<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berbual &#187; Mesjid</title>
	<atom:link href="http://berbual.com/tag/mesjid/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://berbual.com</link>
	<description>tempat ngobrol ngalor-ngidul</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Oct 2011 09:24:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Muhammad Noboru Sato</title>
		<link>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/muhammad-noboru-sato/</link>
		<comments>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/muhammad-noboru-sato/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 07:34:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama dan Sosial - Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa dan Budaya Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Mesjid]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Noboru Sato. Nama keluarga Sato adalah nama keluarga yang populasinya paling tinggi di Jepang. Ia seorang muslim. Waktu masuk Islam di depan namanya ditambahi nama Muhammad. Kami memanggilnya Brother Sato atau Sato san. Saat saya pertama kali mengenalnya tahun 1997 Sato san berumur kira-kira 50-an tahun, mungkin sudah mendekati 60. Saya agak banyak berinteraksi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namanya Noboru Sato. Nama keluarga Sato adalah nama keluarga yang populasinya paling tinggi di Jepang. Ia seorang muslim. Waktu masuk Islam di depan namanya ditambahi nama Muhammad. Kami memanggilnya Brother Sato atau Sato san.</p>
<p>Saat saya pertama kali mengenalnya tahun 1997 Sato san berumur kira-kira 50-an tahun, mungkin sudah mendekati 60. Saya agak banyak berinteraksi dengan beliau saat saya jadi General Secretary di Islamic Center. Sato san adalah President di lembaga tersebut. Dia adalah President seumur hidup. Tiap tahun pengurus berganti, tapi Sato san selalu dipilih menjadi President.</p>
<p>Setidaknya ada dua alasan untuk hal itu. Pertama, Sato san adalah yang paling senior di antara kami. Menjadikan dia sebagai pemimpin adalah cara kami untuk menghormati dia. Alasan lain bersifat pragmatis. Beliau adalah orang Jepang, penduduk asli di kota itu. Dia tahu lebih banyak tentang berbagai hal mengenai daerah itu. Yang jelas, dia tidak akan pergi dari kota itu sebagaimana kami para pendatang.</p>
<p>Kami menyewa dua kamar apartemen sederhana untuk dijadikan Islamic Center. Di situlah salat Jumat dan berbagai acara dakwah diadakan. Termasuk toko daging dan makanan halal. Ruangan yang kami sewa tidak besar. Karenanya kalau ada acara yang menghadirkan banyak orang seperti salat Ied, kami meminjam ruangan besar milik universitas di dormitori untuk mahasiswa asing.</p>
<p><span id="more-324"></span></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-327" title="satocloseup" src="http://berbual.com/wp-content/uploads/2009/09/satocloseup.jpg" alt="satocloseup" width="442" height="604" /></p>
<p>Kamar apartemen tadi kami sewa dengan kontrak atas nama Sato san. Organisasi Islamic Center juga didaftarkan ke pemerintah kota atas nama Sato san. Lebih mudah begitu, karena dia orang Jepang, sehingga lebih mudah berkomunikasi dalam berbagai keperluan. Sato san tidak pernah merasa diperalat untuk hal ini. Dia menerima itu dengan penuh tanggung jawab.</p>
<p>Sato san jarang hadir salat Jumat. Dia bekerja di sebuah perusahaan konstruksi. Kantornya jauh dari Islamic Center. Kami para mahasiswa asing pergi salat jumat dengan memanfaatkan waktu istirahat makan siang. Kebetulan Islamic Center dekat dengan kampus, sehingga kami tidak perlu meninggalkan pekerjaan di kampus terlalu lama. Tapi yang terpenting, jadwal kerja di kampus sangat fleksibel, sehingga kami bisa mengatur waktu sendiri dan tidak terhalang untuk salat Jumat.</p>
