Archive for the ‘Sains, Teknologi, Pendidikan’ Category

Menulis itu sedekah

24 March 2010

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan
hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk
keabadian” – Pramoedya Ananta Toer–

Kouichi Tanaka dan Eiji Osawa adalah dua orang ilmuwan kimia Jepang. Ada perbedaan mendasar antara keduanya. Tanaka adalah penerima Hadiah Nobel (Kimia, 2002), sedangkan Osawa tidak. Yang membedakan keduanya adalah Tanaka menulis, sedangkan Osawa tidak.

Tahun 1970 Osawa meramalkan adanya struktur bahan karbon yang membentuk bola melalui sebuah tulisan ilmiah. Sayangnya gagasan tersebut ditulis di sebuah jurnal berbahasa Jepang, sehingga tidak pernah sampai ke Eropa maupun Amerika. Pada saat yang sama seorang ilmuwan Amerika RW Hanson juga meramalkan hal yang serupa. Tapi dia malah sama sekali tidak menuliskan gagasan tersebut.

Lima belas tahun kemudian struktur karbon yang diramalkan Osawa itu terwujud secara ekperimental, dan kemudian disebut C60 oleh Harold Kroto , James R. Heath, Sean O’Brien, Robert Curl, dan Richard Smalley. Penemuan ini berlanjut dengan penemuan fullerene, yaitu bahan karbon berstruktur tabung dalam skala nanometer, yang dalam dunia ilmiah dikenal dengan carbon nanotube. Carbon nanotube adalah salah satu bahan yang sangat penting dalam pengembangan nanoteknologi saat ini. Atas penemuan ini keempat ilmuwan tadi dianugerahi Hadiah Nobel pada tahun 1996.

Tanaka adalah peneliti di Shimazu corporation, sebuah perusahaan Jepang produsen alat ukur. Ia mengembangkan spektrometer massa, sebuah alat yang mampu mengurai komponen penyusun suatu bahan berdasarkan massa molekul penyusunnya. Tanaka menulis hasil risetnya dalam bahasa Inggris. Satu di sebuah konferensi internasional, dan satu lagi di sebuah jurnal internasional tentang spektroskopi massa. Tadinya Hadiah Nobel atas penemuan/pengembangan spektrometer massa hendak diberikan kepada ilmuwan Inggris yang lebih banyak menghasilkan makalah sehingga lebih dikenal. Tapi belakangan panitia menemukan makalah Tanaka yang dipublikasi lebih dahulu dan menjadi bahan rujukan, sehingga diputuskan untuk menganugerahkan penghargaan itu kepadanya.

Tanaka sebenarnya tidak mahir berbahasa Inggris. Berbeda dengan kebanyakan penerima Hadiah Nobel sains yang kebanyakan adalah profesor yang biasa bergaul secara internasional, Tanaka „hanyalah“ seorang sarjana S1. Ia adalah satu-satunya penerima Hadiah Nobel di bidang sains yang bukan doktor. Saat menyampaikan kuliah pada seremoni Nobel, dia harus menyampaikannya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata. Saat ditanya wartawan tentang kesannya setelah kuliah tersebut, ia berujar pendek, „I hate English!“

Menulis adalah berbagi. Gagasan yang kita tulis dan dibaca orang lain boleh jadi akan menginspirasi orang untuk berbuat lebih lanjut atau lebih baik. Itulah hal yang paling mendasar pada publikasi di dunia sains. Dari suatu temuan seorang ilmuwan, ilmuwan lain akan melanjutkan dan mengembangkannya. Itu hanya bisa dicapai kalau mereka saling berbagi. Salah satu media untuk berbagi itu adalah tulisan.

Osawa memang telah menuliskan gagasannya tentang struktur karbon tadi. Sayangnya media yang dia pakai tidak memadai. Ia menulis dalam bahasa Jepang, yang tidak bisa menjangkau pusat sains dunia, yaitu Eropa dan Amerika. Artinya gagasannya tidak tersebar dengan baik. Sebaliknya, Hanson sebenarnya punya peluang lebih baik karena dia berbahasa Inggris. Tapi ia melalaikan satu hal penting, yaitu ia tidak menuliskan gagasannya.

