Menggagas Pendidikan Politik untuk Politisi
29 April 2004Media Indonesia, 29 April 2004
Salah satu hasil yang menyolok pada pemilu 2004 ini adalah penurunan perolehan suara PDIP di satu sisi, dan peningkatan perolehan suara PKS, di sisi lain. Dari berbagai analisa diketahui bahwa kedua hal ini erat kaitannya dengan kiprah politisi dari kedua partai itu lima tahun terakhir ini. PDIP menurun perolehannya karena banyak aspirasi arus bawah yang diabaikan oleh politisinya. Hal ini ditambah lagi dengan minimnya prestasi Megawati sebagai presiden. Sebaliknya, PKS mampu tampil meyakinkan terutama dengan isu anti korupsi. Mereka tak hanya mampu menyodorkan program yang meyakinkan, tapi juga menunjukkan bukti dari perilaku kader mereka yang saat ini duduk di lembaga legislative hasil pemilu 1999.
Situasi ini menunjukkan suatu hal yang sangat penting namun kurang disadari banyak pihak, yaitu naiknya posisi tawar pemilih. Artinya, hal ini akan membuat politisi menjadi lebih mawas diri terhadap perilaku politiknya. Rakyat sudah semakin paham politik dan bisa setiap saat mengalihkan dukungannya kalau aspirasinya tidak disalurkan. Dengan demikian politisi harus lebih banyak mendengar dan menyalurkan aspirasi rakyat kalau ingin tetap berkarir sebagai politisi. Ini sebenarnya adalah sebuah kelaziman dalam sebuah sistem yang demokratis.
Kelaziman itu sayangnya tidak disadari benar oleh para politisi kita. Mereka sudah demikian terbiasa dengan budaya politik Orde Baru yang cenderung “bergantung ke atas” ketimbang “mengakar ke bawah”. Karenanya situasi ini sangat berharga untuk memberikan pendidikan politik kepada para politisi itu bahwa era “bergantung ke atas” itu sudah berakhir. Perlu dicatat bahwa stuasi ini bahkan terlalu berharga bila hanya dijadikan momentum agar politisi memperbaiki diri dalam kiprah mereka lima tahun ke depan. Hal ini karena proses pemilu kita belum berakhir. Kita masih akan menghadapi pemilu yang lebih penting, yaitu pemilihan presiden dan wakilnya. Karenanya situasi ini harus dimanfaatkan secara optimal demi perbaikan iklim politik kita.
Sebagaimana diketahui masalah terbesar dari partai politik maupun politisi kita adalah ketiadaan platform serta agenda yang jelas untuk diperjuangkan. Para politisi umumnya bisa bertahan di panggung politik karena prinsip “bergantung ke atas” tadi. Sementara itu partai politik cenderung menjual sentimen irrasional untuk meraih dukungan. Situasi ini kemungkinan besar akan berlanjut pada pemilihan presiden mendatang. Bila ini terjadi maka sulit bagi kita untuk berharap akan terjadinya perubahan radikal pada pemerintah mendatang, karena pemerintah itu akan diisi oleh orang-orang yang tidak punya konsep.
Untuk mengantisipasi hal ini perlu dipikirkan upaya-upaya untuk mendidik para politisi itu agar mereka menjadi politisi yang lebih cerdas. Fenomena PDIP dan PKS tadi bisa dijadikan modal awal untuk mengingatkan mereka bahwa pemilih rasional sudah cukup signifikan jumlahnya sehingga kejelasan program dan platform akan sangat menentukan hasil akhir pemilihan.
Kegiatan ini dapat dipelopori oleh kelompok-kelompok independen seperti LSM, intelektual, mahasiswa, dan lain-lain. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mensosialisasikan kepada khalayak tentang pentingnya kejelasan agenda dan platform para kandidat presiden. Tentu saja hal ini perlu diiringi dengan kampanye untuk memilih presiden atas dasar kejelasan program, bukan ikatan primordial.
Yang tak kalah penting tentu saja mengkondisikan agar kampanye calon presiden itu bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk keperluan itu. Debat terbuka calon presiden adalah salah satu sarana yang tepat untuk itu. Patut disyukuri bahwa KPU sendiri sudah mencanangkan untuk menyelenggarakannya. Namun perlu diingat bahwa debat calon presiden punya banyak keterbatasan. Debat ini misalnya boleh jadi hanya akan berlangsung 1-2 kali, sementara waktu pelaksanaannya pun sangat terbatas.
Alternatif lain yang cukup menarik adalah kampanye dialogis. Lembaga-lembaga independen di berbagai daerah perlu mengambil inisiatif untuk membuat forum yang dihadiri para calon presiden atau tim yang mewakilinya. Calon-calon yang sedang bersaing tidak harus duduk bersama dalam satu forum seperti pada debat di atas. Mereka bisa hadir secara independen menyesuaikan dengan jadwal kampanye mereka sendiri. Di forum itu mereka harus menjelaskan platform serta agenda yang diusungnya. Tentu saja mereka juga harus bersedia berdialog, menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peserta. Lebih baik lagi bila disiapkan pula tim yang terdiri dari para intelektual untuk secara kritis menguji agenda yang diajukan oleh para calon itu. Forum seperti ini bisa pula diselenggarakan oleh media massa, terutama televisi.
Forum-forum semacam ini diharapkan dapat memaksa para politisi itu untuk lebih serius lagi menyiapkan konsep mereka. Mereka harus disadarkan bahwa penyiapan konsep itu jauh lebih berharga ketimbang manuver-manuver politik antar elit. Ini karena pemilihan presiden kali ini bersifat langsung sehingga keputusan setiap individu pemilih akan menentukan hasil akhir. Forum ini dapat pula dijadikan media untuk membuat semacam kontrak politik antara politisi dan pemilih. Pada forum ini politisi akan “terpaksa” menegaskan komitmennya terhadap reformasi di hadapan khalayak.
Efektifitas forum ini dalam konteks berhasil atau tidaknya kita “memaksa” para politisi untuk menghadirinya akan sangat tergantung pada pembentukan opini awal mengenai eksistensi dan pentingnya forum itu. Karena sempitnya waktu, maka diperlukan usaha yang cepat untuk melakukan kampanye awal mengenai perlunya forum tersebut. Dari sisi kepentingan politisi forum ini jelas akan sangat menguntungkan pihak-pihak yang punya konsep. Fenomena PDIP dan PKS telah secara tegas menunjukkan bahwa kejelasan program adalah salah satu parameter penting yang menentukan perolehan suara. Situasi ini tentu akan berlanjut pada pemilihan presiden. Walaupun jumlah pemilih rasional itu masih cukup kecil, suara mereka akan sangat menetukan pada situasi ketika perolehan suara berimbang.
Dari sisi pemilih, kegiatan ini tentu akan sangat berharga sebagai pendidikan politik. Ini adalah suatu kesempatan berharga untuk menciptakan lebih banyak pemilih rasional.