<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berbual &#187; Sains, Teknologi, Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://berbual.com/category/sains-teknologi-pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://berbual.com</link>
	<description>tempat ngobrol ngalor-ngidul</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Jul 2010 04:37:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menulis itu sedekah</title>
		<link>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/menulis-itu-sedekah-2/</link>
		<comments>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/menulis-itu-sedekah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 05:42:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa dan Budaya Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Media, Bahasa, dan Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Sains, Teknologi, Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Neobel]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/menulis-itu-sedekah-2/</guid>
		<description><![CDATA[“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan
hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk
keabadian” – Pramoedya Ananta Toer–
Kouichi Tanaka dan Eiji Osawa adalah dua orang ilmuwan kimia Jepang. Ada perbedaan mendasar antara keduanya. Tanaka adalah penerima Hadiah Nobel (Kimia, 2002), sedangkan Osawa tidak. Yang membedakan keduanya adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan<br />
hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk<br />
keabadian” – Pramoedya Ananta Toer–</p>
<p>Kouichi Tanaka dan Eiji Osawa adalah dua orang ilmuwan kimia Jepang. Ada perbedaan mendasar antara keduanya. Tanaka adalah penerima Hadiah Nobel (Kimia, 2002), sedangkan Osawa tidak. Yang membedakan keduanya adalah Tanaka menulis, sedangkan Osawa tidak.</p>
<p>Tahun 1970 Osawa meramalkan adanya struktur bahan karbon yang membentuk bola melalui sebuah tulisan ilmiah. Sayangnya gagasan tersebut ditulis di sebuah jurnal berbahasa Jepang, sehingga tidak pernah sampai ke Eropa maupun Amerika. Pada saat yang sama seorang ilmuwan Amerika RW Hanson juga meramalkan hal yang serupa. Tapi dia malah sama sekali tidak menuliskan gagasan tersebut.</p>
<p>Lima belas tahun kemudian struktur karbon yang diramalkan Osawa itu terwujud secara ekperimental, dan kemudian disebut C60 oleh Harold Kroto , James R. Heath, Sean O&#8217;Brien, Robert Curl, dan Richard Smalley. Penemuan ini berlanjut dengan penemuan fullerene, yaitu bahan karbon berstruktur tabung dalam skala nanometer, yang dalam dunia ilmiah dikenal dengan carbon nanotube. Carbon nanotube adalah salah satu bahan yang sangat penting dalam pengembangan nanoteknologi saat ini. Atas penemuan ini keempat ilmuwan tadi dianugerahi Hadiah Nobel pada tahun 1996. </p>
<p>Tanaka adalah peneliti di Shimazu corporation, sebuah perusahaan Jepang produsen alat ukur. Ia mengembangkan spektrometer massa, sebuah alat yang mampu mengurai komponen penyusun suatu bahan berdasarkan massa molekul penyusunnya. Tanaka menulis hasil risetnya dalam bahasa Inggris. Satu di sebuah konferensi internasional, dan satu lagi di sebuah jurnal internasional tentang spektroskopi massa. Tadinya Hadiah Nobel atas penemuan/pengembangan spektrometer massa hendak diberikan kepada ilmuwan Inggris yang lebih banyak menghasilkan makalah sehingga lebih dikenal. Tapi belakangan panitia menemukan makalah Tanaka yang dipublikasi lebih dahulu dan menjadi bahan rujukan, sehingga diputuskan untuk menganugerahkan penghargaan itu kepadanya.</p>
<p>Tanaka sebenarnya tidak mahir berbahasa Inggris. Berbeda dengan kebanyakan penerima Hadiah Nobel sains yang kebanyakan adalah profesor yang biasa bergaul secara internasional, Tanaka „hanyalah“ seorang sarjana S1. Ia adalah satu-satunya penerima Hadiah Nobel di bidang sains yang bukan doktor. Saat menyampaikan kuliah pada seremoni Nobel, dia harus menyampaikannya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata. Saat ditanya wartawan tentang kesannya setelah kuliah tersebut, ia berujar pendek, „I hate English!“</p>
<p>Menulis adalah berbagi. Gagasan yang kita tulis dan dibaca orang lain boleh jadi akan menginspirasi orang untuk berbuat lebih lanjut atau lebih baik. Itulah hal yang paling mendasar pada publikasi di dunia sains. Dari suatu temuan seorang ilmuwan, ilmuwan lain akan melanjutkan dan mengembangkannya. Itu hanya bisa dicapai kalau mereka saling berbagi. Salah satu media untuk berbagi itu adalah tulisan.</p>
<p>Osawa memang telah menuliskan gagasannya tentang struktur karbon tadi. Sayangnya media yang dia pakai tidak memadai. Ia menulis dalam bahasa Jepang, yang tidak bisa menjangkau pusat sains dunia, yaitu Eropa dan Amerika. Artinya gagasannya tidak tersebar dengan baik. Sebaliknya, Hanson sebenarnya punya peluang lebih baik karena dia berbahasa Inggris. Tapi ia melalaikan satu hal penting, yaitu ia tidak menuliskan gagasannya.</p>
<p>Menulis adalah berbagi. Kita tidak menulis untuk menunjukkan bahwa kita pintar atau hebat. Kalau niatnya demikian, tulisan kita akan dipenuhi oleh hal-hal hebat yang mungkin sulit dipahami pembaca. Menulis dengan niat berbagi artinya kita akan berusaha sedemikian mungkin untuk membuat tulisan yang mudah dipahami oleh pembaca. Kalau Anda merasa bahwa menulis itu sulit, cobalah tulis gagasan Anda. Lalu baca sendiri tulisan itu, dengan membayangkan diri Anda sebagai orang yang sangat awam dalam hal yang Anda tulis. Dengan begitu Anda akan berempati pada pembaca, menemukan hal yang sulit dipahami pada tulisan Anda. Lalu ubahlah tulisan itu agar mudah dipahami.</p>
<p>Menulis itu sedekah. Bersedekah itu tidak sulit.</p>
<p>http://berbual.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/menulis-itu-sedekah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Love what you do!</title>
		<link>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/love-what-you-do/</link>
		<comments>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/love-what-you-do/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 03:39:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa dan Budaya Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita-Dongeng-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sains, Teknologi, Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[eksperimen]]></category>
		<category><![CDATA[Fisika]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/love-what-you-do/</guid>
		<description><![CDATA[Mengerjakan sesuatu yang kita sukai tentu menyenangkan. Karenanya dalam memilih pekerjaan umumnya orang akan mencari pekerjaan yang dia sukai. Tapi dalam kenyataan tak semua orang bisa menemukan pekerjaan yang dia sukai. Pada situasi itu hanya ada satu pilihan, yaitu (mencoba) menyukai apa yang kita kerjakan. 
