Emak Pahlawanku

10 November 2009

Dalam usahanya memperbaiki nasib, Emak membuka lahan baru. Bersama Ayah dan Aki (ayah Emak) dia mengayun kapak, menebang pohon. Merimba. Yang dia hadapi adalah hutan belantara. Pohon-pohon besar ditumbangkan. Pohon-pohon kecil dipotong. Semak belukar dibabat. Hasilnya adalah sebidang tanah kosong, siap ditanami padi. Kelak ladang padi itu ditanami kelapa, kopi, dan pisang. Jadilah ia kebun.

Merimba bukan perkara gampang. Pohon-pohon kayu itu entah sejak kapan tumbuh di situ. Besar batangnya rata-rata sepelukan orang dewasa. Ada yang lebih besar dari itu. Ada pula yang lebih kecil. Emak mengayun sendiri kapaknya. Kapak yang lebih kecil dari kapak Ayah. Ia pun menebang pohon-pohon yang lebih kecil. Atau membabat semak.

Penebang pohon harus pandai menempatkan tetakan mata kapaknya. Salah tetak batang pohon yang tumbang bisa menimpa diri sendiri. Kesalahan lain membuat kita tertumbuk pangkal batang yang baru dipotong. Semua bisa berakibat fatal.

Begitulah. Suatu hari sebatang pohon yang ditebang Ayah tumbang ke arah yang di luar perhitungan. Sehelai tanaman perambat menghalangi tumbangnya pohon, mengubah arahnya. Pohon tumbang itu menuju tempat Aki berdiri, menghantam tepat di kepalanya. Aki tumbang bersimbah darah. Luka parah.

Ini di tengah rimba. Tak ada dokter. Tak ada mantri. Tak ada obat. Hanya ada daun-daun yang ditumbuk dengan dahan pohon, lalu dibebatkan pada luka. Tak ada perban. Sobekan baju usang yang tadi dikenakan saat bekerja digunakan untuk membalut luka. Berdua dengan Ayah, Emak membawa Aki pulang, dan merawatnya. Entah berapa lama baru Aki sembuh. Yang aku ingat di kepala Aki ada cekungan cukup besar, bekas hantaman pohon tadi. Aku kira mukjizatlah yang telah menyelamatkan nyawa Aki saat itu.

Itulah salah satu medan perang yang dihadapi Emak. Benar-benar sebuah pertaruhan nyawa. Pohon tumbang itu bisa menimpa siapa saja yang ada di dekatnya. Emak bukanlah pengecualian.

Kelak, setelah aku agak besar dan mulai ikut membantu Emak di kebun, aku berhadapan dengan hal yang sama. Luka, patah tulang, adalah resiko yang selalu mengintai. Sedikit kelengahan berakibat celaka. Tangan dan kaki kami, orang-orang kampung, dihiasi bekas luka. Luka bekas parang. Luka bakar. Atau patah tulang. Emak tak terkecualikan. Aku pun tidak.

+++

Kemarau adalah musuh kami. Musim kemarau membuat kampung kering kerontang. Tong dan tempayan tempat kami menampung air hujan untuk minum dan memasak, kering. Perigi (kolam) tempat kami mandi, juga kering. Kami harus pergi ke perigi-perigi lain yang belum kering, yang jaraknya lebih jauh dari rumah. Kami mandi di situ, lalu memikul beberapa ember air, dibawa pulang untuk minum dan memasak.

Tapi kemarau bisa lebih buruk dari itu. Rumput-rumput mengering. Ini adalah makanan empuk bagi api liar. Tiupan angin menggoyang dahan-dahan pohon kering dalam semak di tengah kebun. Gesekan menimbulkan panas, memercikkan api. Lalu kebun terbakar.

Kebakaran kebun adalah petaka. Sekali api melahap, kerja kami selama bertahun-tahun akan punah dibuatnya. Kebakaran tak selalu datang dari kebun sendiri. Api bisa menjalar dari mana saja, semau dia.
Suatu musim kemarau, ada kebakaran kebun. Tak jauh dari kebun kami. Waktu itu hanya kami bertiga di rumah. Emak, Ayah, dan aku. Tengah hari. Kami sebenarnya baru saja pulang dari kebun. Makan siang, dan bersiap untuk tidur siang. Tapi kabar dari tetangga memberi tahu bahwa api sudah mengamuk.

Berbekal parang panjang dan ember kami menuju ke kebun. Kebun ini baru. Tanahnya dibeli Emak beberapa tahun yang lalu. Di situ kami tanam singkong, kelapa dan kopi. Emak sungguh senang, karena tanah di kebun ini subur. Pohon kelapa kami gemuk-gemuk. Demikian pula kopi. Ubi kayu menghasilkan umbi yang berlebih, membusuk dimakan tikus, karena manusia tak mampu menghabiskannya.

Kebun ini tak boleh terbakar! Ini adalah hasil kerja kami bertahun-tahun. Bertiga kami menebas rumput di dekat batas kebun milik tetangga. Sebuah kebun yang tak terawat, semaknya lebat dan kering. Umpan lezat bagi lidah api. Pemiliknya tak peduli, karena kebun ini nyaris tanah kosong.

Bertiga kami membuat jalur penahan api. Lupa kami pada kelelahan yang masih menyandera tubuh. Rumput kami tebas, membuat lorong selebar sedepa, sepanjang perbatasan kebun. Jalur ini kami harapkan menghentikan rambatan api yang hendak masuk ke kebun kami.

Api sudah mendekat. Asapnya membumbung. Bunyi rumput kering terbakar berkeretek, terdengar mengerikan. Hawa panas terbawa angin menyapu tubuh kami. Ayah mengayunkan parang lebih cepat. Emak juga. Aku juga. Bertiga kami menggila.

Saat api sudah masuk ke kebun sebelah, kami hampir selesai. Tapi belum aman. Kami harus memastikan api benar-benar mati. Dengan pelepah kelapa kering Emak dan Ayah memukul lidah api yang terdekat dengan tepi jalur penahan yang kami buat. Aku berlari ke selokan menjinjing dua ember, mengangkut sisa-sisa air, atau bahkan lumpurnya sekalipun. Dengan sisa air dan lumpur itu, aku membantu memadamkan api.

Saat pekerjaan itu usai, kebun kami selamat. Tapi Emak nyaris pingsan kelelahan dan kehabisan nafas. Ayah pun terkapar tak berdaya.

+++

Emak adalah pedagang gendong. Ia memanggul buntalan besar di punggungnya, berisi pakaian untuk dijual. Di tangannya ia jinjing keranjang berisi kosmetik dan obat-obatan. Ia berkeliling kampung, berjualan. Juga ke kampung tetangga.

