Reformasi di Kantor Pajak

       Ketika Departemen Keuangan mencanangkan reformasi birokrasi saya skeptis. Isu yang muncul ketika itu seolah pusat reformasi ini pada sistem remunerasi. Apa iya kalau gaji pegawai diperbaiki lantas mereka berhenti korupsi?  Suatu ketika saya diundang menghadiri sosialisasi masalah perpajakan oleh KPP Karawang. Waktu itu pembicaranya adalah Kakanwil Ditjen Pajak Jawa Barat. Isi pembicaraannya lagi-lagi soal reformasi di Kantor Pajak. Ketika itu saya juga skeptis

       Sekitar 3 bulan yang lalu, perusahaan tempat saya bekerja mengajukan restitusi PPN ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Bekasi . Jumlahnya lumayan untuk ukuran sebuah PMA berskala kecil. Semua dokumen saya lengkapi, lalu permohonan saya ajukan. Saya ketar ketir. Di masa lalu restitusi PPN adalah salah satu objek perasan petugas pajak. Suara-suara di sekitar saya bernada sama soal ini. “Kembali 50% itu bagus, bisa 70% excellent.”

       Meski yakin tidak ada yang salah dengan dokumentasi perpajakan perusahaan kami, saya tetap ketar ketir. Salah satunya karena trauma masa lalu. Ada saja kesalahan yang diungkit petugas pajak untuk membuka pintu negosiasi soal imbalan kalau nanti dana yang direstitusi sudah cair. Kali ini pun saya pasrah. Pokoknya serahkan saja dulu aplikasinya, kalau ada “masalah” ya siap-siap negosiasi.

       Prosesnya berjalan relatif cepat. Setelah beberapa kali diminta melengkapi dokumen, disertai kunjungan petugas, akhirnya saya dapat kabar bahwa restitusi kami disetujui, nyaris tanpa koreksi. Sejauh prosesnya berjalan, tidak ada isyarat dari petugas untuk minta sesuatu.

      Situasi ini jelas membingungkan buat saya.  Biasanya belum-belum sudah ada bisik-bisik, isyarat, dan lain-lain. Bagaimana saya harus bersikap? Kalau saya tawarkan sesuatu, saya khawatir dituduh menawarkan suap. Kalau saya diam saja, bisa-bisa masalah perpajakan saya dipersulit di masa depan.  

      Dalam hati saya bertekad, sebisa mungkin saya tidak ingin memberi sesuatu ke petugas pajak. Sejauh yang sudah berjalan, saya lihat sudah ada beberapa perbaikan nyata dalam pelayanan mereka. Tapi soal uang imbalan ini adalah soal yang paling krusial. Kalau saya tawarkan sesuatu, meski mereka tidak meminta, boleh jadi mereka juga tidak akan menolak. Kalau itu terjadi, saya justru turut berperan dalam merusak tatanan baru yang dicanangkan lewat reformasi birokrasi.

      Konsultasi juga saya lakukan dengan teman-teman yang punya kepedulian tentang masalah ini. Ada yang masih menjalankan tradisi lama, memberi sesuatu pada petugas, dan petugas itu menerimanya. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk tidak memberi apapun ke petugas.

      Akhirnya tadi pagi staf saya memberi tahu bahwa uang restitusi sudah masuk ke rekening kami. Sekali lagi saya sempat bingung harus berbuat apa. Nah, kebetulan hari ini atas undangan kami datang 2 orang petugas dari Seksi Pelayanan KPP Madya Bekasi untuk menjelaskan soal kewajiban punya NPWP kepada karyawan perusahaan kami. Ketika penyuluhan selesai, pas jam makan siang. Saya tawarkan kepada mereka untuk makan siang bersama. Tapi mereka menolak.

      Di masa lalu, adalah lumrah kalau perusahaan menjamu makan petugas pajak. Di situ negosiasi dapat dimulai. Kali ini petugas sepertinya benar-benar menutup peluang itu. Meski mereka bukan petugas yang tadinya mengurusi restitusi saya, sikap mereka ini bagi saya mewakili sikap institusi. Maka tekad saya bulat. Sama sekali tidak perlu memberi imbalan kepada petugas. Kalau itu saya lakukan saya melanggar hukum. Dan lebih buruk lagi, saya merusak tunas reformasi yang sebetulnya juga saya harapkan untuk tumbu dan berkembang.