Sejak kecil saya suka pelajaran Matematika dan IPA. Nilai saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengerjakan sesuatu yang kita sukai tentu menyenangkan. Karenanya dalam memilih pekerjaan umumnya orang akan mencari pekerjaan yang dia sukai. Tapi dalam kenyataan tak semua orang bisa menemukan pekerjaan yang dia sukai. Pada situasi itu hanya ada satu pilihan, yaitu (mencoba) menyukai apa yang kita kerjakan. </p>
<p>Sejak kecil saya suka pelajaran Matematika dan IPA. Nilai saya untuk mata pelajaran itu selalu bagus. Ketika SMA lebih khusus lagi saya menyukai pelajaran Fisika. Karena itulah saya memilih untuk melanjutkan kuliah ke jurusan Fisika. </p>
<p>Tapi Fisika yang saya hadapi saat SMA ternyata berbeda dengan yang saya hadapi saat kuliah. Mulai tahun kedua saya mulai mengalami kesulitan dalam pelajaran. Banyak topik yang gagal saya pahami. Aljabar vektor yang merupakan salah satu alat untuk memahami Mekanika Kuantum terlalu rumit buat saya. Otomatis saya juga keteteran saat mendalami Mekanika Kuantum. Padahal topic-topik Fisika tingkat lanjut semua berbasis pada Mekanika Kuantum.</p>
<p>Terus terang saya sempat frustrasi dengan dunia Fisika, lalu mencari „pelarian“ di dunia aktivitas ekstrakurikuler. Di sini suasananya lebih menarik. Dan yang penting, saya tidak harus berhadapan dengan dunia abstrak seperti ruang vektor atau ruang kuantum. Kala itu tak jarang orang mengira saya mahasiswa Fisipol.</p>
<p>Tapi ada saatnya saya harus berhenti dengan keasyikan itu. Memasuki tahun ke 6 kuliah saya sadar bahwa saya harus lulus. Kasihan orang tua yang sudah membiayai kuliah saya. Tak ada pilihan, saya harus kembali ke Fisika. Saya mulai mencari topik skripsi. Kebetulan ada dosen yang baru selesai S2 di UI, dan dia dibimbing oleh seorang profesor tamu dari Jepang. Saya memilih untuk mengerjakan topik yang sama dengan dosen tersebut, di bidang Fisika Zat Padat. </p>
<p>Waktu itu saya membutuhkan kristal untuk bahan eksperimen, dan kristal itu tidak tersedia di Indonesia. Saya beranikan diri menyurati profesor Jepang tadi untuk minta bantuan. Berhasil. Dia mengirimi saya 3 potong kristal. Lalu saya membuat alat untuk keperluan eksperimen, mencari sendiri alat ukur di berbagai laboratorium di UGM dan Batan. Dosen pembimbing saya nyaris tak melakukan apa-apa. Semua saya kerjakan atas inisiatif saya sendiri.</p>
<p>Dalam waktu enam bulan saya berhasil menyelesaikan skripsi. Banyak mahasiswa yang terhambat di situ hingga bertahun-tahun. Saya sadar bahwa saya bisa melakukan itu bukan karena saya pintar di bidang Fisika. Modal utamanya tidak di situ, tapi pada ketekunan saya. Itu ditambah dengan kemampuan saya menulis, yang memang cukup baik. Hasilnya, skripsi saya diterima nyaris tanpa koreksi dari pembimbing, dan saya lulus kuliah.</p>
<p>Lepas dari bangku kuliah saya mencoba berkarir sebagai logging engineer di lapangan minyak. Saya menyukai pekerjaan ini. Basisnya adalah ilmu Fisika, tapi bukan yang rumit dan abstrak seperti Mekanika Kuantum. Pekerjaannya sendiri menantang, di alam terbuka, dan penuh bahaya. Cocok untuk laki-laki yang punya jiwa petualang.</p>
<p>Tapi saya tak suka lingkungan kerjanya. Tak ada manusia di situ. Cuma segelintir. Saya adalah mantan aktivis yang punya kawan seantero Yogya. Waktu itu belum ada HP atau internet seperti sekarang. Terisolasi di pedalaman Sumatera Selatan sana adalah siksaan luar biasa. Akhirnya saya keluar dari pekerjaan ini. Saya kemudian menjadi dosen, pekerjaan yang sejak lama jadi cita-cita saya.</p>
<p>Bekerja sebagai dosen sungguh menyenangkan saya. Saya suka mengajar dengan berbagai aspeknya. Tapi menjadi dosen membuka „hubungan lama“ saya dengan Fisika yang memusingkan itu. Saya berusaha menghindar. Ketika mendapat kesempatan untuk kuliah S2 ke Jepang saya sengaja memilih Fisika Terapan dengan niat agar tak lagi berurusan dengan Mekanika Kuantum. Celakanya tanpa saya kehendaki saya malah mendapat profesor pembimbing yang topik penelitiannya di bidang ilmu dasar, bukan terapan. Lebih parah lagi saya harus meneliti bahan organik. Padahal sejak SMA saya sangat benci pada Kimia Organik. </p>
<p>Lagi-lagi saya tak punya pilihan. Saya harus belajar dan melakukan eksperimen di bidang yang tak saya sukai. Sudah kepalang basah, saya harus hadapi itu dengan tekun, meski banyak hari-hari harus saya lalui dengan dimaki-maki oleh professor saya, karena saya tidak mampu memahami atau menjelaskan sebuah persoalan. Itu karena basis saya di bidang Mekanika Kuantum dan Fisika Zat Padat memang lemah.</p>
<p>Tak cuma masalah pemahaman. Juga ada hambatan fisik. Salah satu eksperimen yang harus saya lakukan dalam penelitian adalah mengamati karakter material di bawah tekanan tinggi. Saya menggunakan alat yang disebut diamond anvil cell. Alat ini terdiri dari dua potong intan yang digunakan untuk menjepit sebuah pelat logam. Pelat itu dilubangi sehingga di dalamnya tercipta sebuah ruang. Ke dalam ruang itulah dimasukkan sampel yang hendak diamati, ditambah media cair penerus tekanan dan serpihan kristal ruby untuk mengukur tekanan. Saat kedua potong intan itu ditekan, ruangan tadi akan mengecil dan terciptalah kondisi tekanan tinggi.</p>
<p>Saya menggunakan istilah ruang, tapi ini ruang yang sungguh kecil! Diameter lubang hanya 0.3 milimeter. Untuk memasukkan benda-benda tadi saya menggunakan lidi yang di ujungnya saya ikatkan benang wol yang sangat halus. Ujung benang wol itu saya gunakan untuk mengangkat dan menggeser benda-benda itu. Ukuran benda serta lubang sangat kecil sehingga tak mungkin semua itu dilakukan dengan mata telanjang. Seluruh pekerjaan itu dilakukan dengan panduan pengamatan visual di bawah mikroskop.</p>
<p>Saya punya masalah fisik. Tangan saya tidak stabil. Sering gemetaran. Tremor, kata dokter. Tapi saya harus memasukkan beberapa benda yang sangat kecil dan rapuh ke dalam sebuah lubang yang sangat kecil pula. Luar biasa sulit.</p>
<p>Ada tiga bulan yang saya lalui untuk berlatih menggunakan alat itu. Tiga bulan terus menerus, tiap hari saya mengulang hal yang sama. Tiap hari gagal, saya mulai lagi. Lagi dan lagi. Setelah tiga bulan itu barulah saya mulai menghasilkan data eksperimen.</p>
<p>Begitulah. Dengan terseok-seok akhirnya saya bisa menyelesaikan studi hingga meraih gelar doctor. Bahkan kemudian saya berkarir selama 4 tahun sebagai peneliti tamu di Jepang. Kadang saya heran sendiri, kok saya bisa jadi doktor bahkan profesor tamu di Jepang.</p>
<p>Sejak masih kuliah S1 saya tidak berminat untuk bekerja di dunia industri. Saya tak suka. Saya tak suka pada jadwal yang tetap, harus masuk jam sekian, pulang jam sekian. Saya juga tak suka bekerja di bawah orang, disuruh-suruh. Saya suka pekerjaan yang independen, di mana saya menentukan apa yang harus saya lakukan. </p>
<p>Tapi lagi-lagi saya harus menghadapi itu. Karena berbagai alasan saya harus memulai karir di dunia industri. Tak terasa sudah tiga tahun saya berkarir di dunia ini. Sejauh ini saya menikmatinya.<br />
Kawan. Dalam hidup ini sering kita harus melakukan hal-hal yang tidak kita sukai. Tapi pengalaman saya mengajarkan bahwa kita pun bisa melakukan hal-hal yang tadinya tidak kita sukai. Bahkan kita kemudian bisa menyukainya.</p>
<p>If you cannot do what you love, try to love what you do. Itulah resep saya.</p>
<p>http://berbual.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/love-what-you-do/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/manajemen/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/manajemen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 09:59:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama dan Sosial - Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sains, Teknologi, Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[gelar akademik]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/manajemen/</guid>
		<description><![CDATA[Kita harus berterima kasih pada yang menciptakan istilah dan konsep manajemen. Sungguh, dengan manajemen segala sesuatu jadi mudah. Kita semua mungkin sudah merasakan hal itu. Tapi saya ingin berbagi informasi tentang berbagai bentuk kemudahan lain yang dihasilkan oleh sesuatu bernama manajemen.
