<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berbual &#187; Bahasa</title>
	<atom:link href="http://berbual.com/tag/bahasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://berbual.com</link>
	<description>tempat ngobrol ngalor-ngidul</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Oct 2011 09:24:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Belajar Makna Kata</title>
		<link>http://berbual.com/bahasa-dan-budaya-jepang/belajar-makna-kata/</link>
		<comments>http://berbual.com/bahasa-dan-budaya-jepang/belajar-makna-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 02:27:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa dan Budaya Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita-Dongeng-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[belajar bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/belajar-makna-kata/</guid>
		<description><![CDATA[Saya selalu terkenang dan kagum pada guru-guru bahasa Jepang saya. Saya belajar bahasa Jepang di Kuala Lumpur, bersama 10 orang pelajar lain dari negara-negara ASEAN+Bangladesh melalui Asian Youth Fellowship Program (http://www.asiaseed.org/ayfj/info/info_A3.htm). Kami adalah pelajar-pelajar yang hendak melanjutkan pendidikan S2-S3 di Jepang, dan sebelum kedatangan ke Jepang kami mendapat pelatihan bahasa Jepang selama setahun. Kami semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya selalu terkenang dan kagum pada guru-guru bahasa Jepang saya. Saya belajar bahasa Jepang di Kuala Lumpur, bersama 10 orang pelajar lain dari negara-negara ASEAN+Bangladesh melalui Asian Youth Fellowship Program (http://www.asiaseed.org/ayfj/info/info_A3.htm). Kami adalah pelajar-pelajar yang hendak melanjutkan pendidikan S2-S3 di Jepang, dan sebelum kedatangan ke Jepang kami mendapat pelatihan bahasa Jepang selama setahun.</p>
<p>Kami semua buta bahasa Jepang ketika masuk program ini. Saya bahkan tak tahu makna kata &#8220;konnichiwa&#8221; ketika itu. Hari demi hari kami belajar. Kata demi kata kami ingat. Juga sedikit demi sedikit, tata bahasa, hiragana, katakana, dan huruf kanji kami pelajari. Guru-guru kami bisa berbahasa Inggris. Tapi tak pernah mereka mengajar dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Bahasa pengantar saat mengajar, ya bahasa Jepang. Kami hanya menemukan bahasa Inggris di kamus Inggris-Jepang yang kami gunakan.</p>
<p>Di saat-saat awal pelajaran guru-guru kami menggunakan gambar dan bahasa isyarat untuk menjelaskan makna sebuah kata. Kemudian hari, saat kami mulai paham banyak kosa kata bahasa Jepang, mereka menjelaskan kata-kata yang rumit dengan kosa kata sederhana yang sudah kami pahami.</p>
<p>Komunikasi di luar kelas juga selalu dipaksakan dengan bahasa Jepang. Dan bagian inilah yang paling menarik buat saya. Kami selalu bisa berkomunikasi dengan guru kami. Tak kami rasakan adanya kesulitan yang mendasar. Guru kami sepertinya paham betul sampai dimana penguasaan kosa kata dan tata bahasa kami. Mereka berbicara sesuai dengan kemampuan tersebut. Tidak cuma itu. Mereka dengan tertib menyesuaikan diri dengan perkembangan kemampuan kami.</p>
<p>Di akhir program yang berlangsung selama setahun, kami bisa berkomunikasi dengan sangat lancar dalam bahasa Jepang. Kalau diingat saat-saat kami mulai ikut program ini, kemampuan ini terasa aneh dan mengejutkan. Aneh rasanya bahwa kami bisa mengingat ribuan kata dalam setahun. Sesekali saya mencoba mengingat kapan saya memahami makna suatu kata tertentu. Tapi tak banyak yang bisa saya ingat. Saya lupa dengan cara apa, pada saat apa saya mulai paham dan ingat makna sebuah kata. Yang saya ingat hanya makna kata tersebut.</p>
<p>+++</p>
