Kriteria Membumi – Dalam Tema Penelitian

9 March 2004

Kompas – 9 Maret 2004

Sumber: www.kompas.com/kompas-cetak/0403/09/opini/898464.htm

Kutipan: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0404/26/opini/933970.htm

TULISAN Zeily Nurachman berjudul “Membumikan Topik Penelitian” (Kompas, 12/2/2004) menyelipkan sebuah inkonsistensi kecil, di samping beberapa pertanyaan besar tentang kata membumi yang jadi tema utama dalam tulisannya. Dia menjadikan Chandrasekhara Venkata Raman sebagai salah satu tokoh dalam ilustrasinya, tetapi sayang tokoh ini tidak cukup tepat atau malah antagonis dengan judul tulisan.

Raman adalah contoh yang baik untuk “ketekunan”, tetapi tidak untuk “membumi”. Alasannya sederhana: pada awal abad ke-20 ketika Raman melakukan penelitian, yang dibutuhkan rakyat India tentu bukan sebuah spektroskopi. Karya Raman itu, walau tidak membumi (dalam konteks masyarakat India awal abad ke-20), terbukti telah memberi manfaat yang luas, melampaui batas negara dan bahkan batas zaman. Kalau saya boleh memberikan sedikit koreksi, kata kunci yang lebih tepat untuk tulisan tersebut justru “ketekunan” bukan “membumi”.

Kriteria “membumi” memang sering membuat para peneliti sakit kepala, terutama kalau berhadapan dengan kalangan yang tidak terlibat dalam persoalan teknis penelitian. Peneliti, oleh banyak pihak, dituntut untuk melakukan penelitian dalam masalah-masalah yang konkret dan menyelesaikan persoalan-persoalan riil. Tuntutan ini adalah sesuatu yang wajar karena sains baru punya makna kalau ia bisa menyelesaikan persoalan umat manusia. Namun, persoalannya jadi tidak sederhana kalau kita sudah masuk ke tingkat teknis. Apalagi bila parameter lokal seperti kewilayahan hendak dimasukkan sebagai salah satu syarat.

Mari kita ambil pengembangan sel surya (fotofoltaik) sebagai contoh. Kalau kita ajukan topik ini sebagai tema, tak akan ada orang yang membantah bahwa topik ini sangat membumi mengingat negara kita sangat kaya dengan limpahan sinar matahari. Namun, harus kita ingat bahwa topik ini secara teknis sangat lebar cakupannya, mulai dari analisis teoretis terhadap struktur pita tenaga semikonduktor, rekayasa, dan penumbuhan kristal, pembuatan sel, serta teknis aksesori sel itu sendiri.

Kalau “menghasilkan tenaga listrik” kita pandang sebagai titik yang paling membumi, maka titik yang paling hulu, yaitu kajian teoretis semikonduktor, akhirnya harus masuk kategori tak membumi. Kata “membumi” dalam tulisan itu akhirnya haruslah dipandang secara lebih sederhana dan pragmatis, yaitu bagaimana mengomunikasikan ide- ide saintifik ke kalangan yang tidak secara teknis menekuni bidang penelitian yang kita lakukan. Apalagi bila tujuannya untuk memperoleh dukungan dana. Dalam konteks ini para peneliti memang dituntut untuk luwes dan kalau perlu sedikit manipulatif.

Ide membumikan tema penelitian, terutama bila digulirkan oleh seorang peneliti sendiri, mengundang kekhawatiran terhadap pemasungan kreativitas peneliti. Dengan alasan ini topik-topik penelitian di bidang Fisika partikel, misalnya, harus diberangus karena persoalan yang hendak dipecahkannya tidak menyangkut problem riil masyarakat kita. Padahal, beberapa peneliti kita telah menunjukkan karya gemilang di bidang ini. Lebih jauh lagi, penelitian di bidang ilmu dasar secara umum kemudian akan mendapat giliran berikutnya dari pemangkasan itu. Kalau ini dilakukan, berarti kita sedang meruntuhkan fondasi bangunan tradisi penelitian kita demi menegakkan atapnya.

Dibandingkan dengan ilmu terapan (lebih mudah kalau kita sebut teknologi), ilmu dasar (kita sebut saja sains) memiliki karakter yang sedikit berbeda, selain soal jauhnya ia dengan masalah riil tadi. Teknologi cenderung mencoba menjawab pertanyaan “bagaimana” dalam menyelesaikan masalah, sedangkan sains mencoba menjawab pertanyaan “mengapa”.

Pertanyaan terakhir ini membutuhkan waktu yang lama untuk dijawab sehingga sains kadang jadi terkesan lamban. Polimer pengantar listrik yang ditemukan secara “tak sengaja” dan mengantar penemunya meraih hadiah Nobel Kimia tahun 2000, misalnya, telah ditemukan pada dekade 1970-an dan bisa segera dimanfaatkan tak lama setelah itu.

Namun, teka-teki mengapa bahan yang tadinya dikenal sebagai isolator itu bisa mengantarkan listrik setara logam baru bisa dijawab dua puluh tahun kemudian. Kalau para saintis berhenti pada kriteria membumi tadi, penelitian dua puluh tahun mengenai mekanisme antaran listrik tadi tidak terlalu perlu dilakukan karena tanpa pengetahuan tentang itu pun logam polimer tadi sudah bisa dimanfaatkan. Kenyataannya tentu tidak demikian. Jawaban atas pertanyaan “mengapa” itu adalah investasi jangka (sangat) panjang karena ia bisa memberikan sumbangan terhadap percepatan kemajuan sains dan teknologi dalam skala yang sangat besar.

Pada akhirnya, salah satu kata kunci dalam pengembangan riset kita adalah komunikasi yang baik antara peneliti dan pengambil keputusan di bidang penelitian (yang di dalamnya terdapat para peneliti juga). Dan kita semua sadar bahwa ini tidak mudah. Jangankan terhadap mereka yang awam terhadap suatu topik tertentu di dunia penelitian, dengan sesama peneliti pun kadang hal ini sulit dilakukan.

Hal ini misalnya dialami oleh penerima hadiah Nobel Fisika 1973, Leo Esaki. Dalam kata pengantar sebuah bukunya, dia bercerita soal makalahnya mengenai proposal teoretis terhadap superstruktur semikonduktor. Makalah ini ditolak oleh yuri (yang dia sebut tidak imajinatif) di sebuah jurnal Fisika yang terkenal, Physical Review, dengan alasan terlalu spekulatif. Makalah itu akhirnya hanya berhasil diterbitkan dalam sebuah laporan teknis IBM. Belakangan, Esaki secara teknis mampu membuktikan bahwa idenya itu bisa diwujudkan dan dia menjadi pelopor di bidang tersebut.

Dengan demikian, perlu kiranya ditambahkan satu lagi kriteria yang harus turut dipertimbangkan oleh pengambil keputusan selain kriteria membumi tadi, yaitu eksistensi.

wordpress plugins and themes

Leave a Reply