Menulis adalah berbagi. Kita tidak menulis untuk menunjukkan bahwa kita pintar atau hebat. Kalau niatnya demikian, tulisan kita akan dipenuhi oleh hal-hal hebat yang mungkin sulit dipahami pembaca. Menulis dengan niat berbagi artinya kita akan berusaha sedemikian mungkin untuk membuat tulisan yang mudah dipahami oleh pembaca. Kalau Anda merasa bahwa menulis itu sulit, cobalah tulis gagasan Anda. Lalu baca sendiri tulisan itu, dengan membayangkan diri Anda sebagai orang yang sangat awam dalam hal yang Anda tulis. Dengan begitu Anda akan berempati pada pembaca, menemukan hal yang sulit dipahami pada tulisan Anda. Lalu ubahlah tulisan itu agar mudah dipahami.

Menulis itu sedekah. Bersedekah itu tidak sulit.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Love what you do!

3 March 2010

Mengerjakan sesuatu yang kita sukai tentu menyenangkan. Karenanya dalam memilih pekerjaan umumnya orang akan mencari pekerjaan yang dia sukai. Tapi dalam kenyataan tak semua orang bisa menemukan pekerjaan yang dia sukai. Pada situasi itu hanya ada satu pilihan, yaitu (mencoba) menyukai apa yang kita kerjakan.

Sejak kecil saya suka pelajaran Matematika dan IPA. Nilai saya untuk mata pelajaran itu selalu bagus. Ketika SMA lebih khusus lagi saya menyukai pelajaran Fisika. Karena itulah saya memilih untuk melanjutkan kuliah ke jurusan Fisika.

Tapi Fisika yang saya hadapi saat SMA ternyata berbeda dengan yang saya hadapi saat kuliah. Mulai tahun kedua saya mulai mengalami kesulitan dalam pelajaran. Banyak topik yang gagal saya pahami. Aljabar vektor yang merupakan salah satu alat untuk memahami Mekanika Kuantum terlalu rumit buat saya. Otomatis saya juga keteteran saat mendalami Mekanika Kuantum. Padahal topic-topik Fisika tingkat lanjut semua berbasis pada Mekanika Kuantum.

Terus terang saya sempat frustrasi dengan dunia Fisika, lalu mencari „pelarian“ di dunia aktivitas ekstrakurikuler. Di sini suasananya lebih menarik. Dan yang penting, saya tidak harus berhadapan dengan dunia abstrak seperti ruang vektor atau ruang kuantum. Kala itu tak jarang orang mengira saya mahasiswa Fisipol.

Tapi ada saatnya saya harus berhenti dengan keasyikan itu. Memasuki tahun ke 6 kuliah saya sadar bahwa saya harus lulus. Kasihan orang tua yang sudah membiayai kuliah saya. Tak ada pilihan, saya harus kembali ke Fisika. Saya mulai mencari topik skripsi. Kebetulan ada dosen yang baru selesai S2 di UI, dan dia dibimbing oleh seorang profesor tamu dari Jepang. Saya memilih untuk mengerjakan topik yang sama dengan dosen tersebut, di bidang Fisika Zat Padat.

Waktu itu saya membutuhkan kristal untuk bahan eksperimen, dan kristal itu tidak tersedia di Indonesia. Saya beranikan diri menyurati profesor Jepang tadi untuk minta bantuan. Berhasil. Dia mengirimi saya 3 potong kristal. Lalu saya membuat alat untuk keperluan eksperimen, mencari sendiri alat ukur di berbagai laboratorium di UGM dan Batan. Dosen pembimbing saya nyaris tak melakukan apa-apa. Semua saya kerjakan atas inisiatif saya sendiri.

Dalam waktu enam bulan saya berhasil menyelesaikan skripsi. Banyak mahasiswa yang terhambat di situ hingga bertahun-tahun. Saya sadar bahwa saya bisa melakukan itu bukan karena saya pintar di bidang Fisika. Modal utamanya tidak di situ, tapi pada ketekunan saya. Itu ditambah dengan kemampuan saya menulis, yang memang cukup baik. Hasilnya, skripsi saya diterima nyaris tanpa koreksi dari pembimbing, dan saya lulus kuliah.

