Archive for the ‘Sains, Teknologi, Pendidikan’ Category

Makan (dengan) Uang Negara

19 September 2006

Empat tahun yang lalu saya mulai bekerja sebagai seorang Visiting Research Associate di Kumamoto University, segera setelah menyelesaikan studi S3. Di tempat itu, sebagaimana umumnya di Jepang, diadakan pesta penyambutan untuk saya. Pesta itu disebut kangeikai. Acara ini merupakan sebuah acara formal yang diagendakan secara rutin, dan diputuskan dalam rapat di majelis guru besar.

(more…)

Media untuk Informasi Ilmiah

10 September 2006

Minggu pagi saya disuguhi berita tentang pupuk ajaib water stimulating feed (WSF) beserta tanggapan terhadapnya oleh seorang guru besar IPB. Informasi semi-ilmiah semacam ini sudah sangat sering diberitakan di koran. Banyak penemuan yang dianggap spektakuler, berkelas penerima nobel. Tapi kemudian berita tentang itu menghilang dengan sendirinya.

(more…)

Berdagang Gelar Akademik

2 September 2005

Media Indonesia,  2 September 2005

PENANGKAPAN pelaku jual beli gelar sarjana palsu melalui Institut Manajemen Global Indonesia (IMGI) banyak diberitakan di media massa. Berita ini cukup menggembirakan karena mencerminkan adanya keseriusan aparat keamanan untuk menanggulangi masalah ini. Jual beli gelar sarjana memang cukup marak terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir. Banyak lembaga yang mengaku menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi di luar negeri menawarkan gelar sarjana di berbagai jenjang, terutama jenjang pascasarjana, yang bisa diperoleh dengan cara yang sangat mudah dengan biaya tertentu. Peminatnya ternyata cukup banyak, termasuk beberapa pejabat tinggi negara yang kemudian mencantumkan gelar tersebut di depan namanya dalam dokumen resmi negara.

Situasi ini direspons oleh Depdiknas dengan mengeluarkan surat edaran dari Dirjen Pendidikan Tinggi yang intinya memperingatkan masyarakat untuk tidak tertipu oleh para penjual gelar palsu itu. Sayangnya langkah tersebut tidak disertai oleh tindakan hukum yang jelas sehingga masalah ini menggantung cukup lama. Kasus IMGI dapat dikatakan sebagai kasus pertama yang dikenai tindakan hukum. Tindakan hukum seperti ini boleh jadi akan efektif untuk memberantas kegiatan jual beli gelar dalam format yang disebutkan di atas. Namun, saya khawatir kegiatan jual beli itu telah menjelma ke format lain yang lebih canggih, dan yang terpenting, legal.

(more…)

Menanggulangi Kelangkaan Guru Besar, Menuju Kampus Riset

6 September 2004

Pernah dimuat pada beritaiptek.com.

Dalam kaitan dengan dies natalis Universitas Indonesia (UI) beberapa waktu lalu diberitakan bahwa universitas ini sedang mengalami kekurangan guru. Saat ini UI hanya memiliki 203 guru besar, dan sebagian di antaranya hampir memasuki dunia pensiun. UI menargetkan tercapainya jumlah 300 guru besar selama tahun 2004 ini dalam rangka mewujudkan impiannya sebagai kampus riset.

Kekurangan guru besar ini terasa sangat ironis mengingat UI adalah salah satu universitas terbaik di tanah air. Kekurangan ini tentu tidak hanya dialami oleh UI, tapi juga universitas lain. Sebuah jurusan di universitas besar seperti UGM atau ITB rata-rata cuma punya 2-3 orang guru besar. Di beberapa universitas universitas kecil di daerah malah ada fakultas yang tidak punya guru besar sama sekali.

Kekurangan guru besar ini adalah salah satu indikasi yang sangat jelas tentang terbengkalainya bidang penelitian di universitas kita. Di negara maju seorang guru besar (professor) biasanya membawahi sebuah kelompok yang melakukan penelitian pada subyek tertentu. Anggota kelompok itu terdiri dari asisten dan mahasiswa, baik tingkat sarjana maupun pasca sarjana. Penelitian dilakukan secara terprogram dengan agenda dan anggaran yang jelas, lalu hasilnya dipublikasikan di jurnal ilmiah maupun konferensi. Ini adalah situasi ideal sebuah universitas yang layak untuk disebut kampus riset.

(more…)

Menyoal Kejujuran Ilmuwan

21 July 2004

Pernah dimuat pada Majalah Inovasi PPI Jepang.

