Muslim Domestik, Muslim Internasional

21 September 2010

Waktu kuliah di Jepang dulu saya punya teman akrab, orang Iran. Namanya Nima. Kami sama-sama muslim. Tapi ada perbedaan penting. Nima ini, sejauh yang saya tahu dan diakuinya sendiri, tidak salat dan tidak puasa. Dalam suatu bulan Ramadan, saya berbincang dengan Nima saat dia sedang makan siang. Kemudian datang sensei, profesor pembimbing kami. Sensei tahu bahwa saya sedang puasa, dan selalu puasa saat Ramadan. Dia berkomentar, meledek Nima. “Hasan ini muslim internasional. Di manapun dia pergi, dia muslim. Sedangkan Nima, muslim domestik. Dia hanya muslim saat berada di negaranya.”

Kami berdua tertawa dengan komentar sensei itu.

Saya tak tahu persis bagaimana Nima di negaranya. Tapi gejala yang demikian itu saya lihat ada pada orang-orang Iran. Banyak yang, misalnya, memakai jilbab saat masih di Iran, dan saat baru tiba di Jepang. Tapi tak lama setelah itu mereka tak lagi pakai jilbab. Sepertinya mereka hanya berjilbab karena diwajibkan oleh negara.

Catatan tambahan lain, orang-orang Iran ini, sejauh yang bisa saya amati agak kurang membaur dengan komunitas Islam yang lain. Jarang saya lihat ada orang Iran ikut salat Jumat, atau hadir dalam berbagai acara yang diselenggarakan oleh Islamic Center. Entah karena mereka ini syiah, yang merasa berbeda dengan orang-orang lain yang kebanyakan sunni, atau karena mereka ini kebanyakan memang “muslim domestik”.

Ada tekanan atau tidak, pindah tempat tinggal, khususnya pindah negara, bisa membuat sikap orang dalam beragama berubah. Ada yang jadi makin religius, ada yang makin jauh dari agama. Pada kebanyakan orang Indonesia, mereka malah jadi lebih religius (dengan ukuran-ukuran zahir, atau yang bisa tampak belaka, tentunya). Beberapa yang saya dengar kisahnya, merasakan nikmatnya beragama justru saat menjadi minoritas, saat sarana dan kesempatan untuk beribadah minim.

Saya sendiri juga merasakan hal serupa. Tak jarang saya tak bisa pergi salat Jumat karena kesibukan studi yang tak bisa ditinggalkan. Profesor pembimbing tak secara resmi memberi izin untuk salat Jumat. Bila pekerjaan tak selesai karena kita pergi salat, kita bisa kena damprat. Idul Fitri dan Idul Adha juga tidak libur. Beberapa kali saya harus absen dari salat Ied karena tak beroleh ijin.

Suatu hari, saya pernah minta izin tidak masuk kepada sensei. Kalau tak salah, saat itu saya sudah bekerja sebagai Visiting Researcher, dan punya hak cuti. Dengan adanya hak itu pun sensei masih komentar miring. “Kamu itu, saat hari-hari libur Jepang kamu juga ikut libur. Dan kamu minta tambahan lagi libur untuk hari besar agama kamu.” Saya cuma bisa tersenyum pahit.

Di luar soal-soal yang demikian, beribadah di tengah minimnya sarana dan kesempatan sering kali malah lebih nikmat. Saya pernah salat di tengah taman, stasiun kereta, atau di bawah tangga airport. Di kampus mencuri-curi tempat untuk salat. Kadang harus salat di luar ruangan, saat dingin menggigit. Tak enak seenak seperti saat sedang di tanah air. Tapi itu tadi, ada kenikmatan khusus yang tak dirasakan seperti saat salat di tempat-tempat yang seharusnya.

 

Seperti saya katakan, ada pula orang-orang yang menjadi tidak religius setelah tinggal sekian lama di luar negeri. Orang yang melihatnya mungkin akan segera menyimpulkan bahwa ia terpengaruh pergaulan, lupa daratan, atau hal-hal negatif lainnya. Saya melihatnya berbeda. Perjalanan spiritual setiap orang itu unik. Orang bisa memperoleh insight dengan berbagai cara dan hasilnya juga sangat variatif. Saya lebih suka melihat perubahan itu sebagai pilihan yang dibuat seseorang dengan sadar, dan bagian dari perjalanan spiritual, yang ujungnya tak akan pernah kita ketahui.

http://berbual.com/

wordpress plugins and themes

Islam dan Kekerasan

21 September 2010

Apakah Islam mengajarkan kekerasan? Terhadap pertanyaan ini saya akan menjawab tegas dan lantang: YA!

Dikisahkan tentang seorang lelaki buta. Istrinya suka mencaci maki Muhammad. Laki-laki ini dengan meraba-raba mencari sebilah pisau. Dan ketika ia temukan, pisau itu ia gunakan untuk menikam dan membunuh istrinya, Ketika hal itu sampai ke telinga Muhammad, ia mendiamkannya. Diamnya Muhammad umumnya diartikan sebagai persetujuan.

Di riwayat lain diceritakan tentang dua orang yang berselisih tentang suatu perkara. Mereka minta pada Muhammad untuk mengadili. Setelah Muhammad memberi keputusan, salah satu dari mereka tidak merasa puas. Lalu mereka meminta pendapat Abu Bakar. Abu Bakar memerintahkan mereka untuk patuh pada keputusan Muhammad. Mereka tetap tidak puas, lalu datang ke Umar untuk minta pendapat. Umar kemudian mengambil pedang dan memenggal leher orang yang tak puas atas keputusan Muhammad tadi. Allah membenarkan langkah Umar ini dengan menurunkan ayat 65 surat An-Nisa.

Itu adalah rangkaian cerita kekerasan dalam sejarah Islam. Cerita-cerita yang muncul dalam berbagai format. Kekerasan dalam berbagai bentuk dan sebab. Semua bentuk kekerasan itu sah, bahkan terpuji.

Bila kita mencari ayat Quran dengan kata kunci qitaal, atau qatala, maka akan kita temukan puluhan ayat. Apa makna qital itu? Berperang dan membunuh. Demikian pula, kalau kita cari ayat dengan kata kunci jahada atau turunannya, kita akan menemukan puluhan ayat lagi. Lagi-lagi, jahada dalam puluhan ayat Quran maknanya tidak jauh berbeda dari qatala.

Sejarah Islam adalah sejarah berhias kekerasan. Sejak Muhammad mampu membangun kekuatan di Madinah, Islam berjalan dari perang ke perang. Tentu saja dimulai dengan provokasi kaum Quraisy Mekah. Tapi perang dan kekerasan tidak berhenti pada perang-perang defensif belaka. Kita bisa mencatat sebuan ofensif pada perang Khaibar, atau pada ekspedisi Mu’ta.

Setelah Muhammad wafat, kita melihat kekuasaan kekhalifahan Islam berkembang luas, melalui perang-perang ekpansif. Tentu saya tidak akan mengabaikan fakta sejarah bahwa di banyak tempat seperti di Nusantara, Islam tidak melulu disebarkan melalui perang.

Di luar itu, Islam menggunakan kekerasan sebagai hukuman atas tindak pidana. Orang berzina dicambuk atau dirajam. Pencuri dipotong tangan. Dan seterusnya.

Maka sekali lagi, tanpa sedikitpun ragu, saya mengatakan bahwa Islam mengajarkan kekerasan. Ini perlu saya tegaskan terlebih dahulu, karena banyak orang yang berkata bahwa Islam itu agama damai, anti kekerasan, sesuai dengan namanya. Atau orang yang menggambarkan sosok Muhammad sebagai sosok yang sangat pemaaf, yang bagi saya agak antagonis dengan apa yang diceritakan melalui riwayat orang buta tadi.

Orang seperti Tariq Ramadhan mencoba mengeksplorasi makna jihad menurut pada akar katanya, yang berarti bekerja sungguh-sungguh. Perang, menurut Tariq hanyalah salah satu konteks jihad. Pandangan Tariq ini bagi saya adalah pandangan apologetik, yang sama sekali mengabaikan fakta sejarah.

Bagi saya sangat penting untuk terlebih dahulu mengakui bahwa ajaran kekerasan itu ada dalam ajaran Islam. Bukan sekedar ada, tapi menempati porsi yang cukup besar. Kalau itu sudah diakui, barulah kita boleh beranjak pada diskusi selanjutnya, yaitu bagaimana kita bersikap terhadap ajaran kekerasan itu.

Apakah saya berpendapat bahwa Islam itu adalah agama kekerasan? Yang menyebarkan agama dengan pedang di satu tangan, serta Quran di tangan yang lain? Tidak. Bagi saya kekerasan dalam Islam itu hanyalah alat yang harus dipakai sesuai kebutuhan. Kekerasan itu bukan tujuan.