<p>Saya bandingkan pengalaman saya itu dengan pengalaman membesarkan dan mendidik anak saya. Ada kesamaan, yaitu bahwa kepada anak-anak juga kita perkenalkan makna kata, satu demi satu. Mulai dari kata-kata sederhana, makna sederhana, lalu ke kata-kata yang rumit, dan makna kata yang lebih dalam. Bedanya, saya menyerap kata-kata baru dalam bahasa Jepang dengan kematangan logika dan pengalaman, sedangkan anak-anak saya dengan kepolosan.</p>
<p>Kadang saya merasa sulit menjelaskan makna suatu kata kepada anak-anak karena soal kepolosan ini.</p>
<p>Ada kejadian lucu ketika anak saya yang tertua masih usia TK. Suatu hari dia bertanya, &#8220;Ayah, dulu waktu kecil TK-nya di mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayah dulu nggak masuk TK.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena Ayah dulu waktu kecil di kampung. Di kampung tidak ada TK.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak ada TK, Ayah?&#8221;</p>
<p>Saya sempat bingung harus menjawab apa. Lalu keluarlah jawaban ini, &#8220;Di kampung dulu orang-orangnya tidak punya uang. Miskin. Jadi tidak bisa bikin TK. Dan Datuk, ayah Ayah, juga tidak punya uang untuk memasukkan Ayah ke TK.&#8221;</p>
<p>Kata kunci &#8220;miskin&#8221; ini sengaja saya masukkan ke alam fikiran anak saya dengan suatu niat. Saat ini boleh dibilang kehidupan saya berkecukupan, walau tidak mewah. Ini suatu hal yang sangat saya syukuri. Tentu cara hidup anak-anak saya sangat berbeda dengan cara hidup saya ketika masih kecil dulu. Dulu kami biasa diajari hidup prihatin oleh orang tua kami. Sekarang sedikit banyak anak-anak saya harus paham soal hidup prihatin ini, walau mereka mungkin tak akan pernah bisa mengalaminya.</p>
<p>Rupanya kata &#8220;miskin&#8221; ini membekas betul di hati anak saya. Dia sering bertanya seperti apa miskin itu. Saya jelaskan bagaimana kondisi hidup saya waktu kecil dulu. Rumah kami, kata saya, berdinding papan, beratap daun nipah. Saya pergi ke sekolah jalan kaki, tidak pakai sepatu. Dan seterusnya.</p>
<p>Saat kami bepergian dan melewati rumah-rumah kampung, anak saya bertanya, &#8220;Ayah, rumah Ayah dulu seperti itu, ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oooh, jadi rumah orang miskin itu seperti itu, ya.&#8221; kata anak saya membuat kesimpulan.</p>
<p>+++</p>
<p>Makin lama anak saya makin serius memikirkan topik miskin ini. Suatu hari dia bertanya, &#8220;Ayah, kenapa sih orang itu bisa miskin?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena mereka malas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Malas itu apa sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Malas itu nggak mau kerja. Kalau kerja merasa capek sedikit sudah langsung berhenti. Tidak ditahan capeknya, sehingga kerjanya cuma sedikit. Hasilnya sedikit, sehingga jadi miskin.&#8221;</p>
<p>Saya ucapkan itu untuk memberi motivasi pada anak saya, karena dia sering mengeluh capek dan langsung mau berhenti saat melaksanakan suatu aktivitas. Saya fikir dia cuma manja saja.</p>
<p>Ajaran saya itu rupanya membekas di benaknya. Suatu hari dia kami suruh pergi membeli roti bersama pembantu ke toko roti di dekat rumah. Tapi tidak seperti biasa, mereka pergi hampir setengah jam. Padahal jarak toko roti ke rumah kami tak jauh. Khawatir, saya berniat mencari mereka. Kebetulan saat itu mereka sudah terlihat sedang menuju ke rumah.</p>
<p>Pembantu saya mengeluh.</p>
<p>&#8220;Pak, saya diajak pergi ke toko roti yang di sana itu, jauh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lha, ngapain?&#8221; tanya saya.</p>
<p>&#8220;Kata dia harus pergi ke toko yang jauh. Saya bilang ntar capek. Eh dia bilang, capek itu harus ditahan, biar kita tidak miskin.&#8221;</p>
<p>Ampun, deh.</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fbahasa-dan-budaya-jepang%2Fbelajar-makna-kata%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/bahasa-dan-budaya-jepang/belajar-makna-kata/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Belajar Makna Kata" data-url="http://berbual.com/bahasa-dan-budaya-jepang/belajar-makna-kata/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/bahasa-dan-budaya-jepang/belajar-makna-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jidoushi, tadoushi</title>
		<link>http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/jidoushi-tadoushi/</link>
		<comments>http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/jidoushi-tadoushi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 02:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa dan Budaya Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis dan Manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[Media, Bahasa, dan Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/jidoushi-tadoushi/</guid>
		<description><![CDATA[Jidoushi dan tadoushi adalah istilah tata bahasa Jepang untuk kata kerja transitif dan intransitif. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal kata kerja transitf sebagai kata kerja yang membutuhkan objek, sedangkan intransitif tidak membutuhkan objek. Definisi kedua kata kerja ini dalam bahasa Jepang sedikit berbeda, dan bagi saya sangat inspiratif. Karenanya saya ingin sedikit berbagi inspirasi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jidoushi dan tadoushi adalah istilah tata bahasa Jepang untuk kata kerja transitif dan intransitif. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal kata kerja transitf sebagai kata kerja yang membutuhkan objek, sedangkan intransitif tidak membutuhkan objek. Definisi kedua kata kerja ini dalam bahasa Jepang sedikit berbeda, dan bagi saya sangat inspiratif. Karenanya saya ingin sedikit berbagi inspirasi.</p>
<p>Doushi berarti kata kerja. Ji berarti sendiri atau dengan sendirinya, sedangkan ta berarti (pihak) lain. Jidoushi artinya kata kerja yang menggambarkan kejadian/kerja yang terjadi dengan sendirinya, atau dilakukan sendiri oleh subjek. Sedangkan tadoushi adalah kejadian/kerja oleh subjek kepada suatu objek.</p>
<p>Salah satu contoh pasangan kata kerja intransitif-transitif dalam bahasa Jepang adalah deru (keluar, intransitif) dan dasu (mengeluarkan, transitif). Saya punya sedikit cerita tentang dua kata kerja ini.</p>
<p>Saat ini saya diberi amanah untuk memimpin sebuah perusahaan Jepang di bidang plastic molding injection yang baru beroperasi sekitar 3 tahun. Selama ini kami membuat barang-barang pesanan dari perusahaan induk di Jepang, untuk dipasarkan di Jepang dan beberapa negara lain. Namun tahun ini pesanan dari Jepang menurun drastis, sehingga kami dihadapkan pada kemungkinan kami akan merugi.</p>
<p>Untuk menutupi kerugian, kami menerima pekerjaan maklun (subkontrak). Nilai pekerjaan yang kami terima cukup rendah, karena perusahaan mitra kami yang memberi pekerjaan itu juga sedang melakukan cost down secara ketat. Kami yang selama ini terbiasa mendapat order dengan margin keuntungan besar dari Jepang merasa berat melakukan pekerjaan ini.</p>
<p>Namun dengan pertimbangan bahwa ada sedikit pekerjaan lebih baik dari tidak sama sekali, kami putuskan untuk menerima pekerjaan ini. Minimal mesin tidak menganggur dan biaya-biaya rutin (overhead) bisa tertutupi. </p>
<p>Dengan kesadaran sejak awal bahwa pekerjaan ini murah nilainya, kami sangat berhati-hati. Segala macam biaya yang bisa dipotong kami potong. Berbagai cara kami lakukan untuk berhemat. Yang terpenting, tingkat apkiran (reject) kami tekan sekecil mungkin. </p>
<p>Setelah beberapa lama berjalan, kami menyadari bahwa pekerjaan ini ternyata bisa memberikan laba. Tidak besar memang. Tapi ada. Dan itu lebih dari sekedar menutup pengeluaran rutin. Saat menyadari hal itu saya berkata kepada teman saya: „Rieki wa deru mono dewa naku, dasu mono da.“ Secara harfiah kalimat itu berarti, „Laba itu tidak keluar, tapi (kita) keluarkan.“ Maksudnya adalah laba itu tidak dihasilkan dari harga yang dihasilkan dari negosiasi dengan pembeli, tapi dari berbagai efisiensi yang kita lakukan dalam proses produksi.</p>
<p>Ilustrasi kecil di bawah ini mungkin bisa lebih memperjelas. Secara umum hubungan antara biaya produksi(P), harga jual(J), dan laba (L) adalah sebagai berikut:<br />
P + L = J<br />
Artinya kita menentukan harga jual produk kita dengan mempertimbangkan biaya produksi dan laba yang ingin kita peroleh. Namun dalam banyak kasus kita tidak bebas menentukan harga jual. Harga jual seringkali sudah ditentukan oleh pasar. Dalam situasi itu rumusnya berubah menjadi:<br />
J – P = L<br />
Dari harga jual yang sudah tertentu itu yang bisa kita lakukan untuk memperoleh dan memperbesar laba adalah dengan menekan ongkos produksi. </p>
<p>Kata deru dan dasu, sama-sama bisa digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan, yaitu sesuatu yang keluar. Tapi pilihan atas kata transitif atau transitif memberi semangat yang berbeda. Kata kerja transitif mewakili semangat kita untuk melakukan sesuatu, bukan menerima atau menyerah begitu saja pada keadaan.</p>
<p>Ada satu lagi pasangan kata kerja yang bagi saya juga memberi inspirasi, yaitu kowareru (rusak) dan kowasu (merusak). Bentuk lampau kedua kata kerja ini masing-masing kowareta dan kowashita. Saat melakukan eksperimen keteledoran saya menyebabkan sebuah alat laboratorium rusak. </p>
<p>Saya melaporkan kejadian itu kepada Sensei (profesor) saya. Dalam logika bahasa Indonesia otak saya berkata, “Alat itu rusak.” Logika itu saya terjemahkan dalam bahasa Jepang, sehingga dari mulut saya keluar kalimat „Souchi (alat) ga kowareta.” Setelah mendengar penjelasan saya, Sensei menjawab,“Kore wa kowareta janaku, kowashita desho.“ (Ini sih bukan rusak, tapi kamu rusakkan.)</p>
<p>Ada perbedaan mendasar pada dua kata kerja di atas. Kowareru berarti alat itu rusak dengan sendirinya. Sedangkan kowasu berarti ada sesuatu yang menyebabkan kerusakan, dan sesuatu itulah yang (harus) bertanggung jawab. Mengungkapkan kejadian di atas dengan kata kowareru adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab tersebut.</p>
<p>Di akhir tulisan ini saya akan kutipkan sebuah ilustrasi dari buku Seven Habits tulisan Stephen Covey. Kali ini bukan tentang pasangan kata kerja transitif dan intransitif. Tapi tentang kata benda dan kata kerja transitif.</p>
<p>Ada seseorang yang berada di ambang perceraian. Dia merasa sudah tidak ada lagi cinta antara dia dengan istrinya. Dia meminta nasihat pada Stephen Covey.</p>
<p>“Cintai dia.” Nasihat Stephen. </p>
<p>“Itu tidak mungkin.”</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Cinta itu sudah tidak ada antara aku dan dia. Bagaimana aku bisa mencintai dia?”</p>
<p>“Bisa. Cintai dia.”</p>
<p>“Tidak mungkin.”</p>
<p>“Ingat. Cinta itu kata kerja. Kata kerja transitif. Cintai dia. Lakukan usaha untuk mencintai dia. Maka cinta itu akan tumbuh di hatimu dan di hatinya.”</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fbisnis-dan-manajemen%2Fjidoushi-tadoushi%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/jidoushi-tadoushi/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Jidoushi, tadoushi" data-url="http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/jidoushi-tadoushi/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/jidoushi-tadoushi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa ke Dua di Indonesia</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/bahasa-ke-dua-di-indonesia/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/bahasa-ke-dua-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 05:27:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media, Bahasa, dan Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/bahasa-ke-dua-di-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Saya menelepon ke ponsel teman. Perusahaan operator telepon itu adalah perusahaan Indonesia. Karena telepon yang saya tuju dalam keadaan tidak aktif, saya menerima pesan sebagai berikut: “The telephone you are calling is switched off.” Sudah. Hanya itu. Hanya pesan dalam bahasa Inggris, tidak ada pesan dalam bahasa Indonesia. Di beberapa bioskop yang pernah saya kunjungi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya menelepon ke ponsel teman. Perusahaan operator telepon itu adalah perusahaan Indonesia. Karena telepon yang saya tuju dalam keadaan tidak aktif, saya menerima pesan sebagai berikut:</p>
<p>“The telephone you are calling is switched off.”</p>
<p>Sudah. Hanya itu. Hanya pesan dalam bahasa Inggris, tidak ada pesan dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Di beberapa bioskop yang pernah saya kunjungi, petunjuk yang ditayangkan di layar sebelum film dimulai, juga ditulis dalam bahasa Inggris. Tidak ada terjemahan bahasa Indonesia sama sekali.</p>
<p>Kalau kita telepon hotel atau perusahaan besar di Jakarta, penjawab telepon akan menjawab dalam bahasa Inggris. Setelah tahu penelepon berbahasa Indonesia, barulah dia meladeni kita dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Saya teringat perjalanan saya ke berbagai negara. Di Jerman saat saya berbelanja ke toko penjaganya selalu menyapa saya dalam bahasa Jerman. Setelah tahu bahwa saya tidak berbahasa Jerman, barulah dia meladeni saya dalam bahasa Jerman. Demikian pula saat saya berkunjung ke Perancis, pertama kali saya akan disapa dalam bahasa Perancis. Hal yang sama saya dapatkan dalam percakapan telepon.</p>
<p>Dengan kata lain, di banyak negara, orang mendahulukan bahasa mereka sendiri. Bahasa kita adalah bahasa pertama dan utama, bahasa Inggris dan bahasa asing lain adalah bahasa ke dua, tiga, dan seterusnya. Sayangnya yang sering terjadi di Indonesia adalah seperti saya ungkapkan dalam ilustrasi di atas. Bahasa Indonesia adalah bahasa ke dua, atau bahkan tidak diperlukan sama sekali.</p>
<p>Parahnya, ini tidak hanya terjadi di dunia usaha. Birokrasi pemerintah, bahkan Kepala Negara terlihat lebih suka mendepankan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Tengoklah bagaimana Presiden merumuskan semboyan kabinetnya. Dalam bahasa Inggris! Bahasa Indonesia ditampilkan sebagai terjemahan belaka.</p>
<p>Kalau Presiden lebih suka mendepankan bahasa Inggris, jangan heran kalau bangsa ini lebih suka memakai produk-produk dari luar, ketimbang produk bangsa sendiri. Karena kepada mereka setiap hari diajarkan bahwa yang berasal dari luar itu lebih baik. Itulah yang sedang dipamerkan para pemimpin, khususnya sang Presiden.</p>
<p>Sebagai penutup, saya ajukan pertanyaan untuk Anda renungkan.</p>
<p>“Anda mungkin malu kalau kemampuan berbahasa Inggris Anda jelek. Tapi pernahkah Anda merasa malu kalau kemampuan berbahasa Indonesia Anda jelek?</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fpolitik-dan-birokrasi%2Fbahasa-ke-dua-di-indonesia%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/bahasa-ke-dua-di-indonesia/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Bahasa ke Dua di Indonesia" data-url="http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/bahasa-ke-dua-di-indonesia/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/bahasa-ke-dua-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

