Hadrah

26 March 2010

Sahat berbaring di atas sampan kecilnya. Matahari sudah tegak di atas kepala. Sejak fajar menyingsing ia sudah menebar pancing-pancing kepitingnya di sepanjang sungai berhutan bakau. Sampannya kini ia tambatkan pada akar bakau, bayangan dedaunan melindunginya dari sengatan matahari. Ia sudah makan siang. Masih banyak waktu menuju petang, saat ia harus memeriksa pancing-pancingnya, untuk mengambil kepiting yang terpancing.

Sahat memejamkan matanya, mencoba tidur. Perutnya kenyang. Semilir angin laut yang sejuk, alunan ombak kecil membuat sampannya berayun lembut, memperkuat hasratnya untuk larut dalam mimpi. Tapi telinganya membisikkan hal lain. Di telinganya terngiang suara tarbang yang ia dengar semalam.

Tengah malam tadi Sahat terbangun dari tidurnya oleh dengungan suara nyamuk. Obat nyamuk yang dia bakar di sampingnya seperti tak berdaya menghalau serbuan nyamuk-nyamuk hutan bakau yang selalu kekurangan mangsa. Sahat sudah terbiasa terbangun tengah malam oleh gangguan nyamuk. Tapi malam tadi berbeda. Saat ia mencoba tidur kembali telinganya menangkap suara lain di tengah dengungan kepak sayap nyamuk. Suara tabuhan tarbang!

Sahat memang sangat menyukai hadrah. Syair puja-puji untuk Nabi yang ditulis oleh al-Barazanji, dinyanyikan dengan iringan tarbang, diikuti dengan liukan penari rodat. Sahat adalah penabuh tarbang. Ia bisa betah berjam-jam menabuh tarbang pada pagelaran hadrah semalam suntuk. Ia piawai sebagai penabuh utama, diapit dua penabuh pendamping, penentu jenis tabuhan yang dibawakan. Bila giliran sebagai penabuh utama usai, ia beralih menjadi penabuh pendamping, atau penari rodat. Suaranya merdu saat melantunkan puja-puji.

Pekerjaannya sebagai pemancing kepiting membuat Sahat jarang tinggal di kampungnya untuk waktu yang lama. Ia lebih sering berada di laut, di atas sampannya. Berkeliling menjelajahi laut berhutan bakau bersama empat lima orang lain. Kepiting hasil tangkapannya diambil oleh kapal motor pengumpul, lalu dikirim ke kota dengan kapal yang lebih besar. Ia kembali ke kampung dua-tiga minggu sekali untuk mengantarkan uang pada keluarganya, lalu melaut lagi. Meski jauh di tengah laut, ia selalu minta kabar soal pagelaran hadrah di kampung melalui awak kapal motor. Bila ada hadrah, diusahakannya untuk pulang. Tak jarang pula Sahat menghadiri hadrah di kampung di dekat tempat ia memancing, bila kebetulan ada yang berhajat menyelenggarakan hadrah. Untuk itu Sahat selalu membawa baju teluk belanga dan sarung terbaik yang ia miliki di dalam sampannya.

Suara tarbang yang didengar Sahat semalam cukup mengganggunya sepanjang hari ini. Ia memang sudah hampir dua bulan tak main. Tapi bukan itu sebabnya. Arah sumber suara itu tidak wajar. Dari balik tanjung, kira-kira dua jam perjalanan dengan sampan dari tempat itu berlabuh sekarang. Dia mengenal daerah ini dengan baik, karena sudah bertahun-tahun dia mancing di situ. Dia tahu persis tak ada kampung di situ. Tapi kenapa ada suara tabuhan tarbang?

Jemu memejamkan mata tanpa bisa tertidur, ia bangun dan menyalakan rokok. Di tiga sampan lain teman-temannya sedang lelap tertidur. Tapi di satu sampan dia lihat Hamdan juga sedang duduk merokok. Dilepasnya tambatan sampannya dari pohon bakau, perlahan ia mengayuh menuju sampan Hamdan.