Sebagaimana diketahui, saat mulai hidup, umat Islam menghadapi teror yang luar biasa. Tidak ada jalan lain untuk bertahan hidup, selain melawan dengan kekerasan pula. Di luar soal itu, Islam sejak awal kehadirannya memosisikan diri sebagai sebuah kekuasaan. Muhammad selain seorang nabi juga adalah seorang kepala negara, juga seorang panglima bala tentara. Dan pada jaman itu sudah lazim bagi sebuah kekuatan yang demikian itu untuk melakukan penaklukan. Dan itu berarti perang.

Sayangnya kita tidak menemukan dalil yang tegas-tegas memisahkan peran Muhammad sebagai nabi dengan peran sebagai kepala negara. Karenanya semua tindakan dia dipandang sebagai ajaran Islam.

Demikian pula, tak ada dalil yang tegas yang menyatakan bahwa perintah melakukan kekerasan, seperti perintah untuk membunuh orang kafir, adalah perintah kontekstual hanya untuk kebutuhan saat itu saja. Orang mungkin akan menyodorkan asbabun nuzul untuk menjelaskan konteks ayat yang dimaksud. Namun asbabun nuzul, menurut para ulama, tidak serta merta membatasi makna teks. Mereka umumnya berpendapat bahwa sekali dinuzulkan, teks akan berdiri sendiri, harus dimaknai sebagaimana yang terlafalkan.

Karena hal-hal tersebut di atas maka kita sering mendengar ayat-ayat Quran dikumandangkan untuk melegitimasi kekerasan. Para pelaku tindak kekerasan sering mengutip ayat-ayat yang menyuruh untuk melakukan tindak kekerasan. Dengan ayat-ayat itu tindakan keji berubah menjadi amal yang suci.

Ketika meletus kasus Monitor tahun 90-an, sekelompok orang merusak kantor tabloid tersebut. Waktu itu terjadi silang pendapat mengenai kejadian itu serta kasus Monitor itu sendiri. Dalam sebuah tulisannya (atau ceramah, saya lupa persisnya) Jalaluddin Rakhmat mengutip riwayat tentang orang buta yang saya kutip di bagian awal tulisan ini. Dia tak serta merta membenarkan kekerasan atas kantor Monitor tadi. Tapi kutipan tadi seakanya mengisyaratkan bahwa yang diterima oleh Monitor itu sesuatu yang jauh lebih ringan dibandingkan dengan apa yang diterima penghina Muhammad yang lain.

Tentu Jalal tak sendiri. Tak sedikit orang atau ulama yang dengan enteng sampai pada kesimpulan bahwa si Fulan halal darahnya, hanya karena menurut orang itu si Fulan sudah memenuhi syarat untuk dihalalkan darahnya berdasar dalil-dalil yang ada. Padahal yang dilakukan si Fulan hanyalah berfikir dengan cara yang berbeda dari orang tadi.

Bagi saya, kekerasan berlabel agama Islam hanya bisa dihindari bila kita berhenti memandang Quran sebagai sumber hukum. Selama Quran masih dianggap sebagai kitab hukum maka kita setiap perintah membunuh dalam Quran wajib dituruti. Karena dalam kaidah ushl fiqh setiap perintah pada dasarnya adalah kewajiban.

Tentu, Islam mengatur tata cara melakukan kekerasan itu. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Namun, sialnya, syarat-syarat itu pun sangat mudah terpengaruh pada presepsi pribadi atau kelompok pemahaman. Tafsirnya bisa sangat berbeda antara kelompok yang satu dengan yang lain.

Pada umumnya ulama berpendapat bahwa Islam membolehkan penggunaan kekerasan saat umat dizalimi. Tapi tidak sedikit orang/kelompok Islam yang berpendapat bahwa dalam tataran internasional posisi umat Islam saat ini sedang terzalimi, sehingga penggunaan kekerasan selalu sah.

Saya pernah berdiskusi dengan seorang kenalan. Dia kebetulan adalah seorang yang terdidik. Seorang doktor lulusan Inggris. Saya mengritik kekerasan melalui bom bunuh diri di Palestina, yang sasarannya adalah sasaran sipil, seperti bis sekolah atau pasar. Menurut saya itu justru bertentangan dengan tata krama perang dalam Islam. Yang saya tahu, Muhammad melarang penyerangan terhadap orang tak bersenjata.

Tapi kenalan saya tadi berpendapat lain. Israel memberlakukan wajib militer. Itu artinya, menurut kenalan saya tadi, setiap orang Israel adalah militer. Karenanya sah untuk diserang.

Saya melihat pesan-pesan kekerasan dalam ajaran Islam lebih kuat ketimbang pesan-pesan yang mengatur cara penggunaannya. Karenanya, penggunaannya sering menyalahi aturan Islam sendiri.

Saya, sekali lagi, lebih suka melihat Quran, demikian pula hadist, sebagai kitab sejarah ketimbang kitab hukum. Quran adalah rekaman sejarah tentang bagaimana sebuah masyarakat beradab ditegakkan. Apa yang terekam di situ boleh menjadi inspirasi saat kita menegakkan peradaban di masa kini. Tapi bukan panduan manual tentang apa yang harus kita lakukan. Penggunaan kekerasan bukanlah kewajiban, bukan pula anjuran. Ia hanya contoh, bahwa di masa lalu kekerasan pernah digunakan. Di masa kini boleh jadi kita harus menghindarinya.

http://berbual.com/

wordpress plugins and themes

Presiden Tak Setujui Gedung Baru DPR

2 September 2010

Presiden Susila Pandir Yardhayana mengumpulkan beberapa orang penting di ruang kerjanya. Di antara yang hadir adalah Ketua DPR, yang memang berasal dari partai pendukung utamanya. Juga ketua partai, serta ketua fraksi dia undang. Lalu ada pula Menteri Hukum.

Lagi-lagi Presiden menghadirkan wajah cemberut. Muram. Wajah gemuknya yang sehari-hari dipenuhi lekuk-lekuk dalam, semakin terlihat penuh lekuk. Para hadirin membaca gelagat buruk. Ada apakah gerangan? Apakah Presiden sedang stress memikirkan hubungan dengan negeri jiran? Atau sedang kecewa karena album-album yang dirilisnya tak kunjung laku di pasaran? Entahlah. Yang jelas di tengah gelagat buruk itu tak ada yang berani buka suara duluah. Para hadirin duduk rapi di meja sidang, menunggu Presiden buka suara.

Setelah pamer tampang perang beberapa saat, Presiden buka suara.

„Saya sudah mendengar soal rencana pembangunan gedung baru DPR beserta kontroversinya. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, maka saya perintahkan agar rencana itu dibatalkan!”

Ruang sidang lantas dipenuhi bisik-bisik tak jelas. Ketua DPR Majuki tampak gusar. Mukanya agak merah, mulai berkeringat. Napasnya terengah-engah. Titah Presiden tadi bagi Juki bak siraman air dingin di tengah tidur lelapnya yang penuh mimpi indah.

Rencana pembangunan gedung baru itu sangat menggairahkan Juki. Ia sudah mendapat gambaran detil tentang rancangannya. Ada kolam renang. Ada apotek. Dan ada spa. Hemmmm………. Ini surga. „Usai berenang dan berjemur di pinggir kolam renang,“ khayal Juki, „aku bisa ke apotek untuk membeli multivitamin, obat kuat, juga beberapa peralatan kecil. Lalu aku akan ke spa……..“ Hmmmmm, spa. Juki tahu bahwa tak mungkin ada spa plus plus di gedung semulia gedung DPR. Tapi dia juga lebih tahu bahwa di DPR semua bisa diatur. Kalau ia bisa mengatur agar tersedia duit 1,6 triliun rupiah untuk membangun gedung, apa susahnya untuk diam-diam menambahkan ++ pada sebuah spa?

Meski sering mendapat sorotan dan kritik, dengan berbagai cara Juki sudah berhasil membuat orang lupa soal biaya yang diperlukan untuk membangun gedung ini. Ia mencontoh cara Presiden, menggunakan konsultan dalam mengelola isu. Ia rela mengalirkan sedikit anggaran untuk keperluan itu.

Titah Presiden yang membuyarkan mimpi indahnya itu kontan membuat Juki gusar. Ia tak berani terang-terangan membantah Presiden. Presiden Pandir menduduki posisi paling penting di partai. Kalau Presiden tak berkenan, Juki bisa terpental dari jabatan Ketua DPR. Itu petaka besar. Tapi dia juga tak bisa berdiam kalau mimpi indahnya dibuyarkan.

„Mohon ijin bicara, Pak. Saya paham bahwa Bapak sangat penuh perhatian pada kepentingan rakyat kecil. Saya yang selalu mendampingi Bapak selama kampanye pemilu kemarin, sadar betul bahwa Bapak senantiasa berpihak kepada rakyat kecil. Program-program yang Bapak tawarkan kepada rakyat adalah program yang pro rakyat kecil belaka.”

Mendengar ucapan Juki itu kerut tekuk-tekuk di wajah Presiden sedikit berkurang. Ia senang mendapat pujian dari anak buahnya. Melihat reaksi itu Juki tambah semangat.

