Riset Itu Bukan Sulap
24 June 2008Tahun 2002 adalah salah satu tahun yang gemilang dalam sejarah sains dan teknologi Jepang. Sejak tahun 2000 selama 3 tahun berturut-turut ilmuwan Jepang mendapat anugerah Hadiah Nobel. Tahun 2000 Prof. Shirakawa mendapat Hadiah Nobel Kimia atas jasanya menemukan polimer konduktif. Tahun berikutnya giliran Prof. Noyori, juga memperoleh Hadian Nobel Kimia. Puncaknya, tahun 2002 Jepang mendapat dua Hadiah Nobel, yaitu untuk Prof. Koshiba (Fisika) atas keberhasilannya mendeteksi neutrino, dan karyawan sebuah perusahaan alat ukur Shimazu, Koichi Tanaka (Kimia) yang berhasil mengembangkan metode ionisasi pada spektroskopi massa.
Untuk merayakan keberhasilan itu, tak lama setelah penganugerahan Hadiah Nobel, stasiun TV NHK melakukan wawancara khusus terhadap Prof. Koshiba dan Prof. Esaki. Prof Esaki adalah penerima Hadiah Nobel Fisika tahun 1973 dengan penemuan berupa efek terowongan elektron pada semikonduktor.
Ada pertanyaan menarik yang diajukan oleh pewawancara Dia membandingkan dua orang jenius dari dunia yang berbeda, yaitu Albert Einstein dari dunia sains dan Wolfgang Amadeus Mozart dari dunia seni. Keduanya memiliki karya yang luar biasa di bidang masing-masing. Pewawancara bertanya kepada Prof. Koshiba, siapa dari kedua orang itu yang lebih jenius.
Meski Prof. Koshiba seorang fisikawan sebagaimana Albert Einstein, ternyata ia berpendapat Mozart lebih jenius. Einsten, kata Prof. Koshiba, “hanya” sekedar merumuskan hukum alam. Kalau Einstein tidak berhasil merumuskan Teori Relativitas atau Efek Fotolistrik, suatu saat pasti akan ada orang yang merumuskan hukum tersebut. Dan siapapun perumusnya, hasilnya akan sama. Ini karena alam terbuka bagi semua orang, dan hukum-hukumnya berlaku sama, tidak bergantung pada siapa perumusnya.
Sebaliknya, karya-karya Mozart adalah hasil karya yang unik. Kalau dia tak menggubah simfoni-simfoninya, sampai kapanpun tak akan ada orang lain yang mampu menggubah simfoni yang sama.
Ungkapan Prof. Koshiba bahwa alam secara adil membuka dirinya untuk dikaji oleh semua orang, perlu diingatkan kembali kepada semua pihak di tengah polemik yang belum juga usai mengenai kontroversi blue energy. Masih banyak yang percaya bahwa Joko Suprapto mungkin saja menemukan “keajaiban” yang luput dari perhatian para ilmuwan dunia. Ada yang berspekulasi bahwa teknologi untuk mengolah air menjadi bahan bakar itu sebenarnya memang sudah ditemukan. Tapi teknologinya disembunyikan/dilenyapkan oleh pihak-pihak yang diuntungkan dari bisnis minyak. Spekulasi ini jelas sangat jauh dari realitas bila kita ingat ungkapan Prof. Koshiba tadi, serta bila kita menghayati kerja keras para ilmuwan dunia dalam melakukan penelitian.
Saya kebetulan dianugerahi kesempatan untuk menghayati kerja keras para ilmuwan itu. Mulai dari studi S2-S3 hingga menjadi peneliti tamu di beberapa universitas di Jepang, hampir 10 tahun saya mengamati dunia riset Jepang. Jepang memiliki puluhan perguruan tinggi, ditambah sejumlah lembaga riset milik pemerintah, serta lembaga riset milik perusahaan swasta. Ada ribuan orang, profesor, doktor, mahasiswa S1 sampai S3 yang setiap hari bekerja dari pagi hingga larut malam, melakukan riset. Mereka tidak sedang main-main. Mereka bekerja keras, merumuskan teori, melakukan percobaan, menguji hasil percobaan. Banyak di antara ilmuwan itu yang nyaris tak punya kehidupan sosial karena terlalu asyik dengan pekerjaannya, Tujuannya hanya satu, mencari produk teknologi baru, yang lebih cangging, yang lebih bisa menjawab berbagai masalah kehidupan sehari-hari manusia. Mereka itulah yang berada di belakang produk-produk teknologi yang melengkapi hidup kita sehari-hari, mulai dari produk elektronika, IT, pangan, hingga mainan anak-anak kita.
Anggaran biaya riset, lagi-lagi menunjukkan kepada kita bahwa pekerjaan riset itu tidak main-main. Untuk anggaran di tingkat negara jumlahnya mencapai belasan milyar dolar. Situs-situs monumental untuk keperluan riset bercerita tentang hal yang sama. Lembaga penelitian nuklir Eropa, CERN punya fasilitas berupa akselerator partikel dengan diameter 8 kilometer! Bisa dibayangkan berapa banyak sumber daya yang dihabiskan untuk membangun serta mengoperasikan instalasi itu. Stasiun ruang angkasa Freedom tak kalah mengagumkan.
Yang dikerjakan oleh para ilmuwan itu adalah mengkaji hukum alam secara teoretik, lalu mencoba memanfaatkannya menjadi produk yang bisa membuat hidup kita lebih mudah dan berkualitas. Sesuatu yang secara teoretik mungkin diwujudkan, dicarikan caranya. Bila sudah ditemukan, dilanjutkan dengan usaha untuk memproduksinya secara massal dan dengan biaya murah.
Kembali ke soal kontroversi blue energy. Di tengah ratusan ribu orang-orang cerdas yang rela bekerja hingga larut malam setiap harinya, dengan dukungan dana milyaran dolar, masih adakah celah bagi sebuah teknologi seperti pengolah air menjadi bahan bakar, yang bisa ditemukan hanya bermodal peralatan sederhana akan lolos dari perhatian para ilmuwan dunia? Kalau secara teoretik hal itu mungkin diwujudkan, akankah mereka repot-repot mengkaji dan mengembangkan sumber energi lain seperti nuklir, solar sel, arus laut, dan sebagainya? Kalau itu terjadi, alam sungguh tidak adil, telah membukakan dirinya kepada seorang Joko Suprapto, bukan kepada para ilmuwan yang telah bekerja keras tadi.
Setelah kontroversi blue energy mendapat kritikan dari sana sini, Presiden mengumpulkan para akademisi baik dari perguruan tinggi maupun lembaga riset, termasuk dari lembaga penggagas blue energy. Di acara itu Presiden meminta kepada para akademisi untuk mengajukan usulan pemecahan masalah energi nasional. Mereka diberi waktu dua minggu untuk mengajukan usul.
Mudah-mudahan Presiden tak berharap dua minggu kemudian para ilmuwan akan datang membawa usulan solusi atas masalah energi nasional yang bisa menyelesaikan masalah dalam kurun waktu singkat. Orang yang mengerti dunia riset tahu bahwa riset adalah investasi jangka panjang. Sesuatu yang diteliti saat ini mungkin baru akan bias dinikmati hasilnya dua atau tiga puluh tahun ke depan. Singkat kata, riset itu bukan sulap yang menghadirkan sesuatu secara instan.
