My Boss

Minggu ini adalah minggu yang sangat melelahkan. Itu sudah saya perhitungkan sejak minggu lalu. Ada beberapa pekerjaan yang harus selesai terlaksana minggu ini. Perusahaan saya sedang menambah bidang usaha. Tadinya kami adalah perusahaan pencetak plastik (plastic molding injection). Produk utama kami adalah alat pengusir nyamuk untuk diekspor ke Jepang dan beberapa negara lain. Atas permintaan pelanggan kami di Jepang, perusahaan produsen dan pemilik brand obat nyamuk terbesar nomor 3 di Jepang yang tak lain adalah perusahaan grup juga, kami diminta sekalian memproduksi isi alat tersebut. Artinya, bidang usaha harus kami tambah dengan bidang usaha produksi bahan kimia. Izin penambahan itulah yang sedang saya urus.

 

Selain pekerjaan di atas, minggu ini (tadi malam) perusahaan grup saya melaksanakan hajatan besar, yaitu perayaan ulang tahun ke 20. Dalam rangka itu berdatanganlah tamu-tamu penting. Yang utama adalah pimpinan perusahaan. Beliau adalah Chairman di perusahaan grup di Jepang, sekaligus President Director di head office, dan salah seorang direktur di perusahaan saya. Selain beliau, hari ini akan datang pula President Director perusahaan rekanan grup kami di Jepang, sebuah perusahaan produsen barang rumah tangga (consumer good) terbesar di Jepang.

 

Singkat cerita, minggu ini adalah minggu yang luar biasa sibuk bagi saya. Eh, semua itu harus ditambah dengan kesibukan lain. Sejak hari Minggu sore, Sarah anak tertua saya mengeluh sakit perut. Senin pagi istri saya membawanya ke dokter. Diagnosa dokter adalah radang usus buntu. Pemeriksaan dilanjutkan sampai hari Selasa untuk memastikan diagnosa. Selasa siang kami dapatkan kepastian, Sarah harus menjalani operasi usus buntu.

 

Saya tadinya menginginkan operasi dilaksanakan hari Jumat ini, saat beban pekerjaan sudah berkurang dan saya bisa cuti. Meski dokter mengiyakan keinginan saya itu, dia juga memberi keterangan tambahan bahwa kalau memungkinkan operasi dilaksanakan secepatnya. Dia khawatir bagian yang radang itu lengket, menempel ke organ lain, yang akan membuat operasi jadi lebih rumit. Akhirnya diputuskan untuk operasi hari itu juga, Selasa malam hari.

 

Kepastian itu baru saya dapatkan melalui pembicaraan telepon dengan pihak rumah sakit dan dokter bedah, saat saya dalam perjalanan pulang kantor Selasa sore. Siangnya tamu penting saya, boss saya, dijadwalkan hadir untuk meninjau pabrik. Tapi kunjungan itu batal karena pesawat yang dia tumpangi mengalami penundaan jadwal (Garuda ooh Garuda). Kunjungan diubah ke Rabu siang. Selasa malam  ada jadwal makan malam, boss bersama seluruh staf Jepang yang ada di sini. Saya, karena bukan orang Jepang, tidak masuk dalam daftar hadirin. Tapi saat saya dalam perjalanan pulang kantor saya ditelepon untuk hadir di acara makan malam. Karena sudah bersiap untuk mengantar anak saya ke rumah sakit, saya tolak undangan/perintah itu.

 

(Jujur saja, saya agak tersinggung dengan pengatur jadwal kunjungan boss selama di sini. Setiap kali boss datang, dia selalu meminta saya untuk ikut makan malam bersama seluruh staf Jepang yang ada di sini. Saya satu-satunya orang Indonesia yang diminta hadir. Tapi pembuat jadwal selalu “lupa” akan hal itu.)

 

Dalam perjalanan ke rumah sakit untuk mengantar anak, saya telepon boss saya ke HP-nya, untuk pamit tidak ikut makan malam. “Daijoubu dayo (tidak apa-apa).” jawab boss saya. “Urus anak kamu dengan baik. Toh, besok kita ketemu. Aaah, tapi besok mungkin kamu harus libur juga ya?”

 

“Besok saya tidak bisa libur, harus ada hal mendesak yang harus saya lakukan.” jawab saya.

