Aisatsu

27 July 2009

Aisatsu (salam/greeting) sangat penting dalam budaya Jepang. Sebelum ke Jepang saya tidak biasa menyapa orang dengan sapaan “selamat pagi“ atau sejenisnya. Sebagai gantinya saya ganti dengan pertanyaan “sedang apa”, “mau ke mana”, dan sejenis itu. Di Jepang aisatsu itu wajib. Tidak hanya di kantor/sekolah, juga di rumah. Saat bertemu pertama kali di pagi hari, juga saat hendak pulang sore hari. Pernah saya ditegur oleh Sensei karena tidak aisatsu saat bertemu dia. Sejak itu saya tak pernah lupa untuk aisatsu.

Ucapan salam dalam berbagai bahasa menarik untuk dicermati maknanya. Berikut makna beberapa aisatsu dalam bahasa Jepang.

Ohayougozaimasu. Ini adalah aisatsu di pagi hari. Saat keluarga baru bangun tidur, biasanya saling mengucapkan ini. Bentuk pendek yang tidak formal adalah sekedar mengucap „ohayo“.

Kata ini berasal dari kata “hayai” yang artinya cepat (early). Penambahan o di depan kata, gozaimasu di belakang, serta perubahan bentuk hayai menjadi hayaou adalah format perubahan kata dalam bahasa penghormatan (sonkeigo). Yang hendak diungkapkan dalam aisatsu ini adalah sebuah pujian: “Anda bangun cepat, ya.” Karena itu, kalau seseorang terlambat bangun, atau terlambat masuk kantor, biasanya sapaannya diplesetkan menjadi “osougozaimasu”, berasal dari kata “osoi” yang artinya lambat.

Konnichiwa dan konbanwa. Keduanya masing-masing berarti selamat siang dan selamat malam. Secara lateral keduanya adalah kalimat yang terpenggal, seakan ada bagian yang hendak diucapkan. Konnichiwa berarti „hari ini………..“, demikian pula konbanwa berarti „malam ini………“. Mungkin sisa kalimatnya berisi harapan/doa agar hari/malam ini jadi hari/malam yang baik.

Ucapan selamat malam yang setara dengan „good night“ adalah oyasuminasai. Artin lateralnya kurang lebih sama dengan good night, yaitu selamat beristirahat.

Aisatsu yang paling umum dikenal adalah arigatou gozaimasu, yang dipadankan dengan “terima kasih”. Bentuk katanya sama dengan ohayo gozaimasu, yaitu bentuk halus dari sebuah kata sifat. Asal katanya adalah arigatai. Kata ini sendiri berasal dari dua kata, yaitu ari (aru) yang artinya ada, dan katai (berubah ucapan menjadi gatai) yang artinya sulit. Arigatai sendiri maknanya „sulit/jarang ada“, karena itu menjadi sangat penting dan bermakna sekali. Mengucapkan arigatogozaimasu berarti kita menganggap sesuatu yang telah dilakukan untuk kita sangat penting dan berarti buat kita, karena itu kita berterima kasih.

Masih dengan pola yang sama adalah ucapan selamat atas keberhasilan seseorang, yaitu omedetou gozaimasu. Asal katanya adalah medetai, yang artinya sesuatu yang menyenangkan dan patut dirayakan.

Saat hendak keluar rumah orang Jepang mengucapkan ittekimasu, artinya saya pergi (sekarang). Orang yang ditinggalkan membalasnya dengan itterashai (selamat jalan). Yang unik adalah saat pulang, yang diucapkan adalah tadaima. Arti lateralnya adalah „sekarang“. Mungkin lengkapnya adalah tadima kaerimashita, saya sekarang sudah pulang. Dalam kartun Doraemon, Nobita selalu mengatakan „saya sudah pulang“, yang merupakan terjemahan dari tadaima. Jawaban atas tadaima adalah okaerinasai, yang artinya „selamat pulang“.

Aisatsu yang agak jarang saya temukan dalam bahasa lain adalah otsukaresamadeshita dan gokurosamadeshita. Asal kata kedua aisatsu ini bermakna hampir sama. Tsukare artinya capek/lelah, kurou juga kurang lebih sama maknanya. Kata sama dalam kata ini bermakna tuan, bentuk halus dari san.

Kedua aisatsu ini dutujukan kepada seseorang yang baru selesai melakukan sesuatu. Otsukaresama deshita bisa digunakan kalau pengucapnya juga ikut bersama melakukan aktivitas tadi. Sedangkan gokurosamadeshita lebih khusus, yaitu ucapan untuk seseorang yang telah melakukan sesuatu bagi si pengucap. Arti lateral secara lengkapnya kurang lebih „Anda telah melakukan sesuatu untuk saya sampai Anda kelelahan“.

Mirip dengan struktur ini, kepada orang yang telah menunggu kita kita ucapkan omachido samadeshita (artinya Anda telah menunggu).

Ganbatte kudasai atau ganbare adalah ucapan untuk menyemangati seseorang yang akan melakukan sesuatu seperti menjalani ujian atau mencoba sebuah tantangan. Asal katanya adalah ganbaru, yang artinya mengerahkan segenap kemampuan. Aisatsu ini berbentuk kalimat perintah. Pesannya adalah „gunakan seluruh kemampuanmu“. Yang diberi ucapan membalasnya dengan ucapan ganbarimasu, artinya dia akan mengerahkan seluruh kemampuan.

Di pabrik saya setiap selesai upacara Senin pagi seluruh karyawan saya ajak menerikakkan kata-kata itu: Ganbarimasu!

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Intelijen

27 July 2009

Pagi buta di hari Senin. Presiden Susila Pandir Yardayana memanggil seluruh menteri untuk rapat darurat. Para menteri baru saja selesai beristirahat di akhir pekan. Banyak yang masih bermalas-malasan. Tapi telepon dari ajudan presiden memerintahkan mereka untuk hadir di kantor kepresidenan pukul enam pagi. Keadaan genting.

Di depan menteri yang masih berwajah kuyu dan ngantuk, Presiden Pandir memberi arahan.

“Saudara-saudara, ini keadaan genting. Saya baru saja mendapat informasi dari intelijen kita bahwa akan ada tindakan makar untuk merongrong kewibawaan pemerintah. Menciptakan keadaan kacau, menurunkan kepercayaan rakyat lalu menyengsarakan mereka, serta memberi malu kita di depan masyarakat internasional.”

Ruang rapat langsung gaduh. Tak ada lagi menteri yang mengantuk. Semua jadi serius.

“Lebih jelasnya bagaimana, Pak?” tanya Menteri Pertahanan. Dia heran, karena sebagai orang yang bertanggung jawab dalam soal keamanan dia justru tidak mendapat laporan.

“Jadi begini.” jawab Presiden. “Ini soal intelijen. Ada informasi bahwa akan ada yang mencoba untuk mengubah lusa menjadi hari Kamis.”

Ruang rapat tambah gaduh. Presiden agak jengkel, lalu melanjutkan bicara keras-keras.

“Sekali lagi ini intelijen. Ada pihak-pihak yang mencoba membuat kekacauan, dengan mengubah lusa menjadi hari Kamis. Tujuannya jelas, menciptakan kebingungan dan keresahan. Juga kekacauan ekonomi. Ini intelijen. bukan fitnah, bukan pula gosip.”

“Coba bayangkan, bagaimana kacaunya perekonomian kita bila hanya kita saja yang menjalani hari Kamis, sementara di belahan dunia lain orang menjalani hari Rabu. Seluruh transaksi ekonomi kita akan kacau.”

“Ini jelas usaha untuk mempermalukan saya sebagai Presiden, dan tentu saja mempermalukan bangsa Indonesia.”

“Kita baru saja memulai sejarah baru di bawah kepemimpinan saya. Di sana-sini terlihat kemajuan pesat yang hanya bisa disaksikan selama pemerintahan saya. Kesejahteraan membaik, politik dan keamanan stabil. Dunia luar juga mulai menghargai kita. Saya mulai dikenal sebagai tokoh yang berpengaruh di tengah percaturan politik dunia.”

“Bangsa kita…….”

“Maaf, Pak. Saya minta izin bicara.” kata Menteri Pertahanan agak gemetar. Dia merasa Presiden sudah bicara melantur, agak jauh dari pokok pembicaraan.

“Apa?” tanya Presiden berang. Dia tersinggung pembicaraannya dipotong.

“Maksud saya apa mungkin…? Bagaimana caranya?”

“Apa yang tidak mungkin? Orang jahat selalu bisa mewujudkan niatnya kalau kita tidak pintar mencegahnya.”

“Tapi bagaimana caranya? Bagaimana mengubah lusa, hari Rabu menjadi hari Kamis? Itu tidak mungkin, dan belum pernah terjadi di manapun.”

“Justru karena itu, belum pernah terjadi di manapun. Ini akan menjadi kejadian pertama di dunia. Itu akan makin mempermalukan kita. Negara lain mungkin sudah pernah menghadapi usaha makar semacam ini, tapi berhasil menggagalkannya. Kita juga harus bisa.”

“Maksud saya, itu mustahil!”

“Hah??!! Kamu merendahkan kemampuan bangsa kita. Kalau negara lain bisa, artinya kita juga pasti bisa!”

“Bukan begitu maksud saya, Presiden Pandir. Maksud saya mengubah hari Rabu menjadi hari Kamis itu sesuatu yang mustahil.”

“Mustahil bagaimana? Tak ada yang mustahil. Yang jelas saya tidak mau kecolongan. Jangan meremehkan potensi ancaman sekecil apapun. Paham? Dan kamu Menteri Pertahanan, kamu paling bertanggung jawab di sini.”

Menteri Pertahanan diam sejenak. Hendak mengajukan protes, tapi kemudian membatalkannya. Wajahnya terlihat putus asa.

“Segera siagakan seluruh kekuatan militer dan polisi. Kerahkan seluruh intel dan reserse. Cari dan gali semua kemungkinan. Cegah jangan sampai makar ini terjadi. Ingat, kita tidak punya banyak waktu. Jangan sampai kecolongan. Saya akan segera memberitahu rakyat. Kumpulkan semua wartawan, saya akan membuat konferensi pers darurat.”

Lalu rapat dibubarkan. Di teras istana Presiden menemui wartawan untuk menyampaikan berita tentang keadaan darurat.

+++

Pengumuman Presiden ditanggapi rakyat dengan kebingungan. Tak ada yang paham maksudnya. Tak ada yang percaya ada yang bisa mengubah lusa menjadi hari Kamis. Mereka heran dengan ketakutan Presiden. Kritik bermunculan menanggapi berita itu. Presiden dianggap mengada-ada, justru membuat rakyat resah.

Tapi Presiden tak peduli. Selasa pagi dia kembali mengundang wartawan, memberi keterangan pers.

“Peringatan saya dianggap main-main dan menakut-nakuti rakyat. Sekali lagi saya tegaskan, saya hanya mengingatkan, bukan menakut-nakuti.”

+++

Lusa harinya semua berjalan seperti biasa. Menteri pertahanan bangun paling pagi. Sebenarnya dia memang tidak tidur semalaman, menunggu hari berganti. Dia sudah memerintahkan bawahannya untuk waspada, tapi dia sendiri bingung. Ia tidak bisa memberi instruksi yang jelas, karena dia tak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Tapi agar tidak kecolongan dia memerintahkan semua jajarannya untuk waspada.

Begitu jam berdetang dua belas kali di tengah malam, dia segera mengecek di TV apakah hari itu sudah hari Rabu. Sialnya tak ada stasiun TV yang bicara soal nama hari. Jadi dia terpaksa menunggu datangnya koran pagi, sambil gemetar khawatir. Pukul 4 subuh koran datang. Dia lega. Jelas di situ tertulis hari Rabu.

+++

Pagi-pagi Menteri Pertahanan sudah datang menghadap Presiden. Mengabarkan bahwa hari itu tetap hari Rabu. “Saya sudah tahu.” jawab Presiden pendek.

Pukul delapan pagi Presiden kembali melakukan jumpa pers.

“Seperti saudara-saudara ketahui, hari ini tetap hari Rabu. Artinya jajaran aparat keamanan kita berhasil menggagalkan usaha makar. Kita berhasil melakukan antisipasi. Peringatan yang saya berikan dua hari yang lalu agaknya membuat para drakula yang hendak mengkhianati perjuangan bangsa kita menjadi takut. Boleh jadi mereka membatalkan niatnya, karena melihat rakyat begitu bersatu padu, setia kepada pemerintahan saya. Untuk itu saya ucapkan ribuan terima kasih kepada seluruh rakyat.”

wordpress plugins and themes

Pedagang Gendong

14 July 2009

Emakku pedagang gendong. Sehelai kain batik panjang dia selempangkan di punggungnya, menyangga buntalan barang dagangan. Ujung kain panjang itu ia simpulkan di dadanya. Buntalan di punggungnya itu berisi pakaian. Ada kain batik (jarik), sarung, kemeja, celana, gaun, rok, pakaian anak, hingga pakaian dalam. Di tangan emak menjinjing sebuah keranjang pelastik, berisi obat-obatan, jamu, dan kosmetik. Itu juga barang dagangan.

Emak selalu berkebaya kalau pergi berdagang. Seingatku emak memang selalu berkebaya kalau keluar rumah. Tak pernah dia memakai rok. Kain batik yang dia pakai untuk bawahan kebaya, diikat dengan sebuah setagen berwarna merah hati. Tapi setagen Emak sungguh istimewa. Di tengahnya ada kantong bertutup restleting. Itulah dompet Emak. Dengan itu ia memastikan uangnya tidak akan pernah tercecer.

Emak kadang memakai sandal. Tapi jalan di kampung kami selalu becek kalau turun hujan. Di jalan yang becek sendal tak lagi nyaman dipakai. Permukaannya jadi licin, sehingga telapak kaki kita tak lagi bisa menginjaknya dengan tepat. Kalau telapak kaki terpeleset di atas sendal, tali sendal bisa putus. Karenanya di kampung kami lebih suka berkaki ayam saat jalanan becek. Demikian pula dengan Emak.

+++
Aku tak tahu persis kapan Emak mulai berdagang. Sejak aku mulai bisa mengingat sesuatu aku lihat Emak sudah berdagang. Cerita Emak, mulanya dia mengambil barang dagangan dari sepupunya yang tinggal di kota. Sesekali sepupunya itu pergi ke desa untuk berjualan. Emak membeli barang dagangan yang dia bawa, lalu dia jajakan berkeliling kampung.

Tak puas dengan itu, Emak pergi sendiri ke kota. Oleh sepupunya dia diperkenalkan kepada pedagang di pasar grosir. Emak menitipkan perhiasannya kepada pedagang itu untuk jaminan. Dia mendapat sejumlah barang dagangan untuk dibawa ke kampung. Uang hasil menjual dagangan itu nanti disetorkan, sambil mengambil dagangan baru. Setelah beberapa kali berhasil menyetor dengan baik, Emak tak perlu lagi menitipkan jaminan.

Beberapa kali bolak-balik ke pasar grosir, Emak kemudian menemukan sendiri pedagang lain yang mau memberi dia kulakan. Di masa jayanya seingatku Emak punya mitra sampai belasan pedagang grosir.

+++

Kenangan tentang Emak hampir selalu tentang seorang pedagang gendong. Aku banyak menghabiskan masa kecilku dengan menemani Emak berdagang. Saat SD aku hanya sekolah hingga jam sepuluh pagi. Pulang sekolah biasanya aku ikut Emak berdagang.

Aku adalah sekretaris pribadi Emak. Emak buta huruf. Dia memerlukan aku untuk mencatat siapa saja yang membeli barang. Orang kampung jarang membeli barang secara tunai. Mereka berutang, membayarnya dengan dua atau tiga kali cicilan. Aku mencatat siapa saja dan berapa utangnya, juga mencatat saat orang membayar sebagian atau melunasi utangnya.

Emak sebenarnya tak butuh catatan, karena dia selalu ingat. Dia ingat berapa harga sepotong kain yang dia beli di pasar grosir, juga berapa harga yang dia tetapkan saat kain itu dijual. Dia ingat siapa membeli apa, harganya berapa, kapan cicilan dibayar, berapa sisa hutang, dan kapan lunasnya. Tapi supaya aman, kami mencatatnya. Kalau aku kebetulan tidak ikut mendampingi Emak saat berdagang, catatan itu aku buat malam hari, setelah Emak pulang. Dia akan mendiktekan semua transaksi hari itu, aku mencatat semuanya.

Selain sebagai tukang catat, tugasku adalah menenteng keranjang pelastik. Kami berdua berjalan dari rumah ke rumah. Melewati kebun kelapa kami menyambangi kampung tetangga. Entah berapa rumah kami singgahi sehari, aku tak ingat benar. Tak jarang kami pulang ke rumah saat hari sudah gelap.

Berjalan bersama Emak selalu menyenangkan. Kami menyusuri jalan yang tak selalu nyaman. Di musim kemarau jalan tanah itu keras dan berdebu. Di musim hujan becek dan licin. Melintasi kebun kelapa di antara perkampungan, kami ditemani oleh gerombolan nyamuk. Jumlahnya ratusan, hingga dengung suaranya jelas terdengar.

Tapi berjalan bersama Emak memang selalu menyenangkan. Kami selalu mengobrol saat berjalan. Ada saja yang diceritakan Emak. Biasanya tentang masa kecil dia. Emak juga suka bergalur, menjelaskan silsilah keluarga. Dia menjelaskan siapa si Fulan, apa hubungan kekerabatannya dengan kami.

Di rumah yang kami kunjungi kami datang sebagai kerabat. Di kampung semua orang adalah kerabat. Masuk ke rumah biasanya Emak larut dalam obrolan. Dia tak langsung membuka barang dagangan. Nanti sambil mengobrol, barulah perlahan barang dagangan dibukakan.

Saat Emak larut dalam obrolan adalah saat yang memjemukan. Tak ada yang bisa aku lakukan. Tak jarang aku larut dalam kantuk.

+++

Emak tak hanya menjual barang. Ia memperkenalkan gaya hidup. Kampung kami ada di pulau. Untuk sampai ke kota orang perlu menumpang kapal motor sehari penuh. Pun biayanya tak murah. Banyak orang tak pernah pergi ke kota seumur hidupnya. Emak tak hanya menjual barang, tapi juga memperkenalkan cara hidup orang kota. Melalui Emak orang kampung kami mengenal kosmetik, berbagai model baju, juga jamu dan obat-obatan.

Kami, anak-anak Emak adalah peraga. Emak membelikan kami baju-baju dari kota. Baju bagus biasanya dipakai saat ada pesta nikah atau perayaan. Orang kampung tertarik membeli setelah melihat baju-baju yang kami pakai. Tak jarang orang rela membeli baju yang sudah pernah kami pakai.

+++
Selain menemani Emak berdagang aku juga menemani Emak belanja ke kota. Saat libur sekolah aku boleh ikut ke kota. Ini adalah keistimewaan keluarga kami. Tak banyak orang kampung yang bisa pergi ke kota. Apalagi anak-anak. Kami secara rutin pergi ke kota.

Menemani Emak berbelanja sebenarnya membosankan. Emak menghabiskan waktu berjam-jam di satu toko, membeli berbagai barang. Lalu dia pindah ke toko lain, mengulangi ritual yang sama. Aku biasanya duduk di pojok, dengan segelas es teh pemberian pemilik toko, menahan kantuk.

Tapi kota memang penuh daya tarik. Oplet, becak, sepeda motor adalah tontonan yang tak pernah aku lihat di desa. Juga lampu listrik. Pesona itu membuat aku tak pernah jera ikut Emak belanja.

Tentu ada hal lain. Sore hari, saat selesai belanja adalah waktunya makan enak. Biasanya Emak mengajakku makan di warung. Sate sapi dengan potongan lontong adalah kegemaranku. Juga gado-gado atau nasi Padang, atau semangkok mie bakso. Juga sop kaki sapi. Semua serba lezat belaka. Dan semua ini hanya ada di kota, saat menemani Emak berbelanja.

+++

Kenangan tentang Emak adalah kenangan tentang gelap, saat senja baru saja berlalu. Gelap di jalan kecil, sepanjang selokan di tengah kebun kelapa. Saat kami berjalan pulang ke rumah. Saat kaki pegal setelah berjalan berkilo-kilo. Saat tangan penat menenteng kerangjang pelastik.

Juga tentang toko-toko grosir. Tentang oplet dan becak. Tentang sate.

Tentang Emak yang tak pernah berhenti mencari cara menghidupi anak-anaknya.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Masa Depan Pemberantasan Korupsi

9 July 2009

Pemilihan Presiden sudah usai. SBY terpilih kembali. Saya mencatat hal yang diulang-ulang selama kampanye SBY. “Yang sudah baik akan diteruskan, yang masih kurang akan diperbaiki.” Bagaimana soal pemberantasan korupsi?

Majalah TEMPO minggu lalu melaporkan bahwa dari 400 lebih kasus korupsi yang dibawa ke pengadilan umum, 277 di antaranya berakhir dengan vonis bebas. Ini belum termasuk pengentian penyidikan di tengah jalan dengan SP3. Kita tahu banyak kasus megakorupsi seperti kasus Balongan maupun kasus penjualan tanker Pertamina yang dihentikan penyidikannya dengan SP3. Yang kemudian diadili dan divonis bersalah sekalipun, tak semuanya menjalani hukuman. Kasus Djoko Tjandra adalah contoh mutakhirnya.

Ini adalah gambaran bahwa mafia peradilan masih tak tersentuh. Mereka masih begitu nyata berkuasa, menginjak-injak hukum, dan mengencingi keadilan. Lembaga-lembaga penegak hukum, yaitu Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Mahkamah Agung, sama sekali belum tersentuh reformasi. Reformasi di lembaga-lembaga ini sama sekali belum dimulai. Padahal secara struktural Kepolisian dan Kejaksaan berada langsung di bawah Presiden.

Bagi saya ini bukan sebuah kekurangan. Ini adalah sebuah kelalaian. Sebuah kerja besar, yang mendesak untuk segera dilaksanakan, tapi tak kunjung dimulai. SBY mengatakan akan memperbaiki yang masih kurang, tapi dia tak pernah menyinggung soal hal-hal yang tak pernah dimulainya. Saya khawatir, gerakan ini tak akan pernah dilakukan.

Bagaimana dengan KPK? Saya melihat banyak kalangan gerah terhadap KPK. Lembaga-lembaga yang melahirkan KPK seperti DPR, Kepolisian, Kejaksaan, bahkan lembaga Kepresidenan, seperti kaget dengan eksistensi KPK. Ibarat memelihara anak macan, KPK tak lagi lucu dan enak dilihat, tapi mulai berani menggigit tangan tuannya. Sang Tuan pun mulai gerah.

Presiden SBY adalah salah satu yang gerah soal KPK. Mungkin karena besannya dikirim ke penjara oleh KPK. Presiden menganggap KPK sudah menjadi lembaga super, dengan kewenangan super. Ini sepertinya menggelisahkannya. Bukan tak mungkin di masa depan ada kerabat atau kolega dia yang dibui oleh KPK.

Kejaksaan jelas gerah. Urip adalah contoh nyata bahwa KPK adalah momok yang menakutkan bagi para jaksa. Demikian pula dengan kepolisian. Kabareskrim marah ketika tahu bahwa telpon genggamnya disadap oleh KPK. Demikian pula DPR.

Maka dimulailah gerakan sistematis menggembosi KPK. Salah satunya melalaui pembahasan UU Tipikor yang terseok-seok. Ini adalah lahan potensial untuk menggembosi, memreteli KPK.

Sementara itu KPK juga tidak steril. Ada banyak indikasi bahwa KPK sudah mulai dicemari oleh berbagai kepentingan pribadi pengurusnya. Salah satunya adalah kasus Antasari Azhar. Artinya, orang bisa punya banyak dalih untuk menggembosi KPK.

Perlu dicatat bahwa lembaga semacam KPK sudah pernah ada sebelumnya. Tapi tak pernah ada yang berumur panjang. Tak pernah ada yang benar-benar efektif memberantas korupsi. Modusnya sama: Pemberantasan korupsi terhenti ketika ia sudah mulai menggerogoti kepentingan orang-orang yang berkuasa.

Bagaimana 5 tahun ke depan? Embuh.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Kabur

2 July 2009

Telepon berdering di suatu pagi buta, di penghujung musim dingin. Udara dingin yang menyapu hidungku hingga ke rongga dalamnya mengingatkan aku satu hal: di luar sana dingin, kontras benar dengan kehangatan futon yang membungkus tubuhku. Peringatan itu langsung mematikan gerak reflek tubuhku yang tadinya hendak beranjak bangun ketika mendengar dering telepon. Aku bertahan, berharap penelepon menyadari bahwa dia menelpon terlalu pagi.

Tapi harapanku sia-sia. Dering telepon hanya berhenti sejenak, lalu mulai lagi. Aku fikir ini pasti telepon penting. Mungkin dari keluarga di tanah air. Dengan malas aku melangkah ke pesawat telepon di ruang tengah.

“Halo….

“Pak Hasan?”

“Ya…” jawabku sambil mengantuk.

„Ini Nadri, Pak.“

„Iya. Ada apa?“ tanyaku datar. “Siapa pula Nadri ini”, fikirku.

“Pak, saya ambil keputusan. Saya mau kabur.”

“Apa???!!” teriakku. Sekarang aku ingat siapa si Nadri ini.

„Iya, Pak. Maaf, saya tidak mengikuti nasihat, Bapak. Doakan saya ya, Pak.”

Lalu telepon diputus tergesa-gesa.

Masih agak mengantuk aku henyakkan punggungku ke sandaran sofa butut di ruang tengah. Dingin masih terasa menggigit di permukaan kulitku. Tapi tak ku hiraukan. Fikiranku tak bisa lepas dari Nadri.

„Nekat benar dia.“ fikirku putus asa.

Aku hanya pernah bertemu Nadri sekali. Bukan pula pertemuan yang disengaja. Waktu itu aku dalam perjalanan pulang dari Sendai, sebuah kota di bagian utara Jepang. Saat itu aku menetap di Kumamoto, sebuah kota di pulau Kyushu, di bagian selatan.

Hari itu, seperti biasa aku tiba di bandara hampir 2 jam sebelum keberangkatan pesawat. Tak ada hal yang perlu dikerjakan di hotel. Jadi aku memilih untuk cepat-cepat saja ke bandara. Tak ada yang menarik di sini. Ini bandara kecil saja. Aku sudah ke sini lebih dari sepuluh kali. Karena itu segera setelah check in aku langsung menuju ke ruang tunggu untuk duduk-duduk.

Di ruang tunggu itu untuk pertama kali aku melihat Nadri. Ia waktu itu bersama 3 orang temannya. Sejak melihatnya dari kejauhan aku sudah langsung bisa mengenali mereka. Empat orang pemuda, berumur sekitar 25 tahun. Berkulit gelap, kontras dengan orang-orang Jepang di sekeliling mereka. „Mereka pasti trainee dari Indonesia“, fikirku. Aku langsung menuju ke kursi tempat mereka duduk.

„Orang Indonesia, ya?“ sapaku. Lalu kami berkenalan.

Berempat mereka dalam perjalanan dari Kesennuma, sebuah kota pelabuhan kapal penangkap ikan, berpuluh kilometer di utara Sendai. Aku pernah sekali berkunjung ke kota yang menghadap ke laut Pasifik ini. Di sana memang ada cukup banyak orang Indonesia yang bekerja sebagai awak kapal penangkap ikan.

Tapi Nadri dan kawan-kawannya bukan pekerja. Mereka trainee. Ada ribuan, bahkan mungkin belasan ribu trainee asal Indonesia di Jepang. Mereka belajar dengan cara magang, belajar sambil bekerja di berbagai tempat.Aku beberapa kali bertemu dengan para trainee ini dalam berbagai kesempatan. Umumnya pertemuan tak sengaja, saat main ke kota, di tempat wisata. Ada pertemuan yang berlanjut. Beberapa trainee di sekitar Kumamoto sesekali berkunjung ke rumahku, khususnya saat lebaran.

Ada beberapa trainee yang aku temui di kantor imigrasi. Mereka ini trainee yang bermasalah. Ada yang terlibat tindak kriminal di tempat kerja, antara lain berkelahi. Ada pula yang melanggar aturan keimigrasian, yaitu kabur dari majikan tempat magang, lalu tinggal melebihi batas waktu yang ditetapkan pada visa mereka. Karenanya mereka diproses untuk dipulangkan ke Indonesia. Aku jadi penerjemah saat mereka dalam proses pemeriksaan di imigrasi.

Dari berbagai pertemuan itu terekam berbagai cerita. Ada cerita indah. Para trainee itu magang di perusahaan. Sambil magang mereka diajari berbagai ketrampilan teknis. Ada yang disuruh ikut kursus bahasa Jepang di akhir pekan. Beberapa trainee yang aku temui merasa puas. Dengan sisa uang saku yang mereka tabung, ditambah ketrampilan yang mereka peroleh, mereka berniat membuka usaha kalau nanti sudah pulang. Bahkan ada trainee yang tadinya memang sudah sarjana di Indonesia, berhasil memperoleh beasiswa untuk kuliah S2.

Tapi tak sedikit pula kisah pilu. Ada trainee yang dipekerjakan bak kuli. Di proyek-proyek konstruksi, mereka hanya jadi tukang angkut, tukang pikul. Tak ada ketrampilan khusus yang bisa dipelajari di situ. Mereka dipekerjakan melebihi batas maksimal jam kerja, tanpa uang lembur. Alasannya, mereka trainee, tidak berhak atas uang lembur. Uang saku yang mereka terima pun, jauh di bawah standar upah minimum di Jepang.

Itulah yang dialami Nadri dan kawan-kawan.

Nadri kebetulan sekampung denganku. Ia berasal dari Sambas, pesisir utara Kalimantan Barat. Kampungku ada di pesisir selatan. Ia lulusan SMK Perikanan. Lulus SMK iya menganggur, hanya kerja serabutan. Ia tertarik melamar saat mendengar ada kesempatan magang di Jepang melalui Disnaker. Ia tahu jepang maju dalam bidang perikanan. Ia berharap dapat ketrampilan dan pengetahuan di sana.

Nadri ditempatkan di sebuah kapal penangkap ikan, kalau tak salah khusus untuk menangkap ikan tuna (maguro). Wilayah operasinya di Indonesia juga. Di sekitar Papua. Sekali melaut menghabiskan waktu 2-3 bulan. Pekerjaannya tak lebih dari tukang angkat dan tukang pikul. Tak ada teknik khusus yang diajarkan. Ia sama sekali tak dapat kesempatan untuk, misalnya, belajar mengoperasikan peralatan.

Soal upah dan jam kerja yang tak seimbang adalah keluhan utama Nadri. Rekan-rekannya yang bekerja di darat mendapat uang saku sekitar 70-80 ribu yen sebulan. Mereka umumnya libur pada hari Minggu. Nadri selama melaut harus bekerja tanpa libur. Uang saku yang dia terima 50 ribu yen. Sebenarnya jumlah ini tak jauh berbeda nilainya dengan teman-temannya yang bekerja di darat tadi. Para trainee yang kerja di darat itu harus membayar sendiri sewa tempat tinggal berikut kebutuhan makan mereka. Sedangkan Nadri, semua kebutuhan itu ditanggung perusahaan. Tapi bagi Nadri, kerja berbulan bulan tanpa libur itu sungguh berat. Ia hanya libur saat kapal merapat, sekitar 1 minggu sebelum kembali melaut.

Aku mendengar keluhan Nadri sambil mencoba membetulkan cara pandangnya.

“Orang Jepang itu kasar, Pak. Suka memaki. Kalau saya salah dalam bekerja, saya dimaki-maki.”

“Budaya mereka memang begitu. Saya saja, yang sudah S2 dan calon doktor juga dimaki-maki oleh Sensei saya.”

“Lebih parah lagi, mereka kadang main tangan. Main tempeleng.“

Nadri tak mengada-ada. Trainee yang aku temui saat dia sedang menjalani proses hukum di kantor imigrasi juga bercerita tentang hal yang sama.

Sering aku lihat di acara TV. Pembuat ramen (la mien dalam bahasa Cina, bakmi) yang sedang belajar pada yang sudah senior sering mendapat perlakuan itu. Dimaki-maki, tak jarang dipukul. Pukulan itu menurutku bukan untuk menyakiti, tapi untuk menggugah kesadaran. Namun bagi orang Indonesia macam Nadri, hal seperti itu dianggap tak patut.

Nadri mengungkapkan niatnya untuk kabur. Artinya lari dari majikannya, lalu bekerja sebagai pekerja ilegal. Berulang kali aku berusaha mencegahnya.

„Kamu akan ditangkap. Itu pasti. Bagaimanapun lihainya kamu lari, kamu pasti akan tertangkap.“

„Tidak apa-apa. Yang penting kerja, kumpulkan uang, segera kirim uang itu ke Indonesia. Saat
tertangkap nanti, kalau kita tidak punya uang, tiket pulang akan dibayari pemerintah Jepang.”

“Tapi ada kemungkinan kamu dipenjara, tidak langsung dikirim pulang.“

„Tidak apa-apa. Penjara Jepang toh tidak buruk.”

Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Kalau penjara pun dianggap baik olehnya, apa yang bisa kukatakan? Kami tinggal di negeri yang sama. Tapi kata-kata Nadri mengingatkanku bahwa dia berada di dunia yang lain. Tak patut bagiku untuk memaksakan cara pandangku padanya. Aku sama sekali tak mengenal dunianya.

Kata-kata Nadri yang terakhir itu kembali terngiang di telingaku. „Ki wo tsukete.“ Cuma itu yang bisa aku gumankan. Hati-hati, dik.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Showa no oyaji

18 June 2009

Orang Jepang memulai perhitungan tahun dengan bertahtanya Kaisar (Tenno). Dalam dokumen resmi, mereka tidak menggunakan perhitungan tahun Masehi (Seireki-西暦), meski perhitungan bulannya tetap mengikuti. Tahun 2009 ditulis sebagai tahun Heisei 21.

Kaisar Hirohito berkuasa dari tahun 1926 sampai tahun 1989. Periode itu disebut periode Showa (昭和) dan Kaisar Hirohito disebut sebagai Showa Tenno. (昭和天皇). Saat dia meninggal tahun 1989, itu adalah tahun ke 64 Tahun Showa, dan tahun yang sama menjadi tahun pertama atau Gannen (元年) bagi kaisar berikutnya, Akihito. Periode pemerintahan Kaisar Akihito disebut periode Heisei (平成) dan saat ini memasuki tahun ke 21.

Periode Showa adalah periode yang sulit bagi orang Jepang. Dalam periode ini Jepang mulai melakukan ekspansi ke Asia Tenggara, kemudian diikuti dengan Perang Dunia II, di mana Jepang mengalami kekalahan. Pasca perang, orang-orang Jepang harus berjuang dalam kemiskinan, untuk bangkit. Saya ingin menuliskan perjalanan para ayah atau oyaji (親父)pada periode ini untuk menggambarkan situasi pada zaman tersebut.

Sensei saya lahir tahun 1942. Tepat saat perang mulai berkecamuk. Ayahnya adalah seorang tentara, sebagaimana banyak orang lain pada zaman itu. Saat Sensei baru berusia beberapa tahun, ayahnya ditugaskan berangkat perang. Ayahnya gugur di Papua.

Sensei saya adalah satu dari ribuan anak zaman itu. Artinya ada ribuan ayah bernasib sama dengan ayah Sensei. Adapun ayah-ayah yang lain, yang tidak dikirim ke medan perang, tidak kalah menderitanya dengan yang berperang. Itulah salah satu potret ayah zaman Showa.

Perang usai. Tapi Jepang sudah terlanjur luluh lantak. Di sana sini mulai diusahakan perbaikan. Tapi perubahan berjalan lambat. Selama beberapa periode, tak banyak yang bisa dikerjakan. Pada masa-masa seperti ini para ayah pulang ke rumah sore hari, dan secara keras mendidik disiplin pada anak-anaknya.

Ayah adalah figur sentral. Ayah akan duduk di ruang tengah (ima), anak-anak berkumpul bersama. Baru makan malam bisa dimulai.

Orang Jepang mandi malam dengan berendam di air panas (ofuro). Ayah mendapat giliran pertama masuk ofuro. Baru kemudian anggota keluarga yang lain. Tak jarang ibu mendapat jatah terakhir.

Masa-masa akhir decade 50-an, ekonomi mulai membaik. Dekade 60-an adalah saat ekonomi sedang menuju puncak. Salah satu tandanya adalah penyelenggaraan Olimpiade di Tokyo tahun 1964.

Pada masa ini, para ayah adalah para pekerja keras. Keluar rumah saat anak-anaknya masih tidur, dan kembali saat anak-anaknya sudah tidur. Beberapa teman saya bercerita bahwa dia sama sekali tidak mengenal sosok ayahnya ketika masih kecil.

Sensei saya yang punya anak seumur dengan saya juga bercerita, bahwa dia tidak pernah bercengkrama dengan anak-anaknya saat mereka masih kecil. Dia selalu sibuk bekerja.

Baru-baru ini saya berbincang dengan salah seorang kenalan saya, seorang Presdir perusahaan Jepang di Indonesia. Dia juga bercerita hal yang sama. Belasan tahun dari karirnya dihabiskan dengan bekerja di kota yang berbeda dengan tempat keluarganya tinggal. Ia tinggal sendiri terpisah dari keluarganya. Termasuk beberapa tahun di luar negeri.Dalam bahasa Jepang ini disebut tanshin funin (単身赴任). Dia nyaris tak mengenal anaknya, karena tidak bersama dia selama masa pertumbuhan.

Bagi orang Jepang, tanshin funin itu hal yang tidak enak, tapi harus diterima sebagai sesuatu yang lumrah. Ada mungkin yang keberatan, tapi jarang yang mengelak. Orang Jepang memperlakukan tugas dari perusahaan seperti tentara menerima perintah. Mereka hanya menjalankan. Tidak membantah. Juga tidak mengelak, misalnya dengan pindah ke perusahaan lain untuk mencari suasana yang lebih baik.

Para ayah di dekade 80-an adalah mereka yang menikmati puncak kemajuan ekonomi Jepang, khususnya pada masa bubble. Mereka ini tetap pekerja keras. Tapi sudah lebih „manusiawi“. Artinya sudah bisa menyisihkan waktu untuk berkumpul besama keluarga.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Sonkeigo

16 June 2009

Sonkeigo

„Yao sensei wa tadaima irassyaimasen.“

Kalimat itu sangat sering diucapkan oleh mahasiwa Jepang saat menerima telepon di kantor grup riset kami saat saya belajar di Jepang dulu. Penelepon minta bicara dengan Sensei (profesor) bernama Yao, yang kebetulan sedang tidak ada di tempat. Mahasiswa tadi menjelaskan situasi itu dengan kalimat di atas.

Saya sering tersenyum kecil mendengar kalimat seperti itu, karena saya tahu kalimat itu salah. Lho? Orang Jepang salah dalam berhasa Jepang?

Mahasiswa tadi berbicara dengan bahasa halus, untuk penghormatan, yang disebut sonkeigo. Tidak ada yang salah dalam tata bahasa yang dia gunakan. Struktur kalimatnya benar. Hanya saja dia salah dalam penerapannya. Sonkeigo memang rumit. Ini adalah salah satu bagian yang paling memusingkan bagi saya saat mempelajari bahasa Jepang, di samping-tentu saja- saat menghafal huruf-huruf kanji. Bagi orang Jepang sekalipun, sonkeigo ini rumit.

Bahasa Jepang memiliki tiga tingkatan. Ada bahasa untuk penghormatan (sonkeigo), bahasa standar (futsugo), dan ada bahasa untuk merendah (kenjogo). Kosa kata yang digunaka membedakan tingkatan itu. Misalnya, untuk kata ada/hadir digunakan “irassyaru” (sonkei), „iru“ (futsu), dan „oru“ (kenjo).

Selain soal kosa kata, ada hal yang lebih penting dalam sonkeigo, yaitu soal pengenaan. Sonkeigo dipakai untuk orang yang lebih tinggi (me ue) dari penutur. Misalnya orang yang lebih tua, atau lebih tinggi jabatannya. Tapi ada lagi aturan lain. Saat mendeskripsikan atau menerangkan seseorang dalam kelompok/keluarga kita (anggota uchi gawa) kepada orang luar, kita tidak boleh menggunakan kosa kata sonkeigo.

Guru bahasa Jepang saya memberi deskripsi yang sederhana untuk aturan di atas. „Seluruh anggota uchi diperlakukan sama di hadapan orang luar. Bapak sama dengan kucing.“ Kita, misalnya, tidak akan mengatakan: „Kucing saya wafat“. Wafat adalah bentuk kata halus/penghormatan yang tidak cocok digunakan untuk kucing.

Kesalahan itulah yang dilakukan oleh mahasiswa tadi. Dia sedang menjelaskan situasi tentang profesor di grupnya kepada orang luar. Tapi dia menggunakan dua kata penghormatan yang tidak pada tempatnya, yaitu „sensei“ dan „irassyaimasen“. Seharusnya dia mengatakan: „Yao wa tadaima orimasen.“. Perhatikan bahwa dalam kalimat tersebut nama orang (Yao) sama sekali tidak diberi embel-embel penghormatan, san atau sensei.

Sebagai orang Indonesia kita bisa „memahami“ kesalahan mahasiswa Jepang tadi. Tentu tak elok bagi kita untuk menyebut nama saja kepada bapak/guru/atasan kita. Demikian pula, kita tak akan nyaman menggunakan kata-kata kasar untuk mendeskripsikan dirinya.

Tapi logika bahasa Jepang ternyata tidak demikian. Meninggikan orang serumah adalah hal yang tabu. Sama seperti tak wajarnya saat kita berkata „Kucing saya wafat.“

Sonkeigo dipertahankan dalam percakapan bisnis. Ini adalah bagian penting dari tata krama bisnis Jepang. Karenanya anak-anak muda yang baru lulus kuliah, dalam masa training di perusahaan, biasanya diberi pelajaran mengenai sonkeigo.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Doktor a la PGSD

9 June 2009

PGSD yang kita kenal adalah singkatan dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Ini adalah Program Diploma II di bidang pendidikan, untuk mendidik calon guru Sekolah Dasar. Tamat dari program ini seseorang dianggap layak menjadi guru Sekolah Dasar.

Tapi PGSD yang hendak saya bahas dalam tulisan ini lain lagi ceritanya. PGSD yang ini singkatan dari Pokoknya Gelar Saya Doktor! Ini adalah cerita yang mencerminkan buruknya dunia pendidikan kita.

UU Guru dan Dosen yang dianggap bisa memperbaiki nasib dan kesejahteraan guru dan dosen ternyata membawa efek sampingan. Perbaikan gaji guru dan dosen melalui sejumlah tunjangan tidak diberikan secara otomatis dan pukul rata. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi, antara lain sertifikasi. Untuk guru, salah satu syarat untuk sertifikasi ini adalah lulus sarajana S1. Sedangkan untuk dosen, harus dipenuhi kualifikasi sarjana S2. Tambahan lagi, bagi dosen akan lebih menguntungkan bila ia punya kualifikasi S3. Lulus program doktoral akan lebih memudahkan untuk mencapai jabatan fungsional akademik guru besar (profesor).

Semua syarat itu tentu dimaksudkan untuk kebaikan. Artinya para guru dan dosen harus memiliki kualifikasi tertentu, agar mutu pendidikan yang mereka asuh meningkat. Tapi apa lacur. Negeri ini adalah negeri sertifikat. Segala sesuatu ditentukan oleh kertas-kertas dokumen, bukan isi yang diwakili kertas itu. Untuk naik seberkas dokumen jauh lebih penting dari mutu si penyerah dokumen itu. Petugas dan pejabat yang menilai lebih teliti memeriksa dokumen ketimbang memeriksa orang.

Maka pak guru dan dosen tidak berlomba meningkatkan kualitas. Mereka berlomba berburu sertifikat. Program S1 bagi guru-guru tumbuh bak jamur di mana-mana. Semua menawarkan kemudahan. Kuliah cukup di akhir pekan. Programnya tidak lama-lama, bahkan bisa lebih singkat dari program reguler. Demikian pula halnya dengan program S2-S3 bagi dosen. Kualitasnya? Jangan tanya. Lulusannya menyandang predikat PGSD tadi. Pokoknya Gelar Saya Doktor.

***

Dosen-dosen kita memang disuruh hidup di alam tak rasional. Seorang dosen bergelar doktor yang baru menyelesaikan pendidikan bisa mendapat pangkat/golongan IIIc atau IIId. Gaji perbulan kurang lebih 2,5 juta rupiah. Mau bagaimanapun caranya, mustahil bisa hidup layak dengan uang sekecil itu.

Tapi biasanya ada yang berdalih. Dosen kan punya pemasukan lain. Misalnya, penelitian, proyek, program ini itu. Hingga jabatan struktural, posisi politis dan sebagainya.

Ya, ada yang dapat itu, sehingga penghasilannya jauh melampaui orang-orang yang bekerja di sektor swasta. Tapi masalahnya tidak semua dapat. Universitas besar punya posisi yang lebih baik untuk mendapat proyek-proyek. Universitas kecil nyaris gigit jari. Itu satu soal. Soal lain, lha kenapa universitas kok mengurusi proyek-proyek untuk cari duit, bukan mengembangkan pendidikan.

Penelitian? Ini masalah lagi. Penelitian akhirnya jadi ajang untuk cari duit, bukan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. Hasilnya, lagi-lagi setumpuk kertas laporan.

Gejala PGSD juga tidak terlepas dari ketimpangan ini. Penyelenggaranya (perguruan tinggi) butuh pemasukan. Pesertanya butuh gelar. Betermulah mereka di pasar bisnis pendidikan.

wordpress plugins and themes

Uchi

4 June 2009

Bondan Winarno dalam Kolom KIAT di Majalah Tempo (edisi tahun 1980-an) menggambarkan karakter khas orang/perusahaan Jepang sebagai berikut. Seorang engineer Inggris yang bekerja di BBC akan memperkenalkan dirinya dengan berkata: Saya seorang engineer. Sejawatnya orang Jepang yang bekerja di NHK akan memperkenalkan diri: Saya bekerja di NHK. 

Lebih jelas lagi, kita umumnya akan memperkenalkan diri kita dengan menyebut nama kita terlebih dahulu, baru menyebutkan afiliasi kita. Sedangkan orang Jepang akan memperkenalkan afiliasinya terlebih dahulu. Seseorang bernama Hashimoto yang bekerja di NHK memperkenalkan dirinya dengan berkata, “NHK no Hashimoto desu.” Partikel “no” dalam kalimat tersebut bermakna “bagian”, artinya Hashimoto san ini memperkenalkan dirinya sebagai bagian dari NHK. 

Bagi orang Jepang, perusahaan itu adalah uchi (内). Uchi artinya (bagian) dalam, dan lawannya adalah soto (外). Uchi juga berarti rumah. Secara umum, dengan cara itulah orang Jepang menempatkan dirinya pada suatu lingkungan. Ia menempatkan dirinya di suatu titik, titik terdekat dari dirinya hingga suatu batas tertentu disebut uchi, dan yang di luar itu adalah soto. Ini semua tercermin dari berbagai perlakuan, termasuk penggunaan tata bahasa dan kosa kata. Bahasa Jepang mengenal bahasa halus/penghormatan atau sonkeigo (尊敬語) dan bahasa untuk merendah kenjougo謙譲語. Sonkeigo digunakan untuk pihak luar, sedangkan kenjougo digunakan untuk orang dalam. Soal ini akan saya jelaskan dalam tulisan tersendiri.

 Orang Jepang melihat uchi dalam dua makna tadi, yaitu dalam (internal) dan rumah. Artinya, perusahaan bukan sekedar tempat bekerja, tapi juga rumah bagi karyawannya. Perusahaan dipandang sebagai sebuah keluarga besar. Salah satu konsekwensinya adalah bahwa nama baik perusahaan harus dijaga. Baik dalam konteks bisnis perusahaan maupun dalam konteks kehidupan pribadi. Dalam konteks bisnis hal itu diwujudkan dengan menjaga mutu produk maupun layanan. Dalam konteks pribadi, dalam kehidupan pribadi sekalipun, seseorang dianggap mewakili perusahaan. Pelanggaran lalu lintas yang fatal (misalnya mengemudi dalam keadaan mabuk) dapat membuat seseorang dipecat dari perusahaan.

 Selain soal menjaga nama, konsep kekeluargaan ini muncul dalam bentuk beberapa karakter khas. Salah satunya adalah lebih menonjolnya identitas perusahaan pada diri karyawan ketimbang identitas profesi individu. Ciri lain adalah rendahnya tingkat kepindahan karyawan. Sekali seseorang masuk ke sebuah perusahaan, umumnya dia akan bekerja di situ sampai pensiun. Pindah kerja dari suatu perusahaan ke perusahaan lain di Jepang masih terbilang langka, khususnya kalau dibandingkan dengan Indonesia.

 Saya menduga konsep ini sejarah perjalanan bisnis Jepang yang memang khas. Umumnya bisnis di Jepang dimulai dari bisnis keluarga. Tak heran kalau nama perusahaan serta brand produknya memakai nama keluarga pendiri perusahaan itu. Kita tahu bahwa Honda, Suzuki, Mazda (Matsuda), itu adalah nama orang. Ada juga yang menggunakan namanya secara nyentrik. Bridgestone itu didirikan oleh seseorang bernama Ishibashi yang artinya jembatan batu.

Di Jepang hingga saat ini kita bisa menemukan perusahaan kecil-menengah yang dikelola dengan basis bisnis keluarga. Produknya variatif, mulai dari produk tradisional (yang sejak dulu memang dikerjakan secara turun temurun) seperti kecap (shoyu), miso, hingga produk manufaktur. Demikian pula di sektor jasa. Bisnis dikepalai oleh bapak (oyaji) sebagai shacho (direktur utama), kalau nanti dia pensiun biasanya akan diteruskan oleh anaknya.

 Beberapa bagian dari konsep kekeluargaan itu bertahan meski perusahaan membesar, mendunia, dan mengadopsi konsep manajemen modern.

 Konsep ini kerap memunculkan masalah ketika perusahaan Jepang berbisnis di luar Jepang. Konsep kekeluargaan menjadi kabur maknanya. Mereka sendiri saya duga tak siap untuk memasukkan orang-orang lokal ke dalam lingkaran kekeluargaan mereka. Orang lokal sulit dianggap sebagai bagian dari uchi. Tak sedikit yang merasakan adanya diskriminasi. Ada orang yang bercerita bahwa di perusahaannya toilet saja dipisahkan, untuk staf Jepang dibuatkan toilet khusus, yang tidak boleh dipakai oleh orang lokal (kebenaran dan situasi kontekstualnya tidak saya konfirmasi).

 Tapi pada saat yang sama dalam banyak kasus mereka tidak menyadari hal itu. Sering mereka heran melihat rendahnya rasa memiliki pada karyawan mereka. Mereka heran ketika serikat pekerja, misalnya, tak jarang memperlakukan perusahaan sebagai musuh, bukan sebagai rumah tempat para pekerja itu bernaung. Padahal, menurut hemat saya, itu sebuah konsekwensi logis. Anak yang tak jelas diterima atau tidak di suatu rumah, tak akan merasa nyaman di rumah itu.

wordpress plugins and themes

Asam Pedas vs Asam Padeh

18 May 2009

Di kampung kami punya masakan ikan asam pedas. Di rumah mertua ada masakan asam padeh. Saya langsung menganggap keduanya identik. Tapi beberapa kali saya masak ikan asam pedas di rumah, istri saya selalu berkomentar: ini bukan asam padeh. Saya penasaran. Apa bedanya?

Asam pedas di kampung saya biasanya menggunakan ikan sembilang (mirip ikan lele, tapi hidup di laut dan berukuran besar), ikan merah, kakap, atau tenggiri. Di warung Padang yang paling sering saya temukan adalah asam padeh tongkol atau tenggiri.

Minggu lalu saya belanja ikan laut di Makro Cibitung. Ini adalah toko favorit saya untuk belanja ikan. Tingkat kesegaran ikan laut di Makro jauh lebih baik dibanding Carrefour atau Hypermart. Variasinya juga lebih baik. Hanya di Makro saya bisa menemukan ikan belanak (walau sejauh ini tidak pernah saya dapatkan ikan belanak yang benar-benar memuaskan di Makro). Tenggiri dan tongkolnya OK. Dan ada beberapa jenis ikan lain.

Saya belum menemukan tempat belanja ikan yang memuaskan selain di Makro. Di Ancol katanya ada pasar ikan kagetan kalau Minggu pagi. Tapi bisa diduga, harganya adalah harga turis. Ibu mertua saya belanja ikan di Muara Karang. Hasilnya mengecewakan, karena timbangannya tidak benar.

Favorit saya di Makro adalah ikan alu-alu. Ikan ini berbentuk panjang, lurus. Kalau dapat yang ukuran besar bisa seukuran betis orang dewasa, panjang kurang lebih setengah meter. Ikan ini enak. Berdaging, tidak banyak tulang, dan gurih. Tapi orang-orang Jakarta mungkin tidak kenal ikan ini. Karena tidak populer, harganya murah, cuma 20 ribu sekilo. 

Minggu lalu saya menemukan ikan alu-alu, ada tiga ekor yang besar. Langsung saya ambil dua, masing-masing 2 kilo. Yang satu buat di rumah, dan yang satu buat mertua di Jakarta. Hari Sabtu saat main ke rumah mertua saya ditanyai, mau dimasakin apa. Saya tanya, itu ikan alu-alu sudah dimasak belum? Mertua saya baru ingat. Ikan itu enak, katanya. Masih ada sisa satu kilo, lalu disepakati untuk dimasak asam padeh.

Saat makan baru saya mengerti beda antara asam pedas dengan asam padeh. Sekalian saja saya berguru cara memasak asam padeh. 

Inilah detilnya.

Asam Pedas
Ritual masak dimulai dengan menumis bumbu-bumbu berupa cabe merah keriting dan kunyit yang digiling halus,irisan bawang merah dan putih, serta irisan jahe. Lalu tambahkan air, dan garam. Selanjutnya masukkan serai, lengkuas, daun kunyit dan daun jeruk purut. Tambahkan air asam jawa (bisa pula digunakan air jeruk nipis). Lalu masukkan ikan, rebus dengan api kecil sampai empuk.

Untuk variasi, bisa dihilangkan cabe giling, dan akan diperoleh sop ikan asam. Kalau mau cabe giling juga bisa diganti dengan cabe rawit utuh.

Asam Padeh
(Ini resep ajaran mertua)
Giling halus: cabe merah keriting, cabe rawit, bawang merah, bawang putih, kemiri. Rebus bumbu dalam air sehingga bau langu cabe hilang. Masukkan potongan ikan, ditambah daun kunyit, asam kandis, dan potongan tomat. Rebus dengan api kecil dalam panci tertutup sampai daging ikan empuk.

Kemarin saya coba resep ini dengan ikan tongkol. Hasilnya sukses. Tak kalah dengan ikan asam padeh buatan mertua. 

PS. Foto akan diupload nanti.

wordpress plugins and themes