Membicarakan Indonesia tanpa Mengeluh
12 November 2008Awal tahun 2007, ketika saya baru beberapa bulan mudik dan mulai hidup baru di tanah air, pada suatu kesempatan saya bertemu kangen dengan teman-teman semasa kuliah dan jadi aktivis kampus di UGM dulu. Seperti biasa acara diisi dengan makan dan obrolan ringan. Karena sudah lama tidak saling bertemu tentu saja isi pembicaraan di masa awal adalah seputar sudah nikah atau belum, anak berapa, sekarang kerja di mana, dan seterusnya.
Dasar mantan aktivis, pembicaraan akhirnya nyerempet juga ke urusan politik, birokrasi, dan sejenis itu. Tentu isinya kebanyakan adalah kekecewaan. Mulai dari keluhan soal tidak cakapnya petugas, buruknya pelayanan, sampai kecurangan-kecurangan petugas. Setelah lelah mengeluh, Anies Baswedan (waktu itu baru saja dilantik jadi Rektor Universitas Paramadina) berujar, “Kapan ya kita bisa berkumpul, membicarakan Indonesia, yang isinya bukan keluhan.”
Kemarin, untuk pertama kalinya saya bisa merasa lega. Untuk pertama kalinya saya bisa menulis hal yang baik tentang Indonesia, yaitu tentang Reformasi di Kantor Pajak. Maaf, saya bukan tukang memburuk-burukkan bangsa sendiri. Tapi terlalu banyak kejadian yang begitu menyesakkan dada tentang bangsa ini. Pada saat yang sama saya mengalami banyak hal-hal baik, tapi sayangnya itu di negeri orang. Di Jepang, tempat saya pernah bermukim selama hampir 10 tahun. Hal-hal baik yang selama ini saya tulis, apa boleh buat, selalu tentang Jepang.
Tulisan saya tentang Reformasi di Kantor Pajak banyak mendapat tanggapan. Umumnya memberi kesaksian yang sama dengan yang saya tulis. Juga tidak sedikit yang memberi informasi tentang perbaikan di berbagai tempat, seperti pelayanan pembuatan SIM, pembuatan paspor, dan sebagainya. Tentu saja diiringi dengan cerita lama tentang kecurangan dan kebusukan pegawai pemerintah yang masih belum juga mau berubah.
Situasi ini sangat membahagiakan saya.
Seperti saya tulis sebelumnya, apa yang saya dan banyak orang saksikan itu belum menggambarkan reformasi di Kantor Pajak secara keseluruhan. Di tempat-tempat tersembunyi boleh jadi masih banyak yang berbuat nakal. Tapi perubahan ini terjadi di Kantor Pajak. Tempat yang selama ini dikenal sebagai “sarang penyamun” uang negara. Perubahan yang terlihat di sarang penyamun, tentu merupakan sebuah perubahan besar yang patut menjadi perhatian.
Itu baru di Kantor Pajak. Pada saat yang sama kita menyaksikan masih banyak tempat yang masih belum juga mau berubah. Di Kejaksaan misalnya. Meski KPK sudah menangkap jaksa-jaksa nakal, dan kasusnya menjadi sorotan luas, tetap saja belum tampak geliat perubahan berarti di Kejaksaan. Demikian pula di Kepolisian.
Lebih dari itu, reformasi kita tidak hanya menyangkut birokrasi. Tapi juga peri laku keseharian kita. Cara kita berlalu lintas, menggunakan tempat umum, menjaga kebersihan, menjaga ketertiban, semua masih jauh dari baik. Juga cara kita dalam melihat perbedaan. Ini semua perlu diubah.
Banyak hal yang masih harus diubah. Saya mungkin harus kembali menulis tentang yang buruk-buruk. Obrolan dengan teman-teman mungkin masih akan berisi keluhan. Tapi setidaknya sesekali kita bisa membicarakan Indonesia dengan bangga, tanpa mengeluh.