<p>Berkah itu sayangnya tidak bisa dinikmati oleh Sato san. Ia bekerja di perusahaan. Tentunya perusahaan Jepang. Ia terikat pada jam kerja yang ketat. Dan tak mungkin mendapat dispensasi dengan alasan hendak melaksanakan salat Jumat. Karenanya dia jarang hadir. Dia hadir salat Jumat bila hari Jumat jatuh pada hari libur. Kami semua memaklumi itu.</p>
<p>Tapi Sato san sering hadir pada kegiatan lain yang biasanya kami selenggarakan pada akhir pekan atau malam hari. Tak hanya hadir, Sato san banyak membantu untuk acara itu. Ia biasanya membawa makanan dan minuman. Atau mencarikan barang yang diperlukan untuk acara bila diperlukan. Saat kumpul-kumpul itu Sato san biasanya mengimami salat jamaah. Bacaan Qurannya cukup fasih.</p>
<p>Saya tak tahu persis kapan Sato san masuk Islam. Kabar yang pernah saya dengar menyebutkan ia masuk Islam tahun 80-an. Ketika saya pertama kali mengenalnya di tahun 1997 kejadian itu sudah lama berlalu. Kota tempat saya bermukim itu sebuah kota yang tak terlalu besar di bagian utara Jepang. Orang Islam di situ umumnya pemukim sementara, yaitu para mahasiswa dan peneliti asing. Bila tugas mereka selesai, mereka kembali ke negaranya. Karenanya saat saya mengenal Sato san, tak ada lagi orang yang dulu menyaksikan saat dia masuk Islam.</p>
<p>Dalam berbagai kesempatan bertemu dengan Sato san saya tak pernah bertanya soal kapan dan bagaimana dia masuk Islam. Rasanya tak ada teman saya yang melakukan itu. Sato san bukan lagi mualaf. Menanyakan hal itu seakan memberi kesan bahwa seorang Jepang muslim adalah sebuah keanehan.</p>
<p>Saya juga tak mengenal keluarganya. Saya tak tahu apakah istri dan anak-anaknya beragama Islam atau tidak. Tapi dugaan saya keluarganya tidak beragama Islam, karena Sato san tidak pernah membawa mereka ke berbagai acara kami. Kami, lagi-lagi, tak pernah mencoba untuk mencari tahu soal itu.</p>
<p>Kota tempat saya tinggal itu belum punya mesjid saat saya datang. Tapi sudah ada rencana untuk mendirikan mesjid, dan sudah ada sejumlah uang terkumpul. Hanya saja belum cukup, karena biaya untuk membeli tanah dan mendirikan bangunan sangat mahal di Jepang. Kami terus mengumpulkan dana.</p>
<p>Hampir sepuluh tahun kemudian barulah mesjid itu bisa berdiri. Sejak tahun 2007 kota itu punya mesjid.</p>
<p>Peran Sato san sangat besar dalam hal ini. Dia berperan menjaga uang yang selama ini dikumpulkan. Dia juga yang mengurus pembelian tanah dan bernegosiasi dengan perusahaan konstruksi saat pembangunan mesjid.</p>
<p>Sato san, arigato&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fagama-dan-sosial-budaya%2Fmuhammad-noboru-sato%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/muhammad-noboru-sato/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Muhammad Noboru Sato" data-url="http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/muhammad-noboru-sato/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/agama-dan-sosial-budaya/muhammad-noboru-sato/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paranoia Kristenisasi</title>
		<link>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/paranoia-kristenisasi/</link>
		<comments>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/paranoia-kristenisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 02:02:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasanudin Abdurakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama dan Sosial - Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Dayak]]></category>
		<category><![CDATA[Gereja]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kristenisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mesjid]]></category>