„Memasuki periode kedua jabatan Bapak rakyat terlihat semakin sejahtera. Mereka semakin cinta pada Bapak. Tak salah kiranya kalau Bapak senantiasa bertitah bahwa pembangunan yang Bapak pimpin ini memang benar-benar sudah on the right track. Bapa juga sudah berhasil melaksanakan berbagai debottlenecking, sehingga berbagai hambatan pembangunan sudah di-eliminated. Sebentar lagi, our country will be known as a perfectly developed country in the region………”

Terbuai sejenak oleh puji-puji dari Juki, Presiden kemudian sadar bahwa Juki tak hanya bicara kepanjangan, tapi sudah lancang meniru style bicara dia yang bertabur bahasa asing itu. “Kedawan! Sakjane kamu itu mau ngomong apa to?” sergah Presiden.

“Eh, nganu, Pak.” kata Juki mulai gugup lagi. “Melihat kinerja Bapak itu, kami di DPR termotivasi untuk bekerja lebih keras lagi. Untuk itu diperlukan fasilitas-fasilitas pendukung yang memadai. Dalam rangka itulah kami berniat mempernaharui tempat kerja kami.”

Presiden langsung menjawab. „Itu aku paham. Kalian sudah selayaknya mendapatkan fasilitas itu. Oleh karena itulah maka anggaran itu aku setujui dimasukkan ke dalam APBN.”

Presiden mengambil jeda sejenak. Juki sumringah.

„Tapi ada perkembangan baru yang terus terang meresahkan sata. Ini membuat saya berfikir untuk mengubah rencana itu. Dana yang cukup besar itu akan saya alihkan untuk keperluan lain.“

“Apakah dana itu akan digunakan untuk membeli senjata baru untuk berperang mengganyang Malaysia?“ tanya ketua partai yang sejak tadi diam.

“Bukan. Kita tak akan berperang melawan Malaysia. Perang itu cara orang yang tak bermartabat. Kita akan tetap menempuh jalur diplomasi dengan Malaysia. Saya sedang membentuk Tim Satgas baru untuk mengkaji persoalan dengan Malaysia. Beberapa mantan aktivis mahasiswa yang dulu mendukung saya dalam kampanye sudah saya daftar untuk dimasukkan ke dalam Tim Satgas ini.”

“Lalu, apakah dana itu akan dipakai untuk promosi album terbaru, Bapak?“ tanya Luhut, ketua fraksi.

“Ah, kamu ini selalu ngawur, Luhut. Aku tidak akan menggunakan uang negara untuk keperluan semacam itu. Untuk promosi albumku sudah ada sumber dana sendiri sumbangan dari para pengusaha yang loyal kepadaku.“

„Lalu alokasinya untuk apa?“ tanya Menteri Hukum.

Presiden menatap Menteri agak lama. Lalu bicara lagi.

„Ini tugasmu, Lis. Aku ingin dana itu dipakai untuk membenahi penjara-penjara kita.“

Menteri Hukum tersentak kaget, tapi kemudian segera jadi sumringah. „Proyek, proyek, proyek.“ kata batinnya. Dan tak cuma Menteri Hukum yang kaget. Semua orang kaget. Apalaki Majuki. Dia sangat tak rela dana itu dialihkan untuk membenahi penjara. Dia mulai nekat, memberanikan diri membantah Presiden.

“Mohon maaf, Bapak. Saya kira dalam hal ini Bapak agak sedikit, sangat sedikit sih, melenceng dari program yang sudah Bapak tetapkan. Seingat saya tidak pernah ada rencana memperbaiki penjara. Dan saya yakin Bapak tahu bahwa sudah ada pihak-pihak yang bertanggung jawab soal ini, yaitu para terpidana korupsi.”

“Betul, Juki. Selama ini memang urusan memperbaiki fasilitas penjara kita serahkan kepada para penggunanya, yaitu terpidana korupsi. Tapi ke depan, saya ingin program ini diambil alih oleh negara. Dan dilakukan secara terstruktur dan menyeluruh.”

“Dalam rencana saya, beberapa penjara penting akan kita lengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti kolam renang, ruang fitness, serta spa. Sedangkan penjara-penjara lain akan kita perbaiki agar tak terlihat kesenjangan yang terlalu mencolok. Program itu harus selesai tuntas sebelum tahun 2014.”

Hadirin semakin bingung, tak paham dengan apa yang ada dibenk Presiden.

“Tapi untuk apa semua itu, Pak?” Tanya Juki tak sabar. “Apakah ini tekanan dari Amnesti International?“

„Bukan. Aku melihat perkembangan yang meresahkan belakangan ini.“

„Apa itu, Pak?“ tanya ketua partai.

“Meski saya coba untuk mengarahkan, arus pemberantasan korupsi nampaknya semakin liar. Coba perhatikan. Setelah memenjarakan besanku, KPK sekarang memidanakan beberapa mantan menteri di kabinetku. Aku melihat KPK ini tak bisa diatur. Pada tahap ini mereka memang beraninya sama mantan-mantan belaka. Tapi saya tak merasa tenang. Karena suatu saat, saya pasti akan jadi mantan juga.”

Presiden mengambil jeda lagi. Hadirin terdiam semua.

“Tahun 2014, kita semua akan jadi mantan. Coba kau bayangkan, Juki. Berapa lama kau bisa menikmati gedung DPR yang hendak kau bangun? Paling-paling selesai tahun 2013, di ujung masa jabatanmu. Artinya kau hanya menikmatinya setahun, kurang lebih.“

Juki mengangguk-anggung, sedikit paham, banyak tidak.

„Lalu ke mana kau akan pergi setelah jadi mantan, Juki? Boleh jadi ke penjara. Karena itulah, mumpung masih ada kesempatan, kita benahi tempat tinggal kita di masa depan itu.“

Hadirin terdiam. Paham.

 

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Mono Yori, Omoide

26 August 2010

 

Kata-kata di atas adalah serangkaian kata-kata di penutup iklan mobil Nissan Serena di TV Jepang. Iklannya bisa dilihat di tautan di bawah ini:

http://www.youtube.com/watch?v=QeWeK1KJ8NA

 

Makna rangkaian kata-kata tersebut adalah “kenangan (omoide) lebih penting daripada benda (mono)”. Suasanya itulah yang hendak disampaikan melalui iklan ini. Konsep mobil ini memang mobil untuk keluarga. Melalui tayangan gambar anak-anak yang menikmati permainan dalam perjalanan bersama orang tua mereka. Atau dalam versi lain, anak-anak kelelahan, tidur di pangkuan ibu mereka di dalam mobil.

Saya kebetulan jatuh cinta pada mobil ini. Sayang waktu ganti mobil kemarin budget yang disediakan oleh perusahaan belum cukup untuk mobil ini. Kurang dikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit, hehehehe. Tapi tanpa Serena pun saya bisa menikmati hal yang sama. Sejak dulu saya suka bepergian dengan keluarga, dengan mobil. Hingga kini itu terus berlangsung.

Mobil pertama saya adalah sebuah city car (di Jepang disebut keijidousha atau mobil ringan) Honda Today. Bermesin 650 cc, dengan empat seat, mobil kecil ini cukup untuk keluarga kecil. Waktu itu keluarga kami baru berisi tiga orang, anak kami baru satu, yaitu Sarah. Mobil ini saya beli seharga 50,000 yen, dengan kurs waktu itu cuma setara dengan 4,8 juta rupiah. Murah? Ya, mobil bekas memang murah di Jepang.

Sudah sejak lama sebenarnya kami ingin punya mobil. Meski di Jepang tersedia transportasi umum memadai, untuk kota kecil seperti Kumamoto tempat kami tinggal dulu jangkauannya masih relatif terbatas. Banyak tempat menarik yang ada di luar kota, nyaris tak mungkin dijangkau kalau tak punya mobil. Cuma, meski harga mobil bekas tergolong murah, tabungan saya tak terbilang banyak untuk segera membeli mobil. Setelah saya lulus dan mulai bekerja, akhirnya setelah bersabar sekian lama, terbeli juga mobil itu.

 

Masalah selesai? Belum. Saya tidak punya SIM. Di Indonesia saya tidak pernah menyetir. Mengambil SIM di Jepang itu bukan perkara mudah. Orang harus ikut sekolah menyetir baru bisa lulus ujian yang maha sulit itu. Sedangkan untuk ikut sekolah menyetir diperlukan biaya minimal 250,000 yen, atau lima kali lipat harga mobil yang saya beli! Padahal waktu itu saya baru mulai bekerja, tabungan saya juga belum banyak.

 

Bukan hanya soal uang. Sekolah menyetir itu juga menyita waktu. Diperlukan total minimal 15 jam latihan di tahap pertama, kemudian 15 jam lagi di tahap kedua.  Minimal artinya kalau kita lulus dalam setiap materi latihan. Di tahap pertama maksimal kita hanya boleh mengambil 2 jam latihan sehari, sedangkan di tahap kedua maksimal 3 jam. Artinya setidaknya dibutuhkan 13 hari. Itu masih ditambah dengan sekitar 40 jam pelajaran teori di kelas. Walhasil diperlukan sekitar 2-3 minggu.

