Fundamentalis Mata Kaki

3 September 2009

Namanya Khaleed, orang Pakistan. Perawakannya kurus tinggi. Wajahnya dihiasi hidung mancung, khas orang Asia Selatan. Pipi dan dagunya dihiasi janggut tebal dan panjang. Khaleed adalah teman saya. Kami sama-sama kuliah di program doktor di sebuah universitas di Jepang. Kelak ketika sama-sama sudah lulus, dia dan saya sama-sama menjadi peneliti tamu di universitas tersebut.

Ada ciri yang cukup menonjol dalam cara Khaleed berpakaian. Meski berada di Jepang, Khaleed sering tampil dengan baju tradisional Pakistan. Baju yang mirip dengan baju koko kita, tapi lebih panjang. Yang lebih khas, ujung celana Khaleed menggantung agak tinggi, di atas mata kaki. Belakangan aku paham bahwa soal ujung celana ini adalah persoalan penting bagi dia.

Read the rest of this entry »

Paranoia Kristenisasi

2 September 2009

Suatu ketika di tahun 2005. Saat itu saya bekerja sebagai dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Kebetulan saya menjabat sebagai Ketua Jurusan/Program Studi. Saya sebetulnya baru saja pulang dari tugas belajar di luar negeri. Saya diangkat jadi Ketua Jurusan karena posisi itu lowong, dan kami sedang kekurangan staf pengajar.

Suatu hari saya menerima SMS berbunyi sebagai berikut:
“Tolong kau awasi gerak-gerik Ibu B itu. Hati-hati, sudah ada satu
mahasiswa kita yang dia murtadkan.”
Pengirim SMS itu adalah kawan saya, beberapa tahun lebih tua dari saya. Saya mengenal dia sejak sama-sama kuliah. Kebetulan kami satu fakultas, dan saya juga pernah tinggal sekamar dengan dia di asrama daerah tempat saya tinggal di masa-masa awal kuliah dulu. Saat mengirim SMS itu dia adalah Dekan di fakultas tempat saya bekerja. Artinya dia adalah atasan saya.

Read the rest of this entry »

Berpuasa itu berdisiplin

27 August 2009

Ini percakapan saya dengan seorang teman.

„Mas kerja di perusahaan Jepang, ya?“

„Iya.“

„Stress nggak, Mas?“

„Nggak. Emang kenapa?“

„Kan orang Jepang itu disiplin banget. Kata orang-orang di perusahaan Jepang terlambat masuk kerja satu menit aja nggak boleh.“

„Emang iya.“

„Apa nggak stress dengan situasi kerja seperti itu?“

„Kamu muslim?“ sekarang saya yang gantian bertanya.

„100%, Mas.“

„Kalau kamu puasa, saat sudah masuk waktu subuh, kamu masih boleh sahur?“

„Nggak.”

“Terlambat satu menit pun nggak boleh?“

“Nggak.”

“Stress nggak kamu?”

+++

Terlambat satu menit bagi banyak orang dianggap hal yang masih bisa ditolerir. Padahal dalam urusan keterlambatan perkaranya bukan soal satu atau dua menit. Terlambat adalah terlambat. Satu menit itulah yang membedakan orang yang berdisiplin dengan yang tidak. Itulah soalnya.

Banyak orang yang pernah bersinggungan dengan orang-orang dari negara maju terkesan melihat bagaimana mereka disiplin dalam soal waktu. Tapi mungkin banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa suatu negara tidak mungkin bisa maju kalau penduduknya tidak disiplin.

Kota-kota besar di negara maju biasanya ditopang dengan sistem transportasi massal yang handal. Salah satunya adalah kereta bawah tanah (subway). Pada kota yang sibuk, bahkan super sibuk, di tiap stasiun kereta keluar/masuk hanya berselang 1-2 menit dengan kereta berikutnya. Tanpa disiplin waktu, subway tidak akan berfungsi sebagai angkutan massal. Lebih buruk dari itu, terlambat satu menit pada subway bisa menjadi sebab terjadinya tabrakan.

Sebaliknya, perusahaan penerbangan kita dikenal buruk reputasinya, salah satu sebabnya karena sering terjadinya keterlambatan.

Perusahaan manufaktur Jepang merajai industri dunia. Kunci utamanya adalah improvement (kaizen) dalam proses produksi, sehingga dicapai efisiensi. Dengan begitu ongkos produksi bisa ditekan, yang artinya keuntungan meningkat.

Salah satu caranya adalah dengan menerapkan system Kanban atau Just In Time. Bahan baku masuk, langsung ke production line, berpindah dari satu unit produksi ke unit berikutnya tanpa berhenti. Ini berlangsung terus hingga diperoleh barang jadi di akhir production line, dan barang jadi langsung dikirim ke pembeli.

Sistem ini menghemat waktu, dan tentu saja menghemat biaya. Tapi tidak hanya itu. Dengan sistem ini tidak lagi diperlukan gudang, baik untuk bahan baku, barang setengah jadi, serta barang jadi. Artinya tidak diperlukan lagi investasi untuk membuat gudang. Juga tidak diperlukan penumpukan stok yang mengganggu cash flow perusahaan.

Semua itu, sekali lagi, hanya bisa dicapai dengan disiplin yang tinggi. Jangankan terlambat satu menit, satu detik saja pun sudah bisa membuat system gagal mencapai tujuan.

Itu hanya beberapa contoh kecil saja. Jadi, masihkah Anda menganggap terlambat satu menit sebagai persoalan kecil?

http://berbual.com

Mesjid Yes, Gereja No Way

21 August 2009

Cerita ini terjadi saat saya masih menjadi dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Suatu hari sebuah perbincangan sambil menyelesaikan suatu urusan dengan staf administrasi di kampus menyerempet ke sebuah isu sensitif.

“Hampir saja kita kecolongan, Bang”, kata staf administrasi yang berjilbab itu mengadu, setelah sekian lama tak bertemu saya karena saya lama meninggalkan tanah air untuk tugas belajar.

“Ada apa?”, tanya saya.

“Iya, beberapa waktu lalu orang-orang Kristen berniat mendirikan gereja di kampus ini. Untung kita cepat tahu, lalu bergerak mencegahnya. Alhamdulillah kita berhasil.”

“Kenapa dicegah? Kenapa dihalangi?”

“Lho, kan…..”

“Mbak, saya ini hampir 8 tahun tinggal di Jepang. Selama itu saya jadi minoritas dalam hal agama. Coba Anda bayangkan bagaimana rasanya kalau niat saya hendak membangun mesjid atau beribadah selama saya berada di Jepang dihalangi orang.”

“Mbak mengkhawatirkan kristenisasi?” tanya saya. Ia mengangguk.

“Apa iya kalau berdiri gereja di kampus ini lantas orang berbondong-bondong masuk Kristen?”.

Ia lalu terdiam, dan percakapan kami berakhir.
+++

Pola fikir staf administrasi tadi sebenarnya pernah saya anut. Waktu itu saya masih kuliah di UGM dan aktif di organisasi dakwah kampus. Saat itu di UGM belum ada mesjid, dan kami sedang bersiap untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan mesjid. Mantan Rektor, alm. Koesnadi Hardjasoemantri menjadi ketua panitia.

