Long Mesir

24 April 2009

Suasana pemilihan umum sering mengingatkan aku pada seorang sanak. Namanya Mesir. Ia anak sulung, dalam logat kampung kami sulong. Karena itu dia kami panggil Long Mesir. Adik lelakinya menikah dengan kakak tertuaku.

Perawakannya kurus tinggi. Kulitnya coklat kehitaman. Meski tak kekar, otot-otot lengan, betis dan pahanya menojol jelas, tanda bahwa otot-otot itu sering dipakai untuk bekerja. Aku tak tahu pasti berapa umurnya ketika aku mulai mengenalnya di masa kecilku dulu. Pastilah lebih muda dari ayahku, karena anak tertuanya sebaya denganku.

Long Mesir seorang buruh panjat kelapa. Ia memanjat dan memetik kelapa yang sudah tua, lalu mengumpulkannya untuk diangkut. Kalau air sedang pasang kelapa-kelapa itu cukup dihanyutkan sepanjang selokan ke bagian depan kebun. Kalau tidak ada air di selokan, ia harus memasukkannya ke dalam keranjang lalu dipikul.

Pakaian yang dia kenakan selalu sama. Celana pendek butut yang tak jelas lagi apa warna asalnya, sepotong baju kaos dengan derajat yang sama dengan celana pendeknya. Di pinggangnya tergantung parang pendek bersarung, mirip golok. Dengan parang itu ia menetas tandan dan pelepah kelapa. Ia memakai topi anyaman daun pandan yang juga tak baru. 

Kalau kebetulan sedang bekerja di kebun ayahku Long Mesir sudah datang saat aku hendak berangkat sekolah. Ia selalu menyapa, dengan senyumnya ramah. 
„Mau berangkat sekolah?“
„Iya, Long.“
„Long juga mau sekolah, ni. Sekolah tinggi.“ candanya menyindir pekerjaannya memanjat pohon kelapa yang tinggi-tinggi. Lain waktu ia bercanda, “Long ini pejabat tinggi.”
***

Long Mesir tak seberuntung adiknya yang jadi iparku. Iparku itu pernah sekolah sampai SMP sehingga dia bisa jadi guru dan pegawai negeri. Selain dapat gaji tiap bulan ia juga dapat beras pembagian, sehingga tak perlu lagi berladang. Long Mesir menanam padi di ladang tadah hujan untuk memperoleh beras. Panen cuma sekali setahun. Hasilnya seharusnya cukup untuk makan sekeluarga selama setahun. Tapi Long Mesir tidak punya cukup penghasilan. Di musim panen biasanya sebagian padinya ia jual untuk menutupi berbagai keperluan. Itu berarti beras jatah makan akan berkurang.

Saat musim barat tiba(*) padi simpanannya habis. Itulah saatnya dia datang ke kebun kami untuk mengambil singkong yang tumbuh liar di situ. Aku sering melihat ia memikul sekarung singkong. Di rumahnya singkong itu dimasak bersama beras, untuk makan keluarganya. Selain singkong kadang ia mencampur berasnya dengan pisang mentah.

***
Sebuah kejadian kecil saat ia masih muda membuat Long Mesir mengalami tambahan penderitaan. Ini kejadian di tahun 60-an. Saat sedang bekerja membelah kelapa di gudang kopra milik tengkulak Cina di kampung ia didatangi orang untuk minta sumbangan. Ia yang tak bisa tulis baca menyumbang 25 rupiah. Namanya dicatat dalam daftar penyumbang.

Kelak baru ia tahu bahwa sumbangan yang dia berikan tadi untuk sebuah partai yang kemudian menjadi partai terlarang. Di tahun 70-an, Long Mesir yang tak pandai baca tulis itu adalah seorang pendukung partai terlarang yang dianggap berbahaya. Orang berbahaya itu setiap beberapa bulan harus melapor ke kantor polisi di kecamatan. Tak ada jalan darat ke situ, kecuali kalau ia rela berjalan menembus hutan. Ia harus menempuh perjalanan selama 2 jam, menumpang kapal motor sambil berharap mendapat pembebasan ongkosnya. Kadang kalau sedang tak ada kapal motor ia berkayuh sampan berjam-jam dengan sampan pinjaman.

Tak ada pemeriksaan khusus di kantor polisi, karena ia bahkan tak pernah tahu apa itu partai politik. Ia cuma disuruh mencuci kakus, menyapu, mengepel, atau membersihkan halaman kantor polisi. Kalau tahanan polisi sedang banyak sehingga ia tak kebagian tugas karena sudah dikerjakan tahanan lain, polisi yang iseng suka menjemurnya di lapangan upacara.

***
Pemilu adalah saat penting yang harus diamankan dari berbagai potensi ancaman sekecil apapun. Pendukung partai terlarang macam Long Mesir harus diamankan. Dikumpulkan di suatu tempat yang bisa diawasi. Agar ia tak membuat onar. Maka gudang kopra itu selalu jadi rumah tahanan kagetan untuk Long Mesir dan kawan-kawan saat berlangsungnya pemilu. 

Long Mesir tak pernah malu dengan status politiknya itu. Orang-orang kampung juga tak pernah mencelanya. Maka ia seperti menikmati status istimewanya saat-saat pemilu sedang berlangsung.

(*) Pada ladang tadah hujan, musim hujan bulan Desember adalah saat padi baru tumbuh kira-kira selutut tingginya. Artinya masih perlu beberapa bulan lagi hingga musim panen. Ini adalah awal musim paceklik. Hujan sering turun disertai angin dari arah barat. Kami menyebutnya musim barat.

wordpress plugins and themes

Leave a Reply