Menyemai Bibit Pluralisme
7 March 2005Tulisan Lama
Obrolan ringan saya sambil menyelesaikan suatu urusan dengan staf administrasi di kampus tempat saya bekerja (di Indonesia) menyerempet ke sebuah isu sensitif.
“Hampir saja kita kecolongan, Bang”, kata staf administratif yang berjilbab itu mengadu, setelah sekian lama tak bertemu saya karena saya lama meninggalkan tanah air untuk tugas belajar.
“Ada apa?”, tanya saya.
“Iya, beberapa waktu lalu orang-orang Kristen berniat mendirikan gereja di kampus ini. Untung kita cepat tahu, lalu bergerak mencegahnya. Alhamdulillah kita berhasil.”
“Kenapa dicegah? Kenapa dihalangi?”
“Lho, kan…..”
“Mbak, saya ini hampir 8 tahun tinggal di Jepang. Selama itu saya jadi minoritas dalam hal agama. Coba Anda bayangkan bagaimana rasanya kalau niat saya hendak membangun mesjid atau beribadah selama saya berada di Jepang di halangi orang.”
“Mbak mengkhawatirkan kristenisasi?” tanya saya. Ia mengangguk.
“Apa iya kalau berdiri gereja di kampus ini lantas orang berbondong-bondong masuk Kristen?”. Ia lalu terdiam, dan percakapan kami berakhir.
Saya sebetulnya juga tidak setuju kalau di kampus didirikan gereja. Tepatnya, saya tidak setuju bila lahan kampus dijadikan ajang perlombaan mendirikan rumah ibadah. Karena lahan kampus harusnya digunakan untuk membangun ruang kuliah, laboratorium, perpustakaan, pusat kegiatan mahasiswa, dan sejenisnya.
Saya risih melihat beberapa ruangan di gedung-gedung di kampus dijadikan mushalla. Padahal bangunan khusus untuk mushalla dan mesjid juga sudah ada. Kenapa butuh mushalla kecil di dalam gedung? Karena orang malas pergi ke mesjid atau mushalla. Padahal Rasulullah mengajarkan pada kita untuk shalat berjamaah di tempat di mana azan di kumandangkan.
Begitulah. Di kampus saya kalau dihitung mungkin ada puluhan tempat yang difungsikan sebagai tempat shalat. Dalam situasi itu orang-orang Islam masih merasa perlu untuk menghalangi orang Kristen membangun gereja.
Dalam kesempatan lain saya ingatkan kepada orang-orang itu bahwa komposisi demografi di daerah kami sudah berubah. Orang Islam sudah bukan lagi mayoritas di Kalimantan Barat. Data terakhir menunjukkan bahwa jumlah orang Kristen sudah sedikit lebih banyak disbanding orang-orang Islam. Sementara itu orang Islam belum bias meninggalkan mental “tirani mayoritas”nya. Saya bilang, saya khawatir sikap kita itu akan memicu letupan kekerasan kalau kita tak berhati-hati.
***
Di lain waktu, saya menemukan dua orang mahasiswa, yang dari penampilannya saya duga adalah aktivis dakwah di kampus, di depan papan pengumuman kampus.
“Sedang apa?” tanya saya.
“Ini, sedang mengamati kegiatan “lawan”,” kata mereka setengah bercanda.
Rupanya mereka sedang membaca poster pengumuman kegiatan mahasiswa Kristen. Candaan itu saya tanggapi serius.
“Kok lawan?” tanya saya.
“Mungkin bukan lawan, tapi sparring partner”, kata mereka mencoba mengoreksi. “Kegiatan mereka harus dijadikan cambuk agar kita lebih giat lagi dalam berdakwah.”
“Bagi saya berbeda.” kata saya. “Mereka bukan lawan, bukan pula sparring partner. Mereka adalah mitra. Coba perhatikan, mereka adalah orang-orang yang menyeru pada kebaikan, sama seperti kamu. Mereka tidak mengajak orang pakai narkoba, mencuri, atau perbiatan rusak lainnya, kan?”