Jalan yang harus ia lalui ke kampung tetangga adalah jalan setapak di tengah kebun. Jalan ini selalu sepi, karena hanya segelintir manusia yang lewat di situ. Malam hari sepi itu berpadu dengan gelap. Di musim hujan, jalan itu becek dan licin. Salah melangkah, kita bisa terpelet jatuh.

Itulah jalan yang harus dilalui Emak.

Sesekali Emak mengeluh padaku, bahwa sebenarnya ia takut melalui jalan itu. Khususnya pada malam hari. Emak membawa sejumlah uang hasil berdagang. Ia bisa saja dirampok di tengah jalan. Atau beruang liar bisa saja menerkamnya. Atau sekawanan celeng penghuni kebun. Terpeleset jatuh di jalan yang licin saja pun bisa celaka. Karena tak ada yang bisa segera datang memberikan pertolongan.

Di tengah kebun itu Emak adalah sosok tak berdaya. Bermacam bahaya siap menghadangnya. Bahkan merenggut nyawanya.

+++

Begitulah Emak. Untuk memperbaiki nasib ia tak cuma membanting tulang. Ia mempertaruhkan nyawanya. Begitulah pahlawanku. Pahlawan kami.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Didebottlenecking

5 November 2009

Anda tidak paham makna kata yang saya gunakan sebagai judul pada tulisan ini? Silahkan tanya pada Presiden SBY. Kata itu keluar dari mulutnya pada pidato di acara National Summit 2009.

Banyak orang heran. Acara kenegaraan resmi, oleh pejabat-pejabat pemerintahan Republik Indonesia dinamai dalam bahasa Inggris. Mengapa? Ternyata ini tak jauh-jauh dari urusan citra, sesuatu yang maha penting bagi SBY. Konon kegiatan ini meniru cara kerja Presiden Obama. Bahkan nama National Summit itu sendiri meniru nama acara yang digelar Obama tak lama setelah dilantik jadi presiden.

Ini lagi-lagi ciri khas SBY. Semua serba berbau Amerika. Berbau Obama. Marna-warna yang dia pakai saat kampanye tempo hari, tata letak panggung kampanye, tampilan homepage, dan banyak hal lagi, semua meniru Obama. Setelah terpilih pun dia masih juga meniru Obama. Coba lihat semboyan kabinet yang dia cetuskan. Pakai bahasa Inggris. Salah satunya adalah Change and Continuity. Lagi-lagi meniru Obama, karena Change adalah tema kampanye yang diusung oleh Obama. Bisa kita bayangkan betapa Presiden kita ini sangat tidak percaya diri.

Lucunya, dia tampaknya hanya mampu meniru hanya sampai pada soal-soal yang sepele seperti itu. Soal-soal tampak luar. Substansinya hilang. Kabinet yang ia bentuk sudah bekerja 16 hari, tapi belum punya program kerja!

Selain soal nama National Summit itu, pada pidato di acara tersebut SBY dengan fasih mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Menurut catatan KOMPAS dalam pidato selama 65 menit SBY melafalkan 75 kosa kata bahasa Inggris. Tidak hanya itu. Dia juga menggunakan istilah yang tak jelas, apakah itu bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, ya itu tadi “didebottlenecking”.

“Banyak hal yang masih ada di-”debottlenecking” ini yang harus diselesaikan,” kata SBY. Apa yang dia maksud? Kita mengenal istilah bottleneck (leher botol) untuk menggambarkan adanya hambatan. Debottlenecking adalah kira-kira bermakna “menghilangkan hambatan”. Mungkin SBY hendak mengungkapkan bahwa masih banyak perkara yang mengalami berbagai hambatan dalam penyelesaiannya, dan hambatan itu harus diurai. Saya bisa dengan mudah mengatakannya dalam bahasa Indonesia: “Masih banyak hal yang harus diurai permasalahannya.” Selesai. Tidak perlu pakai istilah asing, dan tidak perlu mengeluarkan kosa kata yang tak termuat dalam kamus bahasa manapun!

Banyak kata yang sebetulnya punya padanan yang pas dalam bahasa kita dipaksakan untuk dipakai dalam kosa kata aslinya. Lebih kacau lagi, kata tersebut ditambahi awalan dan akhiran, sehingga menjadi sebuah kata berwujud Frankenstein. Contohnya adalah kata “impeach” dan “impeachment”. Sederhananya kata “impeach” berpadanan dengan kata “pecat”. Kata ini menjadi populer di media massa Indonesia sejak skandal Bill Clinton dengan Monica Lewinski. Sejak itu media lebih suka menggunakan kata “impeach” ketimbang “pecat”, khususnya bila menyangkut lembaga kepresidenan. Maka kemudian kita mengenal kata-kata “mengimpeach” dan “diimpeach”.

Bagi saya ini adalah bentuk kedunguan dalam berbahasa. Dan sangat menyedihkan bahwa Presiden turut menjadi pelopor kedunguan ini dengan melakukannya di acara kenegaraan.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Bahasa ke Dua di Indonesia

29 October 2009

Saya menelepon ke ponsel teman. Perusahaan operator telepon itu adalah perusahaan Indonesia. Karena telepon yang saya tuju dalam keadaan tidak aktif, saya menerima pesan sebagai berikut:

“The telephone you are calling is switched off.”

Sudah. Hanya itu. Hanya pesan dalam bahasa Inggris, tidak ada pesan dalam bahasa Indonesia.

Di beberapa bioskop yang pernah saya kunjungi, petunjuk yang ditayangkan di layar sebelum film dimulai, juga ditulis dalam bahasa Inggris. Tidak ada terjemahan bahasa Indonesia sama sekali.

Kalau kita telepon hotel atau perusahaan besar di Jakarta, penjawab telepon akan menjawab dalam bahasa Inggris. Setelah tahu penelepon berbahasa Indonesia, barulah dia meladeni kita dalam bahasa Indonesia.

Saya teringat perjalanan saya ke berbagai negara. Di Jerman saat saya berbelanja ke toko penjaganya selalu menyapa saya dalam bahasa Jerman. Setelah tahu bahwa saya tidak berbahasa Jerman, barulah dia meladeni saya dalam bahasa Jerman. Demikian pula saat saya berkunjung ke Perancis, pertama kali saya akan disapa dalam bahasa Perancis. Hal yang sama saya dapatkan dalam percakapan telepon.

Dengan kata lain, di banyak negara, orang mendahulukan bahasa mereka sendiri. Bahasa kita adalah bahasa pertama dan utama, bahasa Inggris dan bahasa asing lain adalah bahasa ke dua, tiga, dan seterusnya. Sayangnya yang sering terjadi di Indonesia adalah seperti saya ungkapkan dalam ilustrasi di atas. Bahasa Indonesia adalah bahasa ke dua, atau bahkan tidak diperlukan sama sekali.