Saat itu kami mendengar bahwa orang-orang Kristen akan mendirikan gereka di kampus. Lokasinya tak jauh dari lahan yang hendak digunakan untuk membangun mesjid. Kami langsung bereaksi. Rencana pembangunan gereja ini harus dihentikan!

Kami, beberapa aktivis Islam di kampus melakukan berbagai lobi. Yang terutama tentu kepada Rektor. Pergilah kami menghadap Rektor, menanyakan soal rencana itu, dan tentu saja (niatnya) menekan Rektor agar membatalkan atau mencegah rencana itu kalau benar adanya.

Sambil menunggu di ruang tamu kantor Rektor, kami berbincang dengan sekretaris Rektor. Topiknya tentu soal yang sama dengan yang hendak kami adukan ke Rektor. Lucunya, belakangan baru kami tahu bahwa sekretaris Rektor tadi adalah seorang penganut agama Kristen. Ampun, deh!

+++

Pola fikir saya berubah saat saya merasakan pengalaman menjadi minoritas. Yaitu saat saya kuliah di Jepang. Saya pernah tinggal di kota kecil di bagian selatan Jepang. Jumlah orang Islam di kota itu sangat sedikit. Tak lebih dari 50 orang. Hampir semua adalah mahasiswa asing.

Karena jumlah kami kecil, kami tak mampu untuk sekedar menyewa apartemen untuk digunakan sebagai mesjid, sebagaimana dilakukan oleh muslim di berbagai kota. Kami mengandalkan kebaikan hati satu dua profesor yang mau meminjamkan ruangan di kampus untuk dijadikan mushalla.

Suatu ketika kami tak lagi diperbolehkan memakai ruangan itu. Alasan pihak kampus, ruangan itu akan dipakai untuk keperluan akademik. Lagipula Jepang adalah negara sekuler, urusan peribadatan warga tidak boleh melibatkan fasilitas milik pemerintah. Saat itu kami benar-benar kesulitan. Kami harus salat Jumat berpindah-pindah tempat. Untunglah akhirnya ada profesor yang mau membantu mencarikan ruangan untuk dijadikan mushalla.

Di kota lain di mana saya pernah tinggal juga, kami menyewa dua ruangan apartemen untuk dijadikan mushalla. Di situlah kami melaksanakan shalat Jumat serta pengajian. Bagian lain dari apartemen ini adalah tempat tinggal yang disewa oleh orang lain, orang Jepang. Kami harus berhati-hati agar aktivitas kami tidak mengganggu kenyamanan mereka.

Kami mengumpulkan dana untuk pembangunan mesjid. Belasan tahun diperlukan hingga akhirnya dana itu terkumpul. Baru 3 tahun yang lalu kota tempat saya tinggal itu memiliki mesjid. Untungnya pemerintah Jepang yang sekuler itu tidak menghalangi. Selama syarat-syarat mendirikan bangunan dipatuhi tidak ada masalah.

Semua kejadian yang saya alami di Jepang itu mengingatkan saya pada nasib minoritas, khususnya orang Kristen di Indonesia. Mereka sering kesulitan mendirikan gereja. Beribadah di ruko atau di rumah milik sendiri pun sering diganggu. Kami, muslim yang minoritas di Jepang, untungnya tidak mengalami hal itu. Alangkah indahnya kalau minoritas di negeri muslim juga tidak mengalami hal itu.

+++

Kembali ke cerita di kampus tempat saya kerja tadi. Di kampus ini ada mesjid yang cukup besar. Dulu dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Lalu, di setiap fakultas didirikan mushalla yang juga tak kecil. Tapi itu pun ternyata tak cukup. Di banyak bangunan di fakultas masih saja ada ruangan yang difungsikan sebagai mushalla. Bagi mereka yang malas untuk ke mushalla fakultas, bisa shalat di mushalla kecil ini. Yang sedikit rajin berjamaah di mushalla fakultas. Yang lebih rajin, ke mesjid.

Melihat ini semua saya merasa sesak. Keterlaluan benar orang muslim ini.

Jaman Rasulullah masih hidup, di Madinah hanya ada satu mesjid. Apa umat Islam ketika itu tidak mampu membangun lebih dari satu? Rasanya tak mungkin. Orang-orang ketika itu rela menyumbangkan apa saja untuk Islam. Mesjid hanya satu dengan tujuan persatuan. Di situlah semua orang berjamaah, bersilaturrahmi. Di satu tempat.

Kota Madinah ketika itu memang kota kecil. Saya tentu tak berharap kota sebesar Jakarta hanya punya satu mesjid. Itu tak masuk akal. Tapi saya yakin kota Madinah di jaman itu lebih besar dari area kampus saya. Kalau Madinah cukup dengan satu mesjid, kenapa kampus tidak? Kenapa kampus masih perlu ditambah dengan beberapa mushalla, plus puluhan ruangan untuk pengganti mushalla?

Dalam situasi yang sudah berlebih itu, orang Islam masih ribut ketika orang Kristen hendak mendirikan satu gereja. Hanya satu gereja saja.

Adilkah kita ini? Tidakkah kita ini berlebihan? Seingat saya tidak adil dan berlebihan adalah dua sifat yang dibenci Allah.

http://berbual.com

Khatib

5 August 2009

Hari Jumat ini, untuk ke sekian kalinya, aku jadi khatib di sebuah mesjid di kota kelahiranku. Aku bukan ustaz, apalagi ulama. Ilmu agamaku hanya sebatas apa yang aku dapat dari madrasah tsanawiyah dulu. Tapi berbagai kebetulan memaksaku jadi khatib.

Aku pertama kali jadi khatib saat kuliah. Ketika itu aku terlibat dalam organisasi yang menyelenggarakan kegiatan dakwah di kampus. Selain berdakwah di kampus kami juga membina anak-anak SMA. Salah satu kegiatan mereka adalah salat Jumat di sekolah. Nah, pada salat Jumat ini kami sebagai pembina diminta untuk memberi khutbah.
Itu sebenarnya hanya terjadi beberapa kali. Aku baru sering memberi khutbah saat aku sekolah di Jepang. Sejumlah mahasiswa muslim dari berbagai negara mengusahakan pinjaman ruangan dari kampus sebagai tempat salat. Bergiliran kami memberi khutbah. Aku termasuk yang diberi kepercayaan untuk itu.

Lama-lama aku menikmati ini. Menjadi khatib bagiku adalah sebuah kebebasan. Bebas dari kewajiban mendengar khutbah-khutbah yang menjemukan. Kalau tidak sedang bertugas sebagai khatib aku harus duduk di barisan jamaah. Mendengarkan khutbah yang tak memberi manfaat, memicu rasa kantuk.

Khatib-khatib laksana pita rekaman. Mengucap hal yang sama berulang-ulang. Hal-hal yang sering kali tak ada hubungannya dengan hidup kita. Ada khatib berkhutbah tentang satu hal, aku dengar dia waktu aku kecil. Kelak ketika aku sudah besar hal yang sama, nyaris sama persis hingga ke setiap titik komanya, diulang lagi.

Tak cuma itu. Khatib-khatib itu laksana robot. Mereka bicara tanpa cita rasa. Datar. Tanpa tekanan. Tanpa irama. Bunyinya tak beda dengan lenguhan kereta api kuno yang menempuh perjalanan panjang. Monoton, mengulang bunyi yang sama. Yang berdiri di mimbar itu tak tampak seperti manusia, yang dengan kasih sayang mengajak orang kepada kebaikan, atau meyakinkan orang tentang sesuatu yang baik.