      Tulisan ini adalah wujud rasa syukur saya atas perubahan di Kantor Pajak. Perubahan ini tentu belum mencerminkan hasil reformasi secara menyeluruh. Tapi serpihan peristiwa ini bagi saya adalah titik penting bagi perubahan menuju Indonesia yang lebih baik. 

     Reformasi adalah soal perubahan mind set. Petugas pajak sudah menunjukkan perubahan itu. Masalahnya, bisakan wajib pajak mengubah mind set mereka? Saya sendiri merasakan betapa sulit mengubah mind set itu. Perlu banyak konsultasi hingga saya sampai pada kesimpulan bahwa petugas pajak sudah berubah.

      Bagi mereka yang selama ini diuntungkan oleh kebusukan petugas pajak, cerita seperti yang saya alami ini boleh jadi merupakan lonceng kematian buat mereka. Semoga petugas pajak bisa konsisten, termasuk dalam menangani para wajib pajak yang nakal. Dari saya, sikap petugas pajak ini semakin mempertebal komitmen saya untuk senantiasa mengelola urusan perpajakan secara sahih.

wordpress plugins and themes

33 Responses to “Reformasi di Kantor Pajak”

  1. agungby says:

    hahahaha….rekor kang hasan nulis positif. moga2 amal-ibadahnya diterima disisi yg maha esa.

  2. yadi says:

    Terimakasih atas tulisannya sebagai bagian dari korps pegawai pajak saya sangat terharu atas apresiasi Saudara, untuk pembicaraan lebih lanjut mungkin ada masukan lain untuk perbaikan DJP saya mohon untuk dikirimkan Nomor HP Saudara ke yadi_djp@yahoo.com Wassalam……….

  3. MALA says:

    Alhamdulillah….hanya itu kata yang terucap dengan berlinangan air mata, sambil membaca tulisan Saudara.
    Kakanwil saya mengucapkan terima kasih atas tulisan Saudara, setidaknya dunia luar telah mengakui adanya reformasi di tubuh DJP itu ada….ternyata kita bisa.

  4. Ika K. A. says:

    Alhamdulillah semoga langkah awal mewujudkan aparat dan pemerintah yang bersih mendapat dukungan masyarakat Indonesia dan perlindungan Allah SWT, dan kita semua dapat dengan bangga menempatkan Indonesia pada urutan papan atas negara anti korupsi. Insya Allah. Bravo untuk Ibu Sri Mulyani dan Direktorat Jenderal Pajak.

  5. agus b says:

    Salam hormat
    Kang hasan, pagi ini kasubdit kami mengumpulkan kami dan mengadakan “press release” dengan membacakan artikel punya akang, kami dag-dig-dug menunggu akhir ceritanya. Biasanya kami sedih karena cerita-cerita yang berasal dari WP selalu berakhir dengan kekurangan atau keburukan petugas pajak… dan itu membuktikan tugas kami masih belum berhasil…tapi pagi ini kami benar-benar terharu.. apalagi membaca tekad kang hasan di alinea terakhir.
    Kang hasan, kami adalah segelintir pegawai DJP yang berada di unit kepatuhan internal. Adalah salah satu tugas kami untuk menginternalisasi pegawai, berusaha mengubah mind set mereka, mengajak mereka untuk patuh dan profesional, kami sudah melakukan berbagai hal baik preventif maupun represif, namun akang tahu betapa culture kita (DJP) pada masa lalu begitu kelamnya, sehingga semua yang salah pun bisa menjadi benar – dan yang pengin benar justru disingkirkan… sehingga ketika dalam berbagai forum orang pajak selalu dicerca dan dimaki – pun kami harus terima dengan lapang dada… karena demikianlah kenyataannya.
    Namun berbekal semangat modernisasi, kami berusaha bangkit – banyak yang menyambut gembira, namun tidak sedikit resistensi yang datang baik dari petugas, atasan, instansi yang terhubung dengan kami, maupun dari pihak WP sendiri… namun dengan kerja keras, sedikit demi sedikit, pengakuan itu mulai datang – dan tulisan-tulisan yang independent seperti artikel akang – benar-benar menjadi oasis yang sejuk, namun juga seperti obor yang membangkitkan semangat kami untuk terus berjuang memperbaiki DJP kami.. Nuhun banget akang, namun untuk keperluan internal kami mohon diberikan data nama-nama teman-teman di KPP yang berhubungan dengan akang selama proses tsb, – atasan kami bermaksud memberi reward (minimal berupa surat apresiasi) kepada pegawai untuk menambah semangat mereka, dan juga agar dijadikan teladan bagi teman2-nya.

    Untuk validasi ttg kami, NPWP perusahaan akang adalah 02.513.XXX.0.4X1 dan 4X8). Kalau akang bersedia kami mohon data tsb dapat dikirim ke alamat e-mail saya.

    Terus kami juga mohon ijin cerita akang untuk ditayangkan di web internal kami yang kami pakai sebagai salah satu media untuk menginternalisasi pegawai.
    Sekali lagi nuhun atas kerjasama akang, doakan juga kami bisa konsisten dengan tugas kami mengawal reformasi di DJP, karena perjalanan masih begitu panjang dan mendaki. Kami tunggu e-mailnya semoga usaha akang semakin sukses dan selalu menjadi pembayar pajak yang baik.
    Wassalam
    Agus Budihardjo
    Kepala Seksi Internalisasi Kepatuhan
    Direktorat Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya Aparatur
    Telp. 021 79181256, 27535403 ext 403

  6. yocisdead says:

    Thanks alot mas atas tulisan dan kepercayaannya kpd petugas pajak.

  7. wajib pajak says:

    pajak memang nampaknya sudah mulai berubah, pengalaman saya ngurus NPWP sekarang juga cepet dan gratis lagi…
    bravo pajak!!
    semoga tetap bersih

  8. [...] merasa lega. Untuk pertama kalinya saya bisa menulis hal yang baik tentang Indonesia, yaitu tentang Reformasi di Kantor Pajak. Maaf, saya bukan tukang memburuk-burukkan bangsa sendiri. Tapi terlalu banyak kejadian yang begitu [...]

  9. zizaw says:

    Alhamdulillah. Semoga lebih banyak lagi WP yang tahu kalo Pajak berubah.

    Saya sendiri telah melihat beberapa perubahan di kantor saya. Dan semoga Petugas Pajak juga berubah. Ke arah lebih baik. amin.

    Bayar Pajaknya…Awasi Penggunaannya. Oke?

  10. fiskusjua says:

    saya sebagai pegawai pajak ikut terharu juga dengan adanya tulisan ini, terimakasih… tulisan ini memberi semangat kami…
    jangan patahkan semangat kami, dukung kami memperbaiki diri…

  11. fajlu al misykat says:

    Alhamdulillah
    hatur nuhun tina tulisana kang.
    Subhanallah…
    :)
    aya rasa nu “ngageter” di dada pas ngaos tulisan akang.
    insya Allah kang sekarang memang kami lagi bebenah, mulai dari atasan sampai bawahan, dari sabang sampai meuroke..
    berbenah dengan azam dan keikhlasan, karena kami memang mau menjadi lebih baik dari kemarin, selalu.kami ingin menjadi selalu lebih baik. kami ga mau rugi karena sama dengan hari kemarin, apalagi celaka karena lebih jelek dari hari kemarin.akang kami juga akan mati, kami juga akan bertemu dengan Nya, dan kami juga pasti dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan kami didunia, termasuk di instansi kami.
    pebuatan kami hanya bagian dari “menyiapkan” jawaban,bekal yang baik untuk kami ketikakami berhadapan dengan Allah SWT nanti..
    piduana we kang, mugia perbaikan di kantor pajak terus, terus berlanjut..

    salam ti urang sumedang
    :)

  12. gropet says:

    terimakasih untuk membuat kami lebih bersemangat untuk bekerja..
    pandangan anda mewakili tekad kami untuk berbuat semaksimal mungkin untuk mewujudkan reformasi..
    –seorang pegawai–

  13. rika sjafri says:

    terharu..
    hiks

    akhirnya

    ada yang memperhatikan perubahan kami

  14. MazAzy says:

    Idem dito dengan Mas AGus B, INsya Allah tulisan KAng Hasan berefek positif, menguatkan perubahan bagi kami di DJP ke arah yang benar… btw..mengutip buku KUantum Ikhlas, kalau yang positif feeling hanya orang pajak ( walaupun gak semua), efeknya tidak sedahsyat bila WAjib PAjak juga ikut ber-positif-feeling. Kang Hasan sudah melakukani tu… plis.. semoag WP2 lain yang mengalami hal 2 positif dapat disebarkan ke kami sebag feedback dan teman2 lainnya… bantu Kami di DJP untuk menjadi salah satu pelopor Indonesia Good Governance. Jazakumullah…

  15. Mas Iz says:

    Salamun’alaykum wr wb,

    Semoga Rahmat dan Barakah_Nya senantiasa terlimpah pada Qita Semua. Amin.

    Menanggapi Artikel yang sudah di goreskan dan di sampaikan oleh Kang Hasan,,,
    Alhamdulillahirabbil’alamin..,
    Sungguh, banyak hal positif yang di dapat dari Artikel kang Hasan ini,. PERTAMA bagi Masyarakat, Sejauh ini Image yang ter”iyang-iyang” di pikiran masyarakat bahwa “PAJAK SEPERTI INI ITU dan LAINNYA” tapi Alhamdulillah,, artikel ini menginformasikan bahwa PAJAK SEKARANG BEDA, LEBIH BAIK.

    Bisa Jadi, Pelayanan para pegawai pajak sekarang ini sudah banyak dirasakan “BAIK” oleh masyarakat, namun mereka belum “seutuhnya ” meyakini bahwa “PAJAK TELAH BERUBAH”…. Nah Alhamdulillah, Dengan tulisan AKANG, Semoga Manfaat2 yang telah diabdikan oleh Para Pegawai Pajak bisa Benar-benar dirasakan oleh Masyarakat KHUSUSNYA para Wajib Pajak, INsyaALLAH.

    KEDUA, Bagi PETUGAS PAJAK sendiri, tentunya hal yang sudah disampaikan tadi merupakan sebuah penghargaan dan apresiasi yang dalam karena pelayanan yang sudah mereka berikan ternyata benar2 membawa dampak yang “SANGAT POSITIF” bagi Masyarakat. NAMUN DEMIKIAN, hal tersebut juga menjadi ENGINE, SPIRIT, dan DORONGAn bahwa PETUGAS PAJAK akan Selalu memberikan Pelayanan Yang TErbaik UNTUK MASYARAKAT.,,,

    BRAVO PAJAK

    ,..”^-^”

  16. Bobby says:

    terima kasih, saya sampai terharu sekaligus bangga sewaktu membaca tulisan anda.

  17. aJOemOni says:

    You’ve come this far, don’t throw it away…
    (If We Hold On Together, Diana Ross)

    we love Indonesia, yo..
    :mrgreen:

  18. sonny says:

    Bravo buat Madya Bekasi, Bravo juga buat Wajib Pajak. Mudah2an kedua-duanya bisa mencerminkan keberadaan DJP dan WP secara keseluruhan. Artinya semua pegawai pajak mempertahankan komitmennya agar penilaian seperti ini relatif sama buat segenap institusi DJP dan sebaliknya Wajib Pajak ikut beradaptasi dengan modernisasi ini seperti halnya penulis artikel. InsyaAllah yang paling diuntungkan adalah anak cucu kita sendiri kok….. Kita wariskan buat mereka Indonesia yang lebih baik.

  19. joss says:

    kenapa yach banyak banget pegawai pajak yang nanggepi dengan “kesan” mereka terharu??? Kayaknya mereka emang perlu pengakuan kalo mereka udah berubah….
    btw…kayaknya yg nanggepin emang pegawai pajak semua yach??!!! jadi terkenal donk Kang HAsan di pajak..he..he..

  20. Dudi says:

    Sebenarnya cerita seperti ini sudah menjadi hal biasa semenjak reformasi pajak digulirkan. Tapi yang membuat luar biasa, Kang Hasan mau mengungkapkannya kepada publik. Biasanya orang akan berbicara ke publik bila pelayanannya tidak memuaskan.
    BTW, salam kenal Kang Hasan.

  21. [...] ini. Silahkan baca kesaksiannya tentang perubahan kantor pajak ini dalam postingannya berjudul Reformasi di Kantor Pajak. Related PostsAntara Pajak dan ZakatApa sih bedanya pajak dan zakat? Ya beda lah, masa ya beda [...]

  22. Hasanudin Abdurakhman says:

    Bu/Pak Joss,
    saya kira reaksi teman-teman pegawai DJP adalah sesuatu yang wajar. Mereka selama ini harus ikut menyandang citra tidak bersih. Padahal tidak semua pegawai DJP tidak bersih. Yang bersih sudah mulai bertambah banyak, tapi citra tidak bersih masih terus melekat. Bahkan reformasi yang mereka coba lakukan masih dipandang sebelah mata. Saya termasuk yang tadinya memandang sebelah mata. Makanya ketika saya merasakan sendiri perubahan di DJP, saya kaget.

    Saya biasa menuliskan berbagai ketidakpuasan saya. Bukan dalam rangka bergunjing, tapi sebagai ekspresi dari keinginan saya akan adanya perubahan. Maka ketika ada perubahan, saya merasa perlu untuk mengabarkannya. Bagaimanapun menulis tentang sesuatu yang baik itu lebih enak daripada menulis tentang hal yang buruk.

    Seperti saya tulis juga, reformasi di DJP baru saja berjalan. Pasti masih banyak ketimpangan di sana-sini. Dan ketimpangan itu harus diperbaiki. Jadi saya memuji sambil tetap kritis terhadap hal-hal yang belum diperbaiki.

    Salam
    Hasan

  23. seneng saya baca postingan ini. jarang banget baca postingan yang ngomongin pajak dan berakhir begini… semoga apa yang ditulis diikuti oleh semua petugas pajak di seantero Indonesia yah..

    jangan sampe langkah reformasi birokrasi yang sudah berjalan masih dinodai oleh krakusan dan ketamakan orang yang gak pernah bersyukur.

    anyway, enak banget ya orang pajak dulu…kelam..eh sekarang pemutihan…dudududu…

    hanya di akhirat nanti yang bisa membalasnya

    makasih paostingannya ya…it helps me to work with smile :)

  24. budiyati says:

    salam buat bu Ade, Sarah, Giffari dan adiknya

  25. tio says:

    terimakasih atas apresiasinya…
    dukung kami untuk berubah ke arah yang lebih baik…

  26. mierz says:

    hah, pajak sudah berubah ??
    sumpeh lu ??

    tapi emang bener kok, pajak sekarang udah berubah (petugasnya).
    Mudah2an Wajib pajaknya juga mau berubah, sehingga dia mau mematuhi peraturan yg ada..
    apalagi sekarang kan ada sunset policy, manfaatkan dong ( kayak di iklan tipi)
    hahaha

    lam kenal pak..

  27. Darnim N says:

    Kang Hasan, kok rada beda isinya dengan tulisan akang di MP http://kanghasan.multiply.com/journal ===> Punya NPWP.

  28. Hasanudin Abdurakhman says:

    iya pak darnim. tulisan itu saya buat sekitar awal tahun. waktu itu kami masih dilayani oleh KPP Pratama. tulisan itu juga saya link kan dengan tulisan yang sekarang ini. intinya, apa yang saya alami dulu itu membuat saya skeptis soal reformasi di kantor pajak. sampai saya mendapat pengalaman baru ini, yang sungguh mengejutkan saya.

  29. Ical says:

    Saya juga minta ijin untuk memasukkan artikel ini di Web kami….

    Terima Kasih….

  30. AMulya Sumedang says:

    Bener euy beda… ayeuna mah beda alias hade, Suatu hari saya di telepon di kantor oleh KPP Bandung Karees untuk menghubungi seorang petugas pengawas pajak ; dag dig dug berdebar wah aya naon, kesan pertama wah harus siap-siap dengan segala sesuatunya. Setelah saya telepon disarankan oleh beliau untuk memperbaiki SPT 2006 saya, ada yang harus diklarifikasi dan di perbaiki dan saya dimungkinkan untuk mengurusnya oleh kuasa yang biasa mengurusinya, setelah 2 kali kunjungan selesai dan orang yang diberi kuasa lapor kepada saya bahwa semuanya sudah selesai ; tapi tanpa itu dan ini …..alias tanpa imbalan, iapun agak keheranan, sehingga membuat ide sendiri bahwa Sebaiknya menjelang lebaran mengirim Kartu lebaran plus. 1 minggu sebelum lebaran ide tsb dilaksanakan, setelah menunggu beliau selesai rapat disampaikanlah Kartu plus itu, tetapi apa yang terjadi … saat utusan itu dalam perjalanan pulang …dikejar-kejar oleh Bapak Petugas tadi Kartu ucapan selamat IdulFitrinya diterima, tetapi plusnya dikembalikan dengan baik, tanpa pesan apa-apa. Dalam Loporan yang diberi kuasa itu keheranan & tercetus :Bener euy beda… ayeuna mah beda alias hade ; Padahal si Bapak teh Anom keneh.
    Selamat kepada Insan Pajak khususnya Bandung-Karees, Kami bersama rekan-rekan Ingin bayar Pajak dengan benar, tanpa rasa waswas dan prasangka. Sebaliknya Justru jadi tempat bertanya-konsultasi yang aman dan nyaman.

  31. THW says:

    Salam hormat kang

    Permios, nuhun ikutan komentar, nya,
    Perubahan nu sekarang dilakukan di kantor pajak mah semoga bisa menjadi trigger buat kita semua, secara berubah itu mah teu enak dan rada kudu dipaksa. Kadang mah kayak main siasat aja jadinya. Tapi Insya Alloh kalo tabah,konsisten dan kreatif, ada aja yang mendukung dan bisa jadi momentum. Nu yang tiyasa jadi contohna : pas lagi mulai masuk krisis di September 2008, eh pas mulai ada sunset policy. Orang-orang kaya pada bayar pajak lebih dari biasanya. Jadi Indonesia kita punya amunisi lebih di tahun krisis 2009 buat stimulus pembangunan serta modal tambahan buat reformasi di departemen lain. Contoh lagi, pas mau pemilu eh pas juga waktu 11 juta WP baru pada harus lapor pajak tahunan. Nu jadina mereka mah akan lebih cermat memilih secara kalo milihna serampangan, bisa jadi pajak nu baru aja dibayar tiyasa habis dikorup anggota dewan nu terpilih. Nah, kebetulan-kebetulan macam gini kang, sering teu direncanakan sami mudah terlewatkan begitu saja, kalo teu ada nu ngemulai perbaikan. Dengan 2 hal barusan, reformasi pajak mulai nyata manfaatna buat Indonesia secara bisa mendorong orang nu kaya buat nyumbang lebih pas badhe krisis serta mendorong terciptana DPR-DPRD yang bersih. 11 juta WP baru plus jutaan calon WP baru lainnya tentuna nuntut perbaikan pelayanan disemua sektor, secara mereka tos dipaksa repot-repot ngisi SPT sami nglaporin hartana. Nah, jadinya, kantor-kantor lain mah juga kudu, mau nggak mau, suka nggak suka, berubah juga. contohna kudu bisa memfasilitasi investasi, kemudahan mencari lapangan kerja dll.
    Kalo udah begini kang, teu heran kalo Indonesia badhe nglewati berbagai krisis lebih gampang. Terus Indonesia jeng teu dipandang sebelah mata oleh bangsa lain dan punya bargaining position perundingan investasi dan pasar bebas dst…dst…dst..
    Jadinya kayak bola salju aja kang…..
    Cuman bola salju ini tiyasa gampang mencair kalo orang-orang pajaknya ternyata teu tiyasa kompak dalam reformasi, secara ngurusin laporan pajak jutaan WP pribadi riskan dengan kesalahan, apalagi kalo udah urusan pajak pribadi. Rasanya sih kang, nggak banyak yang punya sikap kaya akang yang “mempertebal komitmen saya untuk senantiasa mengelola urusan perpajakan secara sahih”. Secara ini udah duit yang benar-benar dari kantong kita, duit belanja & duit sekolah anak.
    Nah, akhirnya, jadinya tergantung kita juga sebagai masyarakat, seberapa besar bola salju akan menggelinding……

  32. lia says:

    ijin share ya kang..

Leave a Reply