Parahnya, ini tidak hanya terjadi di dunia usaha. Birokrasi pemerintah, bahkan Kepala Negara terlihat lebih suka mendepankan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Tengoklah bagaimana Presiden merumuskan semboyan kabinetnya. Dalam bahasa Inggris! Bahasa Indonesia ditampilkan sebagai terjemahan belaka.

Kalau Presiden lebih suka mendepankan bahasa Inggris, jangan heran kalau bangsa ini lebih suka memakai produk-produk dari luar, ketimbang produk bangsa sendiri. Karena kepada mereka setiap hari diajarkan bahwa yang berasal dari luar itu lebih baik. Itulah yang sedang dipamerkan para pemimpin, khususnya sang Presiden.

Sebagai penutup, saya ajukan pertanyaan untuk Anda renungkan.

“Anda mungkin malu kalau kemampuan berbahasa Inggris Anda jelek. Tapi pernahkah Anda merasa malu kalau kemampuan berbahasa Indonesia Anda jelek?

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Masayoshi

9 September 2009

Aku tak pernah berhenti menyesali keputusanku untuk berkunjung ke rumahnya di tahun baru itu. Ia kakek tua berusia 80 tahun lebih. Namanya Masayoshi Uehara. Istrinya yang nyaris setua dia, bernama Masako. Mereka tinggal di sebuah rumah, persis di berhadapan dengan bangunan apartemen di mana kami menyewa sebuah kamar untuk tempat tinggal.

Apartemen ini adalah tempat pertama di tengah pemukiman orang Jepang yang kami tinggali. Sebelumnya, selama enam tahun lebih kami selalu tinggal dormitori untuk mahasiswa asing yang disediakan oleh universitas. Waktu aku selesai kuliah di program doktor, aku mendapat tawaran untuk bekerja sebagai peneliti tamu. Dengan status baru itu aku tak lagi berhak tinggal di dormitori.

Aku berkenalan dengan pasangan kakek-nenek ini dua hari setelah kami pindah ke apartemen itu, di suatu musim gugur. Sebenarnya tak cukup tepat untuk disebut berkenalan. Waktu itu kami hanya saling bercakap sejenak. Mereka tak tahu namaku, karena aku tidak memperkenalkan diri. Mereka juga tak memperkenalkan nama mereka. Aku tahu nama mereka dari papan nama kecil bertulis huruf kanji di kotak pos di gerbang pagar rumah mereka.

Pagi itu aku dan istriku sedang menata barang-barang yang kami bawa dari dormitori ke apartemen itu. Ada cukup banyak kardus berisi barang. Di antaranya ada kardus yang cukup berat. Waktu mencoba mengangkat salah satu kardus berat itu, istriku mengalami sakit yang luar biasa pada pinggangnya. Mungkin dia keseleo. Dia merasa sakit, dan tidak bisa bergerak. Aku papah dia ke kamar tidur, lalu aku rebahkan di atas futon yang aku hamparkan seadanya. Aku melanjutkan pekerjaan menata barang-barang sambil menjaga anakku yang baru berusia sembilan bulan, sambil pula sesekali memantau kondisi istriku. Aku fikir dia cuma keseleo, dan berharap segera pulih.

Tapi hingga malam hari tak ada tanda-tanda istriku membaik. Dia tak bisa bergerak. Setiap kali mencoba bergerak dia menjerit kesakitan. Khawatir keadaannya makin memburuk, aku putuskan untuk menelepon pemadam kebakaran, untuk minta bantuan ambulan. Saat itu sudah sekitar pukul sepuluh.
Tak lama setelah kutelepon, ambulan datang. Dengan tandu istriku diangkut keluar apartemen, lalu dimasukkan ke ambulan. Aku ikut masuk, sambil menggendong anakku yang sedang tidur. Dengan ambulan kami menuju rumah sakit terdekat.

Saat masuk ambulan aku lihat pasangan kakek-nenek itu keluar rumah. Ambulan itu memang tak membunyikan sirene saat masuk ke depan apartemen kami. Tapi apartemen itu terletak di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilewati satu mobil. Rumah kakek-nenek itu tak lebih dari dua meter dari pinggir jalan. Kilatan lampu sirene ambulan membuat mereka keluar rumah, dengan wajah ingin tahu. Tak sempat aku menyapa mereka karena aku buru-buru masuk ambulan.

Malam itu setelah isteriku diperiksa dokter aku diberitahu bahwa dia harus menjalani rawat inap selama beberapa hari. Naik taksi aku pulang ke apartemen sambil memeluk anakku.

Esok hari, saat aku keluar apartemen untuk pergi ke rumah sakit, aku lihat Masako san di depan rumahnya. Dia menyapaku dengan wajah khawatir.

“Kino douka sarenano desuka.” tanyanya dalam sonkeigo, bahasa Jepang halus. Dia menanyakan ada apa semalam. Aku jelaskan bahwa istriku mengalami masalah dengan otot pinggangnya. Gikkorigoshi, itu istilah bahasa Jepang yang diberitahukan dokter kepadaku tadi malam. Saat istilah itu aku sebutkan, dia langsung paham.

“Sore wa taihen desune.” katanya prihatin. „Kalau butuh bantuan, jangan segan-segan memberi tahu kami.“

Aku mengangguk dan lalu pamit untuk melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.

Beberapa hari kemudian istriku sembuh, lalu keluar dari rumah sakit. Kejadian sakitnya istriku itu membuka hubungan kami dengan pasangan kakek-nenek itu.

+++
Apartemen yang kami sewa kecil dan sederhana. Berlantai tiga dan tak terlalu luas. Khas apartemen di kota-kota kecil di Jepang. Bangunan ini sebenarnya lebih cocok disebut rumah kos. Letaknya hanya beberapa ratus meter dari kampus. Kamar-kamarnya kecil, cocok untuk hunian mahasiswa. Kamar yang kami sewa terletak di lantai satu, tadinya adalah dua kamar, digabung menjadi satu untuk memperoleh kamar yang lebih besar. Hanya kami penghuni yang berkeluarga di apartemen itu.

Rumah kakek-nenek tadi persis di depan apartemen kami. Pintu pagarnya persis berhadapan dengan pintu keluar apartemen. Hanya terpisah oleh jarak kira-kira dua meter. Di sekitar situ banyak rumah-rumah penduduk, juga beberapa apartemen. Kami tak pernah bertegur sapa dengan penduduk di sekitar apartemen. Paling-paling hanya saling bertukar senyum tipis atau anggukan kecil saat berpapasan.

