Pendidikan Anak Usia Dini, untuk apa?
15 June 2010Ketika pulang ke Indonesia awal tahun 2007 anak saya yang pertama baru berusia 5 tahun, masih di TK. Sebelumnya dia masuk TK di Jepang. Pulang ke tanah air saya masukkan dia ke TK Islam di dekat rumah kami. Setelah mengetahui bahwa kami dari Jepang, guru TK yang saya temui berkomentar, “Kami bisa terima anak Bapak. Tapi harap maklum kalau nanti dia tidak bisa mengejar ketertinggalan pelajaran.”
“Maksudnya bagaimana?” tanya saya.
“Teman-teman sekelasnya sudah maju dalam pelajaran, seperti hafalan surat-surat pendek dan doa. Kami tidak bisa menjamin bahwa dia akan bisa mengejar ketertinggalannya.”
Saya jawab bahwa bagi saya hafalan itu tidak penting. Saya tidak berharap anak saya belajar di TK. Saya berharap dia bermain dan menikmati masa kecilnya.
Kini giliran anak kedua saya Ghifari masuk TK. Tiap akhir caturwulan guru TK Ghifari selalu menyodorkan rapor, rekaman kemajuan anak saya itu. Dia menunjukkan poin-poin di mana anak saya masih perlu meningkatkan diri. Lagi-lagi soal pelajaran. Dan tiap kali juga saya jelaskan bahwa bagi saya itu tidak penting. Saya malah tidak ingin anak saya diajari berbagai hal, seperti membaca dan berhitung, karena itu belum perlu.
Saya masih ingat bagaimana Mendikbud Fuad Hasan marah ketika tahu banyak TK yang mengajarkan anak-anak membaca dan menulis. Menurut beliau itu berlebihan karena pendidikan anak usia dini tidak untuk itu. Saya setuju dengan pendapat Pak Fuad itu.
Tapi guru-guru TK juga terjepit oleh tuntutan orang tua murid. Orang tua menuntut agar TK mengajarkan baca tulis. Alasannya, ujian masuk SD sudah mengharuskan anak-anak yang hendak masuk SD bisa baca tulis. Tak sedikit orang tua yang menyuruh anaknya ikut les baca tulis di sore hari.
Menghadapi suasana ini saya terkenang pada TK tempat Sarah bermain selama setahun di Jepang. Setiap pagi saya mengantar Sarah. Beberapa kali saya juga hadir dalam berbagai kegiatan yang melibatkan orang tua. Jadi sedikit banyak saya tahu tentang seluk beluk kegiatan di situ.
TK di dekat rumah kami berupa sebuah bangunan sederhana, dengan tiga ruang kelas, satu aula, dan halaman yang luas. Luas halaman nyaris sama dengan luas gedung. Untuk ukuran Jepang di mana harga tanah sangat mahal, ini luar biasa mewah. Di halaman itulah anak-anak bermain.Kegiatan di kelas dimulai jam 8.30. Banyak anak yang sudah datang sebelum jam 8. Mereka bermain bebas di halaman.
Saya biasanya mengantar Sarah sekitar jam 8. Masuk ke gerbang, lalu berganti sepatu yg khusus untuk dipakai di dalam ruangan di pintu masuk (genkan). Menarik bahwa di titik itu guru biasanya menyambut sambil mengucapkan salam. Biasanya saya membawakan tas Sarah. Di titik itu gurunya mengambil tas itu dari tangan saya, lalu memindahkannya ke Sarah. Dia harus membuka sepatu sendiri, meletakkannya di tempat sepatu, dan menggantinya dengan sepatu khusus untuk di ruangan. Lalu dia juga harus pergi sendiri ke tempat menyimpan tas dan jaket, menaruh semuanya di situ. Anak-anak diajar mandiri sejak masuk genkan.
Kelas adalah sebuah ruangan kecil dan sederhana. Ada bangku-bangku kecil, mainan, dan berbagai hasil pekerjaan anak-anak. Yang menonjol adalah adanya piano. Setiap kelas ada satu piano. Dan setiap guru mahir bermain piano. Aba-aba mengajak anak-anak duduk atau berdiri menggunakan irama piano. Hal pertama yang dilakukan dikelas adalah menyangi dengan iringan piano.
Kegiatan di TK berlangsung hingga jam 11.30. Selama itu anak-anak bermain, menyanyi, mendengarkan dongeng, dan sejenis itu. Tak ada saya lihat alat peraga angka-angka atau huruf yang menunjukkan bahwa anak-anak diajari pelajaran. Pelajaran yang terasa menonjol adalah pelajaran bersikap. Pelajaran mandiri.
Anak-anak diajari untuk menata sendiri bangku-bangku mereka. Juga mengembalikan alat/mainan ke tempat semula setelah digunakan. Membuang sampah dengan benar, juga membersihkan kotoran yang terlihat. Semua dilakukan sambil bermain.
Dua bulan yang lalu ada kegiatan hari Kartini di sekolah Ghifari. Anak-anak diberi hadiah berupa makanan kecil dan minuman. Tapi saya tak melihat ada tempat sampah di situ. Anak-anak makan lalu membuang bungkus makanan sembarangan. Sampah bertebaran di mana-mana.
Saya dekati salah satu guru Ghifari. “Bu, kenapa tidak disediakan tempat sampah? Bukankah ini momen yang penting untuk mengajari anak-anak membuang sampah dengan benar?” protes saya.
“Oh, ada kok, Pak. Ini dia.” katanya sambil menunjukkan sebuah kardus yang tertutup. Tidak ada tulisan yang menunjukkan bahwa itu tempat sampah. Juga tidak ada yang mengingatkan anak-anak untuk membuang sampah di situ. Saya ambil kotak itu, saya kumpulkan sampah-sampah yang bertebaran, lalu saya masukkan ke kotak itu. Tak ada orang lain yang peduli dengan apa yang saya lakukan.
htpp://berbual.com
June 28th, 2010 at 13:44
Benar sekali, anak usia dini seharusnya dibekali dengan pendidikan sikap…bagaimana seharusnya dia berbuat bukan harus bisa menulis, karena pendidikan sikap yang dippupuk dari kecil akan selalu melekat pada kepribadian sampai dewasa…
July 5th, 2010 at 14:13
BELAJAR MEMBACA LEWAT LAGU
adalah sebuah penemuan baru yang luar biasa…mudah dan menyenangkan!
dapatkan lagu2nya di:
http://www.lagu2anak.blogspot.com (klik ID saya, KAK ZEPE di atas)
klik
contoh lagu saya ada di:
http://www.facebook.com/home.php?#!/video/video.php?v=130134560360182
September 20th, 2010 at 14:27
Setuju sekali. Saya juga prihatin dengan anak-anak SD yang seharian sudah bersekolah, masih harus ikut les ini itu sampai malam hari. Moso anak krucil begini jadwalnya lebih padat dari jadwal Bapak Direktur? Kapan mainnya? Kapan mereka punya waktu berkespresi? Saya sempat menulis artikel “Belajar itu (seharusnya) Menyenangkan’ di koran sekolah anak saya. Supaya banyak ortu yang lebih bijaksana sebelum mengenjot anak2 mereka habis2an… You wrote a nice article. Plain simple, but sadly always overlooked by others.
September 21st, 2010 at 16:12
pendidikan di Indonesia “terlalu maju”, jadi siswa cepat pintar, sampe akhirnya cepat bosan dan jenuh belajar. masih kecil sudah di forsir sudah besar jenuh belajar
September 22nd, 2010 at 12:42
Saya Sangat setuju sekali, bahwa belum saatnya anak – anak dijejali dengan dengan hal seperti baca dan menulis pada usia terlalau dini, tapi gimana lagi sistem di beberapa sekolah konvensional mengajarkan hal seperti itu.
Ini yang saya alami terhadap anak saya, baru usia 5 tahun tapi dituntut di sekolah tk udah harus bisa baca dan menulis apalagi tekanan harus bisa ini dan itu ketika udah masuk SD kelak, saya jadi kasian melihat dia dengan waktu yang dia jalani, . Semoga orientasi pendidikan kita tidak berorientasi pana nilai nilai secara kuantitatif melainkan berorientasi pada softskill dan potensi yang terkandung pada anak-anak tersebut
November 12th, 2010 at 01:08
Semoga penderitaan para korban Tsunami di Mentawai, meletusnya Gunung Merapi di Yogja dan juga banjir bandang di Wasior Papua Barat dapat segera berakhir dengan datangnya bala bantuan dari masyarakat, pemerintah maupun badan-2 internasional.
July 7th, 2011 at 16:19
Pengalaman saya seperti Bapak, saya mengikuti kurikulum TK Negeri Pembina di Kota Malang. Saya juga tidak terlalu menekankankan pada anak-anak saya untuk bisa membaca atau menulis, namun untuk solat atau hafalan surat pendek saya perkenalkan sejak anak belum mengenyam pendidikan formal. Saya juga tidak terlalu memilih SD yang favorite, tetapi SD Swasta yang memang tidak mempersyaratkan anak yang masuk SD tersebut memiliki ijazah TK. Di TK anak saya tergolong pada anak yang memiliki kemampuan kurang, karena memang dia sedikit pemalu dan tidak banyak ngomong.
Saya fikir saya ekstra membimbing anak-anak waktu di SD. Saya fokus mengecek kemampuan anak-anak pada empat mata pelajaran, yaitu : 1) membaca, 2) menulis, 3) matematika 4) bahasa Inggris, sedangkan yang lain sambil lalu. Saya tidak mewajibkan anak saya mempunyai nilai excellent. Membaca dan menulis adalah dasar membuka ilmu, matematika melatih penalaran dan bahasa Inggris melatih komunikasi. Setiap sore di TPA untuk belajar IQRO sampai dengan baca Al Quar,an dan dua kali seminggu bahasa les bahasa Inggris.
Alhasil dalam jangka 2 bulan waktu kelas satu SD anak perempuan saya sudah lancar membaca dan menulis bersambung, sedangkan anak laki-laki saya perlu waktu lebih lama yakni 3 bulan.
Selama di SD prestasi keduanya masuk dalam 3 – 7 besar. Bahkan setelah di SD pernah menjadi wakil sekolahnya ke konvensi anak-anak se Asia Pasifik di Jepang. SMP dan SMA,
(sekolah yang memang masuk kelas favorite) dilalui dengan prestasi yang tergolong 10 besar.
Kini keduanya telah bekerja sebagai dokter di salah satu Pemkot di Malang Raya dan PNS lingkup Dirjen Pajak. Namun disisi lain saya kurang berhasil membawa anak-anak saya untuk berkompetisi. Mereka cenderung bertemperamen low profile.
August 1st, 2011 at 11:13
Pendidikan anak Usia Dini itu sangat di perlukan hal ini berdasarkan pendapat Benyamin s. Bloom (Profesor Pendidikan dari Universitas Chicago) yang menyatakan:”ternyata 50% dari semua potensi hidup manusia terbentuk ketika berada dalam kandungan samapai usia 4 tahun. Lalu 30% potensi berikutnya terbentuk pada usia 4-8 tahun”. cuma yang harus di perhatikan adalah metode yang di gunakan jangan sampai menjadi beban psikis bagi anak-anak! Kami mempunyai metode pendidikan untuk anak usia dini, barang kali metode ini bisa pas untuk di terapkan pada anak anda. Silahkan kunjungi website kami http://belajar-membaca.com.
Terima kasih kami sampaikan sebelumnya!
October 20th, 2011 at 20:26
membaca cerita bapak…saya merasa sedih juga pak. kenapa pendidikan usia dini d Indonesia ini sangat menyedihkan. taman kanak-kanak bukan merupakan lagi tempat anak bergembira, tapi merupakan tempat” penyiksaan otak anak” dg dijejali berbagi kegiatan calistung. D TK tmt saya praktek mengjara, saya temukan banyak kegiatan belajar, majalah2, LKS, dan lainsebagainya yang mengajarkan tentang calistung. anak juga diajari berbagi ekstra seperti bahasa inggris, ngaji, musik angklung, komputer, calistung (ekstra wajib) drum band dan jari mataika (tidak wajib). saya sebagi mahasiswa merasa berbagi kegiatan diatas sangat membebani anak. banyak anak yang cumbuh dengan angka, huruf, not, huruf arab, bahasa inggris angka 1(satu) saja bisa dibaca one, alif, do. sulit bukan????
October 20th, 2011 at 20:34
Pendidikan anak Usia Dini itu sangat di perlukan hal ini berdasarkan pendapat Benyamin s. Bloom (Profesor Pendidikan dari Universitas Chicago) yang menyatakan:”ternyata 50% dari semua potensi hidup manusia terbentuk ketika berada dalam kandungan samapai usia 4 tahun. Lalu 30% potensi berikutnya terbentuk pada usia 4-8 tahun”.
SETUJU SAJA DENGAN PNDAPAT DISERTAI TEORI DI ATAS. SAYA MENGAMATI ANAK2 DARI USIA 0-6(MF USIA 7 DAN 8 SAYA BLM MENGAMATI)LEBIH CERDAS. CERDAS DSNI YANG SAYA MAKSUDKAN YAITU ANAK CEPAT HAFAL, INGATAN YANG BAIK. SAYA JADI INGIN TAU CARA MENJEJALI ANAK YANG LEMBUT ITU SEPERTI APA???