi

2 September 2009

Suatu ketika di tahun 2005. Saat itu saya bekerja sebagai dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Kebetulan saya menjabat sebagai Ketua Jurusan/Program Studi. Saya sebetulnya baru saja pulang dari tugas belajar di luar negeri. Saya diangkat jadi Ketua Jurusan karena posisi itu lowong, dan kami sedang kekurangan staf pengajar.

Suatu hari saya menerima SMS berbunyi sebagai berikut:
“Tolong kau awasi gerak-gerik Ibu B itu. Hati-hati, sudah ada satu
mahasiswa kita yang dia murtadkan.”
Pengirim SMS itu adalah kawan saya, beberapa tahun lebih tua dari saya. Saya mengenal dia sejak sama-sama kuliah. Kebetulan kami satu fakultas, dan saya juga pernah tinggal sekamar dengan dia di asrama daerah tempat saya tinggal di masa-masa awal kuliah dulu. Saat mengirim SMS itu dia adalah Dekan di fakultas tempat saya bekerja. Artinya dia adalah atasan saya.

(more…)

Intelijen

27 July 2009

Pagi buta di hari Senin. Presiden Susila Pandir Yardayana memanggil seluruh menteri untuk rapat darurat. Para menteri baru saja selesai beristirahat di akhir pekan. Banyak yang masih bermalas-malasan. Tapi telepon dari ajudan presiden memerintahkan mereka untuk hadir di kantor kepresidenan pukul enam pagi. Keadaan genting.

Di depan menteri yang masih berwajah kuyu dan ngantuk, Presiden Pandir memberi arahan.

“Saudara-saudara, ini keadaan genting. Saya baru saja mendapat informasi dari intelijen kita bahwa akan ada tindakan makar untuk merongrong kewibawaan pemerintah. Menciptakan keadaan kacau, menurunkan kepercayaan rakyat lalu menyengsarakan mereka, serta memberi malu kita di depan masyarakat internasional.”

Ruang rapat langsung gaduh. Tak ada lagi menteri yang mengantuk. Semua jadi serius.

“Lebih jelasnya bagaimana, Pak?” tanya Menteri Pertahanan. Dia heran, karena sebagai orang yang bertanggung jawab dalam soal keamanan dia justru tidak mendapat laporan.

“Jadi begini.” jawab Presiden. “Ini soal intelijen. Ada informasi bahwa akan ada yang mencoba untuk mengubah lusa menjadi hari Kamis.”

Ruang rapat tambah gaduh. Presiden agak jengkel, lalu melanjutkan bicara keras-keras.

“Sekali lagi ini intelijen. Ada pihak-pihak yang mencoba membuat kekacauan, dengan mengubah lusa menjadi hari Kamis. Tujuannya jelas, menciptakan kebingungan dan keresahan. Juga kekacauan ekonomi. Ini intelijen. bukan fitnah, bukan pula gosip.”

“Coba bayangkan, bagaimana kacaunya perekonomian kita bila hanya kita saja yang menjalani hari Kamis, sementara di belahan dunia lain orang menjalani hari Rabu. Seluruh transaksi ekonomi kita akan kacau.”

“Ini jelas usaha untuk mempermalukan saya sebagai Presiden, dan tentu saja mempermalukan bangsa Indonesia.”

“Kita baru saja memulai sejarah baru di bawah kepemimpinan saya. Di sana-sini terlihat kemajuan pesat yang hanya bisa disaksikan selama pemerintahan saya. Kesejahteraan membaik, politik dan keamanan stabil. Dunia luar juga mulai menghargai kita. Saya mulai dikenal sebagai tokoh yang berpengaruh di tengah percaturan politik dunia.”

“Bangsa kita…….”

“Maaf, Pak. Saya minta izin bicara.” kata Menteri Pertahanan agak gemetar. Dia merasa Presiden sudah bicara melantur, agak jauh dari pokok pembicaraan.

“Apa?” tanya Presiden berang. Dia tersinggung pembicaraannya dipotong.

“Maksud saya apa mungkin…? Bagaimana caranya?”

“Apa yang tidak mungkin? Orang jahat selalu bisa mewujudkan niatnya kalau kita tidak pintar mencegahnya.”

“Tapi bagaimana caranya? Bagaimana mengubah lusa, hari Rabu menjadi hari Kamis? Itu tidak mungkin, dan belum pernah terjadi di manapun.”

“Justru karena itu, belum pernah terjadi di manapun. Ini akan menjadi kejadian pertama di dunia. Itu akan makin mempermalukan kita. Negara lain mungkin sudah pernah menghadapi usaha makar semacam ini, tapi berhasil menggagalkannya. Kita juga harus bisa.”