Kalau Anda pemegang gelar sarjana di bidang ilmu yang sulit-sulit, dan Anda membutuhkan gelar S2, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita harus berterima kasih pada yang menciptakan istilah dan konsep manajemen. Sungguh, dengan manajemen segala sesuatu jadi mudah. Kita semua mungkin sudah merasakan hal itu. Tapi saya ingin berbagi informasi tentang berbagai bentuk kemudahan lain yang dihasilkan oleh sesuatu bernama manajemen.</p>
<p>Kalau Anda pemegang gelar sarjana di bidang ilmu yang sulit-sulit, dan Anda membutuhkan gelar S2, tapi berbagai keterbatasan membuat Anda tak mungkin meraih gelar itu, cobalah dengan manajemen. Pilihan pertama adalah paket Magister Manajemen (MM). Tersedia banyak pilihan di situ. Ada yang bisa diperoleh dengan kuliah di akhir pekan atau malam hari. Ada yang cuma memerlukan waktu kuliah enam bulan di akhir pekan. Ada yang bahkan tak memerlukan kuliah sama sekali. Ijazahnya bisa dipesan, Anda cukup hadir di acara wisuda.</p>
<p>Masih ada pilihan lain. Kalau Anda seorang dokter, dan sulit bagi Anda untuk mengambil program dokter spesialis yang makan waktu, tenaga dan biaya, maka Anda punya pilihan, misalnya Manajemen Rumah Sakit, atau Manajemen Kesehatan, atau yang sejenis itu. Dijamin, Anda akan bisa memperkaya diri dengan gelar tanpa harus bersusah payah. </p>
<p>Yang di jurusan teknik bisa mengambil jurusan Manajemen Infrastruktur, atau Manajemen Energi. Dijamin tak serumit kalau Anda harus mengambil jurusan Teknik Sipil atau Elektro. Toh, gelar yang Anda peroleh sama juga, yaitu Magister Teknik atau MT.</p>
<p>Saya pernah mengajar di program S2 Teknik Sipil di suatu PTN. Pesertanya adalah pejabat-pejabat daerah, setingkat Kepala Dinas atau Kepala Bidang. Juga dosen-dosen senior yang dulu belum sempat melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Sudah barang tentu mereka ini berduit. Lebih berduit dari dosen yang mengajar. Sudah barang tentu mereka tidak bisa diharapkan untuk belajar dengan benar. Sudah tua, otaknya tumpul. Atau boleh jadi otaknya sudah tumpul sejak muda. Wallahu alam.</p>
<p>Sudah barang tentu mereka juga tak bisa disuruh riset sebagaimana lazimnya mahasiswa pasca sarjana. Juga tak boleh diharapkan mereka membuat tesis. Lha, tugas kuliah saja mungkin mereka tak sanggup membuatnya.</p>
<p>Alkisah suatu hari saya didatangi seorang mahasiswa saya di program S2 itu. Umurnya lebih tua dari saya. Mobilnya lebih bagus dari saya. Dan hebatnya dia mengerti betul prinsip manajemen. Sungguh membanggakan, karena dia mahasiswa saya.</p>
<p>Prinsip manajemen yang saya maksud adalah prinsip yang sangat mendasar, yaitu &#8220;getting things done through other people&#8217;s hands&#8221; alias &#8220;menyelesaikan masalah dengan meminjam tangan orang lain&#8221;.</p>
<p>Setelah basa-basi sejenak, dia bicara. &#8220;Saya mau bikin tesis nih, Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, bagus itu. Mudah-mudahan Bapak bisa jadi orang pertama yang lulus di program ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, tapi saya ada sedikit kendala.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa itu?&#8221; </p>
<p>&#8220;Saya kadang kesulitan mengekspresikan pendapat saya dalam bahasa tulisan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, kalau itu saya bisa bantu. Kebetulan saya punya banyak pengalaman menulis karya ilmiah, termasuk di jurnal internasional. Saya bisa menjadi pembimbing informal Bapak, karena bidang saya bukan Teknik Sipil. Nanti saya bantu untuk masalah redaksionalnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau Bapak mau bantu saya, ada baiknya Bapak bantu secara menyeluruh saja. Jadi saya terima jadi saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudnya gimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, minta tolong Bapak saja yang menulis semua.&#8221;</p>
<p>Oh, my God. Oh Manajemen&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>http://berbual.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/manajemen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalur Gaza</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/jalur-gaza/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/jalur-gaza/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 02:03:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sains, Teknologi, Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/jalur-gaza/</guid>
		<description><![CDATA[Ini bukan cerita tentang Palestina. Ini cerita tentang Jakarta. Tentang sebuah sekolah.
Di TV diberitakan tentang seorang siswa kelas 1 di sebuah SMA Negeri di Jakarta. Ia dijemput paksa oleh sejumlah seniornya, dibawa ke sebuah taman, lalu dianiaya. Ia mengalami luka-luka di wajah. Bibirnya robek, wajahnya lebam-lebam. Ia harus menjalani rawat inap di rumah sakit selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini bukan cerita tentang Palestina. Ini cerita tentang Jakarta. Tentang sebuah sekolah.</p>
<p>Di TV diberitakan tentang seorang siswa kelas 1 di sebuah SMA Negeri di Jakarta. Ia dijemput paksa oleh sejumlah seniornya, dibawa ke sebuah taman, lalu dianiaya. Ia mengalami luka-luka di wajah. Bibirnya robek, wajahnya lebam-lebam. Ia harus menjalani rawat inap di rumah sakit selama beberapa hari.</p>
<p>Apa pasal? Alkisah, siswa kelas 3 menetapkan beberapa jalur di sekolah yang mereka sebut Jalur Gaza. Jalur ini tidak boleh dilewati oleh selain anak kelas 3. Si anak yang teraniaya tadi lalai. Ia melewati jalur itu.</p>
<p>Cerita ini sungguh menyesakkan dada saya. Di sekolah, tempat anak-anak harusnya dididik dan dikendalikan, ada manusia-manusia fasis yang bisa seenaknya membuat aturan. Di sekolah, tempat di mana seharusnya guru-guru yang mengatur, ada sekelompok murid yang punya kekuasaan mengatur. Dan mereka mengatur dengan kekerasan!</p>
<p>Para guru dalam wawancara TV mengatakan bahwa sebenarnya mereka tahu soal Jalur Gaza ini. Tapi sepertinya mereka tak berdaya untuk menghapuskannya. Konon tradisi dungu ini sudah berlangsung sejak tahun 80-an. Itulah salah satu alasan kenapa tradisi ini tidak dihapus.</p>
<p>Perlu dicatat bahwa SMA adalah SMA percontohan untuk proyek anti kekerasan (anti-bullying). Sebuah ironi yang lebih menyakitkan.</p>
<p>Lalu kita bertanya, ke mana anak-anak kita akan kita kirim untuk belajar? Sekolah ternyata bukan tempat yang aman untuk belajar. Di sekolah anak kita bisa celaka. Di sekolah justru premanisme dibiarkan. Di sekolah justru kesewenangan diajarkan. </p>
<p>Polisi sepertinya tidak menganggap serius kasus ini. Ada ratusan kejadian kekerasan di tanah air, seingat saya memang belum pernah ada yang berujung hingga ke pengadilan. Biasanya polisi meminta pihak-pihak yang terlibat, termasuk orang tua siswa untuk berdamai. Lalu selanjutnya pihak sekolah diminta untuk melakukan &#8220;pembinaan&#8221;. </p>
<p>Ini kesalahan fatal. Ini bukan perkara disiplin ringan yang bisa diselesaikan dengan cara damai dan pembinaan. Ini adalah tindak kriminal. Tindak kriminal harus diproses dengan hukum pidana. Pembiaran oleh polisi berarti membiarkan kriminal-kriminal muda tumbuh di lingkungan pendidikan. Membebaskan mereka dari jerat hukum berarti mengajarkan kepada mereka bahwa mereka bisa melakukan tindak pidana tanpa dikenai sangsi hukum. </p>
<p>Ini tidak boleh dibiarkan.</p>
<p>http://berbual.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/jalur-gaza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doktor a la PGSD</title>
		<link>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/doktor-a-la-pgsd/</link>
		<comments>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/doktor-a-la-pgsd/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 01:59:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sains, Teknologi, Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/doktor-a-la-pgsd/</guid>
		<description><![CDATA[PGSD yang kita kenal adalah singkatan dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Ini adalah Program Diploma II di bidang pendidikan, untuk mendidik calon guru Sekolah Dasar. Tamat dari program ini seseorang dianggap layak menjadi guru Sekolah Dasar.