Keduanya mengangguk.
“Jadi mereka mitra kamu dalam menyeru ke arah kebaikan. Ibaratnya, kamu dan mereka itu naik gerbong kereta api yang sama. Hanya saja, suatu saat nanti kamu dan mereka harus turun di stasion yang berbeda, kemudian melanjutkan perjalanan masing-masing. Stasiun itu adanya di alam setelah kita mati. Jadi selama dalam dunia ini kita berada di gerbong yang sama.”
“Pandangan bahwa mereka itu sparring partner, juga kurang tepat. Dengan pandangan itu agenda dakwahmu akan jadi sangat reaktif. Kelemahannya, kamu tak punya agenda yang disusun berdasarkan kebutuhan umat, tapi disibukkan oleh upaya untuk melakukan counter terhadap aktivitas mereka.”
***
Begitulah. Sikap-sikap yang penuh bibit permusuhan itu demikian kentara hadir di tengah kita, termasuk pada masyarakat kampus yang seharusnya lebih terpelajar. Saya sendiri bingung, sejak kapan suasana ini ada?
Saya jadi ingat bahwa saya sendiri pernah berada dalam situasi itu. Tak jelas, darimana saya memperoleh bibit permusuhan itu. Orang tua saya tak mengajarkannya. Demikian pula, pengajian-pengajian atau khutbah di mesjid yang saya dengar, jarang membahas masalah itu. Lalu di mana?
Well, sulit untuk mengatakan sama sekali tak ada. Sesekali mungkin pernah saya dengar ustaz yang mengajarkan kebencian. Tapi yang menonjol adalah obrolan antar teman. Tanpa sadar obrolan kecil-kecil itu demikian berpengaruh pada sikap kita. Terutama ketika ia tak diimbangi dengan masukan tentang ide pluralisme. Inilah poinnya saya kira. Sejauh ini sangat sedikit orang yang berusaha menebar bibir pluralisme itu.
Lalu, di mana dan kapan saya mulai menyadari pentingnya pluralisme itu? Entahlah. Mungkin setelah saya pindah ke luar negeri. Setelah saya “menjauh” dari diskusi-diskusi searah bertema “umat Islam sedang dizalimi”. Atau setelah saya melihat Ambon dan Poso berdarah-darah dan mayat-mayat bergelimpangan di sana. Atau setelah orang-orang Jepang di bawah naungan YMCA demikian banyak membantu saya dan pelajar asing lain tanpa pernah mempersoalkan agama kami.
***
Yang jelas, dan ini penting, saya punya komitmen untuk menebar bibit pluralisme dengan berbagai cara yang bisa saya lakukan. Namun ini bukan hal mudah. Ini harus dilakukan dengan hati-hati. Bila dilakukan terlalu intensif atau konfrontatif, bias-bisa kita akan dimusuhi dan dijauhi. Bukan hal itu yang saya takuti. Tapi kalau itu terjadi, maka kata-kata kita tak lagi bermuatan persuasi.
Sendai, 7 Maret 2005.
October 9th, 2008 at 17:22
Betul itu Kang Hasan, terkadang kita ummat Islam, baru menyadari “berkah”nya penghargaan terhadap pluralisme dan kebebasan beragama setelah jauh dari negeri sendiri.
Kami-kami ini yang di Beppu alhamdulillah punya masjid sendiri sekarang, bayangkan kalau pemerintah Jepang menghambat pembangunan masjid kami dengan segala urusan dan alasan yg tetek bengek.
Lagipula itu kan tugasnya para agamawan, muballigh, ustadz, kyai dsb untuk membimbing jamaahnya, kalau dibimbingnya benar, kenapa jadi takut kalau jamaahnya kabur ke keyakinan atau agama lain ?
Salam