Tapi dengan kakek-nenek ini agak lain. Setidaknya aku bertukar salam “ohayougozaimasu” atau “konnichiwa” kalau bertemu mereka. Sesekali aku berbincang ringan dengan mereka. Istriku tak pernah berbincang, karena kemampuan bahasa Jepangnya agak terbatas. Ia akan kesulitan kalau berbicara dengan kakek-nenek yang menggunakan bahasa Jepang dengan dialek lokal dan gaya orang tua.

Makin lama berinteraksi kami makin akrab. Kadang kakek-nenek itu memberi kami makanan atau buah-buahan. Sesekali sengaja mereka membeli mainan kecil di pasar untuk anak kami. Kami membalasnya dengan memberi makanan juga, khususnya kalau kami membuat makanan Indonesia yang menurut kami cocok untuk lidah orang Jepang.

Di musim semi mereka mengantarkan sakuranbo (cherry). Musim panas anakku dihadiahi satu set hanabi (kembang api). Musim gugur giliran buah kaki (kesemak) dari pohon di halaman rumah mereka di antarkan kepada kami.

Musim dingin ini adalah musim dingin ke dua kami tinggal di apartemen ini, dan bertetanggan dengan kakek-nenek itu. Tahun baru sudah menjelang. Ini adalah hari istimewa bagi orang Jepang. Suasananya persis seperti lebaran di negeri kita. Karena hubungan baik kami sudah berlangsung setahun lebih, aku putuskan untuk mengunjungi kakek-nenek itu ke rumah mereka saat tahun baru. Istriku setuju dengan gagasanku.

Begitulah. Di suatu petang, tanggal 1 Januari, kami bertiga berkunjung ke rumah itu untuk menyampaikan ucapan selamat tahun baru. Kakek-nenek itu menyambut dengan gembira. Ketika itulah baru kami berbincang lebih akrab.

Kakek-nenek ini punya anak laki-laki. Anak tunggal. Dia bekerja di Tokyo, dan sudah berkeluarga. Anaknya dua, sudah usia sekolah dasar. Biasanya anaknya pulang saat tahun baru. Tapi tahun ini tidak pulang.

Obrolan kami akhirnya tiba pada suatu topik yang memicu petaka. Sesuatu yang tak pernah aku sangka akan terjadi. Kakek itu bercerita bahwa dia pensiunan tentara. Dia jadi tentara saat Perang Dunia II. Dia bertugas di Indonesia saat itu. Di Tarakan tepatnya. Dua tahun dia bertugas di Tarakan. Dia kembali ke Jepang saat Jepang kalah perang dan mundur dari kawasan Asia yang dikuasainya. Hanya itu yang dia ceritakan. Tak detil.

Pulang dari rumah itu istriku banyak diam. Wajahnya agak cemberut. Ini memberi firasat tak sedap. Biasanya ini adalah tanda bahwa ada yang kuran berkenan di hatinya. Ujungnya adalah pertengkaran kami. Sebuah situasi yang paling aku benci.

„Ada apa?“ tanyaku lembut, mencoba untuk tak mengobarkan amarahnya.

Dia hanya diam. Dan ini paling rumit buatku. Aku tak pandai merayu istriku bila ia merajuk. Sejak dulu tak pandai, sekarangpun tak pandai.

“Ada kata-kataku yang menyinggung perasaanmu?“

Dia masih diam. Aku juga akhirnya terdiam, tak tahu harus berkata apa. Putus asa aku alihkan perhatianku pada anakku, dan beberapa pekerjaan kecil di rumah.

„Aku benci kakek itu.“ kata istriku beberawa saat kemudian. Ucapan itu mengejutkanku. Aku sama sekali tak menyadari ada yang membuat istriku kesal pada kakek itu.

„Kenapa?“ tanyaku hati-hati.

„Masa Abang nggak ngerti?“ tanyanya balik. Duh, ini pertanyaan yang selalu menusuk. Selalu membuatku merasa gagal jadi laki-laki. Gagal memahami perasaan perempuan, istriku.

“Kakek tua bangka itu adalah bekas serdadu Jepang. Tahu kan apa yang mereka lakukan selama menjajah Indonesia? Coba Tanya, berapa perempuan yang dia perkosa selama bertugas di Indonesia?” omel istriku berang.

Aku terhenyak. Lagi-lagi kehabisan kata-kata. Tak pernah aku menyangka bahwa masa lalu kakek itu akan membuat istriku berang. Aku coba membantah. Kakek itu belum tentu sejahat itu. Lagipula ia tak menyakiti kami.

„Ya itulah. Abang memang tak pernah paham perasaan perempuan.“ Itu kata-kata pemungkas dari istriku, nyaris di setiap pertengkaran kami.

+++

Sejak itu aku menghindari interaksi dengan kakek itu. Juga dengan istrinya. Sungguh, aku merasa mereka sama sekali tak bersalah pada kami. Tapi aku harus menjaga perasaan istriku. Dia gampang tersinggung.

Aku coba memahami perasaan istriku. Tak ada keluarga kami yang terkena perbuatan jahat tentara Jepang di jaman penjajahan dulu. Tak ada perempuan dari keluarga kami yang diperkosa tentara Jepang. Tapi istriku memang sensitif terhadap kejahatan serdadu. Khususnya kejahatan terhadap perempuan. Juga terhadap anak-anak. Setiap kejahatan itu bagi dia seperti serangan terhadap diri pribadinya. Aku coba berempati padanya.

Sejak tahun baru itu aku selalu menghindar dari kakek itu. Juga dari istrinya. Kalau kulihat salah satu dari mereka ada di depan rumah saat aku hendak keluar apartemen, aku tunda sampai mereka masuk. Demikian pula saat aku hendak pulang. Aku berputar balik, menunda ketibaan di apartemen kalau aku lihat mereka di depan rumah.

Begitulah. Selama sisa masa tinggal kami di apartemen itu, interaksi dengan kakek-nenek itu jauh berkurang. Sangat jauh. Aku rasa mereka juga sadar akan hal itu.

Lalu tibalah saatnya kami mudik ke tanah air. Saat itu sudah penghujung musim gugur. Artinya hampir setahun aku menghindar dari kakek-nenek itu. Pekerjaanku sebagai peneliti tamu selesai, aku harus pulang bersama keluargaku. Satu hal yang mengganggu adalah bahwa aku merasa harus berpamitan dengan kakek-nenek itu. Tapi aku juga tak mau melukai perasaan istriku.

Diam-diam, suatu hari, beberapa hari menjelang keberangkatanku ke tanah air, aku menyelinap sendirian ke rumah kakek-nenek itu. Aku berpamitan, terburu-buru. Setelah aku mengabarkan bahwa kami sekeluarga hendak pulang ke tanah air dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan selama ini, aku lagi-lagi dihadapkan pada kejadian yang tak pernah aku duga.