Tapi PGSD yang hendak saya bahas dalam tulisan ini lain lagi ceritanya. PGSD yang ini singkatan dari Pokoknya Gelar Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PGSD yang kita kenal adalah singkatan dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Ini adalah Program Diploma II di bidang pendidikan, untuk mendidik calon guru Sekolah Dasar. Tamat dari program ini seseorang dianggap layak menjadi guru Sekolah Dasar.</p>
<p>Tapi PGSD yang hendak saya bahas dalam tulisan ini lain lagi ceritanya. PGSD yang ini singkatan dari Pokoknya Gelar Saya Doktor! Ini adalah cerita yang mencerminkan buruknya dunia pendidikan kita.</p>
<p>UU Guru dan Dosen yang dianggap bisa memperbaiki nasib dan kesejahteraan guru dan dosen ternyata membawa efek sampingan. Perbaikan gaji guru dan dosen melalui sejumlah tunjangan tidak diberikan secara otomatis dan pukul rata. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi, antara lain sertifikasi. Untuk guru, salah satu syarat untuk sertifikasi ini adalah lulus sarajana S1. Sedangkan untuk dosen, harus dipenuhi kualifikasi sarjana S2. Tambahan lagi, bagi dosen akan lebih menguntungkan bila ia punya kualifikasi S3. Lulus program doktoral akan lebih memudahkan untuk mencapai jabatan fungsional akademik guru besar (profesor).</p>
<p>Semua syarat itu tentu dimaksudkan untuk kebaikan. Artinya para guru dan dosen harus memiliki kualifikasi tertentu, agar mutu pendidikan yang mereka asuh meningkat. Tapi apa lacur. Negeri ini adalah negeri sertifikat. Segala sesuatu ditentukan oleh kertas-kertas dokumen, bukan isi yang diwakili kertas itu. Untuk naik seberkas dokumen jauh lebih penting dari mutu si penyerah dokumen itu. Petugas dan pejabat yang menilai lebih teliti memeriksa dokumen ketimbang memeriksa orang.</p>
<p>Maka pak guru dan dosen tidak berlomba meningkatkan kualitas. Mereka berlomba berburu sertifikat. Program S1 bagi guru-guru tumbuh bak jamur di mana-mana. Semua menawarkan kemudahan. Kuliah cukup di akhir pekan. Programnya tidak lama-lama, bahkan bisa lebih singkat dari program reguler. Demikian pula halnya dengan program S2-S3 bagi dosen.  Kualitasnya? Jangan tanya. Lulusannya menyandang predikat PGSD tadi. Pokoknya Gelar Saya Doktor.</p>
<p>***</p>
<p>Dosen-dosen kita memang disuruh hidup di alam tak rasional. Seorang dosen bergelar doktor yang baru menyelesaikan pendidikan bisa mendapat pangkat/golongan IIIc atau IIId. Gaji perbulan kurang lebih 2,5 juta rupiah. Mau bagaimanapun caranya, mustahil bisa hidup layak dengan uang sekecil itu.</p>
<p>Tapi biasanya ada yang berdalih. Dosen kan punya pemasukan lain. Misalnya, penelitian, proyek, program ini itu. Hingga jabatan struktural, posisi politis dan sebagainya.</p>
<p>Ya, ada yang dapat itu, sehingga penghasilannya jauh melampaui orang-orang yang bekerja di sektor swasta. Tapi masalahnya tidak semua dapat. Universitas besar punya posisi yang lebih baik untuk mendapat proyek-proyek. Universitas kecil nyaris gigit jari. Itu satu soal. Soal lain, lha kenapa universitas kok mengurusi proyek-proyek untuk cari duit, bukan mengembangkan pendidikan.</p>
<p>Penelitian? Ini masalah lagi. Penelitian akhirnya jadi ajang untuk cari duit, bukan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. Hasilnya, lagi-lagi setumpuk kertas laporan.</p>
<p>Gejala PGSD juga tidak terlepas dari ketimpangan ini. Penyelenggaranya (perguruan tinggi) butuh pemasukan. Pesertanya butuh gelar. Betermulah mereka di pasar bisnis pendidikan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/doktor-a-la-pgsd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dr. Cand</title>
		<link>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/dr-cand/</link>
		<comments>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/dr-cand/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 10:21:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sains, Teknologi, Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Saya sedang menjadi panitia sebuah simposium Indonesia-Jepang. Saya ikut terlibat dalam kepanitiaan sudah agak belakangan, separo kerjaan sudah berlangsung. Pada saat saya bergabung, proposal, first announcement sudah jadi.
Saat membaca nama-nama pembicara, mata saya tertumbuk pada tulisan Dr. Cand. Fulan. Saya fikir itu nama orang. Tapi kok ada beberapa yang sama. Dr. Cand. Fulan, Dr. Cand. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sedang menjadi panitia sebuah simposium Indonesia-Jepang. Saya ikut terlibat dalam kepanitiaan sudah agak belakangan, separo kerjaan sudah berlangsung. Pada saat saya bergabung, proposal, first announcement sudah jadi.</p>
<p>Saat membaca nama-nama pembicara, mata saya tertumbuk pada tulisan Dr. Cand. Fulan. Saya fikir itu nama orang. Tapi kok ada beberapa yang sama. Dr. Cand. Fulan, Dr. Cand. Anu, Dr. Cand. XXX. Baru saya ngeh bahwa yang dimaksud adalah kandidat doktor.</p>
<p>Jadi ingat, dulu para penulis kolom opini di koran kerap mencantumkan statusnya di ujung tulisan: Penulis adalah kandidat doktor bidang anu anu di universitas anu anu.</p>
<p><span id="more-152"></span></p>
<div id="attachment_166" class="wp-caption alignnone" style="width: 311px"><a href="http://berbual.com/wp-content/uploads/2008/10/candidate-400.jpg"><img class="size-full wp-image-166" title="Candidate" src="http://berbual.com/wp-content/uploads/2008/10/candidate-400.jpg" alt="Candidate" width="301" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Candidate</p></div>
<p>Saat kuliah S3 lalu bekerja sebagai peneliti, saya beberapa kali mengikuti konferensi internasional. Umumnya dalam program atau daftar acara, hanya ditulis nama, tanpa embel-embel gelar. Juga tidak pernah ada penulisan &#8220;gelar&#8221; profesor. Sudah barang tentu tidak akan pernah kita temukan ditulisnya Dr. Cand.</p>
<p>Kayaknya yang begitu mementingkan gelar-gelar ini cuma orang Indonesia. Eh Malaysia lebih edan. Semua gelar ditulis, termasuk di mana gelar itu diperoleh. Jadi di kartu nama bisa tertulis, misalnya, Abubakar, Dr. (Exford), M. Eng. (Purdue).</p>
<p>Begitu ngebetnya orang kita sama gelar, sampai-sampai yang belum punya gelar jadi ndak sabaran, terus nekad, secara kreatif menambahkan embel-embel &#8220;kandidat&#8221;. Saya bayangkan kalau akhirnya dia gagal jadi doktor, mungkin dia masih nekat memasang gelar menjadi Dr. Cand. Ex. Fulan.</p>
<p>Gelar sarjana bagi kita sepertinya penting banget. Dulu waktu menikah saya keberatan waktu gelar sarjana saya mau dicantumkan di surat undangan. Norak banget, fikir saya. Tapi waktu itu calon istri saya membisiki bahwa itu kehendak bapak mertua. Lha, daripada ndak boleh nikah, akhirnya saya nyerah.</p>
<p>Saat ini pun saya masih mencantumkan gelar di KTP saya. Tertulis Dr. Hasanudin. Inipun ada alasannya. Ketika membuat KTP, saya baru saja selesai kuliah S3, dan baru pulang ke Indonesia. Waktu itu saya masih PNS. Otomatis banyak urusan kepegawaian yang harus saya urus, dan KTP boleh jadi diperlukan. Saya teringat waktu melamar jadi PNS dulu, di KTP harus dicantumkan gelar, agar penulisan nama seragam di seluruh dokumen. Jadilah gelar doktor saya tertulis di KTP.</p>
<p>Saat membuat SIM, operator data entry di kepolisian menanyakan gelar saya saat melihat di kolom pekerjaan saya tertulis: Dosen. Saya jawab saja Doktor. Jadilah gelar doktor pun tertera di SIM saya.</p>
<p>Kartu nama saya di kantor saat ini ada 2 versi. Satu versi normal, hanya nama, tanpa gelar. Hasanudin Abdurakhman. Satu versi lagi pakai gelar. Dr. Hasanudin Abdurakhman, M. Eng. Ini ide staf saya. Kebetulan saya banyak berurusan dengan orang pemerintah. Mulai dari Kantor Pajak, Bea dan Cukai, Imigrasi, Disnaker, dan sebagainya. Di tempat-tempat itu, gelar sarjana sepertinya masih penting banget. Tadinya saya mau cantumkan ringkas, Dr. Hasanudin Abdurakhman. Tapi kata staff saya, nanti dikira dokter. Lha itu kan cuma S1. Mending cantumkan sekalian M.Eng., biar orang tahu bahwa saya S3. Demi kelancaran urusan di kantor pemerintah, saya manut.</p>
<p>Efeknya tidak jelek. Biasanya kalau ke kantor pemerintah, para petugasnya terpesona dengan gelar saya, juga dengan bualan saya soal tinggal di Jepang selama 10 tahun, bla bla bla. Walhasil, umumnya urusan saya tidak dipersulit.</p>
<p>Ada pula kejadian lain. Saat menyetir di suatu senja, saya lupa menghidupkan lampu. Lalu mobil saya dihentikan polisi. Dia meminta SIM dan STNK. Begitu melihat nama saya di SIM, dia langsung bilang, &#8220;Bapak dokter ya?&#8221; Setelah itu dia berbicara dengan ramah, mengulur waktu, sepertinya berharap saya akan menyelipkan lembaran uang. Tapi karena saya cuma diam saja, akhirnya dia frustrasi juga, mengembalikan SIM dan STNK saya, tanpa berani terang-terangan minta uang.</p>
<p>Lain ketika, saya berobat ke sebuah rumah sakit besar di Jakarta. Saat registrasi saya menyerahkan KTP. Petugas administrasi lalu mencatat nama saya Dr. Hasanudin. Dokter yang memeriksa saya masih sangat muda. Saat mau memeriksa saya, dia memberi salam: &#8220;Selamat malam, Dok.&#8221; Wah, saya fikir, daripada dokternya minder lebih baik saya mengaku bahwa saya bukan dokter. Dan kejadian itu terjadi beberapa kali dengan dokter lain.</p>