“Ndan, malam tadi aku dengar tabuhan tarbang dari balik tanjung itu.“ bisiknya pada Hamdan. Ia tak ingin yang lain tahu dan menganggapnya kerasukan jin hadrah. Hamdan tak bermuka heran, tapi langsung tertawa keras-keras. Sahat panik. Reaksi Hamdan tepat seperti perkiraannya.

“Kau ini lapar hadrah. Mana ada kampung di balik tanjung itu. Kalaupun kau dengar bunyi tarbang dari situ, itu pastilah kerja jin yang sedang mengawinkan anaknya.“ kata Hamdan sambil terus tertawa. Suara keras Hamdan membuat yang lain terbangun, lalu ikut memperolok Sahat. Merasa malu Sahat mencoba menganggap suara yang ia dengar tadi malam adalah mimpi.

Malam hari selepas magrib, saat bersiap memeriksa pancing-pancingnya Sahat kembali mendengar suara itu. Sayup-sayup. Ia coba mengabaikannya. Tapi suara itu makin jelas terdengar. Ia tetap mengabaikannya. Takut ditertawakan lagi. Tapi suara itu sudah semakin jelas, tak mungkin ia abaikan. Lalu ia datangi lagi sampan Hamdan.

“Kau dengar itu?”

„Apa? Suara tarbang jin?“ Hamdan balik bertanya dan siap hendak tertawa lagi.

„Coba kau diam dan dengar baik-baik!“ sergah Sahat.

Hamdan menurut. Sejenak kemudian raut wajahnya berubah. Mimiknya serius sekarang.

„Iya, aku dengar.“ katanya dengan wajah tak percaya.

Berdua mereka mengayuh sampan, mendekati tiga sampan lain. Semua bersikap sama. Mula-mula tak percaya. Tapi lama-lama mereka semua mendengar apa yang malam tadi didengar Sahat.

“Ah, mungkin itu hanya suara dari kampung lain yang terbawa angin.“ kata Samad mencoba menjelaskan. Tapi tak ada yang yakin betul dengan penjelasan itu. Tak menemukan penjelasan, mereka mengabaikannya, lalu mulai larut dengan pekerjaan masing-masing.

Tapi Sahat tak bisa begitu. Tabuhan tarbang itu begitu mengganggunya. Ia tak dapat bekerja dengan baik malam ini. Beberapa kepiting tangkapannya lolos. Bahkan jari telunjuknya bengkak terjepit capit kepiting yang memberontak. Setelah itu semalaman ia tak tidur. Risau dengan suara tarbang yang tak ia pahami dari mana asalnya.

Petang hari berikutnya suara itu terdengar lagi. Sahat tak tahan lagi. Dikeluarkannya baju teluk belanga dan sarung miliknya. Ia akan pergi ke balik tanjung itu.

„Nah, pergilah, daripada kau jadi gila di sini.“ kata Hamdan.

„Bawakan aku kue kalau kau pulang nanti.“ kata Nasir mengolok.

„Kalau ada anak jin yang belum kawin, tangkapkan untuk aku.“ Samad menambahi.

Sahat tak peduli. Ia mulai mengayuh sampan, menuju tanjung itu. Makin banyak kayuhan yang ia buat, makin jelas suara tarbang yang ia dengar. Ia yakin tak salah arah.

Hampir dua jam berkayuh, Sahat sampai di tanjung yang ia tuju. Suara tabuhan tarbang sudah semakin menjadi. Ia mempercepat kayuhannya, meski belum jelas benar ke mana ia hendak menuju. Ia hanya mengayuh dan mengayuh ke arah dari mana datangnya suara itu.