 

Bagaimana saya bisa bolos dari kantor selama itu? Nggak tahu, deh. Ini situasi sulit. Mobil sudah dibeli. Sebentar lagi liburan musim panas. Kalau sampai masuk masa liburan belum juga dapat SIM, maka istri dan anak-anak saya akan sangat kecewa. Maka tanpa berfikir lebih panjang lagi saya putuskan untuk masuk ke sekolah menyetir. Bagaimana mengatur waktunya, nantilah difikirkan.

 

Pekerjaan saya sebagai peneliti cukup fleksibel dari sisi waktu. Saya tidak harus secara rutin hadir pada jam tertentu. Yang penting target pekerjaan bisa diselesaikan. Begitulah. Setiap pagi saya berangkat ke sekolah menyetir. Paling pagi, saat kebanyakan anak-anak muda Jepang  peserta kursus menyetir itu masih tidur, memastikan saya dapat giliran latihan. Lalu setelah itu selesai sambil menunggu latihan berikutnya saya ikut kelas teori.

 

Kelas teori ini bukan perkara mudah. Semua materi disajikan dalam bahasa Jepang. Meski kemampuan bahasa Jepang saya sudah tingkat mahir, tetap saja melelahkan mendengar kuliah dalam bahasa orang lain. Yang pelik, saya harus mengingat banyak hal detil untuk keperluan ujian.

 

Usai latihan dan menghadiri kelas-kelas itu biasanya sudah sore hari. Dan saya harus mulai mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk. Tak jarang saya baru bisa pulang ke rumah di atas jam 1 malam. Dan esoknya pergi lagi untuk latihan.

 

Singkat cerita, saya akhirnya lulus dan dapat SIM. Waktu yang saya habiskan cuma 15 hari. Orang-orang Jepang umumnya butuh 30 hari, bahkan ada yang sampai berbulan-bulan. Itu karena mereka harus banyak mengulang materi latihan dan juga mengulang ujian. Saya hanya perlu mengulang materi latihan 4 jam dan langsung lulus di setiap ujian (dua ujian praktek dan dua ujian teori).

 

Hari itu adalah hari bahagia. Saya punya SIM dan besok adalah hari pertama musim panas. Malam itu teman saya mengundang kami sekeluarga untuk makan malam di rumahnya. Kebetulan dia tinggal di lantai 14 di sebuah kondominium, dan malam itu di dekat rumahnya itu diselenggarakan pesta kembang api. Malam itu saya menyetiri anak istri saya untuk pertama kali, dan malam harinya kami menikmati pesta kembang api sambil makan malam. Saikou! The best experience ever!

 

Hari-hari setelah itu adalah hari-hari jalan-jalan. Tiada waktu libur yang tak kami habiskan dengan bepergian. Pagi-pagi berkemas. Main sepanjang hari. Pulang dengan Sarah tergelatak tidur pulas di atas child seat di samping istri saya di kursi belakang. Saya duduk menyetir sendirian di depan.

 

Mobil kami waktu itu memang bukan mobil keren seperti Serena. Tapi kenangan yang kami buat dengan mobil itu tentu tak kalah dengan kenangan dengan mobil apapun. Karena, seperti kata iklan Serena tadi, benda itu tak penting benar. Tapi indahnya kenangan yang kita raih dari benda yang kita miliki, itulah yang berharga.

 

http://berbual.com/

 

wordpress plugins and themes

Korupsi dan Ulama yang Frustrasi

23 August 2010

Hasil kajian fiqh Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama sampai pada kesimpulan bahwa koruptor layak disebut kafir. Meski ini bukan fatwa resmi, ini adalah pernyataan serius. Dalam Islam, seperti umum diketahui, perkara mengkafirkan orang itu bukan perkara sederhana. Tentu kita semua paham mengapa dua organisasi besar itu sampai pada pemikiran yang demikian. Korupsi yang merajalela di negeri ini memang sudah dapat dianggap sebagai kejadian luar biasa.
Tapi kalau boleh saya bertanya, ke mana mereka selama ini? Para ulama itu. Kenapa baru sekarang ini mereka terlihat resah? Tuluskah keresahan itu?
Saya selama puluhan tahun melihat ulama telah menyerahkan diri mereka untuk bersimpuh di bawah sub-ordinasi kekuasaan. Dan kekuasaan yang mereka simpuhi itu adalah kekuasaan yang korup! Pernahkah kita melihat adanya ulama yang secara tegas mengambil jarak dari pemerintah setelah Buya Hamka wafat? Mungkin hanya Abu Bakar Baasyir yang layak masuk kategori ini. Selebihnya tidak ada.
Saya selalu terkenang pada kiyai-kiyai yang dalam istilah Pak Koentowidjojo disebut kiyai pompa air. Kiyai-kiyai yang rela menggiring suara umatnya untuk suatu partai tertentu hanya karena pondok pesantrennya sudah diberi hadiah fasilitas sekelas pompa air. Mereka inilah salah satu pilar penyokong kekuasaan Orde Baru.
Ulama-ulama kita adalah mereka yang tak percaya diri. Yang tak merasa mantap kalau keulamaan mereka tak diakui oleh umara. Yang merasa bangga kalau bisa duduk berjajar dengan pejabat di berbagai seremoni. Juga yang merasa ditokohkan bila ada pejabat yang memerlukan untuk sowan kepadanya.
Tak heran bila mereka kemudian lalai mengawal umat. Umat melihat kekuasaan ini baik-baik saja. Dengan segala kebusukannya kekuasaan ini masih mendapat dukungan ulama. Artinya, kelakuan korup para petinggi negeri telah mendapatkan pembenaran. Jadi, jangan heran kalau umat melibatkan diri dalam peri laku korup itu.
Tak hanya itu. Tak sedikit ulama yang menceburkan diri menjadi bagian dari sistem yang korup itu. Saya pernah menyaksikan sendiri seorang ustaz yang berunding dengan seorang kepala dinas untuk mengatur tender proyek. Proyek akan diberikan kepada seseorang, dengan imbalan, dia harus membuatkan sesuatu untuk mesjid atau pondok pesantren. Prinsipnya: pengaturan tender, penyelewengan dana proyek itu sah, selama ada bagian yang disumbangkan untuk Islam.
Kini, ulama memberi cap kafir pada koruptor. Bagi saya ini adalah sebuah perbuatan cuci tangan. Seolah para ulama itu tidak terlibat dalam sistem yang korup ini. Seolah mereka tidak ikut membesarkan sistem yang korup ini.
Di sisi lain sebutan kafir itu adalah cara ulama untuk mengungkapkan rasa putus asa atas ketidakberdayaan mereka. Boleh jadi ini usaha untuk merebut kembali tempat mereka di tengah umat. Usaha untuk jadi pahlawan, yang sayangnya sudah kesiangan.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

MUI Berfikir dengan Cara yang Pelik

21 July 2010

MUI mengharamkan salah satu jenis vaksin untuk penyakit meningitis, dengan alasan bahwa proses pembuatannya tercemar oleh babi. Hal ini sempat menimbulkan masalah dalam pelaksanaan haji, di mana jamaah haji diwajibkan untuk divaksin. Cerita soal keterlibatan babi ini bukan hal baru, karena sebelumnya juga pernah terjadi yang lebih heboh, menyangkut produk Ajinomoto. Bagi saya, cara berfikir MUI dalam melihat masalah terlalu pelik.

Saya ingat dulu di MUI pernah ada perdebatan cukup panjang mengenai kandungan alkohol dalam obat. Sebuah perdebatan yang sebenarnya tidak perlu. Quran mengharamkan khamar. Itupun penegasannya sebenarnya pada perbuatan minum khamar (rijsun min amalis syaithan), bukan pada zat khamar itu sendiri. Tapi sebagian ulama modern berfikir dengan cara yang pelik tadi. Ketika tahu bahwa khamar itu memabukkan oleh karena kandungan alkoholnya, maka pesan Quran yang mengharamkan khamar tadi direduksi alias dipelikkan menjadi urusan bahwa alkohol itu haram. Maka muncullah perdebatan yang tidak perlu mengenai status alkohol dalam obat, kosmetik, dan lain-lain. Kesimpulan akhir MUI, hindari minum obat dengan kadar alkohol lebih dari 1%.

Saya pernah berdiskusi cukup panjang dengan Pak Azhar Basyir (almarhum), Ketua Umum PP Muhammadiyah. Waktu itu pendapat beliau adalah yang dimaksud khamar itu adalah sesuatu yang secara sosial biasa dipakai untuk bermabuk-mabukan. Poin terpenting di sini adalah menyangkut peri laku sosial, bukan sekedar soal zat khamarnya. Artinya, dalam konteks obat, berapa persenpun kadar alkoholnya tidak jadi masalah, karena tidak ada unsur bermabuk-mabukan di situ. Dalam fikiran saya sendiri, kalau misalnya khamar itu dipakai untuk keperluan lain di luar urusan bermabuk-mabukan, misalnya dijadikan bumbu masak, maka ia tak perlu lagi diharamkan.