Kakek itu, Masayoshi Uehara, bersujud di depanku. Sujud khas orang Jepang. Menunduk dalam, wajahnya menyentuh tatami tempat aku duduk.

„Wareware, mukashi hidoi koto wo shite shimatte, makotoni mousiwake arimasen.” Ia meminta maaf atas perbuatan buruk di masa lalu. Aku sangat terkejut. Lalu bayangan yang selama ini menghuni benak istriku terasa mulai menghantui benakku pula. Aku membayangkan kakek tua ini sebagai serdadu muda yang bengis, liar. Seorang pemerkosa dan penjagal.

Tapi bayangan itu hanya sekejap. Kakek tua itu, masih dalam keadaan bersujud, melanjutkan. Seakan dia membaca isi fikiranku.

„Jangan salah sangka. Tak pernah sekalipun aku berbuat buruk pada bangsamu. Aku tak membunuh mereka. Tak menyakiti mereka. Aku juga tak memperkosa. Tapi teman-temanku melakukan itu semua. Aku tak sanggup mencegah mereka, menghentikan mereka. Untuk itulah aku minta maaf padamu. Pada bangsamu.“

Ketika ia bangun dari sujudnya, wajahnya berurai air mata.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Muhammad Noboru Sato

4 September 2009
Muhammad Noboru Sato

Namanya Noboru Sato. Nama keluarga Sato adalah nama keluarga yang populasinya paling tinggi di Jepang. Ia seorang muslim. Waktu masuk Islam di depan namanya ditambahi nama Muhammad. Kami memanggilnya Brother Sato atau Sato san.

Saat saya pertama kali mengenalnya tahun 1997 Sato san berumur kira-kira 50-an tahun, mungkin sudah mendekati 60. Saya agak banyak berinteraksi dengan beliau saat saya jadi General Secretary di Islamic Center. Sato san adalah President di lembaga tersebut. Dia adalah President seumur hidup. Tiap tahun pengurus berganti, tapi Sato san selalu dipilih menjadi President.

Setidaknya ada dua alasan untuk hal itu. Pertama, Sato san adalah yang paling senior di antara kami. Menjadikan dia sebagai pemimpin adalah cara kami untuk menghormati dia. Alasan lain bersifat pragmatis. Beliau adalah orang Jepang, penduduk asli di kota itu. Dia tahu lebih banyak tentang berbagai hal mengenai daerah itu. Yang jelas, dia tidak akan pergi dari kota itu sebagaimana kami para pendatang.

Kami menyewa dua kamar apartemen sederhana untuk dijadikan Islamic Center. Di situlah salat Jumat dan berbagai acara dakwah diadakan. Termasuk toko daging dan makanan halal. Ruangan yang kami sewa tidak besar. Karenanya kalau ada acara yang menghadirkan banyak orang seperti salat Ied, kami meminjam ruangan besar milik universitas di dormitori untuk mahasiswa asing.

Read the rest of this entry »

wordpress plugins and themes

Fundamentalis Mata Kaki

3 September 2009

Namanya Khaleed, orang Pakistan. Perawakannya kurus tinggi. Wajahnya dihiasi hidung mancung, khas orang Asia Selatan. Pipi dan dagunya dihiasi janggut tebal dan panjang. Khaleed adalah teman saya. Kami sama-sama kuliah di program doktor di sebuah universitas di Jepang. Kelak ketika sama-sama sudah lulus, dia dan saya sama-sama menjadi peneliti tamu di universitas tersebut.

Ada ciri yang cukup menonjol dalam cara Khaleed berpakaian. Meski berada di Jepang, Khaleed sering tampil dengan baju tradisional Pakistan. Baju yang mirip dengan baju koko kita, tapi lebih panjang. Yang lebih khas, ujung celana Khaleed menggantung agak tinggi, di atas mata kaki. Belakangan aku paham bahwa soal ujung celana ini adalah persoalan penting bagi dia.

Read the rest of this entry »

wordpress plugins and themes

Paranoia Kristenisasi

2 September 2009

Suatu ketika di tahun 2005. Saat itu saya bekerja sebagai dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Kebetulan saya menjabat sebagai Ketua Jurusan/Program Studi. Saya sebetulnya baru saja pulang dari tugas belajar di luar negeri. Saya diangkat jadi Ketua Jurusan karena posisi itu lowong, dan kami sedang kekurangan staf pengajar.

Suatu hari saya menerima SMS berbunyi sebagai berikut:
“Tolong kau awasi gerak-gerik Ibu B itu. Hati-hati, sudah ada satu
mahasiswa kita yang dia murtadkan.”
Pengirim SMS itu adalah kawan saya, beberapa tahun lebih tua dari saya. Saya mengenal dia sejak sama-sama kuliah. Kebetulan kami satu fakultas, dan saya juga pernah tinggal sekamar dengan dia di asrama daerah tempat saya tinggal di masa-masa awal kuliah dulu. Saat mengirim SMS itu dia adalah Dekan di fakultas tempat saya bekerja. Artinya dia adalah atasan saya.

Read the rest of this entry »

wordpress plugins and themes

Berpuasa itu berdisiplin

27 August 2009

Ini percakapan saya dengan seorang teman.

„Mas kerja di perusahaan Jepang, ya?“

„Iya.“

„Stress nggak, Mas?“

„Nggak. Emang kenapa?“

„Kan orang Jepang itu disiplin banget. Kata orang-orang di perusahaan Jepang terlambat masuk kerja satu menit aja nggak boleh.“

„Emang iya.“

„Apa nggak stress dengan situasi kerja seperti itu?“

„Kamu muslim?“ sekarang saya yang gantian bertanya.

„100%, Mas.“

„Kalau kamu puasa, saat sudah masuk waktu subuh, kamu masih boleh sahur?“

„Nggak.”

“Terlambat satu menit pun nggak boleh?“

“Nggak.”

“Stress nggak kamu?”

+++

Terlambat satu menit bagi banyak orang dianggap hal yang masih bisa ditolerir. Padahal dalam urusan keterlambatan perkaranya bukan soal satu atau dua menit. Terlambat adalah terlambat. Satu menit itulah yang membedakan orang yang berdisiplin dengan yang tidak. Itulah soalnya.

Banyak orang yang pernah bersinggungan dengan orang-orang dari negara maju terkesan melihat bagaimana mereka disiplin dalam soal waktu. Tapi mungkin banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa suatu negara tidak mungkin bisa maju kalau penduduknya tidak disiplin.

Kota-kota besar di negara maju biasanya ditopang dengan sistem transportasi massal yang handal. Salah satunya adalah kereta bawah tanah (subway). Pada kota yang sibuk, bahkan super sibuk, di tiap stasiun kereta keluar/masuk hanya berselang 1-2 menit dengan kereta berikutnya. Tanpa disiplin waktu, subway tidak akan berfungsi sebagai angkutan massal. Lebih buruk dari itu, terlambat satu menit pada subway bisa menjadi sebab terjadinya tabrakan.