Beberapa bulan lalu situs internet jurnal ilmiah terkemuka Nature bulan lalu memberitakan penarikan sebuah makalah dari sebuah jurnal biologi Cell, karena penulisnya, Siu-Kwong Chan, ternyata telah melakukan pemalsuan data yang dipublikasikan pada makalah tersebut. Ketika menulis makalahnya S. K. Chan adalah seorang peneliti post-doctoral di Howard Hughes Medical Institute (HHMI) sebelum pindah ke Albert Einstein College of Medicine. Dia bersama Gary Struhl menulis mengenai sekelompok protein yang dikenal sebagai Wnt dan memainkan peran penting dalam pembentukan sel. Makalah Chan tersebut mengungkapkan bukti-bukti baru yang bertentangan dengan pengetahuan konvensional tentang cara kerja Wnt tadi. Artinya, kalau terbukti benar, makalah ini akan menumbangkan teori yang telah lama dianut.
Kehadiran makalah ini kemudian menyulut kontroversi. Ahli-ahli terkemuka banyak yang mempertanyakannya. Ketika Struhl mencoba melakukan kembali eksperimen yang telah dilakukan Chan ternyata dia gagal. Lalu hal ini dikonfirmasikan ke Chan, dan dia akhirnya mengakui bahwa sebagian besar data yang ditulis dalam makalah itu tidak dia kerjakan eksperimennya atau eksperimennya memberikan hasil yang berbeda. Atas dasar pengakuan ini Struhl kemudian menarik kembali makalah tersebut, 15 bulan setelah penerbitannya.

(more…)

Kriteria Membumi – Dalam Tema Penelitian

9 March 2004

Kompas – 9 Maret 2004

Sumber: www.kompas.com/kompas-cetak/0403/09/opini/898464.htm

Kutipan: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0404/26/opini/933970.htm

TULISAN Zeily Nurachman berjudul “Membumikan Topik Penelitian” (Kompas, 12/2/2004) menyelipkan sebuah inkonsistensi kecil, di samping beberapa pertanyaan besar tentang kata membumi yang jadi tema utama dalam tulisannya. Dia menjadikan Chandrasekhara Venkata Raman sebagai salah satu tokoh dalam ilustrasinya, tetapi sayang tokoh ini tidak cukup tepat atau malah antagonis dengan judul tulisan.

Raman adalah contoh yang baik untuk “ketekunan”, tetapi tidak untuk “membumi”. Alasannya sederhana: pada awal abad ke-20 ketika Raman melakukan penelitian, yang dibutuhkan rakyat India tentu bukan sebuah spektroskopi. Karya Raman itu, walau tidak membumi (dalam konteks masyarakat India awal abad ke-20), terbukti telah memberi manfaat yang luas, melampaui batas negara dan bahkan batas zaman. Kalau saya boleh memberikan sedikit koreksi, kata kunci yang lebih tepat untuk tulisan tersebut justru “ketekunan” bukan “membumi”.

(more…)

Pengembangan Iptek dan Fleksibilitas Birokrasi

18 February 2004

Media Indonesia, 18 Februari 2004

Suatu hari saya menemukan profesor atasan saya berwajah masam di ruang kerjanya. Dia kemudian bercerita bahwa dia baru saja ditegur oleh pihak administrasi fakultas. Pasalnya, dia telah membeli sebuah detektor seharga 2 juta yen dengan biaya dari anggaran penelitian tanpa melalui prosedur tender. Ketentuan administratif mengharuskan pembelian barang berharga di atas 1,5 juta yen melalui proses tender. Baginya ketentuan ini bukan saja tidak bermakna, tapi juga menghambat kemajuan penelitian. Rekanan tempat dia membeli detektor tadi adalah rekanan langganannya sejak dia bekerja di universitas lain sebelum diangkat jadi profesor di tempat sekarang. Artinya di antara mereka, professor tadi dan rekanannya, telah terjalin ikatan kepercayaan, di antaranya menyangkut pelayanan purna jual yang sangat membantu dalam maintenance alat yang telah di beli. Hal-hal semacam ini tentu tidak terlalu diperhatikan dalam penentuan rekanan melalui tender yang cenderung berpola administration-minded itu.

“Konflik” di atas menggambarkan betapa birokrasi itu seringkali sangat menyulitkan, sehingga layak disebut sebagai kandang besi. Ini adalah sebuah ironi, mengingat awalnya birokrasi dibuat untuk memudahkan dan melancarkan urusan. Tender, misalnya, dilakukan dengan maksud menghindari korupsi dan kolusi dalam pembelian barang, namun ironisnya prosedur ini justru sering jadi sumber korupsi dan kulusi tadi. Ini terjadi di mana-mana, bahkan di negara-negara maju seperti Jepang. Untuk kasus Indonesia, di mana birokrasinya terkenal sangat kaku, persoalannya tentu jadi lebih rumit lagi.

(more…)