Lebih rumit lagi ketika yang diharamkan adalah alkohol. Quran sama sekali tidak menyebut alkohol. Alkohol sendiri terkandung pada berbagai makanan yang tidak dianggap haram seperti buah-buahan maupun makanan olahan. Bila alkoholnya yang diharamkan, maka persoalan menjadi tambah pelik.

Dalam hal babi, yang diharamkan Quran adalah daging babi (lahm hinzir). Tentu kita tidak perlu nakal dengan berandai-andai bahwa yang bukan daging, seperti kaldu, kulit, dan lain-lain itu tidak haram. Tapi juga saya kira berlebihan kalau segala sesuatu yang menyangkut babi lantas diharamkan.

Yang saya pahami dari ayat mengenai haramnya daging babi adalah daging babi haram dikonsumsi sebagai produk makanan. Sedangkan pada kasus Ajinomoto maupun vaksin meningitis, kita sebenarnya bicara pada tingkat kimiawi, atau pada tingkat molekuler. Demikian pula halnya pada soal alkohol. Dengan kata lain, telah terjadi penyelewengan dari pengharaman khamar menjadi pengharaman alkohol, juga pengharaman daging babi dengan pengharaman bahan-bahan kimia yang proses pembuatannya melibatkan babi.

Saya tidak tahu persis soal keterlibatan babi dalam pembuatan virus meningitis. Tapi menyangkut Ajinomoto, yang dipermasalahkan adalah katalis yang dibuat dari babi. Katalis sendiri sebenarnya tidak menjadi produk akhir dari sebuah reaksi kimia, karena ia akan didapatkan kembali di akhir reaksi. Tapi di luar soal itu, reduksi dari daging babi ke tingkat molekuler adalah soal utamanya.

Kita misalnya bisa mengekstrak air dari daging babi. Air murni, H2O. Lalu apakah air yang kita hasilkan dari daging babi ini menjadi haram? Kenapa? Apa bedanya ia dengan air yang kita hasilkan dari air sungai atau air laut? Bedanya hanya karena ia pernah lewat di tubuh babi. Tapi siapa yang menjamin bahwa air yang biasa kita minum itu tidak pernah lewat di tubuh babi? Lha air itu bersumber dari hujan, dan hujan itu hasil penguapan yang terjadi di muka bumi, termasuk dari tubuh dan kotoran babi, juga dari tubuh dan kotoran manusia. Bukankah air yang kita minum juga kemungkinan pernah lewat di tubuh babi?

Lihatlah betapa peliknya kalau ayat Quran yang bicara soal daging dipelikkan menjadi urusan molekul. Singkat kata, yang diharamkan Quran menyangkut babi adalah dagingnya, artinya produk makanan yang nyata-nyata berasal dari daging babi yang diolah. Sedangkan sesuatu yang sudah diolah dengan berbagai proses kimiawi, meskipun melibatkan atau bersumber dari babi tidak lagi dapat dikategorikan sebagai daging babi (lahm hinzir). Dalam hal yang terakhir ini kita sudah berurusan dengan molekul, bukan lagi daging.

Penentuan tingkat ini menurut saya penting. Karena tidak ada dasar untuk menggiring hal sederhana dalam Quran menjadi hal yang pelik hingga ke tingkat molekul. Kalau itu dilakukan, mbok ya jangan berhenti di situ. Bahan-bahan organik seperti alkohol atau daging babi itu penyusunnya tak lebih dari karbon, nitrogen, oksigen, dan hidrogen. Yang membedakan hanyalah bagaimana unsure-unsur tersebut membentuk ikatan. Apakah kita mau haramkan atom-atom itu? Atau kalau mau dipelikkan lagi, semua bahan itu ya ujung-ujungnya terdiri dari elektron, proton, dan netron. Kalau sudah begitu, semua jadi haram deh.

Jadi, kembali lah ke hal yang paling mendasar dalam agama, jangan mempersulit. Ketika seorang sahabat menerima daging yang tak jelas berasal dari hewan yang sudah disembelih atau tidak, Rasulullah hanya berpesan, bacalah basmalah ketika makannya, maka daging itu jadi halal. Tak pelik bukan?

Disclaimer: Penulis bukan ahli agama, juga bukan ahli kimia. Ia hanya seorang yang ahli dalam urusan yang bukan-bukan.

http://berbual.com/

wordpress plugins and themes

Pendidikan Anak Usia Dini, untuk apa?

15 June 2010

Ketika pulang ke Indonesia awal tahun 2007 anak saya yang pertama baru berusia 5 tahun, masih di TK. Sebelumnya dia masuk TK di Jepang. Pulang ke tanah air saya masukkan dia ke TK Islam di dekat rumah kami. Setelah mengetahui bahwa kami dari Jepang, guru TK yang saya temui berkomentar, “Kami bisa terima anak Bapak. Tapi harap maklum kalau nanti dia tidak bisa mengejar ketertinggalan pelajaran.”

“Maksudnya bagaimana?” tanya saya.

“Teman-teman sekelasnya sudah maju dalam pelajaran, seperti hafalan surat-surat pendek dan doa. Kami tidak bisa menjamin bahwa dia akan bisa mengejar ketertinggalannya.”

Saya jawab bahwa bagi saya hafalan itu tidak penting. Saya tidak berharap anak saya belajar di TK. Saya berharap dia bermain dan menikmati masa kecilnya.

Kini giliran anak kedua saya Ghifari masuk TK. Tiap akhir caturwulan guru TK Ghifari selalu menyodorkan rapor, rekaman kemajuan anak saya itu. Dia menunjukkan poin-poin di mana anak saya masih perlu meningkatkan diri. Lagi-lagi soal pelajaran. Dan tiap kali juga saya jelaskan bahwa bagi saya itu tidak penting. Saya malah tidak ingin anak saya diajari berbagai hal, seperti membaca dan berhitung, karena itu belum perlu.

Saya masih ingat bagaimana Mendikbud Fuad Hasan marah ketika tahu banyak TK yang mengajarkan anak-anak membaca dan menulis. Menurut beliau itu berlebihan karena pendidikan anak usia dini tidak untuk itu. Saya setuju dengan pendapat Pak Fuad itu.

Tapi guru-guru TK juga terjepit oleh tuntutan orang tua murid. Orang tua menuntut agar TK mengajarkan baca tulis. Alasannya, ujian masuk SD sudah mengharuskan anak-anak yang hendak masuk SD bisa baca tulis. Tak sedikit orang tua yang menyuruh anaknya ikut les baca tulis di sore hari.

Menghadapi suasana ini saya terkenang pada TK tempat Sarah bermain selama setahun di Jepang. Setiap pagi saya mengantar Sarah. Beberapa kali saya juga hadir dalam berbagai kegiatan yang melibatkan orang tua. Jadi sedikit banyak saya tahu tentang seluk beluk kegiatan di situ.

TK di dekat rumah kami berupa sebuah bangunan sederhana, dengan tiga ruang kelas, satu aula, dan halaman yang luas. Luas halaman nyaris sama dengan luas gedung. Untuk ukuran Jepang di mana harga tanah sangat mahal, ini luar biasa mewah. Di halaman itulah anak-anak bermain.Kegiatan di kelas dimulai jam 8.30. Banyak anak yang sudah datang sebelum jam 8. Mereka bermain bebas di halaman.

Saya biasanya mengantar Sarah sekitar jam 8. Masuk ke gerbang, lalu berganti sepatu yg khusus untuk dipakai di dalam ruangan di pintu masuk (genkan). Menarik bahwa di titik itu guru biasanya menyambut sambil mengucapkan salam. Biasanya saya membawakan tas Sarah. Di titik itu gurunya mengambil tas itu dari tangan saya, lalu memindahkannya ke Sarah. Dia harus membuka sepatu sendiri, meletakkannya di tempat sepatu, dan menggantinya dengan sepatu khusus untuk di ruangan. Lalu dia juga harus pergi sendiri ke tempat menyimpan tas dan jaket, menaruh semuanya di situ. Anak-anak diajar mandiri sejak masuk genkan.

Kelas adalah sebuah ruangan kecil dan sederhana. Ada bangku-bangku kecil, mainan, dan berbagai hasil pekerjaan anak-anak. Yang menonjol adalah adanya piano. Setiap kelas ada satu piano. Dan setiap guru mahir bermain piano. Aba-aba mengajak anak-anak duduk atau berdiri menggunakan irama piano. Hal pertama yang dilakukan dikelas adalah menyangi dengan iringan piano.

Kegiatan di TK berlangsung hingga jam 11.30. Selama itu anak-anak bermain, menyanyi, mendengarkan dongeng, dan sejenis itu. Tak ada saya lihat alat peraga angka-angka atau huruf yang menunjukkan bahwa anak-anak diajari pelajaran. Pelajaran yang terasa menonjol adalah pelajaran bersikap. Pelajaran mandiri.

Anak-anak diajari untuk menata sendiri bangku-bangku mereka. Juga mengembalikan alat/mainan ke tempat semula setelah digunakan. Membuang sampah dengan benar, juga membersihkan kotoran yang terlihat. Semua dilakukan sambil bermain.