Sebaliknya, perusahaan penerbangan kita dikenal buruk reputasinya, salah satu sebabnya karena sering terjadinya keterlambatan.

Perusahaan manufaktur Jepang merajai industri dunia. Kunci utamanya adalah improvement (kaizen) dalam proses produksi, sehingga dicapai efisiensi. Dengan begitu ongkos produksi bisa ditekan, yang artinya keuntungan meningkat.

Salah satu caranya adalah dengan menerapkan system Kanban atau Just In Time. Bahan baku masuk, langsung ke production line, berpindah dari satu unit produksi ke unit berikutnya tanpa berhenti. Ini berlangsung terus hingga diperoleh barang jadi di akhir production line, dan barang jadi langsung dikirim ke pembeli.

Sistem ini menghemat waktu, dan tentu saja menghemat biaya. Tapi tidak hanya itu. Dengan sistem ini tidak lagi diperlukan gudang, baik untuk bahan baku, barang setengah jadi, serta barang jadi. Artinya tidak diperlukan lagi investasi untuk membuat gudang. Juga tidak diperlukan penumpukan stok yang mengganggu cash flow perusahaan.

Semua itu, sekali lagi, hanya bisa dicapai dengan disiplin yang tinggi. Jangankan terlambat satu menit, satu detik saja pun sudah bisa membuat system gagal mencapai tujuan.

Itu hanya beberapa contoh kecil saja. Jadi, masihkah Anda menganggap terlambat satu menit sebagai persoalan kecil?

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Mesjid Yes, Gereja No Way

21 August 2009

Cerita ini terjadi saat saya masih menjadi dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Suatu hari sebuah perbincangan sambil menyelesaikan suatu urusan dengan staf administrasi di kampus menyerempet ke sebuah isu sensitif.

“Hampir saja kita kecolongan, Bang”, kata staf administrasi yang berjilbab itu mengadu, setelah sekian lama tak bertemu saya karena saya lama meninggalkan tanah air untuk tugas belajar.

“Ada apa?”, tanya saya.

“Iya, beberapa waktu lalu orang-orang Kristen berniat mendirikan gereja di kampus ini. Untung kita cepat tahu, lalu bergerak mencegahnya. Alhamdulillah kita berhasil.”

“Kenapa dicegah? Kenapa dihalangi?”

“Lho, kan…..”

“Mbak, saya ini hampir 8 tahun tinggal di Jepang. Selama itu saya jadi minoritas dalam hal agama. Coba Anda bayangkan bagaimana rasanya kalau niat saya hendak membangun mesjid atau beribadah selama saya berada di Jepang dihalangi orang.”

“Mbak mengkhawatirkan kristenisasi?” tanya saya. Ia mengangguk.

“Apa iya kalau berdiri gereja di kampus ini lantas orang berbondong-bondong masuk Kristen?”.

Ia lalu terdiam, dan percakapan kami berakhir.
+++

Pola fikir staf administrasi tadi sebenarnya pernah saya anut. Waktu itu saya masih kuliah di UGM dan aktif di organisasi dakwah kampus. Saat itu di UGM belum ada mesjid, dan kami sedang bersiap untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan mesjid. Mantan Rektor, alm. Koesnadi Hardjasoemantri menjadi ketua panitia.

Saat itu kami mendengar bahwa orang-orang Kristen akan mendirikan gereka di kampus. Lokasinya tak jauh dari lahan yang hendak digunakan untuk membangun mesjid. Kami langsung bereaksi. Rencana pembangunan gereja ini harus dihentikan!

Kami, beberapa aktivis Islam di kampus melakukan berbagai lobi. Yang terutama tentu kepada Rektor. Pergilah kami menghadap Rektor, menanyakan soal rencana itu, dan tentu saja (niatnya) menekan Rektor agar membatalkan atau mencegah rencana itu kalau benar adanya.

Sambil menunggu di ruang tamu kantor Rektor, kami berbincang dengan sekretaris Rektor. Topiknya tentu soal yang sama dengan yang hendak kami adukan ke Rektor. Lucunya, belakangan baru kami tahu bahwa sekretaris Rektor tadi adalah seorang penganut agama Kristen. Ampun, deh!

+++

Pola fikir saya berubah saat saya merasakan pengalaman menjadi minoritas. Yaitu saat saya kuliah di Jepang. Saya pernah tinggal di kota kecil di bagian selatan Jepang. Jumlah orang Islam di kota itu sangat sedikit. Tak lebih dari 50 orang. Hampir semua adalah mahasiswa asing.

Karena jumlah kami kecil, kami tak mampu untuk sekedar menyewa apartemen untuk digunakan sebagai mesjid, sebagaimana dilakukan oleh muslim di berbagai kota. Kami mengandalkan kebaikan hati satu dua profesor yang mau meminjamkan ruangan di kampus untuk dijadikan mushalla.

Suatu ketika kami tak lagi diperbolehkan memakai ruangan itu. Alasan pihak kampus, ruangan itu akan dipakai untuk keperluan akademik. Lagipula Jepang adalah negara sekuler, urusan peribadatan warga tidak boleh melibatkan fasilitas milik pemerintah. Saat itu kami benar-benar kesulitan. Kami harus salat Jumat berpindah-pindah tempat. Untunglah akhirnya ada profesor yang mau membantu mencarikan ruangan untuk dijadikan mushalla.

Di kota lain di mana saya pernah tinggal juga, kami menyewa dua ruangan apartemen untuk dijadikan mushalla. Di situlah kami melaksanakan shalat Jumat serta pengajian. Bagian lain dari apartemen ini adalah tempat tinggal yang disewa oleh orang lain, orang Jepang. Kami harus berhati-hati agar aktivitas kami tidak mengganggu kenyamanan mereka.

Kami mengumpulkan dana untuk pembangunan mesjid. Belasan tahun diperlukan hingga akhirnya dana itu terkumpul. Baru 3 tahun yang lalu kota tempat saya tinggal itu memiliki mesjid. Untungnya pemerintah Jepang yang sekuler itu tidak menghalangi. Selama syarat-syarat mendirikan bangunan dipatuhi tidak ada masalah.

Semua kejadian yang saya alami di Jepang itu mengingatkan saya pada nasib minoritas, khususnya orang Kristen di Indonesia. Mereka sering kesulitan mendirikan gereja. Beribadah di ruko atau di rumah milik sendiri pun sering diganggu. Kami, muslim yang minoritas di Jepang, untungnya tidak mengalami hal itu. Alangkah indahnya kalau minoritas di negeri muslim juga tidak mengalami hal itu.