 

Souka (begitu ya). Kamu aturlah jadwal kamu sebaik mungkin. Kodomo mo daiji dayo (urusan anak juga sangat penting).”

 

Begitulah, minggu ini saya harus pontang panting untuk 3 hal: mengurusi pekerjaan yang harus dituntaskan, menemui tamu, dan menjaga anak yang sedang sakit. Sejauh ini semua bisa berjalan. Urusan pekerjaan bisa selesai, operasi anak saya juga berlangsung lancar (mudah-mudahan hari ini sudah bisa pulang), dan saya bisa bertemu dengan boss saya, meski hari ini tidak bisa menemui tamu penting yang lain.

 

Rabu siang, dengan pengaturan jadwal yang padat, saya bertemu boss di kantor/pabrik saat dia melakukan kunjungan. “Hisashi buri…….” sapa boss saya saat melihat saya datang ke kantor. Saya baru saja pulang dari Jakarta untuk suatu urusan dan langsung bergabung dengan rombongan boss yang sedang meninjau pabrik. Masuk ke pabrik boss langsung mengomeli hal-hal yang menurutnya tak patut, khususnya menyangkit keselamatan. “Itu baut penahan rak, kurang. Tambah dengan yang lebih kuat.” perintahnya. “AC di ruang injeksi plastik kurang dingin.”

 

Saat mengunjungi bagian assembly dia mengevaluasi produk yang sedang dikerjakan. Ada produk yang perlu sedikit ditekan dengan tenaga saat dirangkai. Menurut dia itu tidak boleh terjadi, karena akan melelahkan operator yang mengerjakan. “Kore wa sekkei misu da! Ini salah design!” katanya.

 

Saya ingat 3 tahun yang lalu ada masalah yang sama pada produk lain. Dia menegur. Tapi saya mendebatnya. Bagi saya keluar sedikit tenaga dalam bekerja itu lumrah. Saya katakan bahwa sebagai anak petani saya sudah biasa bekerja dengan tenaga. Itu yang saya tekankan pada karyawan saya. Tapi boss saya tidak setuju dengan pandangan itu. “Kalau masih memungkinkan, mudahkan pekerjaan karyawan kamu!” katanya. Dan memudahkan pekerjaan itu adalah tanggung jawab designer produk di Jepang.

 

Boss sepertinya ingat betul perdebatan kami 3 tahun yang lalu. Saat mengatakan salah design tadi dia menatap mata saya. “Ini yang harus kerja lebih keras bukan operator ya. Designer. Saya harus peringatkan mereka. Fuzakeru na (jangan main-main).”

 

Pada meeting setelah peninjauan itu boss menekankan lagi hal-hal yang selalu dia tekankan kepada kami. “Kalian, pimpinan perusahaan, harus mencoba duduk di bagian produksi. Kerjakan pekerjaan operator beberapa jam. Kalian akan tahu kesulitan mereka, kelelahan mereka. Dengan itu kalian akan berempati dan mencari jalan untuk memudahkan pekerjaan mereka.”

 

+++

Saya bertemu boss untuk pertama kali akhir tahun 2006. Saat itu saya baru saja menanda tangani kontrak untuk bekerja di perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Masa kerja dimulai awal tahun 2007, untuk posisi manager. Saat itu saya masih di Jepang, menyelesaikan tugas saya sebagai visiting associate professor di Tohoku University, almamater saya. Saya dipanggil boss untuk ketemu di kantornya di Tokyo.

 

“Kamu adalah orang terbaik yang pernah saya rekrut.” katanya memuji. Terus terang bagi saya ini membuat malu, karena saya belum melakukan apa-apa untuk perusahaan. Ada dua hal yang membuat boss saya terkesan pada saya. Pertama, posisi saya saat itu, seorang peneliti di universitas terkemuka di Jepang. “Saya masuk kuliah di situ mungkin belum tentu diterima. Nah kamu, kamu bahkan bisa jadi profesor di situ. Hebat.” pujinya.

 

Yang kedua, saat memutuskan untuk pulang dan bekerja di Indonesia saya punya dua tawaran. Di perusahaan ini dan di perusahaan elektronik Korea yang sudah sangat besar. Tapi saya memilih perusahaan kecil ini. Hal itu mengesankan boss saya. Dia melihat saya sebagai orang yang suka pada tantangan.