Dua bulan yang lalu ada kegiatan hari Kartini di sekolah Ghifari. Anak-anak diberi hadiah berupa makanan kecil dan minuman. Tapi saya tak melihat ada tempat sampah di situ. Anak-anak makan lalu membuang bungkus makanan sembarangan. Sampah bertebaran di mana-mana.

Saya dekati salah satu guru Ghifari. “Bu, kenapa tidak disediakan tempat sampah? Bukankah ini momen yang penting untuk mengajari anak-anak membuang sampah dengan benar?” protes saya.

“Oh, ada kok, Pak. Ini dia.” katanya sambil menunjukkan sebuah kardus yang tertutup. Tidak ada tulisan yang menunjukkan bahwa itu tempat sampah. Juga tidak ada yang mengingatkan anak-anak untuk membuang sampah di situ. Saya ambil kotak itu, saya kumpulkan sampah-sampah yang bertebaran, lalu saya masukkan ke kotak itu. Tak ada orang lain yang peduli dengan apa yang saya lakukan.

htpp://berbual.com

wordpress plugins and themes

Radio

27 April 2010

Ayah sebenarnya suka pada radio. Di kampung kami hampir tak ada sarana hiburan. Alunan lagu-lagu yang disiarkan oleh RRI atau RTM (Radio Televisyen Malaysia) adalah hiburan yang menyenangkan. Tapi bagi Ayah radio lebih dari sekedar lagu-lagu. Ada azan pemberi tahu waktu salat. Juga ada ceramah agama.

Tapi Ayah tak hendak membeli radio. “Ah, apa pula bagusnya. Hanya ada suara orang menyanyi dan mengaji, tapi tak nampak orangnya. Kalau dah nampak orangnya, barulah aku mau beli.” begitu dalih Ayah selalu kalau ada orang menawarkan radio kepadanya. Aku tak sepenuhnya percaya bahwa itu alasan yang sebenarnya. Ayah sepertinya memang menahan diri untuk tidak membelanjakan uangnya untuk kesenangan, karena anak-anaknya mesti disekolahkan.

Ayah harus berpuas dengan limpahan suara radio tetangga. Di kampung kami orang biasa berbagi. Termasuk dalam hal suara radio. Orang yang punya radio membunyikan radionya keras-keras agar tetangga juga bisa ikut mendengar.

Waktu berlalu. Di kota kata orang sudah ada televisi. Ya, inilah radio impian Ayah. Yang menyanyi dan berbicara sudah terlihat. Orang-orang menggoda Ayah untuk membeli. “Nah, sekarang radio impian awah sudah ada, bila nak beli?” begitu tuntutan mereka. Ayah Cuma tersenyum kecut, termakan omongannya sendiri. Ketika itu abangku sudah lulus SPG dan mulai bekerja sebagai guru di kota. Ayah mungkin sudah sedikit lega, lalu memanjakan dirinya dengan sebuah kesenangan kecil. Ayah membeli televisi? Ah, tidak. Ayah hanya membeli sebuah radio.

Radio yang dibeli Ayah adalah radio tiga band. Sudah pakai transistor. Jauh terlihat lebih modern dari radio tua yang ada di rumah nenek. Badannya dari plastik, bukan kayu. Ukurannya juga kecil, bisa dibawa-bawa. Baterinya tiga. Kalau bateri lampu senter Ayah sudah melemah, bateri tersebut dipasang di radio.

Sejak punya radio barang pujaan Ayah yang tak boleh disentuh orang lain bertambah jadi dua. Tadinya hanya lampu senter. Ayah marah besar kalau aku main-main dengan benda itu. Khususnya bila saat dia membutuhkannya di malam hari dia tak menemukannya. Pastilah aku jadi sasaran amuknya. Kini barang pusaka Ayah bertambah satu lagi, yaitu radio.

Ayah tak mengizinkan aku menyentuh radio itu. “Nanti rusak.” katanya. Aku paham. Dan aku pun tak tertarik benar dengan radio. Tak seperti lampu senter yang selalu memancing hasratku untuk menyentuh dan menyalakannya.

Ayah suka mendengar warta berita, juga ceramah agama. Untuk lagu-lagu Ayah lebih suka mendengarkan RTM. RRI banyak menyiarkan lagu-lagu yang tak dikenal Ayah. Sedangkan dari RTM masih sering mengalun lagu-lagu dari penyanyi kegemaran Ayah, P. Ramlee.

Tapi radio bagi Ayah bukan hanya itu. RRI di kota punya acara berita pendengar yang disiarkan petang hari menjelang magrib. Sambil menunggu azan Ayah menyimak berita-berita itu. Berita atas permintaan pendengar, ditujukan untuk pendengar lain. Berbagai ragam berita yang disiarkan. Ada berita gembira seperti kelahiran, ada juga berita duka tentang sakit dan kematian. Pedagang yang berniaga menyampaikan berita tentang harga-harga barang dagangan.

Aku masih ingat betul suaranya. „Berita berikut datang dari Pak Aslam di Pontianak, ditujukan kepada sanak saudara di Kubu. Isi berita, telah berpulang ke rahmatullah ibunda kami…………..“ Kadang-kadang ada sanak saudara di kota yang mengirim berita kepada orang di kampung kami. Kalau Ayah mendengar berita itu, dia akan bergegas menyampaikannya kepada yang dituju.

Sesekali Emak juga mengirim berita kalau dia sedang pergi ke kota. Emak seorang pedagang. Dia membeli pakaian, obat, kosmetik, serta berbagai barang lain di kota, untuk dijajakan berkeliling kampung. Kalau ke kota, Emak berbelanja dalam jumlah besar. Emak pulang naik kapal motor. Tapi kapal motor hanya sampai ke kecamatan. Dari situ harus naik sampan lagi ke kampung kami.

Menjelang pulang Emak mengirim berita, memberitahukan dia akan pulang hari apa. Lalu pada hari tersebut aku dan Ayah berkayuh sampan, pergi menjemput Emak ke kecamatan.

Aku pernah mendapat berita yang ditujukan untuk diriku sendiri. Hanya sekali. Waktu itu Emak dan Ayah pergi ke kota. Emak sakit dan dia perlu berobat. Aku pikir Emak hanya perlu ke dokter untuk diperiksa dan minta obat, lalu segera kembali. Tapi dua hari setelah keberangkatannya aku mendengar berita dari Ayah, melalui radionya. Isinya: Emak harus diopname di rumah sakit.

Kelak setelah aku sekolah di madrasah tsanawiyah di kota, aku bersama dua siswa lain dipilih untuk mewakili sekolah dalam acara cerdas cermat kandungan al-Quran pada acara MTQ. Aku jadi juru bicara. Acaranya disiarkan langsung oleh RRI. Di tingkat kota kami juara. Lalu kami mewakili kota di MTQ tingkat provinsi, kami juara tiga. Acara itu juga disiarkan secara langsung oleh RRI. Ayah memberi tahu dan mengajak orang kampung untuk mendengarkan siaran itu.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Pembuat Keputusan Radikal

27 April 2010

Selama sekolah di Jepang saya berkenalan dengan orang-orang yang menurut saya brilliant di bidang sains. Saya menduga mereka ini akan menjalani karir di dunia riset hingga pensiun. Kebanyakan memang demikian. Tapi ada beberapa yang pindah jalur, dan ini sungguh mencengangkan bagi saya.

Yang pertama akan saya perkenalkan Elisabeth Kurtz. Ia orang Jerman, lulusan Universitas Wurzburg. Saat saya sedang belajar di program master Eli, begitu kami biasa memanggilnya, adalah Post-doctoral Fellow di grup riset kami. Ia melakukan riset di bidang penumbuhan kristal semikonduktor dengan metode molecular beam epitaxy (MBE).

Bidang riset saya sebenarnya berbeda agak jauh dengan Eli. Tapi kami sering berdiskusi, khususnya selama seminar mingguan di lab. Saya mengenal Eli sebagai ilmuwan yang cerdas. Ini ditandai dengan banyaknya publikasi dia di berbagai jurnal ilmiah internasional.

Setelah menyelesaikan program post doctoralnya Eli kembali ke Jerman dan bekerja sebagai asisten profesor di almamaternya. Tapi saya terkejut ketika beberapa tahun kemudian mendapat kabar lagi dari Eli. Dia berhenti bekerja sebagai ilmuwan. Dia berkarir sebagai desainer grafis, sekaligus melanjutkan usaha ayahnya yang baru saja meninggal. Dalam e-mailnya pada saya Eli menulis, „I finally realized that graphic designing is the world where I belong.”

Saya terkesima. Eli bukan ilmuwan kacangan. Di akhir karirnya ia tercatat telah mempublikasikan 43 makalah di berbagai jurnal ilmiah. Dengan beberapa tahun berkarir lagi dia akan jadi profesor. Itu bukan main-main. Hanya ilmuwan yang benar-benar berbakat yang bisa begitu. Tapi sungguhpun begitu Eli mengatakan bahwa Fisika sebenarnya bukan dunia dia. Dunia dia adalah desain grafis.