Lepas dari bangku kuliah saya mencoba berkarir sebagai logging engineer di lapangan minyak. Saya menyukai pekerjaan ini. Basisnya adalah ilmu Fisika, tapi bukan yang rumit dan abstrak seperti Mekanika Kuantum. Pekerjaannya sendiri menantang, di alam terbuka, dan penuh bahaya. Cocok untuk laki-laki yang punya jiwa petualang.

Tapi saya tak suka lingkungan kerjanya. Tak ada manusia di situ. Cuma segelintir. Saya adalah mantan aktivis yang punya kawan seantero Yogya. Waktu itu belum ada HP atau internet seperti sekarang. Terisolasi di pedalaman Sumatera Selatan sana adalah siksaan luar biasa. Akhirnya saya keluar dari pekerjaan ini. Saya kemudian menjadi dosen, pekerjaan yang sejak lama jadi cita-cita saya.

Bekerja sebagai dosen sungguh menyenangkan saya. Saya suka mengajar dengan berbagai aspeknya. Tapi menjadi dosen membuka „hubungan lama“ saya dengan Fisika yang memusingkan itu. Saya berusaha menghindar. Ketika mendapat kesempatan untuk kuliah S2 ke Jepang saya sengaja memilih Fisika Terapan dengan niat agar tak lagi berurusan dengan Mekanika Kuantum. Celakanya tanpa saya kehendaki saya malah mendapat profesor pembimbing yang topik penelitiannya di bidang ilmu dasar, bukan terapan. Lebih parah lagi saya harus meneliti bahan organik. Padahal sejak SMA saya sangat benci pada Kimia Organik.

Lagi-lagi saya tak punya pilihan. Saya harus belajar dan melakukan eksperimen di bidang yang tak saya sukai. Sudah kepalang basah, saya harus hadapi itu dengan tekun, meski banyak hari-hari harus saya lalui dengan dimaki-maki oleh professor saya, karena saya tidak mampu memahami atau menjelaskan sebuah persoalan. Itu karena basis saya di bidang Mekanika Kuantum dan Fisika Zat Padat memang lemah.

Tak cuma masalah pemahaman. Juga ada hambatan fisik. Salah satu eksperimen yang harus saya lakukan dalam penelitian adalah mengamati karakter material di bawah tekanan tinggi. Saya menggunakan alat yang disebut diamond anvil cell. Alat ini terdiri dari dua potong intan yang digunakan untuk menjepit sebuah pelat logam. Pelat itu dilubangi sehingga di dalamnya tercipta sebuah ruang. Ke dalam ruang itulah dimasukkan sampel yang hendak diamati, ditambah media cair penerus tekanan dan serpihan kristal ruby untuk mengukur tekanan. Saat kedua potong intan itu ditekan, ruangan tadi akan mengecil dan terciptalah kondisi tekanan tinggi.

Saya menggunakan istilah ruang, tapi ini ruang yang sungguh kecil! Diameter lubang hanya 0.3 milimeter. Untuk memasukkan benda-benda tadi saya menggunakan lidi yang di ujungnya saya ikatkan benang wol yang sangat halus. Ujung benang wol itu saya gunakan untuk mengangkat dan menggeser benda-benda itu. Ukuran benda serta lubang sangat kecil sehingga tak mungkin semua itu dilakukan dengan mata telanjang. Seluruh pekerjaan itu dilakukan dengan panduan pengamatan visual di bawah mikroskop.

Saya punya masalah fisik. Tangan saya tidak stabil. Sering gemetaran. Tremor, kata dokter. Tapi saya harus memasukkan beberapa benda yang sangat kecil dan rapuh ke dalam sebuah lubang yang sangat kecil pula. Luar biasa sulit.

Ada tiga bulan yang saya lalui untuk berlatih menggunakan alat itu. Tiga bulan terus menerus, tiap hari saya mengulang hal yang sama. Tiap hari gagal, saya mulai lagi. Lagi dan lagi. Setelah tiga bulan itu barulah saya mulai menghasilkan data eksperimen.

Begitulah. Dengan terseok-seok akhirnya saya bisa menyelesaikan studi hingga meraih gelar doctor. Bahkan kemudian saya berkarir selama 4 tahun sebagai peneliti tamu di Jepang. Kadang saya heran sendiri, kok saya bisa jadi doktor bahkan profesor tamu di Jepang.

Sejak masih kuliah S1 saya tidak berminat untuk bekerja di dunia industri. Saya tak suka. Saya tak suka pada jadwal yang tetap, harus masuk jam sekian, pulang jam sekian. Saya juga tak suka bekerja di bawah orang, disuruh-suruh. Saya suka pekerjaan yang independen, di mana saya menentukan apa yang harus saya lakukan.

Tapi lagi-lagi saya harus menghadapi itu. Karena berbagai alasan saya harus memulai karir di dunia industri. Tak terasa sudah tiga tahun saya berkarir di dunia ini. Sejauh ini saya menikmatinya.
Kawan. Dalam hidup ini sering kita harus melakukan hal-hal yang tidak kita sukai. Tapi pengalaman saya mengajarkan bahwa kita pun bisa melakukan hal-hal yang tadinya tidak kita sukai. Bahkan kita kemudian bisa menyukainya.

If you cannot do what you love, try to love what you do. Itulah resep saya.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Manajemen

23 February 2010

Kita harus berterima kasih pada yang menciptakan istilah dan konsep manajemen. Sungguh, dengan manajemen segala sesuatu jadi mudah. Kita semua mungkin sudah merasakan hal itu. Tapi saya ingin berbagi informasi tentang berbagai bentuk kemudahan lain yang dihasilkan oleh sesuatu bernama manajemen.

Kalau Anda pemegang gelar sarjana di bidang ilmu yang sulit-sulit, dan Anda membutuhkan gelar S2, tapi berbagai keterbatasan membuat Anda tak mungkin meraih gelar itu, cobalah dengan manajemen. Pilihan pertama adalah paket Magister Manajemen (MM). Tersedia banyak pilihan di situ. Ada yang bisa diperoleh dengan kuliah di akhir pekan atau malam hari. Ada yang cuma memerlukan waktu kuliah enam bulan di akhir pekan. Ada yang bahkan tak memerlukan kuliah sama sekali. Ijazahnya bisa dipesan, Anda cukup hadir di acara wisuda.

Masih ada pilihan lain. Kalau Anda seorang dokter, dan sulit bagi Anda untuk mengambil program dokter spesialis yang makan waktu, tenaga dan biaya, maka Anda punya pilihan, misalnya Manajemen Rumah Sakit, atau Manajemen Kesehatan, atau yang sejenis itu. Dijamin, Anda akan bisa memperkaya diri dengan gelar tanpa harus bersusah payah.

Yang di jurusan teknik bisa mengambil jurusan Manajemen Infrastruktur, atau Manajemen Energi. Dijamin tak serumit kalau Anda harus mengambil jurusan Teknik Sipil atau Elektro. Toh, gelar yang Anda peroleh sama juga, yaitu Magister Teknik atau MT.

Saya pernah mengajar di program S2 Teknik Sipil di suatu PTN. Pesertanya adalah pejabat-pejabat daerah, setingkat Kepala Dinas atau Kepala Bidang. Juga dosen-dosen senior yang dulu belum sempat melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Sudah barang tentu mereka ini berduit. Lebih berduit dari dosen yang mengajar. Sudah barang tentu mereka tidak bisa diharapkan untuk belajar dengan benar. Sudah tua, otaknya tumpul. Atau boleh jadi otaknya sudah tumpul sejak muda. Wallahu alam.

Sudah barang tentu mereka juga tak bisa disuruh riset sebagaimana lazimnya mahasiswa pasca sarjana. Juga tak boleh diharapkan mereka membuat tesis. Lha, tugas kuliah saja mungkin mereka tak sanggup membuatnya.

Alkisah suatu hari saya didatangi seorang mahasiswa saya di program S2 itu. Umurnya lebih tua dari saya. Mobilnya lebih bagus dari saya. Dan hebatnya dia mengerti betul prinsip manajemen. Sungguh membanggakan, karena dia mahasiswa saya.

Prinsip manajemen yang saya maksud adalah prinsip yang sangat mendasar, yaitu “getting things done through other people’s hands” alias “menyelesaikan masalah dengan meminjam tangan orang lain”.

Setelah basa-basi sejenak, dia bicara. “Saya mau bikin tesis nih, Pak.”

“Wah, bagus itu. Mudah-mudahan Bapak bisa jadi orang pertama yang lulus di program ini.”

“Iya, tapi saya ada sedikit kendala.”

“Apa itu?”

“Saya kadang kesulitan mengekspresikan pendapat saya dalam bahasa tulisan.”

“Oh, kalau itu saya bisa bantu. Kebetulan saya punya banyak pengalaman menulis karya ilmiah, termasuk di jurnal internasional. Saya bisa menjadi pembimbing informal Bapak, karena bidang saya bukan Teknik Sipil. Nanti saya bantu untuk masalah redaksionalnya.”

“Kalau Bapak mau bantu saya, ada baiknya Bapak bantu secara menyeluruh saja. Jadi saya terima jadi saja.”

“Maksudnya gimana?”

“Ya, minta tolong Bapak saja yang menulis semua.”

Oh, my God. Oh Manajemen……………….

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Jalur Gaza

11 November 2009

Ini bukan cerita tentang Palestina. Ini cerita tentang Jakarta. Tentang sebuah sekolah.

Di TV diberitakan tentang seorang siswa kelas 1 di sebuah SMA Negeri di Jakarta. Ia dijemput paksa oleh sejumlah seniornya, dibawa ke sebuah taman, lalu dianiaya. Ia mengalami luka-luka di wajah. Bibirnya robek, wajahnya lebam-lebam. Ia harus menjalani rawat inap di rumah sakit selama beberapa hari.

Apa pasal? Alkisah, siswa kelas 3 menetapkan beberapa jalur di sekolah yang mereka sebut Jalur Gaza. Jalur ini tidak boleh dilewati oleh selain anak kelas 3. Si anak yang teraniaya tadi lalai. Ia melewati jalur itu.

Cerita ini sungguh menyesakkan dada saya. Di sekolah, tempat anak-anak harusnya dididik dan dikendalikan, ada manusia-manusia fasis yang bisa seenaknya membuat aturan. Di sekolah, tempat di mana seharusnya guru-guru yang mengatur, ada sekelompok murid yang punya kekuasaan mengatur. Dan mereka mengatur dengan kekerasan!

Para guru dalam wawancara TV mengatakan bahwa sebenarnya mereka tahu soal Jalur Gaza ini. Tapi sepertinya mereka tak berdaya untuk menghapuskannya. Konon tradisi dungu ini sudah berlangsung sejak tahun 80-an. Itulah salah satu alasan kenapa tradisi ini tidak dihapus.

Perlu dicatat bahwa SMA adalah SMA percontohan untuk proyek anti kekerasan (anti-bullying). Sebuah ironi yang lebih menyakitkan.

Lalu kita bertanya, ke mana anak-anak kita akan kita kirim untuk belajar? Sekolah ternyata bukan tempat yang aman untuk belajar. Di sekolah anak kita bisa celaka. Di sekolah justru premanisme dibiarkan. Di sekolah justru kesewenangan diajarkan.

Polisi sepertinya tidak menganggap serius kasus ini. Ada ratusan kejadian kekerasan di tanah air, seingat saya memang belum pernah ada yang berujung hingga ke pengadilan. Biasanya polisi meminta pihak-pihak yang terlibat, termasuk orang tua siswa untuk berdamai. Lalu selanjutnya pihak sekolah diminta untuk melakukan “pembinaan”.

Ini kesalahan fatal. Ini bukan perkara disiplin ringan yang bisa diselesaikan dengan cara damai dan pembinaan. Ini adalah tindak kriminal. Tindak kriminal harus diproses dengan hukum pidana. Pembiaran oleh polisi berarti membiarkan kriminal-kriminal muda tumbuh di lingkungan pendidikan. Membebaskan mereka dari jerat hukum berarti mengajarkan kepada mereka bahwa mereka bisa melakukan tindak pidana tanpa dikenai sangsi hukum.

Ini tidak boleh dibiarkan.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Doktor a la PGSD

9 June 2009

PGSD yang kita kenal adalah singkatan dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Ini adalah Program Diploma II di bidang pendidikan, untuk mendidik calon guru Sekolah Dasar. Tamat dari program ini seseorang dianggap layak menjadi guru Sekolah Dasar.

Tapi PGSD yang hendak saya bahas dalam tulisan ini lain lagi ceritanya. PGSD yang ini singkatan dari Pokoknya Gelar Saya Doktor! Ini adalah cerita yang mencerminkan buruknya dunia pendidikan kita.

UU Guru dan Dosen yang dianggap bisa memperbaiki nasib dan kesejahteraan guru dan dosen ternyata membawa efek sampingan. Perbaikan gaji guru dan dosen melalui sejumlah tunjangan tidak diberikan secara otomatis dan pukul rata. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi, antara lain sertifikasi. Untuk guru, salah satu syarat untuk sertifikasi ini adalah lulus sarajana S1. Sedangkan untuk dosen, harus dipenuhi kualifikasi sarjana S2. Tambahan lagi, bagi dosen akan lebih menguntungkan bila ia punya kualifikasi S3. Lulus program doktoral akan lebih memudahkan untuk mencapai jabatan fungsional akademik guru besar (profesor).

Semua syarat itu tentu dimaksudkan untuk kebaikan. Artinya para guru dan dosen harus memiliki kualifikasi tertentu, agar mutu pendidikan yang mereka asuh meningkat. Tapi apa lacur. Negeri ini adalah negeri sertifikat. Segala sesuatu ditentukan oleh kertas-kertas dokumen, bukan isi yang diwakili kertas itu. Untuk naik seberkas dokumen jauh lebih penting dari mutu si penyerah dokumen itu. Petugas dan pejabat yang menilai lebih teliti memeriksa dokumen ketimbang memeriksa orang.

Maka pak guru dan dosen tidak berlomba meningkatkan kualitas. Mereka berlomba berburu sertifikat. Program S1 bagi guru-guru tumbuh bak jamur di mana-mana. Semua menawarkan kemudahan. Kuliah cukup di akhir pekan. Programnya tidak lama-lama, bahkan bisa lebih singkat dari program reguler. Demikian pula halnya dengan program S2-S3 bagi dosen. Kualitasnya? Jangan tanya. Lulusannya menyandang predikat PGSD tadi. Pokoknya Gelar Saya Doktor.

***

Dosen-dosen kita memang disuruh hidup di alam tak rasional. Seorang dosen bergelar doktor yang baru menyelesaikan pendidikan bisa mendapat pangkat/golongan IIIc atau IIId. Gaji perbulan kurang lebih 2,5 juta rupiah. Mau bagaimanapun caranya, mustahil bisa hidup layak dengan uang sekecil itu.

Tapi biasanya ada yang berdalih. Dosen kan punya pemasukan lain. Misalnya, penelitian, proyek, program ini itu. Hingga jabatan struktural, posisi politis dan sebagainya.

Ya, ada yang dapat itu, sehingga penghasilannya jauh melampaui orang-orang yang bekerja di sektor swasta. Tapi masalahnya tidak semua dapat. Universitas besar punya posisi yang lebih baik untuk mendapat proyek-proyek. Universitas kecil nyaris gigit jari. Itu satu soal. Soal lain, lha kenapa universitas kok mengurusi proyek-proyek untuk cari duit, bukan mengembangkan pendidikan.

Penelitian? Ini masalah lagi. Penelitian akhirnya jadi ajang untuk cari duit, bukan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. Hasilnya, lagi-lagi setumpuk kertas laporan.

Gejala PGSD juga tidak terlepas dari ketimpangan ini. Penyelenggaranya (perguruan tinggi) butuh pemasukan. Pesertanya butuh gelar. Betermulah mereka di pasar bisnis pendidikan.

wordpress plugins and themes

Dr. Cand

8 October 2008
Candidate

Saya sedang menjadi panitia sebuah simposium Indonesia-Jepang. Saya ikut terlibat dalam kepanitiaan sudah agak belakangan, separo kerjaan sudah berlangsung. Pada saat saya bergabung, proposal, first announcement sudah jadi.

Saat membaca nama-nama pembicara, mata saya tertumbuk pada tulisan Dr. Cand. Fulan. Saya fikir itu nama orang. Tapi kok ada beberapa yang sama. Dr. Cand. Fulan, Dr. Cand. Anu, Dr. Cand. XXX. Baru saya ngeh bahwa yang dimaksud adalah kandidat doktor.

Jadi ingat, dulu para penulis kolom opini di koran kerap mencantumkan statusnya di ujung tulisan: Penulis adalah kandidat doktor bidang anu anu di universitas anu anu.