<p>Yang menarik, suatu saat saya membawa istri periksa kehamilan di sebuah rumah sakit bersalin di kawasan Menteng. Lazimnya di klinik bersalin, nama suami juga ditulis pada data pasien. Dan istri saya mencantumkan gelar saya. Saat akan membayar biaya berobat, kasir memberi tahu saya bahwa biaya dokternya gratis. &#8220;Kenapa?&#8221; tanya saya. &#8220;Kan Bapak dokter.&#8221; jawab petugas kasir. Saya baru ingat bahwa di kalangan dokter ada kebiasaan untuk tidak mengenakan biaya kepada sesama dokter.</p>
<p>Kang Hasan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/dr-cand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Riset Itu Bukan Sulap</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/riset-itu-bukan-sulap/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/riset-itu-bukan-sulap/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 17:12:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sains, Teknologi, Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2002 adalah salah satu tahun yang gemilang dalam sejarah sains dan teknologi Jepang. Sejak tahun 2000 selama 3 tahun berturut-turut ilmuwan Jepang mendapat anugerah Hadiah Nobel. Tahun 2000 Prof. Shirakawa mendapat Hadiah Nobel Kimia atas jasanya menemukan polimer konduktif. Tahun berikutnya giliran Prof. Noyori, juga memperoleh Hadian Nobel Kimia. Puncaknya, tahun 2002 Jepang mendapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2002 adalah salah satu tahun yang gemilang dalam sejarah sains dan teknologi Jepang. Sejak tahun 2000 selama 3 tahun berturut-turut ilmuwan Jepang mendapat anugerah Hadiah Nobel. Tahun 2000 Prof. Shirakawa mendapat Hadiah Nobel Kimia atas jasanya menemukan polimer konduktif. Tahun berikutnya giliran Prof. Noyori, juga memperoleh Hadian Nobel Kimia. Puncaknya, tahun 2002 Jepang mendapat dua Hadiah Nobel, yaitu untuk Prof. Koshiba (Fisika) atas keberhasilannya mendeteksi neutrino, dan karyawan sebuah perusahaan alat ukur Shimazu, Koichi Tanaka (Kimia) yang berhasil mengembangkan metode ionisasi pada spektroskopi massa.</p>
<p>Untuk merayakan keberhasilan itu, tak lama setelah penganugerahan Hadiah Nobel, stasiun TV NHK melakukan wawancara khusus terhadap Prof. Koshiba dan Prof. Esaki. Prof Esaki adalah penerima Hadiah Nobel Fisika tahun 1973 dengan penemuan berupa efek terowongan elektron pada semikonduktor.</p>
<p><span id="more-61"></span>Ada pertanyaan menarik yang diajukan oleh pewawancara Dia membandingkan dua orang jenius dari dunia yang berbeda, yaitu Albert Einstein dari dunia sains dan Wolfgang Amadeus Mozart dari dunia seni. Keduanya memiliki karya yang luar biasa di bidang masing-masing. Pewawancara bertanya kepada Prof. Koshiba, siapa dari kedua orang itu yang lebih jenius.</p>
<p>Meski Prof. Koshiba seorang fisikawan sebagaimana Albert Einstein, ternyata ia berpendapat Mozart lebih jenius. Einsten, kata Prof. Koshiba, “hanya” sekedar merumuskan hukum alam. Kalau Einstein tidak berhasil merumuskan Teori Relativitas atau Efek Fotolistrik, suatu saat pasti akan ada orang yang merumuskan hukum tersebut. Dan siapapun perumusnya, hasilnya akan sama. Ini karena alam terbuka bagi semua orang, dan hukum-hukumnya berlaku sama, tidak bergantung pada siapa perumusnya.</p>
<p>Sebaliknya, karya-karya Mozart adalah hasil karya yang unik. Kalau dia tak menggubah simfoni-simfoninya, sampai kapanpun tak akan ada orang lain yang mampu menggubah simfoni yang sama.</p>
<p>Ungkapan Prof. Koshiba bahwa alam secara adil membuka dirinya untuk dikaji oleh semua orang, perlu diingatkan kembali kepada semua pihak di tengah polemik yang belum juga usai mengenai kontroversi blue energy. Masih banyak yang percaya bahwa Joko Suprapto mungkin saja menemukan “keajaiban” yang luput dari perhatian para ilmuwan dunia. Ada yang berspekulasi bahwa teknologi untuk mengolah air menjadi bahan bakar itu sebenarnya memang sudah ditemukan. Tapi teknologinya disembunyikan/dilenyapkan oleh pihak-pihak yang diuntungkan dari bisnis minyak. Spekulasi ini jelas sangat jauh dari realitas bila kita ingat ungkapan Prof. Koshiba tadi, serta bila kita menghayati kerja keras para ilmuwan dunia dalam melakukan penelitian.</p>
<div id="attachment_159" class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><a href="http://berbual.com/wp-content/uploads/2008/10/shimane_rb_park.jpg"><img class="size-full wp-image-159" title="Shimane Research Business Park" src="http://berbual.com/wp-content/uploads/2008/10/shimane_rb_park.jpg" alt="Shimane Research Business Park" width="400" height="261" /></a><p class="wp-caption-text">Shimane Research Business Park</p></div>
<p>Saya kebetulan dianugerahi kesempatan untuk menghayati kerja keras para ilmuwan itu. Mulai dari studi S2-S3 hingga menjadi peneliti tamu di beberapa universitas di Jepang, hampir 10 tahun saya mengamati dunia riset Jepang. Jepang memiliki puluhan perguruan tinggi, ditambah sejumlah lembaga riset milik pemerintah, serta lembaga riset milik perusahaan swasta. Ada ribuan orang, profesor, doktor, mahasiswa S1 sampai S3 yang setiap hari bekerja dari pagi hingga larut malam, melakukan riset. Mereka tidak sedang main-main. Mereka bekerja keras, merumuskan teori, melakukan percobaan, menguji hasil percobaan. Banyak di antara ilmuwan itu yang nyaris tak punya kehidupan sosial karena terlalu asyik dengan pekerjaannya, Tujuannya hanya satu, mencari produk teknologi baru, yang lebih cangging, yang lebih bisa menjawab berbagai masalah kehidupan sehari-hari manusia. Mereka itulah yang berada di belakang produk-produk teknologi yang melengkapi hidup kita sehari-hari, mulai dari produk elektronika, IT, pangan, hingga mainan anak-anak kita.</p>
<p>Anggaran biaya riset, lagi-lagi menunjukkan kepada kita bahwa pekerjaan riset itu tidak main-main. Untuk anggaran di tingkat negara jumlahnya mencapai belasan milyar dolar. Situs-situs monumental untuk keperluan riset bercerita tentang hal yang sama. Lembaga penelitian nuklir Eropa, CERN punya fasilitas berupa akselerator partikel dengan diameter 8 kilometer! Bisa dibayangkan berapa banyak sumber daya yang dihabiskan untuk membangun serta mengoperasikan instalasi itu. Stasiun ruang angkasa Freedom tak kalah mengagumkan.</p>
<p>Yang dikerjakan oleh para ilmuwan itu adalah mengkaji hukum alam secara teoretik, lalu mencoba memanfaatkannya menjadi produk yang bisa membuat hidup kita lebih mudah dan berkualitas. Sesuatu yang secara teoretik mungkin diwujudkan, dicarikan caranya. Bila sudah ditemukan, dilanjutkan dengan usaha untuk memproduksinya secara massal dan dengan biaya murah.</p>
<p>Kembali ke soal kontroversi blue energy. Di tengah ratusan ribu orang-orang cerdas yang rela bekerja hingga larut malam setiap harinya, dengan dukungan dana milyaran dolar, masih adakah celah bagi sebuah teknologi seperti pengolah air menjadi bahan bakar, yang bisa ditemukan hanya bermodal peralatan sederhana akan lolos dari perhatian para ilmuwan dunia? Kalau secara teoretik hal itu mungkin diwujudkan, akankah mereka repot-repot mengkaji dan mengembangkan sumber energi lain seperti nuklir, solar sel, arus laut, dan sebagainya? Kalau itu terjadi, alam sungguh tidak adil, telah membukakan dirinya kepada seorang Joko Suprapto, bukan kepada para ilmuwan yang telah bekerja keras tadi.</p>
<p>Setelah kontroversi blue energy mendapat kritikan dari sana sini, Presiden mengumpulkan para akademisi baik dari perguruan tinggi maupun lembaga riset, termasuk dari lembaga penggagas blue energy. Di acara itu Presiden meminta kepada para akademisi untuk mengajukan usulan pemecahan masalah energi nasional. Mereka diberi waktu dua minggu untuk mengajukan usul.</p>
<p>Mudah-mudahan Presiden tak berharap dua minggu kemudian para ilmuwan akan datang membawa usulan solusi atas masalah energi nasional yang bisa menyelesaikan masalah dalam kurun waktu singkat. Orang yang mengerti dunia riset tahu bahwa riset adalah investasi jangka panjang. Sesuatu yang diteliti saat ini mungkin baru akan bias dinikmati hasilnya dua atau tiga puluh tahun ke depan. Singkat kata, riset itu bukan sulap yang menghadirkan sesuatu secara instan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/riset-itu-bukan-sulap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wawancara dengan Harian Jurnas</title>
		<link>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/wawancara-dengan-harian-jurnas/</link>
		<comments>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/wawancara-dengan-harian-jurnas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Feb 2008 16:37:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sains, Teknologi, Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&#38;sec=Sosok%20dan%20Sketsa&#38;rbrk=&#38;id=36978
Jakarta &#124; Sabtu, 23 Feb 2008
Hasanudin Abdurakhman: Kebijakan Penelitian Harus Jelas
by : Agus Dwi Darmawan
ADA beberapa masalah yang menjadi kendala perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Ternyata lambannya perkembangan itu bukan semata-mata disebabkan minimnya dana atau tidak mampunya sumberdaya manusia Indonesia.
