Paranoia Kristenisasi
2 September 2009Suatu ketika di tahun 2005. Saat itu saya bekerja sebagai dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Kebetulan saya menjabat sebagai Ketua Jurusan/Program Studi. Saya sebetulnya baru saja pulang dari tugas belajar di luar negeri. Saya diangkat jadi Ketua Jurusan karena posisi itu lowong, dan kami sedang kekurangan staf pengajar.
Suatu hari saya menerima SMS berbunyi sebagai berikut:
“Tolong kau awasi gerak-gerik Ibu B itu. Hati-hati, sudah ada satu
mahasiswa kita yang dia murtadkan.”
Pengirim SMS itu adalah kawan saya, beberapa tahun lebih tua dari saya. Saya mengenal dia sejak sama-sama kuliah. Kebetulan kami satu fakultas, dan saya juga pernah tinggal sekamar dengan dia di asrama daerah tempat saya tinggal di masa-masa awal kuliah dulu. Saat mengirim SMS itu dia adalah Dekan di fakultas tempat saya bekerja. Artinya dia adalah atasan saya.
Ibu B yang dimaksud dalam SMS ini adalah dosen di jurusan saya. Dia berasal dari Toraja. Umurnya beberapa tahun di bawah saya, dan sudah menjadi dosen di tempat itu beberapa tahun.
Saya abaikan SMS tadi. Alasan saya, itu tidak ada kaitannya dengan tugas saya. Kalaupun benar Ibu B tadi melakukan kristenisasi, selama dia tidak melakukannya dengan menggunakan posisi dia sebagai dosen atau fasilitas kampus, saya tidak berhak melarangnya. Itu prinsip saya.
Meski tak pernah secara serius berfikir tentang isu kristenisasi tadi, toh saya akhirnya sampai juga pada titik terang duduk persoalannya. Semua terjadi nyaris secara kebetulan.
+++
Suatu pagi, saat baru saja tiba di kampus dan hendak memarkir mobil, beberapa mahasiswi mendatangi saya sambil berteriak panik. Rupanya ada mahasiswi bernama A yang sedang kambuh asmanya. Melihat keadaannya saya langsung memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Beberapa mahasiwa menggotong tubuh si A ke mobil saya, tiga mahasiswi teman si A tadi ikut masuk. Lalu kami bergerak menuju rumah sakit yang berjarak kurang lebih 2 kilometer dari kampus.
Saya cukup panik selama menyetir. Anak perempuan saya kebetulan juga penderita asma. Tapi saya tidak pernah melihatnya kambuh semenderita si A ini. Nafasnya tersengal-sengat. Saya khawatir dia kehabisan nafas dan meninggal di mobil saya.
Saya pacu mobil saya sekencang mungkin. Saya hidupkan lampu hazard, sambil sesekali membunyikan klakson panjang. Saya berharap kendaraan di depan mau menepi. Saat itu jalan memang sedang ramai, persis saat orang-orang sedang dalam perjalanan ke tempat kerja.
Sampai di bagian UGD si A langsung mendapat pertolongan pertama. Setelah memastikan dia baik-baik saja, termasuk mengecek apakah dia punya uang untuk membayar biaya perawatan, saya putuskan untuk kembali ke kampus. Si A harus tinggal untuk rawat inap. Dua orang temannya yang tadi ikut mengantar, kembali ke kampus bersama saya.
Dari obrolan sepanjang jalan dengan dua mahasiswi tadi barulah saya tahu bahwa si A ini adalah „korban kristenisasi“ yang saya sebutkan tadi. Agak kaget saya, karena teman-teman yang mengantar dia tadi, saya duga teman terdekat dia, semua memakai jilbab dan aktif di berbagai kegiatan Islam di kampus. Lebih kaget lagi karena saya kemudian tahu bahwa si A ini kebetulan pernah bersekolah di Madrasah Tsanawiyah dan SMA yang sama dengan saya.
Tentu saja pembicaraan menyinggung soal kristenisasi tadi. Menariknya, mahasiswi para aktivis Islam ini sama sekali tidak menyalahkan Ibu B. Mereka bercerita bahwa si A ini memang sedang labil, karena ada masalah keluarga. Keluarganya sendiri ternyata beragama Katolik. Hanya dia sendiri yang Islam. Dia kebetulan tinggal satu kos dengan Ibu B. Dan dalam situasinya yang labil itu dia memutuskan untuk pindah agama.
Belakangan, lagi-lagi tanpa niat menyelidiki, saya juga berbincang dengan Ibu B soal si A tadi. Cerita yang saya dapat tak jauh berbeda dengan yang saya dengar dari para mahasiswi tadi. Tambahannya, si A tadi sebenarnya belum pindah agama. Dia konsultasi dengan seorang pastur, dan menyatakan niatnya untuk masuk Katolik. Tapi pastur ini menyuruh dia untuk menenangkan diri dulu, kemudian mempertimbangkan kembali niatnya itu.
Ibu B tadi juga bercerita pada saya tentang fitnah yang dia terima. Seolah dia adalah agen gereja untuk melakukan kristenisasi di kampus. Yang paling menyedihkan, kata dia, seorang dosen senior yang dia anggap bijak juga sempat menjaga jarak dengan dia selama beberapa waktu. Untunglah perlahan orang-orang mulai memahami situasi sebenarnya, sehingga dia bisa hidup lebih normal di kampus.
+++
Cerita berikutnya, mundur ke tahun 70-an, saat masa kecil saya. Waktu itu di ibu kota provinsi kami belum ada rumah sakit pemerintah. Satu-satunya rumah sakit yang memadai adalah rumah sakit milik organisasi Katolik. Saya ingat betul, para perawatnya sebagian adalah suster gereja. Di sebelah rumah sakit ini ada gereja yang cukup besar. Dan di setiap ruangan perawatan terpajang salib di dinding.
Di rumah sakit itu anggota keluarga kami mendapat pelayanan medis. Emak, Ayah, Abang, Kakak, pernah dirawat di sini. Juga kakek, nenek, paman. Beberapa dari mereka mendapat keringanan biaya karena tergolong miskin. Dengan selembar surat keterangan dari kepala kampung, keringanan biaya itu diperoleh.
Tapi, ini yang penting, tidak ada satupun dari mereka yang pernah mendapat iming-iming untuk pindah agama. Tak satupun. Saya sering mendengar cerita tentang rumah sakit Kristen yang digunakan untuk kristenisasi. Orang miskin dibebaskan dari biaya asal mau masuk Kristen. Orang yang sedang sekarat dibimbing dengan tata cara Kristen, agar mati dalam keadaan Kristen. Tapi selama keluaga kami menerima layanan dari rumah sakit Katolik tadi, tak satupun yang mendekati kami untuk melakukan kristenisasi.
+++
Saya punya sepupu yang beberapa tahun lebih tua dari saya. Saat hendak masuk SD ia diambil Ayah, tinggal di rumah kami. Oleh Ayah dia disekolahkan di SD kampung kami. Saat SMP dia ikut orang lain di kampung dekat kota provinsi, sekolah dibiayai sambil membantu berbagai pekerjaan di sekolah. Dia tinggal di gedung sekolah, menjaga dan merawatnya.
Saat SMA dia pindah ke kota, tinggal di rumah yang dibangun Ayah untuk anak-anaknya yang sedang sekolah. Seorang pastur yang menjadi kepala sebuah SMA Katolik menawarinya sekolah dengan biaya dibebaskan. Jadi, biaya makan dia ditanggung Ayah, sedangkan biaya sekolahnya ditanggung oleh pastur tadi.
Saat dia mulai sekolah pastur tadi menegaskan bahwa dia tidak akan pernah mengajak sepupu saya tadi untuk masuk Katolik. Dia membantu semata-mata karena ingin membantu, tidak ada niat lain. Dan itu dipegang teguh oleh pastur tadi. Selama sekolah sepupu saya itu adalah muazin di sebuah mesjid. Sampai dia tamat SMA hingga kini dia adalah seorang muslim yang taat.
+++
Beberapa pengalaman yang saya tulis tadi mengajarkan pada saya bahwa kristenisasi sering kali adalah sesuatu yang diberi bumbu, bumbunya banyak, sehingga menutupi fakta. Salah satu sumber bumbu itu adalah paranoid, ketakutan yang berlebihan. Akibatnya semua tindak tanduk orang Kristen dipandang dalam konteks kristenisasi.
Tak jarang bumbu itu menjadi pokok cerita. Ada cerita, misalnya, tentang strategi orang Kristen. Pemuda Kristen sengaja disuruh memacari pemudi Islam, menghamilinya, lalu bersedia menikahi pemudi tadi dengan syarat dia mau masuk Kristen. Banyak yang percaya bahwa cerita ini adalah strategi yang disusun gereja dalam rangka kristenisasi.
Satu dua kejadian seperti itu mungkin ada. Sangat mungkin. Tapi mungkinkah itu sebuah strategi umat beragama secara kolektif atau kelembagaan? Bagi saya kita hanya bisa berfikir begitu kalau umat tersebut kita anggap jelmaan setan.
Saya, tentu saja, tidak mengabaikan adanya sekelompok atau banyak kelompok orang Kristen yang melakukan kegiatan kristenisasi dengan melanggar etika. Saya, misalnya, pernah menemukan sebuah website yang secara terang-terangan menyatakan missinya menjadikan Indonesia sebagai sebuah negeri Kristen.
Tapi beberapa atau banyak kelompok itu tentunya bukan semua orang Kristen. Masih banyak, dan sangat banyak orang Kristen yang melakukan aktivitas sosial tanpa motivasi mengkristenkan orang.
Sebaliknya perlu juga diingat bahwa hal yang sama terjadi pula di kalangan umat Islam. Tidak sedikit umat Islam yang menjadikan dakwah terhadap orang-orang Kristen sebagai inti kegiatannya. Tak jarang kegiatan itu dilakukan secara vulgar dan provokatif.
Abang saya, seorang dosen, pernah mengritik teman-temannya. Dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis di kampus, salah satu kegiatannya adalah mengumpulkan dana bagi para muallaf bekas pemeluk Kristen. Pengumpulan dana itu dilakukan secara terbuka dan vulgar. Padahal di kampus itu banyak juga dosen dan mahasiswa Kristen.
Seorang Dekan di sebuah fakultas dengan enteng mengakhiri pidato di sebuah acara resmi dengan kalimat, „Maaf, saya tidak bisa hadir di acara ini sampai selesai, karena saya harus hadir di acara lain. Ada seorang pastur yang hendak masuk Islam hari ini, saya akan hadir di acara pengislamannya.“ Kalimat ini memancing emosi seorang dosen yang beragama Kristen.
Saya pernah ikut berdakwah di kampung orang Dayak. Di situ sudah berdiri mesjid, meski belum ada seorangpun yang terlihat masuk Islam. Di sekitar mesjid banyak babi berkeliaran. Kami membawa makanan, pakaian, dan barang-barang lain. Orang-orang kampung kami ajak ke mesjid, bersilatrrahmi, dengan harapan nantinya mereka tertarik untuk masuk Islam.
Orang Islam, sebenarnya juga melakukan islamisasi, dengan cara-cara yang sama dengan yang dilakukan oleh orang Kristen. Mengapa perlu marah kalau orang Kristen melakukan kristenisasi?
http://berbual.com
Tags: Dakwah, Dayak, Gereja, Islam, Kristenisasi, Mesjid, Toleransi
September 2nd, 2009 at 13:47
Sebuah pemikiran yang sangat adil….
September 2nd, 2009 at 19:44
Saya kagum pada pikiran anda yang terbuka Kang (bolehkan panggil Kang?). Acungkan jempol buat Anda. Saya juga tidak suka dengan orang2 yang terlalu berpikiran sempit dan picik…mereka inilah sesungguhnya yang membuat suasana menjadi keruh. Sekedar contoh, seandainya saja orang2 Aceh mau menerima bantuan dari luar negeri tanpa khawatir alasan Kristenisasi dan segala tetek bengeknya mungkin korban akan banyak berkurang. Malahan yang menyebar propaganda Kristenisasi itu tidak bisa membantu para korban. Padahal, bantuan luar negeri itu atas nama kemanusian…
Yah, beginilah nasib bangsa kita.
Marilah kita perlakukan manusia itu sebagai manusia, tanpa pandang agama, ras dan kusukuan.
Salam
September 3rd, 2009 at 19:42
Wah, Kang Hasan, menarik sekali. Saya sangat tergugah dengan banyaknya pengalaman anda menghadapi pluralitas.
September 4th, 2009 at 15:32
Akang sih produk Jepang sih jadi bisa menghargai pluralitas. Beberapa intelektual produk Barat seperti pemikir/penulis disini http://islamlib.com/id/ juga menghargai perbedaan. Namun banyak tokoh NU dan Muhamadiyah juga produk lokal yang bisa menghargai perbedaan.
Apa sih yang menyebabkan orang ingin menyamakan kepercayaan? Mungkin, mentalitas “Punyaku yang terbaik” gitu yah?? Atau mungkin tingkat penalaran yang salah satunya karena tingkat pendidikan. Tapi kalau menurut cerita akang diatas seorang dekan saja bisa begitu (dengan anggapan sudah mendapat gelar Doktor) saya jadi bingung lagi nih.
Pusing pusing aku nih jadinya .. Kenapa segolongan orang bisa menghargai perbedaan segolongan orang lain tidak bisa…
September 4th, 2009 at 16:36
Sebenarnya kenapa kita harus terganggu dengan segala bentuk ‘aktifitas’ agama lain? Apakah semakin banyak orang yang kita tarik masuk ke agama kita menjamin kita masuk surga? atau jika agama kita menjadi mayoritas di sebuah negara bahkan dunia…trus kenapa? menjadi bangga?
Menurut saya, dengan menjadi contoh menjadi pribadi yang bisa diteladani merupakan cara paling ampuh untuk menarik orang melihat agama yg kita anut sebagai agama yang baik, bukan dengan segala bentuk xxx-isasi..
September 22nd, 2009 at 12:22
Kalau anda memang seorang muslim. Hmm saya bangga. Anda bisa menilai ‘kristenisasi’ dari posisi yang jujur. Saya seorang katolik dan di PTN dulu saya dijauhi teman saya karena ia mendapat kabar kalo ia berteman dengan saya akan saya kristenkan. Saya marah sekali karena ketulusan pertemanan saya dirusak oknum lain yang tidak suka dengan kedekatan saya dan dia. Sejak itu saya tumbuh dalam kebencian pada orang-orang Islam dan saya lebih benci lagi karena kekerasan yang dilakukan orang-orang Islam berupa teror bom yang bahkan meniadakan nyawa saudara seiman mereka sendiri dengan dalih yang tidak masuk akal karena tanpa pengumuman perang terlebih dahulu (yang saya pelajari di mata kuliah Islamologi di fakultas saya dulu tetapi tidak dianggap islamisasi) sebagai tidak adil pada musuh. Semoga anda menjadi seorang muslim yang tulus. Ya, kita memang berada di kubu yang berbeda. Tetapi sebagai manusia sajalah hendaknya kita hidup sebagai manusia. Lainnya, biar Yang Diatas yang menentukan.
September 24th, 2009 at 11:34
Mending jangan berprasangka negatif lah.. Tapi tetap waspada…. Cayo………..
October 8th, 2009 at 11:45
Pemikiran yang bagus dan substansial.
Saluut bung. Salam.
October 19th, 2009 at 06:08
Perlu dicermati juga bahwa hari ini krstenisasi merupakan salah satu kepanjangan tangan kapitalisme dunia. Jika kita membaca sejarah maka kita akan dapat meneluur bahwa kapitalisme tumbuh dan berakar kuat ari etika Kristen. oleh karena itu hubungan itu masih dapat disaksikan sampai hari ini. Namun kita memang tidak harus paranoid dengan keadaan ini. Tetapi harus disadari Kristenisasi itu ada, termasuk praktik2nya yang kurang “cantik”. Hanya saja tidak perlu dirisaukan sebab kebenaran akan menampakkan kebenarannya
November 19th, 2009 at 15:06
salut buat anda..
sebenarnya kalau ada yang bilang kristenisasi itu hanya maling yang teriak maling…
banyak orang islam yang selalu ketakutan terhadap kebenaran relita…dikit dikit salahkan orang kristen, dikit dikit nyalahkan amerika…dikit dikit nyalahkan yahudi, nah kalau udah nyalahkan yahudi pasti nyalahkan Kristen….untuk pembaca ketahui Yahudi ya yahudi, bukan kristen, bahkan mereka juga tak mengakui Yesus, masih menunggu mesias yang lain…
saya seorang pengajar di SMA Katolik di sebuah desa di Kalimantan Barat yang mayoritas adalah komunitas kristen, yang muridnya terdiri dari berbagai etnis dan agama,.. tidak sepatahkatapun ada ajaran yang mengajak untuk masuk kristen…bahkan murid yang beragam islam diberi kebebasan mengikuti dan disediakan waktu untuk rekoleksi dan sekolah yang mengundang dan menyediakan moderator dari kalangan islam (6 bulan sekali disekolah itu ada rekoleksi)….banyak murid islam yang dibantu biaya pendidikankannya tanpa pamrih karna orangtuanya tak mampu, ada juga murid islam yang menjadi ketua OSIS karena memang berprestasi dan punya kemampuan memimpin…orang orang kristen adlah orang yang berpikiran objektif, penuh kasih, kepada sesama bukan hanya kepada sesama kepercayaan, bahkan kepada yang memusuhinya…..
yang saya herankan orang Islam koq tega teganya memfitnah orang kristen melakukan kristenisasi dan selalu saja mencari perkara perkara….kalau orang kristen mau melayani sebenarnya sudah terjadi perang habis habisan,tapi itu bukan ajaran mereka, baik perang maupun memfitnah apalagi kristenisasi, tidak ada ajaran untuk kristenisasi, tidak ada pahala bagi yang memasukkan orang lain ke agama kristen (seperti dalam islam)…..justru sebaliknya…
kalau anda pernah masuk kedaerah pedalaman yang mayoritas adalah komunitas kristen, semua sekolah negeri baik SD, SMP, maupun SMA Negeri pasti ada guru agama Islam (boleh dicek sendiri) tidak satupun guru agama kristen yang ada, walaupun ada pasti guru honor, yang didrop disana adalah guru agama islam dan mereka benar benar makan gaji “buta”, bahkan ada yang sambil membuka bengkel, membuat kebun sayur karna tak pernah mengajar materi pelajaran agama islam, ini benar benar fakta….apakah ini bukan rencana besar orang islam untuk islamisasi……..???,dan mereka tdk pernah digannggu oleh masyarakat setempat yang beda agama, inilah kedewasaan orang orang kristen dimanapun berada, saya sendiri waktu sekolah SD sampai SMA disekolah Negeri, tidak ada guru agama kristen, teman teman saya yang kristen harus menghapal alquran untuk mengisi nilai raportnya,……..
coba anda pikir, banyak sekali majalah tabloid yang menyudutkan orang kristen, banyak sekali majalah yang mengupas injil dengan pemahamannya masing masing untuk mencari kesalahan orang kristen, tapi apakah ada respon dari orang kristen ???, karna mereka berpikir dewasa !!!, apakah pernah kita dengar orang kristen mengupas kepercayaan orang islam di media ?, apakah pernah seorang ahli agama islam/kyai yang masuk kristen koar koar dimedia ?, tak pernah bung !….itu kepercayaan bunk !, itu keyakinan Jeng !, banyak media yang memberitakan kristenisasi disuatu tempat dengan tak masuk akal, seperti memberi permen kepada anak2 untuk masuk kristen….kalau orang kristen membaca berita itu, hanya ditertawakan……membuat berita mengada-ada dan tak masuk akal, berita murahan, dan orang tak berpendidkan….
pernah dengar hajah Irene yang dulunya katolik sekarang jadi islam…. apa komentar mereka orang kristen ???? ….”santai aja justru kalau Irene masih katolik akan merusak citra kristen, biarin aja, Iren tak tahan ingin cari laki laki…toh setelah dicek disana sini tidak ada satupun biara yang pernah menjadi tempat dia bernaung, kalau nda percaya coba kalian tanya ke Irene sendiri”dari ordo apakah dia”….
dengan tulisan ini saya ingin membuka mata kalian, coba sadarlah, karena perbuatan kalian memfitnah orang kristen tidak ngaruh ke sebagian besar mereka, dan hanya membuat situasi panas bagi segelintir orang kristen….
dan sadarlah dan jujurlah, benar benar jujur dari hati nurani kalian orang islam……kalau kalian membaca kitabmu sendiri..siapa yang akan mengadili kamu dihari akhir nanti….siapa yang ditunggu tunggu oleh junjunganmu dihari kiamat nanti…..
sadarlah…
December 1st, 2009 at 21:33
Terima kasih Pak Hasan…takjub saya bacanya. Benar-benar pemikiran yang bijak. Kita memang harus berpikir dan bersikap bijak…agama soal iman, jika kita punya iman yang kuat, justru tidak terpicu dengan isu-isu kristenisasi atau islamisasi atau yang lainnya. seperti halnya pak Hasan yang punya iman yang kuat dan pemikiran positif, dapat memandang bijak hal ini dengan tepat. semoga lebih banyak pak Hasan pak Hasan lain di dunia ini….kita sama-sama ciptaan Tuhan, sama-sama keturunan Abraham/Ibrahim, kita ini saudara. Jadi kenapa mesti saling menyerang?? Hidup ini cuma sekali dan sudah susah, kenapa lagi dibuat lebih susah…ya gak pak Hasan…??
December 1st, 2009 at 23:45
saya pikir lebih ke waspada daripada paranoid, karena dalam islam setahu saya tidak ada ganjaran khusus bila mengislamkan seseorang, berbeda mungkin dengan doktrin agama lain. islam percaya dengan injil, taurat dan zabur bila tidak bertentangan dengan quran, hal tersebut di karenakan kitab2 selain quran telah di ubah2 pemuka agama untuk kepentingan mereka, hal tersebut yang diwaspadai karena bila ajaran agama asli telah dirubah2 pemuka agama untuk kepentingan tertentu maka dia bisa menghalalkan sesuatu yang sebenarnya haram, peristiwa poso salah satu contoh di indonesia, dan yang sekarang di filipina, thailand, serbia , chez, china, afghanistan. agama lebih tinggi dari pada norma, bila ada ajaran agama yang sudah melanggar norma atau akal sehat dan keadilan, pemeluk agama tersebut harus mewaspadai apakah ajaran tersebut hanya buatan pemuka2 agama mereka
June 6th, 2010 at 23:41
joeman@kamu lucu..coba kamu baca kitabq dengan baik..n bandingkan dengan kitabmu..kmu kan tau sendiri…sya setuju dengan akang ini..sya jga banyak teman non muslim..cobalah anda liat keajaiban alquran.silakan lihat situsnya,,..anda bandingkan dengan keajaiban dengan kitab yg laen..sebuah kitab dari tuhan tidak akan pernah dirubah semau maunya..n kitab itu tidak akan pernah ada celahnya…
June 21st, 2010 at 22:54
@ joeman : u katolik roma atau kristen ? Kristen dan katolik roma beda bos. Kristen ya kristen, katolik ya katolik. Ajaran imannya sangat berbeda. Agama katolik roma cuma satu — katolik roma dengan pemimpinnya Paus di vatican. Kalau kristen banyak sekali cabangnya… semuanya itu berdiri sendiri. Tidak ada pemimpinnya di dunia.
————
Jadi kalau bilang kristenisasi berarti meng-agama-kristen-kan pemeluk agama lain.
————
Jangan libatkan / campur adukkan dengan katolik. Katolik tidak suka repot dengan urusan seperti itu. Biasanya seperti itu agama kristen.