Sebagai khatib, tentu aku tak perlu mendengar itu semua. Akulah yang didengar. Tak cuma soal bebas dari posisi sebagai pendengar, tentu. Jadi khatib adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku berbeda dengan para kereta api tua itu. Aku tak membahas hal-hal yang sudah jamak dibahas khatib lain. Aku membahas hal-hal yang terjadi sehari-hari. Lalu aku beri makna, aku beri sentuhan, dengan sudut pandang kitab suci. Aku bahas keseharian manusia.

Dan aku punya retorika. Setidaknya aku sangka aku punya. Ketika berdiri di mimbar, aku adalah orang yang sedang bicara pada pendengarku. Aku tatap mata mereka. Aku sampaikan kata-kata, seakan aku sedang bicara kepada mereka satu per satu. Aku ajak mereka. Aku yakinkan.

Ternyata banyak yang menyukai khutbah-khutbahku. Ada yang mendatangiku usai salat untuk sekedar mengatakan, „Nice speech, brother.“ Ada yang mengajakku berdiskusi lebih lanjut tentang apa yang sudah aku khutbahkan. Walhasil, aku diminta untuk sering berkhutbah, lebih sering dari yang lain.

Pulang ke tanah air ke kotaku, aku tetap seorang khatib. Abangku pengurus organisasi Islam, sekaligus pengurus mesjid di dekat rumahnya. Dia juga sering jadi khatib. Dia tahu aku juga biasa berkhutbah. Maka dia menyodorkan aku untuk khutbah di sana sini, di kota kami. Mulanya mengisi jadwal yang telah ditetapkan untuk dia sendiri. Lalu orang mulai mengenalku, dan memintaku untuk khutbah di mana-mana.

+++

Hari ini, entah untuk yang ke berapa kali, aku memberi khutbah. Sudah biasa. Tak ada kecanggungan, tak ada kegugupan. Aku mulai berkhutbah. Aku tak membaca teks. Menurutku itu menghalangi aku untuk menjaga kontak mata dengan hadirin. Kontak mata sangat penting dalam public speaking, begitu yang aku tahu.

Lalu pandangan mataku tertumbuk pada mata di wajah itu. Sebuah wajah yang biasa. Lelaki berumur sekitar lima puluh tahun. Perawakannya kecil. Tak ada ciri khas di wajahnya. Wajah orang kebanyakan. Sorot matanya juga biasa saja. Bulan sorot yang tajam. Menatapku penuh perhatian.

Tapi entah mengapa, wajah dan tatap mata yang biasa itu menyedot perhatianku. Tak pernah selama khutbah aku memberi perhatian khusus pada seorang pendengar. Tapi yang ini lain. Aku selalu menatap wajahnya, matanya. Entah kenapa. Pandangan matanya selalu mengundang aku untuk melihat, lagi, dan lagi. Meski dengan perasaan aneh, aku selesaikan tugasku memberi khutbah.

Satu dua minggu berikutnya aku kembali berkhutbah di sebuah mesjid lain, yang jaraknya cukup jauh dari mesjid tempat aku khutbah sebelumnya. Saat aku memberi salam kepada jamaah sebelum azan, mataku sudah tertumbuk pada wajah itu lagi. Aku agak sedikit heran. Aku tak menduga akan melihat wajah itu di sini. Tapi sadar dengan kenyataan bahwa kota kami tak begitu besar, aku menerimanya sebagai sebuah kebetulan.

Tapi kali ini wajah itu tak hanya menatapku. Saat pandangan kami bertemu, aku mendengar suara. Aku yakin dia yang berkata. Karena kata-kata itu hanya terdengar saat tatapan mata kami bertemu.

„Ittaqullah…..“

„Apa kau merasa pantas menyuruh orang lain?“

„Ittaqullah haqqa tuqaatihi.“

“Apa takwa kamu sendiri sudah haq?“

Terkejut aku dengan suara itu. Menusuk. Tapi aku coba menguasai diri. Aku sedang melaksanakan tugas penting. Tak boleh ada sesuatu yang mengacaukan tugas itu. Untunglah, aku hanya mendengar dua kalimat itu. Setelah itu tak ada lagi. Aku selesaikan tugasku, meski dengan perasaan tak nyaman.

Usai salat Jumat suara itu sesekali menggiang di telingaku. Tapi aku anggap ini sebagai suara hatiku sendiri. Kadang aku memang membisiki diriku sendiri, agar senantiasa bercermin, apakah yang aku khutbahkan sudah aku laksanakan.

Kali berikutnya aku khutbah, aku lihat wajah itu lagi. Kali ini aku tak lagi menganggapnya kebetulan. Dan kali ini suara-suara itu lebih banyak. Lebih berani.

„Ittaqullah.“ kataku memulai khutbah.

„Sadarkah kamu, di tempat apa kamu berdiri sekarang ini? Sadarkah kamu, siapa yang berdiri di situ pertama kali?“

Aku mulai kehilangan konsentrasi. Untung aku kebetulan membawa naskah khutbah. Sesuatu yang sebenarnya jarang aku lakukan. Kehilangan konsentrasi, aku putuskan untuk membaca saja naskah itu.

„Rasulullah. Itu mimbar rasul. Dia dulu yang pertama berdiri di situ.“

Aku sedang berkhutbah. Tidak. Aku sedang membaca sesuatu. Membacakan sesuatu. Hanya mulutku yang membaca. Fikiranku sama sekali tak sadar dengan apa yang sedang aku baca. Aku justru sedang dikhutbahi oleh sebuah sorot mata.

“Yang berhak berdiri di situ mengkhutbahi orang lain adalah rasul Allah. Dan orang-orang yang serupa dengan dia. Yang benar-benar patuh pada Allah.“

„Kamu fikir ini mimbar pidato? Seminar? Atau panggung? Di mana kamu bisa memamerkan intelektualitasmu. Di mana kamu bisa memamerkan kemampuan oratormu. Di mana kamu fikir kamu bisa mempesona orang-orang.“

„Bukan. Ini adalah mimbar rasul.“

„Apa kamu merasa layak berdiri di mimbar rasul?“

Kalimat-kalimat senada itu terus bergema selama aku berdiri di mimbar. Aku berkeringat. Tanganku gemetar. Cepat-cepat aku akhiri khutbah. Lalu meminta pengurus mesjid untuk jadi imam. Tak sanggup aku mengimami salat.
Usai salat aku mencoba mencari pemilik wajah itu. Tapi sia-sia. Aku duduk di barisan terdepan. Tak mungkin aku bisa segera pergi seusai salat. Banyak orang yang masih berzikir di belakangku. Lagipula, biasanya aku harus sedikit berbincang dengan pengurus mesjid. Saat semua itu usai, lebih dari separuh hadirin sudah pulang. Pemilik wajah itu mestinya sudah pulang juga.

+++

Aku kembali ke Jepang. Ke kota tempat aku belajar dulu. Belum lama aku tinggalkan kota ini. Masih banyak teman yang dulu aku kenal, masih berada di situ. Dan tentu saja, mereka kembali memintaku memberi khutbah.