Hal ini lebih disebabkan karena tidak adanya strategi atau bagaimana konsep penelitian itu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&amp;sec=Sosok%20dan%20Sketsa&amp;rbrk=&amp;id=36978</p>
<p>Jakarta | Sabtu, 23 Feb 2008<br />
Hasanudin Abdurakhman: Kebijakan Penelitian Harus Jelas<br />
by : Agus Dwi Darmawan</p>
<p>ADA beberapa masalah yang menjadi kendala perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Ternyata lambannya perkembangan itu bukan semata-mata disebabkan minimnya dana atau tidak mampunya sumberdaya manusia Indonesia.</p>
<p>Hal ini lebih disebabkan karena tidak adanya strategi atau bagaimana konsep penelitian itu yang sebenarnya. Sebagai ilmuwan yang menamatkan program master sampai doktor di Jepang, Hasanudin Abdurakhman tahu persis bagaimana dunia ilmu pengetahuan bisa maju. Salah satunya adalah kondisi yang menunjang bagi peneliti, termasuk di antaranya ketercukupan gaji.</p>
<p><span id="more-41"></span></p>
<p>Kepada situs resmi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jepang, Hasan-demikian Hasanudin biasa disapa, gaji lulusan doktor Rp25-30 juta per bulan. Doktor yang sudah berpengalaman bisa bergajiRp40 juta per bulan.</p>
<p>&#8220;Tetapi di Indonesia, cuma Rp2-2,5 juta,&#8221; katanya. Selain itu, birokrasi di Jepang sangat melayani kepentingan riset. Sementara di Indonesia, katanya, birokrasi sangat congkak. Berikut perbicangan Jurnal Nasional dengan Hasan seputar penelitian dan kemajuan ilmu pengetahuan:</p>
<p><em>Sebagai mantan Visiting Associate Professor di Tohoku University, Jepang, bagaimana Anda melihat dunia penelitian di Indonesia?</em></p>
<p>Saya kira sudah banyak yang mengemukakan hal ini. Dunia penelitian kita sangat tertinggal. Salah satu kolega saya, yaitu Dr. Tery Mart dari Universitas Indonesia, sangat rajin mengumpulkan data prestasi peneliti kita dibandingkan dengan negara lain. Faktanya, jangankan dengan negara-negara maju seperti Amerika dan Jepang, dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan bahkan Vietnam saja kita masih tertinggal.</p>
<p><em>Kendala utamanya apa?</em></p>
<p>Kendala klasik yang sering diungkap adalah masalah dana. Baik dana untuk menyediakan fasilitas dan anggaran penelitian, maupun dana untuk memberi gaji yang memadai kepada para peneliti. Tapi sebetulnya masalahnya tidak cuma itu. Ada lagi masalah lain berupa tidak jelasnya arah kebijakan yang jelas mengenai dunia penelitian. Di samping itu ada masalah lain seperti birokrasi yang tidak kooperatif. Tapi masalahnya memang tidak melulu ada di pemerintah. Orang-orang yang diberi tugas untuk meneliti, dalam hal ini khususnya para dosen dan karyawan (peneliti) di lembaga penelitian juga punya masalah.</p>
<p><em>Contohnya seperti apa?</em></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu saya mendengar berita dari media, di sebuah perguruan tinggi ternama, hanya 30 persen dari guru besar (profesor) yang aktif melakukan penelitian. Ini jelas aneh. Profesor, kalau tidak meneliti, lantas pekerjaannya apa?</p>
<p>Saya melihat banyak profesor justru tidak memahami fungsi dan tugasnya dengan baik. Tidak sedikit profesor yang salah kaprah, menganggap profesor itu adalah gelar. Padahal itu jabatan fungsional. Dan yang namanya jabatan, itu tidak abadi. Kasarnya, jabatan profesor itu bisa dicabut. Ini yang aktual terjadi di beberapa negara. Di Jepang sekarang malah jabatan profesor itu diberi batas waktu dengan sistem kontrak selama 10 tahun. Jabatan itu bisa diperpanjang berdasarkan atas hasil evaluasi terhadap kinerja sang profesor.</p>
<p>Uniknya, di Jepang profesor yang akan menduduki jabatan struktural yang tidak memungkinkan bagi dia untuk melakukan riset, maka dia harus melepaskan jabatan fungsionalnya itu.</p>
<p><em>Apa sebenarnya tugas seorang profesor?</em></p>
<p>Tugas utamanya adalah pendidikan dan penelitian. Secara sederhana, tugas pendidikan itu diwujudkan melalui kegiatan mengajar. Nah, lucunya tidak sedikit dari profesor kita yang tidak mau lagi mengajar di program S1. Ini kan aneh. Lalu ada juga orang-orang yang hanya sesekali atau malah tidak pernah mengajar sama sekali, yaitu pejabat pemerintah yang diberi gelar profesor. Bahkan tidak sedikit yang mau memberli gelar tersebut.</p>
<p>Tugas lain adalah penelitian. Idealnya seorang profesor itu memimpin sebuah tim peneliti, yang anggotanya sudah bergelar doktor ditambah mahasiswa S1-S3. Dia menjalankan agenda penelitian, mengarahkan peneliti di bawahnya, dan khususnya mengasuh calon-calon ilmuwan yang masih mahasiswa tadi.</p>
<p><em>Di sistem kita apa lagi yang berbeda?</em></p>
<p>Yang tidak jarang saya lihat, para peneliti melakukan kegiatan yang sebetulnya bukan penelitan, tapi dianggap sebagai penelitian. Entah karena tidak tahu atau karena terpaksa demi menutupi kebutuhan finansial. Misalnya kegiatan survei yang dipesan oleh lembaga pemerintah, atau studi kelayakan.</p>
<p><em>Seharusnya yang bisa disebut penelitian itu yang bagaimana?</em></p>
<p>Ya kan ada kriterianya, yaitu memenuhi kaidah-kaidah ilmiah. Dalam pandangan saya, ada suatu tema besar, baik di dunia sains (termasuk sains sosial) maupun teknologi, berbasis pada suatu teori. Tema itu dibahas atau diteliti secara paralel oleh beberapa grup peneliti. Jadi ada keutuhan tema, bukan tema-tema lokal.</p>
<p>Para peneliti itu berkomunikasi melalui publikasi di jurnal ilmiah maupun konferensi. Di situ kita akan tahu perkembangan suatu tema yang diteliti. Nah, penelitian selanjutnya lazimnya mengacu pada perkembangan terakhir di bidang tersebut. Di sini terlihat unsur kesinambungan. Lha, kalau proyek-proyek survei atau studi kelayakan itu kan tidak masuk kategori ini. Kalaupun itu dilakukan di kampus atau lembaga penelitian, itu seharusnya sebagai kegiatan sampingan.</p>
<p><em>Anda melihat ada kesalahan persepsi pemerintah terhadap peneliti?</em></p>
<p>Di luar fakta bahwa pemerintah tidak menyediakan budget yang memadai, masih ada masalah tentang arah kebijakan. Salah satu yang menyolok, pemerintah sepertinya tidak bisa membedakan antara penelitian ilmu dasar, pengembangan teknologi, dan penelitian komersial.</p>
<p>Peneliti kita dipaksa menghasilkan karya nyata, berupa produk yang bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Lha, kalau peneliti ilmu dasar kan sulit untuk bisa seperti itu.</p>
<p><em>Perbedaanya apa?</em></p>
<p>Penelitian ilmu dasar itu investasi jangka panjang, yang tidak boleh diharapkan segera punya kontribusi ekonominya. Even penelitian di bidang terapan sekalipun tidak selalu produknya bisa langsung dimanfaatkan. Banyak penelitian yang sifatnya membuat sesuatu yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin. Produknya sudah bisa dipakai, tapi biaya produksinya masih terlalu tinggi, misalnya. Untuk ini diperlukan penelitian lanjutan untuk membuat produk tadi bisa diproduksi dengan biaya murah. Yang terakhir ini bisa menjadi porsi penelitian komersial.</p>
<p>Contoh nyata, para peneliti dituntut untuk turut serta menyelesaikan masalah energi kita, khususnya berkaitan dengan masalah BBM. Ini masalah sudah di depan hidung, kok diserahkan ke peneliti. Kesannya, peneliti harus bisa memberi solusi instan. Ya nggak mungkinlah.</p>
<p>Dalam situasi seperti itu, tidak jarang pemerintah, khususnya dalam kapasitasnya sebagai politikus, ingin menjadikan penelitian sebagai alat public relation, untuk membuat image. Makanya lalu ada kegiatan penelitian yang dibuat bombastis, dan hasilnya dilabeli dengan label-label besar. Padahal fondasi kegiatan itu sama sekali bobrok. Contohnya kasus kampanye blue energy yang diekspose bertepatan dengan Konferensi Perubahan Iklim di Bali kemarin itu, yang akhirnya jadi ejekan pers internasional.</p>