 

Lalu dia bercerita tentang pengalaman dia mengurus perusahaan. Ayah boss saya adalah orang kaya. Dia tuan tanah yang kemudian membuka usaha produksi obat nyamuk. Meski anak orang kaya, ia mendapat pendidikan keras. “Ada orang kaya yang mendidik anaknya untuk menjadi orang kaya. Sejak kecil diasuh sebagai orang kaya, bermental pemimpin, untuk meneruskan usaha keluarga. Tapi di keluarga saya, kami dididik untuk kerja keras dalam arti sebenarnya. Bekerja dengan tenaga.”

 

Boss saya tidak langsung jadi orang penting di perusahaan ayahnya. Dia bekerja di perusahaan plastik milik orang lain, sebagai karyawan biasa. “Dulu saya tidak punya baju bagus. Saya hanya punya baju kerja. Karena hanya itu yang saya butuhkan.” Di situ dia banyak belajar tentang industri plastik.

 

Kemudian dia diberi kesempatan memimpin perusahaan obat nyamuk milik ayahnya. Saat itu Jepang sedang dibanjiri produk pestisida rumah tangga buatan perusahaan Amerika. Ia tahu bahwa produk-produk itu menggunakan bahan aktif yang di Amerika sendiri dilarang untuk digunakan. “Kita ini di mata orang Amerika cuma oriental monkeys. Itu betul-betul membuat saya tersinggung. Maka saya bekerja keras untuk “mengusir” produk-produk itu dari Jepang. Dan saya berhasil. Kini produk kami menguasai pasar.”

 

“Apa yang aman untuk orang Jepang, itu pula yang harus dinikmati orang Indonesia! Produk yang kita jual ke Indonesia, sama standar keamanannya dengan produk di Jepang. Saya tidak mau berkelakuan seperti orang Amerika.”

 

Lalu dia menceritakan mimpinya. “Kita ini produsen barang rumah tangga. Kita sudah punya marketing base di 43 negara, pabrik di 5 negara. Saya ingin kita menguasai dunia. Selama ini produk kita dikembangkan di Jepang, untuk keperluan orang Jepang dan negara-negara di daerah non-tropis. Saya ingin kamu mengembangkan produk khas kawasan tropik. Ini pasar yang luar biasa besar.”

 

“Kita bekerja untuk membuat orang bahagia. Itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang bahagia. Karena itu, bahagiakan diri kamu, lalu keluarga kamu. Lalu bekerjalah.”

 

Sejak itu saya bertemu lagi dengan beliau dalam berbagai kesempatan, baik di Indonesia maupun di Jepang. Tidak selalu dalam suasana serius. Kadang sangat santai. Di suatu acara makan malam, saya membanyol soal daerah asal saya, di Kalimantan.

 

“Saya orang Dayak, kanibal.” canda saya.

 

“Ha? Kamu pernah makan daging orang?”

 

“Iya.”

 

“Hahahahahaha. Bagian mana yang paling enak?”

 

“Kuping.”

 

“Nah, kalau begitu nanti kalau staf di sini pulang ke Jepang, harus diperiksa kupingnya, masih utuh atau tidak.”

 

Sejak itu kalau bertemu saya dia selalu menyinggung joke tentang makan kuping ini.

 

Saat saya berkunjung ke Hiroshima, ke head office, dia menyempatkan untuk mengajak saya makan malam. Hanya kami berdua, di restoran langganan dia. “Ini profesor Hasan.” katanya memperkenalkan saya kepada pemilik restoran. Usai makan malam kami pergi ke sebuah bar, main dart. Di situ ia tampil sebagai pemain, tepatnya penggila dart. Bar itu adalah bar murah yang biasa dikunjungi anak-anak muda. Mereka tentu saja tahu siapa boss saya, pimpinan dan pemilik perusahaan besar. Tapi mereka bisa bercanda akrab, sebagai sesama penggemar dart.

 

Tadi malam, usai resepsi ulang tahun perusahaan grup, saya pamit pulang. “Minimal setahun sekali, 2 minggu, kamu harus ke Jepang. Harus itu, wajib.” perintah boss saya. Sudah dua tahun ini saya memang tidak ke Jepang. Dan itu sepertinya sudah jadi bahan omelannya di Jepang. Jadi, tahun depan saya harus ke Jepang. Ikimasu!

 

Minggu yang melelahkan, tapi menyenangkan.

 

http://berbual.com/

wordpress plugins and themes

Leave a Reply