Aku agak takut sebenarnya. Sejak kejadian itu aku tak pernah berkhutbah lagi. Aku takut. Untungnya, kebetulan tak ada yang memintaku sampai aku berangkat ke Jepang. Tapi di sini, di tempat yang sangat jauh dari kotaku, apa yang aku takutkan? Tak mungkin dia ada di sini. Aku sanggupi permintaan temanku.

Tepat saat memberi salam, jantungku sejenak berhenti berdetak. Dia ada di sini! Di baris ke dua dari depan. Sangat dekat dengaku, karena ruang kecil tempat salat kami cuma bisa diisi empat baris. Dia duduk tak lebih dua meter dari tempat aku berdiri.

Kali ini dia tak menggangguku dengan suara-suara. Dia hanya menatapku seperti kala pertama kali aku melihatnya dulu. Tapi tetap saja dia mengganggu. Bagaimana mungkin dia bisa berada di sini. Sebuah kebetulan yang mustahil!

Sengaja aku tak mengimami salat. Aku berdiri tepat di belakang imam. Dia ada di baris ke dua. Tepat di belakangku. Diapit oleh dua orang yang aku kenal. Satu orang Mesir, satu lagi orang Pakistan. Kali ini aku pasti bisa menangkapnya. Akan aku tanyai dia. Siapa dia sebenarnya.
Usai memberi salam di akhir salat, aku langsung menoleh ke belakang. Tapi dia tak ada di situ. Dua orang tadi, orang Mesir dan Pakistan, duduk berdampingan. Dia tak ada. Aku sungguh heran. Tidak. Aku takut.

Aku masih mencoba meyakinkan bahwa pandanganku tak salah. Aku tanya beberapa orang Indonesia yang kebetulan salat di barisan kedua. Siapa tahu mereka kenal orang ini. Tapi tak ada satupun yang mengiyakan kehadiran orang itu. Aku jelaskan bagaimana wajahnya, postur tubuhnya. Tapi tak seorangpun yang memberi kesaksian bahwa orang itu wujud di ruang salat Jumat tadi.

Itulah terakhir kali aku memberi khutbah.

http://berbual.com

Aisatsu

27 July 2009

Aisatsu (salam/greeting) sangat penting dalam budaya Jepang. Sebelum ke Jepang saya tidak biasa menyapa orang dengan sapaan “selamat pagi“ atau sejenisnya. Sebagai gantinya saya ganti dengan pertanyaan “sedang apa”, “mau ke mana”, dan sejenis itu. Di Jepang aisatsu itu wajib. Tidak hanya di kantor/sekolah, juga di rumah. Saat bertemu pertama kali di pagi hari, juga saat hendak pulang sore hari. Pernah saya ditegur oleh Sensei karena tidak aisatsu saat bertemu dia. Sejak itu saya tak pernah lupa untuk aisatsu.

Ucapan salam dalam berbagai bahasa menarik untuk dicermati maknanya. Berikut makna beberapa aisatsu dalam bahasa Jepang.

Ohayougozaimasu. Ini adalah aisatsu di pagi hari. Saat keluarga baru bangun tidur, biasanya saling mengucapkan ini. Bentuk pendek yang tidak formal adalah sekedar mengucap „ohayo“.

Kata ini berasal dari kata “hayai” yang artinya cepat (early). Penambahan o di depan kata, gozaimasu di belakang, serta perubahan bentuk hayai menjadi hayaou adalah format perubahan kata dalam bahasa penghormatan (sonkeigo). Yang hendak diungkapkan dalam aisatsu ini adalah sebuah pujian: “Anda bangun cepat, ya.” Karena itu, kalau seseorang terlambat bangun, atau terlambat masuk kantor, biasanya sapaannya diplesetkan menjadi “osougozaimasu”, berasal dari kata “osoi” yang artinya lambat.

Konnichiwa dan konbanwa. Keduanya masing-masing berarti selamat siang dan selamat malam. Secara lateral keduanya adalah kalimat yang terpenggal, seakan ada bagian yang hendak diucapkan. Konnichiwa berarti „hari ini………..“, demikian pula konbanwa berarti „malam ini………“. Mungkin sisa kalimatnya berisi harapan/doa agar hari/malam ini jadi hari/malam yang baik.

Ucapan selamat malam yang setara dengan „good night“ adalah oyasuminasai. Artin lateralnya kurang lebih sama dengan good night, yaitu selamat beristirahat.

Aisatsu yang paling umum dikenal adalah arigatou gozaimasu, yang dipadankan dengan “terima kasih”. Bentuk katanya sama dengan ohayo gozaimasu, yaitu bentuk halus dari sebuah kata sifat. Asal katanya adalah arigatai. Kata ini sendiri berasal dari dua kata, yaitu ari (aru) yang artinya ada, dan katai (berubah ucapan menjadi gatai) yang artinya sulit. Arigatai sendiri maknanya „sulit/jarang ada“, karena itu menjadi sangat penting dan bermakna sekali. Mengucapkan arigatogozaimasu berarti kita menganggap sesuatu yang telah dilakukan untuk kita sangat penting dan berarti buat kita, karena itu kita berterima kasih.

Masih dengan pola yang sama adalah ucapan selamat atas keberhasilan seseorang, yaitu omedetou gozaimasu. Asal katanya adalah medetai, yang artinya sesuatu yang menyenangkan dan patut dirayakan.

Saat hendak keluar rumah orang Jepang mengucapkan ittekimasu, artinya saya pergi (sekarang). Orang yang ditinggalkan membalasnya dengan itterashai (selamat jalan). Yang unik adalah saat pulang, yang diucapkan adalah tadaima. Arti lateralnya adalah „sekarang“. Mungkin lengkapnya adalah tadima kaerimashita, saya sekarang sudah pulang. Dalam kartun Doraemon, Nobita selalu mengatakan „saya sudah pulang“, yang merupakan terjemahan dari tadaima. Jawaban atas tadaima adalah okaerinasai, yang artinya „selamat pulang“.

Aisatsu yang agak jarang saya temukan dalam bahasa lain adalah otsukaresamadeshita dan gokurosamadeshita. Asal kata kedua aisatsu ini bermakna hampir sama. Tsukare artinya capek/lelah, kurou juga kurang lebih sama maknanya. Kata sama dalam kata ini bermakna tuan, bentuk halus dari san.

Kedua aisatsu ini dutujukan kepada seseorang yang baru selesai melakukan sesuatu. Otsukaresama deshita bisa digunakan kalau pengucapnya juga ikut bersama melakukan aktivitas tadi. Sedangkan gokurosamadeshita lebih khusus, yaitu ucapan untuk seseorang yang telah melakukan sesuatu bagi si pengucap. Arti lateral secara lengkapnya kurang lebih „Anda telah melakukan sesuatu untuk saya sampai Anda kelelahan“.

Mirip dengan struktur ini, kepada orang yang telah menunggu kita kita ucapkan omachido samadeshita (artinya Anda telah menunggu).

Ganbatte kudasai atau ganbare adalah ucapan untuk menyemangati seseorang yang akan melakukan sesuatu seperti menjalani ujian atau mencoba sebuah tantangan. Asal katanya adalah ganbaru, yang artinya mengerahkan segenap kemampuan. Aisatsu ini berbentuk kalimat perintah. Pesannya adalah „gunakan seluruh kemampuanmu“. Yang diberi ucapan membalasnya dengan ucapan ganbarimasu, artinya dia akan mengerahkan seluruh kemampuan.