+++

Kembali ke cerita di kampus tempat saya kerja tadi. Di kampus ini ada mesjid yang cukup besar. Dulu dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Lalu, di setiap fakultas didirikan mushalla yang juga tak kecil. Tapi itu pun ternyata tak cukup. Di banyak bangunan di fakultas masih saja ada ruangan yang difungsikan sebagai mushalla. Bagi mereka yang malas untuk ke mushalla fakultas, bisa shalat di mushalla kecil ini. Yang sedikit rajin berjamaah di mushalla fakultas. Yang lebih rajin, ke mesjid.

Melihat ini semua saya merasa sesak. Keterlaluan benar orang muslim ini.

Jaman Rasulullah masih hidup, di Madinah hanya ada satu mesjid. Apa umat Islam ketika itu tidak mampu membangun lebih dari satu? Rasanya tak mungkin. Orang-orang ketika itu rela menyumbangkan apa saja untuk Islam. Mesjid hanya satu dengan tujuan persatuan. Di situlah semua orang berjamaah, bersilaturrahmi. Di satu tempat.

Kota Madinah ketika itu memang kota kecil. Saya tentu tak berharap kota sebesar Jakarta hanya punya satu mesjid. Itu tak masuk akal. Tapi saya yakin kota Madinah di jaman itu lebih besar dari area kampus saya. Kalau Madinah cukup dengan satu mesjid, kenapa kampus tidak? Kenapa kampus masih perlu ditambah dengan beberapa mushalla, plus puluhan ruangan untuk pengganti mushalla?

Dalam situasi yang sudah berlebih itu, orang Islam masih ribut ketika orang Kristen hendak mendirikan satu gereja. Hanya satu gereja saja.

Adilkah kita ini? Tidakkah kita ini berlebihan? Seingat saya tidak adil dan berlebihan adalah dua sifat yang dibenci Allah.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Khatib

5 August 2009

Hari Jumat ini, untuk ke sekian kalinya, aku jadi khatib di sebuah mesjid di kota kelahiranku. Aku bukan ustaz, apalagi ulama. Ilmu agamaku hanya sebatas apa yang aku dapat dari madrasah tsanawiyah dulu. Tapi berbagai kebetulan memaksaku jadi khatib.

Aku pertama kali jadi khatib saat kuliah. Ketika itu aku terlibat dalam organisasi yang menyelenggarakan kegiatan dakwah di kampus. Selain berdakwah di kampus kami juga membina anak-anak SMA. Salah satu kegiatan mereka adalah salat Jumat di sekolah. Nah, pada salat Jumat ini kami sebagai pembina diminta untuk memberi khutbah.
Itu sebenarnya hanya terjadi beberapa kali. Aku baru sering memberi khutbah saat aku sekolah di Jepang. Sejumlah mahasiswa muslim dari berbagai negara mengusahakan pinjaman ruangan dari kampus sebagai tempat salat. Bergiliran kami memberi khutbah. Aku termasuk yang diberi kepercayaan untuk itu.

Lama-lama aku menikmati ini. Menjadi khatib bagiku adalah sebuah kebebasan. Bebas dari kewajiban mendengar khutbah-khutbah yang menjemukan. Kalau tidak sedang bertugas sebagai khatib aku harus duduk di barisan jamaah. Mendengarkan khutbah yang tak memberi manfaat, memicu rasa kantuk.

Khatib-khatib laksana pita rekaman. Mengucap hal yang sama berulang-ulang. Hal-hal yang sering kali tak ada hubungannya dengan hidup kita. Ada khatib berkhutbah tentang satu hal, aku dengar dia waktu aku kecil. Kelak ketika aku sudah besar hal yang sama, nyaris sama persis hingga ke setiap titik komanya, diulang lagi.

Tak cuma itu. Khatib-khatib itu laksana robot. Mereka bicara tanpa cita rasa. Datar. Tanpa tekanan. Tanpa irama. Bunyinya tak beda dengan lenguhan kereta api kuno yang menempuh perjalanan panjang. Monoton, mengulang bunyi yang sama. Yang berdiri di mimbar itu tak tampak seperti manusia, yang dengan kasih sayang mengajak orang kepada kebaikan, atau meyakinkan orang tentang sesuatu yang baik.

Sebagai khatib, tentu aku tak perlu mendengar itu semua. Akulah yang didengar. Tak cuma soal bebas dari posisi sebagai pendengar, tentu. Jadi khatib adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku berbeda dengan para kereta api tua itu. Aku tak membahas hal-hal yang sudah jamak dibahas khatib lain. Aku membahas hal-hal yang terjadi sehari-hari. Lalu aku beri makna, aku beri sentuhan, dengan sudut pandang kitab suci. Aku bahas keseharian manusia.

Dan aku punya retorika. Setidaknya aku sangka aku punya. Ketika berdiri di mimbar, aku adalah orang yang sedang bicara pada pendengarku. Aku tatap mata mereka. Aku sampaikan kata-kata, seakan aku sedang bicara kepada mereka satu per satu. Aku ajak mereka. Aku yakinkan.

Ternyata banyak yang menyukai khutbah-khutbahku. Ada yang mendatangiku usai salat untuk sekedar mengatakan, „Nice speech, brother.“ Ada yang mengajakku berdiskusi lebih lanjut tentang apa yang sudah aku khutbahkan. Walhasil, aku diminta untuk sering berkhutbah, lebih sering dari yang lain.

Pulang ke tanah air ke kotaku, aku tetap seorang khatib. Abangku pengurus organisasi Islam, sekaligus pengurus mesjid di dekat rumahnya. Dia juga sering jadi khatib. Dia tahu aku juga biasa berkhutbah. Maka dia menyodorkan aku untuk khutbah di sana sini, di kota kami. Mulanya mengisi jadwal yang telah ditetapkan untuk dia sendiri. Lalu orang mulai mengenalku, dan memintaku untuk khutbah di mana-mana.

+++

Hari ini, entah untuk yang ke berapa kali, aku memberi khutbah. Sudah biasa. Tak ada kecanggungan, tak ada kegugupan. Aku mulai berkhutbah. Aku tak membaca teks. Menurutku itu menghalangi aku untuk menjaga kontak mata dengan hadirin. Kontak mata sangat penting dalam public speaking, begitu yang aku tahu.

Lalu pandangan mataku tertumbuk pada mata di wajah itu. Sebuah wajah yang biasa. Lelaki berumur sekitar lima puluh tahun. Perawakannya kecil. Tak ada ciri khas di wajahnya. Wajah orang kebanyakan. Sorot matanya juga biasa saja. Bulan sorot yang tajam. Menatapku penuh perhatian.