<p>Untuk hal ini saya ingin mengingatkan para politisi, siapa saja, khususnya yang sedang berkuasa. Jangan coba-coba menjadikan dunia penelitan sebagai alat public relation. Kalau ada politisi yang memang peduli dengan masalah ini, sebaiknya dia berkonsentrasi untuk menciptakan fondasi yang baik bagi dunia penelitian kita melalui berbagai kebijakan.</p>
<p><em>Ada saran lain?</em></p>
<p>Ya. Suka atau tidak suka, kita sudah memasuki era industri dalam tahapan pembangungan kita. Sayangnya industri kita umumnya adalah industri tukang rakit. Ibaratnya, kita cuma tukang jahit, desainnya tidak dibuat di sini. Saya kira sudah saatnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mendorong perusahaan, khususnya penanaman modal asing, untuk memiliki basis research and development (R&amp;D) di sini. Perusahaan yang punya basis itu misalnya bisa diberikan insentif pengurangan pajak, atau apalah, sehingga mereka merasa mendapat imbalan atas transfer teknologi melalui kegiatan R&amp;D yang melibatkan staf lokal tadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/wawancara-dengan-harian-jurnas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profesor Bikin Asosiasi</title>
		<link>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/profesor-bikin-asosiasi/</link>
		<comments>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/profesor-bikin-asosiasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Feb 2007 13:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sains, Teknologi, Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan yang lalu diberitakan bahwa para profesor di 6 PTN berstatus BHMN membentuk asosiasi profesor. Tujuan pembentukan asosiasi ini adalah untuk meningkatkan kinerja riset di perguruan tinggi dalam rangka mewujudkan universitas riset.
Membaca berita ini, saya lantas teringat pada berita lain, yang disiarkan oleh Metro TV. Dalam berita itu disebutkan bahwa hanya 30 persen dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa bulan yang lalu diberitakan bahwa para profesor di 6 PTN berstatus BHMN membentuk asosiasi profesor. Tujuan pembentukan asosiasi ini adalah untuk meningkatkan kinerja riset di perguruan tinggi dalam rangka mewujudkan universitas riset.</p>
<p>Membaca berita ini, saya lantas teringat pada berita lain, yang disiarkan oleh Metro TV. Dalam berita itu disebutkan bahwa hanya 30 persen dari profesor di UGM yang aktif melakukan penelitian. UGM adalah universitas yang kualitasnya setara dengan 5 BHMN lain. Karenanya keadaan di UGM bisa dianggap mewakili keadaan di 5 PTN lain. Artinya secara kasar bisa kita katakan bahwa hanya 30 persen dari anggota asosiasi profesor tadi yang aktif meneliti. Bila kriteria “aktif melakukan penelitian” tadi diperluas menjadi “aktif menulis di jurnal ilmiah internasional”, maka angka yang muncul pasti jauh di bawah 30 persen.<br />
Pertanyaan yang segera muncul di benak saya ketika itu, mungkinkah asosiasi itu mampu memacu pertumbuhan riset hingga terwujudnya universitas riset? Kini, setelah beberapa bulan berlalu, kita belum mendengar adanya langkah lanjutan setelah asosiasi profesor terbentuk.</p>
<p><span id="more-88"></span></p>
<p>Dalam situasi dunia riset kita yang lesu, agenda pertama asosiasi profesor seharusnya adalah melakukan pembenahan ke dalam, yaitu memacu kinerja sebagian besar anggotanya untuk lebih aktif meneliti. Kalau para penggagas berdirinya asosiasi tadi berasal dari kelompok yang aktif meneliti, tugas memacu pertumbuhan riset tadi masih terlihat realistis, walau tak bisa dibilang ringan. Kalau tidak, maka sebaiknya kita tak berharap banyak pada asosiasi mentereng ini, karena besar kemungkinan ia akan mengalami nasib seperti banyak asosiasi lain. Yaitu sekedar jadi kendaraan bagi segelintir elitnya untuk melakukan petualangan politik.</p>
<p>Untuk bisa mewujudkan tujuannya tadi, ada beberapa hal kecil namun penting yang terlebih dahulu mesti dilakukan. Dalam berita tadi disebutkan bahwa asosiasi profesor ini adalah sebuah organisasi profesi. Ini adalah sebuah salah kaprah yang umum, namun sangat fatal sehingga perlu diluruskan. Profesor itu adalah jabatan (fungsional akademik), bukan profesi. Profesi seorang profesor adalah dosen/peneliti.<br />
Ada juga salah kaprah lain, yang bahkan melanda para profesor itu sendiri, yaitu anggapan bahwa profesor itu adalah gelar akademik yang terus menerus melekat pada diri penyandangnya. Akibatnya kita sering melihat penggunaan “gelar” profesor yang digunakan tidak pada tempatnya. Seseorang yang tadinya profesor di perguruan tinggi masih tetap mencantumkan “gelar” itu di depan namanya ketika ia menduduki jabatan lain yang sama sekali tak ada kaitannya dengan dunia akademik, seperti Ketua MPR atau menteri.<br />
Salah kaprah ini meski terlihat sepele, sebenarnya terkait erat dengan mentalitas yang menentukan kinerja seorang profesor. Jabatan profesor sering dianggap sebagai prestasi puncak. Orang yang menduduki jabatan itu kerap merasa tak lagi perlu melakukan apa-apa, karena ia sudah melakukan segalanya untuk sampai ke jenjang itu. Kalaupun ia melakukan sesuatu, itu bukan lagi hal yang bersifat akademik. Jenjang profesor sering dijadikan legitimasi untuk menuntut posisi di jabatan struktural. Mantan Rektor UGM Koesnadi Hardjasoemantri (alm.) bercerita bahwa banyak profesor yang tak mau memberi kuliah atau membimbing skripsi kepada mahasiswa S1, karena menganggap pekerjaan itu terlalu sepele untuk seorang profesor.<br />
Padahal, seperti yang terjadi di negara-negara maju, jabatan profesor adalah sebuah awal bagi seseorang untuk meniti karir secara penuh di dunia akademik. Di Jepang umumnya seorang dosen baru boleh memberi kuliah ketika ia sudah menjadi associate professor. Sedangkan hak untuk menjadi pembimbing resmi bagi para mahasiswa hanya ada pada profesor (penuh). Dengan menjadi profesor seseorang diberi wewenang untuk memimpin sebuah tim peneliti dengan agenda penelitian yang dia tetapkan, berikut penganugerahan anggaran rutin.</p>
<p>Beberapa universitas terkemuka di Jepang menerapkan sistem kontrak berjangka 10 tahun untuk jabatan profesor. Di akhir masa kontrak, kinerja seorang professor akan dievaluasi untuk menentukan apakah dia dapat memangku jabatan yang sama untuk periode berikutnya. Dengan sistem itu, orang akan dipacu untuk menunjukkan kinerja riset yang terbaik.</p>
<p>Dalam beberapa kasus, profesor yang menduduki jabatan struktural yang membuat ia tak lagi dapat melakukan pekerjaan riset, harus rela melepaskan jabatan profesornya. Dengan kata lain, jabatan profesor bukan jabatan final yang melekat secara abadi pada seseorang. Jabatan profesor hanya bisa dimaknai sebagai kewenangan untuk melakukan tugas-tugas akademik.</p>
<p>Untuk mencapai kinerja riset dan akademik yang baik, idealnya seseorang mencapai jenjang profesor pada usia di mana tercapai keseimbangan antara kematangan akademik dan produktifitas, yaitu sekitar 40 tahun. Hal ini sepertinya menjadi perhatian khusus dalam pembentukan asosiasi profesor tadi. JB Sumarlin, ketua formatur Ketua Formatur Asosiasi Profesor Indonesia memandang perlu untuk melakukan pengaderan profesor muda. Masalahnya, bagaimana hal itu bisa dicapai?</p>
<p>Jalan menuju jabatan profesor di negara kita sangat panjang dan berliku. Akibatnya perguruan tinggi kita rata-rata kekurangan profesor, termasuk perguruan tinggi terkemuka seperti UI, UGM, dan ITB. Kalaupun seseorang berhasil sampai ke jenjang profesor, itu baru bisa ia capai ketika ia sudah akan memasuki usia pensiun.</p>