Di pabrik saya setiap selesai upacara Senin pagi seluruh karyawan saya ajak menerikakkan kata-kata itu: Ganbarimasu!

http://berbual.com

Intelijen

27 July 2009

Pagi buta di hari Senin. Presiden Susila Pandir Yardayana memanggil seluruh menteri untuk rapat darurat. Para menteri baru saja selesai beristirahat di akhir pekan. Banyak yang masih bermalas-malasan. Tapi telepon dari ajudan presiden memerintahkan mereka untuk hadir di kantor kepresidenan pukul enam pagi. Keadaan genting.

Di depan menteri yang masih berwajah kuyu dan ngantuk, Presiden Pandir memberi arahan.

“Saudara-saudara, ini keadaan genting. Saya baru saja mendapat informasi dari intelijen kita bahwa akan ada tindakan makar untuk merongrong kewibawaan pemerintah. Menciptakan keadaan kacau, menurunkan kepercayaan rakyat lalu menyengsarakan mereka, serta memberi malu kita di depan masyarakat internasional.”

Ruang rapat langsung gaduh. Tak ada lagi menteri yang mengantuk. Semua jadi serius.

“Lebih jelasnya bagaimana, Pak?” tanya Menteri Pertahanan. Dia heran, karena sebagai orang yang bertanggung jawab dalam soal keamanan dia justru tidak mendapat laporan.

“Jadi begini.” jawab Presiden. “Ini soal intelijen. Ada informasi bahwa akan ada yang mencoba untuk mengubah lusa menjadi hari Kamis.”

Ruang rapat tambah gaduh. Presiden agak jengkel, lalu melanjutkan bicara keras-keras.

“Sekali lagi ini intelijen. Ada pihak-pihak yang mencoba membuat kekacauan, dengan mengubah lusa menjadi hari Kamis. Tujuannya jelas, menciptakan kebingungan dan keresahan. Juga kekacauan ekonomi. Ini intelijen. bukan fitnah, bukan pula gosip.”

“Coba bayangkan, bagaimana kacaunya perekonomian kita bila hanya kita saja yang menjalani hari Kamis, sementara di belahan dunia lain orang menjalani hari Rabu. Seluruh transaksi ekonomi kita akan kacau.”

“Ini jelas usaha untuk mempermalukan saya sebagai Presiden, dan tentu saja mempermalukan bangsa Indonesia.”

“Kita baru saja memulai sejarah baru di bawah kepemimpinan saya. Di sana-sini terlihat kemajuan pesat yang hanya bisa disaksikan selama pemerintahan saya. Kesejahteraan membaik, politik dan keamanan stabil. Dunia luar juga mulai menghargai kita. Saya mulai dikenal sebagai tokoh yang berpengaruh di tengah percaturan politik dunia.”

“Bangsa kita…….”

“Maaf, Pak. Saya minta izin bicara.” kata Menteri Pertahanan agak gemetar. Dia merasa Presiden sudah bicara melantur, agak jauh dari pokok pembicaraan.

“Apa?” tanya Presiden berang. Dia tersinggung pembicaraannya dipotong.

“Maksud saya apa mungkin…? Bagaimana caranya?”

“Apa yang tidak mungkin? Orang jahat selalu bisa mewujudkan niatnya kalau kita tidak pintar mencegahnya.”

“Tapi bagaimana caranya? Bagaimana mengubah lusa, hari Rabu menjadi hari Kamis? Itu tidak mungkin, dan belum pernah terjadi di manapun.”

“Justru karena itu, belum pernah terjadi di manapun. Ini akan menjadi kejadian pertama di dunia. Itu akan makin mempermalukan kita. Negara lain mungkin sudah pernah menghadapi usaha makar semacam ini, tapi berhasil menggagalkannya. Kita juga harus bisa.”

“Maksud saya, itu mustahil!”

“Hah??!! Kamu merendahkan kemampuan bangsa kita. Kalau negara lain bisa, artinya kita juga pasti bisa!”

“Bukan begitu maksud saya, Presiden Pandir. Maksud saya mengubah hari Rabu menjadi hari Kamis itu sesuatu yang mustahil.”

“Mustahil bagaimana? Tak ada yang mustahil. Yang jelas saya tidak mau kecolongan. Jangan meremehkan potensi ancaman sekecil apapun. Paham? Dan kamu Menteri Pertahanan, kamu paling bertanggung jawab di sini.”

Menteri Pertahanan diam sejenak. Hendak mengajukan protes, tapi kemudian membatalkannya. Wajahnya terlihat putus asa.

“Segera siagakan seluruh kekuatan militer dan polisi. Kerahkan seluruh intel dan reserse. Cari dan gali semua kemungkinan. Cegah jangan sampai makar ini terjadi. Ingat, kita tidak punya banyak waktu. Jangan sampai kecolongan. Saya akan segera memberitahu rakyat. Kumpulkan semua wartawan, saya akan membuat konferensi pers darurat.”

Lalu rapat dibubarkan. Di teras istana Presiden menemui wartawan untuk menyampaikan berita tentang keadaan darurat.

+++

Pengumuman Presiden ditanggapi rakyat dengan kebingungan. Tak ada yang paham maksudnya. Tak ada yang percaya ada yang bisa mengubah lusa menjadi hari Kamis. Mereka heran dengan ketakutan Presiden. Kritik bermunculan menanggapi berita itu. Presiden dianggap mengada-ada, justru membuat rakyat resah.

Tapi Presiden tak peduli. Selasa pagi dia kembali mengundang wartawan, memberi keterangan pers.

“Peringatan saya dianggap main-main dan menakut-nakuti rakyat. Sekali lagi saya tegaskan, saya hanya mengingatkan, bukan menakut-nakuti.”

+++

Lusa harinya semua berjalan seperti biasa. Menteri pertahanan bangun paling pagi. Sebenarnya dia memang tidak tidur semalaman, menunggu hari berganti. Dia sudah memerintahkan bawahannya untuk waspada, tapi dia sendiri bingung. Ia tidak bisa memberi instruksi yang jelas, karena dia tak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Tapi agar tidak kecolongan dia memerintahkan semua jajarannya untuk waspada.

Begitu jam berdetang dua belas kali di tengah malam, dia segera mengecek di TV apakah hari itu sudah hari Rabu. Sialnya tak ada stasiun TV yang bicara soal nama hari. Jadi dia terpaksa menunggu datangnya koran pagi, sambil gemetar khawatir. Pukul 4 subuh koran datang. Dia lega. Jelas di situ tertulis hari Rabu.

+++

Pagi-pagi Menteri Pertahanan sudah datang menghadap Presiden. Mengabarkan bahwa hari itu tetap hari Rabu. “Saya sudah tahu.” jawab Presiden pendek.

Pukul delapan pagi Presiden kembali melakukan jumpa pers.

“Seperti saudara-saudara ketahui, hari ini tetap hari Rabu. Artinya jajaran aparat keamanan kita berhasil menggagalkan usaha makar. Kita berhasil melakukan antisipasi. Peringatan yang saya berikan dua hari yang lalu agaknya membuat para drakula yang hendak mengkhianati perjuangan bangsa kita menjadi takut. Boleh jadi mereka membatalkan niatnya, karena melihat rakyat begitu bersatu padu, setia kepada pemerintahan saya. Untuk itu saya ucapkan ribuan terima kasih kepada seluruh rakyat.”