Tapi entah mengapa, wajah dan tatap mata yang biasa itu menyedot perhatianku. Tak pernah selama khutbah aku memberi perhatian khusus pada seorang pendengar. Tapi yang ini lain. Aku selalu menatap wajahnya, matanya. Entah kenapa. Pandangan matanya selalu mengundang aku untuk melihat, lagi, dan lagi. Meski dengan perasaan aneh, aku selesaikan tugasku memberi khutbah.

Satu dua minggu berikutnya aku kembali berkhutbah di sebuah mesjid lain, yang jaraknya cukup jauh dari mesjid tempat aku khutbah sebelumnya. Saat aku memberi salam kepada jamaah sebelum azan, mataku sudah tertumbuk pada wajah itu lagi. Aku agak sedikit heran. Aku tak menduga akan melihat wajah itu di sini. Tapi sadar dengan kenyataan bahwa kota kami tak begitu besar, aku menerimanya sebagai sebuah kebetulan.

Tapi kali ini wajah itu tak hanya menatapku. Saat pandangan kami bertemu, aku mendengar suara. Aku yakin dia yang berkata. Karena kata-kata itu hanya terdengar saat tatapan mata kami bertemu.

„Ittaqullah…..“

„Apa kau merasa pantas menyuruh orang lain?“

„Ittaqullah haqqa tuqaatihi.“

“Apa takwa kamu sendiri sudah haq?“

Terkejut aku dengan suara itu. Menusuk. Tapi aku coba menguasai diri. Aku sedang melaksanakan tugas penting. Tak boleh ada sesuatu yang mengacaukan tugas itu. Untunglah, aku hanya mendengar dua kalimat itu. Setelah itu tak ada lagi. Aku selesaikan tugasku, meski dengan perasaan tak nyaman.

Usai salat Jumat suara itu sesekali menggiang di telingaku. Tapi aku anggap ini sebagai suara hatiku sendiri. Kadang aku memang membisiki diriku sendiri, agar senantiasa bercermin, apakah yang aku khutbahkan sudah aku laksanakan.

Kali berikutnya aku khutbah, aku lihat wajah itu lagi. Kali ini aku tak lagi menganggapnya kebetulan. Dan kali ini suara-suara itu lebih banyak. Lebih berani.

„Ittaqullah.“ kataku memulai khutbah.

„Sadarkah kamu, di tempat apa kamu berdiri sekarang ini? Sadarkah kamu, siapa yang berdiri di situ pertama kali?“

Aku mulai kehilangan konsentrasi. Untung aku kebetulan membawa naskah khutbah. Sesuatu yang sebenarnya jarang aku lakukan. Kehilangan konsentrasi, aku putuskan untuk membaca saja naskah itu.

„Rasulullah. Itu mimbar rasul. Dia dulu yang pertama berdiri di situ.“

Aku sedang berkhutbah. Tidak. Aku sedang membaca sesuatu. Membacakan sesuatu. Hanya mulutku yang membaca. Fikiranku sama sekali tak sadar dengan apa yang sedang aku baca. Aku justru sedang dikhutbahi oleh sebuah sorot mata.

“Yang berhak berdiri di situ mengkhutbahi orang lain adalah rasul Allah. Dan orang-orang yang serupa dengan dia. Yang benar-benar patuh pada Allah.“

„Kamu fikir ini mimbar pidato? Seminar? Atau panggung? Di mana kamu bisa memamerkan intelektualitasmu. Di mana kamu bisa memamerkan kemampuan oratormu. Di mana kamu fikir kamu bisa mempesona orang-orang.“

„Bukan. Ini adalah mimbar rasul.“

„Apa kamu merasa layak berdiri di mimbar rasul?“

Kalimat-kalimat senada itu terus bergema selama aku berdiri di mimbar. Aku berkeringat. Tanganku gemetar. Cepat-cepat aku akhiri khutbah. Lalu meminta pengurus mesjid untuk jadi imam. Tak sanggup aku mengimami salat.
Usai salat aku mencoba mencari pemilik wajah itu. Tapi sia-sia. Aku duduk di barisan terdepan. Tak mungkin aku bisa segera pergi seusai salat. Banyak orang yang masih berzikir di belakangku. Lagipula, biasanya aku harus sedikit berbincang dengan pengurus mesjid. Saat semua itu usai, lebih dari separuh hadirin sudah pulang. Pemilik wajah itu mestinya sudah pulang juga.

+++

Aku kembali ke Jepang. Ke kota tempat aku belajar dulu. Belum lama aku tinggalkan kota ini. Masih banyak teman yang dulu aku kenal, masih berada di situ. Dan tentu saja, mereka kembali memintaku memberi khutbah.

Aku agak takut sebenarnya. Sejak kejadian itu aku tak pernah berkhutbah lagi. Aku takut. Untungnya, kebetulan tak ada yang memintaku sampai aku berangkat ke Jepang. Tapi di sini, di tempat yang sangat jauh dari kotaku, apa yang aku takutkan? Tak mungkin dia ada di sini. Aku sanggupi permintaan temanku.

Tepat saat memberi salam, jantungku sejenak berhenti berdetak. Dia ada di sini! Di baris ke dua dari depan. Sangat dekat dengaku, karena ruang kecil tempat salat kami cuma bisa diisi empat baris. Dia duduk tak lebih dua meter dari tempat aku berdiri.

Kali ini dia tak menggangguku dengan suara-suara. Dia hanya menatapku seperti kala pertama kali aku melihatnya dulu. Tapi tetap saja dia mengganggu. Bagaimana mungkin dia bisa berada di sini. Sebuah kebetulan yang mustahil!

Sengaja aku tak mengimami salat. Aku berdiri tepat di belakang imam. Dia ada di baris ke dua. Tepat di belakangku. Diapit oleh dua orang yang aku kenal. Satu orang Mesir, satu lagi orang Pakistan. Kali ini aku pasti bisa menangkapnya. Akan aku tanyai dia. Siapa dia sebenarnya.
Usai memberi salam di akhir salat, aku langsung menoleh ke belakang. Tapi dia tak ada di situ. Dua orang tadi, orang Mesir dan Pakistan, duduk berdampingan. Dia tak ada. Aku sungguh heran. Tidak. Aku takut.

Aku masih mencoba meyakinkan bahwa pandanganku tak salah. Aku tanya beberapa orang Indonesia yang kebetulan salat di barisan kedua. Siapa tahu mereka kenal orang ini. Tapi tak ada satupun yang mengiyakan kehadiran orang itu. Aku jelaskan bagaimana wajahnya, postur tubuhnya. Tapi tak seorangpun yang memberi kesaksian bahwa orang itu wujud di ruang salat Jumat tadi.

Itulah terakhir kali aku memberi khutbah.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes