Posts Tagged ‘Buruh’

Buah Tangan dari Ayah

4 March 2010

Langkah kakiku aku percepat. Aku ingin segera tiba di rumah. Karena itu aku tolak ajakan kawan-kawan untuk main guli di halam sekolah usai jam pelajaran terakhir tadi. Tak kupedulikan ejekan Mansur saat aku menolak untuk main guli tadi.

“Takut kalah dia. Gulinya tinggal beberapa biji. Kalau kalah habislah semua.“ ejek Mansur. Sesungguhnya hatiku panas mendengarnya. Tapi tak kupedulikan.

Matahari sudah hampir tegak di atas kepala. Sebentar lagi lohor, dan perutku mulai terasa lapar. Tapi bukan karena itu aku buru-buru pulang. Aku berharap bisa segera bertemu Ayah. Atau kalaupun dia belum pulang, aku ingin berada di rumah saat dia pulang. Kata Emak, Ayah akan pulang hari ini.

Ayahku bekerja di Teluk Air. Pernahkah kau mendengar nama tempat itu? Guru di sekolahku sering mengajarkan bahwa Teluk Air adalah pelabuhan alam terbesar di Indonesia. Mungkin gurumu juga pernah mengatakan hal serupa. Aku bangga dengan ini, karena Teluk Air tak jauh benar dari kampungku. Bangga rasanya punya tempat terkenal di dekat kampung sendiri.

Teluk Air adalah pelabuhan untuk ekspor kayu. Kayu-kayu ditebang dari hutan-hutan di sekitarnya. Lalu dirakit dan dihanyutkan atau diangkut dengan tongkang besi. Sebagian digergaji di sawmil, sebagian langsung dimuat ke kapal untuk dijual ke luar negeri. Nah, Ayahku bekerja luding di situ. Ia membantu memuat kayu-kayu itu ke kapal.

Ayah pergi kerja beberapa hari. Kadang sampai seminggu. Ia pulang sehari dua, lalu pergi lagi. Aku suka kalau Ayah pulang. Ia selalu membawa buah tangan. Tak jarang ia membawakan buah tangan yang ia dapat dari kapal, yang tentu tak bisa didapat di kampung kami. Misalnya buah apel atau anggur. Juga biskuit yang bungkusnya bertuliskan bahasa yang tak kukenal. Kadang Ayah membawakan mainan. Pokoknya semua buah tangan dari Ayah menarik dan menyenangkan.

Ayah baru bekerja luding beberapa bulan ini. Sebelumnya Ayah bertani, merawat kebun kelapa miliknya. Tapi sejak dulu Ayah memang selalu membawakan buah tangan buatku. Dari kebun biasanya dia membawakan telur burung keruwak atau pipit. Sesekali dia membawa burung punai yang dia tangkap dari jerat yang dia pasang di pohon jambu di kebun. Burung punai ini oleh Emak dibuat gulai. Atau hanya sebatang tebu. Kalau Ayah menghadiri selamatan di rumah orang dia juga kadang membawakan buah tangan. Aku paling suka telur rebus yang kulitnya diberi warna dari pohon telur yang biasanya hadir pada acara gunting rambut bayi atau pernikahan. Pada telur itu ada daun yang dibuat dari uang kertas seratus rupiah.

Rumahku sudah tak jauh lagi. Langkahku makin kupercepat. Dadaku terasa berdebar membayangkan buah tangan apa yang akan dibawakan Ayah hari ini.

Sampai di rumah ternyata Ayah belum pulang.

“Basuhlah tangan kau, lalu makan.“ perintah Emak.

„Nanti ja, nunggu Ayah.“

„Ai, entah pukul berapa Ayah kau pulang. Makanlah kau dulu.“

„Tak apa. Aku tunggu Ayah ja.“

„Nanti kau sakit perut. Makan sana!“ kata Emak tegas.

Aku menurut. Percuma membantah Emak kalau sudah begini. Salah-salah nanti pahaku dicubitnya. Pelan-pelan aku menuju ke dapur, di situ terhampar tikar pandan dengan tudung saji tertungkup di tengahnya. Di bawah tudung itu ada makanan. Pelan-pelan pula aku ambil piring, ku isi nasi dan lauk. Lalu aku mulai makan pelan-pelan, berharap Ayah akan datang sebelum aku selesai.

+++
Tadinya Ayah tak berminat kerja luding. Ia bahkan tak berminat bekerja di Teluk Air. Banyak orang kampung kami yang bekerja di sana. Selain yang kerja luding ada yang juga bekerja di sawmil, tempat kayu digergaji jadi papan, atau bekerja menebang kayu di hutan. Orang-orang ini kelihatan lebih berada dari kebanyakan orang kampung kami yang bertani. Pak Ngah Matnur, sepupu Ayah bekerja luding sejak lama. Rumahnya berdinding semen, beratap sirap. Sudah lama pula dia mengajak Ayah. Tapi Ayah menolak.

“Senang juga kalau kita punya rumah semen.” kata Ayah pada Emak suatu ketika.

Emak Cuma tersenyum. Dia tahu Ayah sedang menguji minatnya.

„Aku senang kalau di rumah ini ada Abang. Tak peduli dindingnya semen atau papan, atapnya sirap atau daun nipah.” jawab Emak. Ayah tersenyum mendengarnya.

Ayah lebih suka berkebun meski hasilnya tak seberapa. „Kebun ini Ayah buka sendiri. Ayah yang merimba, menebang kayu-kayu waktu kebun ini masih hutan. Ayah juga yang menanam kelapa dan kopinya. Ayah tak akan meninggalkannya.“ begitu kata Ayah menjelaskan padaku suatu ketika. „Kalau Ayah bekerja kayu Ayah dapat duit. Tapi tak ada yang Ayah tinggalkan. Kebun ini adalah peninggalan Ayah kalau kelak Ayah mati.” itu alasan Ayah di lain waktu.

Hasil kebun Ayah sebenarnya tak seberapa. Tanah yang dirimba Ayah, kemudian diolah menjadi kebun ternyata tak subur. Tanah tempulur, terlalu asam. Itu yang aku dengar dari Ayah. Kelapa tumbuh tinggi tapi buahnya tak lebat. Demikian pula pohon kopi. Sejak dua tahun yang lalu Ayah mulai membuka lahan lain untuk kebun. Tapi pohon kelapa yang ditanam di situ baru mulai bertunas, masih 4-5 tahun lagi baru akan berbuah. „Mudah-mudahan kali ini tanahnya subur.“ doa Ayah.

Sikap Ayah berubah beberapa bulan yang lalu. Waktu itu aku baru saja naik ke kelas lima. Aku kembali juara satu di kelas, seperti tahun-tahun sebelumnya.

„Kau mau nyambung tak kalau tamat nanti?“ tanya Ayah waktu melihat raporku.

Aku terkejut dengan pertanyaan itu. Tak berani aku menjawabnya. Sebenarnya sudah lama aku memendam mimpi untuk menyambung sekolah ke kota. Aku ingin jadi guru seperti Pak Ibrahim, anak Nek Ngah yang sekarang mengajar di sekolahku. Dia dulu juga sekolah di sekolah itu. Tamat SD dia melanjutkan ke SMP di kota, lalu masuk SPG. Sudah hampir dua tahun dia pulang kampung dan jadi guru.
Tapi aku sadar, Ayah tak berada seperti Nek Ngah. Kebun kelapa Nek Ngah luas dan tak cuma sebidang. Hasil kelapa dan kopinya banyak. Tak sulit bagi dia untuk menyekolahkan anaknya. Tak cuma seorang. Adik Pak Ibrahim yang perempuan sekarang sedang sekolah perawat di kota.

Tapi Ayah tak mungkin membiayai sekolahku. Karenanya aku tak pernah mengungkapkan keinginanku itu pada Ayah. Kali inipun aku tak berani.

„Kau mau nyambung tak?“ ulang Ayah.

Aku mengangguk. Ragu sebenarnya anggukan itu.

„Ya sudah, kau belajar dengan baik. Tamat nanti kau nyambung ke kota.“

„Tapi yah……“ jawabku tertahan.

“Tak usah khawatir. Untuk kau, bergadai kulit kepala pun Ayah sanggup.“

Sejak itulah Ayah memutuskan untuk kerja luding. Ia rela meninggalkan kebunnya. Ia ingin dapat uang lebih banyak lagi untuk biaya sekolahku kelak. “Kalau kita ada uang lebih kita bisa mengupah orang untuk merawat kebun. Lagipula, kalau sedang tak kerja luding aku masih bisa merawatnya.” kilah Ayah kali ini. Emak pun setuju.

Ada yang berubah sejak Ayah kerja luding. Ayah tak lagi tiap hari ada di rumah. Sudah jarang dia mengajarku mengaji. Emak yang sekarang mengajar. Hanya sesekali Ayah sempat mendongeng menjelang aku tidur. Kalaupun dia ada di rumah, dia kelihatan sudah sangat letih. Dia segera tidur selesai salat isya.

Tak apa. Aku tahu Ayah letih. Dia letih bekerja untuk aku. Aku tak keberatan kehilangan banyak kesempatan bersama Ayah. Yang jelas ada satu yang tak berubah. Ayah selalu membawakan buah tangan untukku.

Baru separuh isi piringku aku makan. Di depan aku dengar suara yang agak gaduh, makin lama makin keras gaduhnya. Ayah sudah pulang? pikirku. Tanpa membasuh tangan aku berlari ke depan. Di halaman aku lihat banyak orang. Ada Pak Ngah Matnur di situ. Kulihat orang-orang itu menggotong sesuatu yang dibalut dengan tikar pandan. Ada darah menetes dari ujung tikar itu.

„Abaaaaaaaaaaaaang………..“ teriak Emak histeris, menghambur ke arah bungkusan tikar pandan itu.

Suasana tambah gaduh.

“Dia tertimpa balok kayu waktu kami sedang luding.“ Begitu penjelasan Pak Ngah kepada tetangga yang datang mendengar kegaduhan itu. Aku tak mendengar lagi lanjutan kata-kata Pak Ngah. Aku tak ingin mendengarnya. Ayah tak kan pernah lagi pulang membawa buah tangan.

Catatan:
Guli= gundu, kelereng
Luding= loading, memuat barang ke kapal
Sawmil= sawmill, pabrik penggergajian kayu

http://berbual.com