Pedagang Gendong

14 July 2009

Emakku pedagang gendong. Sehelai kain batik panjang dia selempangkan di punggungnya, menyangga buntalan barang dagangan. Ujung kain panjang itu ia simpulkan di dadanya. Buntalan di punggungnya itu berisi pakaian. Ada kain batik (jarik), sarung, kemeja, celana, gaun, rok, pakaian anak, hingga pakaian dalam. Di tangan emak menjinjing sebuah keranjang pelastik, berisi obat-obatan, jamu, dan kosmetik. Itu juga barang dagangan.

Emak selalu berkebaya kalau pergi berdagang. Seingatku emak memang selalu berkebaya kalau keluar rumah. Tak pernah dia memakai rok. Kain batik yang dia pakai untuk bawahan kebaya, diikat dengan sebuah setagen berwarna merah hati. Tapi setagen Emak sungguh istimewa. Di tengahnya ada kantong bertutup restleting. Itulah dompet Emak. Dengan itu ia memastikan uangnya tidak akan pernah tercecer.

Emak kadang memakai sandal. Tapi jalan di kampung kami selalu becek kalau turun hujan. Di jalan yang becek sendal tak lagi nyaman dipakai. Permukaannya jadi licin, sehingga telapak kaki kita tak lagi bisa menginjaknya dengan tepat. Kalau telapak kaki terpeleset di atas sendal, tali sendal bisa putus. Karenanya di kampung kami lebih suka berkaki ayam saat jalanan becek. Demikian pula dengan Emak.

+++
Aku tak tahu persis kapan Emak mulai berdagang. Sejak aku mulai bisa mengingat sesuatu aku lihat Emak sudah berdagang. Cerita Emak, mulanya dia mengambil barang dagangan dari sepupunya yang tinggal di kota. Sesekali sepupunya itu pergi ke desa untuk berjualan. Emak membeli barang dagangan yang dia bawa, lalu dia jajakan berkeliling kampung.

Tak puas dengan itu, Emak pergi sendiri ke kota. Oleh sepupunya dia diperkenalkan kepada pedagang di pasar grosir. Emak menitipkan perhiasannya kepada pedagang itu untuk jaminan. Dia mendapat sejumlah barang dagangan untuk dibawa ke kampung. Uang hasil menjual dagangan itu nanti disetorkan, sambil mengambil dagangan baru. Setelah beberapa kali berhasil menyetor dengan baik, Emak tak perlu lagi menitipkan jaminan.

Beberapa kali bolak-balik ke pasar grosir, Emak kemudian menemukan sendiri pedagang lain yang mau memberi dia kulakan. Di masa jayanya seingatku Emak punya mitra sampai belasan pedagang grosir.

+++

Kenangan tentang Emak hampir selalu tentang seorang pedagang gendong. Aku banyak menghabiskan masa kecilku dengan menemani Emak berdagang. Saat SD aku hanya sekolah hingga jam sepuluh pagi. Pulang sekolah biasanya aku ikut Emak berdagang.

Aku adalah sekretaris pribadi Emak. Emak buta huruf. Dia memerlukan aku untuk mencatat siapa saja yang membeli barang. Orang kampung jarang membeli barang secara tunai. Mereka berutang, membayarnya dengan dua atau tiga kali cicilan. Aku mencatat siapa saja dan berapa utangnya, juga mencatat saat orang membayar sebagian atau melunasi utangnya.

Emak sebenarnya tak butuh catatan, karena dia selalu ingat. Dia ingat berapa harga sepotong kain yang dia beli di pasar grosir, juga berapa harga yang dia tetapkan saat kain itu dijual. Dia ingat siapa membeli apa, harganya berapa, kapan cicilan dibayar, berapa sisa hutang, dan kapan lunasnya. Tapi supaya aman, kami mencatatnya. Kalau aku kebetulan tidak ikut mendampingi Emak saat berdagang, catatan itu aku buat malam hari, setelah Emak pulang. Dia akan mendiktekan semua transaksi hari itu, aku mencatat semuanya.

Selain sebagai tukang catat, tugasku adalah menenteng keranjang pelastik. Kami berdua berjalan dari rumah ke rumah. Melewati kebun kelapa kami menyambangi kampung tetangga. Entah berapa rumah kami singgahi sehari, aku tak ingat benar. Tak jarang kami pulang ke rumah saat hari sudah gelap.

Berjalan bersama Emak selalu menyenangkan. Kami menyusuri jalan yang tak selalu nyaman. Di musim kemarau jalan tanah itu keras dan berdebu. Di musim hujan becek dan licin. Melintasi kebun kelapa di antara perkampungan, kami ditemani oleh gerombolan nyamuk. Jumlahnya ratusan, hingga dengung suaranya jelas terdengar.

Tapi berjalan bersama Emak memang selalu menyenangkan. Kami selalu mengobrol saat berjalan. Ada saja yang diceritakan Emak. Biasanya tentang masa kecil dia. Emak juga suka bergalur, menjelaskan silsilah keluarga. Dia menjelaskan siapa si Fulan, apa hubungan kekerabatannya dengan kami.

Di rumah yang kami kunjungi kami datang sebagai kerabat. Di kampung semua orang adalah kerabat. Masuk ke rumah biasanya Emak larut dalam obrolan. Dia tak langsung membuka barang dagangan. Nanti sambil mengobrol, barulah perlahan barang dagangan dibukakan.

Saat Emak larut dalam obrolan adalah saat yang memjemukan. Tak ada yang bisa aku lakukan. Tak jarang aku larut dalam kantuk.

+++

Emak tak hanya menjual barang. Ia memperkenalkan gaya hidup. Kampung kami ada di pulau. Untuk sampai ke kota orang perlu menumpang kapal motor sehari penuh. Pun biayanya tak murah. Banyak orang tak pernah pergi ke kota seumur hidupnya. Emak tak hanya menjual barang, tapi juga memperkenalkan cara hidup orang kota. Melalui Emak orang kampung kami mengenal kosmetik, berbagai model baju, juga jamu dan obat-obatan.

Kami, anak-anak Emak adalah peraga. Emak membelikan kami baju-baju dari kota. Baju bagus biasanya dipakai saat ada pesta nikah atau perayaan. Orang kampung tertarik membeli setelah melihat baju-baju yang kami pakai. Tak jarang orang rela membeli baju yang sudah pernah kami pakai.

+++
Selain menemani Emak berdagang aku juga menemani Emak belanja ke kota. Saat libur sekolah aku boleh ikut ke kota. Ini adalah keistimewaan keluarga kami. Tak banyak orang kampung yang bisa pergi ke kota. Apalagi anak-anak. Kami secara rutin pergi ke kota.

Menemani Emak berbelanja sebenarnya membosankan. Emak menghabiskan waktu berjam-jam di satu toko, membeli berbagai barang. Lalu dia pindah ke toko lain, mengulangi ritual yang sama. Aku biasanya duduk di pojok, dengan segelas es teh pemberian pemilik toko, menahan kantuk.

Tapi kota memang penuh daya tarik. Oplet, becak, sepeda motor adalah tontonan yang tak pernah aku lihat di desa. Juga lampu listrik. Pesona itu membuat aku tak pernah jera ikut Emak belanja.

Tentu ada hal lain. Sore hari, saat selesai belanja adalah waktunya makan enak. Biasanya Emak mengajakku makan di warung. Sate sapi dengan potongan lontong adalah kegemaranku. Juga gado-gado atau nasi Padang, atau semangkok mie bakso. Juga sop kaki sapi. Semua serba lezat belaka. Dan semua ini hanya ada di kota, saat menemani Emak berbelanja.

+++

Kenangan tentang Emak adalah kenangan tentang gelap, saat senja baru saja berlalu. Gelap di jalan kecil, sepanjang selokan di tengah kebun kelapa. Saat kami berjalan pulang ke rumah. Saat kaki pegal setelah berjalan berkilo-kilo. Saat tangan penat menenteng kerangjang pelastik.

Juga tentang toko-toko grosir. Tentang oplet dan becak. Tentang sate.

Tentang Emak yang tak pernah berhenti mencari cara menghidupi anak-anaknya.

http://berbual.com

Masa Depan Pemberantasan Korupsi

9 July 2009

Pemilihan Presiden sudah usai. SBY terpilih kembali. Saya mencatat hal yang diulang-ulang selama kampanye SBY. “Yang sudah baik akan diteruskan, yang masih kurang akan diperbaiki.” Bagaimana soal pemberantasan korupsi?

Majalah TEMPO minggu lalu melaporkan bahwa dari 400 lebih kasus korupsi yang dibawa ke pengadilan umum, 277 di antaranya berakhir dengan vonis bebas. Ini belum termasuk pengentian penyidikan di tengah jalan dengan SP3. Kita tahu banyak kasus megakorupsi seperti kasus Balongan maupun kasus penjualan tanker Pertamina yang dihentikan penyidikannya dengan SP3. Yang kemudian diadili dan divonis bersalah sekalipun, tak semuanya menjalani hukuman. Kasus Djoko Tjandra adalah contoh mutakhirnya.

Ini adalah gambaran bahwa mafia peradilan masih tak tersentuh. Mereka masih begitu nyata berkuasa, menginjak-injak hukum, dan mengencingi keadilan. Lembaga-lembaga penegak hukum, yaitu Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Mahkamah Agung, sama sekali belum tersentuh reformasi. Reformasi di lembaga-lembaga ini sama sekali belum dimulai. Padahal secara struktural Kepolisian dan Kejaksaan berada langsung di bawah Presiden.

Bagi saya ini bukan sebuah kekurangan. Ini adalah sebuah kelalaian. Sebuah kerja besar, yang mendesak untuk segera dilaksanakan, tapi tak kunjung dimulai. SBY mengatakan akan memperbaiki yang masih kurang, tapi dia tak pernah menyinggung soal hal-hal yang tak pernah dimulainya. Saya khawatir, gerakan ini tak akan pernah dilakukan.

Bagaimana dengan KPK? Saya melihat banyak kalangan gerah terhadap KPK. Lembaga-lembaga yang melahirkan KPK seperti DPR, Kepolisian, Kejaksaan, bahkan lembaga Kepresidenan, seperti kaget dengan eksistensi KPK. Ibarat memelihara anak macan, KPK tak lagi lucu dan enak dilihat, tapi mulai berani menggigit tangan tuannya. Sang Tuan pun mulai gerah.

Presiden SBY adalah salah satu yang gerah soal KPK. Mungkin karena besannya dikirim ke penjara oleh KPK. Presiden menganggap KPK sudah menjadi lembaga super, dengan kewenangan super. Ini sepertinya menggelisahkannya. Bukan tak mungkin di masa depan ada kerabat atau kolega dia yang dibui oleh KPK.

Kejaksaan jelas gerah. Urip adalah contoh nyata bahwa KPK adalah momok yang menakutkan bagi para jaksa. Demikian pula dengan kepolisian. Kabareskrim marah ketika tahu bahwa telpon genggamnya disadap oleh KPK. Demikian pula DPR.

Maka dimulailah gerakan sistematis menggembosi KPK. Salah satunya melalaui pembahasan UU Tipikor yang terseok-seok. Ini adalah lahan potensial untuk menggembosi, memreteli KPK.

Sementara itu KPK juga tidak steril. Ada banyak indikasi bahwa KPK sudah mulai dicemari oleh berbagai kepentingan pribadi pengurusnya. Salah satunya adalah kasus Antasari Azhar. Artinya, orang bisa punya banyak dalih untuk menggembosi KPK.

Perlu dicatat bahwa lembaga semacam KPK sudah pernah ada sebelumnya. Tapi tak pernah ada yang berumur panjang. Tak pernah ada yang benar-benar efektif memberantas korupsi. Modusnya sama: Pemberantasan korupsi terhenti ketika ia sudah mulai menggerogoti kepentingan orang-orang yang berkuasa.

Bagaimana 5 tahun ke depan? Embuh.

http://berbual.com

Kabur

2 July 2009

Telepon berdering di suatu pagi buta, di penghujung musim dingin. Udara dingin yang menyapu hidungku hingga ke rongga dalamnya mengingatkan aku satu hal: di luar sana dingin, kontras benar dengan kehangatan futon yang membungkus tubuhku. Peringatan itu langsung mematikan gerak reflek tubuhku yang tadinya hendak beranjak bangun ketika mendengar dering telepon. Aku bertahan, berharap penelepon menyadari bahwa dia menelpon terlalu pagi.

Tapi harapanku sia-sia. Dering telepon hanya berhenti sejenak, lalu mulai lagi. Aku fikir ini pasti telepon penting. Mungkin dari keluarga di tanah air. Dengan malas aku melangkah ke pesawat telepon di ruang tengah.

“Halo….

“Pak Hasan?”

“Ya…” jawabku sambil mengantuk.

„Ini Nadri, Pak.“

„Iya. Ada apa?“ tanyaku datar. “Siapa pula Nadri ini”, fikirku.

“Pak, saya ambil keputusan. Saya mau kabur.”

“Apa???!!” teriakku. Sekarang aku ingat siapa si Nadri ini.

„Iya, Pak. Maaf, saya tidak mengikuti nasihat, Bapak. Doakan saya ya, Pak.”

Lalu telepon diputus tergesa-gesa.

Masih agak mengantuk aku henyakkan punggungku ke sandaran sofa butut di ruang tengah. Dingin masih terasa menggigit di permukaan kulitku. Tapi tak ku hiraukan. Fikiranku tak bisa lepas dari Nadri.

„Nekat benar dia.“ fikirku putus asa.

Aku hanya pernah bertemu Nadri sekali. Bukan pula pertemuan yang disengaja. Waktu itu aku dalam perjalanan pulang dari Sendai, sebuah kota di bagian utara Jepang. Saat itu aku menetap di Kumamoto, sebuah kota di pulau Kyushu, di bagian selatan.

Hari itu, seperti biasa aku tiba di bandara hampir 2 jam sebelum keberangkatan pesawat. Tak ada hal yang perlu dikerjakan di hotel. Jadi aku memilih untuk cepat-cepat saja ke bandara. Tak ada yang menarik di sini. Ini bandara kecil saja. Aku sudah ke sini lebih dari sepuluh kali. Karena itu segera setelah check in aku langsung menuju ke ruang tunggu untuk duduk-duduk.

Di ruang tunggu itu untuk pertama kali aku melihat Nadri. Ia waktu itu bersama 3 orang temannya. Sejak melihatnya dari kejauhan aku sudah langsung bisa mengenali mereka. Empat orang pemuda, berumur sekitar 25 tahun. Berkulit gelap, kontras dengan orang-orang Jepang di sekeliling mereka. „Mereka pasti trainee dari Indonesia“, fikirku. Aku langsung menuju ke kursi tempat mereka duduk.

„Orang Indonesia, ya?“ sapaku. Lalu kami berkenalan.

Berempat mereka dalam perjalanan dari Kesennuma, sebuah kota pelabuhan kapal penangkap ikan, berpuluh kilometer di utara Sendai. Aku pernah sekali berkunjung ke kota yang menghadap ke laut Pasifik ini. Di sana memang ada cukup banyak orang Indonesia yang bekerja sebagai awak kapal penangkap ikan.

Tapi Nadri dan kawan-kawannya bukan pekerja. Mereka trainee. Ada ribuan, bahkan mungkin belasan ribu trainee asal Indonesia di Jepang. Mereka belajar dengan cara magang, belajar sambil bekerja di berbagai tempat.Aku beberapa kali bertemu dengan para trainee ini dalam berbagai kesempatan. Umumnya pertemuan tak sengaja, saat main ke kota, di tempat wisata. Ada pertemuan yang berlanjut. Beberapa trainee di sekitar Kumamoto sesekali berkunjung ke rumahku, khususnya saat lebaran.

Ada beberapa trainee yang aku temui di kantor imigrasi. Mereka ini trainee yang bermasalah. Ada yang terlibat tindak kriminal di tempat kerja, antara lain berkelahi. Ada pula yang melanggar aturan keimigrasian, yaitu kabur dari majikan tempat magang, lalu tinggal melebihi batas waktu yang ditetapkan pada visa mereka. Karenanya mereka diproses untuk dipulangkan ke Indonesia. Aku jadi penerjemah saat mereka dalam proses pemeriksaan di imigrasi.

Dari berbagai pertemuan itu terekam berbagai cerita. Ada cerita indah. Para trainee itu magang di perusahaan. Sambil magang mereka diajari berbagai ketrampilan teknis. Ada yang disuruh ikut kursus bahasa Jepang di akhir pekan. Beberapa trainee yang aku temui merasa puas. Dengan sisa uang saku yang mereka tabung, ditambah ketrampilan yang mereka peroleh, mereka berniat membuka usaha kalau nanti sudah pulang. Bahkan ada trainee yang tadinya memang sudah sarjana di Indonesia, berhasil memperoleh beasiswa untuk kuliah S2.

Tapi tak sedikit pula kisah pilu. Ada trainee yang dipekerjakan bak kuli. Di proyek-proyek konstruksi, mereka hanya jadi tukang angkut, tukang pikul. Tak ada ketrampilan khusus yang bisa dipelajari di situ. Mereka dipekerjakan melebihi batas maksimal jam kerja, tanpa uang lembur. Alasannya, mereka trainee, tidak berhak atas uang lembur. Uang saku yang mereka terima pun, jauh di bawah standar upah minimum di Jepang.

Itulah yang dialami Nadri dan kawan-kawan.

Nadri kebetulan sekampung denganku. Ia berasal dari Sambas, pesisir utara Kalimantan Barat. Kampungku ada di pesisir selatan. Ia lulusan SMK Perikanan. Lulus SMK iya menganggur, hanya kerja serabutan. Ia tertarik melamar saat mendengar ada kesempatan magang di Jepang melalui Disnaker. Ia tahu jepang maju dalam bidang perikanan. Ia berharap dapat ketrampilan dan pengetahuan di sana.

Nadri ditempatkan di sebuah kapal penangkap ikan, kalau tak salah khusus untuk menangkap ikan tuna (maguro). Wilayah operasinya di Indonesia juga. Di sekitar Papua. Sekali melaut menghabiskan waktu 2-3 bulan. Pekerjaannya tak lebih dari tukang angkat dan tukang pikul. Tak ada teknik khusus yang diajarkan. Ia sama sekali tak dapat kesempatan untuk, misalnya, belajar mengoperasikan peralatan.

Soal upah dan jam kerja yang tak seimbang adalah keluhan utama Nadri. Rekan-rekannya yang bekerja di darat mendapat uang saku sekitar 70-80 ribu yen sebulan. Mereka umumnya libur pada hari Minggu. Nadri selama melaut harus bekerja tanpa libur. Uang saku yang dia terima 50 ribu yen. Sebenarnya jumlah ini tak jauh berbeda nilainya dengan teman-temannya yang bekerja di darat tadi. Para trainee yang kerja di darat itu harus membayar sendiri sewa tempat tinggal berikut kebutuhan makan mereka. Sedangkan Nadri, semua kebutuhan itu ditanggung perusahaan. Tapi bagi Nadri, kerja berbulan bulan tanpa libur itu sungguh berat. Ia hanya libur saat kapal merapat, sekitar 1 minggu sebelum kembali melaut.

Aku mendengar keluhan Nadri sambil mencoba membetulkan cara pandangnya.

“Orang Jepang itu kasar, Pak. Suka memaki. Kalau saya salah dalam bekerja, saya dimaki-maki.”

“Budaya mereka memang begitu. Saya saja, yang sudah S2 dan calon doktor juga dimaki-maki oleh Sensei saya.”

“Lebih parah lagi, mereka kadang main tangan. Main tempeleng.“

Nadri tak mengada-ada. Trainee yang aku temui saat dia sedang menjalani proses hukum di kantor imigrasi juga bercerita tentang hal yang sama.

Sering aku lihat di acara TV. Pembuat ramen (la mien dalam bahasa Cina, bakmi) yang sedang belajar pada yang sudah senior sering mendapat perlakuan itu. Dimaki-maki, tak jarang dipukul. Pukulan itu menurutku bukan untuk menyakiti, tapi untuk menggugah kesadaran. Namun bagi orang Indonesia macam Nadri, hal seperti itu dianggap tak patut.

Nadri mengungkapkan niatnya untuk kabur. Artinya lari dari majikannya, lalu bekerja sebagai pekerja ilegal. Berulang kali aku berusaha mencegahnya.

„Kamu akan ditangkap. Itu pasti. Bagaimanapun lihainya kamu lari, kamu pasti akan tertangkap.“

„Tidak apa-apa. Yang penting kerja, kumpulkan uang, segera kirim uang itu ke Indonesia. Saat
tertangkap nanti, kalau kita tidak punya uang, tiket pulang akan dibayari pemerintah Jepang.”

“Tapi ada kemungkinan kamu dipenjara, tidak langsung dikirim pulang.“

„Tidak apa-apa. Penjara Jepang toh tidak buruk.”

Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Kalau penjara pun dianggap baik olehnya, apa yang bisa kukatakan? Kami tinggal di negeri yang sama. Tapi kata-kata Nadri mengingatkanku bahwa dia berada di dunia yang lain. Tak patut bagiku untuk memaksakan cara pandangku padanya. Aku sama sekali tak mengenal dunianya.

Kata-kata Nadri yang terakhir itu kembali terngiang di telingaku. „Ki wo tsukete.“ Cuma itu yang bisa aku gumankan. Hati-hati, dik.

http://berbual.com