Tak lama berselang, ia melihat sebuah lampu di tepi hutan bakau di bibir pantai. Nalurinya mengatakan ia harus menuju ke arah lampu itu. Makin lama makin jelas terlihat. Ia terus mengayuh. Lalu semua jadi lebih jelas saat sampannya semakin dekat ke sumber cahaya itu. Lampu yang ia lihat tadi adalah lampu penerang sebuah dermaga. Sebuah dermaga kecil, lebarnya hanya kurang lebih sepuluh depa. Hanya ada sebuah lampu di situ. Bukan obor, bukan pula petromak. Juga bukan listrik, karena Sahat tak melihat adanya kabel. Hanya sebuah bola bercahaya terang yang digantung pada sebatang tiang. Tak ada sampan atau kapal yang berlabuh di dermaga itu.

Dengan dada bergemuruh Sahat merapatkan sampannya ke dermaga, lalu menambatkannya. Sejenak ia berhenti untuk berfikir. Sudah puluhan kali ia lewat tempat ini. Tak pernah sekalipun ia lihat ada dermaga. Sejak kapan ada dermaga di sini? Aneh. Tapi perasaan aneh itu segera sirna oleh suara tabuhan tarbang yang semakin bertalu. Ia merayap naik ke dermaga.

Dengan langkah pasti ia menyusuri jembatan penghubung dermaga dengan daratan. Di ujung sana ia mendapatkan jalan terbentang lurus ke depan. Permukaannya keras dan halus, tepi-tepinya dibatasi oleh tembok rendah, lebih rendah dari lutut Sahat. Belum pernah Sahat melihat jalan seperti ini. Di kampungnya jalan dibuat dari tanah liat yang ditumpuk seadanya. Permukaannya tak rata dan tak keras. Saat hujan turun jalan itu licin dan becek. Jalan yang membentang di depannya membuat Sahat terkesima.

Sahat mulai menyusuri jalan itu. Sepi dan hening. Tak ada sosok manusia yang ia temukan. Pun tak ada suara lain selain tabuhan tarbang. Di kiri kanan jalan terpancang tiang-tiang berlampu seperti yang ia lihat di dermaga. Setiap belasan depa ada satu tiang berlampu. Cahayanya lembut menyinari permukaan jalan.

Tak jauh berjalan Sahat menemukan rumah-rumah berjejer di sepanjang sisi jalan. Rumah-rumah yang tak besar, hampir sama besar dengan rumah-rumah di kampung Sahat. Tapi rumah-rumah ini tak seperti rumah kampung yang berdinding papan dan beratap daun nipah. Rumah-rumah ini bertembok rapi, beratap sirap. Setiap rumah dihiasi dengan taman cantik di depannya. Pun semua meriah bermandi cahaya. Hanya saja Sahat tak menemukan sosok manusia maupun bayangannya di rumah-rumah itu.

Sahat terus berjalan, menuju ke arah sumber suara. Dan tak lama kemudian ia tiba ke sebuah rumah besar. Lebih besar dari rumah-rumah lain di sekitarnya. Halamannya pun lebih luas. Juga lebih terang bermandi cahaya. Di rumah itu ia melihat banyak orang. Sahat melangkah mantap, masuk ke halaman, lalu ke pintu depan. Di situ ia disambut beberapa orang berbaju teluk belanga putih bersih. Para penyambutnya tampak berkilau ditimpa cahaya lampu. Para penyambut itu menyilakannya dan mengantarnya masuk ke ruang utama.

Di ruang itu Sahat menemukan kemeriahan hadrah yang tak pernah ia saksikan. Bukan tiga, ia menyaksikan sembilan tarbang sedang ditabuh. Suara tabuhannya merdu belaka. Demikian pula dengan suara puja puji yang dilantunkan. Penabuhnya berbaju seragam, teluk belanga merah menyala. Di hadapan mereka berjajar belasan orang penari rodat berbaju kuning gading.. Dua baris penabuh dan penari itu dikelilingi oleh berpuluh hadirin yang duduk hidmat, sambil menyanyikan puja puji.

Sahat duduk, tepat saat satu babak pujian usai. Dari barisan terdepan para hadirin bangkit berdiri seorang pemuda tampan. Ia langsung berjalan menuju tempat Sahat duduk, lalu duduk bersila di depan Sahat. Ia mengulurkan salam yang disambut hangat oleh Sahat.

„Selamat datang di kampung kami. Terima kasih Tuan sudi singgah di kampung ini. Tuan tentu datang dari jauh.“

„Iya, saya datang dari kampung yang agak jauh dari sini.“

„Silakan Tuan duduk di barisan penabuh. Kehormatan bagi kami kalau Tuan mau mempimpin puja puji barang satu dua pasal.“

Tanpa ragu Sahat bangkit lalu mengambil posisi duduk di tengah barisan penabuh tarbang, diapit oleh empat penabuh lain di kanan kirinya. Lalu ia mulai melantunkan puja puji.

„Shalla rabbunaa alaa muhammad, syafiil anaam, ya rasulullah………“

Lalu tabuhan bertalu, diiringi derai puja puji dari penabuh lain, juga para hadirin. Para penari rodat meliuk-liuk seirama tabuhan dan puja puji.

Selesai satu pasal, Sahat pindah agak ke samping, menjadi penabuh pengiring. Lalu ia ikut pula menari rodat. Sesekali dia duduk di antara para hadirin, berehat sambil menikmati hidangan. Kue-kue yang terhidang serba lezat belaka. Teringat pada olokan Nasir tadi, ia masukkan dua potong kue ke dalam saku bajunya.

Berkali-kali memimpin tabuhan, akhirnya tiba saatnya untuk tahtim, pujian penutup. Selesai tahtim makanan utama dihidangkan. Nasi kebuli dengan gulai kambing serta acar. Luar biasa lezat. Usai makan Sahat pun beranjak berdiri. Badannya terasa penat. Sudah waktunya ia kembali ke tempat semua. Tak sabar rasanya untuk berbagi cerita.

Seluruh hadirin bangkit mengantarkan Sahat hingga ke pintu masuk rumah. Semua memandang saat Sahat menapaki jalan menuju dermaga. Langit malam masih gelap. Ini mengherankan Sahat lagi. Seharusnya sudah fajar sekarang. Biasanya tahtim dilantunkan saat fajar mulai menyingsing.

Mendekati jembatan menuju ke dermaga tiba-tiba semua berubah. Lampu-lampu tiba-tiba padam serentak. Gelap gulita menyelimuti Sahat. Ia baru sadar bahwa lampu senternya ia tinggalkan di sampan. Langkahnya terantuk pada batang kayu. Sahat mencoba meraba sekitarnya. Matanya kini mulai terbiasa dengan kegelapan. Ia sedang berada di tengah hutan bakau. Tak ada lagi jalan keras dan mulus. Yang ada hanyalah lumpur berair di tengah akar-akar bakau yang bersilangan. Susah payah Sahat maju menuju bibir laut sambil meraba. Terengah, takut bercampur panik ia berjalan terseok menuju sampan. Bulu tengkuknya merinding. Peluh membasahi tubuhnya. Sebagian karena letih berjalan, sebagian lagi adalah peluh dingin karena takut.

Napas Sahat tersengal saat ia tiba di sampan. Bergegas ia naik, dan membuka tambatan sampannya. Tiang dermaga tempat ia menambatkan sampannya kini adalah sebuah batang bakau besar. Panik ia mengayuh sampannya menjauhi bibir pantai bakau, menuju tempat ia datang.

Setelah cukup jauh berkayuh ia mulai sedikit tenang. Lalu ia teringat pada dua potong kue yang ia masukkan ke kantong bajunya. Dengan berdebar dirogohnya kantong itu. Tangannya menyentuh dua potong benda keras dan dingin. Dikeluarkannya kedua benda itu. Yang ia lihat adalah dua potong buah nipah.

(Mengenang Ayah, pecinta hadrah)

http://berbual.com

Tags: , ,

Leave a Reply