Eli juga sepertinya tidak main-main dengan desain grafis. Perusahaan yang ia kelola juga bukan perusahaan main-main. Salah satu kliennya adalah Braun, produsen alat cukur elektronik.
Saya kagum pada dua hal dalam keputusan Eli untuk berganti karir. Pertama, keberaniannya membuat keputusan radikal, pindah karir ke dunia yang sama sekali tak berhubungan dengan karir dia sebelumnya. Kedua pada multi-bakat yang dia miliki. Dia bisa menjadi fisikawan yang hebat, tapi kemudian juga bisa jadi seorang desainer. Profil Eli dan perusahaannya bisa dilihat di sini: http://www.elikurtz.de/ http://www.kurtzdesign.de/

Teman saya yang lain adalah Meoung-Whan Cho, orang Korea. Saat saya pertama kali mengenalnya dia adalah mahasiswa program doktor. Sebelum sekolah ke Jepang dia adalah engineer di LG, perusahaan elektronik Korea. Bidang risetnya hampir sama dengan Eli, dan mereka banyak berkolaborasi menerbitkan makalah. Saat itu, akhir dekade 90-an, laser dioda berwarna biru belum berhasil dibuat. Cho waktu itu terlibat dalam „perlombaan“ membuat dioda itu. Ia bekerja sama dengan peneliti dari Sony.

Dan Cho berhasil. Saya masih ingat, suatu pagi Cho berteriak-teriak membuat keributan di lab. “Yatta…………yatta.“ teriaknya. Sebuah teriakan dalam bahasa Jepang yang artinya kurang lebih sama dengan „I did it.“ Saya dan beberapa teman lain mendatangi Cho, dan kemudian kami melihat dioda buatan Cho bersinar biru. Cho berhasil membuat dioda itu, meski dia bukan yang pertama. Dengan temuan itu Cho meraih gelar doktor.

Setelah lulus Cho mengikuti jejak Eli, menjadi Post-doctoral selama dua tahun lalu kembali ke Korea sebagai Senior R n D Engineer di LG. Tadinya saya fakir Cho akan menikmati karirnya. Ternyata saya keliru. Tak lama setelah itu saya bertemu kembali dengan Cho. Dia menjadi associate professor di lab. tempat kami belajar dulu. Sebuah pilihan yang masuk akal sebenarnya, kalau saya tidak diberitahu latar belakang pilihannya itu.

Cho ternyata tak sampai setahun mudik ke Korea. Dia memutuskan untuk berhenti bekerja di Korea, lalu memilih beremigrasi ke Kanada. Ia mendapat green card dan memboyong keluarganya pindah. Alasan dia, pendidikan di Korea tak lagi bagus. Anak-anak dipaksa belajar demi nilai ujian dan nilai rapor yang bagus. Tak ada lagi waktu bagi anak-anak untuk bermain dan menikmati masa kecil dan remaja mereka.
Sayangnya karir Cho di Kanada juga tidak mulus. Akhirnya ia kembali ke tempat dia belajar dulu. Di situ Cho tetap menjadi ilmuwan yang gemilang. Dia menghasilkan beberapa paten.

Kebetulan lagi kemudian saya juga bekerja sebagai visiting associate professor di instutusi yang sama dengan Cho meski berlainan lab. Kami kembali berinteraksi selama setahun. Saat terakhir bertemu Cho di akhir karir saya sebagai ilmuwan tahun 2006, Cho bercerita bahwa dia sedang mempersiapkan pendirian perusahaan di Korea. Perusahaan itu akan memproduksi komponen elektronik yang ditemukan Cho selama karir risetnya.

Teman terakhir yang hendak saya ceritakan adalah Jim Minglana, orang Filipina. Saya dan Jim adalah penerima beasiswa Asian Youth Fellowship Program (http://www.asiaseed.org/ayfj/). Kami bersama-sama belajar bahasa Jepang selama setahun di Kuala Lumpur sebelum melanjutkan kuliah ke Jepang. Kebetulan saat di Jepang kami kuliah di universitas yang sama, yaitu Universitas Tohoku. Jim kuliah di jurusan Kimia, saya di Fisika Terapan.

Lulus program doktor, Jim kembali ke negaranya untuk menjadi dosen di University of Phillipine. Saya sendiri masih tinggal di Jepang selama beberapa tahun dan bekerja sebagai peneliti di sana. Beberapa tahun kemudian saya mendapat kabar bahwa Jim sempat bekerja sebagai post-doctoal fellow di Swiss selama dua tahun, lalu kembali lagi ke Filipina, menjadi dosen.

Tapi kemudian lagi-lagi saya dikejutkan oleh keputusan radikal. Jim berhenti dari karirnya sebagi dosen, dan memilih untuk bekerja di Departemen Luar Negeri. Dalam waktu dekat dia akan jadi diplomat.

Adapun saya, tadinya saya seorang dosen. Sejak S1 sampai S3 saya belajar Fisika. Lalu saya juga bekerja sebagai peneliti selama empat tahun di Jepang. Lalu saya memutuskan untuk berhenti, lalu memulai karir sebagai mandor pabrik.

Kisah Eli dan Cho sedikit banyak membantu saya saat memutuskan untuk pindah karir. Jim menyusul saya berpindah karir. Entah dia terinspirasi oleh saya atau tidak.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Fajar di Dermaga

31 March 2010

Ketika memilih untuk menerima lamaran Karim empat tahun yang lalu Limah tidak berfikir untuk jadi ibu rumah tangga. Hanya ibu rumah tangga, yang sehari-harinya hanya perlu mengurus rumah, masak, serta merawat anak. Limah sudah biasa bekerja mencari nafkah. Waktu keluarga Karim melamar pada neneknya di kampung, Limah berusia 15 tahun, sedang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota. Ia memutuskan untuk kembali ke kampung dan menikah karena ia tahu, jadi pembantu tak akan pernah mengubah nasibnya. Ia ingin punya suami, dan bersamanya ia berjuang mengubah nasib.

Limah tak pernah menyangka Karim akan melamarnya. Orang tua Karim cukup berada dan terpandang. Ayahnya seorang tengkulak kopra. Ia membeli kopra dari petani di kampung, lalu mengangkutnya dengan kapal motor miliknya untuk dijual ke kota. Kini kabarnya ia tak cuma berbisnis kopra. Ia mulai mengembangkan usahanya dengan membuka usaha penggergajian kayu yang cukup besar di kampung lain.

Di samping itu Ayah Karim juga pengurus mesjid kampung yang sering memberi khutbah Jumat maupun hari raya. Karim sejak kecil sering dilibatkan ayahnya pada urusan mesjid. Sejak berumur sepuluh tahun ia sudah jadi muazin. Karim juga cukup tampan. Dengan semua itu tak sulit bagi Karim untuk mendapatkan istri dari keluarga lain yang berada dan terpandang.

Entah mengapa pilihan Karim jatuh pada Limah. Mungkin Karim jatuh cinta pada Limah sejak kecil. Rumah mereka memang berdekatan. Karim hanya setahun lebih tua dari Limah. Sejak kecil mereka sering main bersama.

Limah memutuskan untuk menikah bukan karena lamaran itu datang dari keluarga Karim yang berada dan terpandang. Ia hanya menginginkan seorang suami, seorang lelaki. Seorang pemimpin. Limah tumbuh tanpa lindungan seorang lelaki. Ayah dan emaknya mati oleh wabah kolera saat ia berumur dua tahun. Sejak itu Limah dibesarkan oleh neneknya dalam kemiskinan. Saat Limah berumur dua belas tahun, neneknya meninggal. Hidup Limah tertolong karena ada yang kebetulan membutuhkan pembantu rumah tangga di kota. Di usia itu ia mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Di hari-hari pertama sebagai istri Karim dilalui Limah dengan suka cita. Meski sesungguhnya Limah merasakan banyak kecanggungan. Ia canggung dengan makanan lezat yang sehari-hari dapat ia makan. Ia bahkan canggung duduk semeja dengan keluarga Karim. Biasanya ia makan di sudut dapur di rumah majikannya. Itupun setelah semua orang di rumah itu makan. Bukan makan bersama. Limah juga canggung dengan pakaian bagus yang ia kenakan.

Hari-hari di rumah Karim tak begitu melelahkan. Ia hanya membantu pekerjaan rumah Emak Karim. Itupun bersama saudara jauh Karim yang ikut tinggal di rumah itu. Boleh dikata tak banyak pekerjaan yang mesti dilakukan oleh Limah. Mungkin begitulah seharusnya seorang menantu di keluarga berada.

Tapi tak lama Limah bisa menikmati semua itu. Ia merasa ada yang salah dengan pernikahan ini. Ia tak menemukan seorang lelaki pemimpin pada sosok Karim. Karim bukan pemimpin, bukan pekerja keras. Ia memang bangun sangat pagi. Sebelum subuh Karim sudah bangun, mandi, lalu pergi ke mesjid. Di situ ia salat malam dan mengaji hingga subuh tiba, saat dia kemudian mengumandangkan azan. Pulang dari mesjid Karim makan pagi, lalu pergi tidur lagi. Karim tak bekerja. Jarang sekali dia membantu ayahnya.