(more…)

wordpress plugins and themes

Riset Itu Bukan Sulap

24 June 2008
Shimane Research Business Park

Tahun 2002 adalah salah satu tahun yang gemilang dalam sejarah sains dan teknologi Jepang. Sejak tahun 2000 selama 3 tahun berturut-turut ilmuwan Jepang mendapat anugerah Hadiah Nobel. Tahun 2000 Prof. Shirakawa mendapat Hadiah Nobel Kimia atas jasanya menemukan polimer konduktif. Tahun berikutnya giliran Prof. Noyori, juga memperoleh Hadian Nobel Kimia. Puncaknya, tahun 2002 Jepang mendapat dua Hadiah Nobel, yaitu untuk Prof. Koshiba (Fisika) atas keberhasilannya mendeteksi neutrino, dan karyawan sebuah perusahaan alat ukur Shimazu, Koichi Tanaka (Kimia) yang berhasil mengembangkan metode ionisasi pada spektroskopi massa.

Untuk merayakan keberhasilan itu, tak lama setelah penganugerahan Hadiah Nobel, stasiun TV NHK melakukan wawancara khusus terhadap Prof. Koshiba dan Prof. Esaki. Prof Esaki adalah penerima Hadiah Nobel Fisika tahun 1973 dengan penemuan berupa efek terowongan elektron pada semikonduktor.

(more…)

wordpress plugins and themes

Wawancara dengan Harian Jurnas

23 February 2008

http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Sosok%20dan%20Sketsa&rbrk=&id=36978

Jakarta | Sabtu, 23 Feb 2008
Hasanudin Abdurakhman: Kebijakan Penelitian Harus Jelas
by : Agus Dwi Darmawan

ADA beberapa masalah yang menjadi kendala perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Ternyata lambannya perkembangan itu bukan semata-mata disebabkan minimnya dana atau tidak mampunya sumberdaya manusia Indonesia.

Hal ini lebih disebabkan karena tidak adanya strategi atau bagaimana konsep penelitian itu yang sebenarnya. Sebagai ilmuwan yang menamatkan program master sampai doktor di Jepang, Hasanudin Abdurakhman tahu persis bagaimana dunia ilmu pengetahuan bisa maju. Salah satunya adalah kondisi yang menunjang bagi peneliti, termasuk di antaranya ketercukupan gaji.

(more…)

wordpress plugins and themes

Profesor Bikin Asosiasi

27 February 2007

Beberapa bulan yang lalu diberitakan bahwa para profesor di 6 PTN berstatus BHMN membentuk asosiasi profesor. Tujuan pembentukan asosiasi ini adalah untuk meningkatkan kinerja riset di perguruan tinggi dalam rangka mewujudkan universitas riset.

Membaca berita ini, saya lantas teringat pada berita lain, yang disiarkan oleh Metro TV. Dalam berita itu disebutkan bahwa hanya 30 persen dari profesor di UGM yang aktif melakukan penelitian. UGM adalah universitas yang kualitasnya setara dengan 5 BHMN lain. Karenanya keadaan di UGM bisa dianggap mewakili keadaan di 5 PTN lain. Artinya secara kasar bisa kita katakan bahwa hanya 30 persen dari anggota asosiasi profesor tadi yang aktif meneliti. Bila kriteria “aktif melakukan penelitian” tadi diperluas menjadi “aktif menulis di jurnal ilmiah internasional”, maka angka yang muncul pasti jauh di bawah 30 persen.
Pertanyaan yang segera muncul di benak saya ketika itu, mungkinkah asosiasi itu mampu memacu pertumbuhan riset hingga terwujudnya universitas riset? Kini, setelah beberapa bulan berlalu, kita belum mendengar adanya langkah lanjutan setelah asosiasi profesor terbentuk.

(more…)

wordpress plugins and themes

Undoukai

28 October 2006
Undoukai

Hari Minggu lalu saya hadir di TK (youchien) tempat anak saya Sarah “sekolah”. Ada kegiatan pertandingan olah raga, yang disebut undoukai. Di Jepang tanggal 10 Oktober adalah Hari Olah Raga, karenanya di sekolah-sekolah dan tempat-tempat lain banyak diselenggarakan pertandingan olah raga.

(more…)

wordpress plugins and themes