“Maksud saya, itu mustahil!”

“Hah??!! Kamu merendahkan kemampuan bangsa kita. Kalau negara lain bisa, artinya kita juga pasti bisa!”

“Bukan begitu maksud saya, Presiden Pandir. Maksud saya mengubah hari Rabu menjadi hari Kamis itu sesuatu yang mustahil.”

“Mustahil bagaimana? Tak ada yang mustahil. Yang jelas saya tidak mau kecolongan. Jangan meremehkan potensi ancaman sekecil apapun. Paham? Dan kamu Menteri Pertahanan, kamu paling bertanggung jawab di sini.”

Menteri Pertahanan diam sejenak. Hendak mengajukan protes, tapi kemudian membatalkannya. Wajahnya terlihat putus asa.

“Segera siagakan seluruh kekuatan militer dan polisi. Kerahkan seluruh intel dan reserse. Cari dan gali semua kemungkinan. Cegah jangan sampai makar ini terjadi. Ingat, kita tidak punya banyak waktu. Jangan sampai kecolongan. Saya akan segera memberitahu rakyat. Kumpulkan semua wartawan, saya akan membuat konferensi pers darurat.”

Lalu rapat dibubarkan. Di teras istana Presiden menemui wartawan untuk menyampaikan berita tentang keadaan darurat.

+++

Pengumuman Presiden ditanggapi rakyat dengan kebingungan. Tak ada yang paham maksudnya. Tak ada yang percaya ada yang bisa mengubah lusa menjadi hari Kamis. Mereka heran dengan ketakutan Presiden. Kritik bermunculan menanggapi berita itu. Presiden dianggap mengada-ada, justru membuat rakyat resah.

Tapi Presiden tak peduli. Selasa pagi dia kembali mengundang wartawan, memberi keterangan pers.

“Peringatan saya dianggap main-main dan menakut-nakuti rakyat. Sekali lagi saya tegaskan, saya hanya mengingatkan, bukan menakut-nakuti.”

+++

Lusa harinya semua berjalan seperti biasa. Menteri pertahanan bangun paling pagi. Sebenarnya dia memang tidak tidur semalaman, menunggu hari berganti. Dia sudah memerintahkan bawahannya untuk waspada, tapi dia sendiri bingung. Ia tidak bisa memberi instruksi yang jelas, karena dia tak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Tapi agar tidak kecolongan dia memerintahkan semua jajarannya untuk waspada.

Begitu jam berdetang dua belas kali di tengah malam, dia segera mengecek di TV apakah hari itu sudah hari Rabu. Sialnya tak ada stasiun TV yang bicara soal nama hari. Jadi dia terpaksa menunggu datangnya koran pagi, sambil gemetar khawatir. Pukul 4 subuh koran datang. Dia lega. Jelas di situ tertulis hari Rabu.

+++

Pagi-pagi Menteri Pertahanan sudah datang menghadap Presiden. Mengabarkan bahwa hari itu tetap hari Rabu. “Saya sudah tahu.” jawab Presiden pendek.

Pukul delapan pagi Presiden kembali melakukan jumpa pers.

“Seperti saudara-saudara ketahui, hari ini tetap hari Rabu. Artinya jajaran aparat keamanan kita berhasil menggagalkan usaha makar. Kita berhasil melakukan antisipasi. Peringatan yang saya berikan dua hari yang lalu agaknya membuat para drakula yang hendak mengkhianati perjuangan bangsa kita menjadi takut. Boleh jadi mereka membatalkan niatnya, karena melihat rakyat begitu bersatu padu, setia kepada pemerintahan saya. Untuk itu saya ucapkan ribuan terima kasih kepada seluruh rakyat.”

Masa Depan Pemberantasan Korupsi

9 July 2009

Pemilihan Presiden sudah usai. SBY terpilih kembali. Saya mencatat hal yang diulang-ulang selama kampanye SBY. “Yang sudah baik akan diteruskan, yang masih kurang akan diperbaiki.” Bagaimana soal pemberantasan korupsi?

Majalah TEMPO minggu lalu melaporkan bahwa dari 400 lebih kasus korupsi yang dibawa ke pengadilan umum, 277 di antaranya berakhir dengan vonis bebas. Ini belum termasuk pengentian penyidikan di tengah jalan dengan SP3. Kita tahu banyak kasus megakorupsi seperti kasus Balongan maupun kasus penjualan tanker Pertamina yang dihentikan penyidikannya dengan SP3. Yang kemudian diadili dan divonis bersalah sekalipun, tak semuanya menjalani hukuman. Kasus Djoko Tjandra adalah contoh mutakhirnya.