Ayah Karim juga jarang bekerja. Ia lebih banyak di rumah atau di mesjid untuk beribadah. Ayah Karim memang sudah cukup uzur. Di samping itu dia punya karyawan yang mengurus usahanya. Tapi Karim tidak uzur. Dalam fikiran Limah, dia harus bekerja.

Beberapa bulan di rumah keluarga Karim barulah Limah paham. Karim memang merasa tak perlu bekerja. Untuk apa bekerja? Karim anak tunggal. Semua milik ayahnya akan diwarisinya kelak. Karim merasa nyaman dengan itu semua. “Kita harus mensyukuri semua ini, Limah. Karena itulah aku banyak-banyak beribadah.”begitu penjelasan Karim suatu ketika. Karim memang tekun beribadah. Lebih tekun dari ayahnya.

Limah tak bisa membantah Karim. Kadang ia merasa keterlaluan. Ia hidup berkecukupan. Suaminya bukan lelaki jahat. Karim seorang ahli ibadah. Mengapa Limah masih merasa tak puas? Limah kadang merasa ketidakpuasannya itu tak patut. Tapi ia juga risau.

Limah ingin seorang suami yang pemimpin, yang membangun hidupnya dengan tangannya sendiri. Bukan benalu yang seumur hidup menumpang makan dari orang lain. Karim harus dipisahkan dari induknya, ia harus berhenti menyusu. Limah mengajak Karim pindah, punya rumah sendiri. Karim sontak menolak.

“Apa perlakuan ayah dan emakku padamu tak patut?” tanya Karim tak paham.

“Bukan itu.” jawab Limah. “Aku ingin rumah tangga kita mandiri.”

Emak Karim lebih keberatan lagi. Ia merasa Limah terlalu banyak menuntut pada anak kesayangannya. “Rupanya kebaikan kami selama ini tak membuatmu senang, Limah. Hidup macam apa lagi yang kau inginkan?” katanya pedas.

Ayah Karim sepertinya lebih paham. Ia memerintahkan Karim mengelola salah satu kebunnya yang belum jadi benar. Di atas tanah kebun itu sudah berdiri rumah sederhana, yang sudah ada saat kebun ini dibeli oleh ayah Karim. Dengan perbaikan di sana sini rumah itu jadi layak dihuni sebuah keluarga baru.

Berumah sendiri ternyata tak membuat Karim berubah. Ia tetap Karim yang lama, yang enggan bekerja. Ia lebih suka berlama-lama di mesjid untuk beribadah. “Harta tak akan kita bawa mati, berapapun banyaknya kita punya.” kata Karim. “Hanya pahala amal ibadah yang membawa kita ke akhirat.”

Limah tak membantah Karim. Percuma. Karim benar dalam setiap kata yang dia ucapkan. Itulah yang diajarkan agama, Limah tahu itu. Tapi dia juga tahu bahwa sikap Karim tak betul. Hanya saja dia tak tahu cara membantah atau membetulkan sikap itu. Sesekali mereka kehabisan belanja karena kebun yang belum jadi ini tak banyak benar hasilnya. Limah berharap kekurangan itu menyadarkan Karim. Sayangnya Karim kembali berdalil. “Barang siapa yang bertakwa pada Allah, Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan rezekinya datang dari sumber yang tak ia duga.” Jalan keluar itu memang ada, lagi-lagi dari ayah Karim. Lebih tepat lagi dari emaknya. Karim merasa itulah ganjaran atas ibadahnya.

Limah mencoba cara lain. Ia bekerja sendiri. Ia bekerja di kebun, menebas rumput, menggali selokan. Bahkan ia menebang pohon. Berharap Karim malu. Tapi itupun tak mengubah Karim.

Karim bahkan bergeming saat ayahnya jatuh miskin. Usaha penggergajian kayu ternyata gagal. Ayah Karim ditipu orang. Hartanya habis untuk membayar hutang yang dibuat oleh penipu itu. Yang tersisa hanya sebidang kebun tempat di mana rumahnya berdiri. Ayah Karim sudah merasa uzur untuk membangun kembali usahanya. Ia hanya ingin hidup seadanya dari hasil kebun, yang tak cukup banyak untuk dibagi pada keluarga Karim. “Semua ini ujian dari Allah. Setelah kesulitan akan datang kemudahan.” Karim berdalil lagi.

Kesulitan mulai terasa saat bantuan dari emak Karim tak lagi mengalir lancar. Tapi Karim tetap Karim yang berdalil, bukan Karim yang bekerja. “Ada sahabat Rasul ahli ibadah. Ia tak bekerja, hanya beribadah. Saat ia pulang ke rumah, penggiling gandumnya bergerak sendiri, mengeluarkan gandum. Tiada henti, sampai sahabat tadi menyentuh penggiling itu.” katanya mengutip sebuah riwayat.

Limah mulai tak peduli pada dalil-dalil Karim. Ia bekerja keras. Ia bekerja lebih keras saat dia sadar bahwa dia sedang hamil. Dia berharap dia celaka karena terlalu keras bekerja, agar Karim sadar. Tapi Karim tetap berdalil. Limah kembali bekerja tak lama setelah ia melewatkan empat puluh hari seusai melahirkan. Bayi merahnya ia letakkan di atas daun kelapa, bernaung pohon saat ia bekerja. Sementara Karim tekun di mesjid.

Kesabaran Limah akhirnya sampai pada batasnya. “Ceraikan aku, Bang.” pintanya saat bayinya berumur lima bulan. Karim menolak. Tapi Limah tak peduli. Ia memilih untuk pergi meninggalkan Karim. Akhirnya Karim pun tak kuasa menahan. Ia menjatuhkan talak.

Hari masih gelap saat Limah turun dari rumah. Di punggungnya tergantung bungkusan kain batik berisi beberapa helai bajunya dan baju anaknya. Dalam gelap ia berjalan menuju dermaga di muara kampung, tempat ia akan naik kapal menuju ke kota. Limah tak ingin banyak orang kampung tahu soal perceraian dan kepergiannya. Matahari baru menyembul di ufuk timur saat kapal dari kecamatan datang, menjemput penumpang yang hendak ke kota.

Sepanjang perjalanan kapal menuju kota Limah seperti memutar kembali cerita hidupnya. Masih terbayang saat-saat bahagia saat dia naik pelaminan bersama Karim. Ia bukan tak sayang pada Karim. Karim yang selalu lembut pada Limah dan anaknya. Beberapa kali ia menyesal telah membuat keputusan untuk meninggalkan Karim. Tapi bayangan Karim yang selalu berdalil membuat Limah kembali tegar.

Limah yakin pada tujuannya. Ia tak ke kota untuk jadi pembantu. Ia akan berdagang sayur. Selama bekerja sebagai pembantu dulu ia sering disuruh belanja ke pasar. Di situ dia kenal dengan beberapa pedagang sayur, dan sedikit banyak dia belajar dari mereka. “Menjual sayur tak sulit, aku pasti bisa.” Limah meyakinkan dirinya.

Dirabanya stagen yang melilit pingangnya. Di situ tersimpan harta berharga satu-satunya milik Limah. Sebuah gelang peninggalan emaknya. Gelang itu hendak dia jual untuk modal berdagang sayur. Limah tak tahu berapa hasil yang akan dia dapat penjualan gelang itu. Yang ia tahu hasilnya tak akan cukup untuk menyewa rumah tempat tinggal. Tapi Limah tak peduli. “Aku akan tidur di pasar seperti pedagang lain.” tekadnya. Sejenak ia merasakan kegetiran saat teringat bahwa anaknya masih bayi dalam gendongannya. Anak itu berhak tidur di tempat yang lebih layak, bukan di tengah gunungan sayur di pasar. “Maafkan Emak ya nak.”

Genap sehari semalam sudah sejak Limah meninggalkan rumahnya, meninggalkan Karim. Kapal yang ia tumpangi sudah merapat di dermaga. Limah teringat saat ia naik ke dermaga ini lima tahun yang lalu. Saat itu dia masih seorang gadis kecil. Kini ia menggendong bayi di pelukannya. Mesin kapal sudah dimatikan, tapi telinga Limah masih berdengung akibat mendengar raung mesin kapal sehari semalam.

Perlahan Limah naik ke dermaga, menuju mesjid terdekat untuk salat subuh. Di situ Limah hendak menunggu sampai hari terang, saat toko-toko sudah buka. Ia akan mencari toko emas untuk menjual gelangnya.

Limah membasuh mukanya di tempat wudu. Sejuk menyapu wajahnya. Ia sedikit menggigil saat mencuci kaki. Ia menoleh ke dermaga tempat ia naik tadi, berlatar fajar yang mulai menyingsing. Limah menatap dermaga berselimut fajar itu. Ada sedikit rasa khawatir dalam hatinya. Hanya sedikit. Selebihnya adalah keyakinan. Keyakinan bahwa hari-hari esok akan cerah, secerah harapan yang dijanjikan fajar
itu.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes