Sop Miso Kepala Kakap

18 May 2009
Miso adalah bumbu yang sangat penting bagi orang Jepang. Orang Jepang mungkin tidak akan keberatan kalau kita tuduh tidak bisa hidup tanpa miso. Begitulah kenyataannya. Setiap kali makan, setiap jenis masakan, miso siru (sop miso) adalah side-menu tetap dalam khazanah kuliner Jepang. Tidak hanya untuk sop miso, banyak masakan yang menggunakan miso sebagai bumbu. Di antaranya miso ramen, dan nabe. 

Miso terbuat dari kacang kedelai yang yang difermentasi. Proses pembuatannya tidak saya pahami benar. Saya hanya menyaksikannya melalui berbagai laporan di TV. Tapi kelihatannya resep pembuatannya sangat tradisional, dan dijaga oleh pembuatnya secara turun temurun. Jenis dan rasa miso juga variatif, berdasar daerah pembuatnya. Kesan saya, di daerah utara Jepang, dari Kanto ke Tohoku miso cenderung agak manis, sedangkan ke selatan cenderung asin.

Isi (gu) miso siru sendiri sangat variatif. Isi standar biasanya berupa irisan tahu sutra, rumput laut (wakame), potongan tahu kering, dan irisan daun bawang (negi). Tapi tak jarang ada yang berisi kerang (asari), kepiting (kani), atau kepala dan tulang ikan kakap (tai).

Nah, salah satu menu favorit saya kalau berkunjung ke restoran sushi adalah miso siru berisi kepala dan tulang kakap (tai no ara miso siru). Ikan kakap (tai) adalah ikan yang sangat populer di Jepang. Dagingnya dibuat sashimi atau sushi. Sedangkan sisanya (ara) berupa kepala dan tulang, dimasukkan ke dalam miso siru atau nabe.

Rasa gurih kaldu ikan berpadu dengan manis-asinnya miso, betul-betul maknyus.

Jatuh cinta dengan rasanya, saya tertarik untuk membuat sendiri. Hasil tanya-tanya dengan obachan (nenek) penjual ikan langganan saya waktu di Kumamoto, saya peroleh resep berikut:

Belah kepala ikan kakap, bersihkan, buang sisiknya. Potong tulang ikan sepanjang kurang lebih 3 cm. Siram dengan air mendidih, dan diamkan sejenak, lalu buang air penyiramnya untuk menghilangkan bau amis. Lalu rebus dengan air secukupnya.

Saat ikan sudah hampir lunak, masukkan miso instan, lalu rebus dengan api kecil. Ya, cukup gunakan miso instan, karena kalau tidak akan sangat repot dengan proses menyaring miso, menambahkan dashi (kaldu dari rumput laut (kombu) dan ikan). Tunggu sampai air perebus mendidih, diamkan sejenak, lalu angkat.

Selamat mencoba.

PS. Miso instan bisa diperoleh di berbagai supermarket. Untuk memperoleh sup miso kepiting, yang gambarnya cukup menggiurkan itu prosesnya sama. Cukup ganti kepala kakap dengan kepiting. Rajungan lebih cocok untuk dimasak dengan miso.

Tai
wordpress plugins and themes

San, Kun, Bucho, Shacho

8 May 2009

Pengetahuan umum kita, orang Jepang menambahkan kata “san” di belakang nama seseorang (untuk orang Jepang di belakang nama keluarga) untuk penghormatan kepada seseorang. Namun sebenarnya ada banyak pernik-pernik menarik dalam soal ini.

Tambahan san ini dikenakan pada nama laki-laki maupun perempuan. Pada komunikasi yang lebih formal, khususnya dalam bahasa tulis, digunakan kata “sama”. Nah, khusus untuk laki-laki yang lebih muda dari si pembicara, (bisa) digunakan sebutan lain, yaitu kun. Kun juga digunakan untuk memanggil anak-anak, khususnya saat memanggil nama diri (first name). Untuk perempuan dewasa selalu digunakan san, sedangan untuk anak-anak digunakan chan.

Bahasa Jepang memang memiliki beberapa tingkatan, berdasarkan umur, dan juga status sosial seseorang. Ada bahasa halus dan formal (sonkeigo), ada bahasa standar (futsugo) dan ada bahasa untuk merendah (kenjogo). Tulisan ini tidak akan membahas lebih lanjut soal tingkatan bahasa ini. Yang hendak dibahas hanya kaitannya dengan panggilan tadi.

Panggilan san, sekali lagi untuk penghormatan. Tapi, ada keunikan tersendiri dalam soal penghormatan ini. Logika budaya Jepang, seseorang yang kita hormati biasanya adalah orang yang lebih tinggi umur dan atau status sosialnya. Tapi tidak hanya itu. Penghormatan juga dilakukan terhadap orang luar keluarga/kelompok. Karenanya meski seseorang lebih tua dari lawan bicaranya, dia tetap tidak bisa menggunakan sapaan kun, kalau kebetulan lawan bicara tersebut adalah orang luar.

Tak jarang panggilan ini berubah. Saat baru kenal seseorang disapa dengan panggilan san. Saat sudah lebih akrab dan tidak lagi merasa asing satu sama lain, panggilan akan berubah menjadi kun, atau bahkan tanpa imbuhan sama sekali. Hanya nama saja.

Artinya, kalau Anda masih dipanggil san oleh orang Jepang, itu bisa bermakna ganda. Anda dihormati, atau Anda dianggap orang luar. 

***
Selain panggilan san yang bersifat umum tadi, seseorang juga dipanggil dengan nama jabatan atau profesinya. Yang paling umum adalah panggilan sensei untuk jabatan/profesi guru, profesor, dan dokter. Orang-orang dengan jabatan ini biasanya dipanggil sensei, baik dalam lingkup pekerjaannya maupun dalam pergaulan pribadi. Saya sempat menikmati panggilan ini di tahun-tahun terakhir masa tinggal saya di Jepang, khususnya saat saya bekerja sebagai visiting associate professor.

Selain itu ada beberapa profesi lain yang melekat menjadi nama panggilan, seperti pengacara (bengoshi), atau akuntan (keirishi). Seperti san, kun, dan sensei, profesi itu dilekatkan di belakang nama orang saat memanggilnya. Contoh, Nakayama bengoshi.

Seseorang yang menduduki jabatan dalam suatu struktur organisasi juga dipanggil dengan tambahan jabatan di belakang nama dirinya. Dalam komunikasi lisan bahkan nama diri tak lagi disebut, cukup dengan nama jabatan saja. Seorang kepala seksi dipanggil kacho, kepala departemen dipanggil bucho, dan seorang presiden direktur dipanggil sacho. Daftarnya bisa diperpanjang. Kepala pabrik (factory manager) adalah kojocho, wakilnya jicho. Komisaris adalah kansayaku, penasihat, sodanyaku. Direktur adalah torishimariyaku.

Here I am. Hasanudin torishimariyaku;)

wordpress plugins and themes

Oyabaka, Oyagokoro

1 May 2009

Dua istilah ini adalah istilah dalam bahasa Jepang. Oya (親)artinya orang tua (parent). Baka artinya bodoh. (Dalam format makian, kata baka ini kerap di digandeng dengan kata yarou sehingga lengkapnya berbunyi bakayarou artinya kurang lebih “si bodoh”. Dalam pelajaran sejarah kita mengenalnya sebagai kata “bagero”.) Sedangkan kata gokoro berasal dari kata kokoro” yang sudah mengalami perubahan ucapan. Kokoro artinya hati. Kita mengenal kata ini dari lagu Kokoro no tomo (Tambatan Hati).

Oyabaka dapat kita maknai sebagaimana makna lateralnya, kebodohan orang tua (bapak/ibu). Ini adalah sesuatu yang universal sifatnya. Orang tua pasti mencintai anak-anaknya. Dan cinta itu buta lagi membutakan. Juga bodoh, dan membuat orang bodoh. Artinya, rasa cinta pada anak-anak dapat membuat seseorang jadi bodoh. Wujud kebodohan itu adalah perasaan subjektif orang tua yang membuat anak-anaknya selalu terlihat baik.

Kalau oyabaka ini kita umpamakan seperti penyakit, kita bisa klasifikasikan ke dalam beberapa kelompok. Ada yang masuk kelompok ringan. Ini biasanya dialami oleh orang-orang yang baru punya anak. Sangat alami bahwa dia akan merasa anaknya cantik, ganteng, menggemaskan. Ia akan mengabaikan pendapat-pendapat lain yang berbeda tentang anaknya. 

Gejala oyabaka stadium ringan salah satunya adalah gemarnya seseorang mengumpulkan foto-foto anak, dan memajangnya. Di era Facebook ini gejala oyabaka berjejer dengan sindrom narsis si empunya Facebook. Selain memajang foto diri, disertai pajangan foto anak-anak.

Anak-anak selalu manis, selalu menyenangkan. Selalu baik di mata kita. Tapi, itu tadi, mata kita sendiri kadang tertutupi oleh perasaan. Kita kemudian kehilangan objektivitas. Saat anak-anak kita sudah besar, beberapa tingkahnya tak lagi manis. Ada yang menyakitkan, ada yang berbahaya dan harus dihentikan. Tapi lagi-lagi kita tak jarang membohongi diri, bahwa anak kita baik dan manis. “Right or wrong, it’s my kid.” Ini mulai jadi masalah, dan tak jarang jadi masalah gawat.

Secara internal kadang kita mengakui bahwa anak-anak kita itu salah, tidak baik. Tapi sikap yang keluar dari tubuh kita bertolak belakang dengan hal itu. Tanpa sadar kita tidak lagi sedang mencurahkan kasih sayang yang baik bagi anak-anak kita. Tapi kita sebenarnya kita sedang menjerumuskannya ke jurang.

Saya teringat jaman saya masih kecil dulu. Abang saya, guru SMP, bercerita tentang seorang pejabat di daerah. Anaknya bersekolah di tempat abang saya mengajar. Saat kenaikan kelas, anak tersebut tidak naik. Si Bapak, dengan kekuasaannya, meminta guru untuk menaikkan. Guru, tentu sulit melakukan hal ini . Akhirnya diambil “jalan tengah”. Anak tadi dinaikkan kelasnya, tapi dia harus pindah ke sekolah lain.

***

Oyagokoro adalah hati subjektif orang tua. Inilah (barangkali) sumber penyakit oyabaka tadi. Hati orang tua yang tidak hanya memandang anaknya selalu manis dan baik. Tapi juga selalu berusaha memberikan perlindungan, apapun bentuknya, berapapun biayanya. Hati yang dewasa memberikan perlindungan dalam wujud yang positif. Sebaliknya, hati yang kekanak-kanakan memberikan sesuatu yang diniati untuk melindungi, tapi sebenarnya justru menjerumuskan.

Oyagokoro, hati subjektif orang tua, kadang lambat menyadari bahwa anak-anak tidak lagi kanak-kanak. Di mata orang tua, anak-anak selalu kecil, dan layak diperlakukan sebagai anak-anak. Uniknya, hampir semua bahasa, termasuk bahasa Jepang, tidak membedakan kosa kata “anak” untuk pengertian “muda usia” dengan “keturunan”. Anak, dalam hati subjektif orang tua, selalu anak yang muda usia, tak peduli keduanya (orang tua dan anak) sudah sama-sama berada di usia manula.

Dulu, ketika saya kuliah di Jepang, saya sering dimarahi oleh Sensei (profesor pembimbing) saya. Khususnya saat-saat awal saya berada dalam bimbingan dia. Beberapa kejadian memang karena saya berbuat salah. Beberapa kejadian lain karena mis-komunikasi. Tapi ada beberapa kasus yang menurut saya sudah berlebihan. Ketika menyadari dia berlebihan, Sensei pernah meminta maaf dan menjelaskan. “Ini masalah saya, masalah oyagokoro. Saya kebetulan punya anak yang seumur dengan kamu. Jadi, tak jarang saya melihat kamu itu sebagai anak-anak.” katanya.

Saya, saat ini secara sadar bahwa saya seorang penderita oyabaka. Tapi saya berjanji, saya akan sembuh;)

 

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Suri

24 April 2009

Aku tersadar dengan perasaan yang luar biasa asing. Kepalaku bagian belakang sakit luar biasa. Perlahan aku buka kelopak mataku. Tapi yang tampak hanya hitam, gelap, pekat. Aku tutup mataku, lalu aku buka kembali, untuk memastikan bahwa kelopak mataku benar terbuka. Hasilnya sama, gelap. Butakah aku?

Perlahan kesadaran menjalari seluruh tubuhku. Aku merasa sedang berbaring miring di atas alas papan keras, sedikit terendam air. Punggungku disangga oleh bantal lunak namun dingin. Tubuhku berbalut selimut tipis namun ketat, yang tak kuasa sedikitpun menghangatkan tubuhku. 

Kurebahkan badanku telentang. Kulepaskan tanganku dari belitan selimut tipis, lalu aku gerakkan ia untuk mencari tahu. Segera tanganku terbentur, kanan, kiri, atas. Aku berada di sebuah ruang sempit lagi rendah. Kuraba lagi langit-langit ruangan ini. Sangat rendah, tak cukup tinggi kalau aku sekedar ingin duduk sekalipun. 

Ku hentikan usahaku untuk mencari tahu lebih jauh dengan rabaan tangan, karena itu melelahkan. Aku lemaskan seluruh tubuhku, lalu berfikir. Lalu gagasan itu datang begitu saja, dan tentu saja sangat menakutkan. Aku sudah mati! Kini aku sedang berbaring di liang kubur.

Bagaimana aku mati? Ah, pasti karena penyakit darah tinggi. Penyakit laknat ini musuh kami sekeluarga. Ayah, Emak, dan abangku yang tertua mati karena penyakit ini. Sejak menjelang usia empat puluh aku sudah ada gejala juga. Dan itu membuatku cemas. Dan cemas itu membuat tekanan darahku makin tinggi.

Tapi, tunggu dulu! Aku ingat sekarang. Baru bulan lalu aku ikut general check up, dan hasilnya aku sehat. Tidak ada masalah tekanan darah, gula darah, kolersterol atau apapun. Ginjal, jantung, semua organku berfungsi baik. Aku tak mungkin mati karena suatu penyakit. 

Aku coba ingat kembali saat-saat ketika aku masih hidup. Aku cari ujungnya untuk menemukan sebab kematianku. Lalu kenangan itu hadir. Samar-samar aku ingat, aku sedang melakukan pemeriksaan rutin di pabrik. 

Aku tidak bekerja di bagian produksi di perusahaan kami. Artinya tak ada tugas utamaku yang mengharuskan aku pergi ke pabrik. Aku berurusan dengan segala urusan administrasi, sehingga pekerjaanku bisa kulakukan di kantor saja. 

Tapi aku merasa perlu memastikan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Di perusahaan aku adalah orang lokal dengan jabatan tertinggi. Artinya aku pemimpin atas seluruh karyawan. Aku merasa perlu untuk sesekali datang menjenguk mereka saat bekerja. Menyapa mereka. Kadang mendengar keluhan mereka. Sesekali aku menegur, kalau aku temukan ada yang tidak benar. Aku juga merasa perlu melihat sendiri suasana di tempat kerja bawahanku. Siapa tahu ada hal-hal yang berbahaya, yang tidak mereka sadari karena terlalu terbiasa dengan rutinitas. Atau ada hal-hal yang perlu diubah untuk kebaikan.

Lagipula, pekerjaan kantor membuatku merasa jenuh. Aku butuh selingan, dan jalan-jalan ke pabrik adalah selingan yang menyenangkan. 

Hari itu, saat aku sedang masuk ke pabrik, salah seorang operator sedang memindahkan mold, cetakan plastik, seberat 200 kilo dengan hoist crane. Hoist crane ini sepertinya sedang bermasalah. Gerakannya tak singkron dengan pengaturan pada remote control. Aku mencatat masalah ini, berniat menghubungi suppliernya untuk meminta perbaikan.

Tiba-tiba aku mendengar pekikan kaget.

„Awas, Pak!! Bahaya!!!”

Sebuah hantaman keras terasa di belakang kepalaku. Lalu gelap……………

Selesai mengingat itu semua, aku raba belakang kepalaku, terasa ada luka menganga di situ. Sedikit basah, aku kira itu sisa-sisa darah. 

Ada perlawanan alami dari tubuhku saat aku sampai pada kepastian bahwa aku sudah mati. Refleks tanganku bergerak, mendorong dinding di atasku. Aku ingin keluar dari sini. Ada kerinduan yang sangat pada istriku, juga anak-anakku. Ya terutama pada anak-anakku. Mereka masih kecil-kecil. Mereka butuh aku untuk memberi mereka kasih sayang. Juga butuh aku untuk menafkahi mereka.

Anakku yang tertua berumur tujuh tahun, perempuan. Ia cantik. Matanya indah, dihiasi alis lentik yang ia dapat dari istriku. Ia seorang pengoceh, salah satu tanda bahwa ia keturunanku. Manja dan agak cengeng, tapi aku tahu dia cerdas.

Anakku yang kedua, laki-laki, tiga tahun lebih muda dari kakaknya. Agak pemalu, tapi keras kepala. Ia lebih mandiri, dan agak suka menyendiri. Tapi kalau sudah melihat kakaknya bermanja-manja padaku, biasanya ia juga tak mau kalah.

Yang nomor tiga masih bayi. Anak laki-laki yang sehat, montok. Dalam banyak hal dia mirip kakak perempuannya. Satu perbedaan menyolok, dia juga keras seperti abangnya. Kalau ada hal yang kurang berkenan, ia akan menangis sekerasnya.

Aku dorong lagi dinding di atasku, lebih keras. Tapi aku kemudian menyerah. Bukan hanya pada kenyataan bahwa dinding-dinding aku coba dobrak ini sangat kokoh. Juga bukan pada kenyataan bahwa tubuhku sekarang jauh lebih lemah dari saat aku mulai tersadar tadi. Aku bahkan baru sadar bahwa sekarang tubuhku semakin lemah, nafasku semakin sesak, dan tubuhku makin sulit digerakkan.

Yang membuat aku menyerah lebih dari itu. Aku sadar, bukan sekedar tembok kokoh yang menghalangiku. Bukan tembok fisik. Aku sekarang sudah berada di alam lain. Kembali ke keluargaku, dari alamku sekarang, mungkin malah tidak akan membuat mereka bahagia. Aku akan menakuti mereka. Akhirnya aku pasrah.

Aku coba menghibur diri dengan berhitung-hitung, memastikan setidaknya anak-anakku tak akan kekurangan nafkah kalau aku tak ada. Ada sejumlah tabungan yang aku tinggalkan, dalam bentuk uang tunai di bank. Juga ada asuransi kecelakaan dari perusahaan. Aku bersyukur aku mati kecelakaan, sehingga anak-anakku akan dapat uang dari situ. Juga ada asuransi yang polisnya aku bayar sendiri. 
Aku jumlahkan semuanya, kiranya cukuplah untuk menghidupi mereka sampai mereka selesai sekolah dan mandiri.

Sejenak aku merasa lega. Tapi cuma lega dalam perasaan. Karena rasanya liang kubur ini semakin pengap, panas. Aku sudah sangat sulit bernafas.

Lalu aku sadar akan satu hal lain. Kalau aku di kubur, mana malaikat pemeriksa? Bukankah mereka seharusnya sudah datang sejak tadi? Ketika para pengantar sudah melangkah pulang tujuh langkah? Aku sudah di sini sejak tadi, seharusnya mereka sudah lebih dari tujuh langkah. Mereka mungkin sudah sampai di rumah. Mengapa mereka belum juga datang?

Hmmmm……..berarti dulu aku benar. Segala macam cerita soal pemeriksaan dan siksa kubur itu cuma dongeng belaka. Aku tersenyum menang.

Tapi, kalau malaikat itu tak datang, sampai kapan aku akan terus di sini?

Nafasku semakin sesak, aku tersengal. Lalu gelap.

http://berbual.com

wordpress plugins and themes

Long Mesir

24 April 2009

Suasana pemilihan umum sering mengingatkan aku pada seorang sanak. Namanya Mesir. Ia anak sulung, dalam logat kampung kami sulong. Karena itu dia kami panggil Long Mesir. Adik lelakinya menikah dengan kakak tertuaku.

Perawakannya kurus tinggi. Kulitnya coklat kehitaman. Meski tak kekar, otot-otot lengan, betis dan pahanya menojol jelas, tanda bahwa otot-otot itu sering dipakai untuk bekerja. Aku tak tahu pasti berapa umurnya ketika aku mulai mengenalnya di masa kecilku dulu. Pastilah lebih muda dari ayahku, karena anak tertuanya sebaya denganku.

Long Mesir seorang buruh panjat kelapa. Ia memanjat dan memetik kelapa yang sudah tua, lalu mengumpulkannya untuk diangkut. Kalau air sedang pasang kelapa-kelapa itu cukup dihanyutkan sepanjang selokan ke bagian depan kebun. Kalau tidak ada air di selokan, ia harus memasukkannya ke dalam keranjang lalu dipikul. Read the rest of this entry »

wordpress plugins and themes

Emakku bukan Kartini

21 April 2009
Emakku bukan Kartini

Emakku bukan Kartini. Dia hanya anak seorang petani kelapa. Istri seorang petani kelapa pula. Sampai akhir hayatnya dia buta huruf latin (bisa membaca huruf Arab). Dia tak sekolah bukan karena tak hendak. Dia tak sekolah karena berbagai kombinasi yang tak menguntungkannya.

Suatu hari di kampung kedatangan ustaz dari desa lain. Ada pengajian kecil, mempelajari sifat dua puluh. Emak, ketika itu seorang gadis kecil, ingin ikut serta belajar. Tapi ia dihardik ayahnya. “Kau bukan anak perempuan yang patut untuk menjadi cendekia.” Emak hanya bisa menangis.

Tapi Emak tak pernah mengeluh. Pun ia tak melawan. Ia hanya menunggu datangnya sesuatu: Kebebasan. Read the rest of this entry »

wordpress plugins and themes

Magang

8 April 2009

Yanti terduduk lemah. Mukanya pucat, pandangannya kabur. Tangannya gemetar. Perutnya terasa mual. Tapi ia masih nekat, hendak bertahan. Aliran barang di atas conveyor di depannya bergerak lambat. Dalam pandangannya yang kabur tampak seperti benda mengapung di atas aliran air sungai di kampungnya. Benda itu harus ia raih, harus ia rangkai dengan bagian yang ada di tangannya, selanjutnya dioper ke pekerja di sebelahnya. Pekerja di sebelahnya akan menambahkan bagian yang lain. Begitu seterusnya, di ujung sana benda itu akan jadi barang sempurna.

Ia paksakan tangannya yang lemah untuk menggapai benda itu. Tapi rasanya ia semakin melayang. Benda-benda itu seperti menjauh darinya, terseret arus yang pelan, namun pasti. Ia mencoba mengulurkan tangannya lebih panjang untuk menjangkaunya. Tapi iapun mulai hanyut terbawa arus. Tangannya kini menggapai-gapai, berusaha mengangkat badan lemahnya agar tak terbenam dalam arus air. Tapi ia tak kuasa. Lalu gelap. Read the rest of this entry »

wordpress plugins and themes

Petromak

3 April 2009

Kenangan tentang petromak bagiku hampir identik dengan kenangan tentang ayah. Ayah yang kukenal sepanjang masa kecilku adalah seorang pria berumur sekitar 50 tahun. Tinggi badannya sekitar 165 senti meter. Badan dan tangannya kekar, tapi perutnya agak buncit. Persis seperti potongan tubuhku saat ini. Kulit putih, hidung mancung. Tapi hampir semua wajah kami anak laki-lakinya tak mirip dengan dia. Kami lebih mirip Emak.

Ayah adalah lelaki biasa. Ia tidak ambisius seperti Emak. Ia lebih suka menikmati apa saja yang bisa dia nikmati sekarang, bukan nanti-nanti. Agak kontras dengan Emak yang lebih suka menabung hari ini yang manfaatnya dirasakan kemudian. Kalau sudah lelah dia akan berhenti bekerja, sementara Emak berprinsip kalau ada pekerjaan besok yang bisa diselesaikan hari ini, selesaikanlah.

Read the rest of this entry »

wordpress plugins and themes

Tsukiai

24 February 2009

     Rekan sekerja saya, orang Jepang, menemukan produk pengharum ruangan di ruang administrasi produksi pabrik kami. Perusahaan grup kami kebetulan juga membuat dan memasarkan pengharum ruangan. Melihat produk yang ada ruangan tadi bukan produk yang dibuat oleh grup kami, teman saya tadi menegur karyawan yang ada di situ. “Lain kali beli yang buatan grup kita, ya. Kalau kamu beli merk lain nanti dia (perusahaan grup kita) marah.” katanya dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata. Mengira teman saya tadi sedang bercanda, karyawan tadi hanya senyum-senyum. Saya menduga dia tidak paham latar belakang teguran itu. Saya mengenalnya dengan konsep “tsukiai”.?Dalam aksara Jepang ditulis ????.

    Tsukiai sedernananya bisa diartikan sebagai “berhubungan” atau “menemani”. Dalam hubungan pribadi ia bisa bermakna “pacaran”. Secara lebih luas ia bermakna “sebuah hubungan baik yang perlu/harus dijaga secara jangka panjang”. Dalam konteks bisnis hal itu antara lain diwujudkan dengan memakai produk dari rekanan di mana kita memiliki hubungan baik. Itulah pesan yang hendak disampaikan oleh rekan Jepang saya tadi. Read the rest of this entry »

wordpress plugins and themes

Fatwa-fatwa yang kita butuhkan

10 February 2009

     MUI sepertinya sedang kurang kerjaan. Akibatnya keluarlah fatwa-fatwa, yang dalam istilah ABG “nggak penting banget deeeeeeeeeeh”, seperti fatwa soal yoga dan haramnya golput. Saya sungguh heran, MUI bisa sampai pada kesimpulan hukum bahwa golput itu haram. Mikirnya bagaimana? Lha wong pemilu itu sendiri ndak ada hukumnya dalam Islam. Menurut hukum Islam, apakah pemerintah wajib menyelenggarakan pemilu? Tidak. Sunnah? Tidak juga. Mubah? Embuh!  Tapi herannya ujug-ujug, mak jeglek, MUI bisa memutuskan hukum yang sebetulnya “berada di bawah payung” hukum fiqh mengenai pemilu, yaitu memilih. 

   Lebih mengherankan lagi, hal-hal lain mengenai pemilu, yang sebetulnya lebih urgen untuk diperhatikan, malah tidak diperhatikan. Kita lihat anggota legislatif hasil pemilu yang lalu-lalu bergelimang duit korupsi. Mereka sekarang berduyun-duyun jadi pesakitan dan masuk penjara karena korupsi. Yang tidak/belum tertangkap jumlahnya lebih banyak. Yang tidak nyata-nyata korupsi sekalipun, tidak menunjukkan itikad baik untuk melayani kepentingan rakyat. Mereka sibuk memperkaya diri, atau mencari nikmat dengan duit rakyat, misalnya dengan pelesir ke luar negeri. Mengapa MUI tidak mengeluarkan fatwa untuk melaknat mereka?

    Kalau benar MUI kurang kerjaan, berikut ini saya beri daftar agenda masalah yang harus difatwakan MUI, yang urgensinya jauuuuuuuuuuuuuuuuuuh lebih penting daripada fatwa golput.

1. Haram hukumnya menghambur-hamburkan uang untuk kampanye pemilu, saat rakyat sebenarnya butuh uang itu untuk membeli makanan, berobat, dan membiayai anak sekolah.

2. Haram hukumnya berbohong dalam kampanye. Membangun citra seolah-olah seorang calon presiden/ legislatif peduli dengan nasib rakyat. Padahal mereka hanya peduli pada diri dan kepentingan mereka.

3. Haram hukumnya memberikan jabatan di BUMN/lembaga negara sebagai balas jasa kepada orang-orang yang telah berjasa dalam membantu seorang pejabat mencapai jabatannya. Contoh kasus: Presiden SBY memberikan jabatan komisaris BUMN kepada beberapa anggota tim kampanyenya.

4. Haram hukumnya mengklaim program-program yang didanai dengan anggaran negara (uang rakyat) sebagai program-program partai tertentu.

5. Haram hukumnya menghimpun dana kampanye dari konglomerat hitam/putih, pengusaha, dan lain-lain, dengan memberi kompensasi bisnis kalau nanti yang dibantu kampanyenya sukses terpilih.

6. Haram hukumnya tidak menerima hasil pemilu bagi peserta yang kalah, sehingga menyebabkan pemilu harus diulang dan menghabiskan uang rakyat, atau malah memprovokasi rakyat untuk bentrok dengan sesamanya.

7. Haram hukumnya bagi para ulama untuk mengambil keuntungan dalam bentuk apapun dari kegiatan sertifikasi halal, atau dari bisnis-bisnis berlabel syariat.

8. Masih banyak lagi………………………………….saya sudah capek ngetiknya.

wordpress plugins and themes