Ini adalah gambaran bahwa mafia peradilan masih tak tersentuh. Mereka masih begitu nyata berkuasa, menginjak-injak hukum, dan mengencingi keadilan. Lembaga-lembaga penegak hukum, yaitu Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Mahkamah Agung, sama sekali belum tersentuh reformasi. Reformasi di lembaga-lembaga ini sama sekali belum dimulai. Padahal secara struktural Kepolisian dan Kejaksaan berada langsung di bawah Presiden.

Bagi saya ini bukan sebuah kekurangan. Ini adalah sebuah kelalaian. Sebuah kerja besar, yang mendesak untuk segera dilaksanakan, tapi tak kunjung dimulai. SBY mengatakan akan memperbaiki yang masih kurang, tapi dia tak pernah menyinggung soal hal-hal yang tak pernah dimulainya. Saya khawatir, gerakan ini tak akan pernah dilakukan.

Bagaimana dengan KPK? Saya melihat banyak kalangan gerah terhadap KPK. Lembaga-lembaga yang melahirkan KPK seperti DPR, Kepolisian, Kejaksaan, bahkan lembaga Kepresidenan, seperti kaget dengan eksistensi KPK. Ibarat memelihara anak macan, KPK tak lagi lucu dan enak dilihat, tapi mulai berani menggigit tangan tuannya. Sang Tuan pun mulai gerah.

Presiden SBY adalah salah satu yang gerah soal KPK. Mungkin karena besannya dikirim ke penjara oleh KPK. Presiden menganggap KPK sudah menjadi lembaga super, dengan kewenangan super. Ini sepertinya menggelisahkannya. Bukan tak mungkin di masa depan ada kerabat atau kolega dia yang dibui oleh KPK.

Kejaksaan jelas gerah. Urip adalah contoh nyata bahwa KPK adalah momok yang menakutkan bagi para jaksa. Demikian pula dengan kepolisian. Kabareskrim marah ketika tahu bahwa telpon genggamnya disadap oleh KPK. Demikian pula DPR.

Maka dimulailah gerakan sistematis menggembosi KPK. Salah satunya melalaui pembahasan UU Tipikor yang terseok-seok. Ini adalah lahan potensial untuk menggembosi, memreteli KPK.

Sementara itu KPK juga tidak steril. Ada banyak indikasi bahwa KPK sudah mulai dicemari oleh berbagai kepentingan pribadi pengurusnya. Salah satunya adalah kasus Antasari Azhar. Artinya, orang bisa punya banyak dalih untuk menggembosi KPK.

Perlu dicatat bahwa lembaga semacam KPK sudah pernah ada sebelumnya. Tapi tak pernah ada yang berumur panjang. Tak pernah ada yang benar-benar efektif memberantas korupsi. Modusnya sama: Pemberantasan korupsi terhenti ketika ia sudah mulai menggerogoti kepentingan orang-orang yang berkuasa.

Bagaimana 5 tahun ke depan? Embuh.

http://berbual.com

Long Mesir

24 April 2009

Suasana pemilihan umum sering mengingatkan aku pada seorang sanak. Namanya Mesir. Ia anak sulung, dalam logat kampung kami sulong. Karena itu dia kami panggil Long Mesir. Adik lelakinya menikah dengan kakak tertuaku.

Perawakannya kurus tinggi. Kulitnya coklat kehitaman. Meski tak kekar, otot-otot lengan, betis dan pahanya menojol jelas, tanda bahwa otot-otot itu sering dipakai untuk bekerja. Aku tak tahu pasti berapa umurnya ketika aku mulai mengenalnya di masa kecilku dulu. Pastilah lebih muda dari ayahku, karena anak tertuanya sebaya denganku.

Long Mesir seorang buruh panjat kelapa. Ia memanjat dan memetik kelapa yang sudah tua, lalu mengumpulkannya untuk diangkut. Kalau air sedang pasang kelapa-kelapa itu cukup dihanyutkan sepanjang selokan ke bagian depan kebun. Kalau tidak ada air di selokan, ia harus memasukkannya ke dalam keranjang lalu dipikul. (more…)

Fatwa-fatwa yang kita butuhkan

10 February 2009

     MUI sepertinya sedang kurang kerjaan. Akibatnya keluarlah fatwa-fatwa, yang dalam istilah ABG “nggak penting banget deeeeeeeeeeh”, seperti fatwa soal yoga dan haramnya golput. Saya sungguh heran, MUI bisa sampai pada kesimpulan hukum bahwa golput itu haram. Mikirnya bagaimana? Lha wong pemilu itu sendiri ndak ada hukumnya dalam Islam. Menurut hukum Islam, apakah pemerintah wajib menyelenggarakan pemilu? Tidak. Sunnah? Tidak juga. Mubah? Embuh!  Tapi herannya ujug-ujug, mak jeglek, MUI bisa memutuskan hukum yang sebetulnya “berada di bawah payung” hukum fiqh mengenai pemilu, yaitu memilih. 

