Bencana tak kunjung berhenti. Wasior, Mentawai, Merapi. Lalu apa lagi setelah ini? Petanda apa ini semua? Marahkah Tuhan pada kita?
Mentawai dan Merapi sebenarnya memiliki benang merah yang menghubungkannya. Secara umum gempa di bawah laut serta fenomena gunung berapi, termasuk letusannya, erat kaitannya dengan pergerakan lempeng kerak bumi.
Muka bumi kita ini terdiri dari beberapa lempengan yang “mengapung” di atas lautan magma di perut bumi. Lempeng-lempeng itu tidak mengapung diam, namun terus bergerak. Gerakan ini tak hanya karena lempeng-lempeng itu “terapung”, tapi juga dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi serta gerak rotasi bumi. Terkadang bertumbukan satu sama lain. Tumbukan inilah yang menimbulkan gempa. Di saat lain, tumbukan yang lebih dahsyat membuat permukaan tanah di ujung lempeng yang bertumbukan terangkat ke atas, lalu terbentuklah gunung.
Konon, menurut para ahli geologi, salah satu tumbukan terdahsyat terjadi antara lempeng Indo-Australia dengan Eurasia. Hasil tumbukan ini adalah gunung Himalaya, yang kita kenal sebagai gunung tertinggi di muka bumi. Kejadian semacam ini terus menerus berlangsung, membentuk muka bumi kita sekarang, dan muka bumi kita di masa depan.
Coba kita perhatikan muka bumi kita yang penuh dengan gunung-gunung ini. Lalu coba bayangkan berapa juta kali lempeng-lempeng bumi itu bertumbukan. Berapa banyak gempa yang ditimbulkannya. Juga berapa banyak korban yang telah direnggutnya. Di masa lalu konon bumi ini terus menerus dilanda letusan gunung. Jauh lebih sering dari yang kita alami sekarang. Juga di suatu periode, bumi kita ini dipenuhi oleh hujan meteor yang meluluhlantakkan permukaannya.
Dan kita bertanya lagi, marahkah Tuhan? Bila aktivitas gempa, gunung meletus dan lain-lain itu kita maknai sebagai kemarahan Tuhan, maka gambaran tentang Tuhan yang kita peroleh adalah Tuhan yang tak berhenti marah-marah. Terus mengamuk seperti anak manja yang tak pernah puas. Ia pun bengis karena dengan kemarahan itu jiwa-jiwa direnggutnya.
Padahal sebenarnya Tuhan sedang “melaksanakan” tugasnya, yaitu mencipta. Ia menciptakan bumi dengan gunung-gunung di permukaannya. Melalui letusan gunung berapi Ia keluarkan berbagai mineral dari perut bumi. Juga abu penyubur lahan, serta bebatuan yang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Bahkan intan berlian yang menghiasi tubuh para wanita, dihasilkan dari letusan itu.
Itu tugas Tuhan. Dia harus menjalankan tugasNya. Kita ini ibarat anak-anak kecil yang menyaksikan bapak kita bekerja. Kalau bapak bekerja dengan api, barang berat, atau barang berbahaya lainnya, kita tak boleh dekat-dekat, apalagi mengganggunya. Berbahaya buat kita. Kita harus mengambil posisi yang tepat agar pekerjaan bapak tak membahayakan kita. Itulah tugas kita.
Gempa, tsunami, tak bisa sepenuhnya diramalkan kapan terjadinya. Tapi setidaknya kita tahu bahwa itu akan terjadi. Karenanya kita harus bersiap. Bersiap agar tidak timbul korban dari pekerjaan Tuhan itu. Bersiap agar kalaupun harus ada korban, korbannya sedikit saja.
Marahkan Tuhan pada kita? Tidak. Ia hanya sedang mencipta. Tapi boleh jadi Tuhan marah pada kita karena kita tak kunjung paham pada tugasNya, pada kasihNya. Tuhan mungkin marah bila kita tak tahu bagaimana harus berbuat saat Ia sedang melaksanakan tugasNya.
http://berbual.com/
tulisan cerdas dengan judul memikat! pemikiran melawan arus.
Semuanya tergantung persepsi masing2,
Bagaimana prasangka kita terhadap Allah,
mungkin itulah yang terjadi….
maka hendaklah kita selalu berprasangka
yang baik terhadap Allah, dan tetaplah
taat dan mendekatkan diri pada-Nya