Pedagang Gendong
14 July 2009Emakku pedagang gendong. Sehelai kain batik panjang dia selempangkan di punggungnya, menyangga buntalan barang dagangan. Ujung kain panjang itu ia simpulkan di dadanya. Buntalan di punggungnya itu berisi pakaian. Ada kain batik (jarik), sarung, kemeja, celana, gaun, rok, pakaian anak, hingga pakaian dalam. Di tangan emak menjinjing sebuah keranjang pelastik, berisi obat-obatan, jamu, dan kosmetik. Itu juga barang dagangan.
Emak selalu berkebaya kalau pergi berdagang. Seingatku emak memang selalu berkebaya kalau keluar rumah. Tak pernah dia memakai rok. Kain batik yang dia pakai untuk bawahan kebaya, diikat dengan sebuah setagen berwarna merah hati. Tapi setagen Emak sungguh istimewa. Di tengahnya ada kantong bertutup restleting. Itulah dompet Emak. Dengan itu ia memastikan uangnya tidak akan pernah tercecer.
Emak kadang memakai sandal. Tapi jalan di kampung kami selalu becek kalau turun hujan. Di jalan yang becek sendal tak lagi nyaman dipakai. Permukaannya jadi licin, sehingga telapak kaki kita tak lagi bisa menginjaknya dengan tepat. Kalau telapak kaki terpeleset di atas sendal, tali sendal bisa putus. Karenanya di kampung kami lebih suka berkaki ayam saat jalanan becek. Demikian pula dengan Emak.
+++
Aku tak tahu persis kapan Emak mulai berdagang. Sejak aku mulai bisa mengingat sesuatu aku lihat Emak sudah berdagang. Cerita Emak, mulanya dia mengambil barang dagangan dari sepupunya yang tinggal di kota. Sesekali sepupunya itu pergi ke desa untuk berjualan. Emak membeli barang dagangan yang dia bawa, lalu dia jajakan berkeliling kampung.
Tak puas dengan itu, Emak pergi sendiri ke kota. Oleh sepupunya dia diperkenalkan kepada pedagang di pasar grosir. Emak menitipkan perhiasannya kepada pedagang itu untuk jaminan. Dia mendapat sejumlah barang dagangan untuk dibawa ke kampung. Uang hasil menjual dagangan itu nanti disetorkan, sambil mengambil dagangan baru. Setelah beberapa kali berhasil menyetor dengan baik, Emak tak perlu lagi menitipkan jaminan.
Beberapa kali bolak-balik ke pasar grosir, Emak kemudian menemukan sendiri pedagang lain yang mau memberi dia kulakan. Di masa jayanya seingatku Emak punya mitra sampai belasan pedagang grosir.
+++
Kenangan tentang Emak hampir selalu tentang seorang pedagang gendong. Aku banyak menghabiskan masa kecilku dengan menemani Emak berdagang. Saat SD aku hanya sekolah hingga jam sepuluh pagi. Pulang sekolah biasanya aku ikut Emak berdagang.
Aku adalah sekretaris pribadi Emak. Emak buta huruf. Dia memerlukan aku untuk mencatat siapa saja yang membeli barang. Orang kampung jarang membeli barang secara tunai. Mereka berutang, membayarnya dengan dua atau tiga kali cicilan. Aku mencatat siapa saja dan berapa utangnya, juga mencatat saat orang membayar sebagian atau melunasi utangnya.
Emak sebenarnya tak butuh catatan, karena dia selalu ingat. Dia ingat berapa harga sepotong kain yang dia beli di pasar grosir, juga berapa harga yang dia tetapkan saat kain itu dijual. Dia ingat siapa membeli apa, harganya berapa, kapan cicilan dibayar, berapa sisa hutang, dan kapan lunasnya. Tapi supaya aman, kami mencatatnya. Kalau aku kebetulan tidak ikut mendampingi Emak saat berdagang, catatan itu aku buat malam hari, setelah Emak pulang. Dia akan mendiktekan semua transaksi hari itu, aku mencatat semuanya.
Selain sebagai tukang catat, tugasku adalah menenteng keranjang pelastik. Kami berdua berjalan dari rumah ke rumah. Melewati kebun kelapa kami menyambangi kampung tetangga. Entah berapa rumah kami singgahi sehari, aku tak ingat benar. Tak jarang kami pulang ke rumah saat hari sudah gelap.
Berjalan bersama Emak selalu menyenangkan. Kami menyusuri jalan yang tak selalu nyaman. Di musim kemarau jalan tanah itu keras dan berdebu. Di musim hujan becek dan licin. Melintasi kebun kelapa di antara perkampungan, kami ditemani oleh gerombolan nyamuk. Jumlahnya ratusan, hingga dengung suaranya jelas terdengar.
Tapi berjalan bersama Emak memang selalu menyenangkan. Kami selalu mengobrol saat berjalan. Ada saja yang diceritakan Emak. Biasanya tentang masa kecil dia. Emak juga suka bergalur, menjelaskan silsilah keluarga. Dia menjelaskan siapa si Fulan, apa hubungan kekerabatannya dengan kami.
Di rumah yang kami kunjungi kami datang sebagai kerabat. Di kampung semua orang adalah kerabat. Masuk ke rumah biasanya Emak larut dalam obrolan. Dia tak langsung membuka barang dagangan. Nanti sambil mengobrol, barulah perlahan barang dagangan dibukakan.
Saat Emak larut dalam obrolan adalah saat yang memjemukan. Tak ada yang bisa aku lakukan. Tak jarang aku larut dalam kantuk.
+++
Emak tak hanya menjual barang. Ia memperkenalkan gaya hidup. Kampung kami ada di pulau. Untuk sampai ke kota orang perlu menumpang kapal motor sehari penuh. Pun biayanya tak murah. Banyak orang tak pernah pergi ke kota seumur hidupnya. Emak tak hanya menjual barang, tapi juga memperkenalkan cara hidup orang kota. Melalui Emak orang kampung kami mengenal kosmetik, berbagai model baju, juga jamu dan obat-obatan.
Kami, anak-anak Emak adalah peraga. Emak membelikan kami baju-baju dari kota. Baju bagus biasanya dipakai saat ada pesta nikah atau perayaan. Orang kampung tertarik membeli setelah melihat baju-baju yang kami pakai. Tak jarang orang rela membeli baju yang sudah pernah kami pakai.
+++
Selain menemani Emak berdagang aku juga menemani Emak belanja ke kota. Saat libur sekolah aku boleh ikut ke kota. Ini adalah keistimewaan keluarga kami. Tak banyak orang kampung yang bisa pergi ke kota. Apalagi anak-anak. Kami secara rutin pergi ke kota.
Menemani Emak berbelanja sebenarnya membosankan. Emak menghabiskan waktu berjam-jam di satu toko, membeli berbagai barang. Lalu dia pindah ke toko lain, mengulangi ritual yang sama. Aku biasanya duduk di pojok, dengan segelas es teh pemberian pemilik toko, menahan kantuk.
Tapi kota memang penuh daya tarik. Oplet, becak, sepeda motor adalah tontonan yang tak pernah aku lihat di desa. Juga lampu listrik. Pesona itu membuat aku tak pernah jera ikut Emak belanja.
Tentu ada hal lain. Sore hari, saat selesai belanja adalah waktunya makan enak. Biasanya Emak mengajakku makan di warung. Sate sapi dengan potongan lontong adalah kegemaranku. Juga gado-gado atau nasi Padang, atau semangkok mie bakso. Juga sop kaki sapi. Semua serba lezat belaka. Dan semua ini hanya ada di kota, saat menemani Emak berbelanja.
+++
Kenangan tentang Emak adalah kenangan tentang gelap, saat senja baru saja berlalu. Gelap di jalan kecil, sepanjang selokan di tengah kebun kelapa. Saat kami berjalan pulang ke rumah. Saat kaki pegal setelah berjalan berkilo-kilo. Saat tangan penat menenteng kerangjang pelastik.
Juga tentang toko-toko grosir. Tentang oplet dan becak. Tentang sate.
Tentang Emak yang tak pernah berhenti mencari cara menghidupi anak-anaknya.
http://berbual.com