   Lebih mengherankan lagi, hal-hal lain mengenai pemilu, yang sebetulnya lebih urgen untuk diperhatikan, malah tidak diperhatikan. Kita lihat anggota legislatif hasil pemilu yang lalu-lalu bergelimang duit korupsi. Mereka sekarang berduyun-duyun jadi pesakitan dan masuk penjara karena korupsi. Yang tidak/belum tertangkap jumlahnya lebih banyak. Yang tidak nyata-nyata korupsi sekalipun, tidak menunjukkan itikad baik untuk melayani kepentingan rakyat. Mereka sibuk memperkaya diri, atau mencari nikmat dengan duit rakyat, misalnya dengan pelesir ke luar negeri. Mengapa MUI tidak mengeluarkan fatwa untuk melaknat mereka?

    Kalau benar MUI kurang kerjaan, berikut ini saya beri daftar agenda masalah yang harus difatwakan MUI, yang urgensinya jauuuuuuuuuuuuuuuuuuh lebih penting daripada fatwa golput.

1. Haram hukumnya menghambur-hamburkan uang untuk kampanye pemilu, saat rakyat sebenarnya butuh uang itu untuk membeli makanan, berobat, dan membiayai anak sekolah.

2. Haram hukumnya berbohong dalam kampanye. Membangun citra seolah-olah seorang calon presiden/ legislatif peduli dengan nasib rakyat. Padahal mereka hanya peduli pada diri dan kepentingan mereka.

3. Haram hukumnya memberikan jabatan di BUMN/lembaga negara sebagai balas jasa kepada orang-orang yang telah berjasa dalam membantu seorang pejabat mencapai jabatannya. Contoh kasus: Presiden SBY memberikan jabatan komisaris BUMN kepada beberapa anggota tim kampanyenya.

4. Haram hukumnya mengklaim program-program yang didanai dengan anggaran negara (uang rakyat) sebagai program-program partai tertentu.

5. Haram hukumnya menghimpun dana kampanye dari konglomerat hitam/putih, pengusaha, dan lain-lain, dengan memberi kompensasi bisnis kalau nanti yang dibantu kampanyenya sukses terpilih.

6. Haram hukumnya tidak menerima hasil pemilu bagi peserta yang kalah, sehingga menyebabkan pemilu harus diulang dan menghabiskan uang rakyat, atau malah memprovokasi rakyat untuk bentrok dengan sesamanya.

7. Haram hukumnya bagi para ulama untuk mengambil keuntungan dalam bentuk apapun dari kegiatan sertifikasi halal, atau dari bisnis-bisnis berlabel syariat.

8. Masih banyak lagi………………………………….saya sudah capek ngetiknya.

Membicarakan Indonesia tanpa Mengeluh

12 November 2008

      Awal tahun 2007, ketika saya baru beberapa bulan mudik dan mulai hidup baru di tanah air, pada suatu kesempatan saya bertemu kangen dengan teman-teman semasa kuliah dan jadi aktivis kampus di UGM dulu. Seperti biasa acara diisi dengan makan dan obrolan ringan. Karena sudah lama tidak saling bertemu tentu saja isi pembicaraan di masa awal adalah seputar sudah nikah atau belum, anak berapa, sekarang kerja di mana, dan seterusnya. 

     Dasar mantan aktivis, pembicaraan akhirnya nyerempet juga ke urusan politik, birokrasi, dan sejenis itu. Tentu isinya kebanyakan adalah kekecewaan. Mulai dari keluhan soal tidak cakapnya petugas, buruknya pelayanan, sampai kecurangan-kecurangan petugas. Setelah lelah mengeluh, Anies Baswedan (waktu itu baru saja dilantik jadi Rektor Universitas Paramadina) berujar, “Kapan ya kita bisa berkumpul, membicarakan Indonesia, yang isinya bukan keluhan.”

     Kemarin, untuk pertama kalinya saya bisa merasa lega. Untuk pertama kalinya saya bisa menulis hal yang baik tentang Indonesia, yaitu tentang Reformasi di Kantor Pajak. Maaf, saya bukan tukang memburuk-burukkan bangsa sendiri. Tapi terlalu banyak kejadian yang begitu menyesakkan dada tentang bangsa ini. Pada saat yang sama saya mengalami banyak hal-hal baik, tapi sayangnya itu di negeri orang. Di Jepang, tempat saya pernah bermukim selama hampir 10 tahun. Hal-hal baik yang selama ini saya tulis, apa boleh buat, selalu tentang Jepang. 

    Tulisan saya tentang Reformasi di Kantor Pajak banyak mendapat tanggapan. Umumnya memberi kesaksian yang sama dengan yang saya tulis. Juga tidak sedikit yang memberi informasi tentang perbaikan di berbagai tempat, seperti pelayanan pembuatan SIM, pembuatan paspor, dan sebagainya. Tentu saja diiringi dengan cerita lama tentang kecurangan dan kebusukan pegawai pemerintah yang masih belum juga mau berubah. 

    Situasi ini sangat membahagiakan saya. 

    Seperti saya tulis sebelumnya, apa yang saya dan banyak orang saksikan itu belum menggambarkan reformasi di Kantor Pajak secara keseluruhan. Di tempat-tempat tersembunyi boleh jadi masih banyak yang berbuat nakal. Tapi perubahan ini terjadi di Kantor Pajak. Tempat yang selama ini dikenal sebagai “sarang penyamun” uang negara. Perubahan yang terlihat di sarang penyamun, tentu merupakan sebuah perubahan besar yang patut menjadi perhatian.

    Itu baru di Kantor Pajak. Pada saat yang sama kita menyaksikan masih banyak tempat yang masih belum juga mau berubah. Di Kejaksaan misalnya. Meski KPK sudah menangkap jaksa-jaksa nakal, dan kasusnya menjadi sorotan luas, tetap saja belum tampak geliat perubahan berarti di Kejaksaan. Demikian pula di Kepolisian.

    Lebih dari itu, reformasi kita tidak hanya menyangkut birokrasi. Tapi juga peri laku keseharian kita. Cara kita berlalu lintas, menggunakan tempat umum, menjaga kebersihan, menjaga ketertiban, semua masih jauh dari baik. Juga cara kita dalam melihat perbedaan. Ini semua perlu diubah.

    Banyak hal yang masih harus diubah. Saya mungkin harus kembali menulis tentang yang buruk-buruk. Obrolan dengan teman-teman mungkin masih akan berisi keluhan. Tapi setidaknya sesekali kita bisa membicarakan Indonesia dengan bangga, tanpa mengeluh.

Reformasi di Kantor Pajak

11 November 2008

       Ketika Departemen Keuangan mencanangkan reformasi birokrasi saya skeptis. Isu yang muncul ketika itu seolah pusat reformasi ini pada sistem remunerasi. Apa iya kalau gaji pegawai diperbaiki lantas mereka berhenti korupsi?  Suatu ketika saya diundang menghadiri sosialisasi masalah perpajakan oleh KPP Karawang. Waktu itu pembicaranya adalah Kakanwil Ditjen Pajak Jawa Barat. Isi pembicaraannya lagi-lagi soal reformasi di Kantor Pajak. Ketika itu saya juga skeptis

       Sekitar 3 bulan yang lalu, perusahaan tempat saya bekerja mengajukan restitusi PPN ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Bekasi . Jumlahnya lumayan untuk ukuran sebuah PMA berskala kecil. Semua dokumen saya lengkapi, lalu permohonan saya ajukan. Saya ketar ketir. Di masa lalu restitusi PPN adalah salah satu objek perasan petugas pajak. Suara-suara di sekitar saya bernada sama soal ini. “Kembali 50% itu bagus, bisa 70% excellent.”

(more…)

Dua Kapolri, Satu Lakon

7 November 2008

        ”New broom sweeps clean”. Seperti hendak melakonkan makna pepatah itu, Kapolri yang baru dilantik, Bambang Hendarso Danuri melakukan gerak cepat untuk unjuk kinerja. Ia mencanangkan program pemberantasan preman. Dimulai dari 5 Polda, aksi pemberantasan preman ini diperintahkan untuk dilakukan di semua Polda. 

       Hal yang sama juga dilakukan pendahulunya. Ketika baru dilantik, Sutanto juga melakukan gebrakan. Waktu itu yang jadi korban labrakannya adalah perjudian. Tak jelas benar bagi saya apakah pilihan Bambang Hendarso untuk memerangi preman saat ini karena program gebrakan pendahulunya itu sudah berhasil membasmi perjudian, atau dia cuma sekedar mencoba tampil beda. Ya, bagi kita memang tak jelas bagaimana pencapaian Sutanto dalam perang anti judinya dulu. Saya khawatir program gebrakan Kapolri baru ini berakhir sama, yaitu tak jelas juga. (more…)