Presiden Tak Setujui Gedung Baru DPR
2 September 2010Presiden Susila Pandir Yardhayana mengumpulkan beberapa orang penting di ruang kerjanya. Di antara yang hadir adalah Ketua DPR, yang memang berasal dari partai pendukung utamanya. Juga ketua partai, serta ketua fraksi dia undang. Lalu ada pula Menteri Hukum.
Lagi-lagi Presiden menghadirkan wajah cemberut. Muram. Wajah gemuknya yang sehari-hari dipenuhi lekuk-lekuk dalam, semakin terlihat penuh lekuk. Para hadirin membaca gelagat buruk. Ada apakah gerangan? Apakah Presiden sedang stress memikirkan hubungan dengan negeri jiran? Atau sedang kecewa karena album-album yang dirilisnya tak kunjung laku di pasaran? Entahlah. Yang jelas di tengah gelagat buruk itu tak ada yang berani buka suara duluah. Para hadirin duduk rapi di meja sidang, menunggu Presiden buka suara.
Setelah pamer tampang perang beberapa saat, Presiden buka suara.
„Saya sudah mendengar soal rencana pembangunan gedung baru DPR beserta kontroversinya. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, maka saya perintahkan agar rencana itu dibatalkan!”
Ruang sidang lantas dipenuhi bisik-bisik tak jelas. Ketua DPR Majuki tampak gusar. Mukanya agak merah, mulai berkeringat. Napasnya terengah-engah. Titah Presiden tadi bagi Juki bak siraman air dingin di tengah tidur lelapnya yang penuh mimpi indah.
Rencana pembangunan gedung baru itu sangat menggairahkan Juki. Ia sudah mendapat gambaran detil tentang rancangannya. Ada kolam renang. Ada apotek. Dan ada spa. Hemmmm………. Ini surga. „Usai berenang dan berjemur di pinggir kolam renang,“ khayal Juki, „aku bisa ke apotek untuk membeli multivitamin, obat kuat, juga beberapa peralatan kecil. Lalu aku akan ke spa……..“ Hmmmmm, spa. Juki tahu bahwa tak mungkin ada spa plus plus di gedung semulia gedung DPR. Tapi dia juga lebih tahu bahwa di DPR semua bisa diatur. Kalau ia bisa mengatur agar tersedia duit 1,6 triliun rupiah untuk membangun gedung, apa susahnya untuk diam-diam menambahkan ++ pada sebuah spa?
Meski sering mendapat sorotan dan kritik, dengan berbagai cara Juki sudah berhasil membuat orang lupa soal biaya yang diperlukan untuk membangun gedung ini. Ia mencontoh cara Presiden, menggunakan konsultan dalam mengelola isu. Ia rela mengalirkan sedikit anggaran untuk keperluan itu.
Titah Presiden yang membuyarkan mimpi indahnya itu kontan membuat Juki gusar. Ia tak berani terang-terangan membantah Presiden. Presiden Pandir menduduki posisi paling penting di partai. Kalau Presiden tak berkenan, Juki bisa terpental dari jabatan Ketua DPR. Itu petaka besar. Tapi dia juga tak bisa berdiam kalau mimpi indahnya dibuyarkan.
„Mohon ijin bicara, Pak. Saya paham bahwa Bapak sangat penuh perhatian pada kepentingan rakyat kecil. Saya yang selalu mendampingi Bapak selama kampanye pemilu kemarin, sadar betul bahwa Bapak senantiasa berpihak kepada rakyat kecil. Program-program yang Bapak tawarkan kepada rakyat adalah program yang pro rakyat kecil belaka.”
Mendengar ucapan Juki itu kerut tekuk-tekuk di wajah Presiden sedikit berkurang. Ia senang mendapat pujian dari anak buahnya. Melihat reaksi itu Juki tambah semangat.
„Memasuki periode kedua jabatan Bapak rakyat terlihat semakin sejahtera. Mereka semakin cinta pada Bapak. Tak salah kiranya kalau Bapak senantiasa bertitah bahwa pembangunan yang Bapak pimpin ini memang benar-benar sudah on the right track. Bapa juga sudah berhasil melaksanakan berbagai debottlenecking, sehingga berbagai hambatan pembangunan sudah di-eliminated. Sebentar lagi, our country will be known as a perfectly developed country in the region………”
Terbuai sejenak oleh puji-puji dari Juki, Presiden kemudian sadar bahwa Juki tak hanya bicara kepanjangan, tapi sudah lancang meniru style bicara dia yang bertabur bahasa asing itu. “Kedawan! Sakjane kamu itu mau ngomong apa to?” sergah Presiden.
“Eh, nganu, Pak.” kata Juki mulai gugup lagi. “Melihat kinerja Bapak itu, kami di DPR termotivasi untuk bekerja lebih keras lagi. Untuk itu diperlukan fasilitas-fasilitas pendukung yang memadai. Dalam rangka itulah kami berniat mempernaharui tempat kerja kami.”
Presiden langsung menjawab. „Itu aku paham. Kalian sudah selayaknya mendapatkan fasilitas itu. Oleh karena itulah maka anggaran itu aku setujui dimasukkan ke dalam APBN.”
Presiden mengambil jeda sejenak. Juki sumringah.
„Tapi ada perkembangan baru yang terus terang meresahkan sata. Ini membuat saya berfikir untuk mengubah rencana itu. Dana yang cukup besar itu akan saya alihkan untuk keperluan lain.“
“Apakah dana itu akan digunakan untuk membeli senjata baru untuk berperang mengganyang Malaysia?“ tanya ketua partai yang sejak tadi diam.
“Bukan. Kita tak akan berperang melawan Malaysia. Perang itu cara orang yang tak bermartabat. Kita akan tetap menempuh jalur diplomasi dengan Malaysia. Saya sedang membentuk Tim Satgas baru untuk mengkaji persoalan dengan Malaysia. Beberapa mantan aktivis mahasiswa yang dulu mendukung saya dalam kampanye sudah saya daftar untuk dimasukkan ke dalam Tim Satgas ini.”
“Lalu, apakah dana itu akan dipakai untuk promosi album terbaru, Bapak?“ tanya Luhut, ketua fraksi.
“Ah, kamu ini selalu ngawur, Luhut. Aku tidak akan menggunakan uang negara untuk keperluan semacam itu. Untuk promosi albumku sudah ada sumber dana sendiri sumbangan dari para pengusaha yang loyal kepadaku.“
„Lalu alokasinya untuk apa?“ tanya Menteri Hukum.
Presiden menatap Menteri agak lama. Lalu bicara lagi.
„Ini tugasmu, Lis. Aku ingin dana itu dipakai untuk membenahi penjara-penjara kita.“
Menteri Hukum tersentak kaget, tapi kemudian segera jadi sumringah. „Proyek, proyek, proyek.“ kata batinnya. Dan tak cuma Menteri Hukum yang kaget. Semua orang kaget. Apalaki Majuki. Dia sangat tak rela dana itu dialihkan untuk membenahi penjara. Dia mulai nekat, memberanikan diri membantah Presiden.
“Mohon maaf, Bapak. Saya kira dalam hal ini Bapak agak sedikit, sangat sedikit sih, melenceng dari program yang sudah Bapak tetapkan. Seingat saya tidak pernah ada rencana memperbaiki penjara. Dan saya yakin Bapak tahu bahwa sudah ada pihak-pihak yang bertanggung jawab soal ini, yaitu para terpidana korupsi.”
“Betul, Juki. Selama ini memang urusan memperbaiki fasilitas penjara kita serahkan kepada para penggunanya, yaitu terpidana korupsi. Tapi ke depan, saya ingin program ini diambil alih oleh negara. Dan dilakukan secara terstruktur dan menyeluruh.”
“Dalam rencana saya, beberapa penjara penting akan kita lengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti kolam renang, ruang fitness, serta spa. Sedangkan penjara-penjara lain akan kita perbaiki agar tak terlihat kesenjangan yang terlalu mencolok. Program itu harus selesai tuntas sebelum tahun 2014.”
Hadirin semakin bingung, tak paham dengan apa yang ada dibenk Presiden.
“Tapi untuk apa semua itu, Pak?” Tanya Juki tak sabar. “Apakah ini tekanan dari Amnesti International?“
„Bukan. Aku melihat perkembangan yang meresahkan belakangan ini.“
„Apa itu, Pak?“ tanya ketua partai.
“Meski saya coba untuk mengarahkan, arus pemberantasan korupsi nampaknya semakin liar. Coba perhatikan. Setelah memenjarakan besanku, KPK sekarang memidanakan beberapa mantan menteri di kabinetku. Aku melihat KPK ini tak bisa diatur. Pada tahap ini mereka memang beraninya sama mantan-mantan belaka. Tapi saya tak merasa tenang. Karena suatu saat, saya pasti akan jadi mantan juga.”
Presiden mengambil jeda lagi. Hadirin terdiam semua.
“Tahun 2014, kita semua akan jadi mantan. Coba kau bayangkan, Juki. Berapa lama kau bisa menikmati gedung DPR yang hendak kau bangun? Paling-paling selesai tahun 2013, di ujung masa jabatanmu. Artinya kau hanya menikmatinya setahun, kurang lebih.“
Juki mengangguk-anggung, sedikit paham, banyak tidak.
„Lalu ke mana kau akan pergi setelah jadi mantan, Juki? Boleh jadi ke penjara. Karena itulah, mumpung masih ada kesempatan, kita benahi tempat tinggal kita di masa depan itu.“
Hadirin terdiam. Paham.
September 2nd, 2010 at 14:20
lanjutkan pemberantasan korupsi, kuak terus anggota dpr yang korupsi, tangkap dan masukkan ke bui, mantab KPK hari ini.
September 2nd, 2010 at 23:57
Semoga status quo dan para wakil “rakyat” baca tulisan ini.
Mohon izin diteruskan ke forum yg lain ya.
September 20th, 2010 at 04:05
Hahaha.. saya khawatir jangan2 ini sudah dilakukan diam-diam..
September 21st, 2010 at 18:15
Really2 funny and inspiring….izin share boleh?
September 29th, 2010 at 17:25
I simply admire you
February 21st, 2011 at 02:21
hahahha..wkwkwkwkw…ngakak guling2….kang hasan bisa ngasih inspirasi buat gerombolan itu…