<p>Sulitnya menjadi profesor adalah salah satu akibat rendahnya kinerja dosen secara umum. Tapi masalahnya tak cuma itu. Penilaian terhadap kinerja dosen terlalu bertumpu pada hal-hal yang bersifat administratif, sehingga jenjang profesor akhirnya tidak bisa dijadikan ukuran pencapaian akademik dan riset. Karenanya kita menyaksikan hal-hal yang tak masuk akal, seperti profesor yang tak melakukan penelitian tadi.<br />
Ironisnya, ada beberapa dosen berprestasi yang secara faktual layak menjadi profesor, tapi tak kunjung berhasil karena rumitnya proses ke arah itu. Asosiasi profesor yang baru saja didirikan harus berani mendorong adanya terobosan-terobosan untuk memangkas jalur birokrasi pengangkatan profesor.<br />
Osaka University, sebuah universitas terkemuka di Jepang, pernah mengangkat seorang profesor muda secara lompat jabatan. Umumnya seseorang meniti karir dengan jenjang assistant professor, associate professor, dan (full) professor. Tapi profesor muda di Osaka tadi diangkat langsung dari assistant professor ke (full) professor. Itu dia peroleh karena ia menunjukkan prestasi luar biasa, di antaranya berupa tiga publikasi di jurnal terkemuka Nature.</p>
<p>Asosiasi Profesor Indonesia kiranya perlu melakukan terobosan berani seperti itu untuk mencapai terwujudnya universitas riset. Orang-orang seperti Dr. Terry Mart yang secara rutin memublikasikan karyanya di jurnal internasional ternama sudah bisa dianggap berprestasi luar biasa, sehingga perlu langsung diangkat menjadi profesor tanpa birokrasi yang berbelit. Tak kalah penting, asosiasi juga perlu mulai mengikis mentas feodal para profesor yang selama ini sering jadi penghambat bagi dosen muda untuk naik pangkat.</p>
<p>Jadi, kita masih menunggu langkah-langkah penting dari Asosiasi Profesor.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/profesor-bikin-asosiasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Undoukai</title>
		<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/undoukai/</link>
		<comments>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/undoukai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Oct 2006 16:23:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama dan Sosial - Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa dan Budaya Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Sains, Teknologi, Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Hari Minggu lalu saya hadir di TK (youchien) tempat anak saya Sarah “sekolah”. Ada kegiatan pertandingan olah raga, yang disebut undoukai. Di Jepang tanggal 10 Oktober adalah Hari Olah Raga, karenanya di sekolah-sekolah dan tempat-tempat lain banyak diselenggarakan pertandingan olah raga.

Dalam acara itu hadir para orang tua murid. Juga hadir kakak-kakak dan adik-adik mereka. Lomba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Minggu lalu saya hadir di TK (youchien) tempat anak saya Sarah “sekolah”. Ada kegiatan pertandingan olah raga, yang disebut undoukai. Di Jepang tanggal 10 Oktober adalah Hari Olah Raga, karenanya di sekolah-sekolah dan tempat-tempat lain banyak diselenggarakan pertandingan olah raga.</p>
<p><span id="more-36"></span></p>
<p>Dalam acara itu hadir para orang tua murid. Juga hadir kakak-kakak dan adik-adik mereka. Lomba memang diselenggarakan tidak hanya untuk para murid, tapi juga untuk orang tua, kakak, serta adik mereka. Sedikit berbeda dengan perlombaan di Indonesia, setiap peserta lomba mendapat hadiah yang sama. Jadi tidak ada juara. Mungkin karena lomba ini dilakukan di TK. Tapi mungkin juga ini memang kebiasaan di Jepang, di mana anak-anak diperlakukan sama, dan nyaris tak ada iklim kompetisi.</p>
<p>Banyak hal mengalir dalam fikiran saya selama mengikuti kegiatan itu. Salah satunya adalah tersadarnya saya akan cepatnya waktu berlalu. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana saya dulu ikut dalam berbagai perlombaan 17 Agustusan di sekolah. Kini saya sudah menjadi orang tua bagi anak-anak saya, mengantar mereka mengikuti perlombaan.</p>
<p>Saya juga merasakan kebahagiaan yang terpancar dari wajah anak saya. Dia dengan ceria memperkenalkan saya kepada teman-temannya. “Otousan dayo (Ini ayah saya)!” katanya dengan wajah sumringah. Keceriaan itu untuk kesekian kali menyadarkan saya betapa pentingnya kehadiran kita pada acara-acara seperti itu.<br />
Tapi ada lagi pengalaman yang tak kalah menarik. Dalam acara itu hadir sekitar 100 orang, termasuk anak-anak di bawah usia tiga tahun, yang sedang nakal-nakalnya. Tapi selama acara berlangsung, saya tidak melihat ada sampah di tempat acara. Tak ada satupun. Padahal anak-anak itu bermain bebas, juga makan dan minum selama acara berlangsung.</p>
<p><a href="http://berbual.com/wp-content/uploads/2008/09/dsc_0512.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-82" title="dsc_0512" src="http://berbual.com/wp-content/uploads/2008/09/dsc_0512-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Sebelum acara berlangsung memang sudah ada edaran dari TK agar para orang tua menyiapkan kantong sampah dan membawa sampah mereka pulang. Edaran itu dipatuhi. Para orang tua itu nampaknya sadar betul bahwa sikap mereka adalah bagian integral dari pendidikan anak-anaknya.</p>
<p>Saya lantas teringat pada sebuah kejadian di Indonesia tahun lalu. Ketika itu saya sekeluarga sedang berada di kampung halaman saya, Pontianak. Menjelang awal tahun ajaran, saya berniat memasukkan Sarah ke TK. Atas anjuran Abang saya, saya memilih TK Pembina. Katanya TK itu bagus, dan murah, karena itu TK negeri. Dan karena itu peminatnya cukup banyak.</p>
<p>Pada hari pembagian formulir pendaftaran, saya datang pagi-pagi ke TK tersebut. Pengalaman tahun lalu kata Abang saya, banyak yang tak kebagian formulir. Sykurlah ketika saya tiba, TK masih sepi. Saya yang pertama tiba di situ. Kemudian orang tua para calon siswa lain pun mulai berdatangan.</p>
<p>Setelah menunggu cukup lama akhirnya pengelola TK mengumumkan bahwa formulir segera dibagikan. Karena merasa telah datang paling awal, saya langsung berdiri di dekat meja pembagian formulir, sambil berharap orang yang datang kemudian akan antri di belakang saya. Ternyata harapan saya meleset. Mereka berlomba-lomba berdiri paling dekat ke meja, saling dorong dan saling himpit. Kepala TK berkali-kali mengingatkan bahwa tidak perlu berebutan, karena formulir disediakan dalam jumlah cukup. Tapi tetap saja mereka berdesakan.</p>
<p>Karena merasa batin saya tak nyaman, saya mundur dari kerumunan itu. Dari belakang saya berteriak, “Bapak-bapak dan Ibu-ibu, kita di sini untuk memberi pendidikan kepada anak-anak kita. Tapi kita justru memamerkan perilaku orang tak terdidik, disuruh tertib saja tidak bisa.” Sebagian orang tersentak dengan ucapan saya, berhenti sejenak dari aktivitas berebut tadi sambil tersenyum malu, tapi tak lama kemudian kembali berebutan.</p>
<p>Saya memutuskan untuk menunggu hingga acara rebutan itu selesai. Alhamdulillah saya tetap kebagian formulir seperti dijanjikan oleh Kepala TK tadi.</p>
<p>Begitulah. Kita sering lupa tujuan menyekolahkan anak, yaitu mendidik mereka. Kita juga sering lupa bahwa kita adalah pendidik utama bagi anak-anak kita. Bahwa perilaku kita lebih membekas di benak mereka ketimbang kata-kata. Karenanya sering muncul hal-hal yang bersifat antagonis, seperti yang saya saksikan di TK tadi.</p>
<p>Kita sering salah mengira sehingga menyekolahkan anak kita anggap sebagai transfer tanggung jawab mendidik anak, dari kita ke sekolah/guru. Padahal, sekali lagi, sekolah dan guru hanyalah pembantu kita dalam mendidik anak. Pendidik utamanya tetap kita sendiri. Maka sebagai pendidik kita tidak boleh melupakan pepatah, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”</p>
<p>Sendai, 18 Oktober 2006<br />
Hasanudin Abdurakhman</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/undoukai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