November 13th, 2008 at 13:02
gimana ya…
pengalaman pernah,
pertama :
tertib berhenti di belakang garis lampu lalu lintas malah di marahin supir kopaja, di klaksonin pengendara lain di belakang, bahkan pernah dengan sengaja disenggol metromini. kayanya sudah menjadi hukum rimba. dimana ada kesempatan, bisa jalan terus, ga peduli lampu lalulintas menyala apa. kalau perlu kendaraan dari arah lain disuruh melambat walau lampu sedang hijau.
kedua :
mengurus KTP megikuti prosedur yang ada malah ga jelas. entah berkasnya hilang atau sengaja dihilangkan.
kalo sudah begini gimana ya…
kita mau benar susahnya minta ampun.
malah kayanya jadi lebih gampang berbuat salah.
Mudah-mudahan suatu saat nanti kita semua bosan dengan keburukan-keburukan yang terjadi di negeri ini, kemudian kembali ke jalan yang benar. Amiinnn…
November 20th, 2008 at 12:50
iya sih, bener juga,…capek rasanya liat orang-orang yang bangga sama seragamnya, tapi ngga membanggakan untuk korpsnya…kelakuannya udah yang paling….hebat, paling kuasa…ya gitu deh…., sayangnya kebanyakan dari orang-orang yang berkelakuan seperti malah yang berseragam ya…?
melayani itu bukan berarti rendah, bertutur yang halus itu bukan berarti rendah, bersikap yang sopan juga bukan berarti rendah… satu lagi yang bisa anda coba buktikan, yang susah dalam berbelok itu bukan seribu langkah terakhir,…tapi yang susah adalah langkah pertama yang akan anda ambil karena anda harus memantapkan hati dan niat…
semoga instansi-instansi yang sekarang masih mempunyai oknum-oknum yang berjalan melenceng sempat membaca postingan-postingan ini yang merupakan suara hati atas fakta di lapangan…dan semoga bisa melangkahkan meraka ke jalan yang benar….aminnnnnnnnnnnnnnn…..
mas hasan, salam kenal…
November 24th, 2008 at 14:08
Ass.wr.wb…Mas Hasan, ikutan komentar boleh ya?
Semua orang pastinya pengen ngomongin Indonesia tanpa ngeluh, ngomongin yang baik-baiknya aja, tapi untuk ngomongin yang baik itu susah kecuali si subjek sendiri yang mengalami sampe terkesima banget banget baru bisa kita berbagi sesuatu yang baik. Teorinya kalo orang kecewa = ngomong ke 15 orang lainnya, orang puas = ngomong ke maksimal 5 orang lainnya…(beda soal kalo ngomongnya di blog ….^_^). Mungkin emang hukum alam untuk ngasih efek jera buat si pelaku tindakan yang mengecewakan itu. Untuk ukuran sebuah instansi yang notabene banyak orangnya, yang ngga bisa digeneralisasi tindakannya karena banyak juga sebenernya orang yang berusaha berjalan lurus tapi ngga keliatan, ketutupan ma orang-orang yang nakal. Masih sangat berat jalan menuju Indonesia The Heaven…tapi bukan berarti ngga mungkin…bisa dimulai dari merubah diri sendiri (MINDSET kata kepala kantorku), etos kerja(start to think that having a job is a blessing, rahmat yang luar biasa karena ngga semua orang bisa bekerja; mulai berpikir kalo kerjaan itu adalah suatu amah yang patut kita jalankan sebaik mungkin; sebuah panggilan yang datang setelah kita berusaha semaksimal mungkin yang harus kita datangi, kita penuhi dan ikuti sampai selesai; kerja adalah ibadah yang wajib kita jalani dengan penuh syukur dan keikhlasan; kerja adalah suatu kehormatan yang untuk itu perlu untuk dijaga sebaik-baiknya; dan kerja adalah pelayanan maksimal kita, pengabdian kita atas kepercayaan yang kita dapatkan)…InsyaAllah, kita bisa memuji Indonesia dengan objektif…suatu saat nanti…tul ngga Mas Hasan????
Wass.wr.wb
December 2nd, 2008 at 16:13
mantep kang mas. senang rasanya melihat negara kita dikelola dengan baik.
December 12th, 2008 at 15:39
asyik sekali membicarakan indonesia tanpa mengeluh.
tapi di busway orang sebagian besar sudah bisa mulai antri tuh.. berita baik