		<category><![CDATA[Toleransi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/paranoia-kristenisasi/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika di tahun 2005. Saat itu saya bekerja sebagai dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Kebetulan saya menjabat sebagai Ketua Jurusan/Program Studi. Saya sebetulnya baru saja pulang dari tugas belajar di luar negeri. Saya diangkat jadi Ketua Jurusan karena posisi itu lowong, dan kami sedang kekurangan staf pengajar. Suatu hari saya menerima SMS berbunyi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu ketika di tahun 2005. Saat itu saya bekerja sebagai dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Kebetulan saya menjabat sebagai Ketua Jurusan/Program Studi. Saya sebetulnya baru saja pulang dari tugas belajar di luar negeri. Saya diangkat jadi Ketua Jurusan karena posisi itu lowong, dan kami sedang kekurangan staf pengajar.</p>
<p>Suatu hari saya menerima SMS berbunyi sebagai berikut:<br />
“Tolong kau awasi gerak-gerik Ibu B itu. Hati-hati, sudah ada satu<br />
mahasiswa kita yang dia murtadkan.”<br />
Pengirim SMS itu adalah kawan saya, beberapa tahun lebih tua dari saya. Saya mengenal dia sejak sama-sama kuliah. Kebetulan kami satu fakultas, dan saya juga pernah tinggal sekamar dengan dia di asrama daerah tempat saya tinggal di masa-masa awal kuliah dulu. Saat mengirim SMS itu dia adalah Dekan di fakultas tempat saya bekerja. Artinya dia adalah atasan saya.</p>
<p><span id="more-319"></span></p>
<p>Ibu B yang dimaksud dalam SMS ini adalah dosen di jurusan saya. Dia berasal dari Toraja. Umurnya beberapa tahun di bawah saya, dan sudah menjadi dosen di tempat itu beberapa tahun.</p>
<p>Saya abaikan SMS tadi. Alasan saya, itu tidak ada kaitannya dengan tugas saya. Kalaupun benar Ibu B tadi melakukan kristenisasi, selama dia tidak melakukannya dengan menggunakan posisi dia sebagai dosen atau fasilitas kampus, saya tidak berhak melarangnya. Itu prinsip saya.</p>
<p>Meski tak pernah secara serius berfikir tentang isu kristenisasi tadi, toh saya akhirnya sampai juga pada titik terang duduk persoalannya. Semua terjadi nyaris secara kebetulan.</p>
<p>+++</p>
<p>Suatu pagi, saat baru saja tiba di kampus dan hendak memarkir mobil, beberapa mahasiswi mendatangi saya sambil berteriak panik. Rupanya ada mahasiswi bernama A yang sedang kambuh asmanya. Melihat keadaannya saya langsung memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Beberapa mahasiwa menggotong tubuh si A ke mobil saya, tiga mahasiswi teman si A tadi ikut masuk. Lalu kami bergerak menuju rumah sakit yang berjarak kurang lebih 2 kilometer dari kampus.</p>
<p>Saya cukup panik selama menyetir. Anak perempuan saya kebetulan juga penderita asma. Tapi saya tidak pernah melihatnya kambuh semenderita si A ini. Nafasnya tersengal-sengat. Saya khawatir dia kehabisan nafas dan meninggal di mobil saya.</p>
<p>Saya pacu mobil saya sekencang mungkin. Saya hidupkan lampu hazard, sambil sesekali membunyikan klakson panjang. Saya berharap kendaraan di depan mau menepi. Saat itu jalan memang sedang ramai, persis saat orang-orang sedang dalam perjalanan ke tempat kerja.</p>
<p>Sampai di bagian UGD si A langsung mendapat pertolongan pertama. Setelah memastikan dia baik-baik saja, termasuk mengecek apakah dia punya uang untuk membayar biaya perawatan, saya putuskan untuk kembali ke kampus. Si A harus tinggal untuk rawat inap. Dua orang temannya yang tadi ikut mengantar, kembali ke kampus bersama saya.</p>
<p>Dari obrolan sepanjang jalan dengan dua mahasiswi tadi barulah saya tahu bahwa si A ini adalah „korban kristenisasi“ yang saya sebutkan tadi. Agak kaget saya, karena teman-teman yang mengantar dia tadi, saya duga teman terdekat dia, semua memakai jilbab dan aktif di berbagai kegiatan Islam di kampus. Lebih kaget lagi karena saya kemudian tahu bahwa si A ini kebetulan pernah bersekolah di Madrasah Tsanawiyah dan SMA yang sama dengan saya.</p>
<p>Tentu saja pembicaraan menyinggung soal kristenisasi tadi. Menariknya, mahasiswi para aktivis Islam ini sama sekali tidak menyalahkan Ibu B. Mereka bercerita bahwa si A ini memang sedang labil, karena ada masalah keluarga. Keluarganya sendiri ternyata beragama Katolik. Hanya dia sendiri yang Islam. Dia kebetulan tinggal satu kos dengan Ibu B. Dan dalam situasinya yang labil itu dia memutuskan untuk pindah agama.</p>
<p>Belakangan, lagi-lagi tanpa niat menyelidiki, saya juga berbincang dengan Ibu B soal si A tadi. Cerita yang saya dapat tak jauh berbeda dengan yang saya dengar dari para mahasiswi tadi. Tambahannya, si A tadi sebenarnya belum pindah agama. Dia konsultasi dengan seorang pastur, dan menyatakan niatnya untuk masuk Katolik. Tapi pastur ini menyuruh dia untuk menenangkan diri dulu, kemudian mempertimbangkan kembali niatnya itu.</p>
<p>Ibu B tadi juga bercerita pada saya tentang fitnah yang dia terima. Seolah dia adalah agen gereja untuk melakukan kristenisasi di kampus. Yang paling menyedihkan, kata dia, seorang dosen senior yang dia anggap bijak juga sempat menjaga jarak dengan dia selama beberapa waktu. Untunglah perlahan orang-orang mulai memahami situasi sebenarnya, sehingga dia bisa hidup lebih normal di kampus.</p>
<p>+++</p>
<p>Cerita berikutnya, mundur ke tahun 70-an, saat masa kecil saya. Waktu itu di ibu kota provinsi kami belum ada rumah sakit pemerintah. Satu-satunya rumah sakit yang memadai adalah rumah sakit milik organisasi Katolik. Saya ingat betul, para perawatnya sebagian adalah suster gereja. Di sebelah rumah sakit ini ada gereja yang cukup besar. Dan di setiap ruangan perawatan terpajang salib di dinding.</p>
<p>Di rumah sakit itu anggota keluarga kami mendapat pelayanan medis. Emak, Ayah, Abang, Kakak, pernah dirawat di sini. Juga kakek, nenek, paman. Beberapa dari mereka mendapat keringanan biaya karena tergolong miskin. Dengan selembar surat keterangan dari kepala kampung, keringanan biaya itu diperoleh.</p>
<p>Tapi, ini yang penting, tidak ada satupun dari mereka yang pernah mendapat iming-iming untuk pindah agama. Tak satupun. Saya sering mendengar cerita tentang rumah sakit Kristen yang digunakan untuk kristenisasi. Orang miskin dibebaskan dari biaya asal mau masuk Kristen. Orang yang sedang sekarat dibimbing dengan tata cara Kristen, agar mati dalam keadaan Kristen. Tapi selama keluaga kami menerima layanan dari rumah sakit Katolik tadi, tak satupun yang mendekati kami untuk melakukan kristenisasi.</p>
<p>+++</p>
<p>Saya punya sepupu yang beberapa tahun lebih tua dari saya. Saat hendak masuk SD ia diambil Ayah, tinggal di rumah kami. Oleh Ayah dia disekolahkan di SD kampung kami. Saat SMP dia ikut orang lain di kampung dekat kota provinsi, sekolah dibiayai sambil membantu berbagai pekerjaan di sekolah. Dia tinggal di gedung sekolah, menjaga dan merawatnya.</p>
<p>Saat SMA dia pindah ke kota, tinggal di rumah yang dibangun Ayah untuk anak-anaknya yang sedang sekolah. Seorang pastur yang menjadi kepala sebuah SMA Katolik menawarinya sekolah dengan biaya dibebaskan. Jadi, biaya makan dia ditanggung Ayah, sedangkan biaya sekolahnya ditanggung oleh pastur tadi.</p>
<p>Saat dia mulai sekolah pastur tadi menegaskan bahwa dia tidak akan pernah mengajak sepupu saya tadi untuk masuk Katolik. Dia membantu semata-mata karena ingin membantu, tidak ada niat lain. Dan itu dipegang teguh oleh pastur tadi. Selama sekolah sepupu saya itu adalah muazin di sebuah mesjid. Sampai dia tamat SMA hingga kini dia adalah seorang muslim yang taat.</p>
<p>+++</p>
<p>Beberapa pengalaman yang saya tulis tadi mengajarkan pada saya bahwa kristenisasi sering kali adalah sesuatu yang diberi bumbu, bumbunya banyak, sehingga menutupi fakta. Salah satu sumber bumbu itu adalah paranoid, ketakutan yang berlebihan. Akibatnya semua tindak tanduk orang Kristen dipandang dalam konteks kristenisasi.</p>
<p>Tak jarang bumbu itu menjadi pokok cerita. Ada cerita, misalnya, tentang strategi orang Kristen. Pemuda Kristen sengaja disuruh memacari pemudi Islam, menghamilinya, lalu bersedia menikahi pemudi tadi dengan syarat dia mau masuk Kristen. Banyak yang percaya bahwa cerita ini adalah strategi yang disusun gereja dalam rangka kristenisasi.</p>
<p>Satu dua kejadian seperti itu mungkin ada. Sangat mungkin. Tapi mungkinkah itu sebuah strategi umat beragama secara kolektif atau kelembagaan? Bagi saya kita hanya bisa berfikir begitu kalau umat tersebut kita anggap jelmaan setan.</p>
<p>Saya, tentu saja, tidak mengabaikan adanya sekelompok atau banyak kelompok orang Kristen yang melakukan kegiatan kristenisasi dengan melanggar etika. Saya, misalnya, pernah menemukan sebuah website yang secara terang-terangan menyatakan missinya menjadikan Indonesia sebagai sebuah negeri Kristen.</p>
<p>Tapi beberapa atau banyak kelompok itu tentunya bukan semua orang Kristen. Masih banyak, dan sangat banyak orang Kristen yang melakukan aktivitas sosial tanpa motivasi mengkristenkan orang.</p>
<p>Sebaliknya perlu juga diingat bahwa hal yang sama terjadi pula di kalangan umat Islam. Tidak sedikit umat Islam yang menjadikan dakwah terhadap orang-orang Kristen sebagai inti kegiatannya. Tak jarang kegiatan itu dilakukan secara vulgar dan provokatif.</p>
<p>Abang saya, seorang dosen, pernah mengritik teman-temannya. Dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis di kampus, salah satu kegiatannya adalah mengumpulkan dana bagi para muallaf bekas pemeluk Kristen. Pengumpulan dana itu dilakukan secara terbuka dan vulgar. Padahal di kampus itu banyak juga dosen dan mahasiswa Kristen.</p>
<p>Seorang Dekan di sebuah fakultas dengan enteng mengakhiri pidato di sebuah acara resmi dengan kalimat, „Maaf, saya tidak bisa hadir di acara ini sampai selesai, karena saya harus hadir di acara lain. Ada seorang pastur yang hendak masuk Islam hari ini, saya akan hadir di acara pengislamannya.“ Kalimat ini memancing emosi seorang dosen yang beragama Kristen.</p>
<p>Saya pernah ikut berdakwah di kampung orang Dayak. Di situ sudah berdiri mesjid, meski belum ada seorangpun yang terlihat masuk Islam. Di sekitar mesjid banyak babi berkeliaran. Kami membawa makanan, pakaian, dan barang-barang lain. Orang-orang kampung kami ajak ke mesjid, bersilatrrahmi, dengan harapan nantinya mereka tertarik untuk masuk Islam.</p>
<p>Orang Islam, sebenarnya juga melakukan islamisasi, dengan cara-cara yang sama dengan yang dilakukan oleh orang Kristen. Mengapa perlu marah kalau orang Kristen melakukan kristenisasi?</p>
<p>http://berbual.com</p>
<div style="height:33px; padding-top:2px; padding-bottom:2px; clear:both;" class="vas_pro_1"><div style="float:left; width:100px; " class="vas_pro_1_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fberbual.com%2Fpolitik-dan-birokrasi%2Fparanoia-kristenisasi%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=27" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:90px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_google1"> 
				<g:plusone size="medium" href="http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/paranoia-kristenisasi/" ></g:plusone>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="vas_pro_1_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Paranoia Kristenisasi" data-url="http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/paranoia-kristenisasi/">Tweet</a> 
			</div></div>
		<div style="display:none;"><a href="http://www.24wn.com">wordpress plugins and themes</a></div><div